Rabu, 10 Juli 2019

Langit tak Berbintang (6)

Langit tak Berbintang (6)
Oleh Wak Amin


"MAAF Nona Maria. Bolehkah saya bertanya sesuatu?" Tanya Sersan Urip, antara serius dan tidak.

"Boleh Sersan," jawab Maria sambil membetulkan letak duduknya.

"Nona sudah punya pacar kah?"

"Sudah Sersan, tapi dulu. Sekarang tidak lagi."

"Kenapa Nona? Apa kalian berdua putus?"

"Oh tidak Sersan. Jangan kan pu tus, bertengkar saja pun tidak kami .."

"Dimana dia sekarang Nona?" Ta nya Kapten Andre.

"Sudah di alam lain Kapten," kata Nona Maria. Coba menyegarkan suasana yang terlihat kaku.

"Dia tewas saat berkecamuknya perang."

"Apa dia seperti kami Nona?"

"Oh tidak Kapten. Dia rakyat biasa. Warga sipil yang sebenarnya tidak tahu apa-apa tentang perang," aku Maria, nyaris tak kedengaran suara nya.

"Maafkan saya Nona," kata Kapten Andre. "Saya tak bermaksud meng ungkit masa lalu anda."

"Tak mengapa Kapten. Saya ikhlas menerima kenyataan tak menge nakkan ini ..."

Belum sempat Kolonel Topan berta nya, Raja Jasina memasuki ruang an. Semuanya berdiri memberi hor mat kepada Sang Raja.

"Lama menunggu Nona?"

"Oh tidak Tuan Paduka Raja," ujar Maria seolah salah tingkah.

Tak lama berselang masuklah dua orang pelayan istana. Membawa bu ah-buahan dan minuman yang seri ng disuguhkan kepada tamu yang datang ke istana.

"Silakan Nona dicicipi," kata Raja Ja sina.

"Terima kasih Tuanku Paduka Raja. Eeeem ..." Sambil melirik ke Letnan Subki, Kapten Andre, Kolonel Topan dan Sersan Urip.

                          *****






Tidak ada komentar:

Posting Komentar