Peluk Aku Ya Allah (34)
Oleh Wak Amin
MENDAPAT laporan dari Kapten Sambas atas tewasnya Mayor Kan dar, Jenderal Komar amat terpu kul. Kecewa dan menyesal karena mem biarkan orang terdekatnya tewas de ngan cara yang salah.
"Kita tak boleh lemah Jenderal. Kita harus kuat," kata Jenderal Fatoni menyemangati.
Dia merasakan betapa marahnya Jenderal Komar pasca tewasnya Mayor Kandar. Tapi di saat lawan berada di atas angin, hal itu tidak boleh diperlarut.
"Jenderal," lapor Letnan Bagus," pa sukan lawat semakin dekat. Mo hon petunjuk!"
"Beritahu yang lain, kita mundur sa mbil membalas setiap serangan ya ng dilancarkan," perintah Jenderal Fatoni.
"Siap laksanakan Jenderal!"
Pasukan utama satu dan dua sema kin dekat. Mereka menyebar ke seti ap tempat. Anehnya, tak ada lagi su ara tembakan, ledakan dan luncu ran anak panah.
Kenapa ya?
Inilah pertanyaan yang muncul di benak pasukan pemberontak dan pasukan srigala. Terutama pasu kan berkuda satu yang dipimpin Jenderal Komar.
"Apa tak sebaiknya kita pancing tembakan atau anak panah Jen deral?" Saran Sersan Herman.
"Boleh juga, tapi sambil bergerak mundur Sersan."
"Jenderal, saya."
"Silakan Sersan Azis."
"Apa tak sebaiknya kita tunda dulu serangan pancingannya Jenderal."
"Alasannya?"
"Posisi kita sekarang belum aman Jenderal. Jika mereka menyerang ba lasan dalam keadaan kita seper ti ini, saya yakin kita bukan saja ka lah tapi hancur ..."
"Bagaimana menurytmu Sersan Do ni?
" Saya sependapat dengan Sersan Azis Jenderal. Kita perkokoh per sembunyian kita. Saat posisi kita kuat atau pasukan lawan lengah baru kita serang habis-habisan."
Guaaaar ...
Terdengar ledakan dahsyat diiringi erangan memiluksn tak jauh dari persembunyian pasukan berkuda. Ada jatuh korban lagi. Mereka ada lah anak buahnya Jenderal Fatoni dari pasukan Srigala.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar