Langit tak Berbintang (7)
Oleh Wak Amin
HARI ini berlangsung perayaan Hari Kemerdekaan Negeri Yauman. Ber bagai kegiatan digelar. Mulai dari pameran, seminar, perlombaan ber bagai tangkai olahraga hingga per tunjukan teater dan musik.
Hari ini, Jenderal Bais yang terpilih sebagai penguasa baru Yauman pa sca mangkatnya Presiden Akbar ka rena sakit. Suksesi kepemimpinan berjalan lancar, aman dan terken dali.
Tak ada kekacauan di sana sini ...
Hari ini Presiden Bais akan berke liling kota untuk menemui rakyat nya. Setiap jalan telah disterilkan. Segenap pasukan pengaman pre siden disiagakan di setiap tempat untuk mengamankan acara temu penguasa dengan rakyat ini.
Dari atas gedung pencakar langit, sudah menyebar tiga pemanah dan penembak jitu. Mereka adalah Ser san Urip, Letnan Subki, dan Kapten Andre.
Sedangkan di bawah gedung, tepat nya di tengah kerumunan warga, su dah ada sejam lalu Kolonel Topan dan Maria. Keduanya disiagakan un tuk membunuh Preseliden Bais dari jarak dekat.
"Elang I, Elang I. Merpati memang gil."
"Elang I disini ... Siap terima perin tah," kata Letnan Subki, Elang I.
Elang II, Kapten Andre dan Elang III, Sersan Urip. Keduanya mempersi apkan busur dan anak panah.
"Bagaimana keadaan disana?"
"Aman Merpati."
Lima belas menit kemudian ...
"Elang I, Naga memanggil."
"Elang I disini," kata Letnan Subki, " Elang siap menerima perintah."
"Amankan posisi dan siap mem bidik."
"Siap laksanakan Kolonel!"
Iring-iringan Sang Presiden mulai memasuki kawasan tempat berku mpulnya rakyat Yauman. Memben tang di tiga jalan dengan hanya di beri tali sebagai pembatas yang di jaga petugas pengaman khusus.
Berdiri di atas mobil tak bertutup, di dampingi para pengawal kepreside nan, Presiden Bais tampak gagah dengan jas biru muda.
Sesekali dia melambaikan tangan kepada rakyatnya yang hari itu sere mpak melambaikan tangan. Ada ya ng menjerit histeris, menangis dan tak henti-hentinya memanggil "Ba is .. Bais, Presiden Kami."
Di kalangan rakyat Yauman, Presi den Bais dikenal luas. Merakyat, sa ma seperti presiden pendahulunya. Amat dicintai dan disayangi oleh semua kalangan, baik yang kaya maupun yang papa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar