Selasa, 24 April 2018

Mawar Mewangi (1)

Serial Mafia

Mawar Mewangi (1)
Oleh Wak Amin

RAHMAN dan Santi, sore hari ini mereka berdua berziarah ke pemakaman teman dekat mereka, Aulia yang tewas dibunuh kelompok mafia.

Keduanya memang tak sempat ha dir dalam prosesi pemakaman Au lia. Karena ada tugas mendadak dari pimpinan mereka, Letnan Komar. Mengejar pelaku penodongan salah seorang pengojek top di kota ini.

Tugas itu sendiri berhasil dilaksanakan dengan baik. Rahman dan Santi, dibantu beberapa petugas kepolisian bagian kriminal, sukses membekuk pelaku di salah satu pinggiran kota setelah sempat terjadi kontak senjata.

Meski keduanya lega dan senang karena berhasil menjalankan tugas lebih cepat dari biasanya, tersirat rasa sedih dan duka mendalam atas kepergian yang terlalu cepat teman sekerja yang baik hati dan penuh humor itu.

Sebelum diketemukan tewas di salah satu apartemen, Aulia ikut bergabung dalam tim pembasmi tindak kejahatan yang dipimpin Letnan Komar.

Tim yang bernama 'Mawar Mewangi' ini beranggotakan empat orang. Salain Letnan Komar, mereka adalah Rahman, Santi dan Aulia.

Tugas dan misi mereka bermacam-macam. Meliputi semua bentuk kejahatan, mulai dari yang kecil hingga besar. Mulai dari penjahat kelas teri hingga kelas kakap.

Hampir tujuh puluh lima persen tugas yang dibebankan pada Tim Mawar Mewangi, berhasil dituntaskan ke akar-akarnya. Meski di beberapa kesempatan Aulia sering mengeluh dan kecewa buruan mereka justru tidak dipenjarakan dengan alasan bukti yang ada tidak valid.

Letnan Komar, suatu kali pernah mengingatkan tiga anak buahnya untuk melaksanakan tugas sebaik-baiknya sesuai prosedur yang ada.

"Bekerjalah sesuai dengan koridor hukum. Kapan harus menembak, kapan tidak harus menembak. Kalian sudah tahu itu," kata Letnan Komar dalam rapat kecil kilat di ruang kerjanya.

Letnan Komar menghendaki dan meminta pada Santi, Rahman dan Aulia untuk sekuat tenaga memi nimalisir tingkat kesalahan dalam menjalankan tugas.

"Saya akui kita sulit menghindari kesalahan dalam, misalnya, menge jar, menangkap dan mengamankan pelaku kejahatan. Tapi itu bisa dite kan dengan cara menghindari keke rasan fisik terkecuali keadaan yang
memang memaksa kita untuk ha rus berlaku demikian,"terangnya.

Dia juga menggaris bawahi perlunya kerjasama yang erat antarse mua kita, sesama bagian atau beda bagian di dalam dan luar kepoli sian.

"Juga yang paling penting bekerja sama dengan semua lapisan ma syarakat. Saya tekankan, ini sangat pen ting. Tanpa mereka kita tak bisa berbuat apa-apa. Kita perlu mereka, tentu kita berharap mereka perlu ki ta juga. Saya harap kalian paham dengan ucapan saya barusan."

Follow up dari rapat kilat itu, bebera pa hari kemudian Aulia diketemu kan tewas di sebuah apartemen ke tika hendak menangkap kelompok sindikat narkoba dan perdagangan manusia pimpinan Siaa, o Lung.

Aulia diketemukan sudah tak ber nyawa lagi oleh salah seorang pe tugas cleaning service apartemen di kamarnya pagi hari. Diduga kuat ditembak dari jarak dekat ke kepa la, leher, perut dan alat kemaluan.

Tewasnya Aulia membikin syok dan marah Santi dan Rahman. Untung lah, Letnan Komar segera turun ta ngan menenangkan dua anak buah nya yang masih tersisa ini.

"Saya harap kalian pakai hati dan pikiran, bukan perasaan," kata Let nan Komar di kediamannya suatu malam.

"Saya bertekad akan mengungkap habis-habisan kasus yang sedang kita hadapi saat ini. Namun tentunya saya tak bisa bekerja sendirian. Saya butuh bantuan kalian."

"Paham?"

"Paham Letnan," jawab Santi, meneteskan air mata mengingat kejadi an tewasnya sahabat dekatnya, Aulia.

Dalam hati Santi berjanji akan terus mengejar dan menemukan pelakunya sampai titik darah penghabisan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar