Minggu, 10 Juli 2016

Cinta yang Terbelah (1)



Novel  Serial  Bije
Cinta yang Terbelah  (1)
Oleh Kak Amin

I
ENAM tahun kemudian …
HUJAN turun amat lebat. Di sebuah halte, BiJe bersama calon penumpang lain masih menunggu dengan setia bus angkutan dalam kota yang akan mengangkut mereka sampai ke tujuan. Satu-satu berteduh, la lu pergi menyeberangi jalan menggunakan jasa penyewa payung yang menjajakan sewaannya tak jauh dari halte.
Hujan belum juga reda. Bus yang ditunggu-tunggu tak kunjung tiba. Bosan bermain game via HaPe, BiJe menyempatkan diri mengobrol dengan seorang ibu, masih muda usia sambil memeluk anaknya yang ma sih kecil. Bahan obrolan ringan-ringan saja. Mulai dari susu anak, cara mengasuh buah hati hingga suka duka punya anak yang masih kecil.
Hanya sebentar. Karena tak lama setelah itu, BiJe bersama puluhan calon penumpang lain dengan tertib menaiki bus model terbaru itu. Dia mengambil tempat duduk paling belakang. Selain lebih tinggi jika me milih tempat duduk di bagian tengah, juga leluasa memanjakan mata saat memandang lepas ke luar bus yang melaju.
Kendati hujan mulai berangsurangsur reda, aktvitas warga kota tetap ramai. Para pedagang asongan menjajakan barang dagangannya dari satu mobil ke mobil yang lain. Begitu juga dengan pedagang kaki lima yang masih kucing-kucingan dengan petugas PKL, menjajakan dagangannya seperti mainan anak-anak, baju, minyak wangi dan aneka buku dengan harga murah meriah di emperan toko dan trotoar.
Sementara para pejalan kaki sibuk dengan urusannya masing-masing. Ada yang menyeberang jalan sen dirian, berdua dan beramai-ramai. Juga ada yang ngobrol di trotoar sambil ketawa-ketawa, bercanda. Cipika-cipiki.  Di tempat-tempat tertentu seperti jembatan penyeberangan, sebagian pejalan kaki mengaso sambil merokok, menyantap kue dan minum air putih.
Para peagang tenda mulai berdatangan dengan menggunakan gerobak dorong. Isi dari gerobak itu be raneka ragam. Mulai dari peralatan piring, galon air, tempat menyimpan dan memanaskan nasi hingga jenis jajaan seperti bebek, ayam, tempe, tahu dan kerupuk kempelang. Gerobak itu didorong oleh dua orang. Satu di depan, satunya lagi di belakang.
Sesampainya di tanah lapang depan pertokoan, tenda plastik pun siap dipasang. Lepas itu menyusul me ja dan kursi. Di atas meja panjang itu disusun dengan rapi tisue, air minum, tusuk gigi dan aneka jajanan ringan semisal kerupuk kempelang, tempe dan tahu goreng. Terakhir, peralatan memasak, lauk pauk dan nasi putih yang siap dipanaskan kembali.
Dari dalam bus yang berhenti sejenak di traffic light, BiJe dengan jelas melihat para pedagang tenda itu cekatan mengatur posisi tempat duduk dan kenyamanan pengunjung saat makan. Kita yang berkesem patan melihatnya dari jauh dan dekat akan tergoda untuk singgah menikmati sajian ayam bakar dan be bek goreng berbagai rasa itu. Tak ada seonggok pun sampah yang tercecer. Semua serba bersih dan rapi, padahal tempat berjualan itu berada di atas tanah biasa dengan diapit parit kecil di kanan kirinya.
Selain leluasa menyaksikan aktivitas pedagang dari kejauhan, BiJe juga dapat melihat dengan mata telan jang bagaimana keceriaan anak-anak saat mandi di kali. Pun kala melintasi wilayah pinggiran kota, anak-anak yang berusia rata-rata di bawah sepuluh tahun itu berkejar-kejaran di sepanjang kali. Gantian melompat ke dalam air kali dengan berbagai gaya.
Setelah itu mereka berenang, menyelam, timbul lagi dan berenang lagi. Tak seoran pun dari mereka yang tidak berwajah ceria. Tertawa dan larut dalam dunia belia. Betapa bahagianya merela, bisik BiJe dalam hati. Ingin rasanya dia kembali ke dunia anak-anak yang serba lugu, ceria dan penuh keakraban serta persaudaraan.
Ketika masih kecil dulu, BiJe juga sama dengan anak-anak itu. Bedanya tidak mandi di kali, tapi di sungai yang airnya jernih dan dingin. Bila pasang naik berebutan melompat dari atas tebing ke dalam air. Seba liknya bila air sungai surut ramai-ramai merogo, mencari udang dan kepiting.  Hasil rogoan itu dibawa pulang untuk dimasak, walau terkadang dimakan mentah saat itu juga.
Selain berenang dan terjun ke dalam air dari tebing sungai, BiJe dan teman-teman kecilnya dulu sesekali melewatkan waktu di sungai dengan bermain perahu, belajar mendayung dan menjala ikan. Bila ada ka pal yang melintas, mereka pun berteriak saking senangnya. Ramai-ramai melambaikan tangan seolah melepas keberangkatan para awak dan penumpang kapal.
“Mas turun dimana ya?” Tegur kernet bus ramah pada BiJe yang sedari tadi tak jemu-jemu memandang teduh ke luar bus yang tak terlalu kencang melaju.
“Tugu Satu Mas. Masih jauh kan?”
“Ini Tugu Tiga. Dua tugu lagi Mas,” jawab si kernet berlalu ke depan memeriksa penumpang lain yang masih tersisa tiga tempat duduk.
BiJe pun mengalihkan pandangannya ke dalam bus. Beberapa penumpang masih tersisa, kebanyakan kaum hawa. Ada yang sudah tua, tak sedikit masih muda usia. Kesemua mereka dudu terpisah. Meman dang lurus ke depan. Seolah bersiap untuk turun dari bus ke tempat tujuan.
“Tugu Dua ada?” Tanya lelaki berperawakan gemuk pendek ramah dan suara datar-datar saja.
“Ada dik, saya,” kata seorang ibu yang rambutnya hampir separo ditumbuhi uban.
Syiiiiiiiiiit …
Mobil bus berhenti.
“Ei copot … ei copot!” Teriak si ibu sambil berpegangan di kursi. Nyaris jatuh kalau tidak segera ditahan BiJe punggung wanita berkebaya abu-abu itu.
“Terima kasih dik,” ucapnya dengan wajah yang masih pucat karena terkejut.
“Hati-hati Bu, lain kali!”
BiJe dengan ikhlas membantu si ibu sampai turun dari bus. Setelah itu, dia kembali naik dantidak menempati tempat duduknya semula. Dia memilih duduk di sebelah wanita muda dengan paras lumayan manis.
Braaaak …
Jegaaaar …
Gedebuuuuk ..
Traaaaang …
Mobil bus yang belum lama melaju, berhenti kembali. Sopir dan kernet pun turun beriringan, disusul BiJe dan beberapa penumpang yang lain. Tak lama kemudian, warga sekitar datang berbondong-bondong melihat apa gerangan yang telah terjadi. Sebuah mobil sedan ringsek sementara penumpangnya terluka parah.
Tanpa dikomando, BiJe bergegas menarik keluar tubuh korban, bersama sopir dan kernet. Dengan bersu sah payah dia membuka kaca mobil yang tertutup sangat rapat. Dalam posisi roda di atas, tentu BiJe ha rus ekstra hati-hati. Sebab jika sampai ceroboh, korban bisa mati karena terhimpit bagian dalam mobil.
Para korban yang terdiri dari ayah, ibu dan seorang anak yang masih kecil itu segera dilarikan ke rumah sakit. Mereka menumpang ojek, agar cepat sampai dan bebas dari kemacetan, kendati tidak terlalu aman dibandingkan dengan menggunakan kendaraan roda empat.
Darah berceceran, bahkan belepotan di baju yang dikenakan BiJe. Dia menggendong si anak, sedangkan kernet dan sopir kebagian membawa Nile dan suaminya, Suhan. Tukang ojek memacu motornya dengan cepat tapi terarah, melewati jalan pintas pemukiman warga dan pasar tradisional.
Tabrakan itu terjadi seketika, begitu cepat dan tak terduga. Sopir bus malah tak tahu sama sekali jika sedan yang berada di depan dengan jalur berlawanan  melakikan zig-zug sebelum tabrakan itu terjadi. Bagian depan mobil ringsek sementara kaca depan pecah memecah.
Mobil sedan sempat terseret beberapa meter ke samping kanan bus. Benturan keras terdengar keras satu kali. Disusul  suara menggeretak dari bodi mobil yang terseret aspal sebelum dalam posisi terbalik dengan roda di atas yang sempat berputar kencang.
Anehnya, bagian depan bus yang ditumpangi BiJe tak mengalami kerusakan sedikit pun. Hanya bekas ro da yang membekas di jalanan berasapal akibat rem kejut yang dilakukan pengemudi bus. BiJe melihat Pak Sopir berada di jalur yang benar. Tidak mengantuk, apalagi bermain-main dan meminum minuman keras saat mobil melaju dengan kecepatan sedang.
Tempat di mana tabrakan itu terjadi, menurut penuturan warga, sering terjadi kecelakaan. Baik sesama
roda empat, roda dua, atau berbeda roda dan pejalan kaki. Kebanyakan korban tewas, walaupun ada di
di antaranya kritis sebelum akhirnya bisa pulih sediakala.
Tabrakan itu tidak mengenal waktu. Bisa pagi hari, siang dan bisa juga terjadi di kala malam. Tabrakan
teradi saat arus lalu lintas tidak macet merayap. Korban jiwa dari beragam usia. Mulai dari tua, muda
bahkan anak-anak.
Sebagian pengemudi ada yang bertanggung jawab  dengan ikut mengantar korban ke rumah sakit. Tapi
kebanyakan melarikan diri terlebih dulu. Baru setelah itu, setelah suasanya tenang, mau bertanggung
jawa dengan membiayai biaya pengobatan sampai sembuh dan sedikit uang duka.
Kenapa si penabrak acapkali membiarkan korban tergeletak di jalan, sebagian besar beralasan untuk
menyelamatkan diri dari amukan massa, panik atau memang tidak mengetahui bila mobil yang disopiri
mereka telah menyebabkan orang lain tertabrak.
Tapi syukurlah, di saat orang takut jadi saksi dan penjamin biaya pengobatan dan perawatan, baru
datang ke lokasi kejadian setelah orang lain berdatangan, di wilayah Tugu Satu, Dua dan Tiga tidaklah
demikian. Warganya masih peduli dengan sesama. Tak sungkan-sungkan mereka menyingsingkan lengan
baju memberikan pertolongan terhadap korban dan pelaku.
Sejumlah pengemudi marasakan hal ini. Warga tidak mau main hakim sendiri, asalkan si penabraknya
mau bertanggung jawab dan tidak berniat melarikan diri. Mereka akan diperlakukan baik-baik, dihorma
ti dan diayomi.
Tak heran, jika lewat kawasan Tugu ini, pengemudi merasa aman dan terhindar dari pemerasan yang di
lakukan oleh orang-orang yang tak bertanggung jawab. Antara pengemudi dan warga ada semacam sa
ling mengayomi dan tidak berbuat neko-neko.
Karena merasa aman, pun pengemudi ini tidak merasa terpaksa singgah di rumah makan untuk mengi
si perut yang lapar keroncongan  sebelum melanjutkan perjalanan kembali ke tempat tujuan. Mereka
tak  merasa sungkan membandari warga yang kebetulan makan bersama mereka di rumah makan.
II
LEPAS salat Magrib berjamaah di mushalla rumah sakit, sementara jamaah lain berangsur-angsur kembali dengan kesibukannya masing-masing, BiJe belum juga beranjak dari tempat duduknya. Dia tafakur sejenak, lalu mengangkat kedua tangannya, memanjatkan doa.
Inilah doanya …

                  “ Ya Allah, aku memohon kepadamu
                   selamatkanlah mereka atas izin-Mu
                   agar mereka bisa berkumpul lagi seperti semula
                   sebagai keluarga yang utuh
                   harmonis dan sejahtera …
                                  Ya Allah, jika mereka punya kesalahan
                                   kecil maupun besar
                                   tolong ya Allah, maafkanlah kesalahan
                                   yang mereka perbuat baik sengaja
                                   maupun tidak sengaja
                                   karena Engkau adalah Yang Maha Pemaaf
                                   Maha Pengampun dan Penyayang kepada kami
                                   hamba-Mu yang lemah dan hina ini …
                                          Ya Allah, angkatlah penyakit mereka
                                          sekiranya itu yang membuat mereka
                                          lama sembuh sementara keluarga mereka
                                          mengharapkanb anak dan cucu mereka
                                          bisa secepatnya sembuh
                                          dari berbagai penyakit
                                          selamat dari keadaan yang kritis
                                          kembali normal dan bisa berkumpul lagi
                                          dan mengabdi kepada-Mu …
                                                 Ya Allah, aku memohon kepadamu
                                                  berilah kekuatan kepada dokter
                                                  dan tim medis lainnya agar bisa
                                                  mengerahkan segenap kemampuan yang mereka
                                                  miliki untuk menolong hamba-Mu yang sekarat
                                                  agar bisa melewati masa-masa kritis
                                                 dan mencekam di ruang perawatan …
                                                         Ya Allah, mereka telah terluka parah
                                                          di mana-mana banyak darah
                                                          nafas mereka terengah-engah
                                                          sulit kubayangkan dengan akal sehat
                                                          mereka akan bisa selamat
                                                          kecuali tetap sekarat dan setelah itu
                                                          entahlah ya Allah, apa yang bakal terjadi …
                                                                Ya Allah, lewat dudukku di mushalla ini
                                                                yang tak terlalu besar dan luas ini
                                                                aku hanya berharap pada-Mu
                                                                berilah mereka waktu
                                                                Barang sedikit jua
                                                                untuk kembali menghirup indahnya
                                                                dunia …
                                                                agar dapat memperpanjang amal
                                                                berbuat baik kepada sesama
                                                                menjauhi larangan-Mu
                                                               menaati perintah-Mu
                                                                menebarkan kedamaian kepada sesama
                                                                tanpa perbedaan
                                                                tanpa pilih kasih
                                                                tanpa melihat siapa
                                                                apa dan bagaimana derajat
                                                                kehidupan mereka sehari-hari
                                                                           Ya Allah, akhirnya aku, sekali lagi
                                                                            memohon kepada-Mu ya Ilahi Robbi
                                                                            kabulkanlah doaku ini …
                                                                            amien … ya robbal alamien

Setelah mengusap mukanya dengan perlahan dan agak lama, BiJe pun berdiri. Hatinya tenang, lapang, pikirannya terang dan sekarang kemana pun dia melangkah, kedua kaki ini melangkah terasa lebih ri ngan.
Salat sudah, BiJe pun bermaksud  menengok sekali lagi Sugeng beserta kedua orang tuanya, kalau masih sempat dan ada waktu, sebelum kembali ke mes tempat dimana dia menginap.
Dari pagi ia ke lapangan. Biasanya, tidak petang atau malam sudah sampai di mes. Namun hari ini ruti nitasnya jauh berbeda. Pulang dari pelatihan, berbekal tenaga yang tersisa, dia ikut membantu menyelamatkan korban tabrakan.
Rasa haus dan lapar tak ia hiraukan. Bukan karena tak punya uang buat sekadar mengganjal perut, tapi entah kenapa pikirannya masih ‘melayang-layang’ pada Sugeng yang ia gendong saat naik menumpang sepeda motor. Anak itu telah membuat BiJe merasa berat untuk meninggalkan rumah sakit.
“Nak Bije!” Sapa lelaki yang sedari tadi memperhatikannya dari kejauhan. BiJe menoleh. Ia sepertinya mengenali suara itu. Tapi mungkinkah dia adalah …
“Ingat Om kan?”
Sejenak BiJe mengernyitkan dahi.
“Pak …”
“Pak Rustam lah. Ayahnya Nile,” ucap Pak Rustam sambil tersenyum lebar.
Pak Rustam tak kuasa berlama-lama menatap tatapan lembut pria di depannya itu.  Sebab, dia tahu siapa BiJe. Jangankan Pak Rustam, seluruh siswa SMA Mawar mengenali lelaki yang baik hati itu.
BiJe sama sekali tak menyangka korban tabrakan yang kini masih dirawat  intensif di ruang perawatan khusus adalah Nile, suami dan anaknya. Dia kaget bukan kepalang. Bagaikan disambar petir di siang bolong, dia ingin rasanya menjerit.
“Kamu belum mau pulang kan?” Tanya Pak Rustam.
“Belum Om. Rencananya setelah melihat mereka, baru akan pulang,” kata BiJe.
“Baguslah kalau begitu. Sekalian kau lihatlah dulu tantemu, isteri Om, ibundanya Nile …”
“Baik Om.”
Seorang wanita tampak masih menangis sesunggukan. Dia ditemani seorang wanita muda usia, Noviani namanya. Masih keponakannnya Bu Rustam. Kedatangan BiJe disambut suka cita dan mengingatkannya saat masih bersama Nile dan teman-teman sekolahnya, sering main ke rumah.
Tapi itu dulu. BiJe masih belum seganteng sekarang. Rambut dibiarkan tak tersisir rapi, pakaian seada nya. Kini penampilannya lebih oke. Mukanya bersih, rambutnya hitam berkilau dan badannya lebih berisi. 
“Tante ucapkan terima kasih ya,” ucap Bu Rustam yang merasa terharu saat BiJe buru-buru mencium tangannya.
“Sama-sama Tante,” balas BiJe. Dia kemudian mengambil tempat duduk dekat Pak Rustam.
“Salam dari Tante buat ayah dan ibumu nak Bije.”
“Terima kasih Tante. Salamnya nanti insya Allah saya sampaikan.”
Suasana kembali hening.
“Kita ke kantin dulu yuk!” Ajak Pak Rustam.
Semula BiJe menolak halus ajakan itu. Namun karena terus didesak, mau juga dia akhirnya. Berdua saja ke kantin, sedangkan Bu Rustam menunggu bersama Noviani di ruang tunggu perawatan.
Sambil menikmati santapan seadanya yang masih tersisa di kantin, Pak Rustam menceritakan bahwa Nile, suami dan anaknya datang ke kota ini selain jalan-jalan. Juga ingin melepaskan rasa kangen dan rindu pada ayah dan ibunya.
“Hampir tiga tahun lamanya dia tidak pulang Je. Kami berdua tak keberatan. Yang namanya hidup sudah berumah tangga, apalagi yang wanita, harus ikut suaminya lah.”
BiJe melanjutkan dinner ringannya.
“Kamu sendiri gimana Je?” Tanya Pak Rustam sambil menyesap es kopi.
“Aku sendiri Om sekarang bekerja di perusahaan yang bergerak di bidang pembangunan perkotaan,” ujar BiJe.
“Bangun-bangun jembatan gitu?”
“Di antaranya gitu Om. Cakupan kerjanya cukup luas Om. Jadi, perusahaan kami bukan cuma mengurusi kerjasama di bidang pembangunan fisik seperti jembatan, gedung perkantoran dan rumah sakit, tapi juga ikut membantu pemerintah merencanakan, merumuskan dan sekaligus merealisasikan suatu proyek jangka pendek, menengah dan panjang,” jelas BiJe.
“Apa misalnya itu Je?”
“Misalnya, pemda kesulitan merumuskan market utama pasar tradisional. Nah, kita, karena sudah ada kerjasama, diminta maupun tidak, ikut membantu perumusannya secara konkrit dan berkelanjutan.”
“Wah-wah, itu artinya kamu ini sama dengan arsitek ya Je.”
“Ya kurang lebih gitu Om,” kata Bije agak malu-malu.
“Di sini cabangnya atau …?”
“Bukan Om. Di sini saya cuma ikut pelatihan saja selama enam bulan . Setelah enam bulan saya di kem balikan lagi ke kantor pusat. Pusatnya di sana Om. Tak jauh dari kediaman Om dulu sebelum pindah ke sini …”
“Tapi Om enggak pernah tengok rasanya Je.”
“Ya ialah m. Gedungnya baru selesai dibangun tiga tahun yang lalu.”
Pak Rustam ketawa lebar.
“Yah. Om bersyukurlah. Kamu sekarang telah jadi orang hebat, Je.” Puji Pak Rustam.
“Ah Om. Enggaklah Om. BiJe ngerasa biasa-biasa ajalah Om,” aku BiJe terus terang.
“Itu kata kamu. Kata Om tidak begitu. Kamu orang hebat, Je. Asalkan tekun kau kerja, selalu belajar dan perbanyak baca serta supel pada semua orang …”
BiJe merasa tak enak hati.
“Om dulu berat juga mau pindah, Je. Kamu kan tahu itu. Kerja sudah enak dan mapan, Tante sama Nile sudah merasa betah. Berkat kamu jugalah Nile jadi betah dan kerasan …”
BiJe tak mengomentari selain ikut tersenyum.
“Om juga minta maaf kepadamu, Je.” Tiba-tiba volume suara Pak Rustam mengecil. 
“Minta maaf kenapa Om? Rasanya Om tak pernah berbuat salah selama BiJe …”
“Om tak sempat kabari kamu setelah pindah. Seolah-olah Om pergi begitu saja, melupakan kamu. Padahal kamu kan bukan orang lain lagi, apalagi dengan Nile …”
Bije terdiam. Dia baru mengerti sekarang.
“Tapi sekarang Om puas. Tuhan telah mempertemukan kita di sini akhirnya,” kata Pak Rustam.                                                                                
         
III
“PA,” sapa Nile, perlahan membuka matanya, mengembangkan senyum dengan kedua orangtuanya yang setia menunggu sedari tadi.
Raut muka suami isteri ini mendadak ceria. Tak lagi tegang dan kaku lagi. Walaupun belum juga siuman, Sugeng dan Suhan, sapaan Nile barusan terasa lebih dari cukup. Mereka tak hiraukan rasa capek dan kan tuk yang kerap menyergap. Hampir seharian tak pejamkan mata. Pikiran melayang jauh tak karuan.
“Mereka masih dirawat sayang. Tapi mereka baik-baik saja kan Pa,” ucap Bu Rustam menjawab pertanyaan Nile.
“Mudah-mudahan mereka secepatnya bisa sembuh,” sahut Pak Rustam.
Nile lega mendengarnya. Ia berharap kedua orang yang paling ia cintai itu segera berangsur-angsur sembuh seperti dirinya saat ini.
“Nile …” Sapa Bu Rustam.
“Ya Ma,” jawab Nile dengan suara pelan.
“Ada BiJe,” bisik Sang Mama.
Nile senyum. Ingin rasanya dia peluk teman karib semasa SMA-nya itu. Tapi dia sadar, kini dia tak sendiri lagi. Sudah berdua bersama laki-laki lain, dan punya momongan satu.
“Mama pasti bohong. Tul kan Ma?”
“Enggak sayang. Mama enggak bohong. Percayalah. Tadi dia disini …”
“Benar Ma?”
“Dialah yang membawa anakmu ke rumah sakit ini setelah peristiwa kecelakaan itu, bersama kernet dan sopir bus yang kamu tabrak itu …”
“Benar nak. Tadi papa sempat ngobrol sama dia di kantin.”
“Tanya Nile enggak Pa?”
“Ya tentulah dia tanya. Masa dia lupa sama kamu,” terang sang ayah.
Karena dokter ahli yang memeriksa Nile sudah datang, percakapan anak beranak ini pun terhenti. Pak Rustam dan isteri harus berbesar hati untuk keluar dari ruangan dimana Nile dirawat secara khusus.
Keduanya berharap puteri kesayangan mereka pulih lebih cepat dari perkiraan semula. Bukan cuma bisa kembali lancar berbicara, tapi dapat berjalan ke sana kemari. Selama dirawat Nile hanya menghabiskan waktu di tempat tidur. Kalau mau ke toilet misalnya, suster pendampingnyalah yang memapahnya ber jalan.
Di lain ruangan, tampk Noviani  dengan setia memantau perkembangan terkini Sugeng dan Suhan dari kamera CCTV khusus bagi keluarga pasien. Untuk sementara keluarga pasien belum diperbolehkan dulu masuk selain tim medis. Nanti, setelah benar-benar si pasien sadar, petugas medis akan memberitahu pihak keluarga.
“Tidurlah dulu kamu Vi,” ucap Bu Rustam . Dia tak tega melihat keponakannya itu merem melek, meski tak terlihat rasa capek, bosan dan jenuh menunggu Sugeng dan Suhan.
“Nanti sajalah, Bi. Tanggung,” jawab Noviani.
“Nanti kamu sakit.”
“Baru sehari masak sudah sakit, Bi. Pokoknya Bibi  tenang aja. Novi enggak apa-apa kok.”
“Udah ah. Sekarang saran dari bibi, istirahatlah barang satu jam ya. Setelah itu gantian bibi yang merem.”
Noviani berat untuk beranjak.
“Udah gini aja,” kata Pak Rustam. “Novi jagain Nile, biar paman dan bibimu berdua jagain Suhan dan Sugeng. Gimana, akur kan?”
“Akur paman,” ucap Noviani sumringah.
Dari balik kaca tembus pandang, Bu Rustam menyaksikan sang cucu tercinta masih tergolek lemah. Be lum ada reaksi apa pun. Padahal sudah lebih dari enam jam dirawat. Tapi petugas medis memprediksi harapan hidup Sugeng  lebih besar dari sang ayah karena luka yang dialaminya jauh lebih ringan.

Suhan sendiri, menurut penjelasan tim medis yang merawatnya, belum menunjukkan sedikitpun tanda-tanda bakal siuman. Hasil rontgen menunjukkan Suhan mengalami gegar otak berat karena kepalanya membentur kursi, stir dan terjepit di sela besi yang menghubungkan pintu depan dan belakang mobil.
Sulit membayangkan apa jadinya jika tiga beranak, pasangan kawin muda usia ini, nyawanya tak bisa diselamatkan lagi. Sebab, bagi Pak Rustam dan isteri tercinta, Nile adalah segala-galanya. Apalagi sekarang sudah hadir seorang cucu yang cakep dengan menantu lumayan baik.
Terus terang, kehadiran BiJe diharapkan bisa memompa semangat hidup Nile. Atau paling tidak, ikut memotivasi Nile agar tetap bersemangat dalam hidup. Kalau diibaratkan jalan, hidup tak selamanya berjalan mulus. Ada kalanya berlubang dan berkelok.
BiJe pun berharap Nile bisa riang seperti dulu, saat sebelum membina rumah tangga seperti sekarang ini. Dia juga berharap kehadirannya tidak sampai mengusuk ketenangan dan keharmonisan , walau su dah beda status: BiJe masih perjaka ting-ting, sedangkan Nile sudah ibu ru mah tangga beranak satu. Justru yang dia harapkan semakin mengeratkan hubungan mereka yang sebelum ini sempat terputus karena pisah tempat tinggal dan kesibukan masing-masing.
Bagi Bije, rasa cintanya kepada Nile, tetap tidak berubah sedikitpun. Dia masih sayang padanya. Foto-foto kenangannya dulu, baik bersama teman sekelas maupun hanya berdua, masih dia simpan dengan baik. Foto-foto itulah yang terkadang ikut menyemangatinya untuk tetap optimis dalam menatap hidup ini. Dalam hidup tak boleh putus asa. Harus ulet dan gigih dijalani. Kendati di sana sini terserak onak dan duri.
BiJe sama sekali tak menyesali diri jika sekarang ia belum juga membina rumah tangga. Belum maunya ia melepas status perjakanya bukan karena Nile suda hidup bersama dengan pria lain dalam hidupnya. Tapi keinginannya untuk membahagiakan sang adik dan orangtuanya begitu besar tertanam di benaknya. Dia ingin melihat orang yang telah melahirkan dan membesarkannya hidup senang di hari tua.
Beruntunglah BiJe. Sempat berpindah-pindah tempat kerja, kini karirnya melesat dengan cepat. Dia men jadi orang kepercayaan pimpinan perusahaan tempat dimana dia bekerja. Gaji yang dia terima lebih dari cukup dan memadai. Belum lagi fasilitas mobil dan segala tetek bengek lainnya dijamin perusahaan, termasuk kesehatan, asuransi dan dana pensiun.
Sebenarnya dia diberi perusahaan rumah dinas dengan pekarangan yang luas terhampar dan perabot lengkap siap huni. Tapi rumah itu belum juga ia tempati hingga kini karena ia lebih senang tinggal bersa ma kedua orang tua dan adiknya yang sangat ia sayangi.. Sebab baginya, apalah gunanya tinggal di ru mah mewah jika hati ini gundah. Fasilitas cukup, mau masak sudah ada peralatannya. Ingin memesan sesuatu, sekecil apa pun ia, tinggal angkat telepon.
BiJe sempat menawarkan kepada orang tuanya untuk tinggal di rumah berlantai dua itu. Mereka berke beratan, selain tak mengesankan aroma keakraban dengan sesama, tinggal di pelosok kota jauh lebih enak. Mudah dalam segala hal. Mulai dari tetangga yang baik dan ramah, warung banyak tersedia dan keramaian yang tiada henti kecuali larut di malam hari.
Sedangkan bila menetap di rumah dinas, pikiran jadi bengong, terasa asing, tetangga kanan kiri pilih-pilih bergaul. Khusus bagi BiJe, sedikit banyak memang membantu. Selain lebih dekat dengan tempat kerja, juga banyak teman dari berbagai kalangan yang sebagian berstatus pegang jabatan tertentu bernaung di kawasan perkotaan itu.
BiJe tak keberatan kedua orang tuanya menolak halus tawarannya itu. Sebab, keberadaan rumah dinas itu, salah satunya untuk mempermudah dan memperpendek jarak antara kantor dan rumah, juga se baliknya. Tapi lebih memilih tinggal bersama kedua orang tuanya juga tidak  sampai mengganggu ke lancaran kerjanya.
Belakangan ada yang mengganjal di pikiran BiJe. Tidak terlalu berat dan rumit. Tapi bisa jadi beban ber kepanjangan bila tidak segera dituntaskan. Dia kerap disindir orangtuanya untuk jangan lama-lama hi dup membujang. Tak baik dan tak juga elok. Hidup sudah mapan, pekerjaan oke,  penghasilan boleh dibilang tinggi, kurang apalagi.
“Satu Je, kawinlah.” Pesan ibunya suatu sore sebelum dia berangkat ke luar kota untuk mengikuti pelatihan skill dan manajerial.
“Kalau jodoh tak akan lari keman, Bu.” Ucap BiJe sambil memeluk erat ibunda tercinta.
“Ibu pingin nimang cucu, Je.” Selorohnya, tertawa lebar.
“Sabar ya Bu. Tolong doakan BiJe segera dapat jodoh.”
“Akan selalu ibu doakan nak.” Kata sang ibu seolah berat melepas kepergian BiJe di bandara.
“Jaga dirimu ya nak.” Pesan sang ayah.
“Insya Allah, yah. Mohon doanya.”
Berkat doa kedua orangtuanyalah BiJe sampai kini tak menemui hambatan berarti dalam melaksanakan tugasnya sehari-hari di kantor dan lapangan. Bukan tanpa bahaya. Sering dan malah sudah biasa bahaya mengintai  ia rasakan bersama pekerja yang lain saat bertugas di pelataran sungai, pinggir laut dan ge dung bertingkat.
Sebagai pengawas kepala dan bertanggung jawab penuh terhadap proyek yang ia tangani, BiJe sudah bi asa keluar masuk hutan. Berminggu-minggu ia disana mengawasi anak buahnya menanam pipa, memba ngun jalan, menyambung jembatan, dan menebas hutan untuk membuka  jalan baru.  
Semakin seringnya BiJe melakukan dinas luar kota, semakin sering pula sang ibu memanjatkan doa agar sang buah hati selamat dalam bekerja, pulang dan pergi. Mohon digampangkan dalam melaksanakan pekerjaan, hasil kerja yang baik dan memuaskan serta disenangi banyak orang.
BiJe yakin doa kedua orangtua, terutama ibu sangatlah makbul bagi keselamatan anak-anaknya. BiJe ju ga yakin kesuksesan yang diraih sang anak tak bisa lepas dari doa dan kasih sayang seorang ibu. Banyak contoh, bahkan yang sudah menikah pun, selain muslim, doa ibu berperan penting dalam meraup rezeki dan melapangkan jalan menuju hidup yang mapan.
Hanya masalahnya, tak sedikit orang yang memercayai hal ini. Pasalnya, menurut mereka, kesuksesan hidup itu tergantung sepenuhnya pada diri yang bersangkutan. Ingin sukses, dia harus mau kerja keras, banting tulang dan bila perlu, sikut kiri dan sikut kanan.
IV
PADA masa Rasulullah SAW  memimpin masyarakat Madinah, selaku orang besar ia justru hidup paling melarat, kendati warga Madinah hidup berkecukupan.
Pada suatu hari, ketika Rasulullah SAW mengimami salat Isya berjamaah, para sahabat yang jadi mak mum dibikin cemas oleh keadaan Nabi yang agaknya sedang mengalami sakit payah.
Buktinya, setiap kali ia menggerakkan tubuh untuk melakukan ruku’, sujud dan sebagainya, selalu kedengaran suara keletak-keletuk, seakan-akan tulang-tulang Nabi longgar semuanya.
Maka, sesudah salam, Umar bin Khaththab bertanya kuatir:
“Ya Rasulullah, apakah engkau sakit?”
“Tidak , Umar. Aku sehat,” jawab Nabi.
“Tapi mengapa setiap kali engkau menggerak-gerakkan badan dalam salat, kami mendengar bunyi tulang-tulangmu yang berkeretakan?”
Mula-mula Nabi tak ingin membongkar rahasianya . Namun, lantaran para sahabat tampaknya sangat was-was memperhatikan keadaannya,  Nabi pun terpaksa membuka pakaiannya.
Tampak oleh para sahabat, Nabi SAW mengikat perutnya yang kempis itu dengan selembar kain yang di dalamnya diisi batu-batu kerikil untuk mengganjal perut guna menahan rasa lapar. Dan batu-batu kerikil inilah yang berbunyi keletak-keletuk sepanjang Nabi memimpin jamaah.
Dengan serta-merta, Umar pun memekik  pedih.
“Ya Rasulullah SAW, apakah sudah sehina itu anggapanmu kepada kami? Apakah engkau mengira seandainya engkau mengatakan lapar, kami tidak bersedia memberimu makanan yang paling lezat? Bukankah kami semuanya hidup dalam kemakmuran?”
Nabi SAW tersenyum ramah sambil menyebut, “Tidak Umar, tidak. Aku tahu, kalian, para sahabatku, adalah orang yang setia kepadaku. Apalagi sekadar makanan, harta atau pun  nyawa akan kalian serahkan untukku sebagai rasa cintamu terhadapku. Tetapi dimana akan kuletakkan mukaku dihadapan pengadilan Allah SWT kelak di hari pembalasan, apakah aku selalu selaku pemimpin justru membikin berat dan menjadi beban orang-orang yang aku pimpin?”
Para sahabat pun sadar dengan peringatan yang terkandung dalam ucapan Nabi SAW tersebut. Ternya ta  tindakan beliau sangat terpuji dan senantiasa lebih mementingkan kesejahteraan umat daripada dirinya sendiri.
Seorang tabib yang diutus penguasa Mesir, Muqauqis, sebagai tanda persahabatan, selama dua tahun di Madinah sama sekali menganggur. Menandakan betapa kesehatan penduduk Madinah betul-betul be rada pada tingkatan yang tinggi sampai sang tabib bosan dan bertanya kepada Nabi SAW:
“Apakah masyarakat Madinah takut kepada tabib?”
Nabi SAW menjawab, “Tidak. Terhadap musuh saja tidak takut, apalagi kepada tabib.”
“Tapi mengapa selama dua tahun tinggal di Madinah, tidak ada seorang pun yang pernah berobat kepada saya?”
“Karena penduduk Madinah tidak ada yang sakit,” jawab Nabi.
Tabib ini kurang percaya. “Masak tidak ada seorang pun yang mengidap penyakit?”
“Silakan periksa ke segenap penjuru Madinah untuk membuktikan ucapanku,” ujar Nabi.
Maka tabib itu pun melakukan perjalanan keliling Madinah guna mencari tahu apakah benar ucapan Nabi SAW tersebut. Ternyata memang di seluruh Madinah ia tidak menjumpai orang yang sakit-sakitan dan akhirnya ia berubah menjadi kagum dan bertanya heran kepada Nabi :
“Bagaimana resepnya sampai orang Madinah pada sehat-sehat semuanya?”
Rasulullah SAW menjawab, “Kami adalah suatu kaum yang tidak akan makan kalau belum lapar. Dan jika kami makan, tidaklah sampai terlalu kenyang. Itulah resep untuk hidup sehat, yakni makan yang halal dan baik serta makanlah untuk takwa, tidak sekadar memuaskan hawa nafsu.”
BiJe mengakhiri ceritanya.
“Bagus Je,” puji Nile. “Ada lagikah?”
“Ada. Banyak stoknya, Nil.” Jawab BiJe.
“Bacakanlah untukku …”
“Baiklah …”
Pada suatu hari Fatimah bertanya kepada ayahandanya, Rasulullah SAW, siapakah perempuan yang bakal masuk surga pertama kali. Ia menjawab, seorang wanita yang bernama Mutiah. Fatimah terkejut, ternyata bukan dia seperti yang dibayangkannya. Mengapa orang lain, padahal dia adalah putri Nabi?
Ketika itu timbul keinginannya untuk mengetahui siapakah Mutiah itu. Apakah gerangan yang diperbuatnya sampai mendapat kehormatan yang begitu tinggi?
Sesudah meminta izin kepada suaminya, Ali bin Abi Thalib, Fatimah berangkat mencari rumah Mutiah. Putranya yang masih kecil, Hasan, menangis ingin ikut. Maka digendongnyalah Hasan.
Tiba di muka rumah Mutiah, Fatimah mengetuk pintu dan memberi salam, “Assalamualaikum …!”
“Waalaikum salam! Siapa di luar? Terdengar jawaban yang lemah lembut dari dalam. Suaranya cerah dan merdu.
“Saya Fatimah, putri Rasulullah.”
Alhamdulillah. Alangkah bahagia saya hari ini. Fatimah sudi berkunjung ke gubuk saya.” Terdengar kembali jawaban dari dalam rumah. Kali ini nyata lebih gembira lagi, dan makin dekat ke pintu.
“Sendirian Fatimah?”
“Aku ditemani Hasan.”
“Aduh, maaf ya,” suara itu terdengar jadi menyesal. “Saya belum mendapat izin untuk menemui tamu laki-laki.”
“Tapi Hasan masih kecil.”
“Meskipun kecil, Hasan laki-laki. Besok saja datang lagi, saya akan minta izin kepada suami saya,” sahut Mutiah tidak kurang kecewanya.
Sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, Fatimah minta permisi.
Besoknya dia datang lagi. Kali ini Husein diajak juga. Mereka bertiga dengan anak-anak yang masih kecil itu Fatimah mendatangi rumah Mutiah. Setelah memberi salam dan dijawab dengan gembira, Mutiah berkata dari dalam, “Jadi dengan Hasan, Fatimah? Suami saya telah memberi  izin.”
“Ya, dengan Hasan dan Husein.”
“Ha? Mengapa tidak bilang dari kemarin? Yang dapat izin cuma Hasan, Husein belum. Terpaksa saya tidak menerima juga.”
Hari itu Fatimah gagal bertemu pula. Hanya esok harinya baru mereka disambut dengan baik-baik oleh Mutiah di rumahnya.
Keadaan rumah itu sangat sederhana. Tidak ada satu pun perabotan mewah. Namun semuanya teratur dengan rapi.   Tempat tidur yang terbikin dari kayu kasar itupun bersih sekali. Alasnya putih. Agaknya baru dicuci. Dan baru di dalam sangat segar, membikin orang betah di rumah.
Fatimah kagum melihat suasana yang sangat menyenangkan itu. Sehingga Hasan dan Husein yang biasanya tidak begitu senang berada di rumah orang, kali ini tampak asyik bermain-main.
“Maaf ya, saya tidak bisa menemani  Fatimah duduk. Sebab, saya sedang menyiapkan makan buat suami saya,” kata Mutiah sambil sibuk di dapur.
Mendekati tengah hari, masakan itu sudah siap semuanya. Lalu ditaruhnya di atas nampan. Mutiah mengambil cambuk. Cambuk itupun ditaruhnya di atas nampan.  Maka, Fatimah pun bertanya, “Suamimu kerja dimana?”
“Di ladang.”
“Penggembala?”
“Bukan. Bercocok tanam.”
“Tapi mengapa kau bawakan cambuk juga?”
“Ah itu,” sahut Mutiah seraya tersenyum. “Cambuk itu  saya sediakan untuk keperluan lain. Maksud sa ya begini. Kalau suami saya sedang makan, maka akan saya tanyakan, apakah masakan saya cocok atau tidak. Kalau dia bilang cocok, tak akan terjadi apa-apa. Tapi kalau dia bilang tidak cocok, cambuk itu akan saya berikan kepadanya agar dicambuknya pinggang saya, sebab tidak menyenangkan hati suami.”
“Atas kehendak suamimukah kau bawa cambuk itu?”
“Ah sama sekali tidak. Suami saya adalah orang yang pengasih. Ini semua semata-mata kehendak saya agar jangan sampai saya menjadi isteri yang durhaka kepada suami.”
Mendengar penjelasan itu, Fatimah lantas permisi pulang. Dalam hati ia berkata, pantas kalau Mutiah, perempuan yang masuk surga buat pertama kali, lantaran baktinya kepada suami begitu besar dan tulus. Dan perilaku kesetiaan semacam itu bukanlah lambang pembudakan wanita oleh kaum pria.
Malah justru sebaliknya, merupakan cermin bagi citra ketulusan dan pengorbanan kaum wanita yang harus dihargai dengan perilaku yang sama.

V
SETELAH membaca juz amma dan mendoakan buat kesembuhan cucu tercinta, Sugeng, Bu Rustam me ngisi waktu luangnya dengan membaca buku cerita yng disediakan pihak rumah sakit. Dia buka lembar demi lembar sebuah buku cerita sebelum akhirnya berhenti di lembar yang menceritakan kisah Nabi Ayyub as.
“Mudah-mudahan bermanfaat,” bisiknya. Membetulkan letak duduknya menghadap ke kepala Sugeng, terasa sejuk karena disejuki angin yang berasal dari kipas angin ukuran sedang tak jauh dari plafon pintu masuk ruang perawatan.
Diceritakan, Ayyub adalah seorang Nabi yang sangat kaya raya. Istananya megah, rezekinya berlimpah, isteri beserta anak-anaknya sehat walafiat. Kendati hidup sejahtera berkecukupan, Ayyub tetaplah Ayyub. Dia tetap menjadi seorang  hamba Allah yng saleh dan kuat ibadahnya.
Kekayaannya yang melimpah ruah dan rumah tangganya yang sakinah mawaddah wa rohmah, tidak menjadikan Ayyub lalai atau mabuk, lupa diri. Dia bahkan semakin tekun dengan bersujud dan berbakti. Demikian juga dengan isterinya yang bernama Rahmah.
Para malaikat sampai kagum melihat ketaatan Ayyub. Tidak demikian halnya dengan iblis laknatullah. Hatinya merasa panas dan ingin mencoba menggoda Ayyub beserta keluarganya.
“Ayyub berbakti kepada-Mu karena hartanya  banyak, istananya megah, kebunnya luas dan subur, biri-biri serta dombanya berkembang biak tiada henti, sementara anak-anaknya sehat walafiat. Dia menyembah-Mu karena takut jatuh melarat,” kata iblis yang dengki itu kepada Allah SWT.
Iblis pun turun menghancurkan segala milik Ayyub. Semua kebun dan tanah yang dulu subur kini men jadi kering kerontang dan terbakar. Binatang ternaknya terserang wabah yang kemudian mati semuanya.
Setelah itu, iblis datang menemui Ayyub dengan menyamar sebagai orang tua yang nampak bijaksana.
“Tuhan yang engkau sembah setiap hari ternyata tidak bisa menolongmu sama sekali. Aku sangat kasihan kepadamu, Ayyub. Cobalah kau mencari tuhan lain yang mungkin dapat menolongmu,” kata iblis.
Mendapat bujukan iblis itu, Ayyub tidak tergoda sama sekali, bahkan semakin tekun dia bersujud. Dia percaya, segala kenikmatan yang telah direguknya adalah pemberian Tuhan, dan Tuhan berhak mengambilnya sewaktu-waktu dan kapan pun.
Melihat semua itu, iblis pun menjadi kecewa dan marah. Dia menghadap Tuhan dan  berkata:
“Ayyub masih tetap taat kepada-Mu, karena dia masih punya anak. Aku akan membinasakan seluruh anak Ayyub. Barulah nanti  Kau baru tahu bahwa iman Ayyub tidak seberapa kuatnya.”
Maka para iblis itupun segera menyebarkan wabah penyakit dan bencana. Semua anak Ayyub meninggal dunia. Istana tempat tinggal mereka hancur hingga menjadi puing-puing karena gempa.
Melihat kejadian-kejadian yang menimpa dirinya, Ayyub hanya meneteskan air mata. Dari mulutnya hanya keluar ucapan tawakal dan pasrah diri.
Datanglah kembali iblis yang menyamar sebagai orang tua itu.
“Begitukah balasan Tuhan atas ketaatan dan kekhusyukan ibadahmu? Kau memuji-muji keagungan-Nya dengan tiada henti, tapi apa yang kau dapatkan? Hanya bencana dan kesengsaraan.”
“Dia-lah yang memberi, dan Dia pulalah yang mengambil. Dia yang menghidupkan. Dia juga yang mematikan,” jawab Ayyub.
Iblis menjadi semakin berang. Kembali dia menghadap Tuhan.
“Ayyub taat kepada-Mu, karena dia sehat. Ayyub masih bisa bekerja dan masih bisa punya anak lagi. Kalau dia sakit parah, sehingga lenyap tenaga dan kesehatannya, pasti dia akan berpaling dari-Mu.”
Iblis kemudian kembali turun. Menebarkan penyakit yang sangat berbahaya pada sekujur tubuh Ayyub. Kudis bernanah terdapat di kepala hingga ke kaki, dan baunya sangat busuk sekali.
Namun, Ayyub masih tetap tabah dalam iman dan takwa. Dia hanya menyerahkan nasib kepada Allah SWT. Tak seorang pun tabib yang dapat mengobatinya, hingga tak mampu lagi ia berobat karena tak ada biaya.
Semua orang tidak ada yang menjenguk atau mendekatinya karena bau tubuh Ayyub bisa membuat orang muntah-muntah, dan juga karena takut tertular penyakit yang menjijikkan itu.
Hanya Rahmah, isterinya, yang dengan sabar mendampingi Ayyub, merawatnya dengan baik. Kudis bernanah yang penuh dengan ulat dicucinya setiap hari. Padahal semua orang yang lewat harus mendekap hidungnya, karena tak kuat mencium bau busuknya.
Akhirnya, sampailah penderitaan Ayyub dan isterinya pada puncaknya. Orang kampung berduyun-duyun mendatangi kediaman Ayyub, Dengan paksa dan disertai ancaman mereka mengusir Ayyub dan isterinya agar keluar dari kampung mereka. Dengan susah payah, Rahmah menggendong suaminya dan tinggal di sebuah gubuk terpencil di tepi hutan.
Tiap hari Rahmah keluar menjual sisa-sisa barang miliknya untuk dibelikan makanan. Hingga akhirnya sisa barang yang dimilikinya ludes. Dalam keadaan kelaparan, Rahmah mencari pekerjaan, dan diterima di sebuah pabrik roti.
Tetapi, ketika diketahui bahwa dia adalah isteri Ayyub, si pemilik roti itu buru-buru memecatnya. Takut kalau nanti rotinya tidak laku.
Karena merasa putus asa, Rahmah kemudian memotong rambutnya yang panjang dan ikal untuk dijual dan sekadar digunakan membeli roti.
Ketika pulang, di tengah jalan, ia bertemu seorang tabib.
“Hai Rahmah, engkau isteri Ayyub, bukan? Sapa tabib itu.
“Suamimu akan bisa sembuh jika dia mau minum sebotol arak.  Bawalah ini dan berikan kepada suamimu.”
Tanpa berpikir panjang lagi, Rahmah menerima arak yang disodorkan tabib itu. Dengan perasaan gem bira ia pulang dengan mempercepat langkahnya.
Sesampainya di rumah, Rahmah langsung menemui Ayyub.  Betapa terkejut dan marahnya Ayyub ketika melihat  rambut isterinya  tidak utuh lagi , telah dipotong untuk dijual.  Lebih marah lagi ketika Rahmah menceritakan pertemuannya dengan seorang tabib di tengah jalan tadi.
“Dia memberikan obat agar kau dapat sembuh dari penyakitmu,” kata Rahmah.
“Obata pa itu?” Tanya Ayyub tidak senang.
“Arak.”
“Haram!” Teriak Ayyub dengan murka. “Apakah kau akan menjerat aku ke neraka, hah! Keluar kamu dan pergi dari sini! Awas, bila nanti badanku sudah sembuh, akan kucambuk kau seratus kali!”
Sambil menangis Rahmah keluar. Hatinya sangat sedih bukan karena diusir, tapi karena memikirkan sua minya. Seandainya dia pergi, siapa yang akan merawatnya? Dengan bingung dan gelisah Rahmah berkeli aran kesana kemari seharian. Menjelang sore, ia tidak tahan lagi. Karena sangat cintanya kepada suami, ia cepat-cepat kembali ke gubuknya.
Begitu memasuki gubuk, Rahmah menjadi terkejut, Ayyub tidak lagi berada di atas pembaringannya.
Kemanakah dia? Siapakah yang membawanya? Sebab tidak mungkin suaminya itu bangun sendiri dari
tempat tidurnya.
Rahmah menangis sedih. Sambil duduk bersedeku, dua telapak tangan menutup wajahnya. Tiba-tiba sebuah tangan seorang laki-laki mengelus pundaknya dengan mesra dari belakang.
Rahmah terkejut. Ia menoleh sambil menjerit. Di belakangnya telah berdiri seorang laki-laki yang tidak dikenalnya, meskipun wajahnya mirip dengan suaminya ketika masih sehat dulu. Laki-laki itu tampak cakep, bersih dan sehat. Bau tubuhnya pun sangat harum.
“Siapa engkau? Sungguh kurang ajar dirimu yang tak memiliki kesopanan,” teriak Rahmah dengan marah.
“Aku Ayyub suamimu,” jawab laki-laki itu sambil tersenyum.
“Ayyub?”
“Ya. Ketika engkau perg, tiba-tiba terpancar air di depanku. Hawanya panas dan berbau belerang. Aku diperintahkan Allah SWT untuk mandi dengan air tersebut, membersihkan badanku. Selesai mandi beberapa saat, sedikit demi sedikit kudis yang menempel di kulitku rontok. Kulitku kembali bersih seperti dulu. Dan inilah aku sekarang, suamimu.”
Betapa gembira dan bahagianya Rahmah melihat suaminya sembuh dari penyakitnya. Mereka kemudian berpelukan, merasakan kebahagiaan yang telah lama hilang.
Setelah itu, Ayyub mengambil dahan ranting kecil sebanyak seratus batang, lalu diikat menjadi satu. Rah mah dipukulnya sekali untuk membayar ancamannya ketika marah kepada isterinya beberapa waktu yang lalu. Selanjutnya mereka hidup bahagia dan menurunkan Nabi-nabi di belakang hari.


VI
BAGAIMANA dengan keadaan Suhan, suami Nile?
Belum ada tanda-tanda membaik. Sudah hampir seminggu ini belum juga siuman. Badannya masih terba ring di meja panjang ruang isolasi. Beberapa perawat dan dokter silih berganti memasuki ruangan yang serba hening di sekitarnya itu.
Dari balik kaca dan kamera pengawas, Pak Rustam tak sedetikpun memejamkan matanya, apalagi sam pai mengalihkan pandangannya ke tempat lain. Matanya tetap fokus, menanti detik-detik Suhan sadar kembali.
Tanpa bermaksud mendahului kehendak Ilahi,  sang mertua mengharapkan keajaiban. Suhan segera pulih, walaupun harapan itu kini masih kecil mengingat setiap kali ditanya, tim medis selalu berujar, “Sabar ya Pak. Kita sama berdoa, dan kami akan bekerja sekuat tenaga.”
Kendati jawaban itu tidak diharapkan meluncur dari mulut tim medis yang menangani menantunya, Pak Rustam masih tetap bersikukuh dan berharap kelak Suhan bisa berkumpul lagi dengan anak dan isterinya seperti sediakala. 
Kepada Suhan, Pak Rustam selalu berpesan, boleh mencari uang sepanjang hari, asalkan jangan sampai melupakan Tuhan, anak dan isteri. Di dunia ini kita hidup hanya sementara, makanya kebahagiaan ache rat jangan sampai dilupakan.  Harus dicari, di antaranya dengan selalu memperhatikan keadaan keluarga.
“Assalamualaikum.”
“Waalaikum salam,” jawab Pak Rustam. Setelah tahu yang menyapanya barusan adalah BiJe, dia segera berdiri dan memberikan tempat duduknya ke teman karib Nile itu.
“Enggak usah Om. Saya disini saja,” kata BiJe mengambil tempat duduk lesehan dekat kursi Pak Rustam.
“Wah-wah, tak enak Om jadinya, Je. Lesehan juga ah kalau begitu,” ujar Pak Rustam, mempersilakan BiJe mencicipi kue bikinan isterinya yang khusus dibawa dari rumah.
Kue-kue berbagai rupa itu belum sempat djamah Pak Rustam karena masih kepikiran Suhan. Pulang dari kantor mampir, dan bahkan ikut bermalam bersama isterinya di rumah sakit. Sengaja tak mengambil cu ti karena menumpuknya pekerjaan sementara deadline pengerjaan harus selesai satu bulan ke depan.
Begitu juga dengan Bije. Walau kue-kue itu menggoda selera, melihat Pak Rustam tak ikut mengudap nya, ia pun mengurungkan niatnya untuk mencicipi barang satu dua. Dia tak ingin orang di dekatnya itu merasa ‘tersendiri’ akibat belum sadarnya Suhan dari koma yang berkepanjangan.
BiJe seolah hendak mengatakan kepada Pak Rustam bahwasanya kesusahannya adalah kesusahannya juga. Kesedihannya adalah kesedihannya juga. Sebagai hamba Allah, BiJe berkewajiban membantu me ringankan penderitaan sesasamnya, tentu dengan cara dan bentuk apa pun juga.  Bisa berupa uang, nasehat maupun dukungan moral.
Kendati secara tersurat tidak mengenal sosok Suhan, kepada Pak Rustam, BiJe mengutarakan perasaan hatinya. Haru bercampur bahagia, sebenarnya.  Kenapa demikian? Karena dia telah melihat secara kasat mata sosok suami Nile. Bapaknya Sugeng, menantunya Pak Rustam. Juga suami teman satu sekolahnya yang sejak beberapa tahun terakhir tak ketemuan lagi.
Meskipun hingga kini belum sempat jabat tangan dan berkenalan lebih dekat, BiJe merasa yakin Suhan adalah suami yang baik bagi Nile. Apalagi, menurut penuturan Pak Rustam, selama Nile berumah tangga belum ada terdengar konflik serius yang menimpa biduk rumah tangga anaknya.
“Itulah yang Om senang, Je. Bukan hanya Om. Semua orangtua pasti senang, sama senang yang Om rasakan selama ini,” aku Pak Rustam jujur sambil menyesapi secangkir kopi racikan isterinya yang terhidang sejak tadi di atas meja segi empat.
Nikmat betul air kopi kental manis itu. Membuat Pak Rustam lupa menawari BiJe ngopi. Sementara kue di piring belum juga  ia sentuh.
“Om memang udah lama enggak ngopi, Je. Makanya, tengok tantemu bikin kopi tadi, Om langsung janji dalam hati, mau nyobainnya.”
“Tak kusangka, Om penikmat kopi juga rupanya,” puji BiJe. Padahal setahu dia Pak Rustam sama sekali tidak ngudut alias merokok.
“Betul, Je.  Bagi Om, kalau ngopi, seolah semua masalah lenyap. Padahal enggak kan …”
Ha ha ha ha …
“Oh ya Je,” kata Pak Rustam, “Menurut kamu gimana peluang Suhan?”
“Kita berdoa saja Om. Dia-lah yang menghidupkan, dan Dia-lah juga yang mematikan. Mudah-mudahan Suhannya segera sadar …” Kata BiJe.
“Maksud Om, kalau misalnya dia sadar dan sembuh, apa bisa seperti dulu ya Je?” Pak Rustam kuatir, ka rena mereka yang mengalami cedera cukup parah di bagian kepala, biasanya memberi efek buruk di bagian anggota tubuh yang lain.
“Biasanya memang begitu Om. Tapi tergantung juga seberapa keras bagian kepala yang mengalami ce dera itu. Maksud saya Om, kalau kebentur sesuatu, aspal atau apalah yang keras, seberapa keras, itu juga diperhitungkan.”
Pak Rustam menghela nafas panjang.
“Entahlah Je. Om tiba-tiba kepikiran sampai kesana …”
“Biasalah Om. Om kan bapak mertuanya Suhan. Antara Suhan sama Om dan Tante, kan hampir enggak ada sekat lagi.”
“Eeeem … sekat. Ya ya.” Pak Rustam seolah tengah berpikir keras.
“Makud saya Om, sudah seperti bapak dan ibunya sendiri. Jadi wajar, kalau misalnya, Om memikirkan dia terus. Juga sebaliknya,” jelas BiJe.
“Ya ya betul itu Je. Tapi, ini misalnya, apa efek buruk lainnya itu bisa diatasi dalam waktu yang tidak terlalu lama?”
“Kata dokter gimana Om?”
“Belum sempat Om tanya, Je. Tapi nanti Om tanyalah secara detail. Soalnya, kalau tanya sekali lewat udah …”
“Apa penjelasannya Om?”
“Mudah-mudahan enggak apa-apalah Pak. Kita sama berdoa. Kami akan bekerja keras. Nanti apapun hasilnya kami akan laporkan dengan memanggil bapak dan ibu secara langsung. Itu saja,” ucap Pak Rustam menirukan perkataan salah seorang dokter ahli.
“Itu artinya Om, kita tunggu saja. Dan sebaiknya kita tak usah berandai-andai,” jelas BiJe.
“Benar katamu, Je.” Jawab Pak Rustam. “Sebaiknya memang tak usah berandai-andai. Tapi kalau kita menaruh harapan, kan enggak apa-apa, menurut Om,” kata Pak Rustam.
“Tentu Om. Enggak apa-apa. Malah, menurut BiJe, kita harus begitu. Sebab, kalau enggak begitu, kita jadi pesimis …”
Sejenak Pak Rustam kembali menyeruput air kopi, tadi hitam manis, kini ia campur dengan susu kaleng. Dia sangat menikmati air kopi hangat itu.
“Oh ya Je. Nile sendiri gimana?” Pak Rustam mengalihkan pembicaraan.
“Insya Allah tak lama lagi Om,” ucap BiJe tersenyum lebar.
“Bisa pulang kan?”
“Iya Om.  Tinggal lagi nanti bagaimana perkembangan anggota tubuh yang lain. Semoga saja tidak ada kendala.”
“Semoga sajalah, Je.” Kata Pak Rustam lega. Karena besar harapan anak satu-satunya itu cepat sembuh.
“Om berharap musibah ini tidak terulang kembali.”
“Amin …”
Tak lama kemudian, telepon genggam Pak Rustam berdering. Ternyata dari Noviani. Memberitahu kalau Nile ingin bertemu dan berbicara dengannya.
“Dia sudah benar-benar sadar, paman. Makanya dia tanya paman. Dia pingin sekali ngomong. Ditunggu paman. Cepetan katanya …”
“Ya ya …”
“Biar yang nunggu disini saya saja Om,” ucap BiJe, sebelum Pak Rustam pamitan menuju  ke ruangan perawatan Nile.
“Terima kasih ya Je.”
“Sama-sama Om.”
Nile menunggu kedatangan papanya. Matanya tak berkedip sedikitpun. Entah apa yang ada dibenak Nile. Noviani yang duduk setia menjaga di sebelahnya tidak juga tahu selain menuruti kemauan Nile untuk bertemu Pak Rustam.
“Pa …”
Nile segera memeluk erat papanya, meski dalam posisi duduk, belum bisa turun dari ranjang rawatnya. Pak Rustam sengaja membiarkan puteri kesayangannya itu menumpahkan perasaannya.
“Mas Suhan Pa …”
Berat nian Pak Rustam untuk mengutarakannya. Tapi, demi ketenangan hati  Nile, dia harus berani memberitahu keadaan terkini Suhan.
“Nile mimpi buruk tentang dia, Pa tadi,” aku Nile sambil menangis sesunggukan. Noviani mengusap-usap pundak sepupunya itu agar tak larut dan histeris menghadapi keadaan buruk sekalipun.
“Kenapa dia Nak?” Pak Rustam melepaskan perlahan pelukan sambil menyeka lelehan air mata di wajah Nile.
Nile masih tersedu sedan. Dia membenamkan mukanya ke dada Pak Rustam.
“Minum dulu Mbak,” kata Noviani memberikan segelas air putih hangat kepada Nile. Baru diminumnya setelah Pak Rustam memegang gelasnya dan menuangkan air putih itu ke mulut Nile.
Gleeek … gek … gleeek … gek …
“Kamu harus tenang ya Nak.” Pak Rustam menasihatinya. “Coba sekarang tarik nafas dalam-dalam.”
Nile menurut.  Sampai tujuh kali dia menarik nafas. Kemudian berangsur-angsur normal. Nafasnya tak tersengal-sengal lagi. Dia  tak sedu sedan lagi.
“Ini  papamu, Nak. Sekarang ceritakanlah .. kenapa dia ada dalam mimpimu?”
Nile masih diam.
“Ayo Mbak. Ceritakanlah …!” Pinta Noviani seraya mencium hangat kedua pipi Nile yang masih tetap lembut kendati sudah beranak satu.
“Ayolah Nak. Jangan bikin papamu ini bingung. Nile pasti enggak mau kan tengok papanya bingung dan susah?”
Nile mengangguk.
“Nah, kalau begitu, ceritakanlah kepada papamu ini …”
“Dia pergi Pa,” ujar Nile kembali kelopak matanya basah  dilinangi  air mata.
“Pergi kemana?” Tanya Pak Rustam keheranan.
“Pergi aja Pa.”
“Ooooo … Pergi kerjakah?”
“Enggak Pa. Pergi aja …”
“Lalu yang bikin kamu menangis haru itu kenapa say?”
“Mas Suhan senyum dan melambaikan tangan. Setelah itu, hilang dan Nile terbangun Pa.”
Subhanallah …

VII
ORANG yang pertama kali menitikkan air mata setelah tahu Suhan dinyatakan meninggal dunia di rumah sakit adalah BiJe. Baru setelah itu Pak Rustam dan isterinya, terakhir Noviani.
Nile?
Sengaja belum diberitahu karena harus mengurus segala tetek bengek administrasi kepulangan jenazah Suhan. Memberitahu kedua orang tua Suhan di kampung, juga teman sekerjanya, terutama atasan tem pat dimana dia bekerja.
Setelah semuanya dianggap beres, jenazah Suhan, tak berapa lama lagi akan dibawa pulang ke rumah du ka, orang tua Nile menemui puterinya yang sudah berada di samping Sugeng, anaknya. Dia tersenyum  dan membalas kecupan hangat di pipi dari kedua orang yang telah membesarkannya itu.
Sugeng mulai bisa melihat. Seolah dia tahu di dekatnya ada tiga orang penting dalam hidupnya. Sang bunda, kakek dan neneknya tercinta. Pipinya dibiarkan diciumi, dibelai rambutnya dan dielus-elus anggota badannya mulai dari kaki hingga kepala.
“Ciluk ba …!” Goda Pak Rustam, diikuti isterinya dan Noviani.
“Kata dokter tadi sudah boleh pulang, Pa, Ma.” Ujar Nile tampak gembira.
Alhamdulillah,” jawab sang papa.
Nile sekilas melihat ada perubahan dari sikap dan perilaku kedua orang tuanya. Wajah ceria seolah dipak sakan. Sementara kedua bola mata Bu Rustam sedikit memerah. Merasa diperhatikan, sang mama mele pas senyum.
“Cantik kan mama, sayang ya?” Kata Bu Rustam sambil menggerak-gerakkan kepalanya seakan lagi berfose di depan kamera.
“Mas Suhan gimana Ma?” Nile tak sengaja menyinggung keberadaan suaminya. Dia berharap Suhan sudah sadar kembali dan bisa pulang sama-sama ke rumah. Tak betah rasanya berlama-lama di rumah sakit. Walauun semua fasilitas serba oke, namanya juga wong sakit, lebih baik di rumah sederhana tapi badan sehat walafiat.
“Nil, maafkan mama ya say,” buru—buru  Bu Rustam memeluk sang anak sambil menangis sesunggukan.
“Papa juga ya Nak.”
“Novi juga Mbak,” sahut Novi yang berdiri di dekat kaki Nile.
Nile mulai menangis setelah dibisiki sang mama kalau Suhan sudah tiada. Nile terkejut bukan kepalang. Ingin rasanya dia melompat dari atas tempat tidurnya. Ingin dia menjerit sekuat mungkin. Ingin juga rasanya dia berlari dan menghampiri jenazah suami tercinta.
Tapi itu tak bisa ia lakukan. Selain kedua kaki dan tangannya dipegang erat Noviani beserta kedua orang tuanya, tenaga Nile belum cukup kuat untuk melepaskan diri dari ‘cengkraman’ orang terdekatnya itu.
Dia hanya bisa menangis. Menangis karena begitu cepat Suhan dipanggil Yang Maha Kuasa. Sepertinya baru kemarin dia jalan berdua. Melepas suami tercinta pergi ke kantor, menemaninya nonton filem di bioskop. Menyaksikan pertandingan sepakbola dan ikut menemaninya bermain golf.
Sepertinya dia baru kemarin tidur berdua di kamar, bercanda di teras, lalu suap-suapan di ruang tamu. Bernyanyi berdua di karaoke, ikut arisan dan menghadiri temu relasi teman-teman sekolah semasa es em a suaminya dulu. Pulangnya bergandengan, nyetir sambil bermesraan.
Sepertinya dia baru kemarin merasakan betapa lembut dan kasih sayangnya Suhan memperlakukan dirinya, menyayangi lebih dari menyayangi dirinya sendiri. Digendongnya saat lagi berdua di pantai, menikmati gemerlap bintang malam di teras hotel,  makan malam di pusat jajanan di pinggir jalan, restoran berkelas dan rumah makan terapung.
Sepertinya dia baru kemarin merasakan betapa puitisnya Mas Suhan kala merayu dengan prilaku dan ka ta-kata yang belum pernah ia dengar sebelumnya. Rayuan itu mengantarkannya seakan kembali muda, saat pertama kali bersua suami tersayang.
“Kau adalah bidadariku. Aku tak peduli darimana kau muncul di depanku. Yang aku peduli justru kau mau menerima aku apa adanya, seorang pemuda yang sebelum ini belum punya pacar sama sekali,” ucap Suhan kepada Nile suatu kali, belum lama mereka berdua resmi berpacaran.
Kata-kata berbudi dan penuh nasihat itu seolah terngiang kembali. Menenggelamkan isak haru kedua orang tuanya. Mengalahkan rasa sedih Noviani yang selalu setia menemaninya. Yang dia rasakan saat ini adalah Suhan lagi berpuisi. Mengeluarkan jurus maut puisinya untuk mengambil hatinya, agar sudi menerimanya apa adanya.
Sayang, kata-kata  puitis itu tidak mampu mengalahkan rasa haru teramat sangat tatkala Nile sudah be rada di dalam mobil jenazah suaminya. Dia tak kuasa berlama-lama menatap wajah orang terkasih itu. Dia benamkan wajahnya di dekat kepala orang yang paling ia kasihi itu.
Menangislah ia sejadi-jadinya. Kedua orang tuanya tak kuasa menahannya. Mereka membiarkan Nile menumpahkan segala isi hatinya. Rasa haru, kecewa, atau apa saja yang ada di benaknya saat ini. Me reka hanya berharap Nile tak berbuat nekad dengan menyakiti dirinya, meraung-raung seperti sirene ambulance pengantar jenazah saat melewati  persimpangan lampu merah.
“Kenapa Mas tinggalkan Nile,” ucap Nile tersedu sedan. “Apa salah Nile, Mas. Katakanlah Mas. Jangan diam saja …”
Nile berulangkali menyebut-nyebut nama suaminya. Nama itu ia rangkai dengan pertanyaan-pertanyaan yang aneh terdengar di kedua telinga. Misalnya, ‘Bagaimana bisa hidup tanpa di kau Mas, bagaimana Su geng kelak setelah dewasa menanyakan keadaan ayahnya, lalu siapa yang membimbing aku, bukankah aku kelak berstatus ibu beranak satu, tanpa suami …’
Semua pertanyaan itu ia utarakan dalam-dalam. Ini ia lakukan karena merasa belum siap kehilangan suami terkasih. Belum siap melepas status dari isteri menjadi janda Suhan. Juga belum siap menerima tanggung jawab. Bukankah selama ini Mas Suhan yang mencari nafkah dan membiayai  hidup mereka sehari-hari.
“Apakah Nile mampu, Mas?”
“Mampu, Nak. Kamu pasti bisa. Kan ada papa dan mamamu,” kata Pak Rustam menenangkan si buah hati belahan jantung.
Nile akhirnya membenamkan kepalanya di pelukan ayahandanya. Sang ibu lebih mendekat. Larut dalam kesedihan yang amat dalam. Apa yang dirasakan Nile, juga mereka rasakan selaku orang tua. Mereka semakin sayang pada Nile. Mereka tak ingin Nile ‘terluka’ dalam waktu yang lama. 
Tak terdengar lagi kata-kata yang meluncur dari mulut Nile. Hanya isak tangis masih terdengar walau  berangsur-angsur tersamar. Begitu juga dengan Pak Rustam. Tak sepatah kata pun yang ia ucap kan. En tah nasihat atau apalah buat penenang dan penyejuk hati anaknya. Pun demikian dengan sang isteri. Hanya menunduk sedih dengan air basah menggenangi kelopak matanya yang bening.
Mereka larut dalam pikiran dan perasaannya masing-masing. Pak Rustam ingin mobil jenazah yang mengantarkan mereka ke rumah segera tiba. Jangan terlalu lama handai tolan dan sanak saudara, tetangga dekat dan jauh menunggu. Kasihan mereka.
Sementara Bu Rustam mengharapkan putrid tercinta dapat segera bangkit, mengubur rasa sedihnya se telah ditinggal pergi selama-lamanya oleh suami tercinta. Sebab, bagaimanapun yang sudah mati tak ba kalan kembali lagi ke dunia ini. Hanya kita yang ditinggalkan yang bakal meneruskan cita-cita si mayit sa at masih hidup. Mendoakannya agar diterima amal baiknya, diampuni dosa-dosanya dan dilapangkan kuburannya.
Selain tentunya tak baik selalu mengingat-ingat si mati dengan mengabaikan segala persoalan lain yang jauh lebih penting untuk disolusi. Bu Rustam hanya berdoa dalam hatinya kelak Nile dapat menemukan pengganti yang lebih baik lagi. Dia masih muda, banyak hal yang masih ia perbuat dan kerjakan.  Dunia tak selebar daun kelor. Dunia harus ditempati dan dijalani, tempat kita menanam benih yang hasilnya baru dirasakan di akherat nanti.
Bagaimana dengan Nile?
Nile sudah merasa baikan kini. Mulai pulih dari rasa sedihnya. Saat turun dari mobil jenazah, dia disamb ut hangat orang terdekatnya, BiJe. Di sebelahnya  berdiri Noviani sambil menggendong Sugeng yang tak berkedip sedikitpun  memandang teduh ke wajah anggun mamanya.
Nile terharu sesaat. Lalu dia peluk dan gendong  buah hatinya itu sebelum  bergegas  memasuki rumah  orang tuanya yang sudah ramai didatangi kerabat dan orang terdekat.

VIII
NILE menjerit histeris ketika jenazah suaminya dimasukkan ke liang lahat. Dipapah kedua orang tuanya, selain hanya bisa menangis, tak sepatah katapun yang keluar dari mulutnya. Tangis itu kian menjadi-jadi ketika si mayit dimasukkan ke peti mati, ditutup sebelum akhirnya ditimbun ratakan dengan tanah.
Setiap timbunan tanah itu, hati dan perasaan Nile sangat tersayat-sayat. Dia tak tega menyaksikan se mua itu. Ingin rasanya dia berlari, tapi harus lari ke mana. Bukankah ratusan orang lebih ikut tumplek bek di areal pemakaman. Mereka semua ikut mengantar jenazah Suhan hingga ke pemakaman.
Mau ditaruh ke mana muka ini bila Nile nekad berbuat tak terpuji itu. Orang pasti menilai dia isteri yang tidak baik, tidak taat dan setia pada suami, dengan hanya menyaksikan penurunan jenazah ke liang lahat, lalu ditimbun dengan tanah, membuat kita lupa dengan akal sehat.
Apakah dengan berlarinya kita si mayit urung dimakamkan. Kan tidak. Apakah dengan tidak adanya kita di pemakaman si mayit akan hidup kembali dan berteriak-teriak kepada yang menguburkannya bahwa dia seungguhnya belum mati. Masih hidup dan hanya mengalami koma sementara waktu saja.
Lantas, dengan demikian, jika si isteri pura-pura tidak tahu dengan upacara pemakaman mendiang sua minya, kenangan manis semasa hidup akan terlupakan begitu saja. Tentu tidak. Kenangan akan tetap hi dup selama kita, si isteri mengenangnya secara sengaja maupun tidak. Dia akan hadir kapan saja. Sebalik nya akan hilang dengan sendirinya bila yang masih hidup mau melupakannya, dan hanya menjadi pela jaran berharga buat keluarga yang ditinggalkan.
Nile ternyata memilih untuk tetap berada di lokasi pemakaman sampai upacara pemakaman suaminya selesai. Dia berusaha sekuat tenaga untuk tidak pingsan, tetap kuat berdiri walaupun masih harus diapit kedua orang tuanya. Mungkin karena kehadiran orang yang sangat ia cintai itulah, dia masih tegar meng hadiri dan menyaksikan prosesi pemakaman.
Peristiwa yang hanya sekali dialami pasangan suami isteri ini memang banyak memberikan pelajaran yang tak ternilai. Mulai dari detik-detik si mayit diturunkan ke liang lahat, hingga nisan yang nyaris rata dengan tanah, Nile ternyata telah mengikhlaskan kepergian suaminya. Lebih dari itu, belum dia ikhlas kan.
Kenapa demikian?
Karena bagi Nile, terlanjur mencintai seseorang, beresiko tidak mudah untuk melupakannya. Sebabnya, dari benang-benang cinta itu telah terserat benih-benih rasa kasih sayang, saling asah, asih dan asuh, sa ling mengingatkan, seia sekata dalam suka dan duka. Searah setujuan, seiring seirama, saling berbagi dan merasakan betapa indahnya hidup berumah tangga.
Cintanya Nile kapada Suhan sulit dituliskan dengan rangkaian kata-kata. Semakin ditulis dan dirangkai se makin sulit kita memahaminya. Karena cintanya Nile kepada suaminya tidak mengenal waktu,  keadaan dan tempat. Bisa di pasar, lagi di kamar mandi, atau boleh jadi saat berebut  menggendong Sugeng yang lucu dan polos.
Karena menurut Nile, cinta itu tak melulu yang serba elok, indah dan menawan hati. Terkadan cinta itu lebih mengena setelah kesal dengan ulah suami tercinta. Misalnya, janjian makan di rumah.Kedua belah pihak sudah sepakat dengan segala persiapan yang disepakati. Tahu-tahu suami tak jadi makan di rumah karena lembur kerja dan rapat mendadak di luar kota.
Meski tidak baik, dari kekesalan ini jugalah terkadang benih-benih rasa kasih sayang itu semakin mengu at bagi pasangan suami isteri. Kian erat dan sulit untuk tidak dieratkan lagi kecuali memang keadaan ya ng memaksa. Hal inilah di antaranya yang melatar belakangi Nile untuk sulit melupakan, apalagi sampai menghapus kenangan semasa hidup bersama mendiang suaminya.
Hari-hari tanpa suami akan berjalan biasa-biasa saja. Tapi saat hari-hari itu ditapaki, Nile merasa alamar hum Suhan masih hidup dan ikut menemaninya ke mana pergi. Tidur bersama Sugeng, Suhan seolah ikut membangunkannya kala subuh tiba. Pun saat Sugeng menangis meminta disusui ibunya, Nile tiba-tiba terjaga dari tidurnya.
Dengan mata yang masih mengantuk berat, Nile pun mengambil  Sugeng dari box tempat tidurnya. Lalu ia gendong dan ditaruh di  sebelahnya untuk disusui. Saat penyusuan itu, kerapkali Suhan turut mene mani kala masih hidup, ikut menasehatinya kala menyusui bayi itu yang benar dan tidak boleh terlalu cepat.         
Bayi yang menyusui itu bukan hanya haus dan lapar, tapi juga ingin ia selalu dekat dengan ibunya. Sebab bagi si bayi, selain ayah, ibundanyalah orang yang pertama kali dia cari. Tempat mencurahkan segala ke inginan, kehendak dan ingin merasakan belai kasih sayang dari orang yang telah melahirkannya dengan cara bersusah payah.
Jadi tak heran bila, ibunya  bercepat-cepat menyusui bayinya, si bayi akan menangis. Dia berat melepas kan diri dari puting susu ibunya. Betapa berharganya puting susu itu bagi dia, ketika sang ibu mendekat kan lagi ke mulutnya, akan diam seketika. Tak lagi menangis. Nyaman menempel di puting susu, puas menyusu, dia pun tertidur pulas.
Melihat sang buah hati tertidur pulas, Nile pun ikut tertidur. Kebiasaan sang suami yang sering ‘ngorok’ kala tidur, sesekali terdengar. Mulanya kaget. Masak orang yang sudah meninggal dunia, tiba-tiba hidup lagi dan berada di sampingnya. Mana mungkinlah. Tak logis.
Namun, karena kejadian itu kerap berlangsung, Nile akhirnya mendiamkannya saja. Dia pura-pura tidak tahu. Suaminyakah atau makhluk halus lain yang sengaja ingin menggodanya, Nile belum sejauh itu pi kiran dan perasaannya. Yang jelas, kebiasaan Suhan itu justru menjadi pengobat kesendiriannya bersama Sugeng, yang kini hidup tanpa ayah.
Nile tak kuasa mengelak ketika Sugeng menunjuk foto ayahnya yang tersusun rapi berbingkai di atas ge robok jati rak buku. Foto itu masih utuh. Foto almarhum suaminya. Foto tu sengaja dipasang terpisah dari foto keluarga. Hanya untuk memperindah ruang yang kosong, bagian atas gerobok ukir itu.
Setiap kali bangun, Sugeng selalu menunjuk-nunjuk foto itu. Sesekali Nile menggendongnya dan mende katkan Sugeng ke foto itu. Lalu menciumnya. Dia pun senang sambil menyebut ‘papa … papa’ berulang kali. Dengan menggunakan bahasa isyarat, dia juga menghendaki sang bunda ikut mencium foto itu. Nile menuruti kemauan anaknya itu.
Esok harinya pun kejadian serupa berulang kembali. Sugeng bangun lebih pagi. Dia mengelus-elus pipi ibunya, lalu terjaga dan menunjuk ke arah foto sang ayah.
“Nanti ya say,” ucap Nile segera membalikkan badannya untuk memejamkan mata kembali.
“Mama …”
“Nanti ya say …”
Sugeng akhirnya menangis. Kalau sudah menangis, ibu mana yang tidak terusik. Dia pun mencium hang at kedua pipi si anak, lalu bergegas turun dari tempat tidur untuk kemudian mengambil foto kenangan itu.
“Ini sayang fotonya,” ujar Nile, setelah memberikan foto itu pada Sugeng, bergegas untuk tidur lagi. Hampir semalaman dia tidak bisa tidur.
Sugeng mencium-cium foto ayahnya. Dia belai dengan jemarinya yang masih lembut itu. Foto itu ia ketuk-ketukkan ke kasur, membangunkan Nile yang sempat terlelap tadinya.
Nile mengambil foto itu. Sugeng merengek minta dikembalikan. Agar tak sampai menangis, diangkatnya  Sugeng, dipindahkan ke dekatnya.   Sugeng menurut, ia kemudian asyik meraba-raba dan menepuk-ne puk foto itu, sebelum akhirnya tertidur.
Nile bangun setelah sang mama membangunkannya. Untunglah, foto itu masih tergeletak di dekatnya. Tidak sampai pecah. Sedangkan Sugeng dimandikan Noviani di kamar mandi.
“Ingat dia lagi ya,” tegur sang mama yang curiga melihat mukanya Nile agak pucat karena kurang tidur.
“Eggak Ma,” jawab Nile sambil menguap lebar.
“Tapi kalau mama perhatikan kamu kayaknya kurang tidur say …”
“Enggak juga Ma. Enggak kok. Tapi enggak lama. Soalnya, Sugengnya merengek terus …”
“Merengek kenapa say?”
“Nengokin foto ayahnya,” kata Nile memperlihatkan foto Suhan yang tampak  lebih muda dari usianya.
Bu Rustam mengambil foto berbingkai indah itu. Melihat sekilas lalu berkata:
“Apa perlu mama simpan foto ini say?”
“Enggak usah Ma. Sugengnya gimana?”
“Ya enggak apa-apa.”
“Enggak apa-apa gimana Ma. Kalau dia nanyain foto itu gimana?”
Bu Rustam berpikir sejenak.
“Eeeem mama puny ide say …”
“Ide apa itu, Ma. Seru kali kayaknya.”
“Gimana kalau foto mendiang suamimu ini kita tukar dengan foto kalian bertiga. Pasti bagus dan mama yakin Sugeng tak bakalan menangis lagi,” jelas sang mama yang merasa yakin idenya ini brilian dan ber hasil melunakkan hati cucu tersayang.   

IX
“UPPP … baaaa …!”
“Sayang, cari mama sayang …”
Sugeng berusaha mendekati  tanaman bonsai.  Berdiri sejenak, lalu menoleh ke belakang. Sang nenek cuma tersenyum sambil memegang sebuah buku lumayan tebal.
“Cari mamanya ya say …” Kata sang nenek, karena agak jauh, volume suaranya sedikit ditinggikan.
Sugeng bergerak ke kanan, yang dicari tidak ada. Bergerak ke kiri, ada seekor bebek entok sedang mencari makan. Didekatinya.
Kweeek … week … kweeek.
Si bebek berlari. Sugeng mengejarnya, sayang terjatuh. Tapi dia tidak menangis. Berdiri lagi. Karena si bebek terjun dan berenang di kolam, Sugeng tentu hanya bisa melongo, tak bisalah dia mengejarnya.
“Sugeeeeng …!”
Sugeng yang semula terkesima melihat bebek berenang, menoleh lagi ke belakang. Dia pun berlari setelah tahu Nile keluar dari persembunyiannya.
“Lari sayang …” pinta sang mama sambil ketawa geli.
Sugeng memenuhi permintaan mamanya. Dia berlari. Walaupun sempat jatuh bangun, dia akhirnya sam pai juga ke tempat mamanya berdiri. Digendong, diayun manja oleh Nile, berputar-putar beberapa kali, Sugeng bukannya takut. Dia justru kesenangan.
“Lagi Ma,” ucapnya penuh harap.
“Udah ah, mama capek,” jawab sang mama.
“Ayo dong Ma,” rengek Sugeng seraya mencubit kedua pipi ibunya.
“Gimana kalau kita susul bebek itu pakai sampan ya say. Mau kan?”
“Mauuu …” teriak Sugeng, melonjak kegirangan, lalu diam sambil melihat sang nenek yang masih asyik membaca buku dengan sesekali tersenyum dan tertawa lucu sendiri.
“Oma ikut juga ya Ma?”
“Enggak ..”
“Kenapa enggak Ma?”
“Oma tak boleh diganggu. Jadi berperahunya Sugeng sama mama aja. Gimana, mau ya?”
Sugeng mengangguk. Dia peluk erat mamanya. Nile membalasnya dengan menggendong Sugeng. Ke duanya mendekati si pemilik sampan yang lagi asyik menghitung uang. Mereka ingin naik sampan de ngan tujuan mengelilingi kolam sambil melihat bebek-bebek  berenang dan mandi di pinggir serta tengah kolam.
Karena Nile tak begitu mahir menggunakan sampan, dia meminta si pemilik sampan membawa mereka berdua mengelilingi kolam alami yang sudah direnovasi sana sini itu. Ada dua buah sampan di tengah ko lam. Penumpangnya  sepasang muda-mudi yang lagi kasmaran. Lambat jalannya, enak sambil berceng krama.
“Pak. Tolong mendekat ke bebeknya, Pak.” Pinta Nile.
“Baik Bu,” jawab lelaki berperawakan tinggi semampai itu sambil  membelokkan sampannya ke kanan, melintasi hamparan teratai yang mengurai ke permukaan air kolam.
Sepasang bebek entok tengah bercengkrama. Berenang, menyelam, timbul lagi dan kejar-kejaran. Na mun setelah itu diam seraya menggerak-gerakkan kepalanya, tatkala sampan mendekat dan Sugeng meraba bulu ekornya.
“Hati-hati sayang …!” Sang mama mengingatkan.
Sugeng acapkali mengusap-usap kepala bebek. Atas saran si pemilik sampan, sepasang bebek itu dinaik kan ke atas sampan. Tidak bertingkah. Duduk manis. Seolah menanti kemauan Sugeng yang ingin ber main dengan mereka.
“Sambil jalan saja Bu,” kata si pemilik sampan.
“Enggak apa-apa Pak?”
“Enggak Bu ….”
“Ntar yang punya ini bebek marah, gimana Pak?”
“Tenang saja Bu. Yang punya bebek itu saya sendiri kok.”
“Ok oooo. Ya sudah. Siiplah kalau gitu Pak.”
Selama sepasang bebek itu di atas sampan, tak sedetikpun mau lari dari hadapan Sugeng. Keduanya cuma kegelian ketika tangan Sugeng mengelus-elus bulu si bebek mulai dari kepala hingga ke ekornya yang indah memesona mata itu.
“Gimana say?”
“Asyik mama,” aku Sugeng.
“Pak. Terus aja jalan memutar Pak.”
“Baik Bu …”
Dari kejauhan, Oma-nya Sugeng kaget setelah melihat cucu tercinta sudah tidak ada lagi di dekatnya. Dia cari ke sana kemari. Nile yang sempat melihat ibunya hilir mudik ke sana kemari, bersegera menelepon.
Kriiiing … riiiing.
“Halo. Nile ya?”
“Ya mama,” jawab Nile sembari memegang tangan Sugeng agar sampan tak miring terlalu ke kiri.
“Aduh gimana kamu say. Mama sampai bingung. Cari kesana kemari.”
“Sekarang enggak lagi bingungnya kan Ma?”
“Masih …”
“Lho, kenapa Ma?”
“Kalian dimana sih, enggak bilang-bilang?”
“Di atas sampan Ma.”
“Apa?”
“Coba mama tengok ke kanan sebentar aja ..”
“Oke ….”
Nile melambaikan tangan. Dibalas juga dengan lambaian tangan.
“Wuiiih, anak jaman sekarang. Edan. Selalu bikin orang tua deg-degan aja,” gumam Bu Rustam.
Telepon seluler dia masukkan lagi ke dalam tas sakunya.
“Bibi …!”
Bu Rustam menoleh.
“Ei copot … ei copot,” kata Bu Rustam, sekali lagi dia mengusap-usap dadanya karena terkejut.
“Bikin kaget  bibi aja …”
Melihat bibiya kaget, Noviani buru-buru pegang tangan wanita baik hati itu. Dituntunnya menuju tem pat duduk di sudut taman. Kursi besi panjang bercat hijau yang diapit kanan kirinya dengan aneka tanaman bunga.
Hanya satu kursi taman lagi yang tersisa. Lainnya sudah terisi. Selain berusia muda, sebagian pengunju ng taman orang yang sudah berumur, lansia. Mereka sangat menikmati  teduh dan sejuknya berada di kawasan taman tanpa polusi ini.
Mengingat kembali ke masa lalu, masa muda, saat masih pacaran dulu kala. Para lansia ini asyik dengan dunianya sendiri. Berjalan berdua, camilan berdua dengan sesekali mengikuti permainan anak-anak, se perti lompat karet, bermain cak ing kling, petak umpet dan ikut menendang bola berupa balon besar  berbagai warna.
Terkadang kita yang menyaksikan hanya tersenyum geli melihat tingkah mereka. Kendati kulit sudah me ngeriput, rambut sehelaipun tak lagi berwarna hitam, tak sungkan mereka bergandengan tangan. Ber cakap-cakap, entah apa yang dicakapkan, tentu sambil tertawa. Kadang sampai tergelak dan kadang cuma sepintar terdengar di telinga.
Langkah kaki mereka, walaupun sudah melambat, masih tetap lurus ke depan. Tak ada tanda-tanda sakit encok misalnya, apalagi sampai lumpuh dan harus berjalan tertatih-tatih, hingga berpegangan tangan dan menggunakan tongkat kayu agar tidak jatuh.
Setiap yang mereka lihat seolah hidup dan berkesan. Tak jarang mereka berhenti di suatu tempat, bang ku taman yang ada air mancurnya. Hanya sekadar menikmati  suasana sejuk, jauh dari kebisingan dan hiruk pikuk kota.  Serta tenang dan alami.
Memang ada beberapa orang anak yang berlari dan berkejar-kejaran, tetapi tidak sampai mengganggu kenyamanan mereka, para lansia yang kemekmekmerasakan sejuknya pemandangan, seolah mereka berada di suatu tempat tertentu yang terpisah dari orang kebanyakan. Keasyikan sesama, baik seusia maupun tidak, yang ikut meniikmati keindahan alam sekitar.
Para lansia ini juga ikut berbaur dengan pengunjung yang lain. Menikmati aneka fasiltas yang disediakan untuk  umum.  Mulai dari sampan berkeliling, mobil taman sampai ayunan dan roda putar. Kebanyakan dari mereka t urut menjajal sampan dengan berkeliling kolam.
Malah ada di antaranya yang ingin memancing ikan, tapi tidak diperbolehkan karena area kolam khusus untuk berkeliling, berfoto ria  dan melihat seliweran ikan yang berenang di permukaan dan bawah air yang jernih, tembus pandang ke dasar kolam.
Taman kota ini sangat ramai dikunjungi warga kota pada sore hari, khususnya pada hari libur. Ada yang naik opelet, berjalan kaki dan membawa kendaraan prbadi baik yang beroda  dua maupun empat.
Pada saat tertentu, har libur besar misalnya, para seniman unjuk kebolehan di kawasan serba hijau ini. Usia mereka rata-rata masih muda. Mereka adalah seniman lukis dan nyanyi. Selalu menyedot banyak pengunjung dari berbagai usia dan kalangan serta tingkat kehidupan.
Seniman lukis, biasanya selain memamerkan lukisan yang mereka buat juga amat terampil melukis ora ng, laki-laki dan wanita. Banyak dari pengunjung yang minta dilukis merasa puas karena sanga mirip dengan objek lukis.
Goresan-goresan kuas di kanvas sangat halus dan persis sama dengan aslinya. Tidak perlu menunggu waktu yang lama. Paling satu jam selesai dan lukisan diri kita itu bisa langsung  dibawa pulang.
Bagaimana dengan seniman nyanyi?
Mereka mengambil tempat yang mudah dilihat orang. Sejuk dan teduh dengan tempat yang lebih luas agar pengunjung leluasa menikmati sajian tembang  yang dilantunkan. Tembang itu disesuaikan dengan selera pengunjung atau  kedekatannya di hati kelompok masyarakat tertentu; bisa anak-anak, muda-mudi dan lanjut usia.
Tak heran jika mereka ini piawai juga memainkan alat musik dan dendang tembang berbagai jenis mulai dari jaz, irama country, dangdut, pop, keroncong hingga rock. Pertunjukan gratis ini berlangsung sore hingga malam hari.

X
“NOVI …!” Sapa Bu Rustam yang mulai gelisah karena sang cucu belum juga turun dari sampan.
“Ya Bi,” jawab Noviani yang terus menghibur Bu Rustam dengan mengusap lembut pundaknya sambil berkelakar ringan.
“BiJe mana?”
“Itu Bi,” ucap Noviani setelah BiJe nongol dari balik kerumunan orang yang menonton tukang obat menjajakan obat di tanah lapang taman kota.
“Enggak sama kamu, Vi?”
“Aku duluan, Bi.”
“Lho kenapa? Marahan?”
“Enggak kenapa-kenapa, Bi,” kata Noviani, melempar seyum ke sepasang lansia yang lewat di depan mereka barusan dengan hanya mengenakan celana pendek dan baju kaos oblong.
“BiJe tahu enggak kamu …?”
“Tahu, Bi. Aku sendiri yang ngomong ke Mas BiJe,” jelas Noviani malu-malu.
“Kenapa, enggak suka apa?”
“Suka, Bi.”
“Nah, ketahun kan. Situ suka sama BiJe.”
“Bukan begitu, Bi. Suka diajak jalan sama Mas BiJe tadi,” kilah Noviani.
“Dengan orangnya kagak?”
Noviani diam. Bu Rustam mendehem. Dia bisa membaca dari raut muka Noviani, tampak ceria saat disebut nama BiJe.
“BiJe itu orangnya baik. Kalau enggak percaya tanya aja sama kakakmu Nile,” kata Bu Rustam. Mulai tenang melihat cucunya sudah turun dari sampan bersama ibundanya.
“Ogah Bi,” kata Noviani.
“Kenapa? Malu ya?”
Noviani kembali diam.
“Nanti bibi omongin sama Nile ya.”
“Jangan Bi. Enggak usah.” Nile berharap bibinya mengurungkan niatnya.
Sang Bibi tak menanggapinya. Ia cepat-cepat berdiri dan siap menyambut Sugeng yang datang sambil menggendong seekor bebek, seekornya lagi digendong Nile.
Cucu dan Oma ini saling berpelukan. Sejenak sebelum digendong BiJe dan dibawanya ke kemah dekat pohon besar di ujung taman.
“Tunggu mama Om,” kata Sugeng menoleh sang mama yang asyik tertawa bersama ibunya dan Noviani.
Sugeng minta diturunkan dari gendongan, lalu berlari menemui ibundanya. BiJe terus berjalan dan sampai lebih dulu di kemah beralaskan tikar anyaman rotan itu.
Ditaruhnya jajanan yang baru ia beli barusan bersama Noviani di pinggir jalan tak jauh dari depan ger ba ng pintu taman. Dibaginya dalam piring yang berbeda.  Pempek umpamanya, di taruh di piring bundar sementara cukanya dimasukkan ke da lam gelas kecil plastik. Sedangkan kudapan gorengan seperti tahu, temped an bakwan, dia kumpulkan jadi satu dalam mangkuk yang besar.
Sementara roti bakar dan martabak manis masing-masing diletakkan dalam piring seng ceper. Selain aneka kudapan, BiJe juga menaruh beberapa botol air dingin dan gelas untuk minuman.
“Horeee … Om BiJe beli roti …” Teriak Sugeng, tanpa sungkan mengambil sepotong roti bakar dan melahapnya sambil  berjoget riang.
“Geng. Bilang dulu sama Om BiJe. Makasih Om.” Kata Bu Rustam mengingatkan.
“Makasih Om,” ucap Sugeng kemudian. Habis roti, dia makan pula sepotong martabak manis.
“Aduh Je. Ngerepotin aja kamu ini dari dulu,” ucap Nile. Dia tuangkan segelas air minum dari petekon plastik ke gelasnya BiJe.
“Makasih Nile,” ucap BiJe. Ia teguk air putih segelas itu. Nikmat rasanya. Terbayar sudah rahasa dahaga yang ia rasakan sejak tadi. Apalagi minuman kali ini benar-benar istimewa karena yang menuangkannya ke dalam gelas adalah Nile.
“Novi, kok bengong,” tegur Bu Rustam. Bukan bengong, Noviani hanya larut dalam aksi lucu Sugeng me lahap sekali dua pempek dos. Sedangkan Nile tampak tersenyum puas melihat BiJe  minum sampai habis segelas air putih yang ia tuangkan tadi.
“Yuk, Vi. Ayooo …!” Nile menarik tangan sepupunya itu, memintanya memilih sendiri kudapan yang tersaji.
“Jangan malu-malu ah,” goda sang bibi.
“Sama Om BiJe aja malu. Gimana kalau sama cowoknya …” Celetuk manja Sugeng.
Ha ha ha ha …
“Benar kata Sugeng itu Noviani. Jangan malulah. Sikat saja mana yang kamu suka,” ujar sahut sang bibi. Sudah tiga buah tahu dan dua tempe masuk ke perutnya barusan.
Noviani akhirnya memilih martabak manis. Semua lega. Karena kuatir Noviani enggak mau makan kuda pan. Namanya juga cewek jaman sekarang, pilih-pilih makanan sudah biasa. Maunya yang serba pedas dan asam, semisal rujak.
“Nah, kan enak,” kata Bu Rustam sembari menyodorkan segelas air putih dingin ke Noviani.
“Vi, airnya, diminum …” Sahut Nile.
“Ai bibi. Ngerepotin segala. Biar Novi ambil sendiri kenapa,” kata Noviani. Belum saatnya minum, karena disuruh minum, minumlah Novi jadinya.
Saat menikmati kudapan bersama, hujan turun rintik-rintik selama sepuluh menit. Karena tak begitu te rasa, Nile dan lainnya belum mau beranjak dari duduk lesehan di atas tikar menikmati aneka kudapan yang masih hangat itu.
Sugeng tampaknya sangat menikmati suasana sejuk di sekitar kemah. Dia perhatikan tetesan air hujan jatuh ke rerumputan. Karena rintik, tetesan itu tak terlihat jelas. Namun, beberapa saat kemudian, re rumputan yang baru saja dirapikan dengan mesin perapi rumput itu basah berair oleh air hujan.
“Cepat Geng, bawa tikarnya,” kata sang mama setelah hujan mulai turun lebat.
Sebagian kecil pengunjung bergegas masuk kemah. Namun tidak bagi Bu Rustam. Kemah tidak cukup tahan air dan luas buat menampung mereka berlima. Lebih baik berteduh saja di museum taman kota.
“Ini juga sayang,” ucap sang bunda menunjuk sebuah piring seng kosong. Tadinya tempat menaruh pempek, tapi sudah ludes disantap bersama sambil rebutan.
Noviani dan bibirnya, berdua menggulung tikar, lalu dimasukkan ke dalam kemah. Selanjutnya bersama BiJe, Nile dan Sugeng berteduh di dalam museum.  Pengunjung lain juga begitu. Untung tidak ramai nian. Jadi masih ada ruangan yang kosong buat mengaso.
Sugeng yang datang terlambat karena membantu teman seusianya menemukan ibunya yang sudah lebih dulu tiba di museum, sempat bikin panik sang nenek. Juga Nile, ikut berkeliling bersama Noviani mencari anak semata wayangnya itu.
“Hiyaaa …” Sugeng mengagetkan sang Oma dengan memeluknya dari belakang.
“Sugeng!”
“Ya Oma,” jawab Sugeng sembari menendang pelan dengan kedua kakinya  punggung sang nenek yang lagi duduk mengaso itu.
“Aduh, aduh. Sugeng, udah .. “ Sang nenek sempat kehilangan nafas karena pegangan tangan Sugeng di lehernya cukup kuat. Membuatnya terbatuk-batuk.
“Mama mana, Oma?” Sugeng tak menemukan mamanya, juga Noviani dan Om BiJe.
“Biar Sugeng susul ya Oma …”
“Geng, enggak usah …”
Sugeng berlari untuk mencari dan menemukan ibunya. Sama-sama mencari. Lucunya sering berlawanan arah. Misalnya, Bije, Noviani dan Nile ke kanan, Sugeng ke kiri. Sempat berpapasan, panggil nama, lalu hi lang lagi entah ke mana. Hilangnya di tengah kerumunan orang yang mulai banyak berteduh.
“Sugeeeeng  …!” Teriak Noviani. BiJe yang datang kemudian  bersama Nile ikut-ikutan berteriak, padahal tidak melihat dimana Sugeng berada.
“Mana Vi?”
“Tadi ada, Mbak. Dekat bapak tua yang bertongkat itu,” kata Noviani menunjuk seorang lelaki tua yang berjalan  lambat, lalu berdiri di depan sebuah patung hewan.
“Kok enggak ada ya Vi. Cari yuuuuk …! Ajak Nile yang mulai kuatir pada Sugeng, anaknya.
“Tenang Mbak.” Noviani merasa yakin Sugeng tidak akan lari ke mana. Sebab, museum taman tidak seluas taman. Lagi pula selama ini aman dan tak pernah terdengar hal-hal aneh yang terjadi pada pengunjung saat berkunjung ke pusat peninggalan sejarah ini.
“Mama …!” Teriak Sugeng, enta bagaimana sudah berdiri di belakang Nile.
Kaget nian, tentu. Dia peluk cium hangat Sugeng berulangkali. Bebeapa pengunjung ikut terkesima menyaksikan adegan barusan antara ibu dan anak.
“Jangan gitu lagi sama mama sayang ya.”
Sugeng mengangguk.
“Mama sendirian cari Sugeng?”
“Sama …”
Saat menoleh ke depan, Noviani dan BiJe sudah tidak ada lagi.
Kemana mereka berdua ya? Bisik Nile dalam hati.
“Kita cari dong Ma.” Sugeng menarik-narik tangan sang mama.
“Carinya kemana ya say?”
“Kemana ajalah Ma.”
“Kasihan Oma mu say,” ucap sang mama, “Dari tadi dia menunggu kita.”
“Lantas, Om BiJe sama Tante Novinya gimana, Ma. Nanti hilang dong,” kata Sugeng kembli menarik-narik tangan ibunya.
Nile tak tega.
“Oke say, kita cari berdua.
Kemana Noviani dan BiJe?
Rupanya mereka mencari Sugeng sampai luar gedung museum.  Setiap orang mereka tanyai. Ada yang geleng-geleng kepala,ada juga yang sempat tengok sepintas, terus hilang, pergi entah kemana.
Karena lelah mencari kesana kemari, Noviani dan BiJe masuk museum lagi. Ada kursi panjang kosong. Keduanya duduk sejenak mengaso di tempat favorit pengunjung itu.
“Mas telepon dulu ya Vi.” Kata BiJe.
Ada dering dan nada, tapi tidak diangkat. Sampai lima kali BiJe menelepon, tapi itu HaPe enggak diang kat-angat juga. Ternyata, HaPenya Nile ada tertinggal di dalam tas, sedangkan tas itu ia letakkan di dekat ibunya duduk. Sementara sang nenek, karena capek menunggu terus sedari tadi, ketiduran akhirnya. Pulas sekali tidurnya.

TOBE  CONTINUED ………