Langit tak Berbintang (10)
Oleh Wak Amin
BEBERAPA detik kemudian ...
Letnan Subki cs melompat dari mo bil jip yang disopiri Sersan Urip. Keti ganya melihat dari dekat jasad Sa ng Kolonel yang penuh darah di ke pala dan mulut.
"Maafkan saya Letnan, Kapten An dre dan Sersan Urip," ucap Maria.
Dari belakang Letnan Subki cs, Ma ria dengan leluasa menarik pelatuk dan terdengar ...
Dooor ...
Dooor ...
Door ...
Sebanyak tiga kali ke kepala Letnan Subki, Kapten andre dan Sersan Ur ip. Ketiganya roboh seketika. Dari kepala bagian belakang keluar da rah segar.
Maria menarik nafas sejenak. Lalu dia rapikan empat jasad tentara Ja sina itu ke tepi trotoar.
Jalanan sepi ...
Satu pun tak ada kendaraan yang la lu-lalang, apalagi para pejalan kaki. Boleh jadi massa tumpah ruwah di pusat kota.
Beberapa hari kemudian ...
Setelah mendengar laporan dari ber bagai pihak yang dapat dipercaya bahwa Letnan Subki cs gagal men jalankan misi dan justru tewas di habisi Naria, bukan oleh pihak kea manan Yauman, Raja Jasina marah besar.
Praaak ...
"Bangsaaat."
Mata memerah ...
Di hadapan Panglima Jasina, Jen deral Daud dan beberapa perwira militer, Raja Jasina memerintahkan untuk mencari dan menangkap hi dup-hidup Nona Maria.
"Bawa kepada saya secepatnya. Sa ya akan penggal kepalanya, dan hi sap sampai habis otaknya," kata Sa ng Raja.
Geram dan marah besar ...
"Bagaimana dengan misi utama sebelumnya Tuanku Raja?"
"Tetaplah. Dia harus mati. Saya be lum tenang kalau si jenderal kepa rat itu belum mati panglima. Anda paham?"
"Paham paduka Raja."
"Terima kasih. Sekarang saya per silakan anda membentuk tim de n gan misi ganda. Menangkap hidup-hudup Maria dan menembak mati Presiden Bais."
"Siap Paduka Raja."
"Panglima!"
"Ya Paduka Raja."
"Saya tak ingin mendengar kata 'gagal' lagi panglima."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar