Senin, 15 Juni 2015

Koing 18)







Serial Detektif Cilik
KOING (18)

Pemulung …
Wak Amin

WARGA belakangan ini rada resah karena beberapa kotak sampah dibiarkan setengah terbuka. Se mentara isinya berupa sampah kering seperti botol plastik, kaleng dan sejensinya raib entah ke mana.
Padaha, sejauh pengamata warga,  tak ada dari mereka yang mengambilnya.
Supaya warga tenang dan tidak terusik oleh kejadian yang sebenarnya sepele tapi menjengkelkan itu, Pak Erte menemui Koing di kediamannya. Beliau meminta Koing menyelidiki misteri terbukanya kotak sampah warga dengan separo isinya lenyap.
Dibantu Brendo, Koing bertekad menemukan pelakunya. Caranya dimulai dengan pertanyaan kapan yang bersangkutan masuk kampung dan menguras sisa sampah warga.
“”Kita tunggu lah sampai Isya’,” kata Koing. Brendo sudah mengantuk. Beberapa kali dia terlihat menguap. Badannya lesu seperti tak bertenaga. Padahal dia sehat walafiat.
“Kita lanjutkan besok saja, Ing. Sepertinya tak ada orang yang masuk ke kampung kita. Jangan kan masuk, lewat saja tidak,” ujar Brendo.
Malam itu sepakat pencarian dihentikan. Dilanjutkan esok hari sepulang sekolah. Karena tengah hari warga jarang keluar rumah, sementara laki-laki dewasa lebih banyak  turun menggarap sawah dan ladang. Saat itu lah ada seorang laki-laki tua bersepeda memasuki kampung Koing dan Brendo.
Laki-laki  yang sudah beruban itu memeriksa satu persatu kotak sampah warga. Mana benda plastik diambilnya lalu dimasukkan ke dalam karung besar  yang tergantung di belakang sepeda. Hal itu ia lakukan dari pangkal ke ujung, terakhir dari ujung ke pangkal lagi.
Tak satu pun warga yang menegurnya, apalagi menyapa. Karena tengah hari sepanas ini warga lebih memilih diam dan tidur-tiduran di rumah. Panas terik mereda, dan saat senja mulai tiba, baru mereka kumpul-kumpul di teras sambil menikmati gorengan pisang campur gula. Menyuap makan anak dan menemani buah hati yang bermain ke sekitar jalan dekat rumah.
“Ing, kita lewat sini saja,” kata Brendo. Mereka berdua menunggu dengan sepeda BMX dekat jalan kecil  bawah rumah.
Untuk apa?
Menunggu si pemulung pulang dari memulung sampah. Koing dan Brendo diam-diam akan mengikutinya. Syukur-syukur sampai di rumah pemulung agar bisa diketahui untuk apa dan dikemanakan sampah kering itu dikumpulkan.
“Ing, dia mau pulang.” Bisik Brendo. Benar, si pemulung membelokkan sepeda ontanya, meluncur tak terlalu cepat ke luar pemukiman warga.
Ketika sudah sampai di pintu gerbang, mau belok kanan, Koing dan Brendo mengikutinya dari  belakang. Agar tak ketahuan, mereka menempuh jalan pintas setapak, yang setelah dilalui beberapa meter, bersua jalan besar tanah liat.
“Itu bapak yang tadi, Ing.” Ujar Brendo menunjuk ke sudut warung. Si pemulung memarkirkan sepedanya, lalu masuk ka warung, duduk bersama pengunjung warung yang lain.
“Kita Ing, gimana?” Brendo kepanasan.
Maklum, tak ada satu batang pohon pun di sana. Selain aliran air dan pematang sawah yang baru  sebagian digarap. Untung saja, si pemulung tidak terlalu lama singgah makan angin di warung. Kalau lama bisa hitam legam sekujur tubuh.
“Bawa bungkusan, Ing!”
“Nasi barangkali,” jawab Koing. Dia tegakkan lagi sepeda BMX-nya. Membonceng Brendo, itu sepeda meluncur lewati jalan setapak pematang sawah menyusul si pemulung.
Karena banyak kelokan, Koing memang harus ekstra hati-hati mengayuh sepedanya. Beberapa meter dari tempat keduanya buang air kecil, ada beberapa rumah gubuk reyot. Suasananya sepi. Hanya ditemani suara cicit burung pipit.
“Kita letakkan saja di sini sepedanya, Ing. Biar aman,” saran Brendo.
“Mungkin diikat dengan tali lebih aman, Do.”
Sepeda bertengger terikat di batang pohon rambutan. Dirasa aman, keduanya samba mengendap-endap mendekati rumah si pemulung. Mereka mengambil jalan belakang. Lebih aman dan gampang melihat ke dalam rumah.
Ada lubang kecil di bawah jendela kamar gubuk tak bertiang itu. Dari lubang itu lah Koing dan Brendo mengintip ke dalam. Ternyata ….
“Bagaimana, Mak?”
“Enak sekali, Romzi anakku,” jawab emak si pemulung, Romzi.
“Nasinya atau lauknya, Mak?”
“Dua-duanya anakku …” kata si emak yang buta matanya karena penyakit katarak dan usia lanjut.
Setelah makan, Romzi menggandeng emaknya ke tempat tidur. Dia tidurkan. Lepas itu dia keluar gubuk menuju depan rumahnya.
Untuk apa?
Memilah-milah sampah. Lalu dimasukkan ke dalam karung goni berukuran besar. Sampah-sampah ke ring itu ia jual kembali ke pengepul. Hasil penjualan sampah ini dia gunakan untuk kebutuhan hidup sehari-hari.
Koing dan Brendo lemas seketika. Lemas karena belum sempat makan siang tadinya. Lemas Karen si pemulung yang selama ini dicari-cari dan dicibiri warga hidupnya memang sangat memprihatinkan.
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar