Peluk Aku Ya Allah (13)
Oleh Wak Amin
DI ruangan kedap suara, Jenderal Fauzi yang di dampingi Kolonel Ih san menceritakan bahwa mereka telah menjadi target pembunuhan.
"Beberapa hari kemarin kediaman saya dimasuki sekelompok orang bertopeng dan bersenjatakan leng kap Jenderal Mansur."
Jenderal Mansur serius menyimak ...
"Kami bertiga nyaris tewas," kata Jenderal Fauzi.
Mereka, kata Kolonel Ihsan, pasu kan terlatih. "Dan menurut saya, me reka sepertinta ditugasi khusus un tuk menghabisi kami berdua."
"Anda tahu Kolonel mereka dari ke lompok mana?" Tanya Jenderal Mansur penuh selidik.
"Tidak secara persis Jenderal. Cu ma saya menduga mereka orang suruhan dari kelompok tertentu. Hanya dari kelompok mana pas tinya saya belum dapat memasti kannya."
"Menurutku dari rival kita sobat," ka ta Jenderal Fauzi.
"Aku juga mengira begitu sobat. Aku yakin ini ulah Jenderal Komar. Tapi kita tak boleh sembarang tu duh. Kita harus selidiki terlebih du lu .."
Dan yang penting, kata Jenderal Mansur, "Kita harus tetap waspa da. Bukan tidak mungkin markas kami jadi sasaran berikutnya."
"Maafkan saya Jenderal Mansur, telah merepotkan anda."
Ha ha ha ...
"Kapten Adi. Beritahu yang lain sia ga penuh kita hari ini." Perintah Jen deral Mansur.
"Siap Jenderal."
Sepeninggal Kapten Adi, Zainab ma suk bersama seorang perwira. Dia duduk di samping Kolonel Ihsan.
"Bagaimana Nab, bagus tidak pe mandangannya?"
"Bagus Jenderal. Cuma ..." Tampak muka Zainab berubah sedih.
Kolonel Ihsan coba menghibur.
"Katakan sayang pada Kakek Jen deral Mansur. Apa yang membuat kamu tiba-tiba sedih?"
"Karena apa yang Zainab katakan bagus tadi bakalan hancur semua nya oleh rudal Om, Kek."
Zainab menangis. Dia peluk Kolonel Ihsan.
Erat sekali ...
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar