Peluk Aku Ya Allah (35)
Oleh Wak Amin.
"TAHAN Jenderal!"
"Biarkan Jenderal. Mereka anak bu ahku .."
"Saya paham Jenderal. Sebaiknya biarkan mereka yang mengurus nya," kata Jenderal Komar.
Sersan Doni dan Sersan Azis di tu gasi memeriksa kondisi pasukan srigala yang terkena ledakan itu. Apakah masih bisa dikenali atau justru tidak sama sekali.
Apa pun hasilnya, Jenderal Komar meminta laporan secepatnya. Dan, seperti dugaan sebelumnya, jasad beberapa anggota pasukan Srigala sudah hancur. Berserakan di semak jalan berbukit.
Diputuskan secepatnya menyingkir. Jenderal Fatoni tak keberatan. "Asal kan kita tetap membalas serangan musuh."
"Baik Jenderal. Saya setuju," kata Jenderal Komar.
Pasukan panah yang tersisa memu lai kembali serangan. Puluhan anak panah diluncurkan. Ada yang terke na sasaran. Ada juga yang tidak ka rena meleset.
Mereka yang terkena hingga tewas tidak seberapa. Diperkirakan kurang dari sepuluh tentara. Mereka anggo ta pasukan utama satu pimpinan Zainab, Kolonel ihsan dan Kapten Adi
Kondisi ini tak menggoyahkan sege nap pasukan utama satu untuk te rus melakukan serangan. Target mereka adalah memukul mundur Jenderal Fatoni dan Jenderal Kom ar beserta seluruh pasukan yang mereka pimpin.
"Allahu akbar .." Teriak Zainab sam bil mengacungkan pedang pertan da terus menyerang sampai titik darah penghabisan.
Sayup-sayup kalimat ini terdengar di telinga pasukan pemberontak d an pasukan srigala. Mereka mulai kecut dan ciyut.
Mereka tak hiraukan omongan pim pinan mereka yang tiada henti-hen tinya memotivasi dan menyemang ati di tengah gempuran pasukan pribumi dan pemerintah.
"Tembaaak ..."
Anak panah dan peluru dilepaskan menuju persembunyian pasukan musuh. Serangan bertubi-tubi ini membuat kocar-kacir Jenderal Ko mar dan Jenderal Fatoni.
Kedua jenderal ini lari tunggang la nggang. Melihat pimpinan mereka ngacir, segenap pasukan ikut ngacir juga. Malah ada, karena saking takut dan paniknya, lupa dan bahkan ada yang melempar jauh-jauh senjatanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar