Peluk Aku Ya Allah (21)
Oleh Wak Amin
MARYAM dimakamkan ...
Tidak ada yang istimewa di hari pe makaman itu. Berlangsung pagi ha ri. Upacara pemakaman dipimpin Kolonel Ihsan.
Doa dipercayakan kepada Kapten Adi. Pembacaan doa berlangsung khidmat. Rasa haru tak kuasa di sembunyikan Jenderal Mansur.
Demikian pula halnya dengan Zai nab. Dia meneteskan air mata keti ka jenazah Maryam diturunkan ke liang lahat. Lalu ditimbun lagi dan diratakan dengan tanah.
Maryam dimakamkan di belakang benteng Al 'la. Semua anggota pa sukan pribumi, kecuali yang dituga si berjaga di sekitar benteng, hadir dalam prosesi pemakaman yang singkat tapi padat itu.
Usai pemakaman, tak jauh dari pin tu gerbang Al A'la, Kolonel Ihsan mendekati Zainab yang masih ber duka.
"Nab!"
Zainab menoleh dengan tatapan mata sendu ...
"Om harap kamu tak lupakan janji," kata Kolonel Ihsan.
Janji apa?
"Insya Allah Om Kolonel. Siap untuk diingat!"
"Alhamdulillah, Om bersyukur kamu ingat. Om harap kamu tetap ingat selalu," harap Kolonel Ihsan.
Dia berharap, Zainab bukan saja amanah dan tak ingkar janji, tapi mengayomi segenap pasukan pribumi.
Tentu yang lebih penting lagi ada lah tidak kenal kata menyerah, men jaga persatuan dan kesatuan serta bertekad kuat membangun dan me makmurkan kembali negeri ini dari 'keterpurukan' akibat perang.
"Zainab juga berharap ayah .." Salah ucap, Zainab coba 'meralat.'
"Tak usah Zainab. Om tak keberat an kamu panggil ayah. Om sangat senang mendengarnya. Sudah be lasan tahun Om sebenarnya menu nggu sebutan itu."
Sejenak tertegun, lalu memeluk erat Kolonel Ihsan.
"Ayaaah!"
"Anakku Zainab."
Tampak Jenderal Mansur dan Kap ten ikut terharu menyaksikan adeg an tak biasanya Kolonel Ihsan dan Zainab.
Allahu Akbar ...
Maha Agung Engkau ya rabbi ...
*******
Tidak ada komentar:
Posting Komentar