Langit tak Berbintang (11)
Oleh Wak Amin
PASCA selamat dari upaya pembu nuhan yang dilakukan orang suru h an Raja Jasina, Jenderal Fatoni, pe ngamanan terhadap Presiden Bais terus ditingkatkan, baik selama pe rawatan di rumah sakit maupun ke tiga berada di istana kepresidenan.
Guna mencegah terjadinya hal-hal yang tak diinginkan, kunjungan ker ja ke berbagai daerah di kurangi, ke cuali sangat mendesak demi kesi nambungan pembangunan
Sedangkan Maria saat ini masih be rsembunyi di Yauman. Dia belum berani untuk kembali ke kampung halamannya di Jassina.
Dia takut bakal ditangkap dan diha bisi karena telah mengkhianati ke sepakatan 'misi rahasia' yang dia manahkan Raja Jasina kepadanya.
Suatu sore, di sebuah pusat perbe lanjaan, Maria sempat berpapasan dengan dua lelaki berkacamata hi tam.
Keduanya mengenali wajah Maria. Sebaliknya Maria tidak sama seka li. Namun melihat gelagat dua pria tinggi besar itu, yang terus mengun titnya hingga ke pelataran mall, Ma ria mulai curiga.
"Lari. Ya aku harus lari," bisiknya da lam hati.
Berlari ke kanan dimana banyak ora ng berdiri di sana, dua lelaki tadi be lari ke arah tempat yang sama.
Sayang mereka tak berhasil menge jar Maria ...
"Hebat juga tuh cewek," kata Muh sin. Kesal tapi penasaran, seperti apa Maria itu. Ingin sekali menjajal sejauhmana kehebatannya.
"Yang jelas ya brow, dia itu bukan cewek sembarangan tau," ujar Arm an. Mulut masam, dia sulut rokok kretek dan hisap dalam-dalam.
"Kalau bukan sembarangan kenapa dia lari saat kita mendekat Bro?"
"Jelaslah dia lari. Mukamu itu ka yak pisau bekarat ..." Seloroh Ar man.
He he he ...
"Ah kamu Bro. Orang serius kamu main-main .."
"Tenang Bro. Tenang. Merokok dulu lah."
Bukan tak mau rokok, tapi ...
"Si Marianya Bro?"
"Tak usah pikirinlah Bro."
"Tak usah pikirin gimana."
"Bilang saja belum ketemu kalau ditanya Bos. Gampang kan?"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar