Minggu, 04 Agustus 2019

Mana Tahan (7)

Mana Tahan (7)
Oleh Wak Amin




USAI pelepasan ...

Salah seorang ajudan Pangdar Jen deral Sutarman memberitahu ada seorang wanita yang mengaku Ma ria ingin bertemu.

Bertatap muka ...

"Jenderal. Saya langsung kembali ke Al ' la hari ini. Presiden Bais su dah saya beritahu," kata Zainab.

"Baik Panglima. Terima kasih telah memenuhi undangan kami. Sampai kan salam saya buat Jenderal Man sur, Jenderal Ihsan dan semuanya."

"Siap Jenderal. Saya akan sampai kan sesaat setelah saya kembali tiba dan Al 'la."

"Terim kasih duhai saudara perem puanku. Teriring doa selamat sam pai tujuan dari saya .."

"Terima kasih Panglima. Dengan senang hati saya mohon pamit."

Setelah bersama rombongan Pre siden Bais menuju istana, Zainab berpisah arah. Dia menuju airport Yauman, dan Jenderal Ihsan, ayah angkatnya sudah siap menyambut kepulangannya di airport Al A'la.

Sementara Maria, setelah Presiden Bais dan rombongan sampai di ista na barulah dia bertemu dengan Pa ngsar Jenderal Sutarman di ruang kerjanya.

Walau tak resmi, karena tidak dijad walkan ada pertemuan khusus hari ini, kehadiran Maria disambut deng an ramah dan hangat oleh Jenderal Sutarman.

"Setelah ini saya akan memperte mukan anda dengan Mayor Habafi dan Letnan Subekti," kata Pangsar Jenderal Sutarman menindaklanjuti hasil per temuan terdahulu.

Sudah dua kali Jenderal Sutarman bertemu dengan Maria. Pertemuan pertama teejadi sesaat sebelum ke datangan Mayor Hanafi dan Letnan Subekti yang kemudian berhasil dia mankan di airport Yauman.

Maria ingin meminta perlindungan dari Presuden Baus dan Panglima Jenderal Sutarman. Karena dicari Raja Jasina untuk ditangkap hidup-hidup dan diadili di pengadilan Jasi na atas tuduhan berkhianat karena menolak menjalankan tugas mem bunuh Presiden Bais.

"Saya akui, saya telah membunuh rekan-rekan saya saat itu Jenderal Sutarman," kata Maria sedih.

"Tapi," lanjut Maria, "Hal itu terpak sa saya lakukan karena saya, dari hati nurani yang paling dalam, me nolak menjalankan perintah kotor dan amat kejam ini."

Saya akhirnya mengambil jalan pin tas yang menurut saya bisa menye lesaikan masalah. "Ternyata keliru Jenderal. Semakin saya menghabi si teman-teman saya, kelakuan Ra ja Jasina semakin nekat saja."

"Nyawa saya terancam. Saya paling dicari dan dijadikan target utama setelah presiden anda Jenderal Su tarman," jelas Maria.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar