Oleh Wak Amin
TAK lama kemudian, setibanya di ujung bukit, pasukan pemberontak seolah mati kutu. Karena mereka ki ni dihadapkan pada lautan lepas yang besar ombaknya.
Mau menyeberang tak mungkin. Se lain tepi seberang lautan tak terli hat juga tak satu pun kapal besar dan kecil yang melintas. Berisiko besar jika dipaksakan.
"Sebaiknya kita tempuh jalan me mutar saja Komandan," usul Mayor Kandar.
"Tapi apa tidak lebih jauh Mayor?" Tanya Sersan Herman.
"Hanya itu jalan satu-satunya unt uk bisa menumpas Jenderal Man sur beserta pasukannya," kata Mayor Kandar beralasan.
"Apa tidak sebaiknya kita berkemah barang satu dua hari dulu Koman dan," saran Sersan Doni.
"Buat apa Sersan?"
"Menunggu kapal lewat Komandan."
"Kalau tidak ada kapal yang lewat?"
"Baru kita tinggalkan tempat ini de ngan menempuh jalan memutar seperti yang disarankan Mayor Kandar tadi Komandan."
"Bagaimana menurutmu Mayor?"
"Percuma menunggu Komandan. Tak bakalan ada kapal yang lewat. Jadi menurut saya, kita secepatnya tinggalkan tempat ini ..."
Jenderal Komar masih menimba ng. Karena sehari bermalam juga baik untuk memulihkan rasa jenuh dan lelah yang melanda lebih sepa ro anggota pasukan pemberontak.
Namun di sisi lain justru mengun tungkan pasukan pribumi. Mereka akan jauh lebih siap dalam bertah an dan menghalau serangan yang datang.
"Baiklah. Saya putuskan kita berma lam semalam saja di sini," kata Jen deral Komar.
Keputusan ini disambut penuh suka cita oleh segenap pasukan. Hanya Mayor Kandar yang kurang setuju. Namun setelah tahu alasannya de mi kebugaran pasukan, dia akhir nya setuju.
"Tapi saya ingatkan pada kalian se mua. Tetap waspada," kata Jende ral Komar dengan raut muka tegang.
"Siap Komandan."
"Dan saya ingatkan juga. Cuma semalam. Mengerti?"
"Mengerti Komandan."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar