Kemiskinan (20)
Oleh aminuddin
SELAIN itu, Islam juga memiliki prinsip keadilan (‘adlah), merupakan prinsip
yang ideal dalam konsep per buruhan. Dengan prinsip ini akan menempatkan
kedua belah pihak, baik buruh maupun majikan, untuk meme nuhi perjanjian
yang telah disepekati bersama dan memenuhi kewajibannya sebagaimana
firman Allah Swt berikut ini:
“...dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia
berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan, dan
dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya), dan
mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (QS. al-Baqarah: 177).
Prinsip kesetaraan dan keadilan
semestinya mengantarkan pengusaha dan buruh kepada tujuan yang
diharap kan. Tujuan buruh adalah upah yang memadai dan kesejahteraan,
sedangkan tujuan majikan adalah berkem bangnya usaha.
Namun realitas yang
terjadi menunjukkan hubungan yang tidak seimbang antara pengusaha dan
buruh. Pe ngusaha, karena memiliki daya tawar yang lebih besar, sering
mengeksploitasi buruh. Padahal jika kedua belah pihak menjalankan tugas
dan kewajibannya dengan baik, maka tujuan tersebut dapat tercapai.
Pandangan Islam tentang upah buruh masuk dalam unsur ijrah, yang harus
memenuhi syarat-syarat kerelaan kedua belah pihak. Manfaat yang menjadi
akad harus diketahui secara sempurna sehingga tidak muncul per masalahan
di kemudian hari.
Objek akad harus halal dan upah harus jelas berupa
sesuatu yang bernilai harta (mutaqawwim). Meskipun terjadi perbedaan
dalam besar kecilnya upah, Islam mengakui kemungkinan terjadinya karena
perbedaan jenis pekerjaan, kemampuan, keahlian, dan pendidikan.
Namun, Islam juga memberi perhatian pada hak-hak lain buruh, seperti
perlindungan, mendapat jaminan sosial, kemerdekaan berbicara, hak
beristirahat (cuti), dan sebagainya.
______
Drs. Fauzi Abubakar, M.Kom.I (Magister Komunikasi Islam), Dosen STIKes Muhammadiyah, Lhokseumawe. Email: abubakarfauzi@yahoo.com
Senin, 14 Mei 2018
Kemiskinan (19)
Kemiskinan (19)
Oleh aminuddin
JAMINAN PEKERJA
NEGARA, kata Mustafa Husni Ash-Shiba'i, harus memperhatikan jaminan penuh hak setiap warga negara yang bekerja.
Undang-undang (UU) Pengayoman Masyarakat Islam memberikan jaminan penuh dalam hal keamanan kehi dupannya, kemuliaan pribadinya di kala lemah, sakit dan atau pun di kala tuanya serta hak perlindungan pada keluarga setelah wafatnya, sekiranya ia tidak berharta yang dapat diwariskannya.
Sistem yang ditawarkan Islam ada lah sistem per pekerjaan, yang di dalamnya mencakup hubungan majikan dengan buruh, dan konsep pemberian upah.
Islam memberikan penghargaan tinggi terhadap pekerjaan, dan buruh yang bekerja serta mendapatkan peng hasilan dengan tenaganya sendiri wajib dihormati. Karena dalam perspektif Islam, bekerja merupakan kewa jiban mulia bagi setiap manusia agar dapat hidup layak dan terhormat. Bahkan kedudukan buruh dalam Islam menempati posisi terhormat.
Rasulullah SAW pernah menjabat tangan seorang buruh yang bengkak karena kerja keras, lalu menciumnya dan berkata: “Inilah tangan yang dicintai Allah dan Rasul-Nya.” (HR. Bukhari).
Tolak ukur pekerjaan dalam Islam adalah kualitas dari hasil kerja tersebut, maka buruh yang baik adalah buruh yang meningkatkan kualitas kerjanya, sebagaimana firman Allah SWT:
"Dan masing-masing orang mempe roleh derajatnya dengan apa yang dikerjakannya.” (QS. Al-An’am: 132).
Mengingat pentingnya kualitas kerja ini, Rasulullah SAW menyatakan dalam satu hadisnya:
“Sesungguhnya Allah senang bila salah seorang dari kamu meninggi kan kualitas kerjanya.” (HR. Baihaqi).
Dalam memandu hubungan pengusaha dan buruh, Islam memiliki prinsip muswah (kesetaraan) dan ‘adlah (keadilan). Dengan prinsip kesetaraan menempatkan pengusaha dan pekerja pada kedudukan yang sama, yaitu saling membutuhkan.
Di satu pihak buruh membutuhkan upah dan di pihak lain pengusaha membutuhkan tenaga, maka pada saat menentukan hak dan kewajiban masing-masing didasarkan pada asas kesetaraan.
Allah SWT berfirman :
“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. al-Hujurat: 13).
Semua manusia apakah dia buruh atau pengusaha adalah sama sebagai hamba Allah. Maka hak dan ke wajiban diantara keduanya juga sama, tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah.
Pemenuhan hak-hak buruh bukan berarti mengurangi kewajiban buruh dalam melaksanakan pekerjaan se cara sungguh-sungguh sesuai de ngan perjanjian kerja.
Islam sangat menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban. Islam tidak hanya memberikan jaminan terhadap hak-hak buruh, tetapi juga menjamin hak-hak pengusaha.
Karena itu kesepakatan atau perjanjian kerja dianggap sebagai sumpah yang harus ditunaikan oleh kedua belah pihak.
Hubungan pengusaha dan buruh adalah kemitraan dalam bekerja, karena itu konsep Islam tentang hubungan ini disebut konsep penyewaan (ijrah).
Konsep penyewaan meniscayakan keseimbangan antara kedua belah pihak, sebagai mustajir (penyewa) dan mujir (pemberi sewa). Penyewa adalah pihak yang menyerahkan upah dan mendapatkan manfaat, sedangkan mujir adalah pihak yang memberikan manfaat dan mendapatkan upah.
Antara mustajir dan mujir terikat perjanjian selama waktu tertentu sesuai kesepakatan. Selama waktu itu pula, kedua belah pihak menjalankan kewajiban dan menerima hak masing-masing.
Dalam akad ijrah ini, mustajir tidak dapat menguasai mujir, karena status mujir adalah mandiri, dan hanya diambil manfaatnya saja.
Berbeda dengan jual beli, ketika akad selesai maka pembeli dapat menguasai sepenuhnya barang yang dibelinya.
Oleh aminuddin
JAMINAN PEKERJA
NEGARA, kata Mustafa Husni Ash-Shiba'i, harus memperhatikan jaminan penuh hak setiap warga negara yang bekerja.
Undang-undang (UU) Pengayoman Masyarakat Islam memberikan jaminan penuh dalam hal keamanan kehi dupannya, kemuliaan pribadinya di kala lemah, sakit dan atau pun di kala tuanya serta hak perlindungan pada keluarga setelah wafatnya, sekiranya ia tidak berharta yang dapat diwariskannya.
Sistem yang ditawarkan Islam ada lah sistem per pekerjaan, yang di dalamnya mencakup hubungan majikan dengan buruh, dan konsep pemberian upah.
Islam memberikan penghargaan tinggi terhadap pekerjaan, dan buruh yang bekerja serta mendapatkan peng hasilan dengan tenaganya sendiri wajib dihormati. Karena dalam perspektif Islam, bekerja merupakan kewa jiban mulia bagi setiap manusia agar dapat hidup layak dan terhormat. Bahkan kedudukan buruh dalam Islam menempati posisi terhormat.
Rasulullah SAW pernah menjabat tangan seorang buruh yang bengkak karena kerja keras, lalu menciumnya dan berkata: “Inilah tangan yang dicintai Allah dan Rasul-Nya.” (HR. Bukhari).
Tolak ukur pekerjaan dalam Islam adalah kualitas dari hasil kerja tersebut, maka buruh yang baik adalah buruh yang meningkatkan kualitas kerjanya, sebagaimana firman Allah SWT:
"Dan masing-masing orang mempe roleh derajatnya dengan apa yang dikerjakannya.” (QS. Al-An’am: 132).
Mengingat pentingnya kualitas kerja ini, Rasulullah SAW menyatakan dalam satu hadisnya:
“Sesungguhnya Allah senang bila salah seorang dari kamu meninggi kan kualitas kerjanya.” (HR. Baihaqi).
Dalam memandu hubungan pengusaha dan buruh, Islam memiliki prinsip muswah (kesetaraan) dan ‘adlah (keadilan). Dengan prinsip kesetaraan menempatkan pengusaha dan pekerja pada kedudukan yang sama, yaitu saling membutuhkan.
Di satu pihak buruh membutuhkan upah dan di pihak lain pengusaha membutuhkan tenaga, maka pada saat menentukan hak dan kewajiban masing-masing didasarkan pada asas kesetaraan.
Allah SWT berfirman :
“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. al-Hujurat: 13).
Semua manusia apakah dia buruh atau pengusaha adalah sama sebagai hamba Allah. Maka hak dan ke wajiban diantara keduanya juga sama, tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah.
Pemenuhan hak-hak buruh bukan berarti mengurangi kewajiban buruh dalam melaksanakan pekerjaan se cara sungguh-sungguh sesuai de ngan perjanjian kerja.
Islam sangat menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban. Islam tidak hanya memberikan jaminan terhadap hak-hak buruh, tetapi juga menjamin hak-hak pengusaha.
Karena itu kesepakatan atau perjanjian kerja dianggap sebagai sumpah yang harus ditunaikan oleh kedua belah pihak.
Hubungan pengusaha dan buruh adalah kemitraan dalam bekerja, karena itu konsep Islam tentang hubungan ini disebut konsep penyewaan (ijrah).
Konsep penyewaan meniscayakan keseimbangan antara kedua belah pihak, sebagai mustajir (penyewa) dan mujir (pemberi sewa). Penyewa adalah pihak yang menyerahkan upah dan mendapatkan manfaat, sedangkan mujir adalah pihak yang memberikan manfaat dan mendapatkan upah.
Antara mustajir dan mujir terikat perjanjian selama waktu tertentu sesuai kesepakatan. Selama waktu itu pula, kedua belah pihak menjalankan kewajiban dan menerima hak masing-masing.
Dalam akad ijrah ini, mustajir tidak dapat menguasai mujir, karena status mujir adalah mandiri, dan hanya diambil manfaatnya saja.
Berbeda dengan jual beli, ketika akad selesai maka pembeli dapat menguasai sepenuhnya barang yang dibelinya.
Kemiskinan (18)
Kemiskinan (18)
Oleh aminuddin
"INGATLAH ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat : " Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau." Tuhan berfirman : "Sesungguhnya Aku mengetahui apabyang tidak kamu ketahui." (QS Al-Baqarah 30)
"Sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda." (QS Al-Lail 4).
"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku."
"Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi Aku makan."
"Sesungguhnya Allah Dia-lah Maha Pemberi rezeki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat kokoh." (QS Adz-Dzaariyaat 56-58).
"Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur." (QS An-Nahl 78).
"Dan juga pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tiada memperhatikan?" (QS Adz-Dzaariyaat 21).
"Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (men ciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit! Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu." (QS Al-Baqarah 29).
"Yang menjadikan bumi untuk kamu sebagai tempat menetap dan Dia membuat jalan-jalan di atas bumi untuk kamu supaya kamu mendapat petunjuk." (QS Az-Zukhruf 10)
"Bukankah Kami menjadikan bumi (tempat) berkumpul, orang-orang hidup dan orang-orang mati." (QS Al-Mursalaat 25-26).
"Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata: " Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya *, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenan kan (doa hamba-Nya)." (QS Huud 61).
___________
* Maksudnya manusia dijadikan penghuni dunia untuk menguasai dan memakmurkan dunia.
Oleh aminuddin
"INGATLAH ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat : " Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau." Tuhan berfirman : "Sesungguhnya Aku mengetahui apabyang tidak kamu ketahui." (QS Al-Baqarah 30)
"Sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda." (QS Al-Lail 4).
"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku."
"Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi Aku makan."
"Sesungguhnya Allah Dia-lah Maha Pemberi rezeki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat kokoh." (QS Adz-Dzaariyaat 56-58).
"Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur." (QS An-Nahl 78).
"Dan juga pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tiada memperhatikan?" (QS Adz-Dzaariyaat 21).
"Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (men ciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit! Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu." (QS Al-Baqarah 29).
"Yang menjadikan bumi untuk kamu sebagai tempat menetap dan Dia membuat jalan-jalan di atas bumi untuk kamu supaya kamu mendapat petunjuk." (QS Az-Zukhruf 10)
"Bukankah Kami menjadikan bumi (tempat) berkumpul, orang-orang hidup dan orang-orang mati." (QS Al-Mursalaat 25-26).
"Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata: " Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya *, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenan kan (doa hamba-Nya)." (QS Huud 61).
___________
* Maksudnya manusia dijadikan penghuni dunia untuk menguasai dan memakmurkan dunia.
Bunga Sedap Malam (1)
Serial Mafia
Bunga Sedap Malam (1)
Oleh Wak Amin
SUBUH di markas kepolisian ..
Sebuah mobil jeep berhenti tak jauh dari pintu gerbang. Jeep itu berhenti sebentar, kemudian melaju lambat menuju ke pintu masuk warna cokelat muda itu.
Beberapa anggota kepolisian masih berjaga-jaga di pos masuk markas kepolisian. Mereka secara berganti an menjaga keamanan dengan berpatroli sesekali sebelum kembali ke pos. Mereka juga menggunakan sistem shift.
Setiap kendaraan yang keluar masuk harus melewati pemeriksaan intensif. Selain demi keamanan juga menertibkan arus kendaraan, berikut tingkat kepentingan mereka mendatangi markas kepolisian.
Subuh ini, belum satu pun kendaraan roda dua dan empat yang masuk dan keluar dari pintu gerbang, mobil jeep tadi kian mendekat. Lalu turun dua lelaki kekar bertampang seram.
Dua petugas jaga mempersilakan keduanya untuk duduk. Tapi tidak lama. Karena saat si petugas dan temannya 'balik badan', dua tembakan tanpa suara bersarang ke kepala mereka.
Mereka kemudian kembali ke jeep. Jeep itu pun melaju masuk ke markas kepolisian dengan lancar. Salah seorang dari mereka turun dari mobil. Menaruh sesuatu di dekat bangunan utama, lalu belakang gedung dan melepaskan empat tawanan, yakni Taici, Tauco, Taisek dan Tainen.
Pelepasan ini berlangsung kurang dari lima belas menit. Setelah melumpuhkan petugas jaga sel dengan peluru asap dan tembakan tanpa suara.
Juga ikut dilumpuhkan beberapa petugas patroli keliling setelah kepergok ingin melepaskan tembakan ke arah Taici cs.
Jeep pun meluncur dengan aman ke luar pintu gerbang markas kepolisian.
Kian menjauh ...
Tak lama kemudian terdengar suara ledakan dahsyat ...
Api membubung tinggi disertai ledakan kecil yang terdengar berulangkali.
Warga sekitar amat terkejut. Mereka berhamburan ke luar rumah. Mereka menelepon petugas pemadam kebakaran.
Karena untuk memadamkan api sebesar 'bukit' itu harus menggunakan alat dan profesionalisme petugas pemadam kebakarannya.
Api mulai mengecil setelah petugas pemadam kebakaran memadamkan kobaran api satu jam berselang. Mes ki belum seutuhnya padam, warga berharap api tidak merambat ke pemukiman mereka yang tergolong padat penduduk.
Tampak Jenderal Fahmi berbincang-bincang dengan Pak Gubernur. Di dekat keduanya ada Pak Wagub, Letnsn Sayuti, Santi dan Rahman serta beberapa petugas keamanan bersenjatakan lengkap.
"Saya minta penyebab kebakaran ini diusut tuntas Pak Jenderal," pinta Pak Gubernur sambil menoleh ke sebelah kanan; ada Letnan Sayuti, Rahman dan Santi.
"Tentu Pak Gubernur. Kami akan bekerja keras," janji Jenderal Fahmi.
"Terima kasih Jenderal. Saya tak ingin kota kita ini gaduh oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab."
Bunga Sedap Malam (1)
Oleh Wak Amin
SUBUH di markas kepolisian ..
Sebuah mobil jeep berhenti tak jauh dari pintu gerbang. Jeep itu berhenti sebentar, kemudian melaju lambat menuju ke pintu masuk warna cokelat muda itu.
Beberapa anggota kepolisian masih berjaga-jaga di pos masuk markas kepolisian. Mereka secara berganti an menjaga keamanan dengan berpatroli sesekali sebelum kembali ke pos. Mereka juga menggunakan sistem shift.
Setiap kendaraan yang keluar masuk harus melewati pemeriksaan intensif. Selain demi keamanan juga menertibkan arus kendaraan, berikut tingkat kepentingan mereka mendatangi markas kepolisian.
Subuh ini, belum satu pun kendaraan roda dua dan empat yang masuk dan keluar dari pintu gerbang, mobil jeep tadi kian mendekat. Lalu turun dua lelaki kekar bertampang seram.
Dua petugas jaga mempersilakan keduanya untuk duduk. Tapi tidak lama. Karena saat si petugas dan temannya 'balik badan', dua tembakan tanpa suara bersarang ke kepala mereka.
Mereka kemudian kembali ke jeep. Jeep itu pun melaju masuk ke markas kepolisian dengan lancar. Salah seorang dari mereka turun dari mobil. Menaruh sesuatu di dekat bangunan utama, lalu belakang gedung dan melepaskan empat tawanan, yakni Taici, Tauco, Taisek dan Tainen.
Pelepasan ini berlangsung kurang dari lima belas menit. Setelah melumpuhkan petugas jaga sel dengan peluru asap dan tembakan tanpa suara.
Juga ikut dilumpuhkan beberapa petugas patroli keliling setelah kepergok ingin melepaskan tembakan ke arah Taici cs.
Jeep pun meluncur dengan aman ke luar pintu gerbang markas kepolisian.
Kian menjauh ...
Tak lama kemudian terdengar suara ledakan dahsyat ...
Api membubung tinggi disertai ledakan kecil yang terdengar berulangkali.
Warga sekitar amat terkejut. Mereka berhamburan ke luar rumah. Mereka menelepon petugas pemadam kebakaran.
Karena untuk memadamkan api sebesar 'bukit' itu harus menggunakan alat dan profesionalisme petugas pemadam kebakarannya.
Api mulai mengecil setelah petugas pemadam kebakaran memadamkan kobaran api satu jam berselang. Mes ki belum seutuhnya padam, warga berharap api tidak merambat ke pemukiman mereka yang tergolong padat penduduk.
Tampak Jenderal Fahmi berbincang-bincang dengan Pak Gubernur. Di dekat keduanya ada Pak Wagub, Letnsn Sayuti, Santi dan Rahman serta beberapa petugas keamanan bersenjatakan lengkap.
"Saya minta penyebab kebakaran ini diusut tuntas Pak Jenderal," pinta Pak Gubernur sambil menoleh ke sebelah kanan; ada Letnan Sayuti, Rahman dan Santi.
"Tentu Pak Gubernur. Kami akan bekerja keras," janji Jenderal Fahmi.
"Terima kasih Jenderal. Saya tak ingin kota kita ini gaduh oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab."
Bunga Sedap Malam (2)
Serial Mafia
Bunga Sedap Malam (2)
Oleh Wak Amin
"AYO .. Kita rayakan kesuksesan ini," kata Tuan Marcel tertawa terbahak-bahak.
"Ayo ... Taici. Came on!" Siao Lung mempersilakan Taici lebih dulu membuka tutup botol minuman besar yang terhidang di atas meja panjang besar.
Preesh ...
Tuuusssh ...
Tutup botol terbuka. Keluar air berbusa.
Itu botol, oleh Taici dimiringkan. Un tuk kemudian diminumkan secara bergantian ke mulutnya Tuan Marcel, Siao Lung, Tainen, Tauco, Tai sek, terakhir Taici.
"Ayo kita ke dalam .."Ajak Tuan Marcel. Menuju sebuah ruangan besar di tengah ruangan lantai atas. Lantai lima.
Di ruangan ini ada tempat melantai, berdansa dan berkaraoke ria. Menghibur diri. Di ruangan berhawa sejuk ini juga seringkali digelar berbagai pertemuan penting, khusus membicarakan bisnis Tuan Marcel dan keluar ganya.
"Panggil anak buahmu itu Lung," kata Tuan Marcel. Mulai sedikit kesal melihat kelakuan Taici cs yang 'aneh'.
Mereka tak mau masuk, lebih senang bercengkrama di luar ruangan sambil memandang ke seliweran cewek yang bekerja pada perusahaan Tuan Marcel.
"Taici. Taici. Came here please!"
Ternyata di ruangan yang serba mewah dan mengundang orang terpikat untuk mencoba itu, ada ruangan khusus menyamping.
Kepada koleganya, Siao Lung, Tuan Marcel memperkenalkan beberapa wanita cantik dan dua bodyguard nya di sebuah meja khusus berenam.
Caaar ...
Lampu ruangan menyala remang-remang. Di depan ada sebuah pesawat televisi yang besar.
Televisi dinyalakan ...
Liputan peledakan markas kepolisian ...
Ssssst ...
"Simpan dulu komentarnya Ci," bi sik Siao Lung.
"Kita fokus pada tayangan di televisi itu," imbuh Siao Lung.
Pada tayangan televisi diperlihatkan bagaimana dahsyatnya peledakan markas kepolisian yang terjadi menje lang subuh tadi.
Kendati tak ada korban jiwa di kala ngan rakyat sipil, hanya beberapa gelintir petugas keamanan yang te was, peledakan itu mengagetkan banyak pihak, terutama para pejabat terkait.
Hal ini dikarenakan baru kali pertama terjadi peledakan di markas kepolisian. Sebelum ini tidak pernah sama sekali. Ini semakin menguatkan dugaan kelompok mafia semakin bertaring di kota ini.
"Catat ya Pak, Bu wartawan. Saya akan ringkus semuanya tanpa pandang bulu," janji Jenderal.Fahmi dengan suara lantang.
"Semudah itu kah Jenderal? Bagaimana sekiranya anda tidak berhasil meringkus mereka?"
"Kamu ragu?" Balik bertanya pada si wartawati.
"Ya Jenderal."
"Kenapa?"
"Karena anda sendirian Jenderal. Makanya, maaf Pak Jenderal, saya jadi ragu. Sebab yang Jenderal hadapi sekarang ini bulsn anak ingusan kemarin sore. Tapi ..."
"Tapi kenapa?"
"Amat profesional dan terorganisir.
Bunga Sedap Malam (2)
Oleh Wak Amin
"AYO .. Kita rayakan kesuksesan ini," kata Tuan Marcel tertawa terbahak-bahak.
"Ayo ... Taici. Came on!" Siao Lung mempersilakan Taici lebih dulu membuka tutup botol minuman besar yang terhidang di atas meja panjang besar.
Preesh ...
Tuuusssh ...
Tutup botol terbuka. Keluar air berbusa.
Itu botol, oleh Taici dimiringkan. Un tuk kemudian diminumkan secara bergantian ke mulutnya Tuan Marcel, Siao Lung, Tainen, Tauco, Tai sek, terakhir Taici.
"Ayo kita ke dalam .."Ajak Tuan Marcel. Menuju sebuah ruangan besar di tengah ruangan lantai atas. Lantai lima.
Di ruangan ini ada tempat melantai, berdansa dan berkaraoke ria. Menghibur diri. Di ruangan berhawa sejuk ini juga seringkali digelar berbagai pertemuan penting, khusus membicarakan bisnis Tuan Marcel dan keluar ganya.
"Panggil anak buahmu itu Lung," kata Tuan Marcel. Mulai sedikit kesal melihat kelakuan Taici cs yang 'aneh'.
Mereka tak mau masuk, lebih senang bercengkrama di luar ruangan sambil memandang ke seliweran cewek yang bekerja pada perusahaan Tuan Marcel.
"Taici. Taici. Came here please!"
Ternyata di ruangan yang serba mewah dan mengundang orang terpikat untuk mencoba itu, ada ruangan khusus menyamping.
Kepada koleganya, Siao Lung, Tuan Marcel memperkenalkan beberapa wanita cantik dan dua bodyguard nya di sebuah meja khusus berenam.
Caaar ...
Lampu ruangan menyala remang-remang. Di depan ada sebuah pesawat televisi yang besar.
Televisi dinyalakan ...
Liputan peledakan markas kepolisian ...
Ssssst ...
"Simpan dulu komentarnya Ci," bi sik Siao Lung.
"Kita fokus pada tayangan di televisi itu," imbuh Siao Lung.
Pada tayangan televisi diperlihatkan bagaimana dahsyatnya peledakan markas kepolisian yang terjadi menje lang subuh tadi.
Kendati tak ada korban jiwa di kala ngan rakyat sipil, hanya beberapa gelintir petugas keamanan yang te was, peledakan itu mengagetkan banyak pihak, terutama para pejabat terkait.
Hal ini dikarenakan baru kali pertama terjadi peledakan di markas kepolisian. Sebelum ini tidak pernah sama sekali. Ini semakin menguatkan dugaan kelompok mafia semakin bertaring di kota ini.
"Catat ya Pak, Bu wartawan. Saya akan ringkus semuanya tanpa pandang bulu," janji Jenderal.Fahmi dengan suara lantang.
"Semudah itu kah Jenderal? Bagaimana sekiranya anda tidak berhasil meringkus mereka?"
"Kamu ragu?" Balik bertanya pada si wartawati.
"Ya Jenderal."
"Kenapa?"
"Karena anda sendirian Jenderal. Makanya, maaf Pak Jenderal, saya jadi ragu. Sebab yang Jenderal hadapi sekarang ini bulsn anak ingusan kemarin sore. Tapi ..."
"Tapi kenapa?"
"Amat profesional dan terorganisir.
Bunga Sedap Malam (3)
Serial Mafia
Bunga Sedap Malam (3)
Oleh Wak Amin
HA HA HA HA ...
Plak .. Pak .. Plak .. Pak ..
"Tersanjung aku Siao Lung," kata Marcel. Mengajak bersulang koleganya. Taici cs yang berada di dekat Sang Bos ikut juga bersulang, bukan cuma Marcel, tapi sesama mereka.
Ha ha ha ha ...
Taici cs ketawa lebar ...
Ssssst ...
Diam kembali setelah ditegur Bos Siao Lung.
"Biarkan saja Lung. Biarkan mereka menikmati kemenangan ini." Marcel ketawa lebar.
Dua hari berselang ...
"Gimana Man?"
"Saya ke depan. Lindungi saya dari belakang .." Kata Rahman, dari lantai teratas gedung perkantoran lantai 25.
Rahman menyelinap ke balik dinding gedung, lalu mendekat ke pintu. Baru lima langkah, dia berbalik ke kanan, karena pintu dibuka.
Yang muncul kemudian Taici, Tai sek, Tainen dan Tauco. Mereka tampak senang karena baru mendapat bonus dari Bos Siao Lung.
"Letnan. Taici cs di sebelah saya," bisik Rahman pada Letnan Sayuti. Rahim, pengganti Santi, hendak me nyusul Rahman. Dia dan Letnan Sayuti berada di lantai atas gedung kembar.
Hanya dipisahkan satu gedung pencakar langit.
"Siaga Man. Kami mendekat," kata Letnan Sayuti.
Mengendap-endap, Letnan Sayuti dan Rahim bergerak dari kiri. Tanpa suara, mereka melompat ke gedung tempat dimana Rahman bersembunyi sekarang.
Klonteeeng ...
"Ci .. Suara apa itu?" Tanya Tauco.
Suara itu bersumber dari gudang. Tauco mendekat. Sedangkan tiga rekannya sibuk menghitung sejumlah uang hasil pembagian bonus.
Lumayan besar bonus yang didapat kali ini. Bos Siao Lung menang. Lagi untung besar.
Praaak ...
Cekraaak ...
Auuugh ...
Rintihan Tauco mengagetkan Tainen, Taisek dan Taici. Semula duduk, bergegas berdiri dan mencari asal suara itu.
"Jangan bergerak!" Letnan Sayuti dan Rahim mengarahkan pistolnya ke kepala Taici cs.
Sementara Tauco tak sadarkan diri terkena pukulan keras di kepala dan dada. Rahman mengeluarkan borgolnya.
"Jangan macam-macam!" Bentak Rahim. Melihat Tauco hendak kabur lewat pintu utama.
Bunga Sedap Malam (3)
Oleh Wak Amin
HA HA HA HA ...
Plak .. Pak .. Plak .. Pak ..
"Tersanjung aku Siao Lung," kata Marcel. Mengajak bersulang koleganya. Taici cs yang berada di dekat Sang Bos ikut juga bersulang, bukan cuma Marcel, tapi sesama mereka.
Ha ha ha ha ...
Taici cs ketawa lebar ...
Ssssst ...
Diam kembali setelah ditegur Bos Siao Lung.
"Biarkan saja Lung. Biarkan mereka menikmati kemenangan ini." Marcel ketawa lebar.
Dua hari berselang ...
"Gimana Man?"
"Saya ke depan. Lindungi saya dari belakang .." Kata Rahman, dari lantai teratas gedung perkantoran lantai 25.
Rahman menyelinap ke balik dinding gedung, lalu mendekat ke pintu. Baru lima langkah, dia berbalik ke kanan, karena pintu dibuka.
Yang muncul kemudian Taici, Tai sek, Tainen dan Tauco. Mereka tampak senang karena baru mendapat bonus dari Bos Siao Lung.
"Letnan. Taici cs di sebelah saya," bisik Rahman pada Letnan Sayuti. Rahim, pengganti Santi, hendak me nyusul Rahman. Dia dan Letnan Sayuti berada di lantai atas gedung kembar.
Hanya dipisahkan satu gedung pencakar langit.
"Siaga Man. Kami mendekat," kata Letnan Sayuti.
Mengendap-endap, Letnan Sayuti dan Rahim bergerak dari kiri. Tanpa suara, mereka melompat ke gedung tempat dimana Rahman bersembunyi sekarang.
Klonteeeng ...
"Ci .. Suara apa itu?" Tanya Tauco.
Suara itu bersumber dari gudang. Tauco mendekat. Sedangkan tiga rekannya sibuk menghitung sejumlah uang hasil pembagian bonus.
Lumayan besar bonus yang didapat kali ini. Bos Siao Lung menang. Lagi untung besar.
Praaak ...
Cekraaak ...
Auuugh ...
Rintihan Tauco mengagetkan Tainen, Taisek dan Taici. Semula duduk, bergegas berdiri dan mencari asal suara itu.
"Jangan bergerak!" Letnan Sayuti dan Rahim mengarahkan pistolnya ke kepala Taici cs.
Sementara Tauco tak sadarkan diri terkena pukulan keras di kepala dan dada. Rahman mengeluarkan borgolnya.
"Jangan macam-macam!" Bentak Rahim. Melihat Tauco hendak kabur lewat pintu utama.
Bunga Sedap Malam (4)
Serial Mafia
Bunga Sedap Malam (4)
Oleh Wak Amin
DARI stasiun televisi ...
Taici cs duduk bersama menghadap ke kamera televisi. Menjawab pertanyaan wartawan, tanya jawab ini mendapat perhatian khusus dari semua pihak.
Sebagian besar dari mereka ingin menyaksikan secara langsung sosok Taici dan kawan-kawan yang dikenal sebagai orang jahat dan meresahkan masyarakat selama ini.
Wartawati : "Bapai Taici yang terhormat. Kenapa anda jadi orang jahat? Apa sudah bosan jadi orang baik?"
Taici : "Demi fulus. Uang .."
Wartawati : "Anda senang, maksud saya, anda sangat senang dan menikmati pekerjaan yang anda geluti sekarang Tuan Taici?"
Taici : "Iya .."
Wartawati : "Termasuk melakukan dan menghilangkan nyawa orang lain?"
Taici : Sebenarnya sih tidak. Tapi sudah tugas dari Bos saya, mau gimana lagi, coba. Kalau saya menolak, saya akan menerima risikonya Mbak wartawan."
Wartawati : "Anda disiksa selama di penjara Tuan Taici?"
Taici : "Mbak sendiri pasti sudah bisa mengira-ngira apa saya disiksa atau justru dimanja selama mendekam di penjara."
Waaaau ..
Suasana mendadak riuh. Karena ada beberapa warga yang memaksa masuk ke ruangan press room atau media centre itu.
"Mohon kerjasama bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian." Rahman mencoba menenangkan, termasuk para kuli tinta yang mulai berebutan ingin bertanya.
"Saya harapkan kerjasamanya." Pinta Letnan Sayuti. Rahim meminta para awak media untuk mundur bebe rapa sentimeter ke belakang, agar ada jarak yang pas antara Taici cs dengan massa yang hadir dan ikut me nyaksikan sesi tanya jawab ini.
Pengaturan posisi ini berlangsung selama hampir setengah jam. Lebih lama dari perkiraan semula. Hal ini terjadi karena ada beberapa gelintir warga rebutan posisi di paling depan, walau harus berdiri.
"Mohon kerjasamanya." Beberapa wartawan ikut menenangkan suasana. Diputuskan untuk sama-sama duduk lesehan.
Tidak ada yang berdiri lagi ..
"Terima kasih. Terima kasih," ucap Letnan Sayuti lega.
"Rahman, lanjutkan!"
"Siap Letnan ..."
Berikutnya sesi tanya jawab wartawan dan Tauco:
Wartawan : "Selamat pagi Tuan Tauco."
Tauco : "Selamat pagi juga."
Wartawan : "Siapa Bos anda Tuan Tauco?"
Tauco : "Orang ..."
Hadirin tertawa geli.
Wartawan : (kaget sejenak). Maksud saya Tuan, kalau Tuan tidak keberatan, nama beliau bisa disebutkan ..?"
Tauco : "Siao Lung."
Haaaa ...?!
Bunga Sedap Malam (4)
Oleh Wak Amin
DARI stasiun televisi ...
Taici cs duduk bersama menghadap ke kamera televisi. Menjawab pertanyaan wartawan, tanya jawab ini mendapat perhatian khusus dari semua pihak.
Sebagian besar dari mereka ingin menyaksikan secara langsung sosok Taici dan kawan-kawan yang dikenal sebagai orang jahat dan meresahkan masyarakat selama ini.
Wartawati : "Bapai Taici yang terhormat. Kenapa anda jadi orang jahat? Apa sudah bosan jadi orang baik?"
Taici : "Demi fulus. Uang .."
Wartawati : "Anda senang, maksud saya, anda sangat senang dan menikmati pekerjaan yang anda geluti sekarang Tuan Taici?"
Taici : "Iya .."
Wartawati : "Termasuk melakukan dan menghilangkan nyawa orang lain?"
Taici : Sebenarnya sih tidak. Tapi sudah tugas dari Bos saya, mau gimana lagi, coba. Kalau saya menolak, saya akan menerima risikonya Mbak wartawan."
Wartawati : "Anda disiksa selama di penjara Tuan Taici?"
Taici : "Mbak sendiri pasti sudah bisa mengira-ngira apa saya disiksa atau justru dimanja selama mendekam di penjara."
Waaaau ..
Suasana mendadak riuh. Karena ada beberapa warga yang memaksa masuk ke ruangan press room atau media centre itu.
"Mohon kerjasama bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian." Rahman mencoba menenangkan, termasuk para kuli tinta yang mulai berebutan ingin bertanya.
"Saya harapkan kerjasamanya." Pinta Letnan Sayuti. Rahim meminta para awak media untuk mundur bebe rapa sentimeter ke belakang, agar ada jarak yang pas antara Taici cs dengan massa yang hadir dan ikut me nyaksikan sesi tanya jawab ini.
Pengaturan posisi ini berlangsung selama hampir setengah jam. Lebih lama dari perkiraan semula. Hal ini terjadi karena ada beberapa gelintir warga rebutan posisi di paling depan, walau harus berdiri.
"Mohon kerjasamanya." Beberapa wartawan ikut menenangkan suasana. Diputuskan untuk sama-sama duduk lesehan.
Tidak ada yang berdiri lagi ..
"Terima kasih. Terima kasih," ucap Letnan Sayuti lega.
"Rahman, lanjutkan!"
"Siap Letnan ..."
Berikutnya sesi tanya jawab wartawan dan Tauco:
Wartawan : "Selamat pagi Tuan Tauco."
Tauco : "Selamat pagi juga."
Wartawan : "Siapa Bos anda Tuan Tauco?"
Tauco : "Orang ..."
Hadirin tertawa geli.
Wartawan : (kaget sejenak). Maksud saya Tuan, kalau Tuan tidak keberatan, nama beliau bisa disebutkan ..?"
Tauco : "Siao Lung."
Haaaa ...?!
Bunga Sedap Malam (5)
Serial Mafia
Bunga Sedap Malam (5)
0leh Wak Amin
"LUNG ... Siao Lung!"
"Ya Cel. What happend?"
"Coba deh kau nyalakan televisi."
"Sekarang?"
"Iya. Buka aja. Pasti seru .."
"Oke ..."
Televisi dinyalakan ...
Haaa ...?
Pas nian ...
Siao Lung kaget. Terperanjat ia melihat Tauco senyum-senyum sambil menyebut namanya berkali-kali saat ditanya wartawan.
"Kampret ..!" Umpat Siao Lung. Tak terima namanya disebut-sebut. Walau dia tahu pihak kepolisian sudah mengetahui dalang dari peristiwa peledakan bom beberapa hari lalu itu.
Kriiing ...
Kriiing ...
Kriiing ...
Kletek ...
"Namamu disebut kan?"
"All right."
"Terus .. Kamu diam saja?"
"Ya enggaklah ..."
"Apa rencana kamu?"
"Gue mau sikat habislah."
"Betul. Aku setuju. Bila kamu perlu bantuanku, teleponlah aku." Kata Marcel memanas-manasi.
Menurut dia, sebaiknya jangan terlalu lama membiarkan Taici cs 'bersiul riang' di sel tahanan.
"Membahayakan kita semua. Harus dihentikan secepatnya. Paham maksudku Siao Lung?"
"Paham Cel."
Giliran Tainen yang ditanya ...
Wartawati : "Anda tidak mencoba untuk keluar dari pekerjaan anda sekarang Tuan Tainen?"
Tainen : "Payah Mbak wartawan."
Wartawati : "Kenapa Tuan?"
Tainen : "Kalau saya keluar, lantas saya harus kerja apa di luar?"
Wartawati : "Buanyak sekali Tuan Tainen. Melihat badan anda yang lumayan berotot, kenapa tidak melamar jadi satpam saja."
Tainen : (Tertawa ..) Enggak mah ah."
Wartawati : "Kenapa Tuan? Enggak enak? Atau berat risikonya?"
Tainen : "Gajinya kecil, kerjanya gede. Berat gitu Mbak. Mana tahaaaan .."
Ha ha ha ha ...
Selanjutnya giliran Taisek ...
Dia tampak sangat nervous dan takut. Karena pertanyaan yang mengarah kepadanya seputar aktivitas Siao Lung dan bisnis yang ia jakankan.
"Maaf bapak dan ibu wartawan. Saya kurang begitu tahu kalau soal aktivitas dan bisnis Bos saya. Saya tahunya kerja saja," kata Taisek dengan nada gugup.
Wartawan : "Boleh kami tahu Pak Taisek. Kerja apa yang sering bapak lakukan bersama teman-teman?"
Taisek : "Mengintai, menyiksa, membunuh, itulah kira-kira."
Wartawan : "Yang lain Pak?"
Taisek : "Mencari perempuan muda untuk dijadikan agen prostitusi."
Waaaau ...
Bunga Sedap Malam (5)
0leh Wak Amin
"LUNG ... Siao Lung!"
"Ya Cel. What happend?"
"Coba deh kau nyalakan televisi."
"Sekarang?"
"Iya. Buka aja. Pasti seru .."
"Oke ..."
Televisi dinyalakan ...
Haaa ...?
Pas nian ...
Siao Lung kaget. Terperanjat ia melihat Tauco senyum-senyum sambil menyebut namanya berkali-kali saat ditanya wartawan.
"Kampret ..!" Umpat Siao Lung. Tak terima namanya disebut-sebut. Walau dia tahu pihak kepolisian sudah mengetahui dalang dari peristiwa peledakan bom beberapa hari lalu itu.
Kriiing ...
Kriiing ...
Kriiing ...
Kletek ...
"Namamu disebut kan?"
"All right."
"Terus .. Kamu diam saja?"
"Ya enggaklah ..."
"Apa rencana kamu?"
"Gue mau sikat habislah."
"Betul. Aku setuju. Bila kamu perlu bantuanku, teleponlah aku." Kata Marcel memanas-manasi.
Menurut dia, sebaiknya jangan terlalu lama membiarkan Taici cs 'bersiul riang' di sel tahanan.
"Membahayakan kita semua. Harus dihentikan secepatnya. Paham maksudku Siao Lung?"
"Paham Cel."
Giliran Tainen yang ditanya ...
Wartawati : "Anda tidak mencoba untuk keluar dari pekerjaan anda sekarang Tuan Tainen?"
Tainen : "Payah Mbak wartawan."
Wartawati : "Kenapa Tuan?"
Tainen : "Kalau saya keluar, lantas saya harus kerja apa di luar?"
Wartawati : "Buanyak sekali Tuan Tainen. Melihat badan anda yang lumayan berotot, kenapa tidak melamar jadi satpam saja."
Tainen : (Tertawa ..) Enggak mah ah."
Wartawati : "Kenapa Tuan? Enggak enak? Atau berat risikonya?"
Tainen : "Gajinya kecil, kerjanya gede. Berat gitu Mbak. Mana tahaaaan .."
Ha ha ha ha ...
Selanjutnya giliran Taisek ...
Dia tampak sangat nervous dan takut. Karena pertanyaan yang mengarah kepadanya seputar aktivitas Siao Lung dan bisnis yang ia jakankan.
"Maaf bapak dan ibu wartawan. Saya kurang begitu tahu kalau soal aktivitas dan bisnis Bos saya. Saya tahunya kerja saja," kata Taisek dengan nada gugup.
Wartawan : "Boleh kami tahu Pak Taisek. Kerja apa yang sering bapak lakukan bersama teman-teman?"
Taisek : "Mengintai, menyiksa, membunuh, itulah kira-kira."
Wartawan : "Yang lain Pak?"
Taisek : "Mencari perempuan muda untuk dijadikan agen prostitusi."
Waaaau ...
Rabu, 09 Mei 2018
Kemiskinan (17)
Kemiskinan (17)
Oleh aminuddin
PENDEKATAN keempat, negara harus lebih banyak membuka lapangan kerja dengan lebih mengu tamakan tenaga manusia.
Hal ini sesuai dengan firman-Nya:
"Allah-lah yang menjadikan bumi sebagai tempat kamu menetap dan langit sebagai atap, dan memben tuk kamu, lalu membaguskan rupa mu serta memberi kamu rezeki de ngan sebagian yang baik-baik. Yang demikian itu adalah Allah Tuhan mu, Maha Agung Allah, Tuhan semesta alam." (QS Al-Israa' 26)
"Dia-lah Tuhan yang menjadikan kamu dapat berjalan di daratan, (berlayar) di lautan. Sehingga apabila kamu berada di dalam bahtera, dan meluncurlah bahtera itu membawa orang-orang yang ada di dalamnya dengan tiupan angin yang baik, dan mereka bergembira karenanya, datanglah angin badai, dan (apabila) gelombang dari sege nap penjuru menimpanya, dan mereka yakin bahwa mereka telah terkepung (bahaya), maka mereka berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya semata-mata. (Mereka berkara) : " Sesungguhnya jika Engkau menyelamatkan kami dari bahaya ini, pastilah kami akan termasuk orang-orang yang bersyukur." (QS Yunus 22)
"Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan. Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami cipta kan." (QS Al-Israa' 70)
"Allah-lah yang menjadikan malam untuk kamu supaya kamu beristi rahat padanya; dan menjadikan siang terang benderang. Sesungguhnya Allah benar-benar mempunyai karunia yang dilimpahkan atas manusia, akan tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur."
"Yang demikian itu adalah Allah Tuhanmu, Pencipta segala sesuatu, tiada Tuhan melainkan Dia, maka bagaimanakah kamu dapat dipalingkan?"
"Seperti demikianlah dipalingkan orang-orang yang selalu menging kari ayat-ayat Allah."
"Allah-lah yang menjadikan bumi bagi kamu tempat menetap dan langit sebagai atap, dan membentuk kamu lalu membaguskan rupamu serta memberi kamu rezeki dengan sebagian yang baik-baik. Yang demikian itu adalah Allah Tuhanmu, Maha Agung Allah, Tuhan semesta alam." (QS Al-Mu'min 61-64).
Oleh aminuddin
PENDEKATAN keempat, negara harus lebih banyak membuka lapangan kerja dengan lebih mengu tamakan tenaga manusia.
Hal ini sesuai dengan firman-Nya:
"Allah-lah yang menjadikan bumi sebagai tempat kamu menetap dan langit sebagai atap, dan memben tuk kamu, lalu membaguskan rupa mu serta memberi kamu rezeki de ngan sebagian yang baik-baik. Yang demikian itu adalah Allah Tuhan mu, Maha Agung Allah, Tuhan semesta alam." (QS Al-Israa' 26)
"Dia-lah Tuhan yang menjadikan kamu dapat berjalan di daratan, (berlayar) di lautan. Sehingga apabila kamu berada di dalam bahtera, dan meluncurlah bahtera itu membawa orang-orang yang ada di dalamnya dengan tiupan angin yang baik, dan mereka bergembira karenanya, datanglah angin badai, dan (apabila) gelombang dari sege nap penjuru menimpanya, dan mereka yakin bahwa mereka telah terkepung (bahaya), maka mereka berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya semata-mata. (Mereka berkara) : " Sesungguhnya jika Engkau menyelamatkan kami dari bahaya ini, pastilah kami akan termasuk orang-orang yang bersyukur." (QS Yunus 22)
"Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan. Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami cipta kan." (QS Al-Israa' 70)
"Allah-lah yang menjadikan malam untuk kamu supaya kamu beristi rahat padanya; dan menjadikan siang terang benderang. Sesungguhnya Allah benar-benar mempunyai karunia yang dilimpahkan atas manusia, akan tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur."
"Yang demikian itu adalah Allah Tuhanmu, Pencipta segala sesuatu, tiada Tuhan melainkan Dia, maka bagaimanakah kamu dapat dipalingkan?"
"Seperti demikianlah dipalingkan orang-orang yang selalu menging kari ayat-ayat Allah."
"Allah-lah yang menjadikan bumi bagi kamu tempat menetap dan langit sebagai atap, dan membentuk kamu lalu membaguskan rupamu serta memberi kamu rezeki dengan sebagian yang baik-baik. Yang demikian itu adalah Allah Tuhanmu, Maha Agung Allah, Tuhan semesta alam." (QS Al-Mu'min 61-64).
Mawar mewangi (18-TAMAT)
Serial Mafia
Mawar Mewangi (18-TAMAT)
Oleh Wak Amin
"THANK'S Marcel," ucap Siao Lung sesaat setelah helikopter mendarat lapter mini kediaman Marcel.
Marcel kemudian mengajak sahabat dekatnya itu ke kediamannya. Mereka sejenak beristirahat di tepi kolam.
"Mau mandi Lung?"
"Boleh juga Cel. Sekalian coba dulu kolammu ini ..."
Ha ha ha ...
"Tak usah dicoba lagi Lung. Pasti kamu suka."
"Oke .."
"Mau ditemani?" Marcel mengalihkan pandangan matanyake beberapa wanita muda usia yang lagi berjemur di kursi panjang sambil membaca koran.
"No thank's Marcel," jawab Siao Lung seraya menceburkan diri (nyerucup) ke kolam.
Byuuur ...
Di rumah sakit ...
Letnan Sayuti, Santi dan Rahman, ketiganya harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit.
Meski tidak terlalu parah lukanya akibat serpihan kaca, dan benturan benda keras pasca bertubi-tubinya tembakan yang dilepaskan.
Jenderal Fahmi, pimpinan tertinggi pasukan keamanan merasa tiga bawahannya itu harus dirawat. Paling ti dak efek keterkejutan dan kelelahan menangkap buruan kakap Siao Lung tidak terseret ke perilaku dan tindakan yang membahayakan orang lain.
"Bisa sabar kan Non Santi?" Tanya Jenderal Fahmi ketika menjenguk Santi seusai diperiksa tim dokter yang merawatnya di sal rumah sakit.
Santi mengiyakan. Dia sangat berterima kasih pada Jenderal Fahmi yang mau dan berkesempatan men jenguknya.
"Kamu juga Rahman." Sambil berkelakar Jenderal Fahmi mengaku senang jika Rahman dan Santi bisa jodohan.
"Dan terus kawin kan Jenderal," sahut Letnan Sayuti, ketawa lebar, seperti kebiasaannya selama ini di kantor.
Ha ha ha ha ...
Dratag ...
Kreeeng ...
Ranjang yang ditempati Letnan Sa yuti 'ambruk'. Letnan Sayuti jatuh terduduk. Sesaat hening.
Namun setelah diamankan beberapa petugas rumah sakit, Letnan Sayuti tertawa lagi.
"Mungkin ini pertanda ucapan saya barusan ada benarnya Jenderal .."
Ha ha ha ha ...
"Tentang apa ya?" Jenderal Fahmi pura-pura tidak tahu.
"Kawin Jenderal."
"Siapakah?"
"Non Santi dan Tuan Rahman, Jenderal."
Ha ha ha ha ...
Sontak rumah sakit berubah riuh oleh tawa Letnan Sayuti, diikuti Jenderal Fahmi, Santi dan Rahman.
Guyonan segar itu ternyata menggelitik hati Rahman. Pasalnya, selama ini pria ganteng ini tidak pernah me mikirkan yang namanya pacar, apalagi calon pendamping hidup.
TAMAT
Bersambung ke BUNGA SEDAP MALAM
Mawar Mewangi (18-TAMAT)
Oleh Wak Amin
"THANK'S Marcel," ucap Siao Lung sesaat setelah helikopter mendarat lapter mini kediaman Marcel.
Marcel kemudian mengajak sahabat dekatnya itu ke kediamannya. Mereka sejenak beristirahat di tepi kolam.
"Mau mandi Lung?"
"Boleh juga Cel. Sekalian coba dulu kolammu ini ..."
Ha ha ha ...
"Tak usah dicoba lagi Lung. Pasti kamu suka."
"Oke .."
"Mau ditemani?" Marcel mengalihkan pandangan matanyake beberapa wanita muda usia yang lagi berjemur di kursi panjang sambil membaca koran.
"No thank's Marcel," jawab Siao Lung seraya menceburkan diri (nyerucup) ke kolam.
Byuuur ...
Di rumah sakit ...
Letnan Sayuti, Santi dan Rahman, ketiganya harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit.
Meski tidak terlalu parah lukanya akibat serpihan kaca, dan benturan benda keras pasca bertubi-tubinya tembakan yang dilepaskan.
Jenderal Fahmi, pimpinan tertinggi pasukan keamanan merasa tiga bawahannya itu harus dirawat. Paling ti dak efek keterkejutan dan kelelahan menangkap buruan kakap Siao Lung tidak terseret ke perilaku dan tindakan yang membahayakan orang lain.
"Bisa sabar kan Non Santi?" Tanya Jenderal Fahmi ketika menjenguk Santi seusai diperiksa tim dokter yang merawatnya di sal rumah sakit.
Santi mengiyakan. Dia sangat berterima kasih pada Jenderal Fahmi yang mau dan berkesempatan men jenguknya.
"Kamu juga Rahman." Sambil berkelakar Jenderal Fahmi mengaku senang jika Rahman dan Santi bisa jodohan.
"Dan terus kawin kan Jenderal," sahut Letnan Sayuti, ketawa lebar, seperti kebiasaannya selama ini di kantor.
Ha ha ha ha ...
Dratag ...
Kreeeng ...
Ranjang yang ditempati Letnan Sa yuti 'ambruk'. Letnan Sayuti jatuh terduduk. Sesaat hening.
Namun setelah diamankan beberapa petugas rumah sakit, Letnan Sayuti tertawa lagi.
"Mungkin ini pertanda ucapan saya barusan ada benarnya Jenderal .."
Ha ha ha ha ...
"Tentang apa ya?" Jenderal Fahmi pura-pura tidak tahu.
"Kawin Jenderal."
"Siapakah?"
"Non Santi dan Tuan Rahman, Jenderal."
Ha ha ha ha ...
Sontak rumah sakit berubah riuh oleh tawa Letnan Sayuti, diikuti Jenderal Fahmi, Santi dan Rahman.
Guyonan segar itu ternyata menggelitik hati Rahman. Pasalnya, selama ini pria ganteng ini tidak pernah me mikirkan yang namanya pacar, apalagi calon pendamping hidup.
TAMAT
Bersambung ke BUNGA SEDAP MALAM
Mawar Mewangi (16)
Serial Mafia
Mawar Mewangi (16)
Oleh Wak Amin
SEMPAT terjadi tembak menembak.
Setelah itu hening ...
Lima orang kepercayaan Siao Lung tetap siaga penuh. Mereka terus berusaha melindungi Sang Bos dari tembakan pasukan keamanan, khususnya Santi, Rahman dan Letnan Sayuti.
Pintu lift sesekali tutup buka. Beberapa anggota pasukan menyisir lewat tangga. Praktis tak ada tempat buat Bos Siao Lung dan orang kepercayaannya melarikan diri.
Sudah terkepung ...
Maka itu, untuk menghindari upaya penangkapan, Bos Siao Lung memu tuskan untuk sembunyi di lantai pa ling atas, 20. Dia berharap ada bantuan penyelamatan dari anggota kelompok koleganya.
Dooor ..
Door ...
Dooor ...
Tiga kali tembakan Rahman berhasil menewaskan satu orang kepercayaan Siao Lung saat yang bersangku tan menembak secara membabi-buta beberapa anggota pasukan keamanan yang baru sampai ke lantai 19.
Melihat rekannya tewas, salah seorang dari empat 'pengawal khusus' Siao Lung, melempar granat asap.
Gueeer ...
Gueeer ...
Terdengar ledakan kecil. Meski tiddak menimbulkan korban jiwa, karena menebarkan asap beracun, membuat samar penglihatan pasukan keamanan.
Saat itulah, terdengar rentetan tembakan dari sebelah kanan. Empat lelaki kekar dengan gagah berani serempat menembak, mengakibatkan banyaknya korban tewas dari pihak keamanan.
Santi melihat ada sekelebat bayang-bayang di dekatnya. Seorang lelaki bersenjatakan lengkap berlari ke dekat lif.
"Mati kau jahanam." Pekik Santi.
Door ...
Door ...
Enam kali tembakan. Laki-laki berperawakan kekar tinggi besar itu jatuh terkapar. Jasadnya dimasukkan Santi ke dalam lift, menuju ke lantai dasar.
Melihat anggota pasukannya tewas, Letnan Sayuti sangat geram. Dia kemudian mengendap-endap ke balik pintu, berusaha mendekat ke tiga lelaki tinggi besar dan lumayan tampan itu.
Ketiganya masih berdiri di depan salah satu pintu kamar. Lalu menuju lantai teratas melalui lift.
Pandangan mata masih kabur karena asap putih masih ada tersisa.
"Man ..."
"Saya di belakang Letnan sekarang," ucap Rahman setengah berbisik.
"Santi?"
"Di belakang saya Letnan ..."
"Oke. Lindungi saya."
"Siap Letnan."
Letnan Sayuti memutuskan bertiarap. Secara perlahan menggerakkan tubuhnya ke depan, walau berat.
Tentu dibantu Santi dan Rahman dari belakang. Sekuat tenaga mereka mendorong kedua kaki Letnan Sayuti.
Seeeer ...
Meluncur bak papan peluncur. Berhasi mencengkram kaki pria di depannya. Jatuh terlentang.
Terjadi pergumulan hebat. Saling tindih, cekik leher, pukul muka dan melepaskan tendangan.
Buuug ...
Guaaarrr ...
Letnan Sayuti mendorong tubuh lawannya. Terpundur, mengenai dinding beton.
Lawan masih sempat membidikkan senjatanya untuk menghabisi Letnan Sayuti.
Door ...
Dooor ...
Santi dan Rahman mendahuluinya. Dua tembakan dari pistol berbeda. Menembus kepala dan dada lawan.
Tewas seketika ...
Mawar Mewangi (16)
Oleh Wak Amin
SEMPAT terjadi tembak menembak.
Setelah itu hening ...
Lima orang kepercayaan Siao Lung tetap siaga penuh. Mereka terus berusaha melindungi Sang Bos dari tembakan pasukan keamanan, khususnya Santi, Rahman dan Letnan Sayuti.
Pintu lift sesekali tutup buka. Beberapa anggota pasukan menyisir lewat tangga. Praktis tak ada tempat buat Bos Siao Lung dan orang kepercayaannya melarikan diri.
Sudah terkepung ...
Maka itu, untuk menghindari upaya penangkapan, Bos Siao Lung memu tuskan untuk sembunyi di lantai pa ling atas, 20. Dia berharap ada bantuan penyelamatan dari anggota kelompok koleganya.
Dooor ..
Door ...
Dooor ...
Tiga kali tembakan Rahman berhasil menewaskan satu orang kepercayaan Siao Lung saat yang bersangku tan menembak secara membabi-buta beberapa anggota pasukan keamanan yang baru sampai ke lantai 19.
Melihat rekannya tewas, salah seorang dari empat 'pengawal khusus' Siao Lung, melempar granat asap.
Gueeer ...
Gueeer ...
Terdengar ledakan kecil. Meski tiddak menimbulkan korban jiwa, karena menebarkan asap beracun, membuat samar penglihatan pasukan keamanan.
Saat itulah, terdengar rentetan tembakan dari sebelah kanan. Empat lelaki kekar dengan gagah berani serempat menembak, mengakibatkan banyaknya korban tewas dari pihak keamanan.
Santi melihat ada sekelebat bayang-bayang di dekatnya. Seorang lelaki bersenjatakan lengkap berlari ke dekat lif.
"Mati kau jahanam." Pekik Santi.
Door ...
Door ...
Enam kali tembakan. Laki-laki berperawakan kekar tinggi besar itu jatuh terkapar. Jasadnya dimasukkan Santi ke dalam lift, menuju ke lantai dasar.
Melihat anggota pasukannya tewas, Letnan Sayuti sangat geram. Dia kemudian mengendap-endap ke balik pintu, berusaha mendekat ke tiga lelaki tinggi besar dan lumayan tampan itu.
Ketiganya masih berdiri di depan salah satu pintu kamar. Lalu menuju lantai teratas melalui lift.
Pandangan mata masih kabur karena asap putih masih ada tersisa.
"Man ..."
"Saya di belakang Letnan sekarang," ucap Rahman setengah berbisik.
"Santi?"
"Di belakang saya Letnan ..."
"Oke. Lindungi saya."
"Siap Letnan."
Letnan Sayuti memutuskan bertiarap. Secara perlahan menggerakkan tubuhnya ke depan, walau berat.
Tentu dibantu Santi dan Rahman dari belakang. Sekuat tenaga mereka mendorong kedua kaki Letnan Sayuti.
Seeeer ...
Meluncur bak papan peluncur. Berhasi mencengkram kaki pria di depannya. Jatuh terlentang.
Terjadi pergumulan hebat. Saling tindih, cekik leher, pukul muka dan melepaskan tendangan.
Buuug ...
Guaaarrr ...
Letnan Sayuti mendorong tubuh lawannya. Terpundur, mengenai dinding beton.
Lawan masih sempat membidikkan senjatanya untuk menghabisi Letnan Sayuti.
Door ...
Dooor ...
Santi dan Rahman mendahuluinya. Dua tembakan dari pistol berbeda. Menembus kepala dan dada lawan.
Tewas seketika ...
Mawar Mewangi (17)
Serial Mafia
Mawar Mewangi (17)
Oleh Wak Amin
TERJADI duel seru antara Santi dan Rahman dengan tiga pengawal Siao Lung. Saling jual beli pukulan, se dangkan Letnan Sayuti kini berha dapan one by one dengan Sang Bos.
"Ternyata ini Bosnya ya. Tak sangka aku. Kurus dan sepertinya penyakitan," sindir Letnan Sayuti.
"Mending aku. Kamu gendut," balas Bos Siao Lung.
Kroceeek ...
Buuugh ...
Letnan Sayuti memperlihatkan tangannya seolah tengah mencekik orang sebelum dibanting sampai pingsan ke lantai.
"Coba saja kalau berani." Tantang Bos Siao Lung.
"Oke. Saya takut."
Ketika Letnan Sayuti melangkahkan kaki ke depan, Bos Siao Lung bergerak ke kanan sambil mengamati gerak kaki dan tangan lawannya.
Letnan Sayuti tidak gentar. Dia terus mendekat. Seketika itu juga Siao Lung melepaskan pukulan kerasnya ke perut.
Drub .. Duub ...
Ha hua ha ha ...
"Pukulan tempe," ejek Letnan Sayuti.
Emosi tersulut, Siao Lung memutar badannya dengan cepat, lalu empat tendangan beruntun tepat mengenai wajah Letnan Sayuti.
Terpundur sedikit.
Setelah itu ketawa mengejek ..
"Boleh juga tendanganmu Bos. Belajar dari mana kau?"
"Belajar sendiri," jawab Siao Lung geram.
"Pantes sakitnya kayak semut." Letnan Sayuti ketawa lebar.
Hiyaaat ...
Berkali-kali perut, dada dan kepala Letnan Sayuti terkena pukulan dan tendangan. Tapi dia terus mende
kat.
Dicengkramnya leher Siao Lung. Lalu diangkat dan dibanting ke lantai.
Saat bersamaan, sebuah helikopter mendekat ke jendela apartemen. Lalu terdengar tembakan bertubi-tubi ke arah Letnan Sayuti, Rahman dan Santi.
Bos Siao Lung berdiri. Dalam kondi si terhuyung-huyung, dia mendekati jendela. Setelah itu dia menuju balkon.
Helikopter kian merapat ke balkon, lalu salah seorang dari penembak jitu melemparkan tali menyerupai tangga.
"Lompat Bos!" Teriaknya.
Dengan kekuatan tersisa, Siao Lung melompat dari balkon, berpegang an di ujung tali yang terbikin dari bahan kayu.
Santi tersadar dari pingsannya. Dia melihat ada sebuah helikopter . Dia mendekat ke jendela.
Dia hanya bisa 'mengumpat' kesal melihat Bos Siao Lung menaiki anak tangga, berhasil masuk ke helikopter yang terbang rendah menuju selatan.
Mawar Mewangi (17)
Oleh Wak Amin
TERJADI duel seru antara Santi dan Rahman dengan tiga pengawal Siao Lung. Saling jual beli pukulan, se dangkan Letnan Sayuti kini berha dapan one by one dengan Sang Bos.
"Ternyata ini Bosnya ya. Tak sangka aku. Kurus dan sepertinya penyakitan," sindir Letnan Sayuti.
"Mending aku. Kamu gendut," balas Bos Siao Lung.
Kroceeek ...
Buuugh ...
Letnan Sayuti memperlihatkan tangannya seolah tengah mencekik orang sebelum dibanting sampai pingsan ke lantai.
"Coba saja kalau berani." Tantang Bos Siao Lung.
"Oke. Saya takut."
Ketika Letnan Sayuti melangkahkan kaki ke depan, Bos Siao Lung bergerak ke kanan sambil mengamati gerak kaki dan tangan lawannya.
Letnan Sayuti tidak gentar. Dia terus mendekat. Seketika itu juga Siao Lung melepaskan pukulan kerasnya ke perut.
Drub .. Duub ...
Ha hua ha ha ...
"Pukulan tempe," ejek Letnan Sayuti.
Emosi tersulut, Siao Lung memutar badannya dengan cepat, lalu empat tendangan beruntun tepat mengenai wajah Letnan Sayuti.
Terpundur sedikit.
Setelah itu ketawa mengejek ..
"Boleh juga tendanganmu Bos. Belajar dari mana kau?"
"Belajar sendiri," jawab Siao Lung geram.
"Pantes sakitnya kayak semut." Letnan Sayuti ketawa lebar.
Hiyaaat ...
Berkali-kali perut, dada dan kepala Letnan Sayuti terkena pukulan dan tendangan. Tapi dia terus mende
kat.
Dicengkramnya leher Siao Lung. Lalu diangkat dan dibanting ke lantai.
Saat bersamaan, sebuah helikopter mendekat ke jendela apartemen. Lalu terdengar tembakan bertubi-tubi ke arah Letnan Sayuti, Rahman dan Santi.
Bos Siao Lung berdiri. Dalam kondi si terhuyung-huyung, dia mendekati jendela. Setelah itu dia menuju balkon.
Helikopter kian merapat ke balkon, lalu salah seorang dari penembak jitu melemparkan tali menyerupai tangga.
"Lompat Bos!" Teriaknya.
Dengan kekuatan tersisa, Siao Lung melompat dari balkon, berpegang an di ujung tali yang terbikin dari bahan kayu.
Santi tersadar dari pingsannya. Dia melihat ada sebuah helikopter . Dia mendekat ke jendela.
Dia hanya bisa 'mengumpat' kesal melihat Bos Siao Lung menaiki anak tangga, berhasil masuk ke helikopter yang terbang rendah menuju selatan.
Senin, 07 Mei 2018
Kemiskinan (16)
Kemiskinan (16)
Oleh aminuddin
KETIGA, fungsi pemberdayaan (empowering) berhubungan dengan upaya pemimpin untuk menumbuhkan lingkungan agar setiap orang dalam organisasi perusahaan mampu melakukan yang terbaik dan selalu mempunyai komitmen yang kuat (commited).
Seorang pemimpin harus mema hami sifat pekerjaan atau tugas yang diembannya. Ia juga harus mengerti dan mendelegasikan seberapa besar tanggung jawab dan otoritas yang harus dimiliki oleh setiap karyawan yang dipimpinnya.
Siapa mengerjakan apa. Untuk alasan apa mereka mengerjakan pe kerjaan tersebut. Bagaimana caranya. Dukungan sumber daya apa saja yang diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut dan bagaimana akuntabilitasnya.
Sejarah kenabian menceritakan ke cakapan Muhammad SAW dalam mensinergikan berbagai potensi yang dimiliki oleh para pengikutnya dalam mencapai suatu tujuan.
Sebagai contoh, ketika mengatur strategi dalam perang Uhud, beliau menempatkan pasukan pemanah di punggung bukit untuk melindungi pasukan infantri Muslim.
Beliau juga dengan bijak mempersaudarakan antara kaum Muhajirin dan Anshar ketika mulai membangun masyarakat Madinah.
Beliau mengangkat para pejabat sebagai amir (kepala daerah) atau hakim berdasarkan kompetensi dan good track record yang mereka miliki.
Tak heran, dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama (sekitar 10 tahun), beliau telah mampu mendirikan dasar-dasar tatanan sosial masyarakat modern. Pimpinan dunia lainnya mungkin butuh waktu yang lebih lama untuk mencapai hal semacam ini.
Keempat, fungsi panutan (modeling) mengungkapkan bagaimana agar pemimpin dapat menjadi panutan bagi para karyawannya. Bagaimana dia bertanggung jawab atas tutur kata, sikap, perilaku dan keputusan-keputu san yang diambilnya. Sejauhmana dia melakukan apa yang dikatakannya.
Selain itu, Rasulullah SAW juga memiliki kriteria sebagai entrepreneurial leadership, yakni yang senan tiasa concern pada penciptaan bisnisnya.
1. Strong achievement drive and sensible risk taking, yakni berani membuat keputusan dan menghadapi risiko yang telah diperhitungkan sebelumnya.
2. High degree of enthusiasm and creativity. Maknanya memiliki antusiasme tinggi dengan didukung kreativitas sehingga banyak melahirkan ide-ide brilian yang kreatif dan inovatif yang membangun roda organisasi menjadi lebih hebat dan lebih baik.
3. Tend to act quickly and opportu nistically, bermakna cepat tanggap dan mampu menangkap peluang-peluang yang muncul. Karena jika tak mampu merespon sebuah situasi dan kesempatan yang tersedia, tidak akan mampu memenangi persaingan.
4. Visionary perspective. Memiliki pandangan yang berorientasi ke depan (vision).
5. Dislike of hierarchy and bureauc racy. Memiliki sikap serba cepat dalam bergerak, dan tidak terbe lenggu oleh hierarki dan birokrasi yang bertele-tele serta cenderung menghambat optimalisasi kerja.
6. Preference for dealing with external customer. Maknanya adalah senantiasa berorientasi pada hasil, ti dak sibuk di belakang meja, dan senantiasa senang membuat relasi yang baik dengan external customer. Dia sadar bahwa customer adalah objek penting bagi sebuah organisasi/perusahaan.
________
- Ikatan Bankir Indonesia, 2015, Strategi Bank Indonesia, Jakarta; PT Gramedia Pustaka Utama.
- Dr H Fakhry Zamzam, MM, MH dan Havis Aravik, SHI, MSI, Manaje men SDM Berbasis Syariah, 2017, CV RWTC Success, Cetakan II.
Oleh aminuddin
KETIGA, fungsi pemberdayaan (empowering) berhubungan dengan upaya pemimpin untuk menumbuhkan lingkungan agar setiap orang dalam organisasi perusahaan mampu melakukan yang terbaik dan selalu mempunyai komitmen yang kuat (commited).
Seorang pemimpin harus mema hami sifat pekerjaan atau tugas yang diembannya. Ia juga harus mengerti dan mendelegasikan seberapa besar tanggung jawab dan otoritas yang harus dimiliki oleh setiap karyawan yang dipimpinnya.
Siapa mengerjakan apa. Untuk alasan apa mereka mengerjakan pe kerjaan tersebut. Bagaimana caranya. Dukungan sumber daya apa saja yang diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut dan bagaimana akuntabilitasnya.
Sejarah kenabian menceritakan ke cakapan Muhammad SAW dalam mensinergikan berbagai potensi yang dimiliki oleh para pengikutnya dalam mencapai suatu tujuan.
Sebagai contoh, ketika mengatur strategi dalam perang Uhud, beliau menempatkan pasukan pemanah di punggung bukit untuk melindungi pasukan infantri Muslim.
Beliau juga dengan bijak mempersaudarakan antara kaum Muhajirin dan Anshar ketika mulai membangun masyarakat Madinah.
Beliau mengangkat para pejabat sebagai amir (kepala daerah) atau hakim berdasarkan kompetensi dan good track record yang mereka miliki.
Tak heran, dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama (sekitar 10 tahun), beliau telah mampu mendirikan dasar-dasar tatanan sosial masyarakat modern. Pimpinan dunia lainnya mungkin butuh waktu yang lebih lama untuk mencapai hal semacam ini.
Keempat, fungsi panutan (modeling) mengungkapkan bagaimana agar pemimpin dapat menjadi panutan bagi para karyawannya. Bagaimana dia bertanggung jawab atas tutur kata, sikap, perilaku dan keputusan-keputu san yang diambilnya. Sejauhmana dia melakukan apa yang dikatakannya.
Selain itu, Rasulullah SAW juga memiliki kriteria sebagai entrepreneurial leadership, yakni yang senan tiasa concern pada penciptaan bisnisnya.
1. Strong achievement drive and sensible risk taking, yakni berani membuat keputusan dan menghadapi risiko yang telah diperhitungkan sebelumnya.
2. High degree of enthusiasm and creativity. Maknanya memiliki antusiasme tinggi dengan didukung kreativitas sehingga banyak melahirkan ide-ide brilian yang kreatif dan inovatif yang membangun roda organisasi menjadi lebih hebat dan lebih baik.
3. Tend to act quickly and opportu nistically, bermakna cepat tanggap dan mampu menangkap peluang-peluang yang muncul. Karena jika tak mampu merespon sebuah situasi dan kesempatan yang tersedia, tidak akan mampu memenangi persaingan.
4. Visionary perspective. Memiliki pandangan yang berorientasi ke depan (vision).
5. Dislike of hierarchy and bureauc racy. Memiliki sikap serba cepat dalam bergerak, dan tidak terbe lenggu oleh hierarki dan birokrasi yang bertele-tele serta cenderung menghambat optimalisasi kerja.
6. Preference for dealing with external customer. Maknanya adalah senantiasa berorientasi pada hasil, ti dak sibuk di belakang meja, dan senantiasa senang membuat relasi yang baik dengan external customer. Dia sadar bahwa customer adalah objek penting bagi sebuah organisasi/perusahaan.
________
- Ikatan Bankir Indonesia, 2015, Strategi Bank Indonesia, Jakarta; PT Gramedia Pustaka Utama.
- Dr H Fakhry Zamzam, MM, MH dan Havis Aravik, SHI, MSI, Manaje men SDM Berbasis Syariah, 2017, CV RWTC Success, Cetakan II.
Kemiskinan (15)
Kemiskinan (15)
Oleh aminuddin
RASULULLAH SAW bisa kita jadikan contoh sebagai figur pemimpin ideal. Beliau adalah tipe pemimpin sukses yang ditandai dengan ajarannya yang masih dikembangkan oleh para pengikutnya hingga saat ini dan tidak ada seorang pun yang mampu menyaingi bahkan membuat setara dengan gaya ke pemimpinannya.
Muhammad Syafi'i Antonio menyatakan ada empat fungsi kepemimpinan (the 4 roles of leadership) yang melekat pada diri Rasulullah SAW.
Pertama, fungsi perintis (pathfinding) mengungkap bagaimana upaya sang pemimpin memahami dan memenuhi kebutuhan utama para stakeholder-nya, misi dan nilai yang dianutnya serta yang berkaitan dengan visi dan strategi, yaitu ke mana perusahaan akan dibawa dan bagaimana caranya agar sampai ke sana.
Fungsi ini ditemukan pada diri Mu hammad SAW karena beliau melakukan berbagai langkah dalam me ngajak umat manusia ke jalan yang benar.
Muhammad SAW telah berhasil membangun suatu tatanan sosial yang modern dengan memperkenal kan nilai-nilai kesetaraan universal, semangat kemajemukan dan multikulturalisme, rule of law, dan sebagainya.
Sistem sosial yang diakui terlalu modern dibandingkan zamannya itu dirintis oleh Muhammad SAW, ke mudian dikembangkan oleh para khalifah sesudahnya.
Kedua, fungsi penyelaras (aligning) berkaitan dengan bagaimana pemimpin menyelaraskan keseluruhan sistem dalam organisasi perusahaan agar mampu bekerja dan saling sinergis.
Sang pemimpin harus memahami betul apa saja bagian-bagian dalam sistem organisasi perusahaan. Kemu dian ia menyelaraskan bagian-bagian tersebut agar sesuai dengan strategi untuk mencapai visi yang telah digariskan.
Muhammad SAW mampu menyelaraskan berbagai strategi untuk mencapai tujuannya dalam menyiarkan ajaran Islam dan membangun tatanan sosial yang baik dan modern.
Ketika banyak para sahabat yang menolak kesediaan beliau untuk melakukan perjanjian Hudaybiyah yang dipandang menguntungkan pihak musyrikin, beliau bersikukuh dengan kesepakatan itu.
Terbukti, pada akhirnya perjanjian tersebut berbalik menguntungkan kaum muslim dan pihak musyrikin meminta agar perjanjian itu dihentikan.
Beliau juga dapat membangun sistem hukum yang kuat, hubungan diplomasi dengan suku-suku dan kerajaan di sekitar Madinah, dan sistem pertahanan yang kuat sehingga menjelang beliau wafat, Madinah tumbuh men jadi negara baru yang cukup berpengaruh kala itu.
Oleh aminuddin
RASULULLAH SAW bisa kita jadikan contoh sebagai figur pemimpin ideal. Beliau adalah tipe pemimpin sukses yang ditandai dengan ajarannya yang masih dikembangkan oleh para pengikutnya hingga saat ini dan tidak ada seorang pun yang mampu menyaingi bahkan membuat setara dengan gaya ke pemimpinannya.
Muhammad Syafi'i Antonio menyatakan ada empat fungsi kepemimpinan (the 4 roles of leadership) yang melekat pada diri Rasulullah SAW.
Pertama, fungsi perintis (pathfinding) mengungkap bagaimana upaya sang pemimpin memahami dan memenuhi kebutuhan utama para stakeholder-nya, misi dan nilai yang dianutnya serta yang berkaitan dengan visi dan strategi, yaitu ke mana perusahaan akan dibawa dan bagaimana caranya agar sampai ke sana.
Fungsi ini ditemukan pada diri Mu hammad SAW karena beliau melakukan berbagai langkah dalam me ngajak umat manusia ke jalan yang benar.
Muhammad SAW telah berhasil membangun suatu tatanan sosial yang modern dengan memperkenal kan nilai-nilai kesetaraan universal, semangat kemajemukan dan multikulturalisme, rule of law, dan sebagainya.
Sistem sosial yang diakui terlalu modern dibandingkan zamannya itu dirintis oleh Muhammad SAW, ke mudian dikembangkan oleh para khalifah sesudahnya.
Kedua, fungsi penyelaras (aligning) berkaitan dengan bagaimana pemimpin menyelaraskan keseluruhan sistem dalam organisasi perusahaan agar mampu bekerja dan saling sinergis.
Sang pemimpin harus memahami betul apa saja bagian-bagian dalam sistem organisasi perusahaan. Kemu dian ia menyelaraskan bagian-bagian tersebut agar sesuai dengan strategi untuk mencapai visi yang telah digariskan.
Muhammad SAW mampu menyelaraskan berbagai strategi untuk mencapai tujuannya dalam menyiarkan ajaran Islam dan membangun tatanan sosial yang baik dan modern.
Ketika banyak para sahabat yang menolak kesediaan beliau untuk melakukan perjanjian Hudaybiyah yang dipandang menguntungkan pihak musyrikin, beliau bersikukuh dengan kesepakatan itu.
Terbukti, pada akhirnya perjanjian tersebut berbalik menguntungkan kaum muslim dan pihak musyrikin meminta agar perjanjian itu dihentikan.
Beliau juga dapat membangun sistem hukum yang kuat, hubungan diplomasi dengan suku-suku dan kerajaan di sekitar Madinah, dan sistem pertahanan yang kuat sehingga menjelang beliau wafat, Madinah tumbuh men jadi negara baru yang cukup berpengaruh kala itu.
Mawar Mewangi (15)
Serial Mafia
Mawar Mewangi (15)
Oleh Wak Amin
"LARI!"
Teriakan Tainen ini membuat gaduh lantai tiga markas Siao Lung. Mereka lari pontang-panting menyela matkan diri lewat tangga. Mereka berharap bisa lolos dari kejaran Letnan Sayuti dan dua anak buahnya.
"Mau kemana?"
Mereka sudah dihadang Letnan Sayuti yang tidak jadi bergabung dengan Rahman dan Santi menggunakan lift.
Tainen dan kawan-kawan berusaha menerobos hadangan Letnan Sayuti dengan cara melompat ke samping tangga dan mendorong tubuh pria tambun itu.
Braaak ...
Didekap Letnan Sayuti. Lalu dia dorong ke samping, jatuh ke lantai. Jumlah mereka sekitar 7 orang.
Dooor ..
Dooor ...
Santi dengan sigap menuruni 'pegangan' tangga sambil melepaskan tembakan tiga kali ke kaki dan tangan Tainen.
Dooor ...
Pada tembakan ketiga, Tainen jatuh tersungkur. Santi mendekat. Kedua tangan ditarik ke belakang. Diborgol.
Praaak ..
Tatapan sinis Tainen dibalas Santi dengan membenturkan wajah pria kurus itu ke lantai, sampai mengucurkan darah.
"Lagi?"
Puiiih ...
Masih sempat meludah.
Praaak ...
Praak ...
Praaak ...
Tak sadarkan diri.
Sementara Rahman dan Letnan Sayuti masih duel tangan kosong dengan tujuh temannya Tainen.
Muka berdarah-darah dan kaki pada 'kencot', masih juga tak mau menyerah.
Hiyaaat ...
Serempak menyerang Letnan Sayuti. Sang Letnan tertawa. Dia biarkan perutnya dipukuli. Dia masih tertawa.
Ha ha ha ha ...
"Kurang kuat. Pukul lagi," tantang Letnan Sayuti.
Rahman dan Santi tentu saja tak membiarkan sang komandan dipukuli terus menerus.
Keduanya bergerak cepat.
Dreep ... Deeep ..
Deeep ... Deeep ...
Satu kali tendangan memutar, terpental empat selaligus. Bergulingan di lantai. Tiga lagi kena bogem mentah Rahman dan Letnan Sayuti.
"Jangan bergerak!"
Santi menodongkan pistolnya ke empat lelaki yang cuma mengena kan celana pendek itu.
"Bangun!"
Keempatnya bangun dengan mata yang masih berkunang-kunang. Sambil berjalan tertatih-tatih mereka dimin ta menuruni anak tangga ke lantai satu. Tiga teman mereka yang lain dalam pengawalan ketat Letnan Sayuti dan Rahman.
Bagaimana dengan Bos Siao Lung?
Ternyata, hasil dari pengakuan Taici, Tainen dan rekan-rekannya, Sang Bos baru saja kembali dari luar kota untuk urusan bisnis.
Semula Siao Lung akan langsung menuju markasnya. Setelah mendapat info Tim Mawar Mewangi melukukan penggerebekan malam ini, dia beserta orang kepercyaannya putar haluan.
Kini, Letnan Sayuti, Rahman dan Santi bekerja keras, memutar otak untuk menemukan keberadaan Bos Siao Lung. Mereka berharap segera tertangkap dalam waktu dekat.
Jelang pagi mereka bergerak menuju sebuah apartemen tengah kota. Mereka mendapat info, Bos Siao Lung dan beberapa pengawalnya menginap di apartemen mewah itu.
Tidak mudah menangkap mereka. Perlu ada kerjasama erat dengan kekuatan yang maksimal. Maka itu, Letnan Sayuti memutuskan untuk meminta bantuan satu pasukan keamanan terlatih.
Mereka disiagakan dan ikut memaksimalkan upaya penyergapan dan penangkapan.
Mawar Mewangi (15)
Oleh Wak Amin
"LARI!"
Teriakan Tainen ini membuat gaduh lantai tiga markas Siao Lung. Mereka lari pontang-panting menyela matkan diri lewat tangga. Mereka berharap bisa lolos dari kejaran Letnan Sayuti dan dua anak buahnya.
"Mau kemana?"
Mereka sudah dihadang Letnan Sayuti yang tidak jadi bergabung dengan Rahman dan Santi menggunakan lift.
Tainen dan kawan-kawan berusaha menerobos hadangan Letnan Sayuti dengan cara melompat ke samping tangga dan mendorong tubuh pria tambun itu.
Braaak ...
Didekap Letnan Sayuti. Lalu dia dorong ke samping, jatuh ke lantai. Jumlah mereka sekitar 7 orang.
Dooor ..
Dooor ...
Santi dengan sigap menuruni 'pegangan' tangga sambil melepaskan tembakan tiga kali ke kaki dan tangan Tainen.
Dooor ...
Pada tembakan ketiga, Tainen jatuh tersungkur. Santi mendekat. Kedua tangan ditarik ke belakang. Diborgol.
Praaak ..
Tatapan sinis Tainen dibalas Santi dengan membenturkan wajah pria kurus itu ke lantai, sampai mengucurkan darah.
"Lagi?"
Puiiih ...
Masih sempat meludah.
Praaak ...
Praak ...
Praaak ...
Tak sadarkan diri.
Sementara Rahman dan Letnan Sayuti masih duel tangan kosong dengan tujuh temannya Tainen.
Muka berdarah-darah dan kaki pada 'kencot', masih juga tak mau menyerah.
Hiyaaat ...
Serempak menyerang Letnan Sayuti. Sang Letnan tertawa. Dia biarkan perutnya dipukuli. Dia masih tertawa.
Ha ha ha ha ...
"Kurang kuat. Pukul lagi," tantang Letnan Sayuti.
Rahman dan Santi tentu saja tak membiarkan sang komandan dipukuli terus menerus.
Keduanya bergerak cepat.
Dreep ... Deeep ..
Deeep ... Deeep ...
Satu kali tendangan memutar, terpental empat selaligus. Bergulingan di lantai. Tiga lagi kena bogem mentah Rahman dan Letnan Sayuti.
"Jangan bergerak!"
Santi menodongkan pistolnya ke empat lelaki yang cuma mengena kan celana pendek itu.
"Bangun!"
Keempatnya bangun dengan mata yang masih berkunang-kunang. Sambil berjalan tertatih-tatih mereka dimin ta menuruni anak tangga ke lantai satu. Tiga teman mereka yang lain dalam pengawalan ketat Letnan Sayuti dan Rahman.
Bagaimana dengan Bos Siao Lung?
Ternyata, hasil dari pengakuan Taici, Tainen dan rekan-rekannya, Sang Bos baru saja kembali dari luar kota untuk urusan bisnis.
Semula Siao Lung akan langsung menuju markasnya. Setelah mendapat info Tim Mawar Mewangi melukukan penggerebekan malam ini, dia beserta orang kepercyaannya putar haluan.
Kini, Letnan Sayuti, Rahman dan Santi bekerja keras, memutar otak untuk menemukan keberadaan Bos Siao Lung. Mereka berharap segera tertangkap dalam waktu dekat.
Jelang pagi mereka bergerak menuju sebuah apartemen tengah kota. Mereka mendapat info, Bos Siao Lung dan beberapa pengawalnya menginap di apartemen mewah itu.
Tidak mudah menangkap mereka. Perlu ada kerjasama erat dengan kekuatan yang maksimal. Maka itu, Letnan Sayuti memutuskan untuk meminta bantuan satu pasukan keamanan terlatih.
Mereka disiagakan dan ikut memaksimalkan upaya penyergapan dan penangkapan.
Mawar Mewangi (12)
Serial Mafia
Mawar Mewangi (12)
Oleh Wak Amin
CEPAT Bro ...!" Teriak Tauco. Keduanya melompat dari sela meja bela kang warung, kemudian berlari san gat cepat ke depan sebuah lorong.
Mereka memaksa berhenti sebuah sepeda motor. Taisek mendorong pengemudi hingga jatuh tersungkur ke aspal jalan.
"Lompat Bro!"
Reeeen ...
Sepeda motor pun melaju sangat kencang. Tampak Taisek lega. Dia sangat senang. Karena merasa tidak akan bisa terkejar lagi oleh Rahman dan Santi.
"Biar mereka pusing sendiri," ucap Taisek. Men zig-zug laju motor sambil tertawa lebar.
"Hebat kamu Bro," kata Tauco. Ikut juga tertawa.
Syuuuittt ...
Tiba-tiba Taisek menghentikan sepeda motornya ...
"Kenapa berhenti Bro?" Tanya Tauco keheranan.
"Coba kamu lihat di depan!"
Santi berdiri di samping mobil sambil memegang sebuah pistol.
Taisek gugup ...
"Belok kanan Bro."
Karena gugup, saat sepeda motor belok kanan, terbaliklah motor. Taisek dan Tauco terjatuh. Berusaha bangun dan mencoba kabur.
"Jangan bergerak!" Santi membidikkan pistolnya. Sementara Rahman mendekat ke posisi Tauco yang kesakitan di kakinya.
Dooor ...
Santi terpaksa melepaskan tembakan ke kaki sebelah kiri setelah Taisek hendak berlari. Karena tak juga mau menyerah, masih nekat kabur dengan kaki terpincang, Santi menembak kali kedua ke kaki kanan pelaku.
Taisek jatuh tersungkur.
"Ampun Mbak. Ampun ...!" Kata Tauco. Dia membungkukkan badannya memohon tidak ditembak lagi.
"Cepat ikut saya ke mobil," bentak Rahman.
Santi jengkel bercampur marah. Dia menendang beberapa kali tangan dan kaki Tauco. Dia borgol dan tarik paksa masuk ke dalam mobil.
Keduanya mengaku disuruh Bos Siao Lung untuk menghabisi Santi. Sebelumnya mereka mengaku telah membunuh Letnan Komar.
Pengakuan Taisek dan Tauco ini mengagetkan Santi. Belum sampai selesai dua tawanannya ini bicara, dia pukul meja rapat sekeras-kerasnya. Dia tendang juga kursi sampai membentur dinding ruangan.
Bruuug ...
Praaak ...
Tangan kanan Santi sempat mengenai punggung Taisek dan Tauco. Rahman berhasil menenangkannya.
Interogasi akhirnya diambil alih Letnan Sayuti. Sedangkan Rahman mengajak Santi ke sebuah ruangan khusus yang sering mereka gunakan untuk membahas kasus-kasus tertentu.
Santi masih belum puas dan lega sebelum menghajar sampai babak belur Taisek dan Tauco.
Dia berulangkali memukul dinding ruangan berhawa sejuk itu. Sebelum kemudian menangis di pelukan Rahman.
"Sabar ya San. Saya janji sama kamu akan mengungkap kasus ini sampai ke akar-akarnya," kata Rahman.
Santi menndengarnya, tapi tidak berkata sepatah katapun sampai pintu dibuka, Letnan Sayuti tertawa lebar.
"Santi ... Rahman. Ini saya bawakan untuk kalian berdua. Roti bakar besar. Ayo ambil. Sikat dan habiskan."
Santi menyeka air matanya.
"Sudah. Jangan cengeng ah. Makan roti ini. Airnya ambil sendiri ya di depan sana."
"Siap Letnan .."
Pintu dututup, lalu dibuka lagi.
"Ayo keluar ..."
"Siap Letnan."
Letnan Sayuti mengatakan dengan tertangkapnya Taici dan Tauco, misi mengungkap penyebab tewasnya Letnan Komar dan Aulia sudah separo jalan.
"Kita harus bergerak cepat. Saya akan turun langsung menemani kalian berdua. Itu kalau kalian tidak berkeberatan."
Rahman dan Santi saling menoleh, bertatap pandang ..
Mawar Mewangi (12)
Oleh Wak Amin
CEPAT Bro ...!" Teriak Tauco. Keduanya melompat dari sela meja bela kang warung, kemudian berlari san gat cepat ke depan sebuah lorong.
Mereka memaksa berhenti sebuah sepeda motor. Taisek mendorong pengemudi hingga jatuh tersungkur ke aspal jalan.
"Lompat Bro!"
Reeeen ...
Sepeda motor pun melaju sangat kencang. Tampak Taisek lega. Dia sangat senang. Karena merasa tidak akan bisa terkejar lagi oleh Rahman dan Santi.
"Biar mereka pusing sendiri," ucap Taisek. Men zig-zug laju motor sambil tertawa lebar.
"Hebat kamu Bro," kata Tauco. Ikut juga tertawa.
Syuuuittt ...
Tiba-tiba Taisek menghentikan sepeda motornya ...
"Kenapa berhenti Bro?" Tanya Tauco keheranan.
"Coba kamu lihat di depan!"
Santi berdiri di samping mobil sambil memegang sebuah pistol.
Taisek gugup ...
"Belok kanan Bro."
Karena gugup, saat sepeda motor belok kanan, terbaliklah motor. Taisek dan Tauco terjatuh. Berusaha bangun dan mencoba kabur.
"Jangan bergerak!" Santi membidikkan pistolnya. Sementara Rahman mendekat ke posisi Tauco yang kesakitan di kakinya.
Dooor ...
Santi terpaksa melepaskan tembakan ke kaki sebelah kiri setelah Taisek hendak berlari. Karena tak juga mau menyerah, masih nekat kabur dengan kaki terpincang, Santi menembak kali kedua ke kaki kanan pelaku.
Taisek jatuh tersungkur.
"Ampun Mbak. Ampun ...!" Kata Tauco. Dia membungkukkan badannya memohon tidak ditembak lagi.
"Cepat ikut saya ke mobil," bentak Rahman.
Santi jengkel bercampur marah. Dia menendang beberapa kali tangan dan kaki Tauco. Dia borgol dan tarik paksa masuk ke dalam mobil.
Keduanya mengaku disuruh Bos Siao Lung untuk menghabisi Santi. Sebelumnya mereka mengaku telah membunuh Letnan Komar.
Pengakuan Taisek dan Tauco ini mengagetkan Santi. Belum sampai selesai dua tawanannya ini bicara, dia pukul meja rapat sekeras-kerasnya. Dia tendang juga kursi sampai membentur dinding ruangan.
Bruuug ...
Praaak ...
Tangan kanan Santi sempat mengenai punggung Taisek dan Tauco. Rahman berhasil menenangkannya.
Interogasi akhirnya diambil alih Letnan Sayuti. Sedangkan Rahman mengajak Santi ke sebuah ruangan khusus yang sering mereka gunakan untuk membahas kasus-kasus tertentu.
Santi masih belum puas dan lega sebelum menghajar sampai babak belur Taisek dan Tauco.
Dia berulangkali memukul dinding ruangan berhawa sejuk itu. Sebelum kemudian menangis di pelukan Rahman.
"Sabar ya San. Saya janji sama kamu akan mengungkap kasus ini sampai ke akar-akarnya," kata Rahman.
Santi menndengarnya, tapi tidak berkata sepatah katapun sampai pintu dibuka, Letnan Sayuti tertawa lebar.
"Santi ... Rahman. Ini saya bawakan untuk kalian berdua. Roti bakar besar. Ayo ambil. Sikat dan habiskan."
Santi menyeka air matanya.
"Sudah. Jangan cengeng ah. Makan roti ini. Airnya ambil sendiri ya di depan sana."
"Siap Letnan .."
Pintu dututup, lalu dibuka lagi.
"Ayo keluar ..."
"Siap Letnan."
Letnan Sayuti mengatakan dengan tertangkapnya Taici dan Tauco, misi mengungkap penyebab tewasnya Letnan Komar dan Aulia sudah separo jalan.
"Kita harus bergerak cepat. Saya akan turun langsung menemani kalian berdua. Itu kalau kalian tidak berkeberatan."
Rahman dan Santi saling menoleh, bertatap pandang ..
Mawar Mewangi (13)
Serial Mafia
Mawar Mewangi (13)
Oleh Wak Amin
KEESOKAN malamnya ...
Tepat tengah malam
Taici secara kebetulan keluar dari gedung berlantai tiga sekadar untuk 'makan angin' melihat semak belukar tak jauh dari tempatnya berdiri bergerak-gerak.
Penasaran, Taici mendekat ke semak belukar tadi itu. Baru dua langkah melewati jalan bersemak itu, ada moncong senjata menem pel di leher belakangnya.
"Tiarap cepaaat ...!"
Praaak ...
Jegraaak ...
Menolak bertiarap, jatuh tersungkur kena tendang Santi di bokongnya. Muka berlepotan tanah rerumputan.
Reeet ..
Druug ...
Diseret ke dekat pohon. Karena tak juga mau mengaku, Taici jadi bulan-bulanan Santi.
Babak belur wajahnya.
"Cepat katakan. Ada berapa orang di dalam sana?" Bentak Rahman.
"Sep ... Sepuluh."
"Bohong kamu. Pasti lebih dari sepuluh," kata Santi.
"Kalau nona tak percaya, masuk sendiri ke dalam sana. Hitung .." Jawab Taici dengan hidung dan mulut berdarah-darah.
Santi naik pitam. Kembali hendak memukul kepala Taici. Dicegah Letnan Sayuti yang baru saja buang air kecil di belakang mobil.
Sempit tempatnya. Jalan setapak bersemak, lelaki periang ini harus menginjak semak agar lebih leluasa saat buang hajat kecil.
"Ikat sajalah Man." Perintah Letnan Sayuti. Diikat di pintu mobil. Supa ya tidak bergerak kemana-mana. Tangan dan kaki diikat.
"Lepaskan saya nona polisi," rengek Taici.
Dia meronta. Dia 'terajangkan' pintu mobil. Dibalas Santi dengan memukul dengkul Taici.
Uuugh ...
"Saya tembak atau diam?" Santi menempelkan moncong pistol ke alat kemaluan Taici.
"Pilih sekarang. Diam atau saya tembak rudal kamu. Paham?"
"Paham nona."
"Apa?"
"Diam nona."
"Bagus."
Mulut disempal, kedua tangan dan kaki diikat, Taici tak berdaya. Jangankan berteriak, berucap saja dia tak bisa. Mulut terkatup rapat. Ditutup dengan lakban.
"Ayo Non Santi!"
Berdua Rahman, Santi mengendap-endap menuju markas Siao Lung. Letnan Sayuti menyusul belakangan.
Dia berhenti di pintu pagar. Pintu besar terkunci amat rapat. Pintu kecil terbuka. Tidak terkunci.
Iiiiech ..
Iiiiech ..
Tak juga bisa masuk. Mencoba memanjat, tapi tak bisa. Justru terjatuh. Nyaris masuk parit.
Gedebug ....
Rahman dan Santi menoleh.
Geli bercampur kasihan ...
"Biar aku saja. Kamu awasi di sini ..," kata Rahman.
Dia berharap incaran mereka di dalam gedung tidak mengetahui kondisi terkini di luar gedung.
"Tarik Man. Cepaat!"
Sekuat tenaga ditarik, Letnan Sayuti belum juga bisa bangun dari jatuhnya.
Santi turun tangan ...
Keduanya menarik sekuat mungkin tangan Letnan Sayuti. Sampai memerah muka keduanya.
Sempat terduduk ketika berhasil menarik tangan Letnan Sayuti. Bangun dan berdiri sambil berpegangan di tiang besi pagar.
Mawar Mewangi (13)
Oleh Wak Amin
KEESOKAN malamnya ...
Tepat tengah malam
Taici secara kebetulan keluar dari gedung berlantai tiga sekadar untuk 'makan angin' melihat semak belukar tak jauh dari tempatnya berdiri bergerak-gerak.
Penasaran, Taici mendekat ke semak belukar tadi itu. Baru dua langkah melewati jalan bersemak itu, ada moncong senjata menem pel di leher belakangnya.
"Tiarap cepaaat ...!"
Praaak ...
Jegraaak ...
Menolak bertiarap, jatuh tersungkur kena tendang Santi di bokongnya. Muka berlepotan tanah rerumputan.
Reeet ..
Druug ...
Diseret ke dekat pohon. Karena tak juga mau mengaku, Taici jadi bulan-bulanan Santi.
Babak belur wajahnya.
"Cepat katakan. Ada berapa orang di dalam sana?" Bentak Rahman.
"Sep ... Sepuluh."
"Bohong kamu. Pasti lebih dari sepuluh," kata Santi.
"Kalau nona tak percaya, masuk sendiri ke dalam sana. Hitung .." Jawab Taici dengan hidung dan mulut berdarah-darah.
Santi naik pitam. Kembali hendak memukul kepala Taici. Dicegah Letnan Sayuti yang baru saja buang air kecil di belakang mobil.
Sempit tempatnya. Jalan setapak bersemak, lelaki periang ini harus menginjak semak agar lebih leluasa saat buang hajat kecil.
"Ikat sajalah Man." Perintah Letnan Sayuti. Diikat di pintu mobil. Supa ya tidak bergerak kemana-mana. Tangan dan kaki diikat.
"Lepaskan saya nona polisi," rengek Taici.
Dia meronta. Dia 'terajangkan' pintu mobil. Dibalas Santi dengan memukul dengkul Taici.
Uuugh ...
"Saya tembak atau diam?" Santi menempelkan moncong pistol ke alat kemaluan Taici.
"Pilih sekarang. Diam atau saya tembak rudal kamu. Paham?"
"Paham nona."
"Apa?"
"Diam nona."
"Bagus."
Mulut disempal, kedua tangan dan kaki diikat, Taici tak berdaya. Jangankan berteriak, berucap saja dia tak bisa. Mulut terkatup rapat. Ditutup dengan lakban.
"Ayo Non Santi!"
Berdua Rahman, Santi mengendap-endap menuju markas Siao Lung. Letnan Sayuti menyusul belakangan.
Dia berhenti di pintu pagar. Pintu besar terkunci amat rapat. Pintu kecil terbuka. Tidak terkunci.
Iiiiech ..
Iiiiech ..
Tak juga bisa masuk. Mencoba memanjat, tapi tak bisa. Justru terjatuh. Nyaris masuk parit.
Gedebug ....
Rahman dan Santi menoleh.
Geli bercampur kasihan ...
"Biar aku saja. Kamu awasi di sini ..," kata Rahman.
Dia berharap incaran mereka di dalam gedung tidak mengetahui kondisi terkini di luar gedung.
"Tarik Man. Cepaat!"
Sekuat tenaga ditarik, Letnan Sayuti belum juga bisa bangun dari jatuhnya.
Santi turun tangan ...
Keduanya menarik sekuat mungkin tangan Letnan Sayuti. Sampai memerah muka keduanya.
Sempat terduduk ketika berhasil menarik tangan Letnan Sayuti. Bangun dan berdiri sambil berpegangan di tiang besi pagar.
Mawar Mewangi (14)
Serial Mafia
Mawar Mewangib (14)
Oleh Wak Amin
KLETEK ...
Pintu dibuka ...
Seorang pria beralis tebal keluar dari pintu depan. Dia sepertinya mencari seseorang. Ya, tak salah lagi. Yang dia cari adalah Taici.
"Taici ..."
" Taici ..."
"Dimanakah dikau?"
"Bos mencarimu tau ..."
Dari balik pohon rindang besar, Letnan Sayuti memberi lampu hijau untuk 'menaklukkan' pria berkulit hitam tinggi semampai itu.
Letnan Sayuti yakin Santi pasti bisa. Rahman memberinya semangat.
"Selamat bertugas Nona Santi," ucap Letnan Sayuti.
Bergerak ke kiri, sambil membungkukkan badan, Santi mendekati sasarannya. Berdiri. Melihat ke semak.
Dia dekati pintu pagar ...
Kletek ...
Huup ..
Praaak ...
Uaaaggh.
Satu kali pukulan ke kepala, anak buah Bos Siao Lung itu linglung sejenak sebelum akhirnya jatuh terkapar.
Dengan sigap, Santi menyeret tubuh kurus itu ke bawah pohon. Buat sementara ditaruh dekat parit.
Kemudian, bersama Rahman dan Letnan Sayuti, ketiganya masuk lewat pintu depan yang tidak terkunci tadinya.
Sesampainya di dalam, tidak menemukan seorang pun di sana. Ketiganya berinisiatif menaiki lantai dua .
Juga tak ada orang ...
"Kemana mereka ya Let?"
Letnan Sayuti berpikir sejenak.
"Coba kau ambil guci kecil itu Man," kata Letnan Sayuti.
"Buat apa Let?" Tanya Santi.
"Nanti kau akan tahu sendiri Non Santi ..."
Guci antik itu diamati sejenak. Lepas itu ...
Craaaash ...
Melempar guci dekat meja makan.
"Cepat sembunyi ..!" Kata Letnan Sayuti.
Ketiganya sembunyi di balik lemari pembatas ruangan tamu dan ruangan keluarga.
Benar saja.
Seorang lelaki berkepala botak menuruni anak tangga. Dia mencari asal suara pecahan guci tadi.
Dia temukan ...
Lalu dia kabari teman-temannya lewat telepon seluler.
"Ya sudah. Buang saja ke sampah," kata Tainen. Sambil membanting kartu gaplek ke meja marmer segi empat berwarna putih.
"Tapi gue heran Bro."
"Heran kenapa?"
"Ini guci pecah pasti ada yang me lemparnya Bro. Aku yakin itu."
"Siapa menurutmu kira-kira?"
"Aku cari tahu dulu ya."
"Oke. Yang cepat cari tahunya. Sebentar lagi giliran kamu yang main."
Di pojokan pembatas ruangan ...
"Tunggu sebentar Non .."
Letnan Sayuti menunggu saat yang tepat untuk mengamankan sasaran mereka. Kali ini dia membisiki Rahman ...
"Sekarang giliran kamu Man."
"Siap Letnan ..."
Rahman mulai beraksi. Bergerak ke kanan. Lalu koprol ke kiri. Sudah berada persis di belakang lelaki berhidung betet itu.
"Hai!" Tegur Rahman.
Si pria menoleh kaget.
Praaak ...
Buuuk ...
Sebuah bogem mentah mengarah ke muka, disusul leher, sebelum mengenai paha dan terjatuh ke lantai.
Kraaak ...
Tak sadarkan diri.
Setelah diseret ke dapur, Letnan Sayuti cs bergerak naik ke lantai tiga. Kali ini mereka tidak lewat tangga. Tapi melalui lift.
Mawar Mewangib (14)
Oleh Wak Amin
KLETEK ...
Pintu dibuka ...
Seorang pria beralis tebal keluar dari pintu depan. Dia sepertinya mencari seseorang. Ya, tak salah lagi. Yang dia cari adalah Taici.
"Taici ..."
" Taici ..."
"Dimanakah dikau?"
"Bos mencarimu tau ..."
Dari balik pohon rindang besar, Letnan Sayuti memberi lampu hijau untuk 'menaklukkan' pria berkulit hitam tinggi semampai itu.
Letnan Sayuti yakin Santi pasti bisa. Rahman memberinya semangat.
"Selamat bertugas Nona Santi," ucap Letnan Sayuti.
Bergerak ke kiri, sambil membungkukkan badan, Santi mendekati sasarannya. Berdiri. Melihat ke semak.
Dia dekati pintu pagar ...
Kletek ...
Huup ..
Praaak ...
Uaaaggh.
Satu kali pukulan ke kepala, anak buah Bos Siao Lung itu linglung sejenak sebelum akhirnya jatuh terkapar.
Dengan sigap, Santi menyeret tubuh kurus itu ke bawah pohon. Buat sementara ditaruh dekat parit.
Kemudian, bersama Rahman dan Letnan Sayuti, ketiganya masuk lewat pintu depan yang tidak terkunci tadinya.
Sesampainya di dalam, tidak menemukan seorang pun di sana. Ketiganya berinisiatif menaiki lantai dua .
Juga tak ada orang ...
"Kemana mereka ya Let?"
Letnan Sayuti berpikir sejenak.
"Coba kau ambil guci kecil itu Man," kata Letnan Sayuti.
"Buat apa Let?" Tanya Santi.
"Nanti kau akan tahu sendiri Non Santi ..."
Guci antik itu diamati sejenak. Lepas itu ...
Craaaash ...
Melempar guci dekat meja makan.
"Cepat sembunyi ..!" Kata Letnan Sayuti.
Ketiganya sembunyi di balik lemari pembatas ruangan tamu dan ruangan keluarga.
Benar saja.
Seorang lelaki berkepala botak menuruni anak tangga. Dia mencari asal suara pecahan guci tadi.
Dia temukan ...
Lalu dia kabari teman-temannya lewat telepon seluler.
"Ya sudah. Buang saja ke sampah," kata Tainen. Sambil membanting kartu gaplek ke meja marmer segi empat berwarna putih.
"Tapi gue heran Bro."
"Heran kenapa?"
"Ini guci pecah pasti ada yang me lemparnya Bro. Aku yakin itu."
"Siapa menurutmu kira-kira?"
"Aku cari tahu dulu ya."
"Oke. Yang cepat cari tahunya. Sebentar lagi giliran kamu yang main."
Di pojokan pembatas ruangan ...
"Tunggu sebentar Non .."
Letnan Sayuti menunggu saat yang tepat untuk mengamankan sasaran mereka. Kali ini dia membisiki Rahman ...
"Sekarang giliran kamu Man."
"Siap Letnan ..."
Rahman mulai beraksi. Bergerak ke kanan. Lalu koprol ke kiri. Sudah berada persis di belakang lelaki berhidung betet itu.
"Hai!" Tegur Rahman.
Si pria menoleh kaget.
Praaak ...
Buuuk ...
Sebuah bogem mentah mengarah ke muka, disusul leher, sebelum mengenai paha dan terjatuh ke lantai.
Kraaak ...
Tak sadarkan diri.
Setelah diseret ke dapur, Letnan Sayuti cs bergerak naik ke lantai tiga. Kali ini mereka tidak lewat tangga. Tapi melalui lift.
Kamis, 03 Mei 2018
Kemiskinan (14)
Kemiskinan (14)
Oleh aminuddin
PENDEKATAN ketiga, khusus ditujukan kepada mereka atau pihak-pihak yang tengah memegang tampuk kekuasaan.
Ada beberapa ciri pemimpin yang baik:
1. Pemimpin yang adil. Yang dimaksud dengan pemimpin adil adalah pemimpin yang tidak pilih kasih yang tidak membedakan antara yang satu dengan yang lain.
2. Pemimpin yang jujur. Yakni pemimpin yang selalu berkata dengan sebenarnya apa yang terjadi, tidak pernah berkata bohong kepada yang dipimpinnya.
3. Pemimpin yang amanah. Seorang mimpin yang dapat dipercaya dan tidak pernah berdusta. Selalu menepati janjinya sesuai dengan apa yang dia katakan.
4. Pemimpin yang bijaksana, yaitu pemimpin yang tidak terlalu cepat mengambil tindakan, selalu bermu syawarah untuk mengambil sebuah keputusan bersama.
5. Pemimpin yang tegas. Pemimpin yang tegas adalah pemimpin yang sifat keras dan berani mengambil keputusan yang dinilainya baik. Tegas memberi sanksi kepada mereka yang bersalah.
6. Pemimpin yang bertanggung jawab. Dia adalah pemimpin yang selalu bertanggung jawab dan jika salah siap menerima sanksi yang telah disepakati bersama.
Pemimpin yang adil menurut tuntunan Al-Quran :
Ø¥ِÙ†َّ اللَّـهَ ÙŠَØ£ْÙ…ُرُÙƒُÙ…ْ Ø£َÙ† تُؤَدُّوا۟ الْØ£َÙ…ٰÙ†ٰتِ Ø¥ِÙ„َÙ‰ٰٓ Ø£َÙ‡ْÙ„ِÙ‡َا ÙˆَØ¥ِذَا ØَÙƒَÙ…ْتُÙ… بَÙŠْÙ†َ النَّاسِ Ø£َÙ† تَØْÙƒُÙ…ُوا۟ بِالْعَدْÙ„ِ ۚ Ø¥ِÙ†َّ اللَّـهَ Ù†ِعِÙ…َّا ÙŠَعِظُÙƒُÙ… بِÙ‡ِÛ¦ٓ ۗ Ø¥ِÙ†َّ اللَّـهَ Ùƒَانَ سَÙ…ِيعًۢا بَصِيرًا
yang artinya :
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila me netapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah ada lah Maha Mendengar lagi Maha Melihat."
"Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang/yang selalu menegakkan (kebe naran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap se suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah. Karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan."
"Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil."
____
- QS An-Nisaa' ayat 58
- QS Al-Maaidah 8
- QS Al-Mumtahanah (8)
- Klopotelu.wordpress.com
- https://m.facebook.com
Oleh aminuddin
PENDEKATAN ketiga, khusus ditujukan kepada mereka atau pihak-pihak yang tengah memegang tampuk kekuasaan.
Ada beberapa ciri pemimpin yang baik:
1. Pemimpin yang adil. Yang dimaksud dengan pemimpin adil adalah pemimpin yang tidak pilih kasih yang tidak membedakan antara yang satu dengan yang lain.
2. Pemimpin yang jujur. Yakni pemimpin yang selalu berkata dengan sebenarnya apa yang terjadi, tidak pernah berkata bohong kepada yang dipimpinnya.
3. Pemimpin yang amanah. Seorang mimpin yang dapat dipercaya dan tidak pernah berdusta. Selalu menepati janjinya sesuai dengan apa yang dia katakan.
4. Pemimpin yang bijaksana, yaitu pemimpin yang tidak terlalu cepat mengambil tindakan, selalu bermu syawarah untuk mengambil sebuah keputusan bersama.
5. Pemimpin yang tegas. Pemimpin yang tegas adalah pemimpin yang sifat keras dan berani mengambil keputusan yang dinilainya baik. Tegas memberi sanksi kepada mereka yang bersalah.
6. Pemimpin yang bertanggung jawab. Dia adalah pemimpin yang selalu bertanggung jawab dan jika salah siap menerima sanksi yang telah disepakati bersama.
Pemimpin yang adil menurut tuntunan Al-Quran :
Ø¥ِÙ†َّ اللَّـهَ ÙŠَØ£ْÙ…ُرُÙƒُÙ…ْ Ø£َÙ† تُؤَدُّوا۟ الْØ£َÙ…ٰÙ†ٰتِ Ø¥ِÙ„َÙ‰ٰٓ Ø£َÙ‡ْÙ„ِÙ‡َا ÙˆَØ¥ِذَا ØَÙƒَÙ…ْتُÙ… بَÙŠْÙ†َ النَّاسِ Ø£َÙ† تَØْÙƒُÙ…ُوا۟ بِالْعَدْÙ„ِ ۚ Ø¥ِÙ†َّ اللَّـهَ Ù†ِعِÙ…َّا ÙŠَعِظُÙƒُÙ… بِÙ‡ِÛ¦ٓ ۗ Ø¥ِÙ†َّ اللَّـهَ Ùƒَانَ سَÙ…ِيعًۢا بَصِيرًا
yang artinya :
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila me netapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah ada lah Maha Mendengar lagi Maha Melihat."
"Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang/yang selalu menegakkan (kebe naran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap se suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah. Karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan."
"Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil."
____
- QS An-Nisaa' ayat 58
- QS Al-Maaidah 8
- QS Al-Mumtahanah (8)
- Klopotelu.wordpress.com
- https://m.facebook.com
Kemiskinan (13)
Kemiskinan (13)
Oleh aminuddin
TENTU saja ilmu pengetahuan yang kita miliki itu akan sangat berguna bila diamalkan. Ia adalah amal per buatan yang sangat disenangi Allah SWT.
Rasulullah SAW bersabda:
"Amal yang utama di atas bumi ini ada tiga: penuntut ilmu, jihad dan usaha kasab. Penuntut ilmu itu kekasih Allah, pejuang jihad waliyullah dan usaha kasab itu adalah shiddiqullah (orang yang sungguh-sungguh bertakwa kepada Allah SWT)."
Atau seperti yang dikatakan M. Tho lib ... "Dengan ilmu manusia dapat mencapai tingkat yang terpuji dan baik, dengan ilmu ia akan taat beribadah, bahkan dengan ilmu itu pula ia akan menghubungkan rasa tali per saudaraan. Ilmu juga akan membawa ke arah kebahagiaan dan mencegah jatuhnya seseorang ke dalam lem bah kesengsaraan."
Dalam mengamalkan ilmu kita harus memperhatikan hal-hal beri kut diantaranya :
- Jangan melihat tempat dan waktu dalam mengamalkan ilmu.
- Meskipun sedikit amalkan ilmumu. Dikisahkan ... "Sesungguh nya Al–Junaid, setelah meninggal dunia ada seorang yang bermimpi bertemu dia, lalu ia bertanya kepa da Al–Junaid :
“Wahai Abu Qasim (Imam Junaid), bagaimana keadaanmu setelah meninggal?"
Al–Junaid menjawab :" Aduh … kebaikan yang aku lakukan hilang semuanya dan seluruh isyarah amal-amal itu juga hilang tidak ada manfaatnya sedikitpun kecuali beberapa rakaat yang aku laku kan di tengah malam”.
Keterangan Al-Junaid membuktikan bahwa derajat seseorang di sisi Allah SWT itu tidak dilihat dari ba nyaknya ilmu yang dipelajari dan dikuasai melainkan dilihat dari pengamalannya.
Jadi, meskipun ilmunya sedikit, lalu diamalkan itu lebih baik dan berarti daripada memiliki ilmu yang banyak tetapi tidak diamalkan.
- Janganlah menunggu masa tua dalam mengamalkan ilmu.
- Jangan beranggapan ilmu itu bisa mengangkat derajatmu bila tanpa diamalkan.
Ali karramallahu wajhah berkata : “Barangsiapa menyangka bahwa tanpa jerih payah beribadah dirinya bisa mencapai derajat yang tinggi, itu berarti dia mengharapkan perkara yang sulit datangnya. Barang siapa me nyangka dengan menyepelekan ibadah dirinya bisa mencapai derajat tinggi, itu menunjukkan kesombongan dirinya (ia sudah merasa cukup amal ibadahnya)."
Al Hasan berkata : “Mencari surga tanpa beramal adalah suatu dosa, dari jenis dosa-dosa yang lain."
Nabi Isa bersabda: “Orang yang mempelajari suatu ilmu tetapi tidak mau mengamalkannya, bagaikan seo rang wanita yang berbuat zina di tempat tersembunyi, lalu ia hamil dan perut wanita itu semakin besar yang akhirnya ketahuan dia hamil. Begitu juga dengan orang yang tidak mau mengamalkan ilmunya, pada hari kiiamat nanti Allah akan memperlihatkan dia dihadapan semua makhluk yang hadir di Makhsyar."
Dari sini kita dapat mengambil faedah:
1. Anjuran agar kita semakin bersemangat dalam menuntut ilmu syar'i sehingga semoga setiap ilmu yang kita dapatkan, kita berusaha untuk dapat kita amalkan.
2. Maka seharusnya ini dapat kita jadikan sebagai tujuan utama kita dalam menuntut ilmu, yaitu kita mencari ilmu agar kita dapat mengamalkannya; bukan hanya sekedar “koleksi” ilmu saja. namun tercermin dalam amal-amal kita, baik amalan hati, lisan maupun anggota badan.
3. Dengan mengamalkan ilmu (secara ikhlash), maka pasti Allah SWT akan menunjuki kita ilmu-ilmu yang belum kita ketahui.
4. Dengan mengamalkan ilmu (dengan ikhlash) pula, maka akan memperkuat keimanan dalam hati kita.
5. Dengan mengamalkan ilmu (secara ikhlash) pula, maka akan membantu kita istiqamah di atas jalan yang haq.
6. Allah menyebut mengamalkan ilmu sebagai salah satu bentuk jihad. Ini merupakan.jawaban kepada kaum TAKFIRIY yang hanya mengkhususkan jihad kepada jihad qital (perang) saja. Padahal makna jihad itu sangat luas.
7. Sebagaimana mengamalkan il mu itu adalah jihad, maka menuntut ilmu pun merupakan jihad.
Berkata Abud Darda radhiyallahu ‘anhu:
“Orang-orang yang menganggap pergi dan pulang menuntut ilmu bukan termasuk jihad, berarti akal dan pikiranya telah berkurang.”
(Atsar diriwayatkan ad Darimiy, dalam sunannya)
_______
- M. Tholib, op.cit
- Abullaits Assamarqandi, Tanbihul Ghafilin, Alihbahasa H. Salim Bahre isy, Surabaya, Bina Ilmu, 1978, II.
- https://tenri02blogspot.com
- https://abuzuhriy.wordpress. com
Oleh aminuddin
TENTU saja ilmu pengetahuan yang kita miliki itu akan sangat berguna bila diamalkan. Ia adalah amal per buatan yang sangat disenangi Allah SWT.
Rasulullah SAW bersabda:
"Amal yang utama di atas bumi ini ada tiga: penuntut ilmu, jihad dan usaha kasab. Penuntut ilmu itu kekasih Allah, pejuang jihad waliyullah dan usaha kasab itu adalah shiddiqullah (orang yang sungguh-sungguh bertakwa kepada Allah SWT)."
Atau seperti yang dikatakan M. Tho lib ... "Dengan ilmu manusia dapat mencapai tingkat yang terpuji dan baik, dengan ilmu ia akan taat beribadah, bahkan dengan ilmu itu pula ia akan menghubungkan rasa tali per saudaraan. Ilmu juga akan membawa ke arah kebahagiaan dan mencegah jatuhnya seseorang ke dalam lem bah kesengsaraan."
Dalam mengamalkan ilmu kita harus memperhatikan hal-hal beri kut diantaranya :
- Jangan melihat tempat dan waktu dalam mengamalkan ilmu.
- Meskipun sedikit amalkan ilmumu. Dikisahkan ... "Sesungguh nya Al–Junaid, setelah meninggal dunia ada seorang yang bermimpi bertemu dia, lalu ia bertanya kepa da Al–Junaid :
“Wahai Abu Qasim (Imam Junaid), bagaimana keadaanmu setelah meninggal?"
Al–Junaid menjawab :" Aduh … kebaikan yang aku lakukan hilang semuanya dan seluruh isyarah amal-amal itu juga hilang tidak ada manfaatnya sedikitpun kecuali beberapa rakaat yang aku laku kan di tengah malam”.
Keterangan Al-Junaid membuktikan bahwa derajat seseorang di sisi Allah SWT itu tidak dilihat dari ba nyaknya ilmu yang dipelajari dan dikuasai melainkan dilihat dari pengamalannya.
Jadi, meskipun ilmunya sedikit, lalu diamalkan itu lebih baik dan berarti daripada memiliki ilmu yang banyak tetapi tidak diamalkan.
- Janganlah menunggu masa tua dalam mengamalkan ilmu.
- Jangan beranggapan ilmu itu bisa mengangkat derajatmu bila tanpa diamalkan.
Ali karramallahu wajhah berkata : “Barangsiapa menyangka bahwa tanpa jerih payah beribadah dirinya bisa mencapai derajat yang tinggi, itu berarti dia mengharapkan perkara yang sulit datangnya. Barang siapa me nyangka dengan menyepelekan ibadah dirinya bisa mencapai derajat tinggi, itu menunjukkan kesombongan dirinya (ia sudah merasa cukup amal ibadahnya)."
Al Hasan berkata : “Mencari surga tanpa beramal adalah suatu dosa, dari jenis dosa-dosa yang lain."
Nabi Isa bersabda: “Orang yang mempelajari suatu ilmu tetapi tidak mau mengamalkannya, bagaikan seo rang wanita yang berbuat zina di tempat tersembunyi, lalu ia hamil dan perut wanita itu semakin besar yang akhirnya ketahuan dia hamil. Begitu juga dengan orang yang tidak mau mengamalkan ilmunya, pada hari kiiamat nanti Allah akan memperlihatkan dia dihadapan semua makhluk yang hadir di Makhsyar."
Dari sini kita dapat mengambil faedah:
1. Anjuran agar kita semakin bersemangat dalam menuntut ilmu syar'i sehingga semoga setiap ilmu yang kita dapatkan, kita berusaha untuk dapat kita amalkan.
2. Maka seharusnya ini dapat kita jadikan sebagai tujuan utama kita dalam menuntut ilmu, yaitu kita mencari ilmu agar kita dapat mengamalkannya; bukan hanya sekedar “koleksi” ilmu saja. namun tercermin dalam amal-amal kita, baik amalan hati, lisan maupun anggota badan.
3. Dengan mengamalkan ilmu (secara ikhlash), maka pasti Allah SWT akan menunjuki kita ilmu-ilmu yang belum kita ketahui.
4. Dengan mengamalkan ilmu (dengan ikhlash) pula, maka akan memperkuat keimanan dalam hati kita.
5. Dengan mengamalkan ilmu (secara ikhlash) pula, maka akan membantu kita istiqamah di atas jalan yang haq.
6. Allah menyebut mengamalkan ilmu sebagai salah satu bentuk jihad. Ini merupakan.jawaban kepada kaum TAKFIRIY yang hanya mengkhususkan jihad kepada jihad qital (perang) saja. Padahal makna jihad itu sangat luas.
7. Sebagaimana mengamalkan il mu itu adalah jihad, maka menuntut ilmu pun merupakan jihad.
Berkata Abud Darda radhiyallahu ‘anhu:
“Orang-orang yang menganggap pergi dan pulang menuntut ilmu bukan termasuk jihad, berarti akal dan pikiranya telah berkurang.”
(Atsar diriwayatkan ad Darimiy, dalam sunannya)
_______
- M. Tholib, op.cit
- Abullaits Assamarqandi, Tanbihul Ghafilin, Alihbahasa H. Salim Bahre isy, Surabaya, Bina Ilmu, 1978, II.
- https://tenri02blogspot.com
- https://abuzuhriy.wordpress.
Mawar Mewangi (11)
Serial Mafia
Mawar Mewangi (11)
Oleh Wak Amin
"ADUH ... Menges gue Co." Kata Taisek, kepayahan. Bersandar di dinding sebuah ruko yang sudah tutup.
Magrib tiba ...
Azan berkumandang ...
"Kemana Sek? Mau shalat?"
Ssssst ...
"Kencing tau .."
Selang beberapa menit kemudian, Rahman sudah tiba di kediaman Santi. Dia ingin mengajak rekan se kerjanya itu memburu Taisek dan Tauco.
"Sepertinya mereka kesana Man," ucap Santi menunjuk ke sebelah kanan, simpang empat menuju jalan protokol.
"Ayo cepat!"
Kletek ... Kletek ...
Mengunci rapat pintu.
Malam datang. Lampu mulai menyala. Menyinari terang di setiap sudut jalan. Suara klakson mobil sesekali terdengar, seolah bersahut-sahutan.
Cuaca cerah. Tak ada tanda-tanda bakal turun hujan malam ini.
"Letnan Sayuti. Ini saya, Rahman."
"Terus kejar Man. Mana Santi?"
"Lagi melamun Let."
Ha ha ha ...
"Oke .. Kejar terus dan laporkan kepada saya perkembangannya."
"Siap Let."
Rahman mulai memacu mobilnya. Melewati lorong-lorong kecil di pusat kota. Setiap warung mereka sing gahi. Sekadar ingin memastikan apa mungkin Taisek dan Tauco melewati lorong beraspal mulus itu.
Sepuluh lorong mereka lalui. Tapi keberadaan Taisek dan Tauco tak juga diketahui.
"Kita lanjutkan besok saja Man." Usul Santi, yang kelihatan masih belum fit setelah berduel seru dengan Taisek dan Tauco.
"Tanggung San. Coba kita ke kafe-kafe ya ... Please."
"Oke."
Di perempatan jalan ...
Taisek menghentikan mobil yang dia sopiri di pinggir jalan dekat beberapa warung jajanan. Keduanya mau ngopi sejenak sebelum menemui Sang Bos.
Sedangkan dua rekannya yang lain, Taici dan Tainen baru kembali dari pelabuhan, mengawasi pengiriman barang yang didatangkan dari luar negeri.
Sambil bercengkrama, Taisek mengatakan pada Tauco bahwa impiannya kelak ingin sekali menjadi The Big Bos.
Hua ha ha ha ...
"Tak bakalan terwujud Bro."
"Kenapa?"
"Dari tampangmu saja enggak ada," ledek Tauco.
"Memang tampangku ini kurang pas apa Bro?"
"Ya ialah. Kalau calon Bos itu kan ... Enggak pelit. Suka membantu teman dan cepat bertindak, mengambil keputusan."
"Tapi boleh saja aku bermimpi Bro."
Ha ha ha ha ...
"Ya ialah. Kalau cuma bermimpi, siapa yang larang."
"Yuk kita sikat."
Selain kopi hangat, Taisek juga memesan nasi goreng panggang ayam dan soto serta beberapa tusuk sate kambing dan ayam.
Dari dalam mobil seberang jalan ...
"Kamu yakin mereka San?" Rahman 'mengeker' ulang posisi Taisek dan Tauco yang tengah melahap nasi goreng bersama pengunjung yang lain.
"Coba kau lihat lagi," pinta Rahman, supaya lebih jelas dan meyakinkan hati.
"Kalau seperti ini, gemuk juga kita Bro," kata Tauco sambil menyeruput kopi.
Ha ha ha ha ...
"Tul Bro. Tapi ya itulah .."
"Itulah kenapa Bro?"
"Dompetnya bolong .."
He he he he ..
Santi tersenyum lega.
"Tak salah lagi Man. Mereka lah yang mengeroyok saya tadi," aku Santi.
Darahnya mulai mendidih. Ingin sekali dia menghajar Taisek dan Tauco.
"Tahan emosimu San." Rahman beranggapan akan lebih baik menunggu incaran mereka meninggalkan warung jajanan ketimbang harus turun sekarang dari mobil, mengamankan Tauco dan Taisek.
Mawar Mewangi (11)
Oleh Wak Amin
"ADUH ... Menges gue Co." Kata Taisek, kepayahan. Bersandar di dinding sebuah ruko yang sudah tutup.
Magrib tiba ...
Azan berkumandang ...
"Kemana Sek? Mau shalat?"
Ssssst ...
"Kencing tau .."
Selang beberapa menit kemudian, Rahman sudah tiba di kediaman Santi. Dia ingin mengajak rekan se kerjanya itu memburu Taisek dan Tauco.
"Sepertinya mereka kesana Man," ucap Santi menunjuk ke sebelah kanan, simpang empat menuju jalan protokol.
"Ayo cepat!"
Kletek ... Kletek ...
Mengunci rapat pintu.
Malam datang. Lampu mulai menyala. Menyinari terang di setiap sudut jalan. Suara klakson mobil sesekali terdengar, seolah bersahut-sahutan.
Cuaca cerah. Tak ada tanda-tanda bakal turun hujan malam ini.
"Letnan Sayuti. Ini saya, Rahman."
"Terus kejar Man. Mana Santi?"
"Lagi melamun Let."
Ha ha ha ...
"Oke .. Kejar terus dan laporkan kepada saya perkembangannya."
"Siap Let."
Rahman mulai memacu mobilnya. Melewati lorong-lorong kecil di pusat kota. Setiap warung mereka sing gahi. Sekadar ingin memastikan apa mungkin Taisek dan Tauco melewati lorong beraspal mulus itu.
Sepuluh lorong mereka lalui. Tapi keberadaan Taisek dan Tauco tak juga diketahui.
"Kita lanjutkan besok saja Man." Usul Santi, yang kelihatan masih belum fit setelah berduel seru dengan Taisek dan Tauco.
"Tanggung San. Coba kita ke kafe-kafe ya ... Please."
"Oke."
Di perempatan jalan ...
Taisek menghentikan mobil yang dia sopiri di pinggir jalan dekat beberapa warung jajanan. Keduanya mau ngopi sejenak sebelum menemui Sang Bos.
Sedangkan dua rekannya yang lain, Taici dan Tainen baru kembali dari pelabuhan, mengawasi pengiriman barang yang didatangkan dari luar negeri.
Sambil bercengkrama, Taisek mengatakan pada Tauco bahwa impiannya kelak ingin sekali menjadi The Big Bos.
Hua ha ha ha ...
"Tak bakalan terwujud Bro."
"Kenapa?"
"Dari tampangmu saja enggak ada," ledek Tauco.
"Memang tampangku ini kurang pas apa Bro?"
"Ya ialah. Kalau calon Bos itu kan ... Enggak pelit. Suka membantu teman dan cepat bertindak, mengambil keputusan."
"Tapi boleh saja aku bermimpi Bro."
Ha ha ha ha ...
"Ya ialah. Kalau cuma bermimpi, siapa yang larang."
"Yuk kita sikat."
Selain kopi hangat, Taisek juga memesan nasi goreng panggang ayam dan soto serta beberapa tusuk sate kambing dan ayam.
Dari dalam mobil seberang jalan ...
"Kamu yakin mereka San?" Rahman 'mengeker' ulang posisi Taisek dan Tauco yang tengah melahap nasi goreng bersama pengunjung yang lain.
"Coba kau lihat lagi," pinta Rahman, supaya lebih jelas dan meyakinkan hati.
"Kalau seperti ini, gemuk juga kita Bro," kata Tauco sambil menyeruput kopi.
Ha ha ha ha ...
"Tul Bro. Tapi ya itulah .."
"Itulah kenapa Bro?"
"Dompetnya bolong .."
He he he he ..
Santi tersenyum lega.
"Tak salah lagi Man. Mereka lah yang mengeroyok saya tadi," aku Santi.
Darahnya mulai mendidih. Ingin sekali dia menghajar Taisek dan Tauco.
"Tahan emosimu San." Rahman beranggapan akan lebih baik menunggu incaran mereka meninggalkan warung jajanan ketimbang harus turun sekarang dari mobil, mengamankan Tauco dan Taisek.
Mawar Mewangi (10)
Serial Mafia
Mawar Mewangi (10)
Oleh Wak Amin
KETIKA turun dari mobil hendak menuju kediamannya, jelang Magrib Santi dicegat dua lelaki berpakaian rapi dan berpenampilan necis. Kedua lelaki itu adalah Taisek dan Tauco.
Semula Santi tak menghiraukan kehadiran Taisek dan Tauco. Hal ini dikarenakan bukan sekali dua ini dia berpapasan dengan lelaki dan perempuan yang tengah berjalan kaki di trotoar dekat rumahnya.
Saling sapa jika kebetulan kenal, atau bersikap santun bila kali pertama melihatnya, Santi sering perlihatkan pada mereka.
Sejauh ini aman-aman saja. Meski sebagian besar tetangganya yang dekat dan jauh tahu Santi bukan perempuan biasa.
Seorang polisi perempuan, polwan orang acap menyebutnya, yang dikenal ramah sama siapapun. Sayang, keramahannya ini tidak berlaku pada Taisek dan Tauco.
Druuup ...
Duuup ...
Cegreeg ...
Plask .. Plak ..
Dig .. Dig ..
Secepat kilat Santi mundur. Dia bergerak ke kanan. Tauco melompat, melepaskan tendangan.
Cekaak ...
Buuug ...
Tauco terjatuh ke trotoar setelah Santi menepis tendangan lurus dengan melepas pukulan tangan kanan ke punggung.
Auuugh ...
Meringis kesakitan ...
Santi menggerakkan kaki kanannya ...
Adooouw ...
Sakiiiit ...
Dia menginjakkan sepatunya ke muka Tauco sekuat-kuatnya, sebelum ditendang ke jalan, mengenai kotak sampah.
Braaak ...
Cuuuur ...
Kotak sampah terbalik. Sampah berceceran, di antaranya menempel di mukanya Tauco.
Terakhir, sisa air minum botolan, tumpah. Masuk ke mulutnya yang sempat terbuka tadinya.
Ha ha ha ha ...
Beberapa orang ibu yang ikut menonton duel seru antara Santi dengan Taisek dan Tauco, ketawa terpingkal-pingkal melihat Tauco meronta-ronta di tengah kerubutan sampah basah dan kering.
"Ayo maju!"
Taisek jadi ragu untuk menyerang Santi.
"Wuuu ... Banci." Ejek seorang pemuda tanggung berambut panjang sebatas bahu.
"Lucu ya Ma, Om itu. Berdiri aja. Ngapain dia Ma?" Tanya seorang anak pada ibunya yang menyetir mobil. Berhenti di seberang jalan karena sang anak meminta berhenti ingin menyaksikan duel seru antara Taisek dan Santi.
Karena malu hati, Taisek coba menyerang. Dia dekati Santi dari sebelah kanan.
Santi mundur beberapa langkah ke belakang, Taisek terus mendekat.
Huuup ...
Taisek melompat ke atas mobil. Santi tidak meladeninya. Dia justru memancing Taisek turun.
Santi berhasil ...
Kini keduanya saling berhadapan dekat tiang listrik, tak jauh dari kotak sampah.
Ciyaaat ...
Taisek melepaskan tendangan. Dielakkan Santi dengan menunduk. Saat itu juga dia pukul selangkangan lawannya.
Tak disangka, mengena dengan tepat. Taisek mengerang kesakitan. Dia jatuh terkapar.
Aduuuh ....
Aduuuh ...
"Hilang perkututku," ringisnya.
Ha ha ha ha ...
Saat Taisek mengaduh itulah, Tauco berhasil keluar dari tumpukan sampah yang berserak, lalu melempar kotak sampah itu ke arah Santi.
Praaak ...
Kotak sampah itu terbelah tiga karena ditangkis Santi menggunakan kedua kakinya sambil melompat.
"Cepaat Sek!"
Menarik paksa tangan Taisek, secepatnya kabur sebelum keburu diamuk warga yang terus berdatangan.
Santi coba mengejar ...
Dia urungkan setelah secara bersa maan beberapa kendaraan berhenti mendadak di tengah jalan akibat seliweran Taisek dan Tauco yang menyeberang sambil menyerempet beberapa pengendara motor yang lalu-lalang dari arah berlawanan.
Mawar Mewangi (10)
Oleh Wak Amin
KETIKA turun dari mobil hendak menuju kediamannya, jelang Magrib Santi dicegat dua lelaki berpakaian rapi dan berpenampilan necis. Kedua lelaki itu adalah Taisek dan Tauco.
Semula Santi tak menghiraukan kehadiran Taisek dan Tauco. Hal ini dikarenakan bukan sekali dua ini dia berpapasan dengan lelaki dan perempuan yang tengah berjalan kaki di trotoar dekat rumahnya.
Saling sapa jika kebetulan kenal, atau bersikap santun bila kali pertama melihatnya, Santi sering perlihatkan pada mereka.
Sejauh ini aman-aman saja. Meski sebagian besar tetangganya yang dekat dan jauh tahu Santi bukan perempuan biasa.
Seorang polisi perempuan, polwan orang acap menyebutnya, yang dikenal ramah sama siapapun. Sayang, keramahannya ini tidak berlaku pada Taisek dan Tauco.
Druuup ...
Duuup ...
Cegreeg ...
Plask .. Plak ..
Dig .. Dig ..
Secepat kilat Santi mundur. Dia bergerak ke kanan. Tauco melompat, melepaskan tendangan.
Cekaak ...
Buuug ...
Tauco terjatuh ke trotoar setelah Santi menepis tendangan lurus dengan melepas pukulan tangan kanan ke punggung.
Auuugh ...
Meringis kesakitan ...
Santi menggerakkan kaki kanannya ...
Adooouw ...
Sakiiiit ...
Dia menginjakkan sepatunya ke muka Tauco sekuat-kuatnya, sebelum ditendang ke jalan, mengenai kotak sampah.
Braaak ...
Cuuuur ...
Kotak sampah terbalik. Sampah berceceran, di antaranya menempel di mukanya Tauco.
Terakhir, sisa air minum botolan, tumpah. Masuk ke mulutnya yang sempat terbuka tadinya.
Ha ha ha ha ...
Beberapa orang ibu yang ikut menonton duel seru antara Santi dengan Taisek dan Tauco, ketawa terpingkal-pingkal melihat Tauco meronta-ronta di tengah kerubutan sampah basah dan kering.
"Ayo maju!"
Taisek jadi ragu untuk menyerang Santi.
"Wuuu ... Banci." Ejek seorang pemuda tanggung berambut panjang sebatas bahu.
"Lucu ya Ma, Om itu. Berdiri aja. Ngapain dia Ma?" Tanya seorang anak pada ibunya yang menyetir mobil. Berhenti di seberang jalan karena sang anak meminta berhenti ingin menyaksikan duel seru antara Taisek dan Santi.
Karena malu hati, Taisek coba menyerang. Dia dekati Santi dari sebelah kanan.
Santi mundur beberapa langkah ke belakang, Taisek terus mendekat.
Huuup ...
Taisek melompat ke atas mobil. Santi tidak meladeninya. Dia justru memancing Taisek turun.
Santi berhasil ...
Kini keduanya saling berhadapan dekat tiang listrik, tak jauh dari kotak sampah.
Ciyaaat ...
Taisek melepaskan tendangan. Dielakkan Santi dengan menunduk. Saat itu juga dia pukul selangkangan lawannya.
Tak disangka, mengena dengan tepat. Taisek mengerang kesakitan. Dia jatuh terkapar.
Aduuuh ....
Aduuuh ...
"Hilang perkututku," ringisnya.
Ha ha ha ha ...
Saat Taisek mengaduh itulah, Tauco berhasil keluar dari tumpukan sampah yang berserak, lalu melempar kotak sampah itu ke arah Santi.
Praaak ...
Kotak sampah itu terbelah tiga karena ditangkis Santi menggunakan kedua kakinya sambil melompat.
"Cepaat Sek!"
Menarik paksa tangan Taisek, secepatnya kabur sebelum keburu diamuk warga yang terus berdatangan.
Santi coba mengejar ...
Dia urungkan setelah secara bersa maan beberapa kendaraan berhenti mendadak di tengah jalan akibat seliweran Taisek dan Tauco yang menyeberang sambil menyerempet beberapa pengendara motor yang lalu-lalang dari arah berlawanan.
Mawar Mewangi (9)
Serial Mafia
Mawar Mewangi (9)
Oleh Wak Amin
"HEBAT kamu Ci," puji Bos Siao Lung di ruang kerjanya yang besar. Berkali-kali dia memuji Taici, semen tara Tauco, Taisek dan Tainen tidak disebutnya sama sekali.
"Bos pilih kasih." Tauco memberani kan diri protes. Sebab, tewasnya Letnan Komar bukan cuma kerja keras Taici semata, tapi juga teman-teman yang lain.
"Apa mungkin Taici bisa sukses tanpa keterlibatan kami Bos," kata Taisek.
"Betul Bos," sahut Tainen. "Bukan apa-apa Bos. Maksud kami, kalau Bos memuji Taici, ya apa salahnya kami juga dipuji gitu ..."
Taici tersinggung ...
"Tapi saya komandan. Wajar bila saya yang dipuji. Toh kalau saya dipuji kalian juga ikut dipuji. Betul tidak Bos?"
"Belum tentu," ujar Taisek.
"Apa maksudmu Sek? Melawan saya, haa?" Mencengkram kerah baju Taisek, Taici sudah mengepalkan tinjunya, hendak menonjok hidung teman seprofesinya itu.
Priiiit ...
Tauco menarik tangan Taisek, sementara Bos Siao Lung meminta Taici menahan diri.
"Kita ini merayakan kemenangan bukan saling gontok-gontokan. Paham?"
Semua terdiam.
"Jika kalian tetap gontok-gontokan, kalian berempat saya pecat ..."
"Jangan Bos," rengek Taici. " Kalau saya dipecat, dompet saya kempes."
Hua ha ha ha ...
Taisek kelepasan tertawa.
Taici kembali tersinggung.
Kali ini dicegah Tainen. Hampir saja robek baju belakang Taici akibat tarikan tangan Tainen.
Karena kesal, Bos Siao Lung meminta Taici dan ketiga rekannya keluar dari ruangan kerjanya.
Dia tak ingin kesuksesan menghabisi nyawa Letnan Komar ternodai tingkah cengeng empat anak buahnya.
Sementara itu ...
"Rahman. Tolong!" Teriakan Santi membuat Rahman dan beberapa anggota kepolisian yang lain kaget.
Mereka bersegera menolong Letnan Sayuti yang terjepit di sela kursi.
"Pelan-pelan Man." Santi mengingatkan. Meski kursi yang ditempati Letnan Sayuti sekarang ini sudah ditu kar dengan ukuran yang lebih besar, tetap saja tak seukuran dengan pinggang pria berkulit putih itu.
Hampir lima menit, Letnan Sayuti baru bisa bernafas lega setelah sandaran kursi; kiri, kanan dan belakang dilepas.
Seisi kantor menyaksikan, deg-degan proses pelepasan itu, tepuk tangan pun terdengar riuh setelah Rahman berhasil melepas sandaran tangan kiri serta kanan kursi standar kerja itu.
"Alhamdulillah," ucap Santi lega. Mudah-mudahan saja Letnan Sayuti tidak marah kendati dia merasa yakin bos baru pengganti Letman Komar itu bisa menyesuaikan diri di tempat kerja yang baru.
"Tak apa-apa Pak?"
"Alhamdulillah tak apa-apa Man," kata Letnan Sayuti.
"Suruh yang lain kembali bekerja. Saya, kamu dan Santi masuk ke ruang rapat ..."
"Siap Pak."
Selaku bos baru, Letnan Sayuti sudah bertemu dengan Rahman dan Santi. Karena dia tahu, meski sering bertemu, namun baru kali pertama ini bekerjasama dalam satu tim.
"Saya harap, apa yang kita rencanakan dan putuskan bersama ditindaklanjuti," harap Letnan Sayuti.
"Unek-unek jangan disimpan di da lam hati. Tapi sampaikanlah pada orang yang tepat agar bermanfaat, bukan justru menimbulkan mudharat."
Mawar Mewangi (9)
Oleh Wak Amin
"HEBAT kamu Ci," puji Bos Siao Lung di ruang kerjanya yang besar. Berkali-kali dia memuji Taici, semen tara Tauco, Taisek dan Tainen tidak disebutnya sama sekali.
"Bos pilih kasih." Tauco memberani kan diri protes. Sebab, tewasnya Letnan Komar bukan cuma kerja keras Taici semata, tapi juga teman-teman yang lain.
"Apa mungkin Taici bisa sukses tanpa keterlibatan kami Bos," kata Taisek.
"Betul Bos," sahut Tainen. "Bukan apa-apa Bos. Maksud kami, kalau Bos memuji Taici, ya apa salahnya kami juga dipuji gitu ..."
Taici tersinggung ...
"Tapi saya komandan. Wajar bila saya yang dipuji. Toh kalau saya dipuji kalian juga ikut dipuji. Betul tidak Bos?"
"Belum tentu," ujar Taisek.
"Apa maksudmu Sek? Melawan saya, haa?" Mencengkram kerah baju Taisek, Taici sudah mengepalkan tinjunya, hendak menonjok hidung teman seprofesinya itu.
Priiiit ...
Tauco menarik tangan Taisek, sementara Bos Siao Lung meminta Taici menahan diri.
"Kita ini merayakan kemenangan bukan saling gontok-gontokan. Paham?"
Semua terdiam.
"Jika kalian tetap gontok-gontokan, kalian berempat saya pecat ..."
"Jangan Bos," rengek Taici. " Kalau saya dipecat, dompet saya kempes."
Hua ha ha ha ...
Taisek kelepasan tertawa.
Taici kembali tersinggung.
Kali ini dicegah Tainen. Hampir saja robek baju belakang Taici akibat tarikan tangan Tainen.
Karena kesal, Bos Siao Lung meminta Taici dan ketiga rekannya keluar dari ruangan kerjanya.
Dia tak ingin kesuksesan menghabisi nyawa Letnan Komar ternodai tingkah cengeng empat anak buahnya.
Sementara itu ...
"Rahman. Tolong!" Teriakan Santi membuat Rahman dan beberapa anggota kepolisian yang lain kaget.
Mereka bersegera menolong Letnan Sayuti yang terjepit di sela kursi.
"Pelan-pelan Man." Santi mengingatkan. Meski kursi yang ditempati Letnan Sayuti sekarang ini sudah ditu kar dengan ukuran yang lebih besar, tetap saja tak seukuran dengan pinggang pria berkulit putih itu.
Hampir lima menit, Letnan Sayuti baru bisa bernafas lega setelah sandaran kursi; kiri, kanan dan belakang dilepas.
Seisi kantor menyaksikan, deg-degan proses pelepasan itu, tepuk tangan pun terdengar riuh setelah Rahman berhasil melepas sandaran tangan kiri serta kanan kursi standar kerja itu.
"Alhamdulillah," ucap Santi lega. Mudah-mudahan saja Letnan Sayuti tidak marah kendati dia merasa yakin bos baru pengganti Letman Komar itu bisa menyesuaikan diri di tempat kerja yang baru.
"Tak apa-apa Pak?"
"Alhamdulillah tak apa-apa Man," kata Letnan Sayuti.
"Suruh yang lain kembali bekerja. Saya, kamu dan Santi masuk ke ruang rapat ..."
"Siap Pak."
Selaku bos baru, Letnan Sayuti sudah bertemu dengan Rahman dan Santi. Karena dia tahu, meski sering bertemu, namun baru kali pertama ini bekerjasama dalam satu tim.
"Saya harap, apa yang kita rencanakan dan putuskan bersama ditindaklanjuti," harap Letnan Sayuti.
"Unek-unek jangan disimpan di da lam hati. Tapi sampaikanlah pada orang yang tepat agar bermanfaat, bukan justru menimbulkan mudharat."
Langganan:
Postingan (Atom)