Oleh Wak Amin
DUWO belas tahun kemudian ...
Zainab tumbuh sebagai gadis remaja yang cantik ...
Di atas bukit ...
"Tembaaak!"
Lima puluh anggota pasukan pribu mi serempak melepaskan temba kan dan anak panah api beracun ke markas pasukan pemberontak, pagi dini hari.
Akibat tembakan itu, hampir sepa ro pasukan pemberontak yang di pimpin Jenderal Komar tewas se cara mengenaskan.
Markas hancur, begitu juga gedung persenjataan. Bangunan roboh dan hutan semak belukar terbakar dan meluas hingga ke pinggiran kota.
Jenderal Komar marah besar. Para anak buahnya yang tersisa dia kum pulkan di suatu tempat dekat hut an yang selamat dari amukan si jago merah.
Lalu dia interogasi satu persatu. Ka rena tak satu pun yang mengetahui siapa dan dari mana asal temba kan, Jenderal Komar menampar satu persatu anak buahnya yang ju mlahnya hanya belasan orang itu.
Tidak cuma menampar, mereka ju ga diminta paksa untuk membuka baju dan celana. Lalu, dengan ke dua tangan ditaruh di atas kepala, berlari mengelingi Sang Jenderal dengan hanya mengenakan sem pak sambil berkata : 'Kami tak boleh kalah. Kami tak boleh menyerah ..."
"Hidup Jenderal Komar!"
"Hidup Jenderal Komar!"
Teriakan itu semakin membang kit kan nafsu dan semangat Jenderal Komar untuk menghabisi dalang penembakan.
"Kita harus menuntut balas." Teriak Jenderal Komar memberi semangat para anak buahnya.
"Anda siap mati?"
"Siap Jenderal."
"Mulai hari ini kita katakan perang kepada mereka."
Mereka siapa?
Tak lain dan tak bukan adalah pasu kan pribumi. Setahu dia Jenderal Mansur sangat membencinya.
Benarkah demikian?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar