Peluk Aku Ya Allah (36)
Oleh Wak Amin
HIK hik hik ...
Tak biasanya Zainab tertawa. Bikin penasaran Kolonel Ihsan dan Kap ten Adi, saat ketiganya beristirahat sejenak untuk mengatur stratregi di perbatasan dua bukit.
"Lucu duhai ayah," kata Zainab. Ta di dia mendapat laporan bahwa Jen deral Fatoni dan Jenderal Komar melarikan diri.
"Mungkin sembunyi saja, bukan me larikan diri anakku," ujar Kolonel Ih san. Dia senang melihat Zainab tertawa.
"Kalau sembunyi kenapa harus bu ang senjata segala ayah."
"Mungkin kepengen yang baru anakku."
Hik hik hik ...
Tak lama kemudian datang Letnan Prayoga menggunakan kuda. Turun dari kuda sambil melompat.
"Lapor Kolonel," ucapnya sambil me mberi hormat, membungkukkan badan.
"Silakan Letnan!"
"Jenderal Mansur meminta bapak menemui beliau sekarang."
"Baiklah," ucap Kolonel Ihsan.
"Kapten Adi!"
"Siap Pak."
"Zainab!"
"Siap Komandan."
Pemanggilan Kolonel Ihsan hanya ingin memastikan ngacirnya pasu kan pemberontak dan pasukan srigala.
Selain tentunya menyiapkan bebe rapa langkah lanjutan. Sebab, wa lau bagaimanapun pasukan lawan belum menyatakan menyerah.
Boleh jadi, ngacirnya mereka saat ini merupakan bagian dari strategi untuk menghindari kekalahan yang memalukan sekaligus menyusun kekuatan baru dan penyerangan yang lebih dahsyat dari sebelum nya.
"Kita harus hati-hati Kolonel," kata Jenderal Bais.
Menurut saya, kata Jenderal Bais, seluruh pasukan siaga di tempat. "Sebaiknya tak usah dulu menye rang maju ke depan."
"Saya setuju dengan apa yang disa rankan Jenderal Bais barusan. An da sendiri bagaimana Kolonel?"
"Setuju Jenderal. Saya, Zainab dan Kapten Adi, baru akan membahas masalah ini sebelum saya diminta menghadap Jenderal saat ini."
"Terima kasih Kolonel. Anda dipersi lakan kembali ke pasukan anda sekarang ..."
"Siap laksanakan Jenderal!"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar