Jumat, 02 Desember 2016

Kampung Kami (8-TAMAT)



Novel  Lepas
Kampung Kami (8-TAMAT)
Edisi Kedelapan
By  Mang Amin



VIII
ACARA perpisahan sepuluh pendekar dengan warga lima kampung yakni Kampung Falah, Berkah, Mawar, Melati dan Kampung Zaitun berlangsung di tanah lapang Kampung Falah, pagi hari.
Tenda besar didirikan agar warga yang datang menghadiri acara pelepasan tugas para pendekar silat tidak kepanasan dan kehujanan. Hampir seribu kursi disediakan, itu belum termasuk kursi cadangan yang jumlahnya mendekati seribu unit pula.
Tampak panitia pelepasan  sibuk mempersiapkan  peralatan pengeras suara dan dekorasi panggung. Panggung besar yang bahan bakunya terbikin dari papan itu didekor sedemikian rupa agar tampak cantik dan indah dipandang mata.
Kiri dan kanan panggung dipagari dengan bambu guna menghindari penuh sesaknya warga yang me nyaksikan pertunjukan dari jarak dekat.
Di atas panggung ada peralatan orgen tunggal, mikropon berikut tiangnya, dan beberapa unit kursi yang disediakan khusus buat pembawa acara dan para penampil yang ingin lebih memilih duduk ketimbang berdiri saat tampil di atas panggung.
Di balik panggung sudah berkumpul para gadis lima kampung yang muda usia, cantik dan jelita. Mereka siap menarikan beberapa tarian, tentu diiringi musik berirama. Mereka sudah biasa tampil saat menyam but kedatangan tamu istimewa dari kota besar.
Mereka tampil di tempat yang berbeda, itu sudah biasa. Kadang di dalam gedung, tanah lapang dan war ga yang menggelar  persedekahan, ngantenan dan acara-acara khusus seperti pesta panen padi dan ulang tahun kampung.
Sampai pukul delapan, baru satu dua rombongan yang hadir dan menempati tempat duduk yang disedia kan pihak panitia. Mereka berasal dari kampung tetangga yakni Kampung Zaitun dan Kampung Berkah. Mereka datang menggunakan mobil pick up besar, truk dan mobil pribadi.
Pukul delapan lewat dua puluh menit, tiba rombongan tuan rumah. Jumlahnya mencapai seratusan orang, laki-laki dan perempuan, perjaka, gadis maupun yan sudah berumah tangga.
Tampak dalam rombongan, Aryati dan Sri Hapsari, Bu Erte, Bu Kandar, Pak Broto dan isterinya, Hesti, Hel si dan Heni. Tak ketinggalan sepuluh siswa Nurul Falah, yang ketika sampai di bawah tenda, bersama-sama mendendangkan shalawat Nabi.
Tepat pukul sembilan, warga dari Kampung Mawar dan Kampung Melati. Kedatangan sebagian besar ibu-ibu ini semakin menyemarakkan suasana di sekitar tenda karena ditandai dengan tetabuhan rebana dan nyanyian bersama.
Warga yang hadir lebih dulu dan duduk di kursi bawah tenda  serta ada yang masih berdiri dan ngobrol satu sama lain, terpesona dengan penampilan para ibu muda dan tua usia itu. Suara lantang terdengar, tetabuhan rebana yang kental mengiringi nada dan suara, membuat mereka lupa untuk mempersilakan  tamu undangan dari jauh itu untuk duduk.
Setelah nyanyian yang bersifat nasihat itu berakhir, panitia dan beberapa warga segera memberi jalan buat lebih dari tiga ratus orang itu untuk menempati tempat duduk yang telah disediakan. Hanya dalam tempo lima belas menit, semua kursi di bawah tenda hampir terisi penuh menyusul banyaknya warga dari lima kampung yang berinisiatif datang sendiri-sendiri ke lokasi acara pelepasan.
Tepat pukul sembilan pagi, para undangan pun serentak berdiri karena sepuluh pendekar yang dipimpin Ki Duren tiba di lokasi dengan diantar para pemuka masyarakat, erte, tokoh agama, camat dan pejabat setempat. Sambutan ditandai dengan peragaan pencak silat oleh kaum ibu-ibu dan para gadis dari Kam pung Falah, Berkah, Mawar, Melati dan Kampung Zaitun.
Kesepuluh pendekar menaiki panggung dan duduk lesehan di atasnya. Sebenarnya pihak panitia sudah menyediakan tempat duduk berupa kursi jati kepada para pendekar. Namun mereka menolak dengan alasan lebih nyaman duduk lesehan karena leluasa bergerak ke kiri dan kanan.
“Tampan sekali Ki Badrunmu, Aryati.” Puji Sri Hapsari yang tampak senang melihat Ki Badrun duduk ber dekatan dengan Ki Saleh. Keduanya tertawa bersama para pendekar lainnya.
“Abangmu juga Sri,” kata Aryati menahan tawanya agar tidak ketahuan dan mengganggu ibu di sebelah mereka yang asyik menyusui anak kembarnya.
“Masak Yati. Kukira biasa-biasa saja Bang Saleh itu …”
“Biasa-biasa gimana?” Tanya  Aryati yang menawarkan permen ke Sri Hapsari. Permen manis yang mereka beli berdua di warung sebelum bersama rombongan pergi menuju tenda pelepasan.
“Ya. Hidungnya biasa saja. Mancung tidak, pesek pun tidak. Badannya sedang-sedang sajalah. Rambut nya lurus berombak dan kulitnya hitam manis,” kata Sri Hapsari sambil memandang teduh Ki Saleh yang tampak asyik berbincang dengan teman pendekar lainnya.
“Nah, itu yang kumaksud Sri,” ujar Aryati, cepat-cepat menutup mulutnya yang sempat kebablasan dan terlalu nyaring nadanya sehingga membuat ibu-ibu di belakangnya pada menoleh heran pada keduanya.
“Apa-apaan kamu Yati,” bisik Sri sambil mencubit lengan Aryati. Karena tak terlalu kuat cubitannya, Arya ti cuma meringis lalu tertawa.
“Hitam manisnya itu. Sedaaap …Coba tengok kopi. Hitam kan warnanya. Campur gula pasti manis. Seka rang siapa yang tak mau minum kopi. Mulai dari anak-anak sampai orang tua Bangka. Mulai dari gadis hingga ibu rumah tangga. Jadi rebutan kan?”
“Sekarang bagaimana dengan Ki Badrunmu?”
Aryati berpikir sejenak.
“Malu ya ngomongnya.”  Sindir Sri yang tak menyangka Aryati harus berpikir dulu sebelum bicara tentang sosok Ki Badrun.
“Takut kena marah ya,” kata Sri sambil menutup mulutnya agar suaranya tidak memantul ke ibu-ibu di dekatnya yang mulai berkeringat karena kepanasan.
“Enggak Sri.”
“Lalu kenapa lama mikirnya?”
“Aku mau kentut …”
Hi hi hi hi …
Ibu-ibu yang duduk di depan dan belakang Aryati ketawa ngakak, diikuti ibu di samping kiri dan kanan pacar Ki Badrun.
Malunya minta ampun. Ki Badrun sempat melihat ke arahAryati dan Sri Hapsari. Tapi cuma sebentar karena  petugas pembawa acara telah menyebut-nyebut nama Ki Duren.
“Kepada Ki Duren, kami persilakan …” Kata si pembawa acara, menyilakan Ki Duren berdiri memberikan kata sambutan.
“Assalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh …”
“Waalaikum salam warohmatullohi wabarokatuh …”
“Pertama-tama saya ucapkan terima kasih atas waktu yang disediakan buat saya menyampaikan sepa tah dua patah kata,” ucap Ki Duren dengan suara lantang.
“Tanpa terasa sudah empat bulan lebih kami berada di kampung ini … Kampung Falah, Berkah, Mawar, Melati dan Kampung Zaitun ini. Walaupun saya menetap di kampung ini, tapi kebersamaan kami para pendekar dan anda-anda semua telah begitu erat. Sudah seperti saudara sendiri …”
Mata Ki Duren berkaca-kaca …
“Meski sudah cukup lama kami mengabdi di kampung ini, terasa baru kemarin kami disini … Kami benar-benar betah berada di sini .. Warganya ramah dan mau diajak kumpul, tukar pikiran, apalagi gotong royong.”
Warga diam. Hening tiba-tiba …
“Ilmu yang kami berikan belum seberapa. Tapi kami percaya akan berguna, kelak bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya. Kami  harap kalian semua bisa mengamalkan ilmu yang diperoleh untuk membantu sesama …”
Warga berbisik-bisik …
“Jangan sok-sokan mentang-mentang sudah bisa silat. Kalau kalian sok-sokan maka percayalah ilmu silat yang kalian pelajari dan kuasai akan tidak berarti serta memberi manfaat baik untuk anda sendiri dan orang lain.”
Warga mulai gerah …
“Tapi bila kalian rendah hati, ramah dengan sesama dan suka menolong sesama, yakinlah kalian akan selamat dan ilmu silat yang kalian kuasai akan mendapat berkah serta bermanfaat.”
Kaum bapak mulai merokok …
“Jadikanlah ilmu silat yang telah kalian pelajari itu sebagai jembatan dan perantara untuk berbuat baik kepada sesama. Jadikanlah ia amal jariyah. Amal kebaikan yang mengantarkan kalian jadi orang yang memberi manfaat kepada sesama …”
Kepulan asap melewati atap tenda …
“Kami juga minta maaf bila selama ini kami ada berbuat salah, bersikap tidak sopan dan menyinggung perasaan kalian semuanya. Sebab, kami juga manusia yang tak luput dari salah dan dosa. Baik disengaja maupun tidak. Dengan maafnya dari kalian, hati kami pun tenang dan tentram.”
Kaum ibu mulai bergosip …
“Kami mohon diri. Kami akan meninggalkan kampung ini karena tugas kami telah selesai. Teruskanlah latihan ini. Perdalamlah dan belajarlah dengan mereka yang telah kami tunjuk dan dianggap mampu meneruskan pelatihan ini …”
Anak-anak mulai bermain di luar tenda …
“Bila kalian perlu kami, janganlah sungkan karena saya sendiri menetap di kampung ini. Walaupun se sekali saya keluar kota untuk urusan di luar ilmu persilatan. Padepokan yang saya pimpin membuka pintu lebar-lebar. Masuklah .. bertanyalah dan belajarlah …”
Petugas keamanan menertibkan warga yang lalu-lalang di sekitar panggung …
“Demikian sambutan dari saya. Saya akhiri dengan ucapan wassalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh …”
“Waalaikumsalam warohmatullohi wabarokatuh …”

IX
SEBELUM dilanjutkan dengan kata sambutan dari Pak Camat, pihak panitia memanggil siswa didik Sri Hapsari untuk tampil ke atas panggung. Para hadirin bertepuk tangan, terutama para orang tua siswa yang ikut hadir. Mereka tampak bangga dengan anak mereka yang sudah berani tampil di depan orang banyak.
“Assalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian,” ucap kesepuluh siswa Taman Pendidikan Nurul Falah sambil membungkukkan badan memberi hormat kepada yang hadir.
“Waalaikumsalam warohmatullohi wabarokatuh,” jawab Sri Hapsari dan Aryati, diikuti ibu-ibu lain yang begitu gembira melihat keceriaan siswa Nurul Falah.
Mengenakan pakaian koko, sarung dan berpeci hitam dengan kebaya dan tutup kepala bagi siswa perem puan, Murni dan kawan-kawan membentuk dua kelompok. Kelompok satu di sebelah kiri adalah siswa perempuan sedangkan kelompok kedua di sebelah kanan ditempati Maskur, Yandi, Bagus dan Andi.
Apa yang hendak mereka pertunjukkan?
Plak .. pak .. plak .. pak ..
Maskur dan kawan-kawan menabuh rebana. Sedangkan siswa perempuan yang terdiri dar Murni, Leni, Dahlia, Marni dan Yeni menabuh gitar. Hanya dua gitar. Pemetiknya adalah Nabila dan Yeni. Teman-te man mereka yang lain ikut menepuk-nepuk bodi gitar sebagai pengganti drum.
Ha ha ha ha …
Para pengunjung tertawa melihat Nabila dan Yeni memetik gitar sambil berdiri. Diikuti siswa lain yang menepuk-nepuk bodi gitar.
Hu hu hu hu …
Hadirin tertawa ngakak melihat Maskur dan teman siswanya melenggak-lenggok kayak anak perempu an. Tentu  saja lenggak-lenggok itu masih dalam batas kewajaran, sekadar mengikuti iringan musik dan tembang yang disajikan rekan siswa perempuan.
Plak .. pak .. plak .. pak ..
Tepuk tangan riuh terdengar ketika Yeni dengan suara emasnya mendendangkan tembang ‘Jangan Gelisah …’

Jangan gelisah kawan
Kami tetaplah temanmu seperti dulu
Kapanpun kami siap membantu
Tanpa pamrih dan pandang bulu …

                  Jangan gelisah wahai ibu guru
                  Kami janji akan jadi anak baik
                  Dan siap membangun bangsa ini
                  Bangsa kami yang gagah
                  Dan tak kenal menyerah ini …

Jangan gelisah bapak dan ibu
Kami janji akan rajin
Belajar menimba ilmu
Agar pintar dan jadi orang besar …

                    Bantulah kami dengan doa
                    Agar kami mudah meraih asa
                    Dan cita-cita yang mulia
                    Menjadi orang terdepan
                    Dan selalu berada di garis depan
                    Dalam suka dan duka
                    Menapaki kehidupan ini …

Reff 
                 Kami senang kalian senang
                 Bila hidup senang
                 Bukan centang perenang
                 Yang bikin orang tunggang langgang
                 Sebelum akhirnya jatuh terjengkang …

Plak .. pak .. plak .. pak …
He he he he …
Gantian Maskur cs yang tampil, sementara Nabila dan kawan-kawan duduk menyamping. Bukan untuk mengaji, tapi …
Saat Bagus, Yandi dan Andi menabuh rebana, karena kepunyaannya diambil Yandi, Maskur tak lantas bi ngung. Pantat Yandi ditepuknya berkali-kali sebagai pengganti rebana.
Ha ha ha ha …
Yandi lari tunggang langgang, tapi terus dikejar Maskur sambil menepuk-nepuk pantat teman sekelasnya itu.
“Sudah .. sudah. Ada apa ini?” Tanya Bagus sambil berkacak pinggang, diikuti Yandi dan Andi.
“Dia nyolong rebana saya,” kata Maskur menunjuk ke pantatnya Yandi.
“Benarkah saudara Yandi?” Tanya Andi sambil memelintir kumisnya. Karena terlalu kuat memelintirnya, kumis palsu itu terlepas dan jatuh ke lantai.
He he he he …
“Palsun niyeee …” Komentar bapak-bapak yang duduk di belakang, ketawa ngakak.
“Itu tandanya Pak, sekarang ini susah cari yang asli,” sahut salah seorang ibu yang tak suka melihat bapak-bapak di dekatnya ketawa  melebihi standar.
“Kenapa harus yang susah Bu, kalau ada yang mudah.” Ujar bapak berjidat lebar ketawa lebar.
“Yang mudah saja susah, apalagi yang sudah Pak,” jawab si ibu kesal dengan raut muka marah.
“Memang gue pikirin,” ledek bapak bermulut lebar.
“Taik kucing Pak,” balas si ibu.
“Apa Bu?” Tanya si bapak tadi yang memang samar-samar terdengar karena riuhnya suasana di sekitar tenda.
“Maksud ibu ini. Jangan seperti kucing berebut tulang,” jelas lelaki berkacamata hitam coba menengahi.
“Apa maksudnya Pak?”
“Kucing berebut tulang kan biasanya berkelahi. Nah, jangan terus-terusanlah penesannya. Nanti kalau sampai berkelahi bagaimana. Tak eloklah dilihat orang. Apa kata orang, sudah tua masih suka berantem. Wanita sama laki-laki lagi …”
Ha ha ha ha …
Debat kusir pun berhenti seketika. Semua mata tertuju ke depan, panggung terbuka. Tepuk tangan ber gemuruh ketika Maskur dan kawan-kawan menabuh rebana sambil  berdendang riang …

          Apa kabar kawan
          Moga baik dan sehat badan
          Kalau salah mohon dimaafkan
          Agar hidup bisa nyaman …

                   Apa kabar ibu guru
                   Moga baik dan sehat selalu
                   Tak kurang atas sesuatu
                   Yang membuat kami malu
                    Karena tak hormat pada ibu …

Apa kabar bapak dan ibu
Moga bai nyaman selalu
Mendidik kami sepanjang waktu
Tak kenal pagi apalagi dalu …

               Kami punya cita-cita besar
               Agar hidup tak sampai nyasar
               Susah senang dihadapi sabar
               Mundur pantang maju tak gentar …

Reff …
 Mari ibu dan bapak guru
Juga kawan tak usah malu
Rapatkan barisan kita berdendang
Hidup nyaman
Hati pun senang …

Plak .. pak .. plak .. pak …
Penampilan siswa Nurul Falah ini diakhiri dengan tampil barengan dengan paduan suara gitar dan tabuhan rebana. Lucunya, murid laki-laki tak lagi menabuh rebana. Sudah diambil alih murid perempuan.
Lantas apa yang dikerjakan Maskur dan ketiga rekannya?
Hua ha ha ha …
Mereka kebagian jatah menari lepas di atas panggung. Saat rebana ditabuh dan senar gitar bermelodi, Maskur cs serempak berkeliling sebanyak tiga kali. Lepas itu mereka duduk bersimpuh. Lalu bersujud ke lantai. Bangun lagi dari sujudnya. Merentangkan tangan kanan ke samping kanan dengan tangan kiri bersedekap di dada. Lalu berganti tangan kiri ke kiri dan tangan kanan bersedekap di dada.
Plak .. pak .. plak .. pak ..
Kemudian Maskur cs yang bersimpuh menyamping itu mempertemukan telapak tangan. Bertepuk-tepuk mengiringi suara tetabuhan rebana. Sambil bertepuk, mereka berdiri. Lalu sesama mereka saling berha dapan dan bertepuk dengan telapak tangan satu sama lain.
Setelah itu menghadap ke penonton lagi. Menggerak-gerakkan pinggul mereka. Saling bertemu pinggul, kadang lambat kadang kuat yang sempat membuat Yandi terjatuh …
He he he he …
Hadirin bertepuk tangan setelah Maskur dan kawan-kawan mendekati teman mereka yang perempuan. Namun menjauh lagi setelah didekatkan rebana ole Marni ke telinga Maskur.
Sesaat kemudian panggung tiba-tiba hening. Suara rebana dan gitar berhenti seketika. Begitu juga aksi Maskur cs. Ikut terhenti.
Ada apa?
Mengheningka cipta. Segenap hadirin menundukkan kepala mereka, termasuk sepuluh pendekar yang tetap setia menyaksikan ulah jenaka anak didik Sri Hapsari secara lesehan.
“Terima kasih …” Ucap Maskur mewakili teman-temanya sambil membungkukkan badan.
Sesaat kemudian, Maskur bergeser ke kanan, Nabila maju dua langkah ke depan da berkatalah ia …
“Assalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh ..”
“Waalaikum salam warohmatullohi wabarokatuh,” jawab hadirin serempak.
Tepuk tangan kembali bergema begitu sepuluh siswa hasil binaan Bu Guru Sri Hapsari ini turun dari atas panggung, kembali ke tempat duduk mereka yang tak jauh dari Aryati dan ibu guru mereka duduk sam bil melepas senyum dan melambaikan tangan …
       
X
“BERIKUTNYA kami persilakan kepada Pak Tato, camat kita yang ganteng untuk memberikan kata sam butan. Kami persilakan …” Kata pembaca acara sembari menemani Pak Camat naik ke panggung dari tempat duduknya di bawah tenda.
Plak pak pak pak …
Tepuk tangan baru berhenti setelah Pak Tato sudah berada di atas panggung. Mengenakan baju batik dan celana biru muda serta berkopiah hitam, lelaki tinggi semampai dan berbadan langsing ini sempat melemparkan senyum lalu berkata …
“Pagi semuanya .. Assalamualaikum warohmaullohi wabarokath …”
“Waalaikum salam warohmatullohi wabarokatuh,” jawab ibu-ibu sambil tertawa. Mereka senang melihat air muka Pak Camat yang sejuk dan sedap dipandang meski cuma dari kejauhan.
“Terima kasih .. kepada panitia saya ucapkan  banyak terima kasih atas kesempatan yang telah diberikan kepada saya …”
Para hadirin batuk-batuk …
“Saya tidak akan banyak ngomong pada kesempatan ini. Tapi izinkan saya untuk menyampaikan bebera pa hal,” kata Pak Tato dengan senyumnya yang khas. Manis memikat hati.
“Mau tahu ibu-ibu dan bapak-bapak?”
“Mauuuu …”
“Syukurlah. Yang mau berarti warga saya mencintai saya. Dan bagi yang tidak berarti …”
“Harus diusir dari tenda ini,” kata ibu-ibu berpakaian serba hitam.
Ha ha ha ha …
“Bukan diusir, tapi ditendang.” Sahut bapak-bapak berpeci hijau ketawa ngakak. Tak pula tahu kalau rokok yang dijepit di sela telinga jatuh dan ditangkap kucing yang kelaparan.
Husssy …
“Tenang, tenang ..” Kata petugas sekitar tenda.
“Jangan berisik ah,” ujar wanita paruh baya yang sejak Pak Camat berada di atas panggung tadi, matanya seolah tak mau berkedip dan serius menyimak apa yang disampaikan Pak Camat.
“Yang cinta saya tunjuk tangan,” teriak Pak Camat.
Serempak mengangkat jari telunjuk tinggi-tinggi.
“Dan yang tida cinta saya juga tunjuk tangan.”
Haaa …
Warga ragu-ragu untuk menunjuk. Namun di saat keraguan itulah seorang ibu berbadan gemuk dan berkulit hitam legam dengan beraninya mengangkat jari telunjuk.
“Saya tidak cinta Pak Camat ..”
Haaa …
Warga terhenyak.
 “Kenapa Bu?” Tanya Pak Camat, mencoba bersikap tenang.
“Karena Pak Camat sudah ada yang punya. Kalau saya cinta bapakn berarti saya telah selingkuh sama bapak …”
Ha ha ha ha …
Pak Camat tak kuasa menahan ketawanya.
Hadirin pun ikut-ikutan tertawa.
“Pandai juga ibu itu,” komentar seorang bapak berkacamata tebal.
“Dia ngomong yang sebenarnya,” jelas rekan di sebelahnya.
“Jadi yang hendak saya sampaikan antara lain,” kata Pak Tato setelah mengucapkan terima kasih kepada ibu yang mengingatkannya untuk tidak selingkuh, “ Pertama, kita perlu bersatu. Kedua, kita harus kuat  dan sehat. Ketiga, kita harus mau berubah untuk kebaikan.”
Hadirin pada pasang telinga terang-terang …
“Tahu bapak-bapak dan ibu-ibu artinya bersatu?”
“Tahu Pak Camat,” jawab ibu berkebaya putih.” Idak bebalah samo bemusuhan.”
Plak pak pak pak …
“Bagus. Itu diantaranya ..” Jelas Pak Camat.
“Mulai sekarang jangan ada lagi yang galak nak menang dewektu. Ngeraso hebat dewek. Sedikit-sedikit bebalah, idak saling tegur sapa dan wak wek … dewek-dewek. Kamu nak mati matila, yang penting aku senang, banyak reto …”
Hening seketika …
“Jangan sampai saya terdengar omongan .. Pak Camat, warga kampung anu, mati dak ado yang ngubur kenyo. Wong benci galo-galo …”
Ha ha ha ha …
“Dak mungkinla cak itu Pak Camat. Kitoni punyo perasaan jugo,”sahut seorang bapak dari Kampung Zaitun.
“Iyoye .. Pak Camat ini idak survei lagi. Sepengetahuan aku, kitoni rukun-rukun bae. Kalu dak setegoran pasal sikok masalah, itu kan biaso. Namonyo jugo manusio, bukan malekat. Bener dak Buk?” Kata Ibu dari Kampung Mawar.
Ibu-ibu dari Kampung Melati sebagian besar hanya mengangguk dan diam.
“Paham bapak ibu yang baru saya sampaikan barusan?” Tanya Pak Camat yang sudah mulai mengecil volume suaranya.
“Paham Pak Camaaat,” jawab bapak-bapak sambil mengepulkan asap rokok ke belakang tenda.
“Selanjutnya … kita harus kuat dan sehat. Apa maksudnya? Maksudnya, kita kuat luar dan dalam. Sehat luar dalam. Jangan satu saja yang sehat, lain sakit. Itu namanya belum kuat dan belum seeee …”
“Haaaat …” Jawab ibu-ibu serempak.
 He he he he …
“Makmano nak sehat Pak Camat. Iwak asin terus setiap hari,” omel ibu berbadan ceking tapi jangkung dan bermata besar.
“Benerlatu Buk. Kalu nak nulung niyan, enjuk kamekni ayam apo baela, supayo tetep sehat,” kata ibu dari Kampung Berkah.
“Bagaimana supaya kuat dan sehat luar dalam? Di antaranya, rajin-rajin bae olahraga, melok pengajian dan silaturahmi …”
Hi hi hi hi …
“Ngapo Buk? Lucu yo?” tegur ibu dari Kampung Falah pada ibu di sebelahnya dari Kampung Berkah.
“Iyo Buk, lucu ..Lemakla nonton orgen tunggal daripado melok-I pengajian. Apo dak hancur …”
“Apolagi yang bapak-bapaknyp,” timpal ibu dari Kampung Mawar. “Disuruh ke masjid, main gap. Apo dak bingung kito bininyoni dibuatnyo.”
Ha ha ha ha …
“Nah, yang terakhir bapak dan ibu sekalian, ini yang lebih penting. Ngapo paling penting, karena ini sering kita temui dalamkehidupan sehari-hari .. yaitu mau berubah untuk kebaikan.”
Ibu-ibu pada berbisik, sementara bapak-bapak ada yang ura-pura batuk, bersin, senyum dan ada yang ketawa tapi tidak sampai lebar.
“Apa misalnya? Disuruh gotong royong dia tak mau .. salat di masjid dia sungkan .. Ngenjuk duit sumbangan untuk anak yatim piatu dan kegiatan keagamaan dio malas. Embudike, katonyo.”
“Warga saya tak boleh begini. Pahaaam?”
“Pahaaam Pak Camat. Sakit pantat ini duduk lamo,” gerutu bapak berambut  putih yang sudah berusia lanjut.
“Syukurlah kalau sudah paham. Senang niyan aku mendengarnya. Dan, sebelum saya akhiri sambutan ini, satu lagi permintaan dari saya …”
“Apo Pak Camat. Omongkela gancang. Panah nih,” ucap seorang ibu bersanggul segi tiga.
“Iyo Pak Camat. Masih lemak nunggu masakan daripado nunggu omongan,” celetuk bapak berkopiah resam.
“Apa permintaan saya? Mari kita bersatu padu membangun kampung kita ini. Kampung ini masih me merlukan uluran tangan bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian. Tak usah yang muluk-muluk, kecil jadilah. Misalnya, bangun pos kamling, tempat pembuangan sampah dan penampungan hasil sawah ladang kita. Saya yakin kampung kita akan maju dan berkembang pesat …”
“Ai sudahlah Pak Camat. Bapak disini bae warga manggut-manggut. Cakkeiyoan niyan. Bapak pergi dari tenda ini, apo yang diomongke bapak taditu sudah lupo galo …”
“Kasian Pak Camat kito,” ujar ibu yang baru sehari kawin, menyahuti komentar ibu di sebelah kanannya barusan.
“Mulut sudah berbuih-buih, hasilnyo dak katik. Nyapekke badan saja. Suaro habis, kaki keram kelamoan tegak. Belum lagi bensin mobil .. Abis beliter-liter karena jauhnya jarak dari kantor kecamatan ke Kampung Falah ini …”
“Akhirnyo .. Teruntuk Ki Duren dan rekan-rekan pendekar yang lain. Saya atas nama pemerintah daerah mewakili Pak Bupati, dengan ini mengucapkan terima kasih banyak atas jerih payahnya membangun fisik dan mental warga saya ini. Mungkin ada yang tak berkenan, saya mewakili warga saya, dengan ini mo hon maaf sebesar-besarnya. Semoga amal baik bapak sekalian akan dibalas oleh Allah SWT dan mendapat keselamatan dunia serta akherat …”
Kesepuluh pendekar antusias menyikapi ucapan Pak Camat barusan. Mereka merasa tersanjung walau tak terbersit sedikit pun untuk meminta sanjungan.
“Akhirnya, sebagai kata akhir penutup kata sambutan ini, saya ucapkan wabillahi taufik wal hidayah, wassalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh …”
  Waalaikum salam warohmatullohi wabarokatuh ..”
Acara selanjutnya?
Ibu-ibu dari Kampung Zaitun tampil ke atas panggung. Sambil menabuh rebana, mereka dendangkan beberapa buah dendangan, di antaranya …

Pagi kita sarapan
Pulang sore kita kecapekan
Elok niyan omongan barusan
Camat kito ganteng niyan

     Malem ari kito ngaji
     Tiduk denget bangun lagi
     Duhai Pak Camat yang baik hati
     Ado waktu mampirla lagi

Tengah dalu salat tahajud
Banyak rukuk banyak sujud
Apo niyan Pak Camat maksud
Supayo lemak kito begelut

    Sore ari dudu di garang
    Laki balik bawak parang
   Camat kito idup senang
    Kito warga melok senang

Ari libur pegi kondangan
Malem ari melok cawisan
Terimo kasih kami haturkan
Pada Pak Camat yang kerakyatan …

XI
HUSYAAA …
Prak  .. taar  .. guar .. reeesh …
Tujuh keping genteng hancur lebur dipukul Bu Sri Hapsari. Semua hadirin bertepuk tangan. Ada yang tertawa, melongo, bingung, berdecak kagum dan mengelu-elukan.
“Hidup Bu Sri kito ..” Teriak Murni dan teman-teman sekelasnya, bersorak sorai kegirangan.
Setelah memukul genteng, Sri bersama Bu Erte dan Bu Kandar melakukan tendangan secara bergantian. Mereka berdiri sejajar sementara Aryati memegang tiga keping genteng. Genteng itu harus pecah semua nya. Secepatnya diganti dengan genteng yang baru untuk ditendang penendang berikutnya.
“Bu Erte …”
Hiyaaat …
Walaupun sempat terdengar ‘keraaak’, bagian bawah celana robek, membuat beberapa warga yang du duk di barisan terdepan tersenyum simpul, Bu Erte sukses merontokkan genteng yang dipegang Aryati. Hancur berkeping-keping.
Plak pak plak pak …
“Ternyata hebat juga Bu Erte kita. Tak sangka aku. Kukira cuma pandai  memasak di dapur saja,” celoteh seorang ibu beralis tebal, warga Kampung Falah.
“Bu Kandar …”
Husyaaa …
Kraaash .. ceeer ..
Saking kuatnya tendangan Bu Kandar, Aryati sempat terpundur beberapa langkah ke belakang. Nyaris jatuh kalau tidak segera ditahan tubuhnya oleh Ki Badrun.
Ha ha ha ha …
“Ehem … dosa Ki,” celetuk beberapa orang ibu dari Kampung Berkah.
Aryati jadi salah tingkah. Ki Badrun kembali duduk dekat Ki Saleh. Atraksi tendangan yang ketiga atau terakhir segera dimulai. Kali ini giliran Bu Sri.
“Sri Hapsari …”
“Siap …”
Hiyaaat …
Taar … greeesh …
Empat keping genteng terbelah dua belas. Lantai panggung penuh dengan serpihan pecahan genteng. Beberapa panitia sibuk membersihkannya, yang dalam hitungan detik sudah bersih seperti semula.
“Tak kuduga, ternyata Bu Sri diam-diam jago silat,” kata beberapa orang ibu yang tak sempat mengikuti pelatihan ilmu silat yang dikomandoi Ki Duren dan beberapa pendekar lainnya.
“Masih gadis, cantik dan cocoklah kalau jadian sama Ki Saleh,” kata seorang ibu yang seminggu lalu melangsungkan pernikahan dengan laki-laki pujaan hatinya dari Kampung Zaitun.
“Ssssst … kata siapa Bu Sri jadian sama Ki Saleh?” Tanya ibu bermata besar.
“Kata orang sekampung.”
“Masak?”
“Enggak percaya, tanya saja sama orang sekampung.”
“Busyet ah. Sepuluh orang saja belum tentu aku bisa tanya sekarang.”
Ha ha ha ha …
Ki Duren diajak foto bareng oleh Bu Kandar, Bu Erte dan tentu saja Sri Hapsari. Aryati yang pegang ‘kodak’ cuma senyum-senyum geli melihat beberapa orang panitia ikutan foto bersama.
“Cukup …” Pembawa acara mengingatkan Bu Erte dan teman-teman untuk bersiap turun dari panggung karena giliran kaum bapak yang bakal tampil memperagakan ilmu silat.
Plak pak plak pak …
Begitu Bu Erte, Bu Kandar, Aryati dan Sri Hapsari duduk di tempat mereka semula, Pak Jono, Pak Leman, Rais dan Pak Sukiman bergantian melompat ke atas panggung. Lalu membungkukkan badan kepada segenap hadirin.
“ Pak ..”
“Pak Jono ..”
“Pak Jono sudah tahu apa yang harus dilakukan di atas panggung?” Tanya pembawa acara.
“Tahu Pak pembawa acara.”
“Apa?”
“Joget …”
Ha ha ha ha …
“Mantaaap …” Teriak teman-temannya yang duduk di baris ketiga dari depan.
“Joget sampai tua,” sahut ibu dari Kampung Zaitun tak mau ketinggalan.
“Coba Pak Jono .. Kita pengen lihat bapak joget. Setuju kan ibu-ibu dan bapak-bapak?”
“Setujuuuu …”
“Silakan Pak Jono.”
Pak Jono pun mulai berjoget. Goyang pinggul dari berdiri hingga jongkok, dilanjutkan bergulingan di lantai. Lepas itu duduk, ditarik tangannya oleh Pak Leman.
Sama berdiri. Pegangan tangan, bergoyang sambil mengangkat kedua kaki silih berganti. Kadang kanan, kadang kiri. Diikuti di belakangnya, Pak Rais dan Pak Sukiman.
“Goyang terus Pak Jono.” Teriak beberapa lelaki tanggung yang siap berjoget di samping panggung. Tapi, demi keamanan dan kelancaran acara pelepasan, panitia menyudahi acara joget-jogetan.
“Maaf ya bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian. Jogetnya diteruskan di rumah masing-masing,” kata pembawa acara dengan ramahnya.
Wuuuu …
“Pembawa acara belagu,” omel beberapa lelaki tanggung yang baru datang dan ikut bergabung dengan warga lain di bawahb tenda.
Melihat banyaknya warga yang protes atas dihentikannya acara joget bersama, Ki Duren mendekati Pak Jono. Dia membisikkan sesuatu. Entah apa yang dibisikkan, tetapi beberapa saat kemudian Pak Jono me megang mikropon dan berkata …
“Maaf kawan-kawanku. Nanti kita bikin acara joget tersendiri setelah acara ini selesai. Setuju kan?”
Belum ada yang bersuara …
“Setuju Pak.” Tiba-tiba seorang warga dari Kampung Melati mengangkat jari telunjuk.
“Ayo … siapa lagi?” Tanya Pak Jono.
“Saya …” Sahut yang lain. Dalam sekejap semua bapak-bapak yang hadir pada mengangkat tangan tanda menyetujui digelarnya joget terpisah.
“Terima kasih. Acara dilanjutkan kembali,” kata Pak Jono, menyerahkan kembali mikropon kepada si pembawa acara.
“Terima kasih Pak Jono. Terima kasih,” kata pembawa acara. “Kita lanjutkan dengan atraksi silat oleh Pak Jono dan kawan-kawan. Apa atraksi mereka? Kita saksikan saja bersama-sama …”
Pak Jono duduk bersila di tengah panggung dengan mata tertutup. Lepas itu berdiri dikelingi tiga re kannya yang siap menyerang.  Walaupun mata tak bisa melihat, Pak Jono tahu dimana posisi ketiga rekannya itu.
Dia bergerak ke kanan, lalu ke depan. Kemudian, saat Pak Leman melepaskan tendangan kea rah pung gung, Pak Jono bergerak ke kanan, dan dengan satu pukulan berhasil menangkis tendangan itu, membuat Pak Leman jatung terguling.
Hadirin bertepuk tangan …
Giliran Pak Rais. Dia menyerang dari samping kanan. Pukulan satu dua dia lepaskan. Namun berhasil dielakkan Pak Jono dengan cara menghindar dan koprol ke lantai.
Dengan mata batinnya, Pak Jono dapat memastikan Pak Rais berada di depannya. Dia merasakan ada  getaran di bawah matanya. Itu berasal dari kepalan tangan Pak Rais yang siap dia lepaskan.
Duuup … duuup … duuup …
Pukulan bertubi-tubi itu baru reda setelah Pak Jono membalasnya dengan tendangan memutar menyu sur lantai. Pak Rais terjatuh …
Guaaam …
Bruuuk …
Ha ha ha ha …
Hadirin ketawa ngakak meliht Pak Rais bangkit dari jatuhnya sambil mengaduh kesakitan. Memegang pinggangnya yang terasa berat terkena lantai panggung kayu.
Dia melihat Pak Jono masih dalam posisi menunggu serangan berikut yang bakal dia lancarkan. Tapi Pak Rais cuma tersenyum, lalu berujar …
“Udah ah … capek.”
Hua ha ha ha …
Selanjutnya giliran Pak Sukiman. Para hadirin dibuat tegang karena sampai dua menit belum juga mela kukan serangan, baik dengan menggunakan tangan maupun kaki.
Dia lebih banyak bergerak tanpa suara. Mengikuti irama kaki Pak Jono. Ke kanan dia ke kanan. Atau justru berlawanan arah.  Pak Jono ke kiri, Pak Sukiman ke kanan, begitulah berkali-kali.
“Ini silat apa nangkep cicak,” seloroh ibu berparas manis terheran-heran …
“Sabar Bu. Kita lihat sajalah apa yang bakal terjadi,” kata pria berkepala pelontos dengan suara ter dengar bergetar.
Hiyaaat …
Pak Sukiman memutar badanya. Dia gingkang sambil melepaskan tendangan, sempat mengenai leher Pak Jono. Terdorong ke depan. Pada tendangan berikutnya berhasil  ditangkis, membuat Pak Sukiman terjatuh, sebelum berdiri lagi.
Hadirin semakin tegang tatkala sebuah tendangan geledek mengenai kepala Pak Jono. Menjatuhkan ba dannya ke lantai. Lalu kedua kalinya bergerak lincah diikuti dengan tangan yang tak henti  menyerang ke dua kaki Pak Sukiman.
“Adooow …”
Kali ini persis mengenai selangkangan Pak Sukiman. Sakit dan perih rasanya. Kesempatan ini tak disia-siakan Pak Jono dengan melepaskan pukulan ke dada temannya itu. Seketika jatuh terguling dan …
“Ampun. Kita kan cuma main-main saja Pak Jono,” ringis Pak Sukiman.
Hadirin tertawa.
“Kapok lu …” Teriak bapak  berperawakan ceking dengan kulit putih kecoklat-coklatan.
“Syukurin …” Kata ibu-ibu yang dari tadi rada kesal tengok Pak Sukiman malas melepaskan pukulan.
“Emangnya kalau main-main, apa tak boleh mukul. Kan tidak,” sahut pria berkumis tipis.
“Mana jiwa pendekar,” kata yang lain menimpali.
“Itu mah bukan pendekar, tapi mental kerupuk. Kena gertak sedikit langsung tetunduk …”
Ha ha ha ha …
Acara dilanjutkan dengan tari-tarian, musik orgen tunggal, paduan suara ibu-ibu dari Kampung Falah, Berkah Mawar, Melati dan Kampung Zaitun. Diakhiri kata pelepasan dan perpisahan dari Ki Saleh dan kawan-kawan.

TAMAT
(Bersambung ke Novel Lepas  … Ki Saleh)


  



    
     
   



Tidak ada komentar:

Posting Komentar