Novel Lepas
Kampung Kami (8-TAMAT)
Edisi Kedelapan
By Mang Amin
VIII
ACARA perpisahan sepuluh pendekar dengan warga lima kampung
yakni Kampung Falah, Berkah, Mawar, Melati dan Kampung Zaitun berlangsung di
tanah lapang Kampung Falah, pagi hari.
Tenda besar didirikan agar warga yang datang menghadiri
acara pelepasan tugas para pendekar silat tidak kepanasan dan kehujanan. Hampir
seribu kursi disediakan, itu belum termasuk kursi cadangan yang jumlahnya
mendekati seribu unit pula.
Tampak panitia pelepasan
sibuk mempersiapkan peralatan
pengeras suara dan dekorasi panggung. Panggung besar yang bahan bakunya
terbikin dari papan itu didekor sedemikian rupa agar tampak cantik dan indah
dipandang mata.
Kiri dan kanan panggung dipagari dengan bambu guna menghindari
penuh sesaknya warga yang me nyaksikan pertunjukan dari jarak dekat.
Di atas panggung ada peralatan orgen tunggal, mikropon
berikut tiangnya, dan beberapa unit kursi yang disediakan khusus buat pembawa
acara dan para penampil yang ingin lebih memilih duduk ketimbang berdiri saat
tampil di atas panggung.
Di balik panggung sudah berkumpul para gadis lima kampung
yang muda usia, cantik dan jelita. Mereka siap menarikan beberapa tarian, tentu
diiringi musik berirama. Mereka sudah biasa tampil saat menyam but kedatangan
tamu istimewa dari kota besar.
Mereka tampil di tempat yang berbeda, itu sudah biasa.
Kadang di dalam gedung, tanah lapang dan war ga yang menggelar persedekahan, ngantenan dan acara-acara khusus
seperti pesta panen padi dan ulang tahun kampung.
Sampai pukul delapan, baru satu dua rombongan yang hadir dan
menempati tempat duduk yang disedia kan pihak panitia. Mereka berasal dari
kampung tetangga yakni Kampung Zaitun dan Kampung Berkah. Mereka datang
menggunakan mobil pick up besar, truk dan mobil pribadi.
Pukul delapan lewat dua puluh menit, tiba rombongan tuan
rumah. Jumlahnya mencapai seratusan orang, laki-laki dan perempuan, perjaka,
gadis maupun yan sudah berumah tangga.
Tampak dalam rombongan, Aryati dan Sri Hapsari, Bu Erte, Bu
Kandar, Pak Broto dan isterinya, Hesti, Hel si dan Heni. Tak ketinggalan
sepuluh siswa Nurul Falah, yang ketika sampai di bawah tenda, bersama-sama
mendendangkan shalawat Nabi.
Tepat pukul sembilan, warga dari Kampung Mawar dan Kampung
Melati. Kedatangan sebagian besar ibu-ibu ini semakin menyemarakkan suasana di
sekitar tenda karena ditandai dengan tetabuhan rebana dan nyanyian bersama.
Warga yang hadir lebih dulu dan duduk di kursi bawah
tenda serta ada yang masih berdiri dan
ngobrol satu sama lain, terpesona dengan penampilan para ibu muda dan tua usia
itu. Suara lantang terdengar, tetabuhan rebana yang kental mengiringi nada dan
suara, membuat mereka lupa untuk mempersilakan
tamu undangan dari jauh itu untuk duduk.
Setelah nyanyian yang bersifat nasihat itu berakhir, panitia
dan beberapa warga segera memberi jalan buat lebih dari tiga ratus orang itu
untuk menempati tempat duduk yang telah disediakan. Hanya dalam tempo lima
belas menit, semua kursi di bawah tenda hampir terisi penuh menyusul banyaknya
warga dari lima kampung yang berinisiatif datang sendiri-sendiri ke lokasi
acara pelepasan.
Tepat pukul sembilan pagi, para undangan pun serentak
berdiri karena sepuluh pendekar yang dipimpin Ki Duren tiba di lokasi dengan
diantar para pemuka masyarakat, erte, tokoh agama, camat dan pejabat setempat.
Sambutan ditandai dengan peragaan pencak silat oleh kaum ibu-ibu dan para gadis
dari Kam pung Falah, Berkah, Mawar, Melati dan Kampung Zaitun.
Kesepuluh pendekar menaiki panggung dan duduk lesehan di
atasnya. Sebenarnya pihak panitia sudah menyediakan tempat duduk berupa kursi
jati kepada para pendekar. Namun mereka menolak dengan alasan lebih nyaman
duduk lesehan karena leluasa bergerak ke kiri dan kanan.
“Tampan sekali Ki Badrunmu, Aryati.” Puji Sri Hapsari yang
tampak senang melihat Ki Badrun duduk ber dekatan dengan Ki Saleh. Keduanya
tertawa bersama para pendekar lainnya.
“Abangmu juga Sri,” kata Aryati menahan tawanya agar tidak
ketahuan dan mengganggu ibu di sebelah mereka yang asyik menyusui anak
kembarnya.
“Masak Yati. Kukira biasa-biasa saja Bang Saleh itu …”
“Biasa-biasa gimana?” Tanya
Aryati yang menawarkan permen ke Sri Hapsari. Permen manis yang mereka
beli berdua di warung sebelum bersama rombongan pergi menuju tenda pelepasan.
“Ya. Hidungnya biasa saja. Mancung tidak, pesek pun tidak.
Badannya sedang-sedang sajalah. Rambut nya lurus berombak dan kulitnya hitam
manis,” kata Sri Hapsari sambil memandang teduh Ki Saleh yang tampak asyik
berbincang dengan teman pendekar lainnya.
“Nah, itu yang kumaksud Sri,” ujar Aryati, cepat-cepat
menutup mulutnya yang sempat kebablasan dan terlalu nyaring nadanya sehingga
membuat ibu-ibu di belakangnya pada menoleh heran pada keduanya.
“Apa-apaan kamu Yati,” bisik Sri sambil mencubit lengan Aryati.
Karena tak terlalu kuat cubitannya, Arya ti cuma meringis lalu tertawa.
“Hitam manisnya itu. Sedaaap …Coba tengok kopi. Hitam kan
warnanya. Campur gula pasti manis. Seka rang siapa yang tak mau minum kopi.
Mulai dari anak-anak sampai orang tua Bangka. Mulai dari gadis hingga ibu rumah
tangga. Jadi rebutan kan?”
“Sekarang bagaimana dengan Ki Badrunmu?”
Aryati berpikir sejenak.
“Malu ya ngomongnya.”
Sindir Sri yang tak menyangka Aryati harus berpikir dulu sebelum bicara
tentang sosok Ki Badrun.
“Takut kena marah ya,” kata Sri sambil menutup mulutnya agar
suaranya tidak memantul ke ibu-ibu di dekatnya yang mulai berkeringat karena
kepanasan.
“Enggak Sri.”
“Lalu kenapa lama mikirnya?”
“Aku mau kentut …”
Hi hi hi hi …
Ibu-ibu yang duduk di depan dan belakang Aryati ketawa
ngakak, diikuti ibu di samping kiri dan kanan pacar Ki Badrun.
Malunya minta ampun. Ki Badrun sempat melihat ke arahAryati
dan Sri Hapsari. Tapi cuma sebentar karena
petugas pembawa acara telah menyebut-nyebut nama Ki Duren.
“Kepada Ki Duren, kami persilakan …” Kata si pembawa acara,
menyilakan Ki Duren berdiri memberikan kata sambutan.
“Assalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh …”
“Waalaikum salam warohmatullohi wabarokatuh …”
“Pertama-tama saya ucapkan terima kasih atas waktu yang
disediakan buat saya menyampaikan sepa tah dua patah kata,” ucap Ki Duren
dengan suara lantang.
“Tanpa terasa sudah empat bulan lebih kami berada di kampung
ini … Kampung Falah, Berkah, Mawar, Melati dan Kampung Zaitun ini. Walaupun
saya menetap di kampung ini, tapi kebersamaan kami para pendekar dan anda-anda
semua telah begitu erat. Sudah seperti saudara sendiri …”
Mata Ki Duren berkaca-kaca …
“Meski sudah cukup lama kami mengabdi di kampung ini, terasa
baru kemarin kami disini … Kami benar-benar betah berada di sini .. Warganya
ramah dan mau diajak kumpul, tukar pikiran, apalagi gotong royong.”
Warga diam. Hening tiba-tiba …
“Ilmu yang kami berikan belum seberapa. Tapi kami percaya akan
berguna, kelak bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya. Kami harap kalian semua bisa mengamalkan ilmu yang
diperoleh untuk membantu sesama …”
Warga berbisik-bisik …
“Jangan sok-sokan mentang-mentang sudah bisa silat. Kalau kalian
sok-sokan maka percayalah ilmu silat yang kalian pelajari dan kuasai akan tidak
berarti serta memberi manfaat baik untuk anda sendiri dan orang lain.”
Warga mulai gerah …
“Tapi bila kalian rendah hati, ramah dengan sesama dan suka
menolong sesama, yakinlah kalian akan selamat dan ilmu silat yang kalian kuasai
akan mendapat berkah serta bermanfaat.”
Kaum bapak mulai merokok …
“Jadikanlah ilmu silat yang telah kalian pelajari itu sebagai
jembatan dan perantara untuk berbuat baik kepada sesama. Jadikanlah ia amal
jariyah. Amal kebaikan yang mengantarkan kalian jadi orang yang memberi manfaat
kepada sesama …”
Kepulan asap melewati atap tenda …
“Kami juga minta maaf bila selama ini kami ada berbuat salah,
bersikap tidak sopan dan menyinggung perasaan kalian semuanya. Sebab, kami juga
manusia yang tak luput dari salah dan dosa. Baik disengaja maupun tidak. Dengan
maafnya dari kalian, hati kami pun tenang dan tentram.”
Kaum ibu mulai bergosip …
“Kami mohon diri. Kami akan meninggalkan kampung ini karena tugas
kami telah selesai. Teruskanlah latihan ini. Perdalamlah dan belajarlah dengan
mereka yang telah kami tunjuk dan dianggap mampu meneruskan pelatihan ini …”
Anak-anak mulai bermain di luar tenda …
“Bila kalian perlu kami, janganlah sungkan karena saya sendiri
menetap di kampung ini. Walaupun se sekali saya keluar kota untuk urusan di
luar ilmu persilatan. Padepokan yang saya pimpin membuka pintu lebar-lebar.
Masuklah .. bertanyalah dan belajarlah …”
Petugas keamanan menertibkan warga yang lalu-lalang di sekitar
panggung …
“Demikian sambutan dari saya. Saya akhiri dengan ucapan
wassalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh …”
“Waalaikumsalam warohmatullohi wabarokatuh …”
IX
SEBELUM dilanjutkan dengan kata sambutan dari Pak Camat, pihak
panitia memanggil siswa didik Sri Hapsari untuk tampil ke atas panggung. Para
hadirin bertepuk tangan, terutama para orang tua siswa yang ikut hadir. Mereka
tampak bangga dengan anak mereka yang sudah berani tampil di depan orang
banyak.
“Assalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh bapak-bapak dan
ibu-ibu sekalian,” ucap kesepuluh siswa Taman Pendidikan Nurul Falah sambil
membungkukkan badan memberi hormat kepada yang hadir.
“Waalaikumsalam warohmatullohi wabarokatuh,” jawab Sri Hapsari dan
Aryati, diikuti ibu-ibu lain yang begitu gembira melihat keceriaan siswa Nurul
Falah.
Mengenakan pakaian koko, sarung dan berpeci hitam dengan kebaya dan
tutup kepala bagi siswa perem puan, Murni dan kawan-kawan membentuk dua
kelompok. Kelompok satu di sebelah kiri adalah siswa perempuan sedangkan
kelompok kedua di sebelah kanan ditempati Maskur, Yandi, Bagus dan Andi.
Apa yang hendak mereka pertunjukkan?
Plak .. pak .. plak .. pak ..
Maskur dan kawan-kawan menabuh rebana. Sedangkan siswa perempuan
yang terdiri dar Murni, Leni, Dahlia, Marni dan Yeni menabuh gitar. Hanya dua
gitar. Pemetiknya adalah Nabila dan Yeni. Teman-te man mereka yang lain ikut
menepuk-nepuk bodi gitar sebagai pengganti drum.
Ha ha ha ha …
Para pengunjung tertawa melihat Nabila dan Yeni memetik gitar
sambil berdiri. Diikuti siswa lain yang menepuk-nepuk bodi gitar.
Hu hu hu hu …
Hadirin tertawa ngakak melihat Maskur dan teman siswanya
melenggak-lenggok kayak anak perempu an. Tentu
saja lenggak-lenggok itu masih dalam batas kewajaran, sekadar mengikuti
iringan musik dan tembang yang disajikan rekan siswa perempuan.
Plak .. pak .. plak .. pak ..
Tepuk tangan riuh terdengar ketika Yeni dengan suara emasnya
mendendangkan tembang ‘Jangan Gelisah …’
Jangan
gelisah kawan
Kami
tetaplah temanmu seperti dulu
Kapanpun
kami siap membantu
Tanpa
pamrih dan pandang bulu …
Jangan gelisah wahai ibu guru
Kami janji akan jadi anak
baik
Dan siap membangun bangsa ini
Bangsa kami yang gagah
Dan tak kenal menyerah ini …
Jangan
gelisah bapak dan ibu
Kami janji
akan rajin
Belajar
menimba ilmu
Agar
pintar dan jadi orang besar …
Bantulah kami dengan doa
Agar kami mudah meraih asa
Dan cita-cita yang mulia
Menjadi orang terdepan
Dan selalu berada di garis
depan
Dalam suka dan duka
Menapaki kehidupan ini …
Reff …
Kami senang kalian senang
Bila hidup senang
Bukan centang perenang
Yang bikin orang tunggang
langgang
Sebelum akhirnya jatuh
terjengkang …
Plak .. pak .. plak .. pak …
He he he he …
Gantian Maskur cs yang tampil, sementara Nabila dan
kawan-kawan duduk menyamping. Bukan untuk mengaji, tapi …
Saat Bagus, Yandi dan Andi menabuh rebana, karena
kepunyaannya diambil Yandi, Maskur tak lantas bi ngung. Pantat Yandi ditepuknya
berkali-kali sebagai pengganti rebana.
Ha ha ha ha …
Yandi lari tunggang langgang, tapi terus dikejar Maskur
sambil menepuk-nepuk pantat teman sekelasnya itu.
“Sudah .. sudah. Ada apa ini?” Tanya Bagus sambil berkacak
pinggang, diikuti Yandi dan Andi.
“Dia nyolong rebana saya,” kata Maskur menunjuk ke pantatnya
Yandi.
“Benarkah saudara Yandi?” Tanya Andi sambil memelintir
kumisnya. Karena terlalu kuat memelintirnya, kumis palsu itu terlepas dan jatuh
ke lantai.
He he he he …
“Palsun niyeee …” Komentar bapak-bapak yang duduk di
belakang, ketawa ngakak.
“Itu tandanya Pak, sekarang ini susah cari yang asli,” sahut
salah seorang ibu yang tak suka melihat bapak-bapak di dekatnya ketawa melebihi standar.
“Kenapa harus yang susah Bu, kalau ada yang mudah.” Ujar
bapak berjidat lebar ketawa lebar.
“Yang mudah saja susah, apalagi yang sudah Pak,” jawab si
ibu kesal dengan raut muka marah.
“Memang gue pikirin,” ledek bapak bermulut lebar.
“Taik kucing Pak,” balas si ibu.
“Apa Bu?” Tanya si bapak tadi yang memang samar-samar
terdengar karena riuhnya suasana di sekitar tenda.
“Maksud ibu ini. Jangan seperti kucing berebut tulang,”
jelas lelaki berkacamata hitam coba menengahi.
“Apa maksudnya Pak?”
“Kucing berebut tulang kan biasanya berkelahi. Nah, jangan
terus-terusanlah penesannya. Nanti kalau sampai berkelahi bagaimana. Tak
eloklah dilihat orang. Apa kata orang, sudah tua masih suka berantem. Wanita
sama laki-laki lagi …”
Ha ha ha ha …
Debat kusir pun berhenti seketika. Semua mata tertuju ke
depan, panggung terbuka. Tepuk tangan ber gemuruh ketika Maskur dan kawan-kawan
menabuh rebana sambil berdendang riang …
Apa kabar kawan
Moga baik dan sehat badan
Kalau salah mohon dimaafkan
Agar hidup bisa nyaman …
Apa kabar ibu guru
Moga baik dan sehat selalu
Tak kurang atas sesuatu
Yang membuat kami malu
Karena tak hormat pada ibu
…
Apa kabar bapak dan
ibu
Moga bai nyaman selalu
Mendidik kami
sepanjang waktu
Tak kenal pagi apalagi
dalu …
Kami punya cita-cita besar
Agar hidup tak sampai nyasar
Susah senang dihadapi sabar
Mundur pantang maju tak gentar …
Reff …
Mari ibu dan bapak guru
Juga kawan tak usah
malu
Rapatkan barisan kita
berdendang
Hidup nyaman
Hati pun senang …
Plak .. pak .. plak .. pak …
Penampilan siswa Nurul Falah ini diakhiri dengan tampil
barengan dengan paduan suara gitar dan tabuhan rebana. Lucunya, murid laki-laki
tak lagi menabuh rebana. Sudah diambil alih murid perempuan.
Lantas apa yang dikerjakan Maskur dan ketiga rekannya?
Hua ha ha ha …
Mereka kebagian jatah menari lepas di atas panggung. Saat
rebana ditabuh dan senar gitar bermelodi, Maskur cs serempak berkeliling
sebanyak tiga kali. Lepas itu mereka duduk bersimpuh. Lalu bersujud ke lantai.
Bangun lagi dari sujudnya. Merentangkan tangan kanan ke samping kanan dengan
tangan kiri bersedekap di dada. Lalu berganti tangan kiri ke kiri dan tangan
kanan bersedekap di dada.
Plak .. pak .. plak .. pak ..
Kemudian Maskur cs yang bersimpuh menyamping itu
mempertemukan telapak tangan. Bertepuk-tepuk mengiringi suara tetabuhan rebana.
Sambil bertepuk, mereka berdiri. Lalu sesama mereka saling berha dapan dan
bertepuk dengan telapak tangan satu sama lain.
Setelah itu menghadap ke penonton lagi. Menggerak-gerakkan
pinggul mereka. Saling bertemu pinggul, kadang lambat kadang kuat yang sempat
membuat Yandi terjatuh …
He he he he …
Hadirin bertepuk tangan setelah Maskur dan kawan-kawan
mendekati teman mereka yang perempuan. Namun menjauh lagi setelah didekatkan
rebana ole Marni ke telinga Maskur.
Sesaat kemudian panggung tiba-tiba hening. Suara rebana dan
gitar berhenti seketika. Begitu juga aksi Maskur cs. Ikut terhenti.
Ada apa?
Mengheningka cipta. Segenap hadirin menundukkan kepala
mereka, termasuk sepuluh pendekar yang tetap setia menyaksikan ulah jenaka anak
didik Sri Hapsari secara lesehan.
“Terima kasih …” Ucap Maskur mewakili teman-temanya sambil
membungkukkan badan.
Sesaat kemudian, Maskur bergeser ke kanan, Nabila maju dua
langkah ke depan da berkatalah ia …
“Assalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh ..”
“Waalaikum salam warohmatullohi wabarokatuh,” jawab hadirin
serempak.
Tepuk tangan kembali bergema begitu sepuluh siswa hasil
binaan Bu Guru Sri Hapsari ini turun dari atas panggung, kembali ke tempat
duduk mereka yang tak jauh dari Aryati dan ibu guru mereka duduk sam bil
melepas senyum dan melambaikan tangan …
X
“BERIKUTNYA kami persilakan kepada Pak Tato, camat kita yang
ganteng untuk memberikan kata sam butan. Kami persilakan …” Kata pembaca acara
sembari menemani Pak Camat naik ke panggung dari tempat duduknya di bawah
tenda.
Plak pak pak pak …
Tepuk tangan baru berhenti setelah Pak Tato sudah berada di
atas panggung. Mengenakan baju batik dan celana biru muda serta berkopiah
hitam, lelaki tinggi semampai dan berbadan langsing ini sempat melemparkan
senyum lalu berkata …
“Pagi semuanya .. Assalamualaikum warohmaullohi wabarokath
…”
“Waalaikum salam warohmatullohi wabarokatuh,” jawab ibu-ibu
sambil tertawa. Mereka senang melihat air muka Pak Camat yang sejuk dan sedap
dipandang meski cuma dari kejauhan.
“Terima kasih .. kepada panitia saya ucapkan banyak terima kasih atas kesempatan yang
telah diberikan kepada saya …”
Para hadirin batuk-batuk …
“Saya tidak akan banyak ngomong pada kesempatan ini. Tapi
izinkan saya untuk menyampaikan bebera pa hal,” kata Pak Tato dengan senyumnya
yang khas. Manis memikat hati.
“Mau tahu ibu-ibu dan bapak-bapak?”
“Mauuuu …”
“Syukurlah. Yang mau berarti warga saya mencintai saya. Dan
bagi yang tidak berarti …”
“Harus diusir dari tenda ini,” kata ibu-ibu berpakaian serba
hitam.
Ha ha ha ha …
“Bukan diusir, tapi ditendang.” Sahut bapak-bapak berpeci
hijau ketawa ngakak. Tak pula tahu kalau rokok yang dijepit di sela telinga
jatuh dan ditangkap kucing yang kelaparan.
Husssy …
“Tenang, tenang ..” Kata petugas sekitar tenda.
“Jangan berisik ah,” ujar wanita paruh baya yang sejak Pak
Camat berada di atas panggung tadi, matanya seolah tak mau berkedip dan serius
menyimak apa yang disampaikan Pak Camat.
“Yang cinta saya tunjuk tangan,” teriak Pak Camat.
Serempak mengangkat jari telunjuk tinggi-tinggi.
“Dan yang tida cinta saya juga tunjuk tangan.”
Haaa …
Warga ragu-ragu untuk menunjuk. Namun di saat keraguan
itulah seorang ibu berbadan gemuk dan berkulit hitam legam dengan beraninya mengangkat
jari telunjuk.
“Saya tidak cinta Pak Camat ..”
Haaa …
Warga terhenyak.
“Kenapa Bu?” Tanya
Pak Camat, mencoba bersikap tenang.
“Karena Pak Camat sudah ada yang punya. Kalau saya cinta
bapakn berarti saya telah selingkuh sama bapak …”
Ha ha ha ha …
Pak Camat tak kuasa menahan ketawanya.
Hadirin pun ikut-ikutan tertawa.
“Pandai juga ibu itu,” komentar seorang bapak berkacamata
tebal.
“Dia ngomong yang sebenarnya,” jelas rekan di sebelahnya.
“Jadi yang hendak saya sampaikan antara lain,” kata Pak Tato
setelah mengucapkan terima kasih kepada ibu yang mengingatkannya untuk tidak
selingkuh, “ Pertama, kita perlu bersatu. Kedua, kita harus kuat dan sehat. Ketiga, kita harus mau berubah
untuk kebaikan.”
Hadirin pada pasang telinga terang-terang …
“Tahu bapak-bapak dan ibu-ibu artinya bersatu?”
“Tahu Pak Camat,” jawab ibu berkebaya putih.” Idak bebalah
samo bemusuhan.”
Plak pak pak pak …
“Bagus. Itu diantaranya ..” Jelas Pak Camat.
“Mulai sekarang jangan ada lagi yang galak nak menang
dewektu. Ngeraso hebat dewek. Sedikit-sedikit bebalah, idak saling tegur sapa
dan wak wek … dewek-dewek. Kamu nak mati matila, yang penting aku senang,
banyak reto …”
Hening seketika …
“Jangan sampai saya terdengar omongan .. Pak Camat, warga
kampung anu, mati dak ado yang ngubur kenyo. Wong benci galo-galo …”
Ha ha ha ha …
“Dak mungkinla cak itu Pak Camat. Kitoni punyo perasaan
jugo,”sahut seorang bapak dari Kampung Zaitun.
“Iyoye .. Pak Camat ini idak survei lagi. Sepengetahuan aku,
kitoni rukun-rukun bae. Kalu dak setegoran pasal sikok masalah, itu kan biaso.
Namonyo jugo manusio, bukan malekat. Bener dak Buk?” Kata Ibu dari Kampung
Mawar.
Ibu-ibu dari Kampung Melati sebagian besar hanya mengangguk
dan diam.
“Paham bapak ibu yang baru saya sampaikan barusan?” Tanya
Pak Camat yang sudah mulai mengecil volume suaranya.
“Paham Pak Camaaat,” jawab bapak-bapak sambil mengepulkan
asap rokok ke belakang tenda.
“Selanjutnya … kita harus kuat dan sehat. Apa maksudnya?
Maksudnya, kita kuat luar dan dalam. Sehat luar dalam. Jangan satu saja yang
sehat, lain sakit. Itu namanya belum kuat dan belum seeee …”
“Haaaat …” Jawab ibu-ibu serempak.
He he he he …
“Makmano nak sehat Pak Camat. Iwak asin terus setiap hari,”
omel ibu berbadan ceking tapi jangkung dan bermata besar.
“Benerlatu Buk. Kalu nak nulung niyan, enjuk kamekni ayam
apo baela, supayo tetep sehat,” kata ibu dari Kampung Berkah.
“Bagaimana supaya kuat dan sehat luar dalam? Di antaranya,
rajin-rajin bae olahraga, melok pengajian dan silaturahmi …”
Hi hi hi hi …
“Ngapo Buk? Lucu yo?” tegur ibu dari Kampung Falah pada ibu
di sebelahnya dari Kampung Berkah.
“Iyo Buk, lucu ..Lemakla nonton orgen tunggal daripado
melok-I pengajian. Apo dak hancur …”
“Apolagi yang bapak-bapaknyp,” timpal ibu dari Kampung
Mawar. “Disuruh ke masjid, main gap. Apo dak bingung kito bininyoni dibuatnyo.”
Ha ha ha ha …
“Nah, yang terakhir bapak dan ibu sekalian, ini yang lebih
penting. Ngapo paling penting, karena ini sering kita temui dalamkehidupan
sehari-hari .. yaitu mau berubah untuk kebaikan.”
Ibu-ibu pada berbisik, sementara bapak-bapak ada yang
ura-pura batuk, bersin, senyum dan ada yang ketawa tapi tidak sampai lebar.
“Apa misalnya? Disuruh gotong royong dia tak mau .. salat di
masjid dia sungkan .. Ngenjuk duit sumbangan untuk anak yatim piatu dan
kegiatan keagamaan dio malas. Embudike, katonyo.”
“Warga saya tak boleh begini. Pahaaam?”
“Pahaaam Pak Camat. Sakit pantat ini duduk lamo,” gerutu
bapak berambut putih yang sudah berusia
lanjut.
“Syukurlah kalau sudah paham. Senang niyan aku mendengarnya.
Dan, sebelum saya akhiri sambutan ini, satu lagi permintaan dari saya …”
“Apo Pak Camat. Omongkela gancang. Panah nih,” ucap seorang
ibu bersanggul segi tiga.
“Iyo Pak Camat. Masih lemak nunggu masakan daripado nunggu
omongan,” celetuk bapak berkopiah resam.
“Apa permintaan saya? Mari kita bersatu padu membangun
kampung kita ini. Kampung ini masih me merlukan uluran tangan bapak-bapak dan
ibu-ibu sekalian. Tak usah yang muluk-muluk, kecil jadilah. Misalnya, bangun
pos kamling, tempat pembuangan sampah dan penampungan hasil sawah ladang kita.
Saya yakin kampung kita akan maju dan berkembang pesat …”
“Ai sudahlah Pak Camat. Bapak disini bae warga
manggut-manggut. Cakkeiyoan niyan. Bapak pergi dari tenda ini, apo yang
diomongke bapak taditu sudah lupo galo …”
“Kasian Pak Camat kito,” ujar ibu yang baru sehari kawin,
menyahuti komentar ibu di sebelah kanannya barusan.
“Mulut sudah berbuih-buih, hasilnyo dak katik. Nyapekke
badan saja. Suaro habis, kaki keram kelamoan tegak. Belum lagi bensin mobil .. Abis
beliter-liter karena jauhnya jarak dari kantor kecamatan ke Kampung Falah ini
…”
“Akhirnyo .. Teruntuk Ki Duren dan rekan-rekan pendekar yang
lain. Saya atas nama pemerintah daerah mewakili Pak Bupati, dengan ini mengucapkan
terima kasih banyak atas jerih payahnya membangun fisik dan mental warga saya
ini. Mungkin ada yang tak berkenan, saya mewakili warga saya, dengan ini mo hon
maaf sebesar-besarnya. Semoga amal baik bapak sekalian akan dibalas oleh Allah
SWT dan mendapat keselamatan dunia serta akherat …”
Kesepuluh pendekar antusias menyikapi ucapan Pak Camat
barusan. Mereka merasa tersanjung walau tak terbersit sedikit pun untuk meminta
sanjungan.
“Akhirnya, sebagai kata akhir penutup kata sambutan ini,
saya ucapkan wabillahi taufik wal hidayah, wassalamualaikum warohmatullohi
wabarokatuh …”
“ Waalaikum salam
warohmatullohi wabarokatuh ..”
Acara selanjutnya?
Ibu-ibu dari Kampung Zaitun tampil ke atas panggung. Sambil
menabuh rebana, mereka dendangkan beberapa buah dendangan, di antaranya …
Pagi kita sarapan
Pulang sore kita
kecapekan
Elok niyan omongan
barusan
Camat kito ganteng
niyan
Malem ari kito ngaji
Tiduk denget bangun lagi
Duhai Pak Camat yang baik hati
Ado
waktu mampirla lagi
Tengah dalu salat
tahajud
Banyak rukuk banyak
sujud
Apo niyan Pak Camat
maksud
Supayo lemak kito
begelut
Sore ari dudu di garang
Laki balik bawak parang
Camat kito idup senang
Kito warga melok senang
Ari libur pegi
kondangan
Malem ari melok
cawisan
Terimo kasih kami
haturkan
Pada Pak Camat yang
kerakyatan …
XI
HUSYAAA …
Prak .. taar .. guar .. reeesh …
Tujuh keping genteng hancur lebur dipukul Bu Sri Hapsari.
Semua hadirin bertepuk tangan. Ada yang tertawa, melongo, bingung, berdecak kagum
dan mengelu-elukan.
“Hidup Bu Sri kito ..” Teriak Murni dan teman-teman
sekelasnya, bersorak sorai kegirangan.
Setelah memukul genteng, Sri bersama Bu Erte dan Bu Kandar
melakukan tendangan secara bergantian. Mereka berdiri sejajar sementara Aryati
memegang tiga keping genteng. Genteng itu harus pecah semua nya. Secepatnya
diganti dengan genteng yang baru untuk ditendang penendang berikutnya.
“Bu Erte …”
Hiyaaat …
Walaupun sempat terdengar ‘keraaak’, bagian bawah celana
robek, membuat beberapa warga yang du duk di barisan terdepan tersenyum simpul,
Bu Erte sukses merontokkan genteng yang dipegang Aryati. Hancur
berkeping-keping.
Plak pak plak pak …
“Ternyata hebat juga Bu Erte kita. Tak sangka aku. Kukira
cuma pandai memasak di dapur saja,”
celoteh seorang ibu beralis tebal, warga Kampung Falah.
“Bu Kandar …”
Husyaaa …
Kraaash .. ceeer ..
Saking kuatnya tendangan Bu Kandar, Aryati sempat terpundur
beberapa langkah ke belakang. Nyaris jatuh kalau tidak segera ditahan tubuhnya oleh
Ki Badrun.
Ha ha ha ha …
“Ehem … dosa Ki,” celetuk beberapa orang ibu dari Kampung
Berkah.
Aryati jadi salah tingkah. Ki Badrun kembali duduk dekat Ki
Saleh. Atraksi tendangan yang ketiga atau terakhir segera dimulai. Kali ini
giliran Bu Sri.
“Sri Hapsari …”
“Siap …”
Hiyaaat …
Taar … greeesh …
Empat keping genteng terbelah dua belas. Lantai panggung
penuh dengan serpihan pecahan genteng. Beberapa panitia sibuk membersihkannya,
yang dalam hitungan detik sudah bersih seperti semula.
“Tak kuduga, ternyata Bu Sri diam-diam jago silat,” kata
beberapa orang ibu yang tak sempat mengikuti pelatihan ilmu silat yang
dikomandoi Ki Duren dan beberapa pendekar lainnya.
“Masih gadis, cantik dan cocoklah kalau jadian sama Ki
Saleh,” kata seorang ibu yang seminggu lalu melangsungkan pernikahan dengan
laki-laki pujaan hatinya dari Kampung Zaitun.
“Ssssst … kata siapa Bu Sri jadian sama Ki Saleh?” Tanya ibu
bermata besar.
“Kata orang sekampung.”
“Masak?”
“Enggak percaya, tanya saja sama orang sekampung.”
“Busyet ah. Sepuluh orang saja belum tentu aku bisa tanya
sekarang.”
Ha ha ha ha …
Ki Duren diajak foto bareng oleh Bu Kandar, Bu Erte dan
tentu saja Sri Hapsari. Aryati yang pegang ‘kodak’ cuma senyum-senyum geli
melihat beberapa orang panitia ikutan foto bersama.
“Cukup …” Pembawa acara mengingatkan Bu Erte dan teman-teman
untuk bersiap turun dari panggung karena giliran kaum bapak yang bakal tampil
memperagakan ilmu silat.
Plak pak plak pak …
Begitu Bu Erte, Bu Kandar, Aryati dan Sri Hapsari duduk di
tempat mereka semula, Pak Jono, Pak Leman, Rais dan Pak Sukiman bergantian
melompat ke atas panggung. Lalu membungkukkan badan kepada segenap hadirin.
“ Pak ..”
“Pak Jono ..”
“Pak Jono sudah tahu apa yang harus dilakukan di atas
panggung?” Tanya pembawa acara.
“Tahu Pak pembawa acara.”
“Apa?”
“Joget …”
Ha ha ha ha …
“Mantaaap …” Teriak teman-temannya yang duduk di baris
ketiga dari depan.
“Joget sampai tua,” sahut ibu dari Kampung Zaitun tak mau
ketinggalan.
“Coba Pak Jono .. Kita pengen lihat bapak joget. Setuju kan
ibu-ibu dan bapak-bapak?”
“Setujuuuu …”
“Silakan Pak Jono.”
Pak Jono pun mulai berjoget. Goyang pinggul dari berdiri
hingga jongkok, dilanjutkan bergulingan di lantai. Lepas itu duduk, ditarik
tangannya oleh Pak Leman.
Sama berdiri. Pegangan tangan, bergoyang sambil mengangkat
kedua kaki silih berganti. Kadang kanan, kadang kiri. Diikuti di belakangnya,
Pak Rais dan Pak Sukiman.
“Goyang terus Pak Jono.” Teriak beberapa lelaki tanggung
yang siap berjoget di samping panggung. Tapi, demi keamanan dan kelancaran
acara pelepasan, panitia menyudahi acara joget-jogetan.
“Maaf ya bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian. Jogetnya
diteruskan di rumah masing-masing,” kata pembawa acara dengan ramahnya.
Wuuuu …
“Pembawa acara belagu,” omel beberapa lelaki tanggung yang
baru datang dan ikut bergabung dengan warga lain di bawahb tenda.
Melihat banyaknya warga yang protes atas dihentikannya acara
joget bersama, Ki Duren mendekati Pak Jono. Dia membisikkan sesuatu. Entah apa
yang dibisikkan, tetapi beberapa saat kemudian Pak Jono me megang mikropon dan
berkata …
“Maaf kawan-kawanku. Nanti kita bikin acara joget tersendiri
setelah acara ini selesai. Setuju kan?”
Belum ada yang bersuara …
“Setuju Pak.” Tiba-tiba seorang warga dari Kampung Melati
mengangkat jari telunjuk.
“Ayo … siapa lagi?” Tanya Pak Jono.
“Saya …” Sahut yang lain. Dalam sekejap semua bapak-bapak
yang hadir pada mengangkat tangan tanda menyetujui digelarnya joget terpisah.
“Terima kasih. Acara dilanjutkan kembali,” kata Pak Jono,
menyerahkan kembali mikropon kepada si pembawa acara.
“Terima kasih Pak Jono. Terima kasih,” kata pembawa acara.
“Kita lanjutkan dengan atraksi silat oleh Pak Jono dan kawan-kawan. Apa atraksi
mereka? Kita saksikan saja bersama-sama …”
Pak Jono duduk bersila di tengah panggung dengan mata
tertutup. Lepas itu berdiri dikelingi tiga re kannya yang siap menyerang. Walaupun mata tak bisa melihat, Pak Jono tahu
dimana posisi ketiga rekannya itu.
Dia bergerak ke kanan, lalu ke depan. Kemudian, saat Pak
Leman melepaskan tendangan kea rah pung gung, Pak Jono bergerak ke kanan, dan
dengan satu pukulan berhasil menangkis tendangan itu, membuat Pak Leman jatung
terguling.
Hadirin bertepuk tangan …
Giliran Pak Rais. Dia menyerang dari samping kanan. Pukulan
satu dua dia lepaskan. Namun berhasil dielakkan Pak Jono dengan cara menghindar
dan koprol ke lantai.
Dengan mata batinnya, Pak Jono dapat memastikan Pak Rais
berada di depannya. Dia merasakan ada getaran di bawah matanya. Itu berasal dari
kepalan tangan Pak Rais yang siap dia lepaskan.
Duuup … duuup … duuup …
Pukulan bertubi-tubi itu baru reda setelah Pak Jono
membalasnya dengan tendangan memutar menyu sur lantai. Pak Rais terjatuh …
Guaaam …
Bruuuk …
Ha ha ha ha …
Hadirin ketawa ngakak meliht Pak Rais bangkit dari jatuhnya
sambil mengaduh kesakitan. Memegang pinggangnya yang terasa berat terkena
lantai panggung kayu.
Dia melihat Pak Jono masih dalam posisi menunggu serangan
berikut yang bakal dia lancarkan. Tapi Pak Rais cuma tersenyum, lalu berujar …
“Udah ah … capek.”
Hua ha ha ha …
Selanjutnya giliran Pak Sukiman. Para hadirin dibuat tegang
karena sampai dua menit belum juga mela kukan serangan, baik dengan menggunakan
tangan maupun kaki.
Dia lebih banyak bergerak tanpa suara. Mengikuti irama kaki
Pak Jono. Ke kanan dia ke kanan. Atau justru berlawanan arah. Pak Jono ke kiri, Pak Sukiman ke kanan,
begitulah berkali-kali.
“Ini silat apa nangkep cicak,” seloroh ibu berparas manis
terheran-heran …
“Sabar Bu. Kita lihat sajalah apa yang bakal terjadi,” kata
pria berkepala pelontos dengan suara ter dengar bergetar.
Hiyaaat …
Pak Sukiman memutar badanya. Dia gingkang sambil melepaskan
tendangan, sempat mengenai leher Pak Jono. Terdorong ke depan. Pada tendangan
berikutnya berhasil ditangkis, membuat
Pak Sukiman terjatuh, sebelum berdiri lagi.
Hadirin semakin tegang tatkala sebuah tendangan geledek
mengenai kepala Pak Jono. Menjatuhkan ba dannya ke lantai. Lalu kedua kalinya
bergerak lincah diikuti dengan tangan yang tak henti menyerang ke dua kaki Pak Sukiman.
“Adooow …”
Kali ini persis mengenai selangkangan Pak Sukiman. Sakit dan
perih rasanya. Kesempatan ini tak disia-siakan Pak Jono dengan melepaskan
pukulan ke dada temannya itu. Seketika jatuh terguling dan …
“Ampun. Kita kan cuma main-main saja Pak Jono,” ringis Pak
Sukiman.
Hadirin tertawa.
“Kapok lu …” Teriak bapak
berperawakan ceking dengan kulit putih kecoklat-coklatan.
“Syukurin …” Kata ibu-ibu yang dari tadi rada kesal tengok
Pak Sukiman malas melepaskan pukulan.
“Emangnya kalau main-main, apa tak boleh mukul. Kan tidak,”
sahut pria berkumis tipis.
“Mana jiwa pendekar,” kata yang lain menimpali.
“Itu mah bukan pendekar, tapi mental kerupuk. Kena gertak
sedikit langsung tetunduk …”
Ha ha ha ha …
Acara dilanjutkan dengan tari-tarian, musik orgen tunggal,
paduan suara ibu-ibu dari Kampung Falah, Berkah Mawar, Melati dan Kampung
Zaitun. Diakhiri kata pelepasan dan perpisahan dari Ki Saleh dan kawan-kawan.
TAMAT
(Bersambung ke Novel Lepas
… Ki Saleh)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar