Rabu, 22 Desember 2021

Takut Kepada Allah SWT (3)

Siraman Rohani Takut kepada Allah SWT (3) 
Oleh Aminuddin 
ID : Pub-4876570404296850


SITI Aisyah ra meriwayatkan bahwasanya jika angin bertiup dan cuaca berubah, maka wajah Rasu lullah SAW berubah. Ia selalu berdiri dan berputar-putar di kamar sambil keluar masuk. Semua itu karena takut siksa Allah SWT. Anas bin Malik ra meriwayatkan, Nabi Muhammad SAW bertanya kepada Malaikat Jibril as: “Apa bagiku, aku tidak melihat Mikhail tertawa?” Jibril menjawab : “Mikhail tidak tertawa sejak neraka diciptakan.” Nabi Daud as menangis selama empat puluh hari dalam keadaan bersujud. Beliau tidak mengangkat kepalanya, sehingga rumput tumbuh dari air mata beliau dan menutupi kepalanya. Kemudian ada seruan : “Hai Daud, apakah engkau lapar, sehingga engkau diberi makan? Ataukah dahaga sehingga engkau diberi minum? Ataukah telanjang sehingga diberi pakaian?” Daud pun meratap, dan akibat ratapannya itu, kayu terbakar karena panasnya perut beliau. Kemu dian Allah SWT menurunkan taubatnya kepada beliau. Juga diriwayatkan, bahwasanya Nabi Daud as tidak pernah memandang ke atas karena malu kepada-Nya, Allah SWT. Beliau berkata ketika bermunajat : “Ya Tuhanku, jika aku ingat kesalahanku, maka bumi ini terasa sempit meskipun luas. Dan jika aku ingat rahmat-Mu, maka ruhku kembali kepadaku. Maha Suci Engkau, ya Tuhanku. Aku mendatangi beberapa tabib dan hamba-hamba-Mu agar mereka mengobati kesalahanku. Kesemuanya menun jukkan aku kepada-Mu. Maka betapa jelek mereka yang berputus asa dari rahmat-Mu.” Diriwayatkan, bahwasanya Abu Bakar ra berkata kepada burung: “Wahai, andai aku sepertimu, hai burung, dan tidak diciptakan sebagai manusia …” Abu Dzar ra berucap : “Aku suka menjadi pohon yang ditebang …” “Aku suka jika aku mati aku tidak dibangkitkan,” kata Utsman. “Aku suka jika aku dilupakan sama sekali,” aku Aisyah. Suatu kali, Umar melewati rumah sseorang yang sedang menunaikan salat dan membaca surah Ath-Thur. Beliau berhenti untuk mendengarkan. Ketika orang itu sampai pada ayat “Inna adzaaba robbika lawaa qi’u man lahu min daafi’.” (Ath-Thur 7-8) yang artinya : “Sesungguhnya azab Tuhanmu pasti terjadi. Tidak ada seorang pun yang dapat menolaknya.” Umar pun turun dari keledai dan bersandar pada tembok untuk beberapa saat. Lalu beliau kembali ke rumah, kemudian jatuh sakit selama sebulan. Orang-orang pun membesuk beliau, namun mereka sama sekali tidak tahu penyakit apa yang beliau derita. Usai salat subuh dan salam, dalam keadaan sedih sambil membalikkan tangan, Imam Ali Karramallu Wajhah berkata : “Sunngguh aku telah melihat pada sahabat Nabi SAW. Namun saat ini aku tidak melihat sesuatupun yang menyerupai mereka. Mereka menjelang pagi dengan keadaan kusut, berwarna seperti debu dan pucat. Di antara mereka ada tanda seperti orang yang kesusahan. Mereka bertobat kepada Allah SWT. Mereka beristirahat di antara kening dan kaki mereka. Ketika bangun di pagi hari, mereka pun berzikir kepada Allah SWT, dan mata mereka tergenang air mata, sampai membasahi pakaian mereka.” Selesai berkata, beliau (Ali) berdiri dan tidak pernah tertawa setelah itu, sampai akhirnya dibunuh oleh Ibnu Muljam. Imam Ali bin Al-Husain ra berubah menjadi pucat jika selesai berwudhu’. Melihat hal itu, keluarga beliau bertanya: “Apa yang menyebabka engkau begitu pucat ketika engkau berwudhu?” Beliau menjawab : “Tahukah kamu, kepada siapa (aku berwudhu) aku menghadap?” Ibnu Abbas, ketika ditanya tentang orang-orang yang khauf, beliau menjawab: “Hati mereka bergembira karena takut dan mata mereka menangis. Mereka berkata: “Bagaimana kami bergembira sementara kematian di belakang kami, kubur di depan kami, kiamat adalah masa perjanjian kami, jahanam adalah jalan kami dan di depan Allah SWT-lah berdiri kami?” Suatu saat, Hasan Bashri bertemu dengan seorang pemuda yang tertawa terpingkal-pingkal bersama sekelompok orang. Hasan lalu bertanya kepada pemuda itu: “Hai pemuda, apakah engkau dapat melewati sirath?” Pemuda itu menjawab: “Tidak.” “Apakah engkau tahu, ke neraka atau ke surga engkau nanti? Tanya Hasan Bashri lagi. “Tidak,” jawab pemuda itu. “Kalau demikian, mengapa engkau tertawa?” Si pemuda tadi tidak pernah tertawa lagi setelah itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar