Serial Detektif Cilik
KOING (17)
Balap Sepeda
Wak Amin
“Terus Ing … terus!”
Teriak teman-teman satu kelasnya dari atas tribun menyaksikan lomba balap
sepeda antar kecamatan.
Koing masih berada di
urutan keenam dari lima puluh peserta. Sementara Brendo paling buncit. Baru dua
kali putaran sudah loyo, kayak orang baru sembuh dari penyakit kronis.
Bu Guru Linda,
sepertinya tak henti-henti memberi semangat. Kadangkala melambaikan tangan,
saputangan dan berteriak-teriak sambil melompat bersama para siswa, sementara
Koing berhasil menyalip lawan. Kini di urutan keempat.
Bagaimana dengan
Brendo?
Dengan nafas
tersengal-sengal dia menduduki posisi nomor dua dari buncit. Lumayan bagus.
Tapi untuk naik podium tampaknya Brendo harus bekerja ekstra keras. Mengayuh sepedanya
sekencang mungkin, melewati lawan dan ada niat serta tekad bulat untuk meraih
kemenangan.
“Susah ya Bu?!” Komentar Fitri.
Brendo ya?” Tanya Bu
Guru Linda.
Fitri mengangguk.
“Kan baru tujuh
putaran sayang. Masih lama. Mudah-mudahan saja mereka berdua bisa menang,”
harap Bu Linda.
“Kalau kalah gimana
Bu?” Tanya siswa yng lain, beda kelas.
“Ya sudah. Tak
apa-apa …”
“ Bu Guru enggak
marah kan?” Tanya Fitri lagi.
“Enggaklah Fit. Malah
ibu senang dan berterima kasih karena Koing dan Brendo telah ikut berpartisipasi
dalam memeriahkan lomba balap sepeda ini …”
Kemeriahan balap
sepeda sempat terusik setelah Brendo jatuh karena ditabrak pesepeda lain dari
samping. Dia terjatuh, tapi untunglah bisa melanjutkan pertandingan lagi.
Braak … gaarrrr…
Giliran Koing
terjatuh. Dia ditabrak pesepeda urutan di bawahnya dari belakang. Sama seperti
Brendo barusan, Koing berhasil melanjutkan perlombaan, meski kakinya memar dan
ada rasa sakit di tumit.
“Anak itu curang ya
Bu,” kata Fitri dengan raut muka tak bergairah.
“Mungkin saja Fit.
Nanti kita tanyakan ke panitia lomba. Apa dan bagaimana sikap serta tindakan
mereka. Apa yang menabrak dikurangi poin, atau ada hukuman lain …”
“Seharusnya
dikeluarkan Bu. Biar jera,” gerutu siswa kelas empat berambut gimbal.
Kecurangan bukannya
mereda, malah kembali terjadi. Bukan hanya menimpa Koing dan Brendo saja.
Pesepeda yang lain, terutama berada di urutan terdepan, selalu dimanuver.
Diganggu biar tak nyaman. Sedangkan penabraknya ada beberapa orang.
“Saya harus beri tahu
panitia,” bisik Bu Guru Linda dalam hati.
Pihak panitia
menerima laporan berupa keluhan dan protes dari Bu Guru Linda dan Bu Retno.
Tapi, karena perlombaan masih berlangsung, protes dan keluhan itu baru sebatas
ditampung dahulu.
“Kita tunggu sampai
selesai ya Bu. Harap bersabar,” ujar salah seorang panitia berkacamata hitam.
Bu Linda dan Bu Retno
menerimanya. Cuma kedua wanita ini tidak bisa menerima hasil lomba karena
menempatkan pesepeda yang melabrak Koing meraih juara pertama.
Bukan hanya Bu Linda
dan Bu Retno, para guru dari sekolah lain juga melakukan protes atas hasil
lomba balap sepeda. Karena selain tidak adil, pembalap yang melakukan
pelanggaran tidak didiskualifikasi.
“Anda-anda semua ini
setan,” gerutu ibu muda, guru olahraga dari sekolah lain.
“Seenaknya memenangkan
orang tertentu,” sahut yang lain.
“Seharusnya
bapak-bapak yang terhormat ini mendengarkan dengan baik protes para guru ini.
Jangan mentang-mentang panitia seenak perutnya bertindak,” jelass wali murid
yang ikut menyaksikan anaknya ikut balapan sepeda.
Sempat terjadi
perkelahian antara wali murid berkepala plontos dengan salah seorang panitia.
Namun bisa dilerai oleh guru dan panitia yang lain. Suasana yang sempat memanas
berhasil normal kembali. Kedua belah pihak sama-sama menahan diri.
Sementara, karena
merasa tersinggung dengan ucapan Brendo, pemenang pertama balap sepeda naik
pitam. Membuka baju dan mengajak Brendo berkelahi. Sayangnya, tantangan itu
dianggap angin lalu.
“Biarlah Do. Tak usah
diladeni. Orang sinting, biasa ..” Kata Koing.
Setelah rapat kilat
terbatas, akhirnya panitia lomba memutuskan pemenang pertama balap sepeda
adalah Koing. Koing yang semula berada di urutan ketiga, naik dua tingkat,
karena juara satu dan dua didiskualifikasi. Selain membahayakan keselamatan sesame
pesepeda juga terbukti terang-terangan mencelakai orang lain.
Tentu saja dua
pemenang yang terkena diskualifikasi itu mencak-mencak, tidak terima. Mereka me
ngajukan protes. Mereka mengamuk. Begitu juga dengan para pendukungnya. Koing
mereka soraki dan mengajak berkelahi. Umpatan, cacian dan hujatan mengiringi
langkah kakinya kala naik podum guna menerima piala dan hadiah lomba lainnya.
Sorak-sorai dan
yel-yel kemenangan dari siswa, guru dan wali murid di mana Koing menimba llmu
semakin membakar emosi dua siswa yang gagal naik podium itu.
“Awas. Tunggu
pembalasan dari kami,” ancam keduaya. Dua siswa itu satu sekolahan tapi beda
kelas. Satu kelas lima dan satunya lagi kelas enam.
Keduanya sepakat akan
menghajar Koing dan Brendo di suatu tempat.
Dimana?
“Di Gang Sempit,”
kata siswa bermata sipit, diiyakan rekannya, si belang.
Rencana jahat ini
diketahui Brendo yang tanpa sengaja nguping saat buang air di toilet. Jarak
Brendo dan kedua siswa itu kira-kira satu meter.
“Alhamdulillah, saya
harus kasih tahu Koing secepatnya,” ujar Brendo dengan suara pelan.
Rencana pun disusun
rapi. Koing dan Brendo dibiarkan pergi berdua melintasi Gang Sempit, sementara
Wak Ji, Bu Guru Linda dan teman satu kelas menyusul belakangan.
Rupanya mereka sudah ditunggu
si sipit dan si belang dengan pentungan kayu dan skop cap badak. Begitu melhat
Koing dan Brendo, keduanya segera beraksi.
Priiiiit …
“Hentikan!”
Suara lantang Wak Ji
bak perwira gagah berani menciutkan nyali sipit dan belang. Keduanya mencoba
hendak kabur. Tapi sudah keburu dihadang siswa dan sejumlah warga yang datang
belakangan untuk memberikan pertolongan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar