Mana Tahan (19)
Oleh Wak Amin
KARENA terluka parah di bagian ka ki, Kamil harus dirujuk ke rumah sa kit. Dia mendapat perawatan inten sif dengan penjagaan ketat dari pi hak keamanan.
Selama dirawat, Kamil sering mera ung-raung setiap malam. Bukan ka rena menahan sakit di kedua kaki nya, tapi takut tim dokter mengam putasi kakinya.
"Mati aku. Tolong aku suster. Aku tak mau kakiku dipotong," rengek Kamil.
Suster di sampingnya cuma terse nyum geli melihat kelakuan Kamil. Dia tak sangka bos mafia bisa juga bertingkah seperti anak kecil.
"Siapa bilang kaki Tuan mau dipo tong?" Tanya suster ramah.
"Saya suster.'
He he he ...
"Kenapa suster ketawa. Saya serius nih."
"Saya mau tanya, boleh kan Tuan?"
"Boleh, tapi cepat suster."
"Tuan Kamil dokter bukan?"
"Bukanlah suster."
"Terus yang berhak potong kaki Tuan, Tuan atau dokter?"
"Dokter lah sus. Masa harus saya."
"Apa dokter pernah bilang sama Tuan kalau kaki Tuan bakal diamputasi begitu?"
Kamil menggelengkan kepala.
"Kalau dokter aja enggak bilang kaki Tuan bakal diamputasi, kena pa mesti takut?"
"Takut aja sus. Dokter juga kan ma nusia. Bisa saja dia berubah pikir an. Dari awalnya tidak diamputasi jadi diamputasi."
"Kalau sekiranya iya, apa Tuan ta kut?"
"Takuuut. Takuuut susteeer!" Jerit Kamil, membuat suster yang bertu gas di kamar lain tergopoh-gopoh ke salnya Kamil.
Perlu waktu hampir satu jam untuk menenangkan Kamil. Itu pun sete lah pasukan keamanan turun tang an untuk menangkan Kamil.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar