Serial Detektif Cilik
KOING (18)
Pemulung …
Wak Amin
WARGA belakangan ini
rada resah karena beberapa kotak sampah dibiarkan setengah terbuka. Se mentara
isinya berupa sampah kering seperti botol plastik, kaleng dan sejensinya raib
entah ke mana.
Padaha, sejauh
pengamata warga, tak ada dari mereka
yang mengambilnya.
Supaya warga tenang
dan tidak terusik oleh kejadian yang sebenarnya sepele tapi menjengkelkan itu,
Pak Erte menemui Koing di kediamannya. Beliau meminta Koing menyelidiki misteri
terbukanya kotak sampah warga dengan separo isinya lenyap.
Dibantu Brendo, Koing
bertekad menemukan pelakunya. Caranya dimulai dengan pertanyaan kapan yang
bersangkutan masuk kampung dan menguras sisa sampah warga.
“”Kita tunggu lah
sampai Isya’,” kata Koing. Brendo sudah mengantuk. Beberapa kali dia terlihat
menguap. Badannya lesu seperti tak bertenaga. Padahal dia sehat walafiat.
“Kita lanjutkan besok
saja, Ing. Sepertinya tak ada orang yang masuk ke kampung kita. Jangan kan
masuk, lewat saja tidak,” ujar Brendo.
Malam itu sepakat
pencarian dihentikan. Dilanjutkan esok hari sepulang sekolah. Karena tengah
hari warga jarang keluar rumah, sementara laki-laki dewasa lebih banyak turun menggarap sawah dan ladang. Saat itu lah
ada seorang laki-laki tua bersepeda memasuki kampung Koing dan Brendo.
Laki-laki yang sudah beruban itu memeriksa satu persatu
kotak sampah warga. Mana benda plastik diambilnya lalu dimasukkan ke dalam
karung besar yang tergantung di belakang
sepeda. Hal itu ia lakukan dari pangkal ke ujung, terakhir dari ujung ke
pangkal lagi.
Tak satu pun warga
yang menegurnya, apalagi menyapa. Karena tengah hari sepanas ini warga lebih
memilih diam dan tidur-tiduran di rumah. Panas terik mereda, dan saat senja
mulai tiba, baru mereka kumpul-kumpul di teras sambil menikmati gorengan pisang
campur gula. Menyuap makan anak dan menemani buah hati yang bermain ke sekitar
jalan dekat rumah.
“Ing, kita lewat sini
saja,” kata Brendo. Mereka berdua menunggu dengan sepeda BMX dekat jalan kecil bawah rumah.
Untuk apa?
Menunggu si pemulung
pulang dari memulung sampah. Koing dan Brendo diam-diam akan mengikutinya.
Syukur-syukur sampai di rumah pemulung agar bisa diketahui untuk apa dan
dikemanakan sampah kering itu dikumpulkan.
“Ing, dia mau
pulang.” Bisik Brendo. Benar, si pemulung membelokkan sepeda ontanya, meluncur
tak terlalu cepat ke luar pemukiman warga.
Ketika sudah sampai
di pintu gerbang, mau belok kanan, Koing dan Brendo mengikutinya dari belakang. Agar tak ketahuan, mereka menempuh
jalan pintas setapak, yang setelah dilalui beberapa meter, bersua jalan besar
tanah liat.
“Itu bapak yang tadi,
Ing.” Ujar Brendo menunjuk ke sudut warung. Si pemulung memarkirkan sepedanya,
lalu masuk ka warung, duduk bersama pengunjung warung yang lain.
“Kita Ing, gimana?”
Brendo kepanasan.
Maklum, tak ada satu
batang pohon pun di sana. Selain aliran air dan pematang sawah yang baru sebagian digarap. Untung saja, si pemulung
tidak terlalu lama singgah makan angin di warung. Kalau lama bisa hitam legam
sekujur tubuh.
“Bawa bungkusan,
Ing!”
“Nasi barangkali,”
jawab Koing. Dia tegakkan lagi sepeda BMX-nya. Membonceng Brendo, itu sepeda
meluncur lewati jalan setapak pematang sawah menyusul si pemulung.
Karena banyak
kelokan, Koing memang harus ekstra hati-hati mengayuh sepedanya. Beberapa meter
dari tempat keduanya buang air kecil, ada beberapa rumah gubuk reyot.
Suasananya sepi. Hanya ditemani suara cicit burung pipit.
“Kita letakkan saja
di sini sepedanya, Ing. Biar aman,” saran Brendo.
“Mungkin diikat
dengan tali lebih aman, Do.”
Sepeda bertengger
terikat di batang pohon rambutan. Dirasa aman, keduanya samba mengendap-endap
mendekati rumah si pemulung. Mereka mengambil jalan belakang. Lebih aman dan
gampang melihat ke dalam rumah.
Ada lubang kecil di
bawah jendela kamar gubuk tak bertiang itu. Dari lubang itu lah Koing dan
Brendo mengintip ke dalam. Ternyata ….
“Bagaimana, Mak?”
“Enak sekali, Romzi
anakku,” jawab emak si pemulung, Romzi.
“Nasinya atau
lauknya, Mak?”
“Dua-duanya anakku …”
kata si emak yang buta matanya karena penyakit katarak dan usia lanjut.
Setelah makan, Romzi
menggandeng emaknya ke tempat tidur. Dia tidurkan. Lepas itu dia keluar gubuk
menuju depan rumahnya.
Untuk apa?
Memilah-milah sampah.
Lalu dimasukkan ke dalam karung goni berukuran besar. Sampah-sampah ke ring itu
ia jual kembali ke pengepul. Hasil penjualan sampah ini dia gunakan untuk
kebutuhan hidup sehari-hari.
Koing dan Brendo
lemas seketika. Lemas karena belum sempat makan siang tadinya. Lemas Karen si
pemulung yang selama ini dicari-cari dan dicibiri warga hidupnya memang sangat
memprihatinkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar