Selasa, 16 Juli 2019

Langit tak Berbintang (12)

Langit tak Berbintang (12)
Oleh Wak Amin




KRIIING ...

Telepon masuk ...

"Angkat tu Bro."

"Kamu aja Bro," kata Muhsin, mem berikan telepon genggam itu pada Arman.

"Kamu ajalah."

"Oke. Tapi jangan kemana-mana ya Bro."

"Siap. Aku tetap berdiri di sini .."

Sang Bos, Malik menanyakan hasil penelusuran dua anak buahnya itu. Sebelumnya dilaporkan bertemu Maria di pusat perbelanjaan.

"Eeem ... Dapat Bos," jawab Muhsin gugup setengah mati.

"Cepat bawa kesini."

"Iya iya Bos. Cuma ..."

"Apa kamu perlu dikawal Sanaf?"

"Enggak usah Bos."

"Bisa kan berdua Arman?"

"Bisa Bis. Cuma ..."

"Cuma. Cuma lagi. Cuma apa?" Ma lik mulai geram. Volume suaranya mulai meninggi.

"Setelah dilihat dari dekat bukan Maria Bos. Tapi mirip saja," kata Arman, mengambil alih pembica raan.

"Mirip gimana?"

"Ya wajahnya doang Bos. Hidung dan sebagainya jauh banget beda nya Bos."

"Bener cuma mirip?"

"Kami pastikan begitu Bos."

"Oke. Sekarang suruh pergi jauh-jauh wanita itu."

"Baik Bos."

"Dan cepat cari perempuan yang bernama Maria itu."

"Siap Bos."

Telepon ditutup ...

Muhsin dan Arman ketawa ngakak sampai sakit perut. Orang-orang di sekeliling mereka pada kaget dan geleng-geleng kepala melihat kela kuan keduanya.

                          ******

Tidak ada komentar:

Posting Komentar