Novel Serial Bije
Pondok Cinta
Oleh Pak Amin
VIII
DENGAN agak terburu-buru, Pak Patra bermaksud menemui Kepala
Sekolah Es Em A Mawar, Pak Jack. Salah seorang guru, Pak Unus, yang secara
kebetulan melihatnya mengetuk pintu ruangan atasannya itu, menegurnya ramah
sambil mengatakan ‘Bapak belum datang.’
“Kemana beliau?” Tanya Pak Patra dengan nada tinggi.
Si guru menjawab,” Beliau belum pulang dari menghadiri rapat
di pemda.”
“Jam berapa dia pulang?”
“Mungkin tak lama lagi Pak. Silakan duduk dulu,” jawab si
guru mempersilakan tamunya mengambil tempat duduk di sebelah kiri luar ruangan
kepala sekolah.
Tak lama menunggu, sepuluh menit kemudian Pak Jack sudah
kembali. Setelah berbicara dengan be berapa orang guru di pintu masuk ruangan
guru, Pak Jack baru memasuki ruangan kerjanya. Lalu, ber sama Pak Unus, Pak
Patra ikut masuk ke ruangan ber-AC itu.
Semula pembicaraan berlangsung dalam tempo biasa-biasa saja.
Pak Patra memperkenalkan dirinya, lalu tujuannya menemui kepala sekolah. Namun
suasana berubah tegang ketika Pak Jack menolak menghadirkan Bu Guru Siska ke
ruangannya tanpa kehadiran Ira, anak Pak Patra.
“Dia sakit, Pak. Makanya tak bisa saya bawa kemari, “terang
Pak Patra.
“Makanya Pak Patra, saya tak bisa memenuhi permintaan bapak
untuk menghadirkan Bu Siska langsung ke ruangan ini …”
“Kenapa Pak? Anak saya Ira sakit justru sudah diusir dan
dibentak oleh Bu Guru Siska.”
“Saya mengerti itu Pak. Tapi mana mungkin dengan hanya
mendengar keterangan bapak saja, lalu kita panggil Bu Siska, tanpa kehadiran
Ira dan saksi lagi, kemudian persoalannya selesai,” jelas Pak Jack.
“Tapi kan Pak. Tak mungkin anak saya bohong. Lagian ini kan
kejadiannya di dalam kelas. Disaksikan teman-teman sekelasnya. Saya maunya Bu
Siska mengakui kesalahannya, dan pihak sekolah dalam hal ini bapak sebagai
atasannya memberi sanksi beliau karena telah berbuat semena-mena kepada anak
muridnya,” kata Pak Patra dengan nada tinggi.
Begitu panasnya tensi pertemuan antara kepala sekolah dengan
Pak Patra, beberapa orang guru yang baru saja keluar ruangan kelas setelah
selesai mengajar jam kedua, berkumpul di depan pintu masuk ruangan kerja Pak
Jack.
“Tunggulah dulu di sini. Jangan kemana-mana …” Ucap Pak Unus
saat keluar dari ruangan kerja Pak Jack.
“Masalah apa?” Tanya beberapa orang guru keheranan karena
selama ini jarang sekali orang luar, terma suk wali murid menemui Pak Jack
untuk suatu urusan karena biasanya cukup diselesaikan lewat Dewan Guru atau
Wakil Kepala Sekolah.
Pak Unus kemudian menceritakan secara singkat kronologis
kejadiannya. Betapa serunya perdebatan di dalam ruangan.
“Mudah-mudahan tak terjadi apa-apa,” harap Pak Unus. “Tapi
saya harap bapak-bapak tetaplah di sini untuk mengantisipasi sekiranya terjadi
hal-hal yang tak diinginkan.”
“Siap …”
Ha ha ha ha …
“Sssssst. Aku masuk lagi,” ucap Pak Unus.
Di ruangan kepala sekolah, perdebatan antara Pak Jack dan
Pak Patra masih berlangsung. Kali ini, mung kin kecapekan ngomong dari
tadi,nada suara keduanya datar-datar saja. Seperti dua orang teman yang saling
berbagi cerita dan kenangan.
“Jadi Pak Patra, saya harapkan bapak bersabarlah sedikit.
Nanti kami proses dengan sejujur-jujurnya dan seadil-adilnya. Namun, anak bapak
yang bernama Ira, setelah sembuh dari sakitnya nanti, diharapkan ju ga hadir.
Sekali lagi, saya mohon pengertian dan kerjasamanya,” harap Pak Jack.
“Saya siap bekerjasama pak. Tapi, jika nanti prosesnya
justru merugikan anak saya, jangan salahkan saya jika terjadi sesuatu pada diri
Bu Siska …” Ancam Pak Patra.
“Bapak mengancam?”
“Betul Pak. Sebab, saya datang menemui bapak saja untuk
menyampaikan hal ini, waktu saya banyak terbuang. Klien bisnis saya harus
menunggu, pertemuan ditunda. Belum lagi rapat-rapat dengan pihak lain. Juga
anak saya, Ira. Sudah sakit, malu lagi karena terang-terangan telah dibentak
dan diusir dari ruangan kelas. Ke mana akal sehat bapak. Padahal saya cuma
menginginkan bapak menghadirkan Bu Guru Siska sekarang dan mengakui
perbuatannya …”
Pak Jack tak memberikan komentar apa pun.
Praaak …
Pintu terbuka. Beberapa orang guru menyeruak masuk.
“Saya minta bapak segera keluar dari ruangan ini
secepatnya,” kata Pak Raden, salah seorang dari beberapa guru yang masih muda
usia itu.
“Apa kalian bilang? Menyuruh saya keluar dari ruangan ini?
Kalian semuanya belum tahu siapa saya.” Tantang Pak Patra.
“Cukup … cukup. Sudah.” Potong Pak Jack. Dia meminta para
guru tidak terpancing emosi dan bertindak anarkis. Lebih mengutamakan kepala
dingin dan akal sehat ketimbang memperturutkan amarah yang tak karuan pangkal
dan ujungnya.
“Tak senang, ayo kita berkelahi di luar.” Tantang Pak Patra.
“Oke. Siapa takut,” jawab Pak Raden.
Satu dorongan kuat, Pak Raden terjatuh. Patra bermaksud
menendangnya, tapi keburu dicegah Pak Unus dan Pak Jack.
“Sudah pak. Sudah …”
Keduanya, Pak Jack dan Pak Unus, membawa Patra keluar
ruangan sementara Pak Raden, yang semula meladeni tantangan, memilih diam
setelah diamankan rekan-rekannya sesama guru.
Kepada ayahnya Ira, Pak Jack mengharapkan kesabaran dan
pertimbangan akal sehatnya. Tak cocok ra sanya menyelesaikan suatu persoalan
yang sebenarnya bisa diatasi dengan akal sehat, bukan dengan kekerasan dan adu
fisik.
“Saya mohon. Beri kami waktu pak. Kami berjanji akan
menyelesaikannya.”
“Pegang janjinya ya pak,” ucap Patra sambil membanting keras
pintu mobil, melesat cepat menuju gerbang luar Es Em A Mawar.
Bu Guru Siska yang baru saja hendak pulang dijemput Darwin,
dicegat Pak Unus. Katanya, bapak kepala sekolah ingin bertemu dengannya.
“Tidak apa-apa, Bu Sis. Cuma bapak ingin ngomong sesuatu
pada ibu. Penting katanya,” kata Pak Unus, berlalu pergi karena ada urusan
dengan wakil kepala sekolah.
“Mas,” kata Siska via HaPe, “Bisa tunggu enggak. Ada yang
penting kayaknya.”
“Lama atau sebentar?” Tanya Darwin.
“Lama juga enggak apa-apa, Bu.” Potong Puspa lewat HaPe sang
kakak, yang sempat ia rebut sebelum dikembalikan lagi.
Siska cuma ketawa, tapi enggak lama. Dia tahu jawaban itu
bukan suaranya Darwin, tapi Puspa, anak didiknya.
“Belum tahu Mas,” jawab Siska.
“Pokoknya, lama atau sebentar, Mas tunggulah ya …”
“Makasih ya Mas atas kesediaannya …”
Tanpa berbasa-basi lagi, Pak Jack memberitahukan hasil
pertemuannya dengan Pak Patra. Pertemuan itu membahas satu masalah dari
berbagai sudut pandang. Dicapai kata
sepakat untuk mencari solusi sebaik-baiknya atas kejadian, yang menurut Pak
Patra, amatlah memalukan ini.
“Saya tak mengharapkan pengakuan dari ibu sekarang. Tapi apa
ibu berkenan untuk menghadiri pertemuan besok untuk membahas masalah ini?”
“Berkenan saya, Pak. Asalkan saya juga minta perlindungan …”
Terang Siska.
“Maksud ibu?”
“Saya juga sempat diancamnya lewat telepon, Pak.”
“Sejauhmana ancamannnya?”
“MInta saya mengaku salah. Tapi permintaan itu dengan berat
hati saya tolak, Pak.”
“Kenapa Bu?”
“Karena saya benar-benar merasa tidak bersalah, Pak. Saya tidak
membentaknya. Cuma, ketika saya suruh dia keluar ruangan, dia tidak mau. Karena
itu saya marah. Dan saya minta dia segera meninggalkan ruangan kelas,” kata Bu
Siska.
“Masalahnya apa Bu kalau boleh saya tahu?”
“Sepele Pak. Dia itu suka usil sama siswa lain. Suka merokok
dan tak sungkan-sungkan ia berbuat tidak senonoh dengan teman-temannya.
Omongannya jorok dan susah diatur …”
“Maaf Bu, yang dimaksud ibu dengan tidak senonoh itu apa,
misalnya?”
“Berciuman. Buka baju dan rok. Macam-macamlah tingkahnya Pak.”
“Baik Bu. Besok itu kan kita mau gali sedalam-dalamnya
masalah yang menimpa ibu ini. Nah, karena kejadiannya di kelas, saya minta ibu
hadirkan nantinya beberapa siswa sebagai saksi, biar terang dan bisa kita
simpulkan secepatnya …”
“Baik Pak.”
“Dan satu hal lagi Bu Sis. Ibu harus siap mental menghadapi
masalah ini. Maksud saya, walau pernah diancam, kalau ibu merasa benar,
pertahankanlah kebenaran itu. Tak usah takut. Kami para guru siap berjuang
mendukung ibu …”
“Terima kasih Pak. Saya akan coba.”
***
IX
PARA saksi seperti Olisa dan Hapsari membenarkan kejadian
yang menimpa teman mereka Ira dan Bu Guru Siska. Namun mereka membenarkan
tindakan yang dilakukan Bu Guru Siska, karena menurut mereka, hal itu merupakan
pembelajaran, lain tidak.
“Menurut saya tidak ada masalah Pak,” kata Olisa di depan
Majelis Dewan Guru yang dipimpin Kepala Sekolah, Pak Jack. “Ira juga kami lihat
biasa-biasa saja. Tidak menangis dan masih sempat melemparkan senyum.”
“Lagian tidakada kekerasan fisik. Misalnya ditampar Bu Guru
Sika, atau apa gitu,” jelas Olisa.
“Setahu Olis, apa si Iranya teman yang baik?” Tanya Pak
Jack.
“Ya baik Pak Kepala Sekolah. Sama kami dia baik. Artinya,
tidak macam-macamlah …”
“Apa misalnya?”
“Berkelahi atau menghasut seseorang lalu dikeroyok sampai babak
belur …” Terang Olisa.
“Kami dengar teman kalian si Ira itu sering buat gaduh.
Maksud bapak, suka usil sama teman begitu. Benarkah itu Olisa?”
“Ya benar, Pak.” Jawab Olisa.
“Terima kasih ya Lis …”
“Sama-sama Pak.”
Giliran berikutnya yang dimintai keterangan adalah Hapsari.
Berbeda dengan Olisa, Hapsari tampil seadanya. Lengan baju digulung, kemudian
dirapikan setelah diminta para Dewan Guru. Mengunyah permen, terpaksa ditelan
lebih cepat, agar leluasa menjawab pertanyaan yang diajukan .
“Siapa nama?” Tanya Pak Jack.
“Hapsari, Pak Kepala Sekolah,” jawab Hapsari sambil
menyibakkan rambutnya yang hitam lurus sebatas bahu.
“Apa yang kamu ketahui tentang Ira, Hapsari?”
“Banyak Pak,” kata Hapsari terus terang.
“Coba kamu contohkan …”
“Ira itu Pak ya, kalau makan bakso tak cukup semangkuk.
Harus tiga mangkuk …”
Ha ha ha ha …
“Yang lain?”
“Dia tidak terlalu suka makan nasi Pak. Sukanya ya Pak,
kalau siang, enggak rujak ya pempek panggang …”
Ha ha ha ha …
“Ada lagi Hapsari?”
“Ada Pak. Kalau sendirian ya Pak, suka aneh-aneh Pak.”
“Aneh-aneh apa Hap?”
“Bersiul Pak Kepala Sekolah …”
Ha ha ha ha …
“Nah, sekarang Hap, bapak mau minta tanggapanmu saja. Siap
enggak?”
“Siap selalu Pak Kepala Sekolah,” jelas Hapsari melirik Bu
Guru Siska yang tampak masih ketawa karena lucunya si anak didik satu ini
menjawab pertanyaan.
“Begini Hapsari. Menurut kabar yang beredar, Ira seringkali
berbuat tidak senonoh. Misalnya, berciuman, buka baju dan rok. Bagaimana
menurut Hapsari sendiri, benar atau tidak?”
“Benar Pak Kepala Sekolah,” kata Hapsari berapi-api.
“Coba ceritakan kepada kami, para gurumu yang hadir disini
…”
“Baik Pak. Soal berciuman, memang pernah saya saksikan
sendiri Pak. Beberapa waktu yang lalu, saya diajaknya menginap di rumahnya.
Tidur sekamar dan berangkat sekolahnya sama-sama. Berdua gitu. Waktu itu ya
Pak. Saya lihat, mulai dari bapak, ibu dan saudaranya bergantian mencium si
Ira. Malah, waktu saya baru tiba di rumahnya untuk menginap, karena kebetulan
ada ulangan besoknya, Ira biasa-biasa saja mencium saudara dan kedua orang
tuanya.”
Ha ha ha ha …
“Teruskan ceritanya, Hap.” Pinta Pak Jack.
“Soal buka baju dan rok. Itu benar sekali Pak. Saya lihat
sendiri … Pulang sekolah. Setelah lempar sepatu dan kaos kaki, serta tas
sekolah, nyelonong masuk kamar. Lepas baju dan rok. Lalu ganti pakaian rumah.
Begitu yang saya lihat Pak.”
Ha ha ha ha …
“Terima kasih ya Hapsari …”
“Sama-sama Pak,” jawab Hapsari, membungkukkan badan memberi
hormat, lalu mengambil tempat duduk di sebelah kanan Bu Guru Siska.
Berikutnya Weny, teman karibnya Ira.
Ketika namanya dipanggil Pak Kepala Sekolah, Weny rada-rada
menolak. Namun setelah dibujuk Olisa dan Hapsari, akhirnya dia mau juga jadi
saksi kasus pengeluaran Ira dari dalam kelas.
“Kamu sehat-sehat saja, Wen?” Tanya Pak Jack.
“Separo saja, Pak.”
Ha ha ha ha …
“Separo gimana Wen?”
“Sekarang sehat, Pak. Kalau pulang sekolah nanti kena hujan,
ya demam …”
Ha ha ha ha …
“Kamu siap jadi saksi, Wen?” Tanya Pak Jack yang agak ragu
setelah melihat mukanya Weny sedikit pucat dan agak kurusan.
“Separo juga Pak Kepala Sekolah.”
Hua ha ha ha …
“Jelaskan maksudnya Weny?”
“Kalau saya bisa jawab berarti saya siap. Tapi kalau tak
bisa saya jawab berarti saya tidak siap Pak Kepala Sekolah …”
Ha ha ha ha …
“Oke kalau begitu. Jawab dengan jujur ya Wen. Menurut kamu,
Ira itu teman baik atau tidak?”
“Kadang-kadang, Pak.” Jawab Weny jujur.
He he he he …
“Tadi separo, sekarang kadang-kadang, apa maksudnya Wen?”
“Kadang-kadang Iranya baik pada saya, Pak. Lain waktu tidak
Pak.”
“Kapan baiknya dan kapan tidak baiknya?”
“Kalau Weny lagi banyak duit, tanggal muda gitu, Iranya baik
kepada Weny. Tapi kalau kebetulan tanggal dan bulannya tua, Weny lagi bokek dan
enggak ada uang jajan, dia tak mau dekat-dekat aku …”
Hu hu hu hu …
“Menurut Weny, apa benar temanmu si Ira itu sering berbuat
tidak senonoh?”
Weny masih mikir.
“Weny?”
“Ya Pak.”
“Gimana jawabnya?”
“Gimana ya Pak. Kalau saya bilang benar, saya takut Pak.
Tapi kalau saya jawab tidak benar, saya
takut juga Pak Kepala Sekolah.”
“Oke. Bapak minta penjelasan kepadamu tentang takut yang
pertama. Takut karena benar.”
“Takut diapa-apain Pak. Saya pasti bakal dikerjain oleh
Iranya. Bakal tak nyamanlah gitu Pak.Bukan tak mungkin saya bakal dihabisi
Pak.”
Haaaa …
Huuuuu …
“Oke. Takut yang kedua?”
“Takut kepada Yang di Atas, Pak. Allah SWT. Saya merasa
berdosa telah membohongi bapak-bapak di sini. Saya pasti masuk neraka …”
Waaaa …
Wuuuu ….
“Jadi Weny pilih yang mana. Takut yang pertama atau takut
yang kedua?”
“Dua-duanya, Pak.”
“Kenapa bisa dua-duanya Wen, enggak satu saja misalnya?”
“Begini Pak. Terus terang apa yang, maksud saya kabar yang
beredar, itu benar. Saya akui itu. Tapi manakala saya ketemu Ira dan ortunya
misalnya, saya jawab tidak benar …”
Oooook …ooooo …
“Oke, apa permintaan Weny kepada kami dan semua yang hadir
disini?”
“Bantulah Weny untuk berani mengatakan itu benar. Jangan takut pada ancaman, Pak
Kepala Sekolah.”
“Kami akan bantu Wen.” Jelas Pak Jack.
“Terima kasih Pak.”
Terakhir, giliran Rijal yang maju ke depan, menghadap
wajahnya ke para Dewan Guru. Cowok yang lebih suka berteman dengan jenis
kelamin cewek ini, tampil letoy dengan rambut, meski pendek, awut-awutan.
“Ada apa denganmu Jal?”
“Lapar Pak. Belum makan,” aku Rijal terus terang.
Ha ha ha ha …
“Semua yang disini juga lapar, Jal. Kamu harus semangat. Tak
boleh loyo begitu.”
“Ya Pak.”
“Nah, sekarang jawab pertanyaan bapak dengan jujur. Apa Ira
suka merokok?”
“Betul Pak.”
“Sama siapa?”
“Saya, salah satunya Pak.”
“Dimana? Di kelas atau di luar kelas dan sekolahan?”
“Di luar jam belajar, Pak.”
Ooooooo …
“Kapan?”
“Udah lama jugalah Pak sayanya. Kalau Iranya baru aja.
Katanya sih coba-coba gitu,” jelas Rijal.
“Kamu ada di kelas kan waktu Bu Siska menyuruh Ira keluar?”
“Iya Pak.”
“Menurut kamu, bapak ulangi sekali lagi, ini menurut kamu,
salah enggak Ira itu?”
“Salah Pak.”
“Dimana letak salahnya?”
“Dia enggak langsung minta maaf,” jelas Rijal.
“Oooo begitu …”
“Coba kalau dia langsung minta maaf, kan tidak serumit seperti sekarang ini. Mana udah
lapar, duit jajan habis, kena omel lagi …”
Ha ha ha ha …
“Kamu menyesal jadi saksi hari ini, Jal?”
“Tidak, Pak.”
“Kenapa?”
“Karena saya ingin Ira segera minta maaf dan kasusnya
selesai. Titik …”
***
X
“Turun kamu …!” Bentak seorang laki-laki bertato di tangan
setelah berhasil menyetop mobil yang disopiri Darwin.
Garrr … kraaash ..
Lelaki satunya berbadan kekar hitam memukul kaca mobil.
Darwin tersentak. Ketika baru akan membu ka pintu, kerah bajunya ditarik sang
preman.
“Kamu pacarnya Bu Siska kan?” Tanya si preman sambil menarik
keluar paksa Darwin yang baru saja pulang dari mengantar Bu Siska mengajar.
Siang itu, suasana perempatan gang pusat kota itu sepi.
Hanya satu dua unit kendaraan roda dua dan empat lalu-lalang, berseliweran. Hal
ini dikarenakan pusat keramaian justru tertumpah di alun-alun kota karena
digelar pemeran dagang berskala internasional.
Berbagai produk dan peserta ikut serta meramaikan pameran.
Mereka bukan hanya berasal dari kota
Palembang saja, tapi juga dari seluruh provinsi di tanah air, mancanegara dan
berbagai belahan negara eropa.
Karena tak banyaknya kendaraan, sehingga bebas dari
kemacetan, membuat leluasa preman bayaran itu memukul Darwin sampai babak
belur. Sementara mobilnya rusak parah akibat dihantam besi dan pukulan tangan
yang dilakukan secara membabi buta. Darwin pun akhirnya terkapar di pinggir
jalan.
Beberapa warga sekitar, tak lama kemudian datang
berbondong-bondong memberikan bantuan setelah dua preman yang amat ditakuti
warga itu berhasil melarikan diri dengan sepeda motornya. Warga pun bahu
membawa Darwin ke rumah sakit terdekat.
Mendengar kabar sang kakak tak sadarkan diri, yang kini
sudah berada di rumah sakit, Puspa menjerit histeris. Begitu juga dengan Bu
Siska, tak henti-hentinya menangis sesunggukan, sampai tak sadarkan diri.
Selama di rumah sakit, gantian Bu Bima yang tak henti-hentinya
menangis. Meraung-raung, meronta-ronta dan sampai memukuli dada suaminya. Dia
sangat mengutuk kebiadaban dua preman yang telah menghajar habis-habisan anak
laki-laki satu-satunya itu.
“Terkutuklah mereka,” umpat Bu Bima sambil menangis sesunggukan
di pelukan suami dan anak-anaknya di ruang tunggu gawat darurat.
Meski diminta suaminya tenang, Bu Bima belum juga habis
menumpahkan kekesalannya pada kedua pre man itu. Tak henti-hentinya ia mengutuk
dan meminta pihak kepolisian untuk secepatnya mengambil tindakan.
Puspa yang tak henti-hentinya menyebut dengan terbata-bata
nama sang kakak, berharap Tuhan Yang Maha Pengasih mmberikan kesempatan hidup
buat kakak tercinta. Dia tak ingin kehilangan kakak yang ia kasihi, sayangi dan
cintai melebihi cintanya kepada diri sendiri.
Dia rela berkorban apa saja, asalkan Darwin sembuh
sediakala. Walau tidak bisa cepat, kesembuhan sa ng kakak sangat ia harapkan.
Entah berterima kasih dengan siapa selain kepada Allah SWT, sekiranya es ok atau lusa Darwin sudah sembuh
dan bisa bersama-sama lagi dengannya, jalan berdua, main berdua serta makan
juga berdua.
Puspa tak pernah membayangkan sang kakak akan mati muda
karena nyawanya sudah tidak tertolong lagi. Dia juga sangat tidak menghendaki
Darwin mengalami cacat seumur hidupnya. Jadi beban orang lain, belas kasihan
dan tak punya masa depan.
Orang lain boleh pergi selama-lamanya. Tapi buat Darwin,
kakakku, bisik Puspa, tak boleh. Haram bagi nya melihat tubuh sang kakak
terbujur kaku, lalu dimandikan sebelum akhirnya diantar ke pemakaman.
Dimasukkan ke liang kubur. Lalu pulang, dan setelah itu Darwin hanya tinggal
kenangan.
Kenangan yang serba manis itulah yang hingga kini membuat
Puspa begitu lengket dengan sang kakak. Tak heran, saat kakaknya melanjutkan
studi di luar kota, jika tak ada waktu telepon-teleponan, es em esan pun
jadilah. Bahkan suatu kali, saking rindunya ia, menatap foto sang kakak, lalu
didekap dan dibawanya tidur.
Bagaimana dengan Pak Bima?
Sang Papa memang tidak sepenuhnya mencurahkan kasih sayang
sama Darwin. Dia harus berbagi hati antara isterinya dan Puspa. Sebab, mereka
juga perlu kasih sayang, teman bermain, kawan curhat dan tempat bertukar
pikiran, pengalaman, berbagi suka dan duka.
Hanya saja, sesibuk-sibuk Pak Bima bekerja dan membagi kasih
sayangnya dengan isteri dan anak perem puan satu-satunya, masih sempat
bercengkrama lewat udara. Tidak lewat telepon, via email, BBM dan SMS. Jika
sedang liburan ke Palembang, Pak Bima sering mengajak serta Darwin ngobrol
berdua di suatu tempat, masih di sekitar rumah. Bosan berdua, ngobrol bareng
isteri dan Puspa.
Jadi kedekatan Pak Bima dengan Darwin, sekilas
biasa-biasanya saja. Layaknya hubungan pertemanan dua laki-laki yang sudah
saling mengenal dekat, keduanya bukan tanpa pertengkaran.Beda pendapat selalu
ada, namun itu sirna setelah ditengahi Bu Bima dan Puspa.
Pendapat boleh beda, tapi keutuhan keluarga dan pereratan
hubungan antara anak dan ayah, harus te tap terjaga dan malah terus
ditingkatkan sebagai bentuk teladan pada diri sendiri dan orang lain sehing ga
terciptalah potret dan sosok generasi muda yang tumbuh baik serta bermoral di dalam sebuah keluarga dan masyarakat.
Darwin dan mamanya?
Sulit dilukiskan dengan kata-kata. Tapi bisa didekati denga
sepak terjang Bu Bima kala mengasuh Darwin sejak kecil. Seluruh kasih sayang ia
curahkan pada Darwin kecil. Pelukan dan ciuman hangat selalu ia daratkan,
membuat anak sulungnya itu semakin gemas saat dipandang.
Begitu tumbuh dan memasuki usia remaja, Bu Bima, meski sudah
lahir anak kedua, bernama Puspa, ti dak menyurutkannya untuk menyayangi Darwin.
Malah seringkali terjadi, saking sayangnya pada Dar win, Sang Mama kerap
melupakan Puspa, dengan lebih memilih tidur berdua menemani Darwin di kamarnya.
Rasa kasih sayang itu tak juga surut ketika Darwin menginjak
dewasa dan matang seperti saat ini. Hanya saja, bentuk dan caranya yang
berbeda. Kalau dulu lebih banyak ‘mengeloni’ sang anak, sekarang bermain kata
dan lebih pada upaya memandirikan Darwin.
Suatu kali, ketika Darwin terlambat bangun pagi, Sang Mama tak
segan-segan mengetuk pintu kamar nya. Membangunkannya dengan penuh kasih
sayang. Tak lupa mandi dan mengingatkannya untuk sarapan pagi. Sambut hari
penuh ceria, penuh harapan dan optimisme.
Barangkali, tak semua ibu bersikap sama seperti yang
diperlihatkan Bu Bima, saat ia, misalnya, menaruh nasi di atas piring,
menuangkan air di gelas dan menyiapkan peralatan sepatu Darwin beserta
suaminya, Pak Bima.
Untunglah, dari sekian banyak bentuk kasih sayang yang
diperlihatkan ibunya, Puspa melihatnya sebagai pembelajaran bagi dirinya,
apalagi dia juga wanita, calon ibu, tentu apa yang dicontohkan ibunya amat
penting ia pelajari sebagai bekal kelak saat berumah tangga.
Bagaimana dengan Siska?
Setelah sempat tak sadarkan diri, Bu Guru SMA Mawar ini
sudah bisa menemani Darwin di ruang sal Melati. Emosinya sudah stabil. Dia
tidak menangis lagi. Matanya yang semula merah, kini sudah kembali normal
sediakala. Begitu teduh bola mata itu. Bening sebening telaga bening yang airnya belum pernah
dijamah seorang manusia pun.
Bu Guru Siska sudah bisa menyuapi Darwin dengan bubur ayam.
Sambil menyuapi, ia sisipkan senyuman dan doa agar cepat sembuh. Tiap kali ia
kembangkan senyuman itu, setiap kali pula jari tangan Darwin bergerak. Mulai
bisa membuka mata dan berkata-kata, walau hanya bisa didengar lewat telinga.
“Malam Bu Guruku yang cantik,” ucap Darwin, sampai dua kali
dia mengulangi perkataan itu karena hanya samar-samar kedengaran di telinga Bu
Guru Siska.
Siska tersenyum dan membalasnya dengan ucapan .. “Malam juga
Mas Darwin yang ganteng selangit.”
Puspa yang ikut mendampingi di sebelahnya tak kuasa menahan
geli saat Darwin melepas tawa, suara ketawa kagak ada, perut yang masih dibalut
perban bergerak-gerak sambil menahan rasa perih dan sakit.
Ketika Darwin tertidur kembali, Puspa menuliskan sesuatu di
secarik kertas dengan spidol hitam biar terlihat jelas saat Darwin membacanya….
“Mas Darwinku … Engkau adalah
bunga, Siska tangkainya. Engkau batu cincin, Siska
Gagangnya … Engkau bulan, Siska bintangnya
… I love you so much Mas Darwinku ..
Lekaslah sembuh …”
Lama juga Siska menunggu Darwin terjaga kembali. Jarum jam
sudah berdentang sembilan kali, Darwin masih tertidur pulas. Puspa yang tidur
merem di sebelahya menggantikan Siska untuk istirahat di ran jang sebelah.
“Bu Siska istirahat dulu,” kata Puspa. Tak lama Siska
rebahan, dia tertidur pulas sementara Puspa mem baca tulisan di secarik kertas
yang ditulis Bu Guru Siska.
Ingin rasanya Siska membangunkan Darwin dari tidur pulasnya
sekadar ingin memperlihatkann isi hati Bu Guru Siska barusan. Dia berdoa sang kakak segera bangun, dan
doanya terkabul. Darwin membuka matanya kembali.
“Kak …”
Puspa memperlihatkan tulisan yang dibuat Bu Guru Siska.
Darwin menatapnya lekat. Dia baca dalam ha ti.
“Tuliskan juga buat kakak,” bisiknya pada Puspa.
Ada pena di dalam laci, Puspa mengambilnya dan siap
menuliskan sesuatu di balik kertas yang ditulis Bu Guru Siska.
“I love you so uch,” ucap Darwin.
Puspa menuliskannya. Ia berharap Bu Siska senang membacanya
…
***
XI
XI
KEESOKAN harinya, begitu membaca tulisan “I love you so
much”, yang ia yakin ditulis oleh Puspa, anak didiknya, Siska senangnya bukan
main. Persis kayak anak kecil dikasih bombon. Senyum lepas mengem bang dan
mentari yang sinarnya menembus hangat kaca kamar seolah berkata, ‘sambutlah
pagi dengan ceria.’
Sayang, kegembiraan hati itu hanya sesaat, kala Darwin
menyapanya dengan sapaan ‘Hai’. Lepas itu, kala orang yang sangat dia cintai
itu tak sadarkan diri, lalu dibawa tim medis ke ruang khusus isolasi, Siska
berubah pucat. Mulutnya terkunci rapat. Matanya berkunang-kunang dan gelap
seketika. Ia tak ingat apa-apa lagi.
Dia baru sadar setelah dibangunkan ibunya selepas Magrib.
Kedua adiknya, Lia dan Dery, serempak mencium kedua pipi Siska sambil
membisikkan kata-kata ‘Kami sayang kakak.’Oleh Siska, ucapan barusan dijawab
dengan ‘Kakak juga sayang sama kalian berdua.’
Kepada Siska, sang ibu mengatakan, meski Darwin masih
dirawat di rumah sakit, keadaannya tidak ter lalu mengkhawatirkan. “Hanya dalam
tahap penyembuhan saja. Beberapa hari ke depan sudah diizinkan pihak rumah
sakit untuk dibawa pulang.”
Kepada Siska, Bu Odi juga menyampaikan pesan Bu Bima agar
tak terlalu memikirkan Darwin. “Yang penting nak Siska sehat, kami sekeluarga
sudah senang. Darwin, biarlah kami yang jaga bergantian.”
“Bu …!”
“Ibu harap kamu istirahat dulu ya nak,” kata Bu Odi, setelah
membelai rambut anak sulungnya itu, berlalu keluar kamar.
Kini Siska hanya ditemani kedua adiknya. Keduanya sepakat
untuk tidak cerita soal Darwin. Karena akan menambah rasa sedih sang kakak
sementara pihak keluarga Pak Bima berharap Siska segar bugar dan sudah bisa
mengajar kembali.
“Kak Sis, mau dengar cerita Lia enggak?” Tanya si nomor dua
sambil meletakkan kedua telapak tangan sang kakak ke pipinya.
Siska mengangguk.
Suatu hari, kata Lia memulai ceritanya, Nasrudin dan
isterinya pulang dan mendapati rumah mereka telah dijarah pencuri. Segala
sesuatu yang berguna dibawa kabur oleh si maling.
“Ini semua salahmu,” kata isteri Nasrudin, “karena kamu
selalu merasa yakin bahwa pintu rumah sudah terkunci sebelum kita pergi.”
Para tetangganya juga ikut berkomentar. “Kamu sih tidak
mengunci pintu-pintu,” ujar seorang tetangga.
“Heran. Kenapa kamu tidak membayangkan apa yang bakal
terjadi,” ujar yang lain.
“Kunci-kunci rumahmu ternyata sudah rusak dan kamu tidak
menggantinya,” sahut orang ketiga.
“Sebentar,” kata Nasrudin, “kenapa harus aku yang
disalahkan, dan tentunya bukan aku satu-satunya orang yang harus disalahkan.”
“Kalau bukan dirimu, lalu siapa yang seharusnya disalahkan?”
Teriak orang-orang dengan gemas.
“Pencurinya itu dong! Bukankah mereka yang telah menjarah
dan membawa kabur barang-barang mi likku. Aku yang menderita kerugian, masih
juga disalahkan,” jawab Nasrudin dengan enteng seraya meninggalkan mereka.
“Sekarang gantian Dery yang cerita, kak.” Ujar Dery sambil
memijat-mijat betis Bu Siska.
Pada suatu hari, kata Dery, Imam Syibli sedang berada di
sebuah kebun yang subur. Tiba-tiba kedengaran suara memanggil-manggil namanya,
“Syibli, Syibli!”
Imam Syibli berhenti dari pekerjaannya sambil mencari-cari,
siapakah gerangan yang telah memanggil-manggilnya itu. Ternyata suara itu
datang dari sebatang pohon mangga.
“Apa maumu memanggil-manggil aku?” Tanya Imam Syibli.
Makhluk gaib yang menyatu dengan pohon mangga itu menjawab,
“Jadilah orang yang memiliki sifat mulia seperti aku.”
“Maksudmu?” Tanya Imam Syibli kurang senang.
“Aku, jika dilempari orang dengan batu, akan melempari orang
itu dengan buahku yang lezat-lezat.”
Imam Syibli menjawab, “Ah, memang baik hatimu. Tapi mengapa
nasibmu tidak sebaik penghabisannya?”
Kini si pohon mangga yang keheranan. Ia pun bertanya,
“Maksudmu?”
Imam Syibli menerangkan, “Kalau engkau sudah tidak ada
gunanya lagi, sudah tua, batangmu akan ditebang, daun-daunmu akan digunduli,
dan dirimu akan dimangsa api sebagai kayu bakar.”
Pohon mangga itu dengan sedih berkata, “Itulah kesalahanku.
Aku tidak seperti pohon cemara, yang bisa condong kebarat bila bertiup ke
barat, dan akan condong ke timur jika angin bertiup ke timur.”
“Jadi, mana yang lebih baik, nasibmu atau nasib pohon
cemara?” Tanya Imam Syibli.
“Inilah kebanggaan saya. Memang pohon cemara dapat selamat
dengan cara begitu, tetapi kalau sudah tua pohon cemara hanya akan roboh begitu
saja, dan tidak ada yang mengambilnya menjadi ka bakar, apalagi buat arang.
Sedangkan aku, meskipun penghabisanku dibakar orang, namun aku hancur dengan
terhormat. Sebab manusia tidak akan sembarangan membakar tubuhku bila tidak
untuk memasak atau keperluan lainnya, seperti membuat arang, misalnya. Jadi aku
masih ada gunanya sampai akhir hidupku. Abu bekas pembakaran diriku pun masih
dicari orang untuk menggosok perabotan mereka, karena abu ku terkenal mahal
dapat membuat barang-barang logam menjadi bersih dan mengkilap. Jadi nasibku
lebih baik dari pohon cemara.”
Imam Syibli mengangguk-anggukkan kepala tanda menyetujui
pendapat pohon mangga, lebih baik mati terhormat daripada menjual harga diri
dengan bersikap munafik, bersedia mengikuti arus, kemanapun angin bertiup.
“Demikianlah kak, akhir kisahnya,” kata Dery menutup kembali lembaran buku
cerita itu sebelum dia masukkan kembali ke saku bajunya.
“Sekarang giliran kakak yang cerita, tapi yang bacain
ceritanya kalian berdua secara bergantian. Gimana? Mau kan?”
“Maulah, kak.” Jawab keduanya.
Bu Siska meminta Lia mengambilkan buku diary di dalam laci
meja kerjanya. Setelah itu dia meminta sang adik membacakan isi cerita di
lembaran catatan harian kekasih Darwin ini.
“Siap kak?”
“Siap,” kata Siska bersemangat.
Iblis berkata, Lia mengawali cerita yang tertulis di notes
kecil tapi tebal itu, “Assalamualaika ya Mu hammad, assalamu alaikum ya
jamaa’atal muslimin (salam untuk kalian semua wahai golongan muslimin?”
Rasulullah SAW menjawab, “Assalamulillah ya la’iin (Keselamatan hanya milik Allah SWT
makhluk yang terlaknat). Aku telah mengetahui, engkau punya keperluan kepada
kami. Apa keperluanmu wahai iblis?”
Iblis berkata, “Wahai Muhammad, aku datang bukan karena
keinginanku sendiri, tetapi aku datang karena terpaksa (diperintah).”
Rasulullah SAW bersabda, “Apa yang membuatmu terpaksa harus
datang ke sini, wahai terlaknat?”
Iblis berkata, “Aku didatangi oleh seorang malaikat utusan
Tuhan yang Maha Agung. Ia berkata kepa daku, sesungguhnya Allah SWT telah
menyuruhmu untuk datang kepada Muhammad SAW dalam ke adaan hina dan bersahaja.
Engkau harus memberitahu kepadanya bagaimana tipu muslihat, godaan dan
rekayasamu terhadap Bani Adam, bagaimana engkau membujuk dan merayu.”
“Engkau harus menjawab dengan jujur apa saja yang ditanyakan
kepadamu. Allah SWT berfirman: “Demi kemuliaan dan keagungan-Ku, jika engkau
berbohong sekali saja dan tidak berkata benar, niscaya Aku jadikan kamu debu
yang dihempas oleh angin dan Aku puaskan musuhmu karena bencana yang
menimpamu.”
“Wahai Muhammad, sekarang aku datang kepadamu sebagaimana
aku diperintah. Tanyakanlah kepa daku apa yang kau inginkan. Jika aku tidak
memuaskanmu tentang apa yang kamu tanyakan kepadaku, niscaya musuhku akan puas
atas musibah yang terjadi padaku. Tiada beban yang lebih berat bagiku daripada
leganya musuh-musuhku yang menimpa diriku.”
Rasulullah SAW mulai bertanya, “Jika kamu jujur,
beritahukanlah kepadaku, siapakah orang yang paling kamu benci?”
Iblis laknatullah menjawab, “Engkau, wahai Muhammad. Engkau
adalah makhluk Allah SWT yang paling aku benci, dan kemudian orang-orang yang
mengikuti agamamu.”
Rasulullah SAW bertanya lagi, “Siapa lagi yang kamu benci?”
Iblis laknatullah: “Anak muda yang takwa, yang menyerahkan
jiwanya kepada Allah SWT.”
Rasulullah: “Lalu siapa lagi?”
Iblis laknatullah : “Orang alim dan wara’ (menjaga diri dari
syubhat) yang saya tahu, lagi penyabar.”
Rasulullah SAW: “Lalu siapa lagi?”
“Iblis laknatullah: “”Orang yang terus menerus menjaga diri
dalam keadaan suci dari kotoran.”
Rasulullah SAW: “Lalu siapa lagi?”
Iblis laknatullah : “Orang miskin (fakir) yang sabar, yang
tidak menceritakan kefakirannya kepada orang lain dan tidak mengadukan
keluh-kesahnya.”
Rasulullah SAW: “Bagaimana kamu tahu bahwa ia itu penyabar?”
Iblis laknatullah : “Wahai Muhammad, jika ia mengadukan
keluh-kesahnya kepada makhluk sesamanya selama tiga hari, Tuhan tidak
memasukkan dirinya ke dalam golongan orang-orang yang sabar.”
Rasulullah SAW: “Lalu siapa lagi?”
Iblis laknatullah : “Orang kaya yang bersyukur.”
Rasulullah SAW : “Bagaimana kau tahu bahwa ia bersyukur?”
Iblis laknatullah : “Jika aku melihatnya mengambil dan
meletakkannya pada tempat yang halal.”
Rasulullah SAW : “Bagaimana keadaanmu jika umatku
mengerjakan salat?”
Iblis laknatullah : “Aku merasa panas dan gemetar.”
Rasulullah SAW : “Kenapa, wahai terlaknat?”
Iblis laknatullah : “Sesungguhnya, jika seorang hamba
bersujud kepada Allah SWT sekali sujud saja, maka Allah SWT mengangkat
derajatnya satu tingkat.”
Rasulullah SAW : “Jika mereka shaum?”
Iblis laknatullah : “Saya terbelenggu sampai mereka berbuka
puasa.”
Rasulullah SAW : “Jika mereka menunaikan haji?”
Iblis laknatullah : “Saya menjadi gila.”
Rasulullah SAW : “Jika mereka membaca Alquran?”
Iblis laknatullah : Aku meleleh seperti timah meleleh di
atas api.”
Rasulullah SAW : “Jika mereka berzakat?”
Iblis laknatullah : “Seakan-akan orang yang berzakat itu
mengambil gergaji/kapak dan memotongku menjadi dua.”
Rasulullah SAW : “Mengapa begitu, wahai Abu Murrah (sebutan
untuk iblis)?”
Iblis laknatullah : “Sesungguhnya ada empat manfaat dalam
zakat itu. Pertama, Tuhan menurunkan
berkah atas
hartanya. Kedua, menjadikan orang yang berzakat itu disenangi makh
luk-Nya yang
lain. Ketiga, menjadikan zakatnya sebagai penghalang antara dirinya
dengan api
neraka. Keempat, dengan zakat, Tuhan mencegah bencana dan mala-
petaka agar
tidak menimpanya.”
***
XII
KE kiri aja Pus ….!”
“Oke …”
Kursi roda dorong melaju ke kiri. Puspa sangat hati-hati mendorongnya. Jangan
sampai menyentuh orang yang lalu-lalang, apalagi sampai jatuh terguling saat
menuruni anak tangga batu.
“Stooop …!”
Kreteeek … syiiiut.
Persis berhenti di depan taman bunga. Darwin tampak senang memandang
taman bunga, berwarni-warna. Teduh rasanya hati.
“Biarlah kakak di kursi saja,” ucap Darwin menyahuti
keinginan adiknya Puspa agar turun dari kursi roda, berjalan, walau masih harus
menggunakan tongkat kayu, mencium aroma bunga dari dekat.
“Kak Darwin!” Sapa Puspa, lalu mengeluarkan secarik kertas
dari saku bajunya.
“Surat lagi. Dari
siapa Pus?” Tanya Darwin tak jemu-jemunya ia memandang lekat aneka bunga yang
tertata apik di atas rerumputan serba hijau.
“Bukan kak. Tapi puisi buatan Puspa khusus dipersembahkan
buat kakakku, Darwin.”
“Wah-wah .. Pandai juga kamu buat puisi ya Pus. Pasti bagus
puisinya …” Puji sang kakak.
“Puspa. Sang jawara
jaman bahulak ,” kelakar Puspa, ikut senang tengok Darwin bisa ketawa
lagi.
“Ya namanya juga adik Darwin. Pasti selalu juara, walau
pesertanya cuma satu. Ayo bacain. Kakak pengen dengar …”
“Siap bos …”
Puspa membacanya sambil berdiri membelakangi bunga,
menghadap ke Darwin yang tampak santai menyandarkan tubuhnya di kursi roda.
“Pagiku mekar
siang kubekelakar
sorenya
kubersandar
malamnya
kuberistighfar …
Ya Robb
Tuhanku
wangikan aku
agar hamba-hamba-Mu yang bernama
manusia menyenangiku …
Ya Robb Tuhanku
indahkanlah aku supaya
hamba-Mu yang beriman
leluasa memandangku …
Aku tak ingin ya Robb
kehadiranku menambah pelik
hamba-Mu
yang tiada henti
berjibaku dengan panasnya
matahari dan
dinginnya malam
hanya untuk sesuap makan …
Aku tak
ingin ya Robb
kehadiranku membuat
hamba-Mu
yang beriman jadi terganggu
padahal mereka ingin selalu
dekat dengan-Mu …
Aku hanya ingin mereka
selalu di dekat-Mu
menyapa-Mu selalu
pengobat rasa rindu
pelipur lara
dalam suka dan duka …”
Plak … plak … plak …
Tepuk tangan itu berasal dari Bije dan Iqbal. Keduanya
sengaja datang setelah diingatkan Puspa untuk membesuk kakaknya di rumah sakit.
“Kita bawa kakakmu ke belakang,” bisik Bije pada Puspa,
sempat kaget.
“Orang suruhan bapaknya Ira sudah turun dari mobil. Cepat!”
Kata Iqbal , membantu Puspa mendoro ng kursi roda yang diduduki Darwin.
Mereka menuju ruang belakang rumah sakit. Beberapa orang
juru rawat hanya senyum-senyum melihat tingkah mereka ketika mendorong kursi
roda.
Iqbal misalnya. Sempat berputar-putar sementara tangannya
tetap fokus mendorong kursi roda dengan sesekali melambaikan tangan kepada juru
rawat yang cantik memikat menuju ruangan pasien inap.
Sedangkan BiJe dan Puspa, keduanya melenggok-lenggok seperti
orang lagi berdansa. Bersiul-siul sambil berdendang riang. Ketiganya baru
berhenti berulah setelah sampai di ruang
kosong bercat serba putih.
Ruangan itu besar dan luas. Tapi, namanya juga tak
ditempati, sudah lama dikosongkan, mana ada yang namanya kasur, tempat tidur,
apalagi bantal guling. Jadi kalau mau tidur terpaksa ngapar.
Sementara dua preman bayaran tadi, setelah bertanya pada
petugas medis, segera menuju ruang inap rawat Darwin. Alangkah terkejutnya
mereka. Ruangan itu ternyata kosong melompong.
Tak ada lagi penghuninya.
“Kemana dia?” Tanya pria berkumis tebal, geram sambil
mengepalkan tinjunya seakan hendak memukul orang lain yang ada di dekatnya.
“Apa perlu kita tanya lagi?” Kata temannya bermata juling.
“Okeee …”
Karena jawaban yang diperoleh sangat tidak memuaskan,
petugas rumah sakit juga pada enggak tahu duduk persisnya kemana Darwin dan
Puspa saat ini, kedua preman ini sepakat mengontak Pak Patra, melaporkan bahwa
yang mereka cari sudah tidak ada lagi di kamar inapnya.
“Saya enggak mau tahu. Pokoknya dapatkan dia,” kata Patra
dengan nada tinggi. Saking tingginya
HaPe yang dipegang preman berkumis hampir terlepas sedangkan gendang telinga
terasa sakit dan menyisa kan dengung.
“Tapi bos,” jelas si kumis.
“Tidak ada tapi-tapian. Harus dapat pokoknya. Kalau sampai
lolos, kalian berdua akan saya panggang sampai hangus. Mengerti?”
“Mengerti bos …”
“Tunggu apa lagi?”
“Duit rokoknya bos kurang,” sahut si juling.
“Kan sudah dikasih tiga ratus. Kurang apalagi.”
“Ya bos. Kuranglah. Masak kagak tau aje. Ongkos taksi piro,
makan piro, kan habis bos.”
“Ya sudah. Kamu bawa kartu ATM kagak?”
“Bawa bos …”
“Saya transfer lima ratus. Tunggu di ATM kira-kira lima
menit.”
“Siap bos …”
Seolah lupa dengan tugas utama mereka, dua preman berbadan
tegap ini bergegas ke ATM. Kebetulan ada beberapa orang lagi ngantre.
Terpaksalah keduanya ikut antre.
BiJe dan Iqbal, dari tadi melihat ulah si kumis dan si
juling. Mereka masih menunggu gerangan apa yang bakal dilakukan keduanya
setelah mengambil uang transferan dari ATM.
Keduanya mengaso sejenak di kursi panjang batu marmer. BiJe
memberitahu Puspa agar tetap hati-hati karena dua preman masih ngantre di depan
ATM.
“Lucu ya Je. Ngambil duit segala,” kata Puspa, yang baru
kali ini orang-orang yang mengejar dia dan ka kaknya masih santai-santai di
depan mesin ATM.
“Aku matikan dulu ya Pus, HaPenya. Mereka sudah keluar,”
jelas BiJe. Bersama Iqbal mengikuti kemana dua preman kampung itu berjalan.
Rupanya berhenti dekat loket pembayaran obat. Apa yang
mereka kerjakan?
“Kamu dua ratus saja. Aku tiga ratus. Aku lebih banyak
seratu karena aku kan bos,” terang si kumis.
“Tak bisalah Mis,” kata si juling, “sesama kita tidak ada
yang namanya bos. Kita kan sama. Kamu teman saya, saya temannya kamu ..”
“Tapi yang pertama disuruh bos, kan aku, bukan kamu. Jadi
wajar kalau aku nyebut diriku bos. Sedangkan kamu anak buahku,” terang si
kumis.
“Jangan gitulah Mis. Aku bukannya apa-apa. Aku lagi butuh uang sekarang. Tolonglah Mis,
tambah lagi,” rengek si juling.
“Janganlah Ling. Aku sekarang juga butuh duit. Anakku perlu
makan, isteriku juga. Kamu enak. Kawin saja belum. Lah, aku?”
“Udah gini aja. Tambahlah dua lima lagi Mis. Aku mohonlah
sama kamu.”
“Gimana ya?” si kumis menggaruk-garuk kepalanya. Dihitungnya
kembali duit tiga lembar seratusan ribu itu.
“Nantilah ya. Aku enggak punya duit kecil sekarang.”
“Ya taka apa-apa nanti,” jawab si juling. Keduanya barengan
memasukkan dompet ke saku celana.
Praaak …
Keduanya, saat mau melangkah ke kanan, tabrakan dengan BiJe
dan Iqbal. Sama-sama hampir terjatuh.
“Punya mata enggak?” Hardik si juling pada Iqbal.
“Punya. Dua. Ini …” Menunjuk kedua matanya yang tengah
memelototi kumis si preman berkumis.
***
XIII
DUUUUP … duuup … duuup.
Masing-masing pihak mendaratkan pukulan dan tendangan.
Sama-sama kena dada, muka dan paha.
Husyaaaa …
Kumis melepaskan pukulan, tepat mengenai perutnya Iqbal.
Meringis kesakitan. Ketika mau menda ratkan pukulan kedua, BiJe yang lebih
banyak mengelak dari pukulan yang dilesakkan si juling, menen dang tangan si
kumis.
“Aduh …!” Ringisnya, mengetahui BiJe lah yang melepaskan
tendangan barusan, buruan mendaratkan pukulan ke telinga BiJe.
Duuuup …
Ditangkis BiJe dengan tapak tangan. Saat bersamaan Iqbal
menendang perutnya, si kumis terpental.
Uuuuuukh …
“Kurang ajar,” ucap Juling, melepaskan pukulan satu dua.
Berhasil dielakkan BiJe dan Iqbal.
“Cuma segitu ya Bro. Pulang sana,” ejek Iqbal tertawa
terkekeh-kekeh.
“Setan alas.” Si Juling membabi buta memukul, melepaskan
tendangan dan memutar badannya agar mudah ‘mengambil’ kaki lawan yang lengah,
dan terjatuh.
Sayang, taktik itu sudah dibaca Iqbal dan BiJe. Mereka hanya
melakukan gerakan mundur beberapa langkah ke belakang, membiarkan lawan duel
sendirian.
Plak .. plak … plak …
Merasa dipermainkan BiJe dan Iqbal, si Juling bersama si
Kumis yang suda siap pasang jurus lagi, bermaksud hendak mengurung lawan.
Berbisik, BiJe dan Iqbal mengambil langkah seribu. Keduanya
berlari menuju tanah rerumputan di sam
ping kanan rumah sakit. Kejar-kejaran pun tak terelakkan. Para pasien kursi
roda, anggota keluarga pa sien, petugas medis, karena kaget, sebagian menjerit
karena ketakutan.
Saking takutya, ada di antara juru rawat itu yang tersandar
di tiang bangunan atap rumah sakit. Harus menepi jika tidak ingin kena
senggol yang berakibat jatuh ke lantai.
Ana-anak pada menangis. Ibu-ibu saling berbisik dan kompak
untuk menghindar sambil berharap tak ada kegaduhan di rumah sakit, yang dapat
mengganggu kelancaran tugas petugas medis.
“One bye one kalau berani,” tantang Iqbal.
“All right,” jawab si Juling dan si Kumis serempak.
Mereka pun berpencar. BiJe dan Juling ke kanan, sedangkan
Iqbal versus si Kumis ke kiri. Duel mereka sudah ditunggu-tunggu para jukir
yang menyaksikan dari balik terali tanah lapang.
Husyaaa …
Juling membuka lebar-lebar kedua kakinya dengan posisi
tangan menyilang, dibalas BiJe dengan mengge rakkan kedua kakinya. Sebentar ke
depan, kiri, kanan dan belakang dengan kedua tangan berpindah-pin dah posisi.
Kadang menyilang, ke depan barengan, bersusun dua, kanan atas, pergelangan
tangan kiri di bawah.
Keduanya masih mencari celah melepaskan pukulan. Hanya
berputar-putar. Begitu juga dengan Iqbal dan Kumis. Keduanya tidak mau
menyerang lebih dulu. Sama-sama menunggu. Diserang, baru balas menyerang.
“Wuuuu … Pengecut semuanya ..!” Ejek para jukir ketawa
mengejek.
Priiiit …
Pak Satpam rumah sakit meniup pluit agar duel segera
dihentikan. Tak baik berkelahi, apalagi sampai
adu jotos di rumah sakit. Ternyata pluit itu salah ditanggapi BiJe dan
Iqbal. Keduanya malah kompak menyerang Kumis dan Juling.
Pak Satpam yang semula bingung, akhirnya membiarkan berempat
duel di tanah lapang. Ikut menonton bersama para keluarga pasien, beberapa
petugas medis dari jarak tak terlalu dekat.
Selain tidak menggunakan senjata tajam, duel berlangsung
lucu. BiJe dan Juling misalnya, keduanya sama-sama terpental saat kedua kaki
mereka berbenturan ketika melepaskan tendangan.
Berbeda dengan Iqbal dan Kumis. Setelah keduanya sama-sama
memukul angin dan sama-sama tak kena saat lawan melepaskan pukulan, serempak
jatuh terjerembab ke rumut dalam posisi telungkup.
Ha ha ha ha …
“Wuuuu … Loyo. Amit-amit deh.! Teriak jukir ketawa geli
melihat Iqbal dan Kumis yang saat mau berdiri, jatuh terjerembab lagi.
“Payah deh lu … Kebanyakan makan jengkol sih,” ledek salah
seorang keluarga pasien berusia muda dengan rambut panjang diikat ke belakang.
Semua penonton makin ketawa geli kala melihat Iqbal dan
Kumis saling melepaskan pukulan. Sama-sama kena, tapi lambat. Setelah itu saling
dorong, sempoyongan dan jatuh bergulingan di reremputan.
Lain lagi dengan BiJe dan Juling. Mereka mulai serius
berduel. Saling melepaskan pukulan, tendangan dengan sesekali melakukan gingkang. Memutar badan dengan
sasaran perut dan dada lawan.
Suatu kesempatan, BiJe berhasil mencederai hidung lawan,
kena sampai mengucurkan darah. Si Juling bukannya menurunkan tempo serangan.
Malah justru tak henti-hentinya ‘menggocoh’ tangan, perut dan leher BiJe.
Dari beberapa kali gocohan itu, BiJe sempat meringis kesakitan
setelah lehernya tiba-tiba sakit akibat ter kena tendangan geledek si Juling.
Mundur beberapa langkah, ubah jurus dan lebih banyak menunggu.
Harapan agar lawan terus menyerang, terwujud. Dengan
tangkisan satu dua, serangan gencar yang dilakukan Juling dapat dengan mudah
dimentahkan.
“Rasakan ini!” Teriak si Juling. Memutar badannya sambil
melepaskan pukulan liar mengarah ke kiri BiJe. Oleh BiJe, tendangan dahsyat dan
mematikan itu ia atasi dengan melompat sambil mendaratkan pukulan ke kepala
lawan.
Duuup … Praaak.
“Uuuuukh!”
Si Juling berguling-gulingan menahan kepalanya yang sakit
akibat pukulan. Sempat muntah, tapi berhasil berdiri lagi dan siap meladeni
serangan berikutnya dari BiJe.
Kali ini BiJe yang lupa dengan pertahanan. Melihat lawan
mulai kewalahan, dia lepaskan tendangan sam bil
memutar badan. Tendangan itu berhasil ditangkis Juling, lalu memelintir
mata kaki BiJe, jatuh terhempas.
Saat bersamaan, lawan melompat sambil mendaratkan pukulan ke
wajah. Meski berhasil dielakkan BiJe, pukulan keras itu menghantam pergelangan
tangannya.
“Aduuuuh …!”
Secepat kilat BiJe memutar badannya. Dia hanya bisa
menghindar sambil memegang tangan kirinya yang sulit digerakkan karena terkena
pukulan.
Hiyaaaat …
Si Kumis tak memberi kesempatan sedikit pun pada BiJe
untukmelepaskan pukulan. Akibatnya,
badan nya mulai dari kaki hingga muka, jadi sasaran empuk serangan
lawan.
Guuuup … sreeet.
BiJe terjengkang dalam posisi badan menelentang. Kumis
melepaskan tendangan, dibalas BiJe dengan memutar kedua kakinya, menangkap dan
berhasil menjepit kedua kaki lawan.
Saat Kumis jatuh, BiJe berhasil menindihnya. Duduk di atas
perut seraya mencekik leher lawan. Masih sempat melepaskan tendangan mengenai belakang kepala BiJe, membuatnya
tersungkur. Si Juling gantian menjepit leher BiJe. Tak berkutik.
Ha ha ha ha …
Si Juling ketawa ngakak. Merasa di atas angin, dia terus
memperkuat jepitannya. BiJe, yang mulai kesakitan dan susah bernafas, masih
bisa melepaskan tendangan persis mengenai dagu lawan.
Lawan terdorong ke belakang. Setelah berdiri, ia angkat
badan Juling tinggi-tinggi, dihempaskannya ke paha kanannya, dan …
Kraaaak …
Gedebug.
Si Juling tak bangun lagi.
***
XIV
BAGAIMANA dengan Iqbal dan si Kumis?
Makin seru dan lucu saja. Keduanya saling tarik-tarikan
baju, saling jambak-menjambak rambut dan saling menendang. Sama-sama kena,
meringis kesakitan.
“Kapan selesainya kalau gini terus,” celetuk salah seorang
penonton yang mulai bosan melihat Iqbal dan Kumis duel kayak orang perempuan.
“Oi sikat oi!” Teriak seorang jukir sambil
mengepal-ngepalkan tinjunya.
“Serang oi, Mis,” sahut yang lain.
Si Kumis terpancing emosinya, sedangkan Iqbal tetap tenang.
Dia hanya berlari ke sana kemari menghindari pukulan dan tendangan si Kumis.
Kehabisan akal, Si Kumis memutuskan untuk mengejar Iqbal.
Terjadilah saling kejar mengejar. Serunya saat keduanya berada di dekat ayunan.
“Awas lu ya,” ancam Kumis.
“Lu juga awas,” balas Iqbal.
“Pukul gue kalau berani.”
“Sori ya. Gue lagi enggak mood,” ejek Iqbal.
Si Kumis mengejar ke kanan, Iqbal berlari ke kiri. Si Kumis
ke kiri, Iqbal ke kanan. Meski bosan diper mainkan, si Kumis terus mengejar lawannya, meski dengan cara
berkeliling.
Suatu ketika, si Kumis pura-pura mengejar ke kanan. Iqbal
berlari, berhasil ia cegat dan nyaris dapat kalau tidak cepat-cepat melompat ke
balik ayunan.
Wiiiish … wiiing …
Iqbal mendorong kuat-kuat itu ayunan, papan ayunan meluncur
deras, turun naik dan mengenai kepala si Kumis.
Buuuk …
Kumis terjengkang.
Ha ha ha ha …
Kena sorak, si Kumis bangkit dan berdiri lagi.
Buuuk …
Kena lagi. Puyeng juga jadinya. Si Kumis mirip orang mabuk
berat. Jalan sempoyongan. Mata merem-melek dengan anggota badan seperti tangan
dan kaki terasa berat untuk digerakkan.
“Ayo Mis. Pukul aku!” tantang Iqbal.
“Dimana kamu?”
Ha ha ha ha …
“Di WC taun,” celetuk laki-laki tambun yang baru selesai
dari makan di kantin rumah sakit.
“Hei kawan,” kata si Kumis mengangkat jari telunjuknya,
turun naik dengan kedua kaki yang tak lurus lagi.
“Enggak berani?”
“Bukan,” jawab si Kumis dengan badan mulai melayang-layang.
Tak karuan.
“Lalu kenapa?”
“Kita kawan, bukan lawan,” ucap si Kumis dengan suara
disendatkan dan berirama.
“Jangan percaya Bro,” kata jukir bermata besar.
“Itu namanya nekat,” sahut jukir yang lain.
“Apa itu nekat Bro?” Tanya temannya.
“Kita meleng dia sikat …”
Ha ha ha ha …
Benar saja. Ketika Iqbal asyik ngobrol dengan BiJe, Kumis
menyerangnya dari belakang. Karena ditangkis BiJe itu tendangan kilat, pantat
Iqbal tidak kena.
“Bangsat. Keroyokan,” umpat si Kumis.
BiJe memutuskan untuk tidak ikut berduel. Agar tercipta
fair-play, biarlah Iqbal sendiri yang meladeni si Kumis.
Kendati diserang habis-habisan, Iqbal bersih dari pukulan
dan tendangan. Dia hanya mengelak dengan sesekali mendorong maju dan mundur itu
ayunan. Selebihnya dia lompat dan berlari ke sana kemari.
“Babi lu!” Mulai kesal rupanya si Kumis.
Iqbal akhirnya secara perlahan mulai meladeni si Kumis. Dia
tak lagi berlari. Satu dua pukulan berhasil dia tangkis.
“Nah begitu dong,” kata penonton wanita penjual jagung dan
kacang rebus dengan meletakkan bas kom besar di atas kepalanya.
“Ayo cepat selesaikan,” kata temannya yang menjual es lilin
dan keripik ubi serta telur asin.
“Majulah!” Tantang Kumis.
Kali ini si Kumis tak berpikir lebih jauh lagi. Dia lepaskan
tendangan berkali-kali. Kali yang terakhir tepat mengenai perut lawan.
Mengerang kesakitan.
“Wuuuu .. gitu aja sakit. Nih gue, endorong motor taka
pa-apa,” teriak jukir berambut cepak.
Sambil menahan rasa sakit, si Kumis masih sempat melayangkan
pukulan ke muka Iqbal. Lambat mengelak, Iqbal terpundur. Pipinya sebelah kanan
tampak memerah.
Si Kumis menambah serangan dengan menendang kaki Iqbal. Dia
tangkis dengan kedua tangan dan kakinya. Saling beradu kaki, keduaya mengobral
pukulan, saling sikut dan dorong.
Gedebuuuk …
Sama-sama jatuh terlentang di atas rerumputan. Lalu
berguling-gulingan. Saling mencekik dan melepaskan pukulan.
Byuuuur …
Kecebur dalam kolam buatan. Penonton mendekat. Pak Satpam
berusaha melerai, tapi dia juga tak mampu menghentikan duel itu. Malah badannya
ikut terdorong nyemplung ke kolam.
Bertiga di dalam kolam, Pak Satpam jadi sasaran. Badannya di
over ke kanan dan kiri. Oleh si Kumis didorong ke Iqbal, lalu Iqbal mendorong
laki-laki ceking seperti kurang vitamin itu ke tempat Kumis berdiri.
Karena tak kuat lagi menahan dorongan, Pak Satpam akhirnya
kehabisan nafas. Dia berjalan menuju tepian kolam dengan terengah-engah.
Sebelum akhirnya diselamatkan oleh penonton dengan me mapahnya sampai ke tempat
duduk dekat ruang tunggu.
Di kolam praktis hanya menyisakan Iqbal dan si Kumis.
Keduanya sepakat melanjutkan duel lagi. Na manya juga di dalam air,
sekuat-kuatnya pukulan, tak sekuat ketika memukul di daratan. Serba loyo. Kaki
loyo, pukulan asal dilepaskan saja.
Keduanya saling berpelukan. Sama-sama beradu kepala, lalu
terpental ke dalam air. Iqbal yang lebih du lu berdiri, melompat dan mencekik
leher lawan. Dia tenggelamkan itu kepala, dipukulnya berkali-kali.
Tak ada reaksi. Iqbal pun berpuas diri. Setelah melihat
lawan tak berkutik lagi, ia beringsut menuju te pian kolam.Maksud hati naik ke
rerumputan karena sudah tak tahan dengan dinginnya air kolam.
Huuup …
Kumis berhasil keluar dari dalam air. Dia sergap Iqbal yang
masih berdiri sempoyongan di tepi kolam. Dia piting lehernya. Nafas pun
tersengal, Iqbal terdorong ke belakang. Sama-sama nyemplung ke dalam air lagi.
Penonton harap-harap cemas. Belum seorang pun yang muncul ke
permukaan air. Beberapa penonton, terutama Pak Satpam berusaha menolong, tapi
secara tiba-tiba …
Byaaar …
Keduanya muncul barengan. Saling memapah dan berjalan
mendekati penonton yang heran melihat kelakuan keduanya.
“Tobat niyeee,” celetk ibu yang rambutnya sudah memutih
semuanya. Tak menyisakan lagi warna hitam.
Pak Satpam dan beberapa anggota keluarga pasien memapah
keduanya menuju ruang tunggu, sudah menunggu BiJe, Puspa dan Darwin.
***
XV
DI lain tempat, Kuyung mempercepat laju mobilnya guna
menghindari kejaran orang suruhan Pak Patra. Dia terpaksa mengambil jalan
pintas dengan memasuki lorong pasar loak, barang antik dan pakaian ser ba baru
serta lama.
“Itu mereka!” Teriak pria berpantat teos menunjuk ke sebuah
mobil berwarna biru tua yang belok kanan setelah melewati tangga batu berusia
tua.
Dengan hanya menggunakan motor trail, kedua preman ini
leluasa menapaki anak tangga batu, meliuk-liuk di lorong sempit dan bahkan bisa
melayang melewati anak sungai yang cuma berjarak kedua sisinya sejauh tiga
meter.
“Itu mereka, Yung!” Ucap Bu Siska mulai ketakutan setelah
melihat penampilan kedua preman itu yang seram dengan muka brewokan dan berbulu
lebat di seluruh badan.
Jarak antara mobil dan motor trail dalam pososi sejajar
dengan hanya dipisahkan oleh anak sungai dan jembatan. Kedua preman itu
melepaskan tembakan mengenai roda , namun tidak sampai membuat mo bil zig-zug.
“Hati-hati Yung!”
“Siap Bu,” jawab Adam.
Kuyung terus memacu mobilnya dalam kecepatan tinggi lurus ke
depan. Begitu juga halnya dengan ke dua preman tadi. Mereka malah
berteriak-teriak sambil mengacungkan tinju dan senjata api. Mereka tertawa dan
meminta Kuyung segera menghentikan mobil dan menyerahkan diri.
Mana maulah Kuyung. Dia tak merasa takut sama sekali. Si
preman ‘menjebili’, dia balas jebili. Mengacu ng-acungkan tinju, membalasnya
dengan melakukan hal yang sama. Saling cibir, perlihatkan tinju dan terakhir,
sebelum belok menuju jalan raya besar, adu tunjuk pantat.
“Adam, jangan!” Cegah Bu Siska. Melihat Adam, siswanya
bermaksud membuka celana dengan hanya memperlihatkan celana dalam (sempak)
kepada para preman itu.
Meski hanya memperlihatkan bagian belakang celana yang Adam
kenakan, cukup membuat dua preman itu kerepotan. Asyik pamer pantat, tak lihat
ada batu besar di depan, dan …
Braaak … Tuuuum …
Motor trail menabrak batu, terbalik dan tentu saja kedua
preman itu jatuh bergulingan. Nyaris
masuk ke anak sungai.
“Rasain lu. Mampus deh.” Kata Adam, girang bukan main
setelah melihat kedua lelaki berkulit hitam legam itu terjungkal dari motor.
“Gimana Yung?” Tanya Bu Siska, berharap para preman itu
tidak mengejar mereka lagi, dan secepatnya tiba di rumah sakit.
“Kayaknya masih mau ngejar Bu,” jelas Kuyung, sempat nengok
dari kaca spion kedua preman itu sudah
naik motor lagi.
“Cuek ajalah, Yung.” Kata Adam.
Bu Guru Siska menelepon BiJe. Dia mempertanyakan keadaan
terkini di rumah sakit. Puspa dan Darwin, apa mereka berdua terluka atau tidak.
“Alhamdulillah tidak Bu,” terang BiJe lega.
“Alhamdulillah juga,” ucap Bu Siska.
“Tapi Je, ibu minta tolong nih, bisa ya?”
“Bisa, bisa. Apa Bu?”
“Kami ini lagi di jalan. Dikejar para preman. Kami mau ke
rumah sakit. Nah jadi, kalau kau tak keberatan, susullah kami …”
“Dimana posisinya sekarang Bu?”
“Sebentar Je. Jangan tutup dulu. Ibu mau tanya ke Kuyung ,”
kata Bu Guru Siska.
“Yung!”
“Simpang Tugu, tak jauh Bu.” Jawab Adam.
BiJe sengaja tidak membawa serta Iqbal. Dia hanya sendirian
bermotor. Teman sekelasnya itu diminta untuk menjaga sekaligus mengawal Darwin
dan Puspa, mengantisipasi serangan susulan dari preman bayaran .
Sementara mobil yang disopiri Kuyung bersama puluhan mobil
lain berhenti di lampu merah. Yang
membuat jantung Bu Siska berdegup amat cepat, kedua preman yang mengejar
mereka, berada di belakang mobil. Hanya
dipisahkan oleh dua mobil.
“Tutup saja Bu, kacanya,”
pinta Kuyung. Semua kaca mobil ditutup rapat.
Salah seorang preman turun dari motor. Melihat dan memeriksa
dari dekat pengemudi serta penum pang mobil yang berhenti di depan mereka. Kaca
mobil diketuknya. Saat tiba di samping kanan mobil Kuyung, lampu hijau menyala,
mobil pun melaju.
Sempat tersenggol, membuat preman tadi terjatuh dan
mengeluarkan sumpah serapah di tengah bisi ng an suara klakson mobil. Dia sama
sekali tak tahu kalau yang menyenggolnya barusan mobil incaran mere ka. Karena
ada lima mobil hampir serupa di perempatan lampu merah dengan nomor plat yang
tak ter lihat jelas karena ditutup bagian depan mobil yang mengantri di
belakangnya.
Kalau saja Adam tidak mengeluarkan kepalanya,
melambai-lambaikan tangan, para preman itu tidak akan serta merta melakukan
pengejaran.
“Cepat sedikit bos,” kata teman preman yang sudah tak sabar
mau mencincang badan Adam dan Kuyung.
Reeen sret … reeen sret …
Motor jalannya tersendat-sendat sebelum akhirnya mogok.
“Kenapa bos?”
“Enggak tahu …”
Mesin oke. Preman berpantat teos membuka jok belakang motor,
lalu membuka tutup tangki bensin, melihatnya dan …
“Kampret,” umpatnya.
“Kenapa bos?”
“Habis bensin …”
Itu motor ditendang, lalu terbalik. Dibiarkan terguling di
pinggir jalan, dekat trotoar.
“Apa rencana bos?”
Ssssssst …
Sebuah sepeda motor berhenti persis di dekat mereka yang
lagi berdiri di trotoar. Pengemudinya seora ng pria muda usia dengan tas ransel
melilit di punggungnya. Dia turun dari motor, karena baru saja mendapat telepon
dari seseorang.
“Ayo kita sikat …!” Kata preman bermata biru.
Kunci motor masih tergantung di stop kontak, kedua preman
itu dengan cepatnya menyalakan motor, melaju kencang menyusul Kuyung yang sudah
jauh meninggalkan mereka.
Si pemlik motor hanya bisa melongo. Dia tak percaya betapa
mudah dan cepatnya si maling menggasak motor kreditannya itu. Untuk mengejarnya
tak mungkin, dengan apa dia mengejar dua maling motor itu.
Paling dia hanya menelopon polisi melaporkan bahwa ia baru
saja kemalingan motor di tengah jalan. Tak bisa berbuat apa-apa, saking
cepatnya motor berpindah tangan.
Kita tinggalkan dulu si empunya motor yang ngumpat ke sana
kemari, alihkan sejenak ke BiJe. Dari ke jauhan dia melihat mobil yang
dikemudian Kuyung. Ingin dia mendekat, tapi diurungkan karena di belakang mobil
ada sebuah sepeda motor melaju dengan kecepatan tinggi.
Kriiiing …
“Ya, kenapa Je?” Bu Siska menimpali.
“Di belakang kalian, Bu, ada sepeda motor. Apa …?”
“Sebentar Je, ya.”
Adam memastikan si pengemudinya adalah preman yang mengejar
mereka. Kini sudah berganti motor.
“Oke ya Bu. Saya susul
mereka dari belakang,” kata BiJe.
Posisi preman berada di tengah, di depan mobil Kuyung dan Bu
Siska, di belakang BiJe siap mengawal dan tentu saja tidak akan membiarkan Bu
Siska dan kedua temannya tu terluka.
Kuyung membelokkan mobilnya ke kiri, ke tempat yang agak
sepi dengan kiri kanan terhampar pema tang sawah. Dia memperlambat laju mobil,
lalu berhenti di dekat sebuah warung.
Menyusul tak lama kemudian motor Sang Preman. Keduanya turun
dan mendekati Adam yang baru saja
membeli kue untuk dimakan di dalam mobil.
“Tangan ke belakang, cepat!” Hardik preman berpantat teos
sambil menodongkan senjata.
Adam tak memberikan perlawanan. Begitu juga dengan Kuyung,
ketika dipaksa turun oleh preman satunya, dia menurut. Praktis, hanya Bu Siska
yang masih aman bersembunyi di dalam mobil.
”Mana wanita itu?” Ancam si Teos pada Adam.
***
XVI
GEDEBUUUUK …
Sebilah kayu besar menghantam kepala si Teos. Terkapar.
Melihat konconya terkapar, si Mata Biru ber maksud menembakkan senjata apinya, namun keburu
ditepis Kuyung. Jatuh itu senjata api ke tanah. Berhasil diamankan BiJe.
Buuuk … buuuk …
Adam mengamuk. Dia pukul sampai babak belur si Mata Biru.
Kedua temannya berusaha mencegah, tapi Adam tak perduli. Ia tendang perut dan
pukul muka si preman sampai tak sadarkan diri.
“Dam .. Dam, sudah.” BiJe menarik tangan kanannya yang,
walaupun si Mata Biru sudah tak ingat apa-apa lagi, tetap berusaha melepaskan
pukulan kea rah perut, dada, punggung dan kaki.
“Dam … Udah. Dia sudah pingsan,” Kuyung mengingatkan.
Sementara di rumah sakit, Darwin yang semula cemas dan
mengkhawatirkan keselamata dirinya dan Puspa, berusaha berdiri dengan dipapah
Puspa dan Iqbal.
“Kita ke kamar aja lagi, Kak,” kata Puspa, diiyakan Iqbal.
Suasana rumah sakit tempat Darwin dirawat kembali normal.
Dua preman yang sempat bikin kegaduhan sudah diamankan Pak Satpam untuk
kemudian diserahkan kepada pihak berwajib. Para juru rawat hilir mudik melayani
pasien. Keluar dari satu ruangan kamar, masuk lagi ke kamar rawat pasien yang
lain.
Kepada Puspa, Darwin menanyakan keadaan Bu Siska. Diperoleh
kabar, ujar Iqbal, mereka dalam perjalanan menuju rumah sakit.
“Sabar ya, Kak. Simpan dulu rindunya,” canda Puspa.
“Tahu aja kamu Pus. Kakak mau istirahat dulu ya.”
“Enggak nunggu Bu Siska dulu, Kak?” Tanya Iqbal.
“Udah ngantuk banget, Bal.”
Belum sempat Iqbal bertanya lagi, Darwin sudah tertidur
pulas. Puspa menyelimuti kakaknya dengan selimut tipis. Tak seberapa lama
masuklah seorang juru rawat memeriksa keadaan Darwin.
“Udah lama dik?”
“Baru aja Sus,” jawab Puspa.
“Tak lama lagi dokternya datang. Adik berdua jangan
jauh-jauh,” pesan si juru rawat tersenyum ramah.
Telepon genggam berdering. Rombongan Bu Guru Siska sudah datang.
Mereka kini baru turun dari mo bil
menuju pintu masuk utama rumah sakit. Iqbal yang menerima telepon bergegas ke
ruang depan. Sementara Puspa menemani kakaknya di kamar perawatan.
Bu Siska mempercepat langkahnya, lebih dulu daripada BiJe,
Kuyung dan Adam. Dia sudah tak sabar melihat pujaan hatinya itu. Dia tak
memperdulikan yang lain, termasuk Iqbal yang menemaninya ke ruang rawat inap
Darwin.
BiJe dan kawan-kawan mendapat laporan dari pihak sekolah
bahwa hasil investigasi awal mereka
mengarah ke pelaku utamanya adalah Pak Patra. Kini kasusnya sudah ditangani
pihak berwajib.
Pak Jack selaku kepala sekolah mengucapkan terima kasih atas
bantuan yang telah diberikan. “Tanpa bantuan kalian, entahlah, apa bisa kasus
yang melibatkan sekolahan kita ini bia selesai lebih cepat,” ucap Pak Jack.
“Sampaikan salam bapak kepada Bu Siska dan Darwin ya,” kata
Pak Jack.
“Insya Allah, Pak.” Jawab BiJe, mendekati kedua temannya
segera menyusul Bu Siska dan Iqbal.
Puspa menyambut lega dan penuh sukacita kedatangan Bu Guru
Siska. Dia peluk wanita idaman kakaknya itu. Ingin rasanya dia cium habis muka
ayu dan penuh keibuan itu.
Begitu juga dengan Bu Guru Siska. Selain salah seorang anak
murid kesayangannya, Puspa dianggap seperti adik kandungnya sendiri. Dimana ada
Darwin, ia akan selalu ingat Puspa. Suka bercanda, perhatian dan tidak mudah
ngambek, apalagi sampai merajuk.
Hubungan keduanya terjalin sangat erat, akrab. Jauh sebelum
berhubungan khusus dengan Darwin, ibu dan murid ini seringkali bersama, tentu
dengan siswa lain seperti Zuleha, Nile, BiJe dan Maisaroh. Ber bagi cerita,
menanyakan soal pelajaran sekolah, bercanda sekedar pelepas penat yang mendera,
mengusir rasa jemu dan bosan.
Kepada kakaknya, Puspa sering mengingatkan bahwa Bu Guru
Siska adalah pilihannya. Soal suka atau tidak suka, dia berharap sang kakak
mengutamakan akal sehat ketimbang nafsu dan rasa ego.
“Dia pilihan Puspa, kak.” Ucap Puspa pada Darwin, suatu
kali.
“Kakak juga …”
“Apa kak?” Karena tak kedengaran, Puspa meminta kakaknya
mengulangi sekali lagi biar puas hati ini.
“PIlihan kakak juga,” aku Darwin sambil memeluk erat Puspa.
Yang dipeluk senangnyan tiada terkira.
“Sekarang tak ada masalah lagi kan? Pancing Darwin.
“Masihlah Kak.”
“Lhoo .. kan udah …”
“Yang itu udah memang. Tapi yang lain kan belum dong kak,”
jelas Puspa.
“Apa dong misalnya?”
“Kawin …”
Ha ha ha ha …
Darwin mulai terjaga. Dia menyebut nama Siska. Siska yang
sudah ada di sebelahnya membalasnya dengan sebutan ‘Mas Darwin.’
“Senang aku jumpa kamu lagi, Sis,” ucap Darwin terus terang.
“Siska juga senang, Mas.” Jawab Siska.
“Pus …” Bisik Darwin.
“Ya kak.”
“Mama sama papa, mana?”
“Masih di perjalanan kak. Kira-kira sepuluh, lima belas
menit lagilah mereka sampai di rumah sakit ini.”
“Sis …”
“Ya Mas.”
“Orangtuamu?”
“Di rumah Mas. Adak kok. Apa suruh mereka datang sekarang,
Mas?”
“Enggak usah kalau tak sempat,” jawab Darwin.
Puspa dan Bu Siska mendekatkan wajahnya ke mulut Darwin.
Keduanya mulai was-was dan merasa aneh dengan ucapan Darwin barusan.
“Enggak apa-apa kok. Aku cuma nanya doang, dimana mereka,
itu saja.” Bisik Darwin tersenyum geli.
“Betul enggak apa-apa, kak?”
“Betul,” jelas Darwin.
Lega hilang. Cuma sebentar, lalu timbul lagi setelah Darwin
meminta Puspa membacakan Surah Yasin. Kalang kabut ia mencarinya. Kitab Yasin
berukuran kecil itu akhirnya dapat di mushala rumah sakit. Di sana, selain
Kitab Yasin, juga berjejer kitab suci Alquranulkarim berikut liharnya.
Kepada Siska, Darwin minta tolong diajari mengucapkan dua
kalimah syahadat. Sambil berlinang air ma ta, disaksikan BiJe dan kawan-kawan,
termasuk Puspa yang datang belakangan, Bu Guru Siska dengan terbata-terbata dan
sesunggukan mengucapkan … “Asyhadu anal
ilaaha illallah, wa asyhadu anna muhammadan rasulullah…”
Bu Guru Siska mengulanginya sampai tiga kali. Setelah itu
suara Darwin tak terdengar lagi. Yang ter dengar cuma suara tangisan, yang
tiba-tiba pecah menyesaki ruangan serba putih itu.
Innalillahi wa inna
ilaihi raajiun …
TAMAT DEH …
Tidak ada komentar:
Posting Komentar