Mana Tahan (18)
Oleh Wak Amin
KAMIL sempat kaget.
"Anda penduduk Yauman Nona?" Ta nya Kamil sambil menoleh ke bela kang.
"Jangan bergerak ..."
Kamil tertawa sinis dan mengejek.
"Tembak saja kalau berani. Ha ha .. Saya yakin anda tak bakalan berani."
"Kata siapa?"
"Kata saya. Ha ha .."
Dooor ...
Dooor ...
Dua peluru bersarang di paha kiri Kamil. Kali ini dia jatuh tersungkur. Tak bisa berdiri lagi.
"Bangun. Ayo bangun!" Maria tarik paksa tangan Kamil. Tapi tak bisa karena tak mampu berdiri lagi.
Saat Maria lengah, menoleh ke kiri, ada sesuatu yang bergerak di se mak belukar, Kamil mencabut pis tolnya.
Dooor ...
Dooor ...
Keduluan Mayor Hanafi. Pistol ter lepas dari tangan Kamil. Menge ra ng kesakitan. Tangan kanannya ter tembak.
Kamil tak bisa apa-apa lagi. Dia ha nya bisa pasrah saat dibawa menu ju truk yang terparkir di tengah ja lan.
Warga kampung satu persatu kelu ar dari rumah mereka. Juga peng endara yang melintas. Penasaran melihat orang ramai berkumpul de kat truk.
Polisi datang ke lokasi kejadian. Me ngamankan truk, senjata beserta pe luru dan bahan peledak yang berse rakan di jalan.
Kamil dibawa menggunakan mobil kepolisian menuju kantor polisi un tuk si mintai keterangan dengan pe ngawalan ketat pihak berwajib.
Sementara Mayor Hanafi cs melap orkan penangkapan Kamil kepada Pangsar Jenderal Sutarman dengan catatan sang bos mafia belum mau buka mulut.
"Biarkan saja. Yang penting anda be rtiga selamat dan salah satu dari mereka berhasil kita amankan," ka ta Pangsar Jenderal Sutarman.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar