Langit tak Berbintang (8)
Oleh Wak Amin
"GANTENG juga ya Bapak Presiden kita," kata seorang ibu yang ikut ber gabung dengan para ibu lainnya. In gin melihat dari dekat Kepala Nega ra mereka yang amat duelu-elukan rakyat Yauman.
"Naksir ya. Nanti kubilangin sama Bapak Presiden," jawab rekannya, seorang ibu muda berparas cantik, sambil tertawa.
"Huuusy. Jangan ah. Lagian apa dia mau dengan aku. Kan enggak?"
Hik hik hik ...
"Jodoh kan enggak kemana. Kada ng dicari dia lari, didiemin dia de kat. Datang sendiri ..."
He he he ...
"Kasihan Bapak Presiden lah," kata ibu berkebaya. Meski sudah mema suki gerbang lansia, masih kuat ber diri rame-rame.
"Kasihan kenapa Buk?" Tanya ibu berparas cantik tadi.
"Beliau kan sudah beristeri. Anak udah pada gede semuanya. Lain soal kalau beliau ..."
Eheeem ..
"Duren. Duda keren .."
Ha ha ha ha ...
Guaaaam ...
Guaaar ...
Terjadi ledakan tak jauh dari mobil yang ditumpangi Presiden Bais. Se ketika warga panik.
Saat itulah puluhan anak panah d an desingan peluru mengarah ke Presiden Bais, saat turun dari mobil dan diselamatkan paspampres ke sebuah gedung di ujung jalan.
Sebuah mobil anti peluru berhenti beberapa saat kemudian. Lalu me laju membawa Presiden dan penga walnya menuju simpang tiga.
"Elang I, sasaran utama lolos. Cep at turun." Perintah Kolonel Topan.
"Siap Kolonel!"
"Saya bersama Maria segera mela kukan pengejaran."
"Kami siap menyusul Kolonel."
"Jangan lupa. Kembali ke awal. Lakukan penyamaran ..."
"Siap Kolonel."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar