Oleh Aminuddin
ID : Pub-4876570404296850
BAB VI
SEMENTARA di dalam goa terjadi tembak menembak antara Letnan Selamet dan dua rekannya dengan Awal cs, Ameng dan Amung justru kebalikannya.
Santai dan seolah tidak terjadi apa-apa. Padahal Sang Bos sangat mengharapkan secepatnya diketemukan dan dibawa ke hadapannya.
Sudah beberapa jam menunggu, bukan kabar baik yang diterima, tapi kabar tak baik.
Aliong marah besar ketika Ameng memberitahu bahwa Awal cs sudah tewas ditembak pihak berwajib.
"Jangan macam-macam ya. Dari mana kalian tahu mereka sudah tewas haa. Ayo dari mana ..?"
Ameng dan Amung saling mena tap. "Kami mendapat laporan dari pihak intelijen," jelas Ameng.
"Intelijen mana. Intelijen jidatmu."
"Betul Bos." Ameng bersikeras dan yakin jika kabar dari pihak intelijen itu benar adanya.
Bos Aliong hanya geleng-geleng kepala. Dia tahu Ameng dan Amung bersandiwara.
Tak mau ribet dan dinilai gagal dalam menjalankan tugas.
Praaak ...
Pukul dan gebrak meja.
"Saya tetap tidak percaya. Saya baru percaya jika jasad mereka diketemukan. Mengerti?"
Ameng garuk-garuk kepala.
Amung senyum-senyum geli.
"Jadi kalian berdua harus cari tahu sedetil-detilnya. Jangan lupa foto. Kirimkan ke saya segera. Paham?"
Eeeem ...
"Dengar tidak kalian. Jawab. Paham tidak?"
"Paham Bos," jawab Ameng sedikit gugup.
"Kalau yang saya minta tidak ada, berarti kepala kalian berdua siap-siap ditebas."
Eeeem ...
"Mulai dari sekarang cari sampai dapat." Perintah Aliong.
"Ai ai Bos."
Ameng dan Amung serempak mem beri hormat, walaupun cuma di depan telepon umum di pusat kota.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar