Serial Detektif Cilik
KOING (22)
Luka Lebam
Wak Amin
SETELAH sempat
mencak-mencak dan mengancam akan menghabisi nyawa Pak Budi serta beberapa guru lainnya, ayah Wasir
akhirnya pulang ke rumah dengan diantar Bu Retno sampai teras sekolah.
Semua guru pada
bernafas lega, terutama Pak Budi. Dia sempat kuatir Pak Saleh bakal mengamuk
dan mencederai dirinya, Bu Retno, bahkan mungkin para siswa yang sedang belajar
di kelas.
Kejadian barusan ini kemudian diceritakan Bu Retno pada Bu Guru
Linda saat jam istirahat kedua. Keduanya tampak berbincang-bincang serius,
memberikan saran dan pendapat serta kemungkinan terjadinya aksi balas dendam.
“Saya percaya pada
siswa saya, Bu. Berilah kepercayaan kepada keduanya,” ujar Bu Guru Linda
setelah menyebut nama Koing dan Brendo.
Koing dan Brendo,
setelah diberitahu Bu Guru Linda, segera melakukan penyelidikan, tentu dibantu juga
oleh Wak Ji. Diawali dari kediaman Pak
Saleh.
Siapa Pak Saleh?
“Menurut Wak, dia
orangnya baik, Cuma jarang bergaul saja,” kata Wak Ji. Bersama Koing dan
Brendo, mereka bertiga mendatangi rumah Pak Saleh.
Tak ada orang di
rumah tu. Rumah beton yang posisinya cukup jauh dari rumah warga lainnya. Sepi dan tampak dari luar ada motor terparkir dekat
pintu pagar.
“Kemana orangnya Wak
Ji?” Tanya Brendo. Sejenak ia berpikir, lalu melepaskan anak betetan ke pohon
besar tak jauh dari kediaman Pak Saleh.
Klonteeengg …
Meski atap rumah
terkena kerikil anak betetan, si penghuni rumah tak beraksi.
“Itu berarti tidak
ada orangnya, Wak Ji,” jelas Koing.
“Ssss .. coba lihat
itu!”
Wak Ji menunjuk ke sebuah mobil pick up yang baru
saja berhenti. Tak lama kemudian keluarlah se orang laki-laki yang tak lain
adalah Pak Saleh, isterinya dan Wasir. Setelah masuk rumah, Pak Saleh keluar
lagi dan pergi entah ke mana dengan mobil pick upnya.
“Kita dekati saja rumahnya
yuk!” Ajak Koing.
Menyelinap masuk
dengan cara melompati pagar, Wak Ji, Koing dan Brendo akhirnya ampai dekat
jendela belakang rumah. Mereka pasang telinga lebar-lebar. Terdengar orang
berbicara sambil menangis tersedu sedan.
“Sabar ya, Nak.” Kata
isteri Pak Saleh dengan suara lirih.
Di pangkuannya ada
Wasir. Sekujur tubuhnya luka lebam bekas dipukul.
Siapa yang memukul?
“Jangan berisik. Kita
dengar dulu apa kata ibunya,” ujar Koing.
“Bapakmu memang jahat
anakku ..”
“Ibu ….” Wasir
merintih kesakitan.
Sang ibu membuka
pelan-pelan baju seragam sekolah Wasir. Lalu mengompres bekas luka lebam itu
dengan air hangat. Diberi obat agar tidak melebar itu luka dan Wasir tidak
terus menerus menahan sakit.
“Maafkan bapakmu ya,
Nak.”
Wasir tidak menjawab.
Dia hanya bisa menangis dan meringis kesakitan. Permintaan dari ibunya tak
sempat ia dengarkan, sebelum akhirnya tertidur pulas dalam dekapan sang bunda.
“Bagaimana Wak Ji?”
Brendo mulai naik darah.
“Nanti dulu. Kita
pikir masak-masak,” kata Wak Ji menanggapi ajakan Brendo untuk masuk ke dalam
rumah.
“Dia tertidur.
Sebentar lagi lah,” saran Koing.
“Kalau dia keburu
mati, gimana Wak Ji, Ing?”
“Tak mungkinlah, Do …
Takut amat lu!”
“Bukan takut Wak …
Tapi kalau ….”
Ya sudah,” Koing
menengahi.
Wak Ji masih berpikir
keras.
“Oke kalau begitu,” kata Wak Ji. “Kita masuk
sajalah.”
“Nah begitu Wak. Itu
baru namanya Wak Ji Brendo … Ya kan,
Ing”
“Iya iya …”
Ternyata mereka
diterima dengan baik oleh ibunda Wasir. Tak ada rasa takut karena ibu muda ini
sudah kenal, walau tak begitu dekat dan akrab, dengan Wak Ji sebagai pedagang
pakaian.
“Ini … Koo ..”
“Koing, Bu Saleh,”
jawab Brendo.
“Kami akan membantu
ibu membawa Wasir ke puskesmas kalau ibu berkenan. Ibu mau kami bantu?”
Tanya Koing.
Tanya Koing.
Tak ada jawaban
selain bergegas masuk ke kamar Wasir untuk melihat keadaan terkini anak semata wayangnya
yang masih tertidur pulas.
Serial Detektif Cilik
KOING (23)
Hilang Keseimbangan
Wak Amin
DENGAN mengendarai
sepeda motor, Wak Ji membonceng Wasir dan ibunya menuju puskesmas terdekat untuk
berobat. Sedangkan Koing dan Brendo menyusul dari belakang dengan mengendarai
sepeda BMX. Cukup jauh juga jarak yang
harus mereka tempuh. Sekitar setengah jam perjalanan.
Siang hari. Arus lalu
lintas tak terlalu ramai. Wasir dengan lancar tiba di puskesmas. Diberi pengo batan secukupnya.
Luka-luka di sekujur tubuhnya dibersihkan, diobati oleh dokter dan diizinkan pulang untuk
proses penyembuhan.
Namun, kata sang
dokter, belum boleh banyak bergerak. Buat sementara waktu, Wasir tak usah sekolah
sampai luka yang dideritanya sembuh total.
Pada perjalanan
pulang, motor yang dikendarai Wak Ji hampir bersenggolan dengan mobil pick up
Pak Saleh yang membawa pasir dan batu koral. Motor sempat oleng dan nyaris
nyungsep ke parit.
“Taruh dimana mata
bapak, haaa?” Hardik Pak Saleh setelah turun dari mobil. Ia mendekati Wak Ji
yang masih gugup akibat peristiwa yang menimpanya barusan.
“Ada, Pak. Ini di
depan bapak,” ucap Wak Ji seraya memperlihatkan dua matanya yang berhadapan
langsung dengan matanya Pak Saleh.
“Kalau bermotor itu
lihat-lihat Pak. Ini bukannya jalan nenek moyang bapak …”
“Memangnya jalan ini
punya nenek moyang bapak?” Tantang Wak Ji.
“Bapak menantang
saya?”
“Kalau iya kenapa
Pak? Bapak takut apa?”
“Ayo kita duel kalau
mau …” Kata Pak Saleh, bergegas membuka bajunya, mengajak Wak Ji berkelahi.
“Ayo … siapa takut.
Biar di kaki gunung ai ladeni.”
Koing, Brendo, Wasir
dan ibunya tak bisa berbuat apa-apa. Cuma menonton apa yang bakal terjadi pada
Pak Saleh dan Wak Ji.
“Kenapa diam, Pak.
Takut?” Ejek Wak Ji setelah melihat Pak Saleh ragu untuk memulai perkelahian.
“Siapa yang diam. Tak
uk uk ya …!”
“Kalau tak diam
kenapa tak langsung memukul saya. Ayo! ”
Pak Saleh geram
mendengar ocehan Wak Ji. Dia pasang
kuda-kuda. Bergerak ke kanan dan kiri dengan dua kaki serta tangan silih
berganti didorong ke depan.
Hiyaaaaat …!
Satu pukulan tangan
kanan mengarah ke muka Wak Ji. Dengan entengnya lelaki tua tapi masih bugar ini
menangkisnya dengan tangan, lalu melepaskan pukulan tangan kiri kea arah perut.
“Eeeekh!”
Kendati sempat mengaduh
kesakitan, Pak Saleh masih sempat melepaskan tendangan geledeknya yang menyasar
ke perut Wak Ji. Sayang meleset. Wak Ji
mengelak ke kanan. Dia balas tendangan itu dengan meninju pipi kiri Pak
Saleh. Jatuh tersungkur, sempoyongan.
“Bapaaak!” Jerit
ibunya Wasir. Merasa kasihan melihat suaminya jadi bulan-bulanan Wak Ji.
“Biarkan Wak Ji yang
beri pelajaran, Bu Saleh. Taka pa-apa,” ucap Koing menenangkan hati wanita
berkulit cokeleat dan berparas lumayan cantik itu.
“Sebentar juga beres,
Bu.” Sahut Brendo.
Benar kata Brendo.
Setelah sempat sempoyongan tadi, Pak Saleh akhirya mengaku kalah karena dia
merasa tak sanggup lagi melanjutkan duel tangan kosong dengan Wak Ji.
“Tunggu
pembalasanku!” Ancam Pak Saleh, dipapah salah seorang karyawannya masuk mobil.
Wak Ji mengejarnya.
“Taj usah menunggu
Pak. Sekarang juga. Ayo, pukul ane kalau berani,” tantang Wak Ji.
Berbekal tenaga yang
masih tersisa, Pak Saleh berusaha melepaskan pukulan mautnya. Sayang, sebelum pukulan berantai itu menyentuh
pipi Wak Ji, ia keburu jatuh karena lelah dan hilang kesimbangan.
Serial Detektif Cilik
KOING (24)
Dibobol Maling
Wak Amin
SATU minggu terakhir
ini, tempat dimana Koing dan Brendo menimba ilmu, selalu dibobol maling.
Pembobolan itu terjadi tepat etengah malam. Pasalnya, keesokan harinya baru
diketahui beragam fasiltas dan kelengkapan barang di sekolah ada yang hilang,
entah siapa yang mengambilnya.
Mulai dari mesin tik,
kotak spidol, jam beker hingga sejumlah uang yang disimpan dalam laci. Tidak
sampai puluhan juta rupiah memang. Tapi aksi pembobolan rumah sekolah ini
membuat para guru dan siswa menjadi tidak nyaman.
“Kuatirnya merebak ke
orang per orang,” kata Bu Retno saat memimpin rapat dewan guru. Beberapa guru
yang hadir di antaranya Pak Budi dan Bu Guru Linda.
Barang habis dimaling. Karena tidak ada lagi yang bakal dimaling, kita-kita ini lah yang bakal diram pok, dimalingi. Sudah dirampok, dibunuh pula. “Naudzubillahi mindzaalik,” ucap Bu Retno sambil menyeka peluh di seputar hidung dan mulutnya.
Udara di ruangan
rapat terasa panas. Kipas angin yang diharapkan membantu mendinginkan ruangan
ternyata hanya angin lalu saja karena selain cuaca di luar teramat panas juga
masalah yang tengah dihadapi saat ini amat pelik dan menyita energi serta
pikiran.
“Apakah ibu-ibu dan
bapak sekalian punya ide dan saran?” Tanya Bu Retno membuka forum curhat dari
hati ke hati untuk mencari titik temu dan solusi.
“Saya, Bu.” Bu Susi
mengangkat jari telunjuk.
Menuru saya, kata Bu Susi, kita juga minta
bantuan pihak keamanan untuk ikut mengawasi rumah sekolah ini.
“Jadi, sesekali satu
atau dua orang polisi kita mintakan kesediaannya menjaga rumah sekolah ini,”
terang Bu Susi.
Tentu, kata Bu Susi
lagi, dibantu juga oleh warga sekitar. “Insya Allah, kalau kita sungguh-sungguh
akan berhasil.”
“Menurut saya,” sahut
Pak Budi, menimpali saran Bu Guru Susi, “Apa yang disampaikan beliau itu bagus
dan bisa diterima. Tapi itu solusi akhir, Bu.”
“Maksud Pak Budi?”
Tanya Bu Retno.
“Kita coba dulu cara
lain, Bu.” Pak Budi mempersilakan Bu Guru Linda angkat bicara.
“Mungkin Bu Guru
Linda ada usulan atau pemikiran lain, silakan Bu,” ujar Bu Retno.
Suasana rapat yang
semula berlangsung tegang mulai mencair. Agak sedikit rileks. Ketawa-tawa kecil
dengan sesekali mengunyah tempe goreng dan peyek.
“Saya lebih memilih
kenapa kita tidak coba tenaganya Koing dan Brendo. Bukankah selama ini mereka
berdua selalu berhasil menjalankan tugasnya ..”
“Tapi, saya agak ragu sedikit, Bu Linda,” potong Bu Retno.
“Ragu dan kuatirnya,
mereka kan masih kecil sedangkan masalah
yang kita hadapi sekarang ini jauh lebih besar ...”
“Mengganggu, begitu
Bu maksudnya?”
“Betul sekali Bu
Linda,” jawab Bu retno. “Bukan kita tak percaya kemampuannya Koing dan Brendo.
Tapi itu lho, usia mereka masih anak-anak. Terus bagaimana dengan orangtua
mereka …”
“Takutnya, sambung Bu
Retno, “bukan menyelesaikan masalah, justru menambah masalah yang baru.”
Agak lama juga rapat
berlangsung. Masing-masing guru punya alasan tersendiri dalam menyampai kan
sekaligus menyikapi saran dan usulan. Selepas makan siang belum bulat dan ada
kata sepakat.
Kata sepakat baru
tercapai setelah para siswa pulang sekolah karena jam pelajaran siswa sudah ber akhir. Disepakati, selain Pak Budi,
diminta juga kesediaan Wak Ji mendampingi Koing dan Brendo mengungkap misteri
pembobolan rumah sekolah yang sebelumnya tak pernah terjadi.
Serial Detektif Cilik
KOING (25)
Kecolongan
Wak Amin
KARENA penyelidikan
dilakukan pada malam hari, Pak Budi dan Wak Ji meminta Koing dan Brendo datang
ke sekolah lepas magrib. Usai makan malam dan mengaji.
Keduanya tidak
keberatan. Selain lebih nyaman karena sudah menunaikan kewajiban, mereka bisa
santai datang ke sekolah. Apalagi Koing tidak cuma berdua Brendo, juga ditemani
beberapa warga yang sempat mengantar mereka ke pintu gerbang rumah sekolah.
Pengintaian
berlangsung tak lama setelah Koing dan Brendo tiba di sekolah. Dari balik
gudang yang berkuran sempit itu mereka menunggu hingga tengah malam. Anehnya,
yang ditunggu tak juga nongol
“Jangan, jangan
mereka sudah tahu rencana kita Pak Budi,” kata Brendo yang kegatalan karena
pantatnya barusan digigit nyamuk malam.
Sabar, Do. ‘Ntar juga datang. Yakinlah,” jelas Pak Budi.
“Iya Do. Kalau tak
tahan juga tidur sana di rumput dekat parit itu.” Wak Ji menunjuk rerumputan di
bawah pohon pisang. Nyaman tapi suasananya gelap gulita.
“Ngeri Wak Ji.
Gelap,” jawab Brendo yang sudah beberapa kali menguap.
“Ngeri apa takut?”
Ledek Wak Ji.
“Dua-duanya Wak Ji,”
ucap Brendo sekenanya.
Senda gurau terhenti
tatkala dari samping sekolah ada sekelebat bayang-bayang melompat masuk ke
ruang kantor guru. Muka mereka tak tampak karena ditutupi kain sarung. Hanya kelihatan
mata, kaki dan kedua tangan.
Kelebatan bayang-bayang
itu seketika hilang bersamaan terdengarnya suara pintu dibuka. Wak Ji, Pak
Budi, Koing dan Brendo berusaha mendekat. Mereka berpencar. Dua lewat samping kanan
dan duanya lagi memilih jalur samping kiri.
“Awas, Wak.” Bisik
Koing.
Ada suara aneh di dekat
pintu. Rupanya hanya seekor lipas dan tikus lagi berseiweran cari makan.
“Cepatlah sedikit,
Do.” Kata Pak Budi. Dia menarik tangan Brendo yang keenakan menggaruk bekas
gigitan nyamuk yang menjalar hingga ke paha.
“Ntar ketahuan,” kata
Pak Budi.
Kawanan pencuri itu
mulai beraksi. Mereka, setelah mencongkel jendela kantor, memeriksa brankas
dengan menggunakan lampu senter, satu persatu brankas dibuka.
“ Yang ini, Bos?”
Tanya salah seorang dari pencuri menunjuk mesin tik kuno berukuran gede di atas
meja kayu.
“Libas sajalah!”
“Horeee .. aku
dapat,” teriak teman pencuri satunya yang serta merta disempal mulutnya dengan sebatang
rokok oleh sang bos.
Koing dan Wak Ji
sempat mendengar suara teriakan sesaat itu. Lalu mengintip dari balik lubang
bawah jendela, ternyata ….
“Apa Ing?”Tanya Wak
Ji.
“Duit, Wak Ji.
Buanyaaak sekali. Tapi … “Koing ketawa geli.
“Kenapa, Ing?” Apa
ada yang lucu?”
“Ribuan semuanya.”
“Eeeem, lantas?”
“Logamnya juga
banyak, Wak Ji.”
Kawanan pencuri yang
jumlahnya empat orang itu, setelah memasukkan duit hasil curian ke dalam tas
besar, segera angkat kaki lewat pintu belakang yang sudah mereka bobol lebih
dulu. Berhasil kabur dan lepas dari pengintaian Koing, Brendo, Wak Ji dan juga
Pak Budi yang mulai mengantuk karena lupa tidur siang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar