Minggu, 14 Juni 2015

Koing (17)



Serial Detektif Cilik
KOING (17)

Balap Sepeda
Wak Amin

“Terus Ing … terus!” Teriak teman-teman satu kelasnya dari atas tribun menyaksikan lomba balap sepeda antar kecamatan.
Koing masih berada di urutan keenam dari lima puluh peserta. Sementara Brendo paling buncit. Baru dua kali putaran sudah loyo, kayak orang baru sembuh dari penyakit kronis.
Bu Guru Linda, sepertinya tak henti-henti memberi semangat. Kadangkala melambaikan tangan, saputangan dan berteriak-teriak sambil melompat bersama para siswa, sementara Koing berhasil menyalip lawan. Kini di urutan keempat.
Bagaimana dengan Brendo?
Dengan nafas tersengal-sengal dia menduduki posisi nomor dua dari buncit. Lumayan bagus. Tapi untuk naik podium tampaknya Brendo harus bekerja ekstra keras. Mengayuh sepedanya sekencang mungkin, melewati lawan dan ada niat serta tekad bulat untuk meraih kemenangan.

“Susah ya Bu?!” Komentar Fitri.
Brendo ya?” Tanya Bu Guru Linda.
Fitri mengangguk.
“Kan baru tujuh putaran sayang. Masih lama. Mudah-mudahan saja mereka berdua bisa menang,” harap Bu Linda.
“Kalau kalah gimana Bu?” Tanya siswa yng lain, beda kelas.
“Ya sudah. Tak apa-apa …”
“ Bu Guru enggak marah kan?” Tanya Fitri lagi.
“Enggaklah Fit. Malah ibu senang dan berterima kasih karena Koing dan Brendo telah ikut berpartisipasi dalam memeriahkan lomba balap sepeda ini …”
Kemeriahan balap sepeda sempat terusik setelah Brendo jatuh karena ditabrak pesepeda lain dari samping. Dia terjatuh, tapi untunglah bisa melanjutkan pertandingan lagi.
Braak … gaarrrr…
Giliran Koing terjatuh. Dia ditabrak pesepeda urutan di bawahnya dari belakang. Sama seperti Brendo barusan, Koing berhasil melanjutkan perlombaan, meski kakinya memar dan ada rasa sakit di tumit.
“Anak itu curang ya Bu,” kata Fitri dengan raut muka tak bergairah.
“Mungkin saja Fit. Nanti kita tanyakan ke panitia lomba. Apa dan bagaimana sikap serta tindakan mereka. Apa yang menabrak dikurangi poin, atau ada hukuman lain …”
“Seharusnya dikeluarkan Bu. Biar jera,” gerutu siswa kelas empat berambut gimbal.
Kecurangan bukannya mereda, malah kembali terjadi. Bukan hanya menimpa Koing dan Brendo saja. Pesepeda yang lain, terutama berada di urutan terdepan, selalu dimanuver. Diganggu biar tak nyaman. Sedangkan penabraknya ada beberapa orang.
“Saya harus beri tahu panitia,” bisik Bu Guru Linda dalam hati.
Pihak panitia menerima laporan berupa keluhan dan protes dari Bu Guru Linda dan Bu Retno. Tapi, karena perlombaan masih berlangsung, protes dan keluhan itu baru sebatas ditampung dahulu.
“Kita tunggu sampai selesai ya Bu. Harap bersabar,” ujar salah seorang panitia berkacamata hitam.
Bu Linda dan Bu Retno menerimanya. Cuma kedua wanita ini tidak bisa menerima hasil lomba karena menempatkan pesepeda yang melabrak Koing meraih juara pertama.
Bukan hanya Bu Linda dan Bu Retno, para guru dari sekolah lain juga melakukan protes atas hasil lomba balap sepeda. Karena selain tidak adil, pembalap yang melakukan pelanggaran tidak didiskualifikasi.
“Anda-anda semua ini setan,” gerutu ibu muda, guru olahraga dari sekolah lain.
“Seenaknya memenangkan orang tertentu,” sahut yang lain.
“Seharusnya bapak-bapak yang terhormat ini mendengarkan dengan baik protes para guru ini. Jangan mentang-mentang panitia seenak perutnya bertindak,” jelass wali murid yang ikut menyaksikan anaknya ikut balapan sepeda.
Sempat terjadi perkelahian antara wali murid berkepala plontos dengan salah seorang panitia. Namun bisa dilerai oleh guru dan panitia yang lain. Suasana yang sempat memanas berhasil normal kembali. Kedua belah pihak sama-sama menahan diri.
Sementara, karena merasa tersinggung dengan ucapan Brendo, pemenang pertama balap sepeda naik pitam. Membuka baju dan mengajak Brendo berkelahi. Sayangnya, tantangan itu dianggap angin lalu.
“Biarlah Do. Tak usah diladeni. Orang sinting, biasa ..” Kata Koing.
Setelah rapat kilat terbatas, akhirnya panitia lomba memutuskan pemenang pertama balap sepeda adalah Koing. Koing yang semula berada di urutan ketiga, naik dua tingkat, karena juara satu dan dua didiskualifikasi. Selain membahayakan keselamatan sesame pesepeda juga terbukti terang-terangan mencelakai orang lain.
Tentu saja dua pemenang yang terkena diskualifikasi itu mencak-mencak, tidak terima. Mereka me ngajukan protes. Mereka mengamuk. Begitu juga dengan para pendukungnya. Koing mereka soraki dan mengajak berkelahi. Umpatan, cacian dan hujatan mengiringi langkah kakinya kala naik podum guna menerima piala dan hadiah lomba lainnya.
Sorak-sorai dan yel-yel kemenangan dari siswa, guru dan wali murid di mana Koing menimba llmu semakin membakar emosi dua siswa yang gagal naik podium itu.
“Awas. Tunggu pembalasan dari kami,” ancam keduaya. Dua siswa itu satu sekolahan tapi beda kelas. Satu kelas lima dan satunya lagi kelas enam.
Keduanya sepakat akan menghajar Koing dan Brendo di suatu tempat.
Dimana?
“Di Gang Sempit,” kata siswa bermata sipit, diiyakan rekannya, si belang.
Rencana jahat ini diketahui Brendo yang tanpa sengaja nguping saat buang air di toilet. Jarak Brendo dan kedua siswa itu kira-kira satu meter.
“Alhamdulillah, saya harus kasih tahu Koing secepatnya,” ujar Brendo dengan suara pelan.
Rencana pun disusun rapi. Koing dan Brendo dibiarkan pergi berdua melintasi Gang Sempit, sementara Wak Ji, Bu Guru Linda dan teman satu kelas menyusul belakangan.
Rupanya mereka sudah ditunggu si sipit dan si belang dengan pentungan kayu dan skop cap badak. Begitu melhat Koing dan Brendo, keduanya segera beraksi.
Priiiiit …
“Hentikan!”
Suara lantang Wak Ji bak perwira gagah berani menciutkan nyali sipit dan belang. Keduanya mencoba hendak kabur. Tapi sudah keburu dihadang siswa dan sejumlah warga yang datang belakangan untuk memberikan pertolongan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar