Cerita Fiksi
Kota Lama (3)
Ditulis oleh aminuddin
XIII
“SERSAN …!” Bisik Mayor Latif. “Saya rasanya sudah tak kuat
lagi menemanimu untuk meneruskan perjuangan ini sersan.”
Sersan Madi belum menjawab. Dia hanya merebahkan kepala
Mayor Latif di pangkuannya.
“Senyumlah untukku sersan,” kata Mayor Latif.” Saya tahu
kamu jarang tersenyum kepadaku.”
Sersan Madi pun tersenyum. Manis nian dia tersenyum. Lega
rasanya Mayor Latif melihatnya. Berbunga-bunga perasaannya. Hilang sesaat rasa
sakit seluruh raga.
“Dan …”
“Panggil saja aku mayor, sersan.”
Sersan Madi meluruskan kedua kaki Mayor Latif sehinga lebih
elok dipandang.
“Mayor harus kuat,” ucap Sersan Madi memberi semangat.
Mayor Latif hanya ketawa walau berat terasa.
“Kamu yang harus kuat sersan.”
“Mayor juga harus kuat.”
“Saya tak sekuatmu lagi sekarang sersan. Seperti kau lihat
aku berjalan saja tak kuat lagi. Terpaksa kau gendong. Walau saya tahu itu
berat di saat kita sama-sama menghindari gempuran pasukan musuh.”
“Itu sudah tugas saya mayor,” ucap Sersan Madi. Dia tak mau memindahkan
kepala sang komandan dari pangkuannya. Karena dia tahu pangkuannya lebih nyaman
ketimbang harus direbahkan di tanah parit.
Sejenak hening. Subuh sudah tiba. Tapi tak ada suara azan. Dari
kejauhan hanya terlihat asap tebal mem bubung tinggi dan reruntuhan bangunan
Benteng Kota Lama.
“Sersan …”
“Saya mayor.”
“Bagaimana pendapat kamu tentang perang yang baru saja kita
lakoni ini?” Suara Mayor Latif kian mele mah. Sersan Madi harus merapatkan
telingannya supaya jelas terdengar.
“Belum berakhir mayor. Kita belum menyerah kalah,” kata
Sersan Madi dengan nada pelan tapi jelas dan tegas.
“Apa rencanamu sersan?”
“Saya akan berjuang bersama rakyat. Saya bersumpah mayor.
Saya akan kalahkan Jenderal Kick dan pa sukannya. Saya akan enyahkan dia
bersama pengikutnya dari negeri ini …”
Mayor Latif tersenyum. Diam-diam bangga dengan tekad salah satu anak buahnya terbaik ini.
“Itu tidak mudah sersan. Butuh waktu lama sementara
rekan-rekan kita yang lain sudah pada tiada.”
“Saya harus yakin mayor. Tak ada yang mustahil di dunia ini
kalau kita yakin. Dan saya yakin rakyat
su dah lama membenci Jenderal Kick karena
kebiadaban dan kesewenang-wenangannya.
Tapi mereka ti dak tahu harus berbuat apa. Senjata tak ada, hidup pun
susah. Mereka sibuk dengan urusan masing-ma sing. Nah, saya akan dekati mereka
dan yakinkan mereka bahwa sesungguhnya penjajah di negeri ini harus dilawan dan
bukan dijadikan teman.”
“Tapi sersan …” Mayor Latif
berusaha untuk duduk, tapi dicegah Sersan Madi karena dalam kondisi badan yang
melemah ini lebih baik dan aman jika tetap berada di pangkuan.
“Anda harus berjuang sendiri sersan.”
“Kan ada mayor.”
“Saya rasanya sudah tidak kuat lagi sersan. Penglihatanku
tiba-tiba kabur …”
“Sebaiknya kita istirahat dulu mayor. Nanti setelah hari
terang baru kita pergi dari sini.” Dia betulkan letak kepala Mayor Latif yang
sempat miring ke kanan tadinya.
“Sersan …”
“Siap mayor.”
“Bantu saya ucapkan ini …”
“Siap mayor …”
“Laaa …
“ilaaha …”
“Ilaaha …”
“Illal …”
“Illal …”
“lallahu …”
“Lallahu …”
“Muhammadur ..”
“Muhammadur …
“Rasulullah ..”
“Rasulullah …”
Innalillahi wa inna ilaihi rajiun …
Setelah menutup pelan kedua mata Mayor Latif, Sersan Madi
merebahkan tubuh teman dan juga koman dannya itu di tanah.
Dia menangis sesunggukan.
Dia menjerit sekuat-kuatnya di tengah percikan api yang
melayang-layang di udara dan pesta kemena ngan Jenderal Kick beserta pasukannya yang mulai
beranjak pergi meninggalkan pangkalan sementara mereka di simpang tiga Kota
Lama. (TAMAT)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar