Serial Mafia
Mawar Mewangi (1)
Oleh Wak Amin
RAHMAN dan Santi, sore hari ini mereka berdua berziarah ke pemakaman
teman dekat mereka, Aulia yang tewas dibunuh kelompok mafia.
Keduanya memang tak sempat ha dir dalam prosesi pemakaman Au lia. Karena
ada tugas mendadak dari pimpinan mereka, Letnan Komar. Mengejar pelaku
penodongan salah seorang pengojek top di kota ini.
Tugas itu sendiri berhasil dilaksanakan dengan baik. Rahman dan Santi,
dibantu beberapa petugas kepolisian bagian kriminal, sukses membekuk
pelaku di salah satu pinggiran kota setelah sempat terjadi kontak
senjata.
Meski keduanya lega dan senang karena berhasil menjalankan tugas lebih
cepat dari biasanya, tersirat rasa sedih dan duka mendalam atas
kepergian yang terlalu cepat teman sekerja yang baik hati dan penuh
humor itu.
Sebelum diketemukan tewas di salah satu apartemen, Aulia ikut bergabung
dalam tim pembasmi tindak kejahatan yang dipimpin Letnan Komar.
Tim yang bernama 'Mawar Mewangi' ini beranggotakan empat orang. Salain Letnan Komar, mereka adalah Rahman, Santi dan Aulia.
Tugas dan misi mereka bermacam-macam. Meliputi semua bentuk kejahatan,
mulai dari yang kecil hingga besar. Mulai dari penjahat kelas teri
hingga kelas kakap.
Hampir tujuh puluh lima persen tugas yang dibebankan pada Tim Mawar
Mewangi, berhasil dituntaskan ke akar-akarnya. Meski di beberapa
kesempatan Aulia sering mengeluh dan kecewa buruan mereka justru tidak
dipenjarakan dengan alasan bukti yang ada tidak valid.
Letnan Komar, suatu kali pernah mengingatkan tiga anak buahnya untuk melaksanakan tugas sebaik-baiknya sesuai prosedur yang ada.
"Bekerjalah sesuai dengan koridor hukum. Kapan harus menembak, kapan
tidak harus menembak. Kalian sudah tahu itu," kata Letnan Komar dalam
rapat kecil kilat di ruang kerjanya.
Letnan Komar menghendaki dan meminta pada Santi, Rahman dan Aulia untuk
sekuat tenaga memi nimalisir tingkat kesalahan dalam menjalankan tugas.
"Saya akui kita sulit menghindari kesalahan dalam, misalnya, menge jar,
menangkap dan mengamankan pelaku kejahatan. Tapi itu bisa dite kan
dengan cara menghindari keke rasan fisik terkecuali keadaan yang
memang memaksa kita untuk ha rus berlaku demikian,"terangnya.
Dia juga menggaris bawahi perlunya kerjasama yang erat antarse mua
kita, sesama bagian atau beda bagian di dalam dan luar kepoli sian.
"Juga yang paling penting bekerja sama dengan semua lapisan ma
syarakat. Saya tekankan, ini sangat pen ting. Tanpa mereka kita tak bisa
berbuat apa-apa. Kita perlu mereka, tentu kita berharap mereka perlu ki
ta juga. Saya harap kalian paham dengan ucapan saya barusan."
Follow up dari rapat kilat itu, bebera pa hari kemudian Aulia diketemu
kan tewas di sebuah apartemen ke tika hendak menangkap kelompok sindikat
narkoba dan perdagangan manusia pimpinan Siaa, o Lung.
Aulia diketemukan sudah tak ber nyawa lagi oleh salah seorang pe tugas
cleaning service apartemen di kamarnya pagi hari. Diduga kuat ditembak
dari jarak dekat ke kepa la, leher, perut dan alat kemaluan.
Tewasnya Aulia membikin syok dan marah Santi dan Rahman. Untung lah,
Letnan Komar segera turun ta ngan menenangkan dua anak buah nya yang
masih tersisa ini.
"Saya harap kalian pakai hati dan pikiran, bukan perasaan," kata Let nan Komar di kediamannya suatu malam.
"Saya bertekad akan mengungkap habis-habisan kasus yang sedang kita
hadapi saat ini. Namun tentunya saya tak bisa bekerja sendirian. Saya
butuh bantuan kalian."
"Paham?"
"Paham Letnan," jawab Santi, meneteskan air mata mengingat kejadi an tewasnya sahabat dekatnya, Aulia.
Dalam hati Santi berjanji akan terus mengejar dan menemukan pelakunya sampai titik darah penghabisan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar