Senin, 15 Juni 2015

koing (21)



Serial Detektif Cilik
KOING (21)

Naik Percobaan
Wak Amin                      

“POKOKNYA anakku naikkan kelas. Kalau tidak .. awas rasakan akibatnya,” ancam Pak Saleh ketika bersua Bu Retno di ruangannya menjelang siang.
“Tenang, Tenang dulu Pak Saleh. Mari kita bicarakan baik-baik,” kata Bu Retno berusaha menenangkan Pak Saleh yang tak terima anaknya tinggal kelas.
“Saya tak bisa tenang, Bu sebelum anak saya, Wasir naik kelas,” jelas Pak Saleh sembari menyeka peluh di sekitar lehernya.
“Oke, baiklah Pak kalau begitu. Kita bicarakan ini dan tuntaskan hari ini juga,” kata Bu Retno, di damping Pak Budi, guru kelas tiga.
Kenapa dengan Wasir?
Wasir sebenarnya anak yang baik. Sebelumnya ia dikenal anak yang rajin. PR sekolah ia kerjakan dan hasilnya cukup baik. Tidak mengganggu teman-teman yang lain, baik satu kelas maupun beda kelas.
Tidak bodoh tapi juga tidak terlalu pintar. Sedang-sedang saja. Semua pelajaran sekolah bisa diikuti dengan baik. Tidak pemalas. Anaknya rada pendiam. Tidak melawan, apalagi membandel pada guru kelasnya.
Pak Budi selaku guru merangkap wali kelas tiga ikut perihatin dengan perubahan yang terjadi beberapa bulan belakangan ini.
“Saya coba cari tahu dengan bertanya langsung pada Wasir. Tapi dia tetap tutup mulut,” aku Pak Budi.
“Ini bukan tidak naik kelas, Pak Saleh. Setelah rapat kami memutuskan Wasir naik percobaan,” jelas Pak Budi.
Pak Saleh belum juga reda marahnya.
“Naik percobaan itu diputuskan lewat beberapa pertimbangan matang, Pak Saleh. Di antaranya kerajinan, kehadiran, kedisplinan dan ketekunan …”
“Wasir sudah dua bulan terakhir ini jarang masuk. Kalau masuk dia melamun saja. Nilai pelajarannya merosot. Kami sudah datangi rumah bapak untuk bicarakan hal ini. Tapi bapak selalu tidak ada di rumah,”  kata Pak Budi.
“Wasir akhirnya bilang dia tak mau bicara karena takut dengan bapak. Jadi selaku wali kelasnya saya tak bisa memaksa dia bicara. Kuatir nanti menimbulkan masalah baru  dan bukan menyelesaikannya,” ujar Pak Budi.
“Nah, sekarang bapak sudah ada di depan saya dan Bu Retno. Mari kita bicara baik-baik, Pak,”  jelas Pak Budi.
Pak Saleh batuk-batuk.
“Sudah terlambat, Pak Budi. Kenapa tidak dari dulu. Anda kan tahu. Saya orangnya sibuk. Ngurus bisnis, sawah dan macam-macam lah. Kalau memang anda punya I’tikad yang baik, kenapa tidak ditunda dulu keputusannya?”
“Kalau itu tidak bisa, Pak.”
“Lha, kenapa Pak? Apa salahnya ditunda dulu. Kan ini menyangkut masa depan Wasir, anak saya juga …”
 “Saya mengerti Pak Saleh. Tapi cobalah bapak mengerti juga posisi saya …”
Pak Saleh bangkit dari tempat duduknya.
“Sabar, Pak. Sabar,” ucap Bu Retno. Kuatir terjadi perkelahian antara Pak Saleh dan Pak Budi.
“Maaf, Bu. Saya permisi dulu ke belakang,” kata Pak Saleh bergegas ke toilet.
Bu Retno sempat memberikan beberapa masukan kepada Pak Budi. Di antaranya menunda terlebih dulu keputusan Wasir naik percobaan.
“Apa tidak justru menyalahi Bu Retno?” Tanya Pak Budi.
“Bukan menyalahi atau tidak, Pak Budi …”
“Lalu …?”
“Kita selidiki dulu kejadian yang sebenarnya,” jelas Bu retno.
“Maksud ibu, kita …”
“Betul. Kita cari tahu dulu apa penyebab sebenarnya Wasir berubah perilakunya akhir-akhir ini …”
Pak Budi mengernyitkan dahi.
“Kita coba komunikasikan dulu ini nanti dengan Bu Linda. Kita minta bantuan beliau untuk menyelidikinya. Bagaimana Pak Budi, bapak setuju dengan saran saya?”
“Saya setuju, Bu. Cuma …”
“Bapak tak usah kuatir. Percayakan saja masalah Wasir ini kepada Bu Guru Linda. Kita berdoa semoga beliau berhasil …”  

   
 


   
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar