Langit tak Berbintang (20)
Oleh Wak Amin
"HEI .. Ada otak enggak lu ha?" Hardik Sanaf.
Si pemuda bukannya ketakutan. Dia malah cengar-cengir saja.
"Ngapa lu cengar-cengir?" Sanaf naik pitam.
Ingin sekali dia menghajar pemuda yang menurut dia angkuh dan som bong itu.
"Sudah, sudah." Malik melerai. Ar man juga.
"Kau tak tengok orang-orang yang ada di belakangnya itu?" Tanya Malik sambil berbisik.
"Tengok Bos."
"Kalau dia keroyok kita sekarang, mampuslah kita Naf. Paham?"
"Tapi kan kita ada pistol. Sikat aja sekalian."
"Pihak berwajib jadi tahu kebera daan kita tau .."
"Jadi gimana Bos?"
"Cepat masuk mobil ...!"
"Siap Bos."
Saat Arman menghidupkan mesin mobil, Bos Malik masih berbincang-bincang dengan si pemuda, sebe lum akhirnya bersalaman dan ma suk ke dalam mobil.
Mobil melaju lambat. Tepat di pe rempatan melaju cepat.
Kemana Maria gerangan?
Dia sekarang tengah menunggu di pertigaan ...
Dia menelepon ...
Siapa yang dia telepon?
"Halo Bos Malik!"
"Halo juga. Dengan siapa saya bicara?" Tanya Malik.
"Maria Bos."
He he he he ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar