Selasa, 09 Juli 2019

Langit tak Berbintang (5)

Langit tak Berbintang (5)
Oleh Wak Amin





JENDERAL Fatoni, Raja Jasina am at kagum dan memuji penampilan Maria di atas pentas barusan.

"Mari Nona Maria," kata Kapten An dre, menyilakan Maria memasuki ruang khusus tempat dimana Raja Jasina menggelar rapat bersama.

"Anda juga Sersan Urip. Silakan."

"Terima kasih Kolonel Topan.

Sesaat ruangan kedap suara itu he ning. Sang Raja masih berada di ka marnya.

Sambil menunggu keluarnya Raja Jasina dari kamar, Kapten Andre menyempatkan diri berbincang-bincang dengan Maria.

" Raja amat senang melihat penam pilanmu tadi, Nona Maria."

"Anda sendiri bagaimana Kapten?"

"Apalagi saya Nona Maria," kata Kapten Andre sambil tertawa.

"Saya juga Nona Maria," ujar Letnan Subki.

"Saya juga Nona. Tadinya saya kira anda biasa-biasa saja. Bernyanyi se perti orang kebanyakan. Ternyata anda Nona Maria, luar biasa penam pilannya kali ini. Amat sangat sem purna," puji Kolonel Topan.

"Bakat Nona," sela Sersan Urip, " me mang luar biasa. Itu karunia terbe sar dari Yang Maha Kuasa."

"Terima kasih," ucap Maria. Terus terang dia  merasa tersanjung de ngan pujian bertubi-tubi itu.

"Tapi Nona," kata Kolonel Topan, "Kenapa anda tidak menari?"

"Ya Nona. Padahal itu juga kami tunggu-tunggu selain suara anda Nona," ujar Letnan Subki.

"Apa anda takut atau ada sesuatu yang lain yang membuat anda tak nyaman untuk menari Nona Ma ria?" Tanya Kapten Andre.

"Oh tidak sama sekali Kapten," ja wab Maria.

"Syukurlah kalau tidak Nona. Saya senang mendengarnya."

"Tapi berjanjilah kepada kami Nona Maria. Suatu saat anda harus mena ri selain bernyanyi .." Pinta Sersan Urip.

"Saya janji Sersan .."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar