Kemiskinan (12)
Oleh aminuddin
PENDEKATAN kedua betapa perlunya manusia itu memiliki ilmu pengetahuan dan keterampilan.
Karena dengan semakin bertambah majunya zaman, ilmu pengetahuan dan keterampilan terasa sangat dibutuhkan.
Islam sendiri, kata M Tholib, memerintahkan supaya belajar, sebab belajar itu kewajiban yang utama dan sarana terbaik untuk mencerdaskan
bangsa atau umat dan kebangunan di dunia ini.
Dengan belajar yang sungguh-su ngguh, kata Muammal Hamidy, akan kita dapatkan ilmu.
"Tapi ilmu pengetahuan yang dianjurkan untuk dicari itu bukan sekadar
hobi dan perhiasan untuk bermegah-megahan melainkan bermotif mengenal
Allah SWT dengan baik dan berbakti kepadanya," jelas Hamidy.
Allah SWT berfirman :
"Katakanlah: "Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi. Tidakkah bermanfaat tanda kekua saan Allah dan rasul-rasul yang memberi
peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman."
Menurut Abdul Halim Usais, ilmu pengetahuan akan dapat menolong kita
memahami ayat suci Al-Quranul karim dan mengetahui segi muk jizatnya
dari kitab suci ini, meski bukan berarti Al-Quranulkarim itu sendiri
kitab ilmiah dalam artian populer dewasa ini.
________
- M. Tholib, "Fungsi Ilmu Pengetahu an", Al-Muslimun, N0 146, Mei 1982.
- Muammal Hamidy, " Pandangan Islam terhadap Ilmu Pengetahuan", Al-Muslimun, NO 126, September 1980.
- QS Yunus 101.
- Abdul Halim Usais, "Al-Quran dan Persoalan Ilmu Pengetahuan", Al-Muslimun, NO 146, Mei 1982.
Senin, 30 April 2018
Kemiskinan (11)
Kemiskinan (11)
Oleh aminuddin
DALAM sejarah perjalanan para sahabat Nabi, demikian kata Syekh Muhammad Yusuf Qardhawy, kita dapati di antara mereka ada juga yang bekerja sebagai pedagang, pertukangan, petani dan lain sebagainya.
Mayoritas sahabat Anshar ahli di bidang pertanian. Sedangkan sahabat Muhajirin ahli perdagangan dan menempa dalam pasar.
Misalnya Abdurrahman bin 'Auf, seorang Muhajirin pernah disodori oleh rekannya, Saad bin ar-Rabi', salah seorang Anshar, separo kekayaan dan rumahnya serta disuruh memilih dari salah seorang isterinya supaya dapat melindungi kehormatan kawannya itu.
Abdurrahman kemudian berkata kepada Saad:
"Semoga Allah memberi barakah kepadamu terhadap hartamu dan isterimu. Saya tidak perlu kepadanya. "
Abdurrahman menambahkan :
"Apakah di sini ada pasar yang bisa dipakai untuk berdagang?"
Jawab Saad : " Ya ada, yaitu Pasar Bani Qainuqa'."
Maka besok paginya Abdurrahman pergi ke pasar membawa keju dan samin. Dia jual-beli di sana.
Begitulah seterusnya. Akhirnya Ab durrahman bin 'Auf menjadi seorang pedagang muslim yang kaya raya. Saking kayanya, sampai dia meninggal dunia pun, kekayaan yang dimilikinya masih bertumpuk-tumpuk.
Abu Bakar juga bekerja sebagai pedagang, sehingga pada waktu akan dilantik sebagai khalifah, beliau sedang bersiap-siap akan ke pasar.
Demikian pula halnya dengan Umar Ibnul Khaththab, Utsman bin Affan, dan lain-lain.
_________
SYEKH Muhammad Yusuf Al-Qar dhawy, Halal dan Haram dalam Is lam, Alihbahasa Muammal Hami dy, PT Bina Ilmu Surabaya, 1982.
Oleh aminuddin
DALAM sejarah perjalanan para sahabat Nabi, demikian kata Syekh Muhammad Yusuf Qardhawy, kita dapati di antara mereka ada juga yang bekerja sebagai pedagang, pertukangan, petani dan lain sebagainya.
Mayoritas sahabat Anshar ahli di bidang pertanian. Sedangkan sahabat Muhajirin ahli perdagangan dan menempa dalam pasar.
Misalnya Abdurrahman bin 'Auf, seorang Muhajirin pernah disodori oleh rekannya, Saad bin ar-Rabi', salah seorang Anshar, separo kekayaan dan rumahnya serta disuruh memilih dari salah seorang isterinya supaya dapat melindungi kehormatan kawannya itu.
Abdurrahman kemudian berkata kepada Saad:
"Semoga Allah memberi barakah kepadamu terhadap hartamu dan isterimu. Saya tidak perlu kepadanya. "
Abdurrahman menambahkan :
"Apakah di sini ada pasar yang bisa dipakai untuk berdagang?"
Jawab Saad : " Ya ada, yaitu Pasar Bani Qainuqa'."
Maka besok paginya Abdurrahman pergi ke pasar membawa keju dan samin. Dia jual-beli di sana.
Begitulah seterusnya. Akhirnya Ab durrahman bin 'Auf menjadi seorang pedagang muslim yang kaya raya. Saking kayanya, sampai dia meninggal dunia pun, kekayaan yang dimilikinya masih bertumpuk-tumpuk.
Abu Bakar juga bekerja sebagai pedagang, sehingga pada waktu akan dilantik sebagai khalifah, beliau sedang bersiap-siap akan ke pasar.
Demikian pula halnya dengan Umar Ibnul Khaththab, Utsman bin Affan, dan lain-lain.
_________
SYEKH Muhammad Yusuf Al-Qar dhawy, Halal dan Haram dalam Is lam, Alihbahasa Muammal Hami dy, PT Bina Ilmu Surabaya, 1982.
Kemiskinan (10)
Kemiskinan (10)
Oleh aminuddin
KETIKA menggembalakan kambing itu, Muhammad SAW memperlakukan kambing-kambingnya dengan “perikehewanan”. Saat berada di padang rumput yang luas pun, beliau mendapatkan banyak inspirasi dari alam semesta yang damai berkat ciptaan-Nya.
Beliau benar-benar mengagungkan sang Pencipta alam raya saat menyaksikan keindahan semesta.
Dari pembelajaran menggembala kambing ini, ada beberapa pelajaran yang bisa diambil:
Pertama, pelajaran kesabaran. Seorang penggembala tak bisa menjadi baik jika tak memiliki kesabaran saat menggembalakan kam bingnya.
Apalagi kondisi alam di jazirah Arab yang panas mengharuskan penggembala kambing memiliki kesabaran yang sangat luar biasa.
Pelajaran kedua adalah pembelajaran menjadi seorang yang rendah hati atau tawadhu. Tentu saja ada sebagian masyarakat yang masih memandang sebelah mata profesi penggembala.
Namun, Muhammad SAW tidak melihat dengan kacamata yang sempit. Di balik pekerjaan sebagai peng gembala terdapat hikmah yang besar dalam kehidupannya di masa yang akan datang.
Pelajaran ketiga, belajar menjadi se orang pemberani. Hal ini terkait dengan rawannya hewan gembalaan itu diserang binatang-binatang buas seperti ular dan lainnya.
Di sinilah dibutuhkan keberanian dari seorang penggembala untuk melindungi kambing-kambingnya dari gangguan binatang buas.
Keempat, mengajarkan tentang bagaimana memimpin umat kelak. Umat yang banyak itu ibarat kambing yang juga beragam sifat dan watak.
Dari kebiasaan menggembalakan kambing itu, Muhammad SAW jadi mengetahui bagaimana memper lakukan satu kambing dengan lainnya sehingga menjamin rasa keadilan.
Dari Ummu Hani ra, Rasulullah SAW bersabda : "Peliharalah kam bing karena kambing itu penuh berkah." (HR Ibnu Majah).
"Tidak ada Nabi kecuali pernah menjadi penggembala kambing."
Para sahabat bertanya:
"Apakah engkau juga wahai Rasulullah?"
Beliau berkata :
"Iya. Saya telah menggembala dengan imbalan beberapa qirath ( mata uang dinar) dari peduduk Mekah." (HR Bukhari dari Abu Hurairah).
_________
- w-islam.com
- Rumaysho.com
Oleh aminuddin
KETIKA menggembalakan kambing itu, Muhammad SAW memperlakukan kambing-kambingnya dengan “perikehewanan”. Saat berada di padang rumput yang luas pun, beliau mendapatkan banyak inspirasi dari alam semesta yang damai berkat ciptaan-Nya.
Beliau benar-benar mengagungkan sang Pencipta alam raya saat menyaksikan keindahan semesta.
Dari pembelajaran menggembala kambing ini, ada beberapa pelajaran yang bisa diambil:
Pertama, pelajaran kesabaran. Seorang penggembala tak bisa menjadi baik jika tak memiliki kesabaran saat menggembalakan kam bingnya.
Apalagi kondisi alam di jazirah Arab yang panas mengharuskan penggembala kambing memiliki kesabaran yang sangat luar biasa.
Pelajaran kedua adalah pembelajaran menjadi seorang yang rendah hati atau tawadhu. Tentu saja ada sebagian masyarakat yang masih memandang sebelah mata profesi penggembala.
Namun, Muhammad SAW tidak melihat dengan kacamata yang sempit. Di balik pekerjaan sebagai peng gembala terdapat hikmah yang besar dalam kehidupannya di masa yang akan datang.
Pelajaran ketiga, belajar menjadi se orang pemberani. Hal ini terkait dengan rawannya hewan gembalaan itu diserang binatang-binatang buas seperti ular dan lainnya.
Di sinilah dibutuhkan keberanian dari seorang penggembala untuk melindungi kambing-kambingnya dari gangguan binatang buas.
Keempat, mengajarkan tentang bagaimana memimpin umat kelak. Umat yang banyak itu ibarat kambing yang juga beragam sifat dan watak.
Dari kebiasaan menggembalakan kambing itu, Muhammad SAW jadi mengetahui bagaimana memper lakukan satu kambing dengan lainnya sehingga menjamin rasa keadilan.
Dari Ummu Hani ra, Rasulullah SAW bersabda : "Peliharalah kam bing karena kambing itu penuh berkah." (HR Ibnu Majah).
"Tidak ada Nabi kecuali pernah menjadi penggembala kambing."
Para sahabat bertanya:
"Apakah engkau juga wahai Rasulullah?"
Beliau berkata :
"Iya. Saya telah menggembala dengan imbalan beberapa qirath ( mata uang dinar) dari peduduk Mekah." (HR Bukhari dari Abu Hurairah).
_________
- w-islam.com
- Rumaysho.com
Mawar Mewangi (8)
Serial Mafia
Mawar Mewangi (8)
Oleh Wak Amin
SUARA tembakan terdengar berulangkali mewarnai pemakaman Letnan Komar. Sang isteri dan kedua anaknya tak kuasa menahan air mata saat peti mati dimasukkan ke liang lahat.
Santi yang berdoa di dekat Yulia Komar juga ikut menangis. Sementara Rahman berjaga-jaga di sekitar areal pemakaman.
Prosesi pemakaman berjalan lancar dan khidmat serta diwarnai tetesan air mata. Meski tidak terdengar jeri tan histeris, mata merah yang terlihat di sebagian besar mata pelayat masih membekas setelah pemakaman selesai dilakukan.
Yulia Komar dan dua anaknya yang berbusana serba hitam dikawal beberapa petugas keamanan, masuk ke dalam mobil sedan berukuran besar. Meluncur ke luar area pemakaman, mengikuti iring-iringan kendaraan lain yang jumlahnya mendekati dua ratus lima puluh unit.
Sementara Rahman menghentikan mobilnya persis di pintu gerbang pemakaman sebelah kanan. Berdiri seorang perempuan cantik, tinggi semampai berambut panjang sebatas bahu.
"Santi ... Ayo!"
Santi tak mau masuk. Masih berdiri sambil menundukkan wajahnya.
Rahman turun dari mobil. Dia dekati Santi yang masih berdiri mematung sebelum memeluknya sembari menangis sesunggukan.
Eeeek ... Eeeee ...
Eeeeek .. Eeee ...
Rahman membiarkan tangis itu memecah di dekapannya. Dia merasakan dingin di sekitar dadanya. Bajunya basah terkena tumpahan air mata Santi.
Rahman menenangkannya ...
"Aku takut Man." Ucapnya terisak.
Rahman sengaja belum menghidupkan mesin mobil. Dia masih penasaran kenapa koleganya itu bersikap sangat berbeda hari ini.
"Aku merasa bersalah, Man," kata Santi lagi.
"Bersalah kenapa?"
Santi berusaha tidak menangis lagi. Tapi belum bisa tenang. Nafasnya masih turun naik tak beraturan.
"Minum dulu ya!"
Beberapa teguk air mineral. Santi tampak lebih tenang setelah itu. Dia mulai bisa mengingat beberapa adegan kejadian sebelum terjadinya ledakan yang menewaskan Letnan Komar.
"Minumlah lagi. Biar lebih tenang .."
Kali ini Rahman yang memberinya minuman. Tak banyak. Hanya dua teguk sebelum mobil melaju lambat meninggalkan area pemakaman.
"Aku betul-betul capek saat itu, Man. Aku sempat untuk tetap pergi menemani beliau. Tapi aku urungkan karena beliau sepertinya tahu dengan kondisi aku," terang Santi.
Jujur Santi masih merasa menyesal. "Andai saja waktu itu aku teri ma dan aku katakan tidak capek, tentulah beliau masih hidup Man."
Ha ha ha ha ...
"Aku gimana Santi?"
"Gimana apanya?"
"Misalnya kamu jadi pergi sama Letnan. Lalu kamu ikut mati juga. Lantas aku sendirian dong ..."
Buk ... Buk ... Buk ...
"Udah ah. Stop. Aku mau keluar."
Syiiiiuuuut ..
Mobil berhenti.
Rahman bergegas turun. Lalu menahan pintu mobil yang sudah terbuka separo itu.
"Ti. Lihat aku!"
Rahman mengangkat sedikit dagu Santi. Lurus berhadapan dengan wajahnya yang penuh iba dan harap. Harapan untuk terus bertahan agar bisa tetap bersama menguak secercah kebenaran.
Mawar Mewangi (8)
Oleh Wak Amin
SUARA tembakan terdengar berulangkali mewarnai pemakaman Letnan Komar. Sang isteri dan kedua anaknya tak kuasa menahan air mata saat peti mati dimasukkan ke liang lahat.
Santi yang berdoa di dekat Yulia Komar juga ikut menangis. Sementara Rahman berjaga-jaga di sekitar areal pemakaman.
Prosesi pemakaman berjalan lancar dan khidmat serta diwarnai tetesan air mata. Meski tidak terdengar jeri tan histeris, mata merah yang terlihat di sebagian besar mata pelayat masih membekas setelah pemakaman selesai dilakukan.
Yulia Komar dan dua anaknya yang berbusana serba hitam dikawal beberapa petugas keamanan, masuk ke dalam mobil sedan berukuran besar. Meluncur ke luar area pemakaman, mengikuti iring-iringan kendaraan lain yang jumlahnya mendekati dua ratus lima puluh unit.
Sementara Rahman menghentikan mobilnya persis di pintu gerbang pemakaman sebelah kanan. Berdiri seorang perempuan cantik, tinggi semampai berambut panjang sebatas bahu.
"Santi ... Ayo!"
Santi tak mau masuk. Masih berdiri sambil menundukkan wajahnya.
Rahman turun dari mobil. Dia dekati Santi yang masih berdiri mematung sebelum memeluknya sembari menangis sesunggukan.
Eeeek ... Eeeee ...
Eeeeek .. Eeee ...
Rahman membiarkan tangis itu memecah di dekapannya. Dia merasakan dingin di sekitar dadanya. Bajunya basah terkena tumpahan air mata Santi.
Rahman menenangkannya ...
"Aku takut Man." Ucapnya terisak.
Rahman sengaja belum menghidupkan mesin mobil. Dia masih penasaran kenapa koleganya itu bersikap sangat berbeda hari ini.
"Aku merasa bersalah, Man," kata Santi lagi.
"Bersalah kenapa?"
Santi berusaha tidak menangis lagi. Tapi belum bisa tenang. Nafasnya masih turun naik tak beraturan.
"Minum dulu ya!"
Beberapa teguk air mineral. Santi tampak lebih tenang setelah itu. Dia mulai bisa mengingat beberapa adegan kejadian sebelum terjadinya ledakan yang menewaskan Letnan Komar.
"Minumlah lagi. Biar lebih tenang .."
Kali ini Rahman yang memberinya minuman. Tak banyak. Hanya dua teguk sebelum mobil melaju lambat meninggalkan area pemakaman.
"Aku betul-betul capek saat itu, Man. Aku sempat untuk tetap pergi menemani beliau. Tapi aku urungkan karena beliau sepertinya tahu dengan kondisi aku," terang Santi.
Jujur Santi masih merasa menyesal. "Andai saja waktu itu aku teri ma dan aku katakan tidak capek, tentulah beliau masih hidup Man."
Ha ha ha ha ...
"Aku gimana Santi?"
"Gimana apanya?"
"Misalnya kamu jadi pergi sama Letnan. Lalu kamu ikut mati juga. Lantas aku sendirian dong ..."
Buk ... Buk ... Buk ...
"Udah ah. Stop. Aku mau keluar."
Syiiiiuuuut ..
Mobil berhenti.
Rahman bergegas turun. Lalu menahan pintu mobil yang sudah terbuka separo itu.
"Ti. Lihat aku!"
Rahman mengangkat sedikit dagu Santi. Lurus berhadapan dengan wajahnya yang penuh iba dan harap. Harapan untuk terus bertahan agar bisa tetap bersama menguak secercah kebenaran.
Mawar Mewangi (7)
Serial Mafia
Mawar Mewangi (7)
Oleh Wak Amin
"BAIK-baik. Coba jelaskan kepada saya, apa yang akan kalian lakukan berikutnya?" Tanya Siao Lung. Me rasa capek dan bosan sendiri marah-marah tak karuan tadinya.
Kursi dan meja berantakan. Masih untung bogem mentah Siao Lung tidak mendarat di wajah Taici dan tiga rekannya.
"Kita sikat saja satu persatu Bos," usul Tauco. Nanti dipilih yang lebih gampang dihabisi dari ketiga personal Tim Mawar Mewangi itu.
"Dengan cara apa Co?" Tanya Taisek. Dia hanya ingin memastikan saja, dibunuh atau disiksa baru dibunuh sebagai teror.
"Dooor ... kelepek .. kelepek .. beres," kata Tauco.
Meski beda cara menghabisi Rahman cs, Taici dan rekan-rekannya sepakat 'aparat' yang selalu mengawasi dan menghalangi gerak-gerik Siao Lung harus secepatnya disikat.
Tak mudah memang, siapa yang lebih dulu dihabisi. Namun Bos Siao Lung memutuskan yang pertama kali dihabisi adalah Letnan Komar.
"Setuju?"
"Setuju Bos. Siap laksanakan ...!"
Di salah satu pusat perbelanjaan ..
Sore hari ...
Letnan Komar keluar dari mall. Menuju mobil yang dia parkirkan di samping bangunan bertingkat lima itu.
Agak gelap dan sepi. Tak biasanya Letnan Komar shopping sendiri. Biasanya, jika tidak ditemani anak atau isteri, dia tak segan-segan meminta bantuan Santi dan Rahman.
Dia merasa sore hari ini lebih fresh. Dia ingin sendirian. Dia ingin mengulang memori di masa lalu, saat perta ma kali bertugas di kepolisian. Masih single. Belum berumah tangga. Punya isteri dan anak.
Sebelum ini dia Letnan Komar belum pernah mengalami hal-hal aneh. Apalagi sampai ditembak, kecuali beberapa waktu lalu, menimpa salah seorang anak buahnya, Aulia.
Maka itu, dengan langkah pasti dan hati yang tenang, dia masuk ke mobilnya, hendak menelepon Rahman, tapi kemudian dia urungkan karena merasa tak nyaman.
Piiiin ...
Piiin ...
Piiiin ...
Mobil berbelok ke kanan, menuruni jalan yang menurun, menuju pintu exit mall terbesar di kota ini.
Pembeli ramai. Mobil antrean keluar masuk pintu sebelah kanan. Petugas security sibuk mengatur arus kendaraan yang sore hari ini jauh lebih ramai.
Mobil yang dikemudikan Letnan Komar kian menjauh. Tiba di sebuah perempatan, mesin tiba-tiba mati.
Dia coba nyalakan lagi. Tapi tak juga bisa. Dia memutuskan untuk keluar dari mobil.
Pintu dibuka ...
Setelah itu ...
Guaaaam ...
Jegaaaar ...
Jeguuuur ...
Traaaash ...
Mobil 'mental' ke atas, lalu terhempas ke jalanan beraspal.
Api meletup-letup menghanguskan mobil dan seisinya.
Tercerai berai ...
Mawar Mewangi (7)
Oleh Wak Amin
"BAIK-baik. Coba jelaskan kepada saya, apa yang akan kalian lakukan berikutnya?" Tanya Siao Lung. Me rasa capek dan bosan sendiri marah-marah tak karuan tadinya.
Kursi dan meja berantakan. Masih untung bogem mentah Siao Lung tidak mendarat di wajah Taici dan tiga rekannya.
"Kita sikat saja satu persatu Bos," usul Tauco. Nanti dipilih yang lebih gampang dihabisi dari ketiga personal Tim Mawar Mewangi itu.
"Dengan cara apa Co?" Tanya Taisek. Dia hanya ingin memastikan saja, dibunuh atau disiksa baru dibunuh sebagai teror.
"Dooor ... kelepek .. kelepek .. beres," kata Tauco.
Meski beda cara menghabisi Rahman cs, Taici dan rekan-rekannya sepakat 'aparat' yang selalu mengawasi dan menghalangi gerak-gerik Siao Lung harus secepatnya disikat.
Tak mudah memang, siapa yang lebih dulu dihabisi. Namun Bos Siao Lung memutuskan yang pertama kali dihabisi adalah Letnan Komar.
"Setuju?"
"Setuju Bos. Siap laksanakan ...!"
Di salah satu pusat perbelanjaan ..
Sore hari ...
Letnan Komar keluar dari mall. Menuju mobil yang dia parkirkan di samping bangunan bertingkat lima itu.
Agak gelap dan sepi. Tak biasanya Letnan Komar shopping sendiri. Biasanya, jika tidak ditemani anak atau isteri, dia tak segan-segan meminta bantuan Santi dan Rahman.
Dia merasa sore hari ini lebih fresh. Dia ingin sendirian. Dia ingin mengulang memori di masa lalu, saat perta ma kali bertugas di kepolisian. Masih single. Belum berumah tangga. Punya isteri dan anak.
Sebelum ini dia Letnan Komar belum pernah mengalami hal-hal aneh. Apalagi sampai ditembak, kecuali beberapa waktu lalu, menimpa salah seorang anak buahnya, Aulia.
Maka itu, dengan langkah pasti dan hati yang tenang, dia masuk ke mobilnya, hendak menelepon Rahman, tapi kemudian dia urungkan karena merasa tak nyaman.
Piiiin ...
Piiin ...
Piiiin ...
Mobil berbelok ke kanan, menuruni jalan yang menurun, menuju pintu exit mall terbesar di kota ini.
Pembeli ramai. Mobil antrean keluar masuk pintu sebelah kanan. Petugas security sibuk mengatur arus kendaraan yang sore hari ini jauh lebih ramai.
Mobil yang dikemudikan Letnan Komar kian menjauh. Tiba di sebuah perempatan, mesin tiba-tiba mati.
Dia coba nyalakan lagi. Tapi tak juga bisa. Dia memutuskan untuk keluar dari mobil.
Pintu dibuka ...
Setelah itu ...
Guaaaam ...
Jegaaaar ...
Jeguuuur ...
Traaaash ...
Mobil 'mental' ke atas, lalu terhempas ke jalanan beraspal.
Api meletup-letup menghanguskan mobil dan seisinya.
Tercerai berai ...
Mawar Mewangi (6)
Serial Mafia
Mawar Mewangi (6)
Oleh Wak Amin
SEBELUM menemui Sang Bos, Taici cs singgah sejenak malam harinya di sebuah warung minuman. Waru ng itu tak begitu besar.
Tapi banyak juga yang mampir. Tak pernah sepi. Tidak tua, muda usia pun ingin mencoba, atau sekadar menghabiskan malam sambil menikmati beragam minuman. Mulai dari teh, kopi hingga botolan selain makanan ringan.
Taici cs mengambil tempat di pojok sebelah kanan. Mereka memesan kopi dan beberapa botol minuman bersoda serta kue.
"Kita pasti kena marah Bos." Taisek mengawali pembicaraan. Sejak masuk warung menyerupai kafe ini mereka berempat belum bicara sepatah kata pun.
"Tahan-tahankan sajalah," kata Tainen.
"Kalau menurutku, kita akui sajalah," ujar Taisek.
"Mengakui bagaimana?" Taici tak habis pikir. Masa sudah capek-capek dan hampir dapat mau menyerah. Menganggap Rahman dan Santi jauh lebih hebat.
"Maksudku Ci. Kita akui saja bahwa yang kita kejar ini hebat dan licik. Dengan begitu mudah-mydahan Bos bisa mengerti kita dan yang pasti Bos tidak akan memarahi kita."
"Menurut saya," potong Tauco, "Apa yang dikatakan Taisek itu ada benarnya juga, Bos Taici. Ini demi ke selamatan kita. Sebab, saya kuatir, kalau misalnya Bos kita marahnya sudah sampai puncaknya, bisa-bisa kita ..."
"Kenapa?"
"Tidak dipecat ya didoor ..." Jelas Tauco terus terang.
Hampir sejam mereka tukar pikiran tentang nasib ke depan pasca gagalnya menangkap dan menghabisi Rahman serta Santi.
Sementara di kantor kepolisian, Let nan Komar baru saja selesai menerima telepon dari koleganya di luar kota.
Tidak ada perbincangan serius kecuali keinginan untuk bertemu karena sudah hampir setahun tidak bersua.
Tak lama setelah itu, dia kedatangan Rahman, sendirian tanpa di temani Santi. Keduanya terlibat obrolan serius. Empat mata membahas penyisiran terhadap buruan pihak kepolisian, Bos Siao Lung.
"Santi tak kau ajak, Man?" Tanya Letnan Komar sebelum keduanya berpisah di ruang parkiran belakang gedung.
"Beliau kelihatan amat lelah, Let. Saya kuatir, jika dipaksakan ikut, jatuh sakit."
"Oke .. Saya hanya minta kalian berdua lebih hati-hati ya," pesan Letnan Komar.
"Siip Let."
Caaaarr ...
Reeeen ...
Lampu depan memancar terang ke depan, menerangi dinding parkiran. Belok kanan. Keduanya berpisah di luar pintu gerbang perkantoran. Satu ke kiri, satunya lagi ke sebelah kanan.
Di tengah perjalanan pulang ke rumah, Rahman menelepon Santi, yang ternyata belum tidur. Malah baru saja selesai mandi dan berkeramas.
"Apa sih Man bilang Bos?"
"Kamu cantik ..."
Hik .. hik .. hik ...
"Gombal ah. Serius ah aku ngomongnya."
"Ya serius. Kamu kan tahu mana pernah aku berbohong kepadamu. Betul kan?"
"Oke. Tak usah dibahas. Lantas, apa hubungannya beliau bilang aku cantik?"
"Ya adalah ..."
"Apa dong?"
"Nanti Bos Siao Lung naksir kamu Santi."
"Iiiiech. Amit-amit deh Man. Kayak enggak ada lelaki lain apa?"
"Ada."
"Kok tau?"
"Ya taulah ..."
"Siapa dong?"
"Aku .."
He he he he ...
Rahman menepikan mobilnya di tepi jalan. Depan kawasan perkantoran.
"San ..."
"Ya udah. Kamu kan?"
"Iya San. Terus terang San. Kenapa belakangan ini dadaku seolah bergetar ..."
"Gejala jantung itu namanya."
"Iya, itu aku tau. Tapi dengar dulu ceritaku."
"Oke. Aku akan dengar .."
"Dadaku bergetar kalau sebut nama kamu ..."
"Gombal .."
Bhua ha ha ha ...
Mawar Mewangi (6)
Oleh Wak Amin
SEBELUM menemui Sang Bos, Taici cs singgah sejenak malam harinya di sebuah warung minuman. Waru ng itu tak begitu besar.
Tapi banyak juga yang mampir. Tak pernah sepi. Tidak tua, muda usia pun ingin mencoba, atau sekadar menghabiskan malam sambil menikmati beragam minuman. Mulai dari teh, kopi hingga botolan selain makanan ringan.
Taici cs mengambil tempat di pojok sebelah kanan. Mereka memesan kopi dan beberapa botol minuman bersoda serta kue.
"Kita pasti kena marah Bos." Taisek mengawali pembicaraan. Sejak masuk warung menyerupai kafe ini mereka berempat belum bicara sepatah kata pun.
"Tahan-tahankan sajalah," kata Tainen.
"Kalau menurutku, kita akui sajalah," ujar Taisek.
"Mengakui bagaimana?" Taici tak habis pikir. Masa sudah capek-capek dan hampir dapat mau menyerah. Menganggap Rahman dan Santi jauh lebih hebat.
"Maksudku Ci. Kita akui saja bahwa yang kita kejar ini hebat dan licik. Dengan begitu mudah-mydahan Bos bisa mengerti kita dan yang pasti Bos tidak akan memarahi kita."
"Menurut saya," potong Tauco, "Apa yang dikatakan Taisek itu ada benarnya juga, Bos Taici. Ini demi ke selamatan kita. Sebab, saya kuatir, kalau misalnya Bos kita marahnya sudah sampai puncaknya, bisa-bisa kita ..."
"Kenapa?"
"Tidak dipecat ya didoor ..." Jelas Tauco terus terang.
Hampir sejam mereka tukar pikiran tentang nasib ke depan pasca gagalnya menangkap dan menghabisi Rahman serta Santi.
Sementara di kantor kepolisian, Let nan Komar baru saja selesai menerima telepon dari koleganya di luar kota.
Tidak ada perbincangan serius kecuali keinginan untuk bertemu karena sudah hampir setahun tidak bersua.
Tak lama setelah itu, dia kedatangan Rahman, sendirian tanpa di temani Santi. Keduanya terlibat obrolan serius. Empat mata membahas penyisiran terhadap buruan pihak kepolisian, Bos Siao Lung.
"Santi tak kau ajak, Man?" Tanya Letnan Komar sebelum keduanya berpisah di ruang parkiran belakang gedung.
"Beliau kelihatan amat lelah, Let. Saya kuatir, jika dipaksakan ikut, jatuh sakit."
"Oke .. Saya hanya minta kalian berdua lebih hati-hati ya," pesan Letnan Komar.
"Siip Let."
Caaaarr ...
Reeeen ...
Lampu depan memancar terang ke depan, menerangi dinding parkiran. Belok kanan. Keduanya berpisah di luar pintu gerbang perkantoran. Satu ke kiri, satunya lagi ke sebelah kanan.
Di tengah perjalanan pulang ke rumah, Rahman menelepon Santi, yang ternyata belum tidur. Malah baru saja selesai mandi dan berkeramas.
"Apa sih Man bilang Bos?"
"Kamu cantik ..."
Hik .. hik .. hik ...
"Gombal ah. Serius ah aku ngomongnya."
"Ya serius. Kamu kan tahu mana pernah aku berbohong kepadamu. Betul kan?"
"Oke. Tak usah dibahas. Lantas, apa hubungannya beliau bilang aku cantik?"
"Ya adalah ..."
"Apa dong?"
"Nanti Bos Siao Lung naksir kamu Santi."
"Iiiiech. Amit-amit deh Man. Kayak enggak ada lelaki lain apa?"
"Ada."
"Kok tau?"
"Ya taulah ..."
"Siapa dong?"
"Aku .."
He he he he ...
Rahman menepikan mobilnya di tepi jalan. Depan kawasan perkantoran.
"San ..."
"Ya udah. Kamu kan?"
"Iya San. Terus terang San. Kenapa belakangan ini dadaku seolah bergetar ..."
"Gejala jantung itu namanya."
"Iya, itu aku tau. Tapi dengar dulu ceritaku."
"Oke. Aku akan dengar .."
"Dadaku bergetar kalau sebut nama kamu ..."
"Gombal .."
Bhua ha ha ha ...
Mawar Mewangi (5)
Serial Mafia
Mawar Mewangi (5)
Oleh Wak Amin
TAUCO memberanikan diri mendekat ke mobil Rahman. Dia amati. Depan, belakang dan bagian dalam mobil yang miring sebelah, ke kanan.
"Enggak ada Bos," kata Tauco.
Taici memundurkan mobilnya, berhenti di depan mobilnya Rahman.
"Benar enggak ada Co?" Tanya Taici penasaran.
Cepat sekali mereka berlari.
Kemana ya?
"Itu mereka Bos Ci." Tunjuk Taisek ke sebelah kanan. Sebuah mobil truk berhenti. Keduanya melompat naik tanpa sepengetahuan pengemudi truk.
"Bangsat. Kita tertipu. Came on!" Taici menyalakan mesin mobil. Me lesat cepat mengejar truk tanpa muatan itu.
Dari bak belakang truk, Rahman mengintip mobil yang disopiri Taisek, mulai mengejar.
"Sementara aman, San." Kata Rahman.
Sementara pemilik sekaligus sopir truk, teman di sebelahnya menghitung sejumlah uang kertas lima puluhan ribu, bersiul riang karena setelah ini mereka akan pulang ke rumah.
"Jangan lupa Bro." Sang sopir mengingatkan teman di sebelahnya. "Anakmu lima. Jangan kau habiskan uangmu di minuman saja. Kasihlah anak dan isterimu. Mereka juga mau makan, minum, pakaian dan banyaklah. Kau pasti tahu itu ...."
"Tahulah Bro. Makanya aku hitung dulu duitku ini ..."
"Buat apa?"
"Dibagi-bagi Bro. Kalau saya kasih kan semuanya ke isteriku, pasti habislah. Padahal keperluan kita ini kan bukan buat makan saja."
"Benar kamu Bro. Lalu ...?"
"Ya, aku bagi- bagilah Bro. Sekian untuk belanja dapur, sekian untuk keperluan anak sekolah, sekian juga untuk bayar listrik dan sisanya, kalau masih ada, ditabung buat jaga-jaga," kata teman si sopir.
"Pintar kamu Bro. Tak percuma aku punya teman seperti kamu. Tidak merokok, tapi ngopi ..."
Ha ha ha ha ...
Door ...
Door ...
Dooor ..
Door ...
Terperanjat juga sang sopir truk. Dia menoleh ke belakang, melihat ke kaca spion. Sebuah mobil mendekat dan memaksa sang sopir menghentikan mobilnya.
Karena merasa tak punya musuh, takut dan baru kali pertama truk ditembaki dan dipaksa berhenti bukan oleh petugas, sang sopir menepikan truknya.
Syuuut ...
Dreeegh ...
Sreeet ..
Taici, Tauco, Tainen dan Taisek, turun dari mobil. Taici menginterogasi sopir truk dan temannya, tiga cs nya naik ke bak truk.
Kecele lagi ...
"Bos Ci. Tak ada ..." Kata Tainen. Sesaat setelah melompat dari bak truk.
"Apa?"
Marah besar. Sang sopir jadi sasaran. Digebuki berkali-kali. Setelah itu kabur karena dilihat banyak orang. Masih untung tak dihakimi massa.
"Cepat San ...!"
Dia tarik tangan Santi. Dinaikkan ke sepeda motor. Jalanan ramai. Senja sudah merambat malam.
Lampu-lampu jalan mulai menyala. Sayup-sayup terdengar suara biduanita mendendangkan tembang lawas dari sebuah kafe di pinggir jalan.
Para musisi jalanan mulai beraksi. Rumah makan bertenda mulai di datangi pembeli. Mall-mall mulai ramai dengan berbagai aktivitas.
"Aku antar kamu dulu ya San. Tak keberatan kan?"
"Tidak. Malah senang ..."
"Setelah itu baru ke rumahku, dan kita pikirkan bagaimana sebaiknya kita bersikap dan bertindak .."
Mawar Mewangi (5)
Oleh Wak Amin
TAUCO memberanikan diri mendekat ke mobil Rahman. Dia amati. Depan, belakang dan bagian dalam mobil yang miring sebelah, ke kanan.
"Enggak ada Bos," kata Tauco.
Taici memundurkan mobilnya, berhenti di depan mobilnya Rahman.
"Benar enggak ada Co?" Tanya Taici penasaran.
Cepat sekali mereka berlari.
Kemana ya?
"Itu mereka Bos Ci." Tunjuk Taisek ke sebelah kanan. Sebuah mobil truk berhenti. Keduanya melompat naik tanpa sepengetahuan pengemudi truk.
"Bangsat. Kita tertipu. Came on!" Taici menyalakan mesin mobil. Me lesat cepat mengejar truk tanpa muatan itu.
Dari bak belakang truk, Rahman mengintip mobil yang disopiri Taisek, mulai mengejar.
"Sementara aman, San." Kata Rahman.
Sementara pemilik sekaligus sopir truk, teman di sebelahnya menghitung sejumlah uang kertas lima puluhan ribu, bersiul riang karena setelah ini mereka akan pulang ke rumah.
"Jangan lupa Bro." Sang sopir mengingatkan teman di sebelahnya. "Anakmu lima. Jangan kau habiskan uangmu di minuman saja. Kasihlah anak dan isterimu. Mereka juga mau makan, minum, pakaian dan banyaklah. Kau pasti tahu itu ...."
"Tahulah Bro. Makanya aku hitung dulu duitku ini ..."
"Buat apa?"
"Dibagi-bagi Bro. Kalau saya kasih kan semuanya ke isteriku, pasti habislah. Padahal keperluan kita ini kan bukan buat makan saja."
"Benar kamu Bro. Lalu ...?"
"Ya, aku bagi- bagilah Bro. Sekian untuk belanja dapur, sekian untuk keperluan anak sekolah, sekian juga untuk bayar listrik dan sisanya, kalau masih ada, ditabung buat jaga-jaga," kata teman si sopir.
"Pintar kamu Bro. Tak percuma aku punya teman seperti kamu. Tidak merokok, tapi ngopi ..."
Ha ha ha ha ...
Door ...
Door ...
Dooor ..
Door ...
Terperanjat juga sang sopir truk. Dia menoleh ke belakang, melihat ke kaca spion. Sebuah mobil mendekat dan memaksa sang sopir menghentikan mobilnya.
Karena merasa tak punya musuh, takut dan baru kali pertama truk ditembaki dan dipaksa berhenti bukan oleh petugas, sang sopir menepikan truknya.
Syuuut ...
Dreeegh ...
Sreeet ..
Taici, Tauco, Tainen dan Taisek, turun dari mobil. Taici menginterogasi sopir truk dan temannya, tiga cs nya naik ke bak truk.
Kecele lagi ...
"Bos Ci. Tak ada ..." Kata Tainen. Sesaat setelah melompat dari bak truk.
"Apa?"
Marah besar. Sang sopir jadi sasaran. Digebuki berkali-kali. Setelah itu kabur karena dilihat banyak orang. Masih untung tak dihakimi massa.
"Cepat San ...!"
Dia tarik tangan Santi. Dinaikkan ke sepeda motor. Jalanan ramai. Senja sudah merambat malam.
Lampu-lampu jalan mulai menyala. Sayup-sayup terdengar suara biduanita mendendangkan tembang lawas dari sebuah kafe di pinggir jalan.
Para musisi jalanan mulai beraksi. Rumah makan bertenda mulai di datangi pembeli. Mall-mall mulai ramai dengan berbagai aktivitas.
"Aku antar kamu dulu ya San. Tak keberatan kan?"
"Tidak. Malah senang ..."
"Setelah itu baru ke rumahku, dan kita pikirkan bagaimana sebaiknya kita bersikap dan bertindak .."
Mawar Mewangi (3)
Serial Mafia
Mawar Mewangi (3)
Oleh Wak Amin
HUUUP ...
Santi dan Rahman keluar dari persembunyian. Sambil mengendap-endap, mereka bergegas menuju mobil hitam di sebelah kanan.
"Cepat San ...!"
Tanpa suara, pintu mobil dibuka, lalu keduanya masuk. Tak ada lampu menyala.
Rahman memutuskan untuk 'memancing' Taici cs mengejar.
Caranya?
Sryuuut ...
Lesatan mobil yang dikemudikan Rahman terdengar Taici, Tauco dan Taisek. Sedangkan Tainen masih asyik buang air kecil di bawah pohon besar dan rindang.
"Oi tunggu oi." Teriak Tainen. Berlari sambil menutup reiusliting celananya mengejar mobil yang masih berjalan lambat.
"Buka saja pintunya, Co." Kata Taici. "Biarkan dia masuk sendiri ..."
Meski lambat, Tainen harus bersusah payah untuk bisa masuk mobil karena pintu yang dia pegang justru bergoyang-goyang keras. Kadang terbuka lebar, kadang tertutup tapi tidak mengunci.
Syuuuut ..
Dreeep ...
Taici terpaksa ngerem mendadak. Akibatnya, kepala Tainen membentur pintu mobil. Meski tak terluka, bikin puyeng kepala. Sementara mobil Rahman dan Santi sudah jauh di depan.
"Cepat goblok ..."
Taici marah. Dia kuatir incaran mereka bakal lepas dan resikonya kena damprat Bos Siao Lung.
"Itu mereka Ci!" Teriak Tauco. Melihat ke kanan, sebuah mobil hitam melaju pelan, berputar-putar di kawasan pemakaman.
"Apa tidak sebaiknya kita keluar saja dari area pemakaman ini Man?"
"Kita bermain dulu San," jawab Rahman dengan tenang sembari melirik ke belakang mobil dari kaca spion.
"Saya kuatir mereka bakal kurang ajar pada kita Rahman."
"Enggak. Tenang aja."
Ssssst ...
"Kamu siap kan San. Mereka ada di belakang kita sekarang ..."
Syuuut ...
Mulanya cepat, di tengah perjalanan, Rahman justru memperlambat laju mobilnya.
Dooor ...
Doooor ...
Cuma kena ban mobil, Rahman melakukan zig-zug. Taici cs makin bernafsu mengejar. Berusaha mengejar dan memepet mobil di depannya.
"Menunduk Man." Jerit Santi. Bersigap membuka pintu mobil, bermaksud melepaskan tembakan.
"Tahan dulu San!" Kata Rahman.
Santi menutup kembali pintu mobil. Rahman memutar arah ke sebelah kanan.
Di pinggir jalan pemakaman ada lubang. Tanah menurun yang lembek dan berbecek serta tergenang air jika hujan turun lebat.
Sreeet ...
Dreeeg ...
Mobil ngerem mendadak ...
Santi menggeser kaca pintu mobil, mengacungkan senjatanya dan ...
Dooor ..
Door ...
Dua kali tembakan. Satu mengenai ban depan, satunya lagi tepat menyasar ke samping kanan Taici.
Tak kena memang, tapi karena terkejut dan di luar perkiraan, Taici panik.
Dalam keadaan panik itulah mobil seolah berzig-zug beberapa meter, sebelum terguling masuk tanah yang menurun tadi.
Ha ha ha ha ...
Hu hu hu hu ...
Beberapa peziarah tertawa terbahak-bahak melihat kejadian yang menimpa Taicu cs barusan.
Mereka iba sebenarnya. Namun, saat hendak ditolong, justru Taici marah besar.
Dengan setengah membentak, dia mengusir paksa peziarah yang hendak mendekat dan membantu Tauco serta Taisek yang masih terhimpit di bawah mobil.
Mawar Mewangi (3)
Oleh Wak Amin
HUUUP ...
Santi dan Rahman keluar dari persembunyian. Sambil mengendap-endap, mereka bergegas menuju mobil hitam di sebelah kanan.
"Cepat San ...!"
Tanpa suara, pintu mobil dibuka, lalu keduanya masuk. Tak ada lampu menyala.
Rahman memutuskan untuk 'memancing' Taici cs mengejar.
Caranya?
Sryuuut ...
Lesatan mobil yang dikemudikan Rahman terdengar Taici, Tauco dan Taisek. Sedangkan Tainen masih asyik buang air kecil di bawah pohon besar dan rindang.
"Oi tunggu oi." Teriak Tainen. Berlari sambil menutup reiusliting celananya mengejar mobil yang masih berjalan lambat.
"Buka saja pintunya, Co." Kata Taici. "Biarkan dia masuk sendiri ..."
Meski lambat, Tainen harus bersusah payah untuk bisa masuk mobil karena pintu yang dia pegang justru bergoyang-goyang keras. Kadang terbuka lebar, kadang tertutup tapi tidak mengunci.
Syuuuut ..
Dreeep ...
Taici terpaksa ngerem mendadak. Akibatnya, kepala Tainen membentur pintu mobil. Meski tak terluka, bikin puyeng kepala. Sementara mobil Rahman dan Santi sudah jauh di depan.
"Cepat goblok ..."
Taici marah. Dia kuatir incaran mereka bakal lepas dan resikonya kena damprat Bos Siao Lung.
"Itu mereka Ci!" Teriak Tauco. Melihat ke kanan, sebuah mobil hitam melaju pelan, berputar-putar di kawasan pemakaman.
"Apa tidak sebaiknya kita keluar saja dari area pemakaman ini Man?"
"Kita bermain dulu San," jawab Rahman dengan tenang sembari melirik ke belakang mobil dari kaca spion.
"Saya kuatir mereka bakal kurang ajar pada kita Rahman."
"Enggak. Tenang aja."
Ssssst ...
"Kamu siap kan San. Mereka ada di belakang kita sekarang ..."
Syuuut ...
Mulanya cepat, di tengah perjalanan, Rahman justru memperlambat laju mobilnya.
Dooor ...
Doooor ...
Cuma kena ban mobil, Rahman melakukan zig-zug. Taici cs makin bernafsu mengejar. Berusaha mengejar dan memepet mobil di depannya.
"Menunduk Man." Jerit Santi. Bersigap membuka pintu mobil, bermaksud melepaskan tembakan.
"Tahan dulu San!" Kata Rahman.
Santi menutup kembali pintu mobil. Rahman memutar arah ke sebelah kanan.
Di pinggir jalan pemakaman ada lubang. Tanah menurun yang lembek dan berbecek serta tergenang air jika hujan turun lebat.
Sreeet ...
Dreeeg ...
Mobil ngerem mendadak ...
Santi menggeser kaca pintu mobil, mengacungkan senjatanya dan ...
Dooor ..
Door ...
Dua kali tembakan. Satu mengenai ban depan, satunya lagi tepat menyasar ke samping kanan Taici.
Tak kena memang, tapi karena terkejut dan di luar perkiraan, Taici panik.
Dalam keadaan panik itulah mobil seolah berzig-zug beberapa meter, sebelum terguling masuk tanah yang menurun tadi.
Ha ha ha ha ...
Hu hu hu hu ...
Beberapa peziarah tertawa terbahak-bahak melihat kejadian yang menimpa Taicu cs barusan.
Mereka iba sebenarnya. Namun, saat hendak ditolong, justru Taici marah besar.
Dengan setengah membentak, dia mengusir paksa peziarah yang hendak mendekat dan membantu Tauco serta Taisek yang masih terhimpit di bawah mobil.
Mawar Mewangi (4)
Serial Mafia
Mawar Mewangi (4)
Oleh Wak Amin
"BELUM keluar mereka Man." Kata Santi. Merasa haus. Dia keluar sebentar. Membeli minuman dan se telah itu masuk lagi ke dalam mobil.
Rahman menelepon atasannya, Letnan Komar ...
"Apa kamu sudah pikir matang-matang Man?" Tanya Letnan Komar.
"Sudah Pak."
"Maksud saya, sebaiknya kamu ikuti saja dulu. Setelah tahu posisi persis mereka dimana, kamu lepas dan baru kita kepung keesokan harinya atau di hari yang kita tentukan kemudian ..."
"Lama Let," kata Rahman.
"Enggak apa-apa Man."
Pembicaraan terhenti sejenak ketika mobil yang dikemudikan Taici keluar dari areal pemakaman.
"Maaf Let. Saya harus secepatnya menyusul mereka," ujar Rahman. Menutup telepon, dia mengejar mobil Taici.
Setelah agak dekat, Rahman memperlambat laju mobilnya ..
Di lampu merah ...
Rahman sengaja mendekatkan mobilnya karena mobil di depannya berbelok arah ke kanan.
Kini mobil keduanya dalam posisi sejajar ...
Lampu masih merah ...
Rahman membuka separo kaca mobilnya ...
Rahman menoleh ...
"Sore Ooom ..." Sapanya sambil melempar senyum. Yang disenyumi, Taici, membalasnya dengan sinis dan marah.
"Keparat ..."
"Kenapa Ci?" Tanya Tauco. Wajar dia bertanya. Pasalnya, cuma Taici sendiri yang melihat Rahman, se mentara ketiga rekannya tidak sama sekali.
"Tembaaaak ...!"
Door ...
Dooor ...
Dooor ...
Tauco mengeluarkan kepalanya, lalu melepaskan tembakan sebanyak tiga kali.
Tidak kena. Justru yang kena ada lah pengemudi becak. Becak terbalik, berguling-guling sebelum masuk parit besar.
Taici semakin bernafsu mengejar Rahman dan Santi. Saking bernafsunya, dia menambah kecepatan maksimal dengan melewati beberapa mobil dan motor di depannya.
Sempat memepet tiga menit kemudian, hanya dipisahkan sebuah mobil di depan, ketika Tainen dan Taisek hendak melepaskan tembakan, Rahman membelokkan mobilnya ke lajur kiri.
"Busyet tuh orang .." Tauco geram.
"Gila. Benar-benar gila," sahut Taisek, tak kalah geramnya.
"Kampang ..' Ujar Tainen. Tak bisa lagi menahan rasa geramnya. Tak ada kata-kata ia pilih lagi untuk diu capkan selain sumpah serapah dan kata-kata kotor menjijikkan.
" Gantian gue yang nyetir Ci." Tainen ingin mobil lebih cepat lagi melaju. Bila perlu terbang ke udara kayak pesawat terbang.
"Gila kamu Nen. Kalau kita mati gimana coba?" Taisek mengingatkan.
"Dikubur saja. Beres ..."
Hua ha ha ha ..
Di depan sebuah ruko ...
Ueeeekh ...
Ueeeekh ...
Santi tiba-tiba muntah. Rahman membantu mengurut bagian belakang teman sekerjanya itu.
"Terus .. Terus muntahkan."
Santi terpaksa jongkok agar lebih mudah mengeluarkan paksa isi perut.
Tapi tidak bisa. Bukan karena tidak mau keluar, sementara Taici cs kian mendekat.
"Cepat masuk San!"
"Oke. Oke .."
Mobil melaju, Santi meneruskan muntahnya dengan diwadahi kantong plastik hitam berukuran sedang.
"Sorry ya Santi."
"Ya, enggak apa-apa."
Guuuar ...
Dooor ...
Kali ini tepat sasaran. Bodi belakang mobil pecah dan retak. Untunglah, peluru yang dilesakkan tidak berhasil menembus kaca.
Justru terpental ke aspal dan mengenai ban motor yang sedang berbelok, terjatuh menyusur ke pinggir jalan.
Mawar Mewangi (4)
Oleh Wak Amin
"BELUM keluar mereka Man." Kata Santi. Merasa haus. Dia keluar sebentar. Membeli minuman dan se telah itu masuk lagi ke dalam mobil.
Rahman menelepon atasannya, Letnan Komar ...
"Apa kamu sudah pikir matang-matang Man?" Tanya Letnan Komar.
"Sudah Pak."
"Maksud saya, sebaiknya kamu ikuti saja dulu. Setelah tahu posisi persis mereka dimana, kamu lepas dan baru kita kepung keesokan harinya atau di hari yang kita tentukan kemudian ..."
"Lama Let," kata Rahman.
"Enggak apa-apa Man."
Pembicaraan terhenti sejenak ketika mobil yang dikemudikan Taici keluar dari areal pemakaman.
"Maaf Let. Saya harus secepatnya menyusul mereka," ujar Rahman. Menutup telepon, dia mengejar mobil Taici.
Setelah agak dekat, Rahman memperlambat laju mobilnya ..
Di lampu merah ...
Rahman sengaja mendekatkan mobilnya karena mobil di depannya berbelok arah ke kanan.
Kini mobil keduanya dalam posisi sejajar ...
Lampu masih merah ...
Rahman membuka separo kaca mobilnya ...
Rahman menoleh ...
"Sore Ooom ..." Sapanya sambil melempar senyum. Yang disenyumi, Taici, membalasnya dengan sinis dan marah.
"Keparat ..."
"Kenapa Ci?" Tanya Tauco. Wajar dia bertanya. Pasalnya, cuma Taici sendiri yang melihat Rahman, se mentara ketiga rekannya tidak sama sekali.
"Tembaaaak ...!"
Door ...
Dooor ...
Dooor ...
Tauco mengeluarkan kepalanya, lalu melepaskan tembakan sebanyak tiga kali.
Tidak kena. Justru yang kena ada lah pengemudi becak. Becak terbalik, berguling-guling sebelum masuk parit besar.
Taici semakin bernafsu mengejar Rahman dan Santi. Saking bernafsunya, dia menambah kecepatan maksimal dengan melewati beberapa mobil dan motor di depannya.
Sempat memepet tiga menit kemudian, hanya dipisahkan sebuah mobil di depan, ketika Tainen dan Taisek hendak melepaskan tembakan, Rahman membelokkan mobilnya ke lajur kiri.
"Busyet tuh orang .." Tauco geram.
"Gila. Benar-benar gila," sahut Taisek, tak kalah geramnya.
"Kampang ..' Ujar Tainen. Tak bisa lagi menahan rasa geramnya. Tak ada kata-kata ia pilih lagi untuk diu capkan selain sumpah serapah dan kata-kata kotor menjijikkan.
" Gantian gue yang nyetir Ci." Tainen ingin mobil lebih cepat lagi melaju. Bila perlu terbang ke udara kayak pesawat terbang.
"Gila kamu Nen. Kalau kita mati gimana coba?" Taisek mengingatkan.
"Dikubur saja. Beres ..."
Hua ha ha ha ..
Di depan sebuah ruko ...
Ueeeekh ...
Ueeeekh ...
Santi tiba-tiba muntah. Rahman membantu mengurut bagian belakang teman sekerjanya itu.
"Terus .. Terus muntahkan."
Santi terpaksa jongkok agar lebih mudah mengeluarkan paksa isi perut.
Tapi tidak bisa. Bukan karena tidak mau keluar, sementara Taici cs kian mendekat.
"Cepat masuk San!"
"Oke. Oke .."
Mobil melaju, Santi meneruskan muntahnya dengan diwadahi kantong plastik hitam berukuran sedang.
"Sorry ya Santi."
"Ya, enggak apa-apa."
Guuuar ...
Dooor ...
Kali ini tepat sasaran. Bodi belakang mobil pecah dan retak. Untunglah, peluru yang dilesakkan tidak berhasil menembus kaca.
Justru terpental ke aspal dan mengenai ban motor yang sedang berbelok, terjatuh menyusur ke pinggir jalan.
Selasa, 24 April 2018
Kemiskinan (9)
Kemiskinan (9)
Oleh aminuddin
UNTUK itulah, kata Yusuf Al-Qardhawy, setiap dari kita yang mengaku muslim, diperbolehkan bekerja baik yang sifatnya kecil atau pun besar dengan syarat pekerjaan tersebut tidak dilakukan dengan jalan yang haram.
Khalifah Umar Ibnul Khaththab sendiri pernah berkata :
"Allah menjadikan kemuliaan yang paling aku sukai sesudah mati di dalam medan perang fi sabi lillah (pada jalan Allah) adalah agar aku mati di antara dua pokok kayu di atas bukit di kala aku mencari rezeki dari Allah SWT di atas permukaan bumi ini."
Allah SWT berfirman :
"Dan barang siapa yang berjihad, maka sesungguhnya jihadnya itu adalah untuk dirinya sendiri. Se sungguhnya Allah SWT benar-benar Maha Kaya (tak memerlukan sesuatu) dari semesta alam."
Tentu saja, kata Hamdy, Islam menganjurkan kepada kita supaya dalam upaya menundukkan bumi ini dan memanfaatkan isinya harus diusahakan penuh kesungguhan dan bukan dengan main-main.
Rasulullah SAW sendiri di kala mudanya selalu dan senang bekerja. Majid Syahri menulis ...
"Kehidupan Rasulullah SAW di masa mudanya penuh dengan kesibukan bekerja dan berusaha, menentang hembusan angin dan terik panas matahari. Mengarungi padang pasir dan berjalan menempuh jarak yang jauh ...
"Dari semasa kecil beliau telah terbiasa bekerja keras. Beliau mengembala kambing yang cukup ba nyak jumlahnya, dari satu tempat ke tempat yang lain."
_____________
- Yusuf Al-Qardhawi, Al-Halalu wal Haromu fil Islam, Alihbahasa Mu ammal Hamidy, Surabaya, Bina Ilmu, 1976, I.
- QS Al-Ankabuut 6
- Hamdy, "Hadapi Duniamu dengan Lurus", Al-Muslimun, NO 129, Desember 1980.
- Majid Syahri, " Menghayati Kehidu pan Rasulullah di Masa Muda", Kib lat, NO 17, Januari 1981.
Oleh aminuddin
UNTUK itulah, kata Yusuf Al-Qardhawy, setiap dari kita yang mengaku muslim, diperbolehkan bekerja baik yang sifatnya kecil atau pun besar dengan syarat pekerjaan tersebut tidak dilakukan dengan jalan yang haram.
Khalifah Umar Ibnul Khaththab sendiri pernah berkata :
"Allah menjadikan kemuliaan yang paling aku sukai sesudah mati di dalam medan perang fi sabi lillah (pada jalan Allah) adalah agar aku mati di antara dua pokok kayu di atas bukit di kala aku mencari rezeki dari Allah SWT di atas permukaan bumi ini."
Allah SWT berfirman :
"Dan barang siapa yang berjihad, maka sesungguhnya jihadnya itu adalah untuk dirinya sendiri. Se sungguhnya Allah SWT benar-benar Maha Kaya (tak memerlukan sesuatu) dari semesta alam."
Tentu saja, kata Hamdy, Islam menganjurkan kepada kita supaya dalam upaya menundukkan bumi ini dan memanfaatkan isinya harus diusahakan penuh kesungguhan dan bukan dengan main-main.
Rasulullah SAW sendiri di kala mudanya selalu dan senang bekerja. Majid Syahri menulis ...
"Kehidupan Rasulullah SAW di masa mudanya penuh dengan kesibukan bekerja dan berusaha, menentang hembusan angin dan terik panas matahari. Mengarungi padang pasir dan berjalan menempuh jarak yang jauh ...
"Dari semasa kecil beliau telah terbiasa bekerja keras. Beliau mengembala kambing yang cukup ba nyak jumlahnya, dari satu tempat ke tempat yang lain."
_____________
- Yusuf Al-Qardhawi, Al-Halalu wal Haromu fil Islam, Alihbahasa Mu ammal Hamidy, Surabaya, Bina Ilmu, 1976, I.
- QS Al-Ankabuut 6
- Hamdy, "Hadapi Duniamu dengan Lurus", Al-Muslimun, NO 129, Desember 1980.
- Majid Syahri, " Menghayati Kehidu pan Rasulullah di Masa Muda", Kib lat, NO 17, Januari 1981.
Kemiskinan (8)
Kemiskinan (8)
Oleh aminuddin
PENDEKATAN
UNTUK mengatasi kemiskinan diperlukan tiga pendekatan. Aktor, negara dan penguasa.
Aktor, ini pendekatan pertama. Harus bekerja. Karena, menurut Attia Mahmud Hanna, tidak mungkin orang atau kelompok bisa hidup tanpa bekerja.
Karena kerja itu bukan cuma sebagai alat untuk mencari makan, teta pi juga merupakan jawaban selain tujuan.
"Orang yang tidak bekerja kehidupan materi, sosial dan kejiwaannya akan lemah, memgalami kemunduran dan kehancuran," kata Attia.
Manusia diciptakan Allah SWT sebagai makhluk hidup, dan untuk bisa dan tetap hidup memerlukan gerak dan kerja.
"Allah SWT ilhamkan kepada manusia fitrah yang berupakan watak yang dapat membedakan antara kerja yang baik dan kerja yang jahat," jelas Syekh Abdul Hamid Al-Khatib.
Rasulullah SAW bersabda:
"Apabila seorang kamu menyiapkan seutas tali dan ia pergi mencari kayu api, lalu dibawanya seikat kayu di punggungnya, kemudian dijualnya, dan Allah memberi kecukupan hidup kepadanya, itulah yang lebih baik baginya daripada ia meminta-munta kepada orang banyak, diberi ataupun tidak."
___________
- Attia Mahmud Hanna, At-Taujih At-Tarbawi wal Mihani, Alihbahasa Zakiah Darajat, Jakarta, Bulan Bintang.
- Syekh Abdul Hamid Al-Khatib, Asmarrisalah, Alihbahasa Bey Arifin, Jakarta, Bulan Bintang, 1977, II.
- Syekh Badaruddin Abi Muhammad Mahmud bin Ahmad 'Ainiy, 'Umda tul Qari Syarah Shahih Bukhary, Ira dah At-Thoba'iyah Al-Mishriyah, 855 H, IX.
Oleh aminuddin
PENDEKATAN
UNTUK mengatasi kemiskinan diperlukan tiga pendekatan. Aktor, negara dan penguasa.
Aktor, ini pendekatan pertama. Harus bekerja. Karena, menurut Attia Mahmud Hanna, tidak mungkin orang atau kelompok bisa hidup tanpa bekerja.
Karena kerja itu bukan cuma sebagai alat untuk mencari makan, teta pi juga merupakan jawaban selain tujuan.
"Orang yang tidak bekerja kehidupan materi, sosial dan kejiwaannya akan lemah, memgalami kemunduran dan kehancuran," kata Attia.
Manusia diciptakan Allah SWT sebagai makhluk hidup, dan untuk bisa dan tetap hidup memerlukan gerak dan kerja.
"Allah SWT ilhamkan kepada manusia fitrah yang berupakan watak yang dapat membedakan antara kerja yang baik dan kerja yang jahat," jelas Syekh Abdul Hamid Al-Khatib.
Rasulullah SAW bersabda:
"Apabila seorang kamu menyiapkan seutas tali dan ia pergi mencari kayu api, lalu dibawanya seikat kayu di punggungnya, kemudian dijualnya, dan Allah memberi kecukupan hidup kepadanya, itulah yang lebih baik baginya daripada ia meminta-munta kepada orang banyak, diberi ataupun tidak."
___________
- Attia Mahmud Hanna, At-Taujih At-Tarbawi wal Mihani, Alihbahasa Zakiah Darajat, Jakarta, Bulan Bintang.
- Syekh Abdul Hamid Al-Khatib, Asmarrisalah, Alihbahasa Bey Arifin, Jakarta, Bulan Bintang, 1977, II.
- Syekh Badaruddin Abi Muhammad Mahmud bin Ahmad 'Ainiy, 'Umda tul Qari Syarah Shahih Bukhary, Ira dah At-Thoba'iyah Al-Mishriyah, 855 H, IX.
Mawar Mewangi (2)
Serial Mafia
Mawar Mewangi (2)
Oleh Wak Amin
DOOOR ....
Dooor ...
Doooor ...
Sebuah batu nisan hancur terpental jauh ke udara terkena peluru yang dilesakkan salah seorang pria ber kacamata gelap dari balik kaca mobil.
Tak lama setelah itu, mobil melaju lambat, pria di sebelahnya menembak secara membabi buta ke posisi di mana Rahman dan Santi bersembunyi.
Keduanya bersembunyi di balik gerbang pemakaman pada saat tembakan pertama dilepaskan. Saat itu, Rahman dan Santi hendak menuju mobil mereka yang diparkir di dekat pintu gerbang.
Teriakan histeris terdengar dari beberapa peziarah wanita saat Rahman dan Santi harus jungkir balik meng hindari tembakan beruntun. Ada sebuah lubang bekas pembuangan sampah.
Di sanalah mereka sembunyi ...
Para penembak bermaksud mendekati pintu gerbang pemakaman un tuk memastikan apakah sasaran mere ka berhasil dilumpuhkan atau tidak. Mereka sangat kecewa setelah tahu Rahman dan Santi tidak ada di sana.
"Kemana mereka Bro?" Tanya Taici pada rekannya Tauco. Sudah berapa peluru mereka habiskan, tak sa tu pun yang berhasil mengenai sasaran.
"Buktinya mereka tak ada. Kalau kena pasti ada tanda-tandanya. Darah misalnya. Betul kan?" Taici menduga-duga.
"Apa tak sebaiknya kita lapor Bos saja," saran Tainen.
"Betul Bro. Aku setuju. Biar Bos tahu kita memang kerja dan orang yang kita hadapi ini bukan anak ingusan kemarin sore," sahut Taisek.
"Kamu Bro?"
"Kamu sajalah Ci. Kamu kan yang lebih dekat dengan Bos," kata Tauco.
"Oke."
Kriiiing ...
Kriiing ...
"Telepon siapa ini. Orang lagi indehoyan, telepon-telepon pula." Sang Bos, Siao Lung yang baru selesai main dengan perempuan-perempuan cantik, entah siapa. Dengan sedikit marah mengangkat telepon.
"Ya, siapa?"
"Maaf, saya Taici Bos. Mau lapor."
"Lapor apa? Cepaat!"
"Mereka hilang entah kemana Bos."
"Siapa yang hilang?"
"Tuan ... Maksud saya, polisi itu Bos. Sesuai perintah Bos semalam."
"Rahman dan Santi maksudmu?"
"Iya. Betul sekali Bos."
"Kenapa bisa hilang?"
"Panjang ceritanya Bos," jelas Taici.
"Pendek kan sajalah."
"Oke ... Kami sempat tembak. Terus mereka sembunyi. Kami ke persem bunyiannya. Mereka sudah tidak ada ..."
Siao Lung, karena dipeluk mesra seorang perempuan dari belakang, sambil mencium, sempat ketawa karena menahan geli tapi enak.
"Udah Yang. Tutup saja teleponnya. Kita main lagi yuk!" Ajak si perempuan dengan manja dan genitnya.
"Sebentar say ... Aku mau ngomong sebentar aja."
"Eeeekh. Yang, aku kepingin lagi." Sambil menarik genit lengan Siao Lung ke atas tempat tidur.
"Sebentar ya Yang."
"Eeekh. Ayolah say. Lum puas nich. Eeeeekh ..."
Si perempuan sudah tak tahan lagi dicumbui kali ketiga dengan hanya mengenakan celana dalam tanpa bra. Birahi Siao Lung akhirnya ikut naik.
Telepon dilepas. Siao Lung meladeni ajakan 'main' wanita simpanannya itu. Berguling-guling di atas tempat tidur. Saling tindih, cekikikan tanpa busana.
Mawar Mewangi (2)
Oleh Wak Amin
DOOOR ....
Dooor ...
Doooor ...
Sebuah batu nisan hancur terpental jauh ke udara terkena peluru yang dilesakkan salah seorang pria ber kacamata gelap dari balik kaca mobil.
Tak lama setelah itu, mobil melaju lambat, pria di sebelahnya menembak secara membabi buta ke posisi di mana Rahman dan Santi bersembunyi.
Keduanya bersembunyi di balik gerbang pemakaman pada saat tembakan pertama dilepaskan. Saat itu, Rahman dan Santi hendak menuju mobil mereka yang diparkir di dekat pintu gerbang.
Teriakan histeris terdengar dari beberapa peziarah wanita saat Rahman dan Santi harus jungkir balik meng hindari tembakan beruntun. Ada sebuah lubang bekas pembuangan sampah.
Di sanalah mereka sembunyi ...
Para penembak bermaksud mendekati pintu gerbang pemakaman un tuk memastikan apakah sasaran mere ka berhasil dilumpuhkan atau tidak. Mereka sangat kecewa setelah tahu Rahman dan Santi tidak ada di sana.
"Kemana mereka Bro?" Tanya Taici pada rekannya Tauco. Sudah berapa peluru mereka habiskan, tak sa tu pun yang berhasil mengenai sasaran.
"Buktinya mereka tak ada. Kalau kena pasti ada tanda-tandanya. Darah misalnya. Betul kan?" Taici menduga-duga.
"Apa tak sebaiknya kita lapor Bos saja," saran Tainen.
"Betul Bro. Aku setuju. Biar Bos tahu kita memang kerja dan orang yang kita hadapi ini bukan anak ingusan kemarin sore," sahut Taisek.
"Kamu Bro?"
"Kamu sajalah Ci. Kamu kan yang lebih dekat dengan Bos," kata Tauco.
"Oke."
Kriiiing ...
Kriiing ...
"Telepon siapa ini. Orang lagi indehoyan, telepon-telepon pula." Sang Bos, Siao Lung yang baru selesai main dengan perempuan-perempuan cantik, entah siapa. Dengan sedikit marah mengangkat telepon.
"Ya, siapa?"
"Maaf, saya Taici Bos. Mau lapor."
"Lapor apa? Cepaat!"
"Mereka hilang entah kemana Bos."
"Siapa yang hilang?"
"Tuan ... Maksud saya, polisi itu Bos. Sesuai perintah Bos semalam."
"Rahman dan Santi maksudmu?"
"Iya. Betul sekali Bos."
"Kenapa bisa hilang?"
"Panjang ceritanya Bos," jelas Taici.
"Pendek kan sajalah."
"Oke ... Kami sempat tembak. Terus mereka sembunyi. Kami ke persem bunyiannya. Mereka sudah tidak ada ..."
Siao Lung, karena dipeluk mesra seorang perempuan dari belakang, sambil mencium, sempat ketawa karena menahan geli tapi enak.
"Udah Yang. Tutup saja teleponnya. Kita main lagi yuk!" Ajak si perempuan dengan manja dan genitnya.
"Sebentar say ... Aku mau ngomong sebentar aja."
"Eeeekh. Yang, aku kepingin lagi." Sambil menarik genit lengan Siao Lung ke atas tempat tidur.
"Sebentar ya Yang."
"Eeekh. Ayolah say. Lum puas nich. Eeeeekh ..."
Si perempuan sudah tak tahan lagi dicumbui kali ketiga dengan hanya mengenakan celana dalam tanpa bra. Birahi Siao Lung akhirnya ikut naik.
Telepon dilepas. Siao Lung meladeni ajakan 'main' wanita simpanannya itu. Berguling-guling di atas tempat tidur. Saling tindih, cekikikan tanpa busana.
Kemiskinan (7)
Kemiskinan (7)
Oleh aminuddin
MENURUT Dr Syekh Muhamad Yusuf Al-Qardhawy, kemiskinan amat membahayakan aqidah aktornya. Terlebih lagi bila yang bersangkutan tidak menentu mata pencahariannya sementara si kaya enggan mengulurkan bantuannya.
Rasulullah SAW juga pernah memohon perlindungan kepada Allah SWT dari ancaman kemelaratan yang disejajarkan dengan permohonan perlindungan terhadap kekufuran, seperti yang dijelaskan oleh hadist riwayat Abu Daud dan lainnya bahwa Rasulullah SAW pernah berdoa: "Ya Tuhanku, aku berlindung kepada-Mu dari bahaya kekufuran dan kemelaratan."
Dari hadist yang diriwayatkan Abu Daud, Hakim dan Ibnu Majah, dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW juga pernah berdoa seperti ini:
"Ya Tuhanku, aku berlindung kepadamu dari kemiskinan, kekurangan, kehinaan dan aku berlindung dari menganiaya dan dianiaya."
Selain aqidah, tulis Yusuf Al-Qardhawy, kemiskinan juga membahayakan etika dan moral. Kekecewaan dan keputusasaan mereka, terutama yang hidup di tengah-tengah orang kaya, mendorong untuk bertindak dan berprilaku yang tidak dapat dibenarkan oleh budi luhur dan akhlak mulia.
Hadist riwayat Abu Nu'aim menyebutkan bahwa Rasulullah SAW menjelaskan kepada para sahabatnya betapa besarnya bahaya kemiskinan dan pengaruhnya terhadap nilai moral.
"Ambillah (terimalah) pemberian uang itu selama masih merupakan pemberian yang wajar. Tetapi apabi la sudah merupakan suapan guna mengharap suatu pinjaman (huta ng), maka janganlah kamu menerimanya. Dan kamu tidak bisa menghindarinya selama kamu masih diliputi oleh kebutuhan dan kemiskinan."
Kemiskinan juga akan mengganggu dan mempengaruhi pikiran seseo rang. Mengapa? --- Seseorang yang tidak sanggup menutupi kebutuhan hidupnya, keluarganya dan anak-anaknya, bagaimana ia dapat berpikir dengan cermat? Terlebih lagi tetangga kanan kirinya mendemon strasikan barang-barang serba luks di rumah-rumah mereka.
IOmam Abu Hanifah pernah berkata: "Janganlah kalian minta fatwa kepada orang yang dalam rumah nya tidak ada gandum". Sebab orang tersebut pikirannya tidak menentu, bingung dengan urusan dapurnya, sehingga pendapatnya tidak lurus dan tidak tepat.
Hal ini terjadi karena tidak adanya konsentrasi dan ketenangan dalam berpikir, karena terpengaruh oleh faktor kekurangan. Ilmu Jiwapun telah mengakui kebenarannya.
Sebuah Hadits sahih, menyatakan: "Janganlah seorang hakim menjatuhkan vonis, padahal ia sedang marah."
Para Ahli Fiqih berpendapat keadaan "sangat lapar, sangat haus" dan sebagainya dapat dikategorikan dalam "keadaan marah."
Bahaya kemiskinan dalam mengancam kehidupan keluarga dan rumah tangga, akan melanda beberapa segi, yaitu segi pembinaannya, kelangsungan dan segi pemeliha raannya.
Dalam pembinaan rumah tangga kita akan menjumpai bahwa sesungguhnya kemiskinanmerupakan pengha lang yang tidak kecil. Banyak jejaka terhalang menikah dan takut memikul tanggung jawab sesudah terlak sananya perkawinan, disebabkan faktor mas kawin, nafkah keluarga dan kemampuan berekonomi secara Mandiri.
Oleh karena itu, Al-Quran memerintahkan supaya mereka mampu memelihara kehormatan dan menahan ketabahannya sehingga dapat mencapai kemampuan untuk mengelola ekonomi rumah tangga sendiri.
Dia berfirman dalam Al-Quran Surah An-Nuur ayat 33: "Dan hendak lah orang-orang yang belum mam pu kawin menjaga kehormatan mereka, sehingga Allah memberi kepadanya kekayaan dan karunia-Nya."
Terkait keberlangsungan berumah tangga, tekanan kemiskinan sering kali mengalahkan dorongan-dorongan untuk berbuat baik, bahkan tidak jarang memutuskan ikatan perkawinan antara suami dengan istri, karena ketidak sukaan istri kepada suami atau sebaliknya.
Kasus semacam ini diakui oleh hukum Islam. Karenanya seorang hakim boleh menceraikan seorang istri dari suaminya karena kesulitan dan ketidakmampuan suami untuk memberi nafkah istrinya dengan alasan demi menghilangkan kesusahan perempuan, sesuai dengan qaidah yang dijelaskan oleh hadits riwayat Ibnu Majah dan Dazaquthnie: "Janganlah mengadakan bahaya dan membalas bahaya."
Bagaimana dari segi pemeliharaannya? Sering kita jumpai kemiskinan mengotori kejernihan udara rumah tangga bahkan terkadang merobek-robek jalinan kasih sayang antara mereka.
Dalam konteks ini, Al-Quran menen tang adanya kekerasan dan mengutuk kekejaman yang terjadi dalam rumah tangga, sebagaimana yang difirmankan-Nya dalam Al-Quran Surah Al-Isra' ayat 31:
"Janganlah kamu sekalian membunuh anak-anak kamu karena takut miskin. Kamilah yang akan memberi rezki kepada mereka dan kepada kamu sekalian. Sesungguhnya membu nuh mereka adalah satu dosa yang besar."
Terakhir, kata Yusuf Qardhawy, kemiskinan merupakan bahaya vital terhadap keamanan, ketenteraman dan kesejahteraan masyarakat.
Selama masih ada perbedaan sosi al yang menyolok; gubuk-gubuk kecil berdampingan dengan gedung-ge dung mewah, lantai-lantai tanah berhadapan dengan lantai-lantai permadani dan flat-flat yang menjulang tinggi, rintihan dan ratapan si miskin merindukan sesuap nasi di tengah-tengah kekayaan yang berlimpah ruah dan makanan yang serba lezat, kesemuanya ini akan mengundang timbulnya gejolak dada yang penuh dengki dan benci, yang akan meluas membakar semua jiwa, melanda golongan yang lemah dan papa.
Selain itu, kemiskinan juga mengancam kejayaan umat, kemerdekaan bangsa dan negara. Seorang yang se nantiasa dicekam kelaparan tidak mungkin terlintas dalam hatinya gairah untuk berjuang membela tanah airnya, mengusir penjajah yang menjadi musuh negaranya, dan mempertahankan kehormatan bangsanya.
Karena ia merasa masyarakat dan negaranya tidak menaruh perhatian kepadanya, di saat lapar tidak diberi makan, di saat takut tidak di beri perlindungan, bahkan bangsanya tidak pernah mengulurkan pertolongan untuk melepaskan beban penderitaan hidup yang menimpanya.
Jadi tidak mengherankan bila ia enggan mengorbankan darah dan jiwanya untuk membela tanah air nya. Ba gaimana ia mau berjuang sedang yang mengenyam kenikmatannya adalah orang lain? Dan mungkinkah ia mau ikut menanggung kerugian-kerugian negaranya padahal di saat pembagian rampasan perang ia justru dilupakan?
___________
- Dr Syekh Muhammad Yusuf Al-Qardhawy, Problema Kemiskinan, Apa Konsep Islam?
Oleh aminuddin
MENURUT Dr Syekh Muhamad Yusuf Al-Qardhawy, kemiskinan amat membahayakan aqidah aktornya. Terlebih lagi bila yang bersangkutan tidak menentu mata pencahariannya sementara si kaya enggan mengulurkan bantuannya.
Rasulullah SAW juga pernah memohon perlindungan kepada Allah SWT dari ancaman kemelaratan yang disejajarkan dengan permohonan perlindungan terhadap kekufuran, seperti yang dijelaskan oleh hadist riwayat Abu Daud dan lainnya bahwa Rasulullah SAW pernah berdoa: "Ya Tuhanku, aku berlindung kepada-Mu dari bahaya kekufuran dan kemelaratan."
Dari hadist yang diriwayatkan Abu Daud, Hakim dan Ibnu Majah, dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW juga pernah berdoa seperti ini:
"Ya Tuhanku, aku berlindung kepadamu dari kemiskinan, kekurangan, kehinaan dan aku berlindung dari menganiaya dan dianiaya."
Selain aqidah, tulis Yusuf Al-Qardhawy, kemiskinan juga membahayakan etika dan moral. Kekecewaan dan keputusasaan mereka, terutama yang hidup di tengah-tengah orang kaya, mendorong untuk bertindak dan berprilaku yang tidak dapat dibenarkan oleh budi luhur dan akhlak mulia.
Hadist riwayat Abu Nu'aim menyebutkan bahwa Rasulullah SAW menjelaskan kepada para sahabatnya betapa besarnya bahaya kemiskinan dan pengaruhnya terhadap nilai moral.
"Ambillah (terimalah) pemberian uang itu selama masih merupakan pemberian yang wajar. Tetapi apabi la sudah merupakan suapan guna mengharap suatu pinjaman (huta ng), maka janganlah kamu menerimanya. Dan kamu tidak bisa menghindarinya selama kamu masih diliputi oleh kebutuhan dan kemiskinan."
Kemiskinan juga akan mengganggu dan mempengaruhi pikiran seseo rang. Mengapa? --- Seseorang yang tidak sanggup menutupi kebutuhan hidupnya, keluarganya dan anak-anaknya, bagaimana ia dapat berpikir dengan cermat? Terlebih lagi tetangga kanan kirinya mendemon strasikan barang-barang serba luks di rumah-rumah mereka.
IOmam Abu Hanifah pernah berkata: "Janganlah kalian minta fatwa kepada orang yang dalam rumah nya tidak ada gandum". Sebab orang tersebut pikirannya tidak menentu, bingung dengan urusan dapurnya, sehingga pendapatnya tidak lurus dan tidak tepat.
Hal ini terjadi karena tidak adanya konsentrasi dan ketenangan dalam berpikir, karena terpengaruh oleh faktor kekurangan. Ilmu Jiwapun telah mengakui kebenarannya.
Sebuah Hadits sahih, menyatakan: "Janganlah seorang hakim menjatuhkan vonis, padahal ia sedang marah."
Para Ahli Fiqih berpendapat keadaan "sangat lapar, sangat haus" dan sebagainya dapat dikategorikan dalam "keadaan marah."
Bahaya kemiskinan dalam mengancam kehidupan keluarga dan rumah tangga, akan melanda beberapa segi, yaitu segi pembinaannya, kelangsungan dan segi pemeliha raannya.
Dalam pembinaan rumah tangga kita akan menjumpai bahwa sesungguhnya kemiskinanmerupakan pengha lang yang tidak kecil. Banyak jejaka terhalang menikah dan takut memikul tanggung jawab sesudah terlak sananya perkawinan, disebabkan faktor mas kawin, nafkah keluarga dan kemampuan berekonomi secara Mandiri.
Oleh karena itu, Al-Quran memerintahkan supaya mereka mampu memelihara kehormatan dan menahan ketabahannya sehingga dapat mencapai kemampuan untuk mengelola ekonomi rumah tangga sendiri.
Dia berfirman dalam Al-Quran Surah An-Nuur ayat 33: "Dan hendak lah orang-orang yang belum mam pu kawin menjaga kehormatan mereka, sehingga Allah memberi kepadanya kekayaan dan karunia-Nya."
Terkait keberlangsungan berumah tangga, tekanan kemiskinan sering kali mengalahkan dorongan-dorongan untuk berbuat baik, bahkan tidak jarang memutuskan ikatan perkawinan antara suami dengan istri, karena ketidak sukaan istri kepada suami atau sebaliknya.
Kasus semacam ini diakui oleh hukum Islam. Karenanya seorang hakim boleh menceraikan seorang istri dari suaminya karena kesulitan dan ketidakmampuan suami untuk memberi nafkah istrinya dengan alasan demi menghilangkan kesusahan perempuan, sesuai dengan qaidah yang dijelaskan oleh hadits riwayat Ibnu Majah dan Dazaquthnie: "Janganlah mengadakan bahaya dan membalas bahaya."
Bagaimana dari segi pemeliharaannya? Sering kita jumpai kemiskinan mengotori kejernihan udara rumah tangga bahkan terkadang merobek-robek jalinan kasih sayang antara mereka.
Dalam konteks ini, Al-Quran menen tang adanya kekerasan dan mengutuk kekejaman yang terjadi dalam rumah tangga, sebagaimana yang difirmankan-Nya dalam Al-Quran Surah Al-Isra' ayat 31:
"Janganlah kamu sekalian membunuh anak-anak kamu karena takut miskin. Kamilah yang akan memberi rezki kepada mereka dan kepada kamu sekalian. Sesungguhnya membu nuh mereka adalah satu dosa yang besar."
Terakhir, kata Yusuf Qardhawy, kemiskinan merupakan bahaya vital terhadap keamanan, ketenteraman dan kesejahteraan masyarakat.
Selama masih ada perbedaan sosi al yang menyolok; gubuk-gubuk kecil berdampingan dengan gedung-ge dung mewah, lantai-lantai tanah berhadapan dengan lantai-lantai permadani dan flat-flat yang menjulang tinggi, rintihan dan ratapan si miskin merindukan sesuap nasi di tengah-tengah kekayaan yang berlimpah ruah dan makanan yang serba lezat, kesemuanya ini akan mengundang timbulnya gejolak dada yang penuh dengki dan benci, yang akan meluas membakar semua jiwa, melanda golongan yang lemah dan papa.
Selain itu, kemiskinan juga mengancam kejayaan umat, kemerdekaan bangsa dan negara. Seorang yang se nantiasa dicekam kelaparan tidak mungkin terlintas dalam hatinya gairah untuk berjuang membela tanah airnya, mengusir penjajah yang menjadi musuh negaranya, dan mempertahankan kehormatan bangsanya.
Karena ia merasa masyarakat dan negaranya tidak menaruh perhatian kepadanya, di saat lapar tidak diberi makan, di saat takut tidak di beri perlindungan, bahkan bangsanya tidak pernah mengulurkan pertolongan untuk melepaskan beban penderitaan hidup yang menimpanya.
Jadi tidak mengherankan bila ia enggan mengorbankan darah dan jiwanya untuk membela tanah air nya. Ba gaimana ia mau berjuang sedang yang mengenyam kenikmatannya adalah orang lain? Dan mungkinkah ia mau ikut menanggung kerugian-kerugian negaranya padahal di saat pembagian rampasan perang ia justru dilupakan?
___________
- Dr Syekh Muhammad Yusuf Al-Qardhawy, Problema Kemiskinan, Apa Konsep Islam?
Mawar Mewangi (1)
Serial Mafia
Mawar Mewangi (1)
Oleh Wak Amin
RAHMAN dan Santi, sore hari ini mereka berdua berziarah ke pemakaman teman dekat mereka, Aulia yang tewas dibunuh kelompok mafia.
Keduanya memang tak sempat ha dir dalam prosesi pemakaman Au lia. Karena ada tugas mendadak dari pimpinan mereka, Letnan Komar. Mengejar pelaku penodongan salah seorang pengojek top di kota ini.
Tugas itu sendiri berhasil dilaksanakan dengan baik. Rahman dan Santi, dibantu beberapa petugas kepolisian bagian kriminal, sukses membekuk pelaku di salah satu pinggiran kota setelah sempat terjadi kontak senjata.
Meski keduanya lega dan senang karena berhasil menjalankan tugas lebih cepat dari biasanya, tersirat rasa sedih dan duka mendalam atas kepergian yang terlalu cepat teman sekerja yang baik hati dan penuh humor itu.
Sebelum diketemukan tewas di salah satu apartemen, Aulia ikut bergabung dalam tim pembasmi tindak kejahatan yang dipimpin Letnan Komar.
Tim yang bernama 'Mawar Mewangi' ini beranggotakan empat orang. Salain Letnan Komar, mereka adalah Rahman, Santi dan Aulia.
Tugas dan misi mereka bermacam-macam. Meliputi semua bentuk kejahatan, mulai dari yang kecil hingga besar. Mulai dari penjahat kelas teri hingga kelas kakap.
Hampir tujuh puluh lima persen tugas yang dibebankan pada Tim Mawar Mewangi, berhasil dituntaskan ke akar-akarnya. Meski di beberapa kesempatan Aulia sering mengeluh dan kecewa buruan mereka justru tidak dipenjarakan dengan alasan bukti yang ada tidak valid.
Letnan Komar, suatu kali pernah mengingatkan tiga anak buahnya untuk melaksanakan tugas sebaik-baiknya sesuai prosedur yang ada.
"Bekerjalah sesuai dengan koridor hukum. Kapan harus menembak, kapan tidak harus menembak. Kalian sudah tahu itu," kata Letnan Komar dalam rapat kecil kilat di ruang kerjanya.
Letnan Komar menghendaki dan meminta pada Santi, Rahman dan Aulia untuk sekuat tenaga memi nimalisir tingkat kesalahan dalam menjalankan tugas.
"Saya akui kita sulit menghindari kesalahan dalam, misalnya, menge jar, menangkap dan mengamankan pelaku kejahatan. Tapi itu bisa dite kan dengan cara menghindari keke rasan fisik terkecuali keadaan yang
memang memaksa kita untuk ha rus berlaku demikian,"terangnya.
Dia juga menggaris bawahi perlunya kerjasama yang erat antarse mua kita, sesama bagian atau beda bagian di dalam dan luar kepoli sian.
"Juga yang paling penting bekerja sama dengan semua lapisan ma syarakat. Saya tekankan, ini sangat pen ting. Tanpa mereka kita tak bisa berbuat apa-apa. Kita perlu mereka, tentu kita berharap mereka perlu ki ta juga. Saya harap kalian paham dengan ucapan saya barusan."
Follow up dari rapat kilat itu, bebera pa hari kemudian Aulia diketemu kan tewas di sebuah apartemen ke tika hendak menangkap kelompok sindikat narkoba dan perdagangan manusia pimpinan Siaa, o Lung.
Aulia diketemukan sudah tak ber nyawa lagi oleh salah seorang pe tugas cleaning service apartemen di kamarnya pagi hari. Diduga kuat ditembak dari jarak dekat ke kepa la, leher, perut dan alat kemaluan.
Tewasnya Aulia membikin syok dan marah Santi dan Rahman. Untung lah, Letnan Komar segera turun ta ngan menenangkan dua anak buah nya yang masih tersisa ini.
"Saya harap kalian pakai hati dan pikiran, bukan perasaan," kata Let nan Komar di kediamannya suatu malam.
"Saya bertekad akan mengungkap habis-habisan kasus yang sedang kita hadapi saat ini. Namun tentunya saya tak bisa bekerja sendirian. Saya butuh bantuan kalian."
"Paham?"
"Paham Letnan," jawab Santi, meneteskan air mata mengingat kejadi an tewasnya sahabat dekatnya, Aulia.
Dalam hati Santi berjanji akan terus mengejar dan menemukan pelakunya sampai titik darah penghabisan.
Mawar Mewangi (1)
Oleh Wak Amin
RAHMAN dan Santi, sore hari ini mereka berdua berziarah ke pemakaman teman dekat mereka, Aulia yang tewas dibunuh kelompok mafia.
Keduanya memang tak sempat ha dir dalam prosesi pemakaman Au lia. Karena ada tugas mendadak dari pimpinan mereka, Letnan Komar. Mengejar pelaku penodongan salah seorang pengojek top di kota ini.
Tugas itu sendiri berhasil dilaksanakan dengan baik. Rahman dan Santi, dibantu beberapa petugas kepolisian bagian kriminal, sukses membekuk pelaku di salah satu pinggiran kota setelah sempat terjadi kontak senjata.
Meski keduanya lega dan senang karena berhasil menjalankan tugas lebih cepat dari biasanya, tersirat rasa sedih dan duka mendalam atas kepergian yang terlalu cepat teman sekerja yang baik hati dan penuh humor itu.
Sebelum diketemukan tewas di salah satu apartemen, Aulia ikut bergabung dalam tim pembasmi tindak kejahatan yang dipimpin Letnan Komar.
Tim yang bernama 'Mawar Mewangi' ini beranggotakan empat orang. Salain Letnan Komar, mereka adalah Rahman, Santi dan Aulia.
Tugas dan misi mereka bermacam-macam. Meliputi semua bentuk kejahatan, mulai dari yang kecil hingga besar. Mulai dari penjahat kelas teri hingga kelas kakap.
Hampir tujuh puluh lima persen tugas yang dibebankan pada Tim Mawar Mewangi, berhasil dituntaskan ke akar-akarnya. Meski di beberapa kesempatan Aulia sering mengeluh dan kecewa buruan mereka justru tidak dipenjarakan dengan alasan bukti yang ada tidak valid.
Letnan Komar, suatu kali pernah mengingatkan tiga anak buahnya untuk melaksanakan tugas sebaik-baiknya sesuai prosedur yang ada.
"Bekerjalah sesuai dengan koridor hukum. Kapan harus menembak, kapan tidak harus menembak. Kalian sudah tahu itu," kata Letnan Komar dalam rapat kecil kilat di ruang kerjanya.
Letnan Komar menghendaki dan meminta pada Santi, Rahman dan Aulia untuk sekuat tenaga memi nimalisir tingkat kesalahan dalam menjalankan tugas.
"Saya akui kita sulit menghindari kesalahan dalam, misalnya, menge jar, menangkap dan mengamankan pelaku kejahatan. Tapi itu bisa dite kan dengan cara menghindari keke rasan fisik terkecuali keadaan yang
memang memaksa kita untuk ha rus berlaku demikian,"terangnya.
Dia juga menggaris bawahi perlunya kerjasama yang erat antarse mua kita, sesama bagian atau beda bagian di dalam dan luar kepoli sian.
"Juga yang paling penting bekerja sama dengan semua lapisan ma syarakat. Saya tekankan, ini sangat pen ting. Tanpa mereka kita tak bisa berbuat apa-apa. Kita perlu mereka, tentu kita berharap mereka perlu ki ta juga. Saya harap kalian paham dengan ucapan saya barusan."
Follow up dari rapat kilat itu, bebera pa hari kemudian Aulia diketemu kan tewas di sebuah apartemen ke tika hendak menangkap kelompok sindikat narkoba dan perdagangan manusia pimpinan Siaa, o Lung.
Aulia diketemukan sudah tak ber nyawa lagi oleh salah seorang pe tugas cleaning service apartemen di kamarnya pagi hari. Diduga kuat ditembak dari jarak dekat ke kepa la, leher, perut dan alat kemaluan.
Tewasnya Aulia membikin syok dan marah Santi dan Rahman. Untung lah, Letnan Komar segera turun ta ngan menenangkan dua anak buah nya yang masih tersisa ini.
"Saya harap kalian pakai hati dan pikiran, bukan perasaan," kata Let nan Komar di kediamannya suatu malam.
"Saya bertekad akan mengungkap habis-habisan kasus yang sedang kita hadapi saat ini. Namun tentunya saya tak bisa bekerja sendirian. Saya butuh bantuan kalian."
"Paham?"
"Paham Letnan," jawab Santi, meneteskan air mata mengingat kejadi an tewasnya sahabat dekatnya, Aulia.
Dalam hati Santi berjanji akan terus mengejar dan menemukan pelakunya sampai titik darah penghabisan.
Kamis, 19 April 2018
Soleh (25-Tamat)
Cerita untuk Anak
Soleh (25-Tamat)
Oleh Wak Amin
"PADA tahun ini," kata Pak Mansyur, "Kami akan membangun ruang perpustakaan dan ruang guru."
Hadirin diam ...
"Kami banyak memerlukan dana. Tapi kami harus yakin dan optimis dua ruangan yang kami akan bangun itu insya Allah akan terwujud tahun ini," jelas Pak Mansyur.
Hadirin belum berkomentar ...
Masih sibuk dengan aktivitas masing-masing. Ada yang berkipas, berbisik dan tekun menyimak ucapan Pak Mansyur.
"Maka itu, dengan penuh kerendahan hati kami mengetuk hati bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian untuk sa ma-sama menyukseskan pembangunan yang kami sebutkan tadi. Kami tidak memaksa. Ini sukarela. Kami serahkan pada ibu bapak sekalian dengan cara apa menyukseskan pembangunan untuk kelancaran operasional SD Al-Munawar ini," terang Pak Mansyur.
Dalam sambutannya Pak Mansyur mengharapkan keikutsertaan para orang tua wali murid ini bisa terus berlanjut di masa yang akan datang.
"Semoga amal ibadah bapak dan ibu semuanya bakal mendapat imbalan pahala yang setimpal dari Allah SWT.
"Amiin," jawab hadirin serentak.
"Terima kasih. Saya akhiri kata sambutan saya ini dengan ucapan wassalamu alaikum warohmatul lohi wabarokaaatuh."
"Waalaikum salam warohmatullohi wabarokaaatuh."
Begitu Pak Mansyur turun dari atas panggung dan hendak menuju tempat duduknya, Pak Salim, ayahnya Jamilah, segera bangkit dari tempat duduknya.
Bersama isterinya, Bu Hawiyah, dia menyalami Pak Mansyur, sembari mengatakan berpartisipasi membantu sekaligus menyukseskan pembangunan dua ruangan vital SD Al-Munawar.
"Ini dulu dari saya Pak Mansyur. Mohon diterima Pak," kata Pak Salim. Menyerahkan amplop putih berisi uang yang jika dijumlahkan kurang lebih dua jutaan rupiah.
Tak lama kemudian, disusul orang tua Latifah, Nawas, Soleh, Anisah, Yunus, Marfuah dan Lukman.
"Saya catat juga Bu," kata Pak Bendo, ayahnya Kadir, setelah memberikan sejumlah uang kepada Bu Guru Elisa.
Sementara para orang tua dan wali murid yang lain telah berkomitmen akan membantu bukan dalam bentuk uang. Tapi berupa material bangunan mulai dari batu bata, semen, atap genteng, cat hingga keramik.
Pak Mansyur sangat terharu dengan kepekaan dan kekompakan para undangan yang secara cepat meres pon imbauan dari pihak sekolah.
"Terima kasih, terima kasih," ucapnya sembari mempersilakan tamu undangan turun dari atas panggung, kem bali ke tempat duduk mereka semula.
Selain Pak Mansyur, para guru, tak terkecuali Bu Guru Elisa sangat terharu. Dia terharu bukan cuma karena cepatnya bantuan yang diberikan, tapi keakraban sesama orang tua wali murid, dan sangat mencengangkan apa yang dilihat nya barusan, para anak didiknya sangat kompak dengan pasangannya masing-masing.
Tamat ...
Soleh (25-Tamat)
Oleh Wak Amin
"PADA tahun ini," kata Pak Mansyur, "Kami akan membangun ruang perpustakaan dan ruang guru."
Hadirin diam ...
"Kami banyak memerlukan dana. Tapi kami harus yakin dan optimis dua ruangan yang kami akan bangun itu insya Allah akan terwujud tahun ini," jelas Pak Mansyur.
Hadirin belum berkomentar ...
Masih sibuk dengan aktivitas masing-masing. Ada yang berkipas, berbisik dan tekun menyimak ucapan Pak Mansyur.
"Maka itu, dengan penuh kerendahan hati kami mengetuk hati bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian untuk sa ma-sama menyukseskan pembangunan yang kami sebutkan tadi. Kami tidak memaksa. Ini sukarela. Kami serahkan pada ibu bapak sekalian dengan cara apa menyukseskan pembangunan untuk kelancaran operasional SD Al-Munawar ini," terang Pak Mansyur.
Dalam sambutannya Pak Mansyur mengharapkan keikutsertaan para orang tua wali murid ini bisa terus berlanjut di masa yang akan datang.
"Semoga amal ibadah bapak dan ibu semuanya bakal mendapat imbalan pahala yang setimpal dari Allah SWT.
"Amiin," jawab hadirin serentak.
"Terima kasih. Saya akhiri kata sambutan saya ini dengan ucapan wassalamu alaikum warohmatul lohi wabarokaaatuh."
"Waalaikum salam warohmatullohi wabarokaaatuh."
Begitu Pak Mansyur turun dari atas panggung dan hendak menuju tempat duduknya, Pak Salim, ayahnya Jamilah, segera bangkit dari tempat duduknya.
Bersama isterinya, Bu Hawiyah, dia menyalami Pak Mansyur, sembari mengatakan berpartisipasi membantu sekaligus menyukseskan pembangunan dua ruangan vital SD Al-Munawar.
"Ini dulu dari saya Pak Mansyur. Mohon diterima Pak," kata Pak Salim. Menyerahkan amplop putih berisi uang yang jika dijumlahkan kurang lebih dua jutaan rupiah.
Tak lama kemudian, disusul orang tua Latifah, Nawas, Soleh, Anisah, Yunus, Marfuah dan Lukman.
"Saya catat juga Bu," kata Pak Bendo, ayahnya Kadir, setelah memberikan sejumlah uang kepada Bu Guru Elisa.
Sementara para orang tua dan wali murid yang lain telah berkomitmen akan membantu bukan dalam bentuk uang. Tapi berupa material bangunan mulai dari batu bata, semen, atap genteng, cat hingga keramik.
Pak Mansyur sangat terharu dengan kepekaan dan kekompakan para undangan yang secara cepat meres pon imbauan dari pihak sekolah.
"Terima kasih, terima kasih," ucapnya sembari mempersilakan tamu undangan turun dari atas panggung, kem bali ke tempat duduk mereka semula.
Selain Pak Mansyur, para guru, tak terkecuali Bu Guru Elisa sangat terharu. Dia terharu bukan cuma karena cepatnya bantuan yang diberikan, tapi keakraban sesama orang tua wali murid, dan sangat mencengangkan apa yang dilihat nya barusan, para anak didiknya sangat kompak dengan pasangannya masing-masing.
Tamat ...
Soleh (24)
Cerita untuk Anak
Soleh (24)
Oleh Wak Amin
"ASSALAMUALAIKUM warohmatullohi wabarokaatuh," ucap Kepala Sekolah SD Al-Munawar, Pak Mansyur.
Karena segenap undangan menjawab salam hampir tak kedengaran alias 'loyo', Pak Mansyur harus me ngulanginya sampai tiga kali.
"Assalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh ..."
"Waalaikum salam warohmatullohi wabarokaaatuh," jawab hadirin serempak.
Ha ha ha ha ...
Riuh sesaat ...
"Nah begitu bapak-bapak, ibu-ibu. Semangat walau bulan tua. Walau tadi pagi belum sempat sarapan pagi. Harus kuat. Betul tidak?"
"Betuul .." Jawab bapak-bapak.
"Tidaaak." Jawab ibu-ibu.
Haaaa ..?
"Maksudnya Pak Kepala Sekolah," kata wali murid berkopiah putih sambil melirik teman di sebelah kirinya, "Sarapan pagi tadi memang tidak sempat karena di sini kan pasti makan .."
He he he he ...
"Betul sekali. Sekali-kali tak mengapalah puasa setengah hari. Betul apa betul?"
"Betuuuuul ..."
Suasana kembali hening ...
"Paaak!"
"Yaaa .."
"Buuuk!"
"Ya ..."
Ha ha ha ha ...
"Jadi bapak-bapak ibu-ibu sekalian. Hari ini sekolah kita ini genap berusia delapan tahun. Masih sangat muda. Kalau diibaratkan manusia, baru duduk di kelas dua sekolah dasar. Betuul?"
"Betul Ustad, eeeh Pak Mansyur," jawab seorang ibu sambil tertawa geli melihat teman di sebelahnya terbatuk-batuk karena kurang tidur semalam.
"Karena masih anak-anak, tentu masih harus mendapat bimbingan, terutama dari kita para orang tua, orang terdekat, termasuk guru mereka di sekolah. Betul apa tak betul?"
"Betuuul ..."
"Bapak dan ibu-ibu sekalian .. Saya selaku bapak kepala sekolah me ngucapkan terima kasih kepada bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian. Karena berkat doa dan dukungan bapak-bapak, ibu-ibu semuanya sekolah kita ini bisa bertahan hingga saat ini."
Beragam polah dari hadirin ...
Ada yang minum air putih, berkipas karena kepanasan, harus meninggalkan tempat duduk karena meng gendong bayi dan membawanya pergi ke luar tenda agar tidak menangis karena kepanasan.
"Tapi kita tidak boleh berpuas diri. Betul apa betul?"
"Betuuul ..."
"Kita harus tetap berusaha dan bersama-sama memajukan sekolah kita ini. Bagaimana caranya? Salah satunya adalah dengan menambah bangunan yang telah ada .."
Sampai di sini para orang tua dan wali murid diam. Ada yang malah berbisik-bisik satu sama lain.
Di kursi paling belakang misalnya ...
"Pasti ujung-ujungnya minta sumbangan lagi. Betul tidak Bro?" Kata pria paruh baya bersandal jepit beda warna dan ukuran.
"Betul sekali," jawab temannya, menunduk setengah ngantuk.
Di kursi tengah ...
"Kamu ada duit berapa Bro?" Tanya lelaki berpakaian batik motif bunga warna-warni.
"Cuma ini yang kupunya." Mengeluarkan beberapa keping uang logam seribuan.
Dia menghitungnya. "Jumlah keseluruhannya dua puluh lima ribu rupiah Pak," kata si bapak berkulit hitam legam keputih-putihan.
Soleh (24)
Oleh Wak Amin
"ASSALAMUALAIKUM warohmatullohi wabarokaatuh," ucap Kepala Sekolah SD Al-Munawar, Pak Mansyur.
Karena segenap undangan menjawab salam hampir tak kedengaran alias 'loyo', Pak Mansyur harus me ngulanginya sampai tiga kali.
"Assalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh ..."
"Waalaikum salam warohmatullohi wabarokaaatuh," jawab hadirin serempak.
Ha ha ha ha ...
Riuh sesaat ...
"Nah begitu bapak-bapak, ibu-ibu. Semangat walau bulan tua. Walau tadi pagi belum sempat sarapan pagi. Harus kuat. Betul tidak?"
"Betuul .." Jawab bapak-bapak.
"Tidaaak." Jawab ibu-ibu.
Haaaa ..?
"Maksudnya Pak Kepala Sekolah," kata wali murid berkopiah putih sambil melirik teman di sebelah kirinya, "Sarapan pagi tadi memang tidak sempat karena di sini kan pasti makan .."
He he he he ...
"Betul sekali. Sekali-kali tak mengapalah puasa setengah hari. Betul apa betul?"
"Betuuuuul ..."
Suasana kembali hening ...
"Paaak!"
"Yaaa .."
"Buuuk!"
"Ya ..."
Ha ha ha ha ...
"Jadi bapak-bapak ibu-ibu sekalian. Hari ini sekolah kita ini genap berusia delapan tahun. Masih sangat muda. Kalau diibaratkan manusia, baru duduk di kelas dua sekolah dasar. Betuul?"
"Betul Ustad, eeeh Pak Mansyur," jawab seorang ibu sambil tertawa geli melihat teman di sebelahnya terbatuk-batuk karena kurang tidur semalam.
"Karena masih anak-anak, tentu masih harus mendapat bimbingan, terutama dari kita para orang tua, orang terdekat, termasuk guru mereka di sekolah. Betul apa tak betul?"
"Betuuul ..."
"Bapak dan ibu-ibu sekalian .. Saya selaku bapak kepala sekolah me ngucapkan terima kasih kepada bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian. Karena berkat doa dan dukungan bapak-bapak, ibu-ibu semuanya sekolah kita ini bisa bertahan hingga saat ini."
Beragam polah dari hadirin ...
Ada yang minum air putih, berkipas karena kepanasan, harus meninggalkan tempat duduk karena meng gendong bayi dan membawanya pergi ke luar tenda agar tidak menangis karena kepanasan.
"Tapi kita tidak boleh berpuas diri. Betul apa betul?"
"Betuuul ..."
"Kita harus tetap berusaha dan bersama-sama memajukan sekolah kita ini. Bagaimana caranya? Salah satunya adalah dengan menambah bangunan yang telah ada .."
Sampai di sini para orang tua dan wali murid diam. Ada yang malah berbisik-bisik satu sama lain.
Di kursi paling belakang misalnya ...
"Pasti ujung-ujungnya minta sumbangan lagi. Betul tidak Bro?" Kata pria paruh baya bersandal jepit beda warna dan ukuran.
"Betul sekali," jawab temannya, menunduk setengah ngantuk.
Di kursi tengah ...
"Kamu ada duit berapa Bro?" Tanya lelaki berpakaian batik motif bunga warna-warni.
"Cuma ini yang kupunya." Mengeluarkan beberapa keping uang logam seribuan.
Dia menghitungnya. "Jumlah keseluruhannya dua puluh lima ribu rupiah Pak," kata si bapak berkulit hitam legam keputih-putihan.
Soleh (23)
Cerita untuk Anak
Soleh (23)
Oleh Wak Amin
TEPUK tangan kembali bergema di bawah panggung setelah siswa kelas 5 SD Al-Munawar dengan lincah nya menabuh rebana diiringi dentingan suara gitar.
Jumlah mereka kurang lebih sepuluh orang. Tiga siswa laki-laki, si sanya siswa perempuan. Mengenakan kebaya dan bercelana hitam baju putih lengan panjang serta berkopiah hitam bagi siswa laki-laki.
Mereka membawakan tiga buah tembang. Dua di antaranya berbahasa Arab, satunya lagi berbahasa Indonesia.
Inilah syair lagu terakhir yang mereka senandungkan. Mereka beri judul ... 'Al-Munawar'.
"Kami siswa-siswi Al-Munawar
Tak henti terus belajar
Cita-cita kami kejar
Tak pandang perut lapar ...
Kami siswa-siswi Al-Munawar
Maju terus tak pernah gentar
Siap hadapi yang kurang ajar
Demi membela yang benar ..
Kami bantu yang lemah
Tanpa harus bersikap pongah
Selalu waspada tak pernah
lengah
Walau mesti terengah-engah ..
Sawah ladang kami punya
Ikan juga kami pelihara
Siap dijual dengan harga
murah
Siap bantu orang yang
susah ...
Kami siswa-siswi Al-Munawar
Selalu setia dan rajin belajar
Maju terus tak pernah gentar
Demi membela yang benar.."
Plak .. pak .. plak ... pak ...
"Terima kasih bapak ibu dan hadirin sekalian," kata Marwiyah dengan suara lantang.
"Berikutnya kami panggilkan dua orang adik kelas kami masing-masing Zuleha dan Abdul ..."
Plak .. pak .. plak ... pak ...
"Terima kasih .. terima kasih," ucap Marwiyah bangga. Mempersilakan Zuleha berdiri di tengah depan pang gung sementara Abdul duduk di kursi sambil memetik gitar.
Jreeeeng ..
Jeeeng ...
Ting ... Ting .. Ting ...
"Selamat siang bapak dan ibu seka lian. Kakak dan adik kami serta teman-teman kami semuanya. Kami akan membawakan sebuah puisi yang kami beri judul ...'Berkibarlah Al-Munawarku'. Selamat mendengarkan ..."
Zuleha memulai puisinya ....
"Berkibarlah Al-Munawarku
Singgahi pulau-pulau kami
Temui teman-teman kami
Yang jauh di pelosok negeri
Berilah mereka harapan
Kasihanilah penuh kasih
sayang ...
Mereka saudara kami
Mereka sahabat kami
Walau kami jauh
Dipisahkan bentangan pulau
Kami kukuh satu hati
Tak goyah kena angin
Tetap kokoh meski badai
menerpa ...
Berkibarlah Al-Munawarku
Sambangi pagi biar melimpah
rezeki
Sambut siang biar menerangi
Datangi sore biar meneduhi
dan sambut malam biar
pernama datang menghampiri
...."
Hadirin khusyuk mendengar ...
Terdengar suara dentingan gitar yang dimainkan dengan lembut oleh Abdul. Tanpa kata.
Zuleha melanjutkan ...
"Al- Munawarku
Berkibar terus sepanjang hari
Sepanjang malam
Tak kenal lelah
Pantang menyerah
Tampil gagah ..."
Soleh (23)
Oleh Wak Amin
TEPUK tangan kembali bergema di bawah panggung setelah siswa kelas 5 SD Al-Munawar dengan lincah nya menabuh rebana diiringi dentingan suara gitar.
Jumlah mereka kurang lebih sepuluh orang. Tiga siswa laki-laki, si sanya siswa perempuan. Mengenakan kebaya dan bercelana hitam baju putih lengan panjang serta berkopiah hitam bagi siswa laki-laki.
Mereka membawakan tiga buah tembang. Dua di antaranya berbahasa Arab, satunya lagi berbahasa Indonesia.
Inilah syair lagu terakhir yang mereka senandungkan. Mereka beri judul ... 'Al-Munawar'.
"Kami siswa-siswi Al-Munawar
Tak henti terus belajar
Cita-cita kami kejar
Tak pandang perut lapar ...
Kami siswa-siswi Al-Munawar
Maju terus tak pernah gentar
Siap hadapi yang kurang ajar
Demi membela yang benar ..
Kami bantu yang lemah
Tanpa harus bersikap pongah
Selalu waspada tak pernah
lengah
Walau mesti terengah-engah ..
Sawah ladang kami punya
Ikan juga kami pelihara
Siap dijual dengan harga
murah
Siap bantu orang yang
susah ...
Kami siswa-siswi Al-Munawar
Selalu setia dan rajin belajar
Maju terus tak pernah gentar
Demi membela yang benar.."
Plak .. pak .. plak ... pak ...
"Terima kasih bapak ibu dan hadirin sekalian," kata Marwiyah dengan suara lantang.
"Berikutnya kami panggilkan dua orang adik kelas kami masing-masing Zuleha dan Abdul ..."
Plak .. pak .. plak ... pak ...
"Terima kasih .. terima kasih," ucap Marwiyah bangga. Mempersilakan Zuleha berdiri di tengah depan pang gung sementara Abdul duduk di kursi sambil memetik gitar.
Jreeeeng ..
Jeeeng ...
Ting ... Ting .. Ting ...
"Selamat siang bapak dan ibu seka lian. Kakak dan adik kami serta teman-teman kami semuanya. Kami akan membawakan sebuah puisi yang kami beri judul ...'Berkibarlah Al-Munawarku'. Selamat mendengarkan ..."
Zuleha memulai puisinya ....
"Berkibarlah Al-Munawarku
Singgahi pulau-pulau kami
Temui teman-teman kami
Yang jauh di pelosok negeri
Berilah mereka harapan
Kasihanilah penuh kasih
sayang ...
Mereka saudara kami
Mereka sahabat kami
Walau kami jauh
Dipisahkan bentangan pulau
Kami kukuh satu hati
Tak goyah kena angin
Tetap kokoh meski badai
menerpa ...
Berkibarlah Al-Munawarku
Sambangi pagi biar melimpah
rezeki
Sambut siang biar menerangi
Datangi sore biar meneduhi
dan sambut malam biar
pernama datang menghampiri
...."
Hadirin khusyuk mendengar ...
Terdengar suara dentingan gitar yang dimainkan dengan lembut oleh Abdul. Tanpa kata.
Zuleha melanjutkan ...
"Al- Munawarku
Berkibar terus sepanjang hari
Sepanjang malam
Tak kenal lelah
Pantang menyerah
Tampil gagah ..."
Kemiskinan (6)
Kemiskinan (6)
Oleh aminuddin
BAHAYA KEMISKINAN
ADA sedikitnya sepuluh dampak (akibat) yang boleh dikatagorikan 'mengerikan' dari kemiskinan.
1. Berkurangnya rasa nasionalisme terhadap suatu negara dikarenakan lebih memikirkan kebutuhan yang
untuk bertahan hidup saja sulit, apa lagi memikirkan rasa cinta pada negara.
2. Banyak kejahatan terjadi dimana-mana. Hal ini terjadi karena masih banyak masyarakat yang berpikiran pendek dalam memenuhi kebutuhan hidup dan sudah terlalu terdesak dengan kebutuhan tanpa dibekali iman.
3. Harga diri suatu negara jatuh di mata dunia, akan diremehkan dan dianggap SDM- nya tidak punya potensi untuk maju dan hanya mengandalkan bantuan.
4. Semakin tidak terurusnya generasi muda oleh ortu dan terlepas begitu saja dari pendidikan dan pengawasan ortu sehingga menumbuhkan generasi muda tanpa mengindahkan budaya ketimuran.
5. Hilangnya rasa kegotong royongan dan saling membantu dikarenakan sudah menjamurnya budaya loe ya loe, guwe ya guwe, sehingga menimbulkan kurangnya rasa persatuan di suatu negara.
6. Timbulnya banyak penyakit di mana-mana, baik itu penyakit menular seks atau penyakit yang disebabkan tempat yang kumuh atau makanan yang dikonsumsi tidak sehat.
7. Semakin berkurang secara drastis orang belajar agama atau keyakinan kepada Tuhan disebabkan lebih pada memikirkan kebutuhan utama yakni makan
8. Terjadinya banyak perselingkuhan dimana-mana, baik perselingkuhan dalam bidang bisnis, rumah tangga, dan perselingkuhan dalam mencintai tanah air.
9. Semakin terpuruknya ekonomi bangsa yang akan mengakibatkan kehancuran suatu bangsa akibat ingin memisahkan diri dari wilayah kesatuan tanah air.
10. Lahirnya sebuah kelompok masyarakat yang begitu pandai, dahsyat dan kreatif melahirkan suatu yang baru dan canggih akibat terhimpit ekonomi dan terjadinya revolusi massal dan terpecah belahnya suatu negara menjadi negara-negara yang kecil.
_____________
Fact4win.blogspot.co.id/20.
Oleh aminuddin
BAHAYA KEMISKINAN
ADA sedikitnya sepuluh dampak (akibat) yang boleh dikatagorikan 'mengerikan' dari kemiskinan.
1. Berkurangnya rasa nasionalisme terhadap suatu negara dikarenakan lebih memikirkan kebutuhan yang
untuk bertahan hidup saja sulit, apa lagi memikirkan rasa cinta pada negara.
2. Banyak kejahatan terjadi dimana-mana. Hal ini terjadi karena masih banyak masyarakat yang berpikiran pendek dalam memenuhi kebutuhan hidup dan sudah terlalu terdesak dengan kebutuhan tanpa dibekali iman.
3. Harga diri suatu negara jatuh di mata dunia, akan diremehkan dan dianggap SDM- nya tidak punya potensi untuk maju dan hanya mengandalkan bantuan.
4. Semakin tidak terurusnya generasi muda oleh ortu dan terlepas begitu saja dari pendidikan dan pengawasan ortu sehingga menumbuhkan generasi muda tanpa mengindahkan budaya ketimuran.
5. Hilangnya rasa kegotong royongan dan saling membantu dikarenakan sudah menjamurnya budaya loe ya loe, guwe ya guwe, sehingga menimbulkan kurangnya rasa persatuan di suatu negara.
6. Timbulnya banyak penyakit di mana-mana, baik itu penyakit menular seks atau penyakit yang disebabkan tempat yang kumuh atau makanan yang dikonsumsi tidak sehat.
7. Semakin berkurang secara drastis orang belajar agama atau keyakinan kepada Tuhan disebabkan lebih pada memikirkan kebutuhan utama yakni makan
8. Terjadinya banyak perselingkuhan dimana-mana, baik perselingkuhan dalam bidang bisnis, rumah tangga, dan perselingkuhan dalam mencintai tanah air.
9. Semakin terpuruknya ekonomi bangsa yang akan mengakibatkan kehancuran suatu bangsa akibat ingin memisahkan diri dari wilayah kesatuan tanah air.
10. Lahirnya sebuah kelompok masyarakat yang begitu pandai, dahsyat dan kreatif melahirkan suatu yang baru dan canggih akibat terhimpit ekonomi dan terjadinya revolusi massal dan terpecah belahnya suatu negara menjadi negara-negara yang kecil.
_____________
Fact4win.blogspot.co.id/20.
Selasa, 17 April 2018
Soleh (22)
Cerita untuk Anak
Soleh (22)
Oleh Wak Amin
HASAN dan kawan-kawan pentas bersama ...
Judulnya ... Mancing itu Enak.
Seeeet ...
Seeeet ...
"Sentakke San," teriak Rahman.
"Dak bisa aku. Berat nian ..."
"Ai dakken ado. Iwak kecik dak pacak disentakke ..."
"Cubola kalu dak cayo ..."
Rahman mendekati Hasan. Satang pancing dia yang pegang. Sedikit komat-kamit, dia tarik pelan.
Mulanya tak bisa ...
Beberapa detik kemudian ...
Hua ha ha ha ...
Penonton tertawa.
Bukan ikan yang didapat, tapi kutang alias beha.
"Lepaskan ..." Kata Rahman.
"Jangan Man."
"Buat apa?"
"Isterimu di rumah."
Ha ha ha ha ...
Di dapur ...
Agus, anaknya Mang Hasan, pulang dari sekolah. Perut lapar, mana berkeringat lagi. Cari kesana kemari, ibunya lagi masak di dapur.
"Eeeem ... Sedapnyaaa."
Agus semakin bernafsu ingin makan siang. Sudah terbayang di benaknya, paling sedikit dua piring dia habiskan nasi pada siang hari ini.
"Masih lama Bu masaknya?"
"Setengah jam lagilah Nak. Sabar ya!" Jawab ibunya, membolak-balik gorengan di dalam kuali berminyak.
Agus masuk ke kamarnya. Bertukar pakaian, lalu keluar lagi. Karena capek, dia rebahan di kursi ruang tamu.
Seekor kucing mendekatinya ...
Ngeooong ...
Ngeooong ...
Ngeooong ...
Agus terjaga dari kantuk beratnya.
"Tunggu ya." Agus melihat jam dinding, pukul setengah dua.
"Tunggu lima menit lagi ya."
Ngeooong ..
Ngeooong ..
Ngeooong ...
Tujuh menit kemudian, Agus bergegas menuju dapur. Dia lihat ibunya sudah tidak ada lagi.
Kemana ya?"
"Ibu disini Nak," jawab ibunya dari garang dekat dapur.
Si ibu mencuci piring.
"Ibu sudah masak kan?"
"Sudah Nak. Makanlah. Buka songkoknya di meja makan."
" Baik Bu."
Ngeooong ...
Ngeooong ...
Sang kucing bergelayut manja di sela kaki Agus.
Songkok dibuka ...
Haaa?
"Cuma sambal saja Bu?"
"Iya Nak."
"Ikannya?"
"Enggak ada Gus. Ayahmu belum pulang dari memancing."
He he he he ...
Dalam perjalanan pulang dari memancing ...
"Kita harus bersyukur San," ucap Rahman menghibur sobatnya yang hanya dapat seekor ikan sepat.
"Bersyukur sih bersyukur Man, tapi apa kata isteriku nanti di rumah. Bisa-bisa aku dilarang mancing lagi."
Ha ha ha ha ...
"Masa San. Cuma gara-gara dapat seekor sepat, tidak diperbolehkan isteri memancing lagi."
"Ya iyalah. Soalnya, ikan yang kudapat ini sangat ditunggu isteri dan anakku buat makan siang tau ..."
Haaa?
Hu hu hu hu ...
Sampai di rumah, karena takut kena marah isteri tercinta, ikan sepat hasil memancing yang ditaruh di da lam kaleng berisi air, tidak dibawa masuk. Tapi diletakkan di meja garang.
Meja panjang segi empat.
Datanglah kucing kesayangan Agus.
Melihat ada ikan. Masih hidup, segar bugar. Dia sepak kaleng itu. Keluarlah ikan sepatnya.
Bleeep ...
Bleeep ...
Langsung disikat ...
Soleh (22)
Oleh Wak Amin
HASAN dan kawan-kawan pentas bersama ...
Judulnya ... Mancing itu Enak.
Seeeet ...
Seeeet ...
"Sentakke San," teriak Rahman.
"Dak bisa aku. Berat nian ..."
"Ai dakken ado. Iwak kecik dak pacak disentakke ..."
"Cubola kalu dak cayo ..."
Rahman mendekati Hasan. Satang pancing dia yang pegang. Sedikit komat-kamit, dia tarik pelan.
Mulanya tak bisa ...
Beberapa detik kemudian ...
Hua ha ha ha ...
Penonton tertawa.
Bukan ikan yang didapat, tapi kutang alias beha.
"Lepaskan ..." Kata Rahman.
"Jangan Man."
"Buat apa?"
"Isterimu di rumah."
Ha ha ha ha ...
Di dapur ...
Agus, anaknya Mang Hasan, pulang dari sekolah. Perut lapar, mana berkeringat lagi. Cari kesana kemari, ibunya lagi masak di dapur.
"Eeeem ... Sedapnyaaa."
Agus semakin bernafsu ingin makan siang. Sudah terbayang di benaknya, paling sedikit dua piring dia habiskan nasi pada siang hari ini.
"Masih lama Bu masaknya?"
"Setengah jam lagilah Nak. Sabar ya!" Jawab ibunya, membolak-balik gorengan di dalam kuali berminyak.
Agus masuk ke kamarnya. Bertukar pakaian, lalu keluar lagi. Karena capek, dia rebahan di kursi ruang tamu.
Seekor kucing mendekatinya ...
Ngeooong ...
Ngeooong ...
Ngeooong ...
Agus terjaga dari kantuk beratnya.
"Tunggu ya." Agus melihat jam dinding, pukul setengah dua.
"Tunggu lima menit lagi ya."
Ngeooong ..
Ngeooong ..
Ngeooong ...
Tujuh menit kemudian, Agus bergegas menuju dapur. Dia lihat ibunya sudah tidak ada lagi.
Kemana ya?"
"Ibu disini Nak," jawab ibunya dari garang dekat dapur.
Si ibu mencuci piring.
"Ibu sudah masak kan?"
"Sudah Nak. Makanlah. Buka songkoknya di meja makan."
" Baik Bu."
Ngeooong ...
Ngeooong ...
Sang kucing bergelayut manja di sela kaki Agus.
Songkok dibuka ...
Haaa?
"Cuma sambal saja Bu?"
"Iya Nak."
"Ikannya?"
"Enggak ada Gus. Ayahmu belum pulang dari memancing."
He he he he ...
Dalam perjalanan pulang dari memancing ...
"Kita harus bersyukur San," ucap Rahman menghibur sobatnya yang hanya dapat seekor ikan sepat.
"Bersyukur sih bersyukur Man, tapi apa kata isteriku nanti di rumah. Bisa-bisa aku dilarang mancing lagi."
Ha ha ha ha ...
"Masa San. Cuma gara-gara dapat seekor sepat, tidak diperbolehkan isteri memancing lagi."
"Ya iyalah. Soalnya, ikan yang kudapat ini sangat ditunggu isteri dan anakku buat makan siang tau ..."
Haaa?
Hu hu hu hu ...
Sampai di rumah, karena takut kena marah isteri tercinta, ikan sepat hasil memancing yang ditaruh di da lam kaleng berisi air, tidak dibawa masuk. Tapi diletakkan di meja garang.
Meja panjang segi empat.
Datanglah kucing kesayangan Agus.
Melihat ada ikan. Masih hidup, segar bugar. Dia sepak kaleng itu. Keluarlah ikan sepatnya.
Bleeep ...
Bleeep ...
Langsung disikat ...
Soleh (21)
Cerita untuk Anak
Soleh (21)
Oleh Wak Amin
DI parkiran kendaraan ...
Kadir dan Pardi sibuk mengatur sepeda motor yang berdatangan, hendak parkir.
"Sabar Pak. Sabar. Ayo Bu, cepat masuk," ucap Kadir.
Si ibu yang baru saja mendorng motornya, tiba-tiba menjerit setelah selendang anaknya ikut kebawa ban belakang motor.
Untung motor cuma didorong. Bukan melaju.
Saat itu juga siswa lain berbeda kelas ikut membantu Kadir menarik pelan selendang berwarna pink itu dari jari-jari motor.
"Lain kali hati-hati ya Bu," pesan Kadir, beberapa saat setelah selendang itu berhasil dilepaskan dari lilitan dan diberikan kepada si ibu.
Si ibu mengiyakan, demikian pula anak perempuannya yang mulai meranjak remaja.
Priiit ...
Priiit ...
"Teruuss .."
"Kanan dikit, Pak."
"Teruus ..."
"Stop."
Ban kiri mobil salah satu orang tua siswa terperosok masuk lubang. Terdengar suara yang lumayan nyaring.
Sebagian besar undangan sontak berdiri. Mereka penasaran. Apa ya ng sebenarnya telah terjadi dengan mobil avanza berwarna hitam itu?
Ha ha ha ha ...
"Ada-ada saja. Belum pernah dicuci kali," celetuk pria kurus berkopiah hitam.
"Bukan belum pernah dicuci, tapi yang nyopirnya lupa gosok gigi," ledek teman si kurus.
Si empunya mobil yang baru saja turun mendekati Kadir dan Lukman, spontan turun ke parit. Ketiganya bersama-sama mengambil kayu yang teronggok di parit, lalu menyilangkannya di bawah ban mobil yang menggelantung.
Separo masuk parit ...
"Ayo bapak-bapak. Kita bantu dorong," kata Pak Guru Jalil, guru kelas I.
Mesin mobil dinyalakan, papan ditambah dua potong lagi. Didorong sama-sama dari belakang dan sam ping. Secara perlahan mobil bergerak lagi.
Alhamdulillah ...
Priiiit ...
Priiit ...
"Sabar Pak. Satu-satu ..." Kata Pardi.
Empat sepeda motor berhenti serempak. Pengemudinya turun dan mendorong sepeda motor barengan.
Terjadi debat kusir ..
"Saya dulu Pak. Saya kan duluan sampe. Betul kan Dik?"
Si Kadir mengiyakan ...
"Betul. Tapi coba bapak lihat mana yang lebih dulu motor bagian depan, bapak atau saya. Punya saya kan ya ng paling depan? Dan si apa yang lebih dulu turun dari motor, kan saya? Jadi sayalah yang harus lebih dulu masuk Pak."
"Tidak bisa. Saya dulu ..."
"Saya dulu."
"Tidak bisa."
Priiit ...
Priit ...
Lukman dan Pak Jalil turun tangan melerai. Karena tak mungkin bisa Kadir sendirian menanganinya.
Apalagi badan pengemudi sepeda motor itu rata-rata kekar dan berotot. Berkulit hitam legam. Sudah terbiasa mencangkul sawah dan berjemur di tengah terik panas matahari.
Soleh (21)
Oleh Wak Amin
DI parkiran kendaraan ...
Kadir dan Pardi sibuk mengatur sepeda motor yang berdatangan, hendak parkir.
"Sabar Pak. Sabar. Ayo Bu, cepat masuk," ucap Kadir.
Si ibu yang baru saja mendorng motornya, tiba-tiba menjerit setelah selendang anaknya ikut kebawa ban belakang motor.
Untung motor cuma didorong. Bukan melaju.
Saat itu juga siswa lain berbeda kelas ikut membantu Kadir menarik pelan selendang berwarna pink itu dari jari-jari motor.
"Lain kali hati-hati ya Bu," pesan Kadir, beberapa saat setelah selendang itu berhasil dilepaskan dari lilitan dan diberikan kepada si ibu.
Si ibu mengiyakan, demikian pula anak perempuannya yang mulai meranjak remaja.
Priiit ...
Priiit ...
"Teruuss .."
"Kanan dikit, Pak."
"Teruus ..."
"Stop."
Ban kiri mobil salah satu orang tua siswa terperosok masuk lubang. Terdengar suara yang lumayan nyaring.
Sebagian besar undangan sontak berdiri. Mereka penasaran. Apa ya ng sebenarnya telah terjadi dengan mobil avanza berwarna hitam itu?
Ha ha ha ha ...
"Ada-ada saja. Belum pernah dicuci kali," celetuk pria kurus berkopiah hitam.
"Bukan belum pernah dicuci, tapi yang nyopirnya lupa gosok gigi," ledek teman si kurus.
Si empunya mobil yang baru saja turun mendekati Kadir dan Lukman, spontan turun ke parit. Ketiganya bersama-sama mengambil kayu yang teronggok di parit, lalu menyilangkannya di bawah ban mobil yang menggelantung.
Separo masuk parit ...
"Ayo bapak-bapak. Kita bantu dorong," kata Pak Guru Jalil, guru kelas I.
Mesin mobil dinyalakan, papan ditambah dua potong lagi. Didorong sama-sama dari belakang dan sam ping. Secara perlahan mobil bergerak lagi.
Alhamdulillah ...
Priiiit ...
Priiit ...
"Sabar Pak. Satu-satu ..." Kata Pardi.
Empat sepeda motor berhenti serempak. Pengemudinya turun dan mendorong sepeda motor barengan.
Terjadi debat kusir ..
"Saya dulu Pak. Saya kan duluan sampe. Betul kan Dik?"
Si Kadir mengiyakan ...
"Betul. Tapi coba bapak lihat mana yang lebih dulu motor bagian depan, bapak atau saya. Punya saya kan ya ng paling depan? Dan si apa yang lebih dulu turun dari motor, kan saya? Jadi sayalah yang harus lebih dulu masuk Pak."
"Tidak bisa. Saya dulu ..."
"Saya dulu."
"Tidak bisa."
Priiit ...
Priit ...
Lukman dan Pak Jalil turun tangan melerai. Karena tak mungkin bisa Kadir sendirian menanganinya.
Apalagi badan pengemudi sepeda motor itu rata-rata kekar dan berotot. Berkulit hitam legam. Sudah terbiasa mencangkul sawah dan berjemur di tengah terik panas matahari.
Soleh (20)
Cerita untuk Anak
Soleh (20)
Oleh Wak Amin
HE .. he ... he .. he ...
Tiba-tiba Anisah ketawa setelah membaca tulisan Bu Guru Elisa. Dia diminta untuk membacakan hasil core tan barusan di hadapan teman-temannya.
Tentu saja siswa pada melongo ...
Mereka ikut tertawa juga akhirnya setelah Anisah menyebut nama Latifah.
"Saya ulangi ya ... Yang menyambut tamu adalah Latifah dan Nawas," ucap Anisah sambil batuk-batuk.
Horeee ...
Siswa serempak bertepuk tangan.
Yang tidak bertepuk tangan hanya Lukman. Sudah capek-capek membonceng pulang Latifah, eee nama nya justru tak disebut.
"Kasihan deh lu," ledek Kadir. Ketawa terpingkal-pingkal.
Tak lama setelah itu ...
Anisah menyebut nama Jamilah. Sengaja Anisah belum menyebut nama pasangan laki-lakinya. Soleh kah atau justru Kadir.
Bikin berdebar-debar jantung Kadir. Sedangkan Soleh biasa-biasa saja. Dengan siapa pun berpasangan tak jadi masalah.
"Penyambut tamu kedua adalah Jamilah dan ..."
"Kadir," ucap Pardi bersemangat.
"Pasangan Jamilah adalah ..."
"Kadir," sahut Yunus yakin.
"So ... So ..."
"Soleeeh ..." Kata siswa serempak. Semua bergembira, kecuali Kadir seorang.
Dia tak terima ...
Mukanya merah padam.
"Kasihan deh lu," sindir Lukman.
Tadi dia kena sindir dan ledek, sekarang giliran dia yang menyindir Kadir.
Sementara Pardi dan Yunus hanya diam. Mereka berharap Kadir tidak marah. Bukankah persandingan itu hanya untuk menerima tamu yang datang dan hadir dalam acara perayaan HUT SD Al-Munawar ke-8.
Amarah dan ketersinggungan Kadir baru reda setelah Bu Guru Elisa turun tangan. Berhasil ditenangkan bersama anak didiknya, termasuk Pardi dan Yunus.
Penyebutan nama panitia dilanjutkan ...
"Untuk penjaga konsumsi. Karena ada dua meja untuk tamu undangan, petugasnya hanya empat orang," kata Anisah.
Siswa saling menoleh. Mereka tampak senang jika ditunjuk ikut menjaga dan mengawasi meja makan.
"Pasti tidak kelaparan. Orang makan kita juga ikut makan diam-diam," celoteh siswa berambut tipis.
Ssssst ...
"Keempat nama itu adalah saya sendiri, Anisah, akan berdampingan dengan Yunus."
Plak ... pak.. plak.. pak ...
"Mantap kau Nus, dapat Anisah. Kau enaklah," kata Pardi seraya menepuk punggung Yunus. Yang punggungnya ditepuk hanya senyum-senyum saja.
"Meja kedua adalah Marfuah, yang akan bersanding dengan ..."
"Pardiii ..." Ucap Yunus.
Wuuuu ...
Wele ... welee ... weleee ...
Ssssst ...
"Berpasangan dengan Luk ... Lukmaaaan ..."
Horee ... horeee ... horee ..
Plak ... pak .. plak ... pak ...
"Selamat Man!" Pardi menjabat tangan Lukman. Sambil berbisik, 'Tak dapat rotan akar pun jadi.' Tak dapat Latifah, Marfuah pun oke.
Ha ha ha ha ...
Riuh sejenak. Sekitar empat puluh detik kemudian, setelah suasananya kembali tenang, Anisah melanjutkan penyebutan nama-nama panitia HUT SD Al-Munawar.
"Untuk jaga parkir dipercayakan pada .... Pardi dan Kadiiir."
"Cocok nian Bu Elisa," ujar Marwiyah.
"Kenapa tidak ada ceweknya Bu?" Tanya Yunus penasaran.
"Kalau ada cewek bukan jaga parkir Nus," kata Marwiyah.
"Lalu apa dong?"
"Jaga maaaal," jawab siswa berbadan bongsor.
Ha ha ha ha ...
Soleh (20)
Oleh Wak Amin
HE .. he ... he .. he ...
Tiba-tiba Anisah ketawa setelah membaca tulisan Bu Guru Elisa. Dia diminta untuk membacakan hasil core tan barusan di hadapan teman-temannya.
Tentu saja siswa pada melongo ...
Mereka ikut tertawa juga akhirnya setelah Anisah menyebut nama Latifah.
"Saya ulangi ya ... Yang menyambut tamu adalah Latifah dan Nawas," ucap Anisah sambil batuk-batuk.
Horeee ...
Siswa serempak bertepuk tangan.
Yang tidak bertepuk tangan hanya Lukman. Sudah capek-capek membonceng pulang Latifah, eee nama nya justru tak disebut.
"Kasihan deh lu," ledek Kadir. Ketawa terpingkal-pingkal.
Tak lama setelah itu ...
Anisah menyebut nama Jamilah. Sengaja Anisah belum menyebut nama pasangan laki-lakinya. Soleh kah atau justru Kadir.
Bikin berdebar-debar jantung Kadir. Sedangkan Soleh biasa-biasa saja. Dengan siapa pun berpasangan tak jadi masalah.
"Penyambut tamu kedua adalah Jamilah dan ..."
"Kadir," ucap Pardi bersemangat.
"Pasangan Jamilah adalah ..."
"Kadir," sahut Yunus yakin.
"So ... So ..."
"Soleeeh ..." Kata siswa serempak. Semua bergembira, kecuali Kadir seorang.
Dia tak terima ...
Mukanya merah padam.
"Kasihan deh lu," sindir Lukman.
Tadi dia kena sindir dan ledek, sekarang giliran dia yang menyindir Kadir.
Sementara Pardi dan Yunus hanya diam. Mereka berharap Kadir tidak marah. Bukankah persandingan itu hanya untuk menerima tamu yang datang dan hadir dalam acara perayaan HUT SD Al-Munawar ke-8.
Amarah dan ketersinggungan Kadir baru reda setelah Bu Guru Elisa turun tangan. Berhasil ditenangkan bersama anak didiknya, termasuk Pardi dan Yunus.
Penyebutan nama panitia dilanjutkan ...
"Untuk penjaga konsumsi. Karena ada dua meja untuk tamu undangan, petugasnya hanya empat orang," kata Anisah.
Siswa saling menoleh. Mereka tampak senang jika ditunjuk ikut menjaga dan mengawasi meja makan.
"Pasti tidak kelaparan. Orang makan kita juga ikut makan diam-diam," celoteh siswa berambut tipis.
Ssssst ...
"Keempat nama itu adalah saya sendiri, Anisah, akan berdampingan dengan Yunus."
Plak ... pak.. plak.. pak ...
"Mantap kau Nus, dapat Anisah. Kau enaklah," kata Pardi seraya menepuk punggung Yunus. Yang punggungnya ditepuk hanya senyum-senyum saja.
"Meja kedua adalah Marfuah, yang akan bersanding dengan ..."
"Pardiii ..." Ucap Yunus.
Wuuuu ...
Wele ... welee ... weleee ...
Ssssst ...
"Berpasangan dengan Luk ... Lukmaaaan ..."
Horee ... horeee ... horee ..
Plak ... pak .. plak ... pak ...
"Selamat Man!" Pardi menjabat tangan Lukman. Sambil berbisik, 'Tak dapat rotan akar pun jadi.' Tak dapat Latifah, Marfuah pun oke.
Ha ha ha ha ...
Riuh sejenak. Sekitar empat puluh detik kemudian, setelah suasananya kembali tenang, Anisah melanjutkan penyebutan nama-nama panitia HUT SD Al-Munawar.
"Untuk jaga parkir dipercayakan pada .... Pardi dan Kadiiir."
"Cocok nian Bu Elisa," ujar Marwiyah.
"Kenapa tidak ada ceweknya Bu?" Tanya Yunus penasaran.
"Kalau ada cewek bukan jaga parkir Nus," kata Marwiyah.
"Lalu apa dong?"
"Jaga maaaal," jawab siswa berbadan bongsor.
Ha ha ha ha ...
Kemiskinan (5)
Kemiskinan (5)
Oleh aminuddin
ADANYA kemiskinan itu, kata Mustafa Husni Ash-Shiba'i, hanyalah karena salah satu dua sebab:
- Pertama, adakalanya karena kemalasan atau keteledoran. Ini tidak dibenarkan dalam Islam.
- Kedua, adakalanya karena ketidak-mampuan untuk bekerja atau kehilangan syarat-syarat untuk bekerja.
Secara umum ada tiga penyebab kemiskinan:
1. Sifat kemiskinan. Kemiskinan yang disebabkan oleh kondisi alami seseorang. Misalnya cacat mental atau fisik, orang tua, tidak mampu bekerja dan lain sebagainya.
2. Kemiskinan budaya. Kemiskinan yang disebabkan oleh rendahnya kualitas sumber daya manusia (SDM) sebagai akibat dari budaya masyarakat tertentu. Umpamanya rasa malas, dan tidak produktif, serta tergantung pada 'real'.
3. Kemiskinan struktural. Kemiskinan yang disebabkan oleh sistem yang rusak yang digunakan negara dalam mengatur urusan rakyat.
___________
- Mustafa Husni Ash-Shiba'i, Isytirokiyah Al-Islami, Alihbahasa Mohamad Abdai Rotamy, Bandung, Diponegoro, 1969.
- Laely-widjajati.blogspot.com
Oleh aminuddin
ADANYA kemiskinan itu, kata Mustafa Husni Ash-Shiba'i, hanyalah karena salah satu dua sebab:
- Pertama, adakalanya karena kemalasan atau keteledoran. Ini tidak dibenarkan dalam Islam.
- Kedua, adakalanya karena ketidak-mampuan untuk bekerja atau kehilangan syarat-syarat untuk bekerja.
Secara umum ada tiga penyebab kemiskinan:
1. Sifat kemiskinan. Kemiskinan yang disebabkan oleh kondisi alami seseorang. Misalnya cacat mental atau fisik, orang tua, tidak mampu bekerja dan lain sebagainya.
2. Kemiskinan budaya. Kemiskinan yang disebabkan oleh rendahnya kualitas sumber daya manusia (SDM) sebagai akibat dari budaya masyarakat tertentu. Umpamanya rasa malas, dan tidak produktif, serta tergantung pada 'real'.
3. Kemiskinan struktural. Kemiskinan yang disebabkan oleh sistem yang rusak yang digunakan negara dalam mengatur urusan rakyat.
___________
- Mustafa Husni Ash-Shiba'i, Isytirokiyah Al-Islami, Alihbahasa Mohamad Abdai Rotamy, Bandung, Diponegoro, 1969.
- Laely-widjajati.blogspot.com
Kemiskinan (4)
Kemiskinan (4)
Oleh aminuddin
MENURUT sosiolog, Selo Sumarjan, kemiskinan struktural adalah kemis kinan yang diderita oleh suatu golo ngan masyarakat, karena struktur sosial masyarakat itu tidak dapat menggunakan sumber-sumber pen dapatan yang sebenarnya tersedia bagi mereka.
Secara teoritis, kemiskinan struktu ral dapat diartikan sebagai suasana kemiskinan yang dialami oleh suatu masyarakat yang penyebab utamanya bersumber, dan sedimikian rupa keadaannya sehingga mereka yang termasuk ke dalam golongan miskin tampak tidak berdaya untuk mengubah nasibnya dan tidak mampu memperbaiki hidupnya.
Menurut Robert Chambers, inti dari masalah kemiskinan struktural sebenarnya terletak pada apa yang disebut deprivation trap atau perangkap kemiskinan.
Secara rinci, kata Robert, depriva tion trap terdiri dari lima unsur:
- Kemiskinan itu sendiri
- Kelemahan fisik
- Keterasingan
- Kerentanan
- Ketidak berdayaan
___________
Sosiolog-09.blogspot.co.id
Oleh aminuddin
MENURUT sosiolog, Selo Sumarjan, kemiskinan struktural adalah kemis kinan yang diderita oleh suatu golo ngan masyarakat, karena struktur sosial masyarakat itu tidak dapat menggunakan sumber-sumber pen dapatan yang sebenarnya tersedia bagi mereka.
Secara teoritis, kemiskinan struktu ral dapat diartikan sebagai suasana kemiskinan yang dialami oleh suatu masyarakat yang penyebab utamanya bersumber, dan sedimikian rupa keadaannya sehingga mereka yang termasuk ke dalam golongan miskin tampak tidak berdaya untuk mengubah nasibnya dan tidak mampu memperbaiki hidupnya.
Menurut Robert Chambers, inti dari masalah kemiskinan struktural sebenarnya terletak pada apa yang disebut deprivation trap atau perangkap kemiskinan.
Secara rinci, kata Robert, depriva tion trap terdiri dari lima unsur:
- Kemiskinan itu sendiri
- Kelemahan fisik
- Keterasingan
- Kerentanan
- Ketidak berdayaan
___________
Sosiolog-09.blogspot.co.id
Kamis, 12 April 2018
Soleh (19)
Cerita untuk Anak
Soleh (19)
Oleh Wak Amin
SESUAI kesepakatan sebelumnya, Latifah memenuhi janjinya diantar pulang ke rumah sekitar pukul satu siang.
Namun, sebelum tiba di rumah, Lati fah minta Lukman menyinggahi kediaman Bu Guru Elisa terlebih dulu.
Lukman tidak keberatan. Yang penting dia sekarang sangat berbahagia. Di benaknya terbayang bersepeda berdua dengan Latifah. Sakit hatinya sebentar lagi akan hilang, berlabuh ke Nawas.
"Biar tau rasa dia," bisiknya dalam hati. Lukman sengaja memperlambat kayuhan sepedanya. Dia tidak tahu gerak-geriknya diperhatikan sedari tadi oleh Anisah dan kawan-kawan.
Apalagi saat dibonceng Lukman, Latifah mengaku senang dan tidak capek mengayuh, atau berjalan kaki bersama teman-teman yang lain.
"Belok kiri Man," kata Latifah mengingatkan.
"Oh iya ya ... Kelupaan aku. Maaf ya Latifah." Malu hati Lukman. Ke kanan memang ada jalan. Tapi menu ju ke hutan dan ladang.
Kriiiing ...
Kriiing ..
Seorang ibu yang baru pulang dari ladang membawa bakul berisi sayur-sayuran terpaksa minggir karena sepeda yang dikayuh Lukman sempat oleng.
Untung tak sampai jatuh ...
Si ibu yang semula kaget berbalik ketawa 'ngekek' melihat sepeda Lukman berjoget ria.
Tak lama. Karena setelah Latifah melompat turun dari sepeda, jogetnya sepeda berhenti seketika.
Sreeet ...
Deeeep ...
Ngerem mendadak.
Hampir saja Lukman jatuh tersungkur. Jika tidak cepat melompat turun dari sepeda.
" Alhamdulillah. Tak apa-apa kan Nak?" Tanya si ibu lega.
"Maaf Bu. Tak sangka sepeda saya bisa tak lurus jalannya," kata Lukman.
Si ibu menyarankan, jika jalan yang akan dilalui ternyata berlubang dan penuh disesaki batu kerikil, lebih baik turun saja dari sepeda.
"Kan lebih aman ..." saran si ibu.
Sampai kemudian mereka tiba di dekat sebuah warung. Ke kanan, jalannya lumayan bagus karena baru selesai diaspal.
Sementara si ibu berjalan ke sebelah kiri ...
Mereka pun berpisah jalan.
Lima menit kemudian ...
Lukman dan Latifah tiba di kedia man Bu Guru Elisa.
Keduanya disambut Nawas yang sudah menunggu di teras rumah perempuan baik hati itu.
"Sudah ditunggu ibu di dalam. Masuk yuk!" Ajak Nawas.
Sementara Lukman yang sedikit 'cemburu' menyandarkan sepedanya ke batang pohon mangga sebelum masuk seorang diri ke kedia man Bu Guru Elisa.
"Selamat siang menjelang sore Lukman". Ucap rekan-rekannya sambil berdiri dan menyilakan Lukman duduk di dekat Bu Guru Elisa.
Mengambil tempat di sebelah kiri, sebelah kanan ditempati Kadir, Pardi dan Yunus. Ada gorengan di depan mereka. Teh manis dan air putih.
Bu Guru Elisa masuk sebentar ke kamarnya sebelum keluar lagi membawa beberapa lembar kertas polio dan pulpen berwarna hitam.
Semua siswa kelas V tidak ada ya ng tahu kenapa siang menjelang sore hari ini mereka kumpul di kediaman Bu Guru Elisa.
Mereka semakin penasaran melihat Bu Guru Elisa belum juga bicara sedari tadi. Masih menulis, dibantu Geng Putri yang dipelopori Marfuah.
" Maaf ya anak-anak. Ibu baru sempat ngomong sekarang," kata Bu Gu ru Elisa sembari mencocokkan na ma-nama siswanya di sehelai kertas, berurut dari atas ke bawah.
Soleh (19)
Oleh Wak Amin
SESUAI kesepakatan sebelumnya, Latifah memenuhi janjinya diantar pulang ke rumah sekitar pukul satu siang.
Namun, sebelum tiba di rumah, Lati fah minta Lukman menyinggahi kediaman Bu Guru Elisa terlebih dulu.
Lukman tidak keberatan. Yang penting dia sekarang sangat berbahagia. Di benaknya terbayang bersepeda berdua dengan Latifah. Sakit hatinya sebentar lagi akan hilang, berlabuh ke Nawas.
"Biar tau rasa dia," bisiknya dalam hati. Lukman sengaja memperlambat kayuhan sepedanya. Dia tidak tahu gerak-geriknya diperhatikan sedari tadi oleh Anisah dan kawan-kawan.
Apalagi saat dibonceng Lukman, Latifah mengaku senang dan tidak capek mengayuh, atau berjalan kaki bersama teman-teman yang lain.
"Belok kiri Man," kata Latifah mengingatkan.
"Oh iya ya ... Kelupaan aku. Maaf ya Latifah." Malu hati Lukman. Ke kanan memang ada jalan. Tapi menu ju ke hutan dan ladang.
Kriiiing ...
Kriiing ..
Seorang ibu yang baru pulang dari ladang membawa bakul berisi sayur-sayuran terpaksa minggir karena sepeda yang dikayuh Lukman sempat oleng.
Untung tak sampai jatuh ...
Si ibu yang semula kaget berbalik ketawa 'ngekek' melihat sepeda Lukman berjoget ria.
Tak lama. Karena setelah Latifah melompat turun dari sepeda, jogetnya sepeda berhenti seketika.
Sreeet ...
Deeeep ...
Ngerem mendadak.
Hampir saja Lukman jatuh tersungkur. Jika tidak cepat melompat turun dari sepeda.
" Alhamdulillah. Tak apa-apa kan Nak?" Tanya si ibu lega.
"Maaf Bu. Tak sangka sepeda saya bisa tak lurus jalannya," kata Lukman.
Si ibu menyarankan, jika jalan yang akan dilalui ternyata berlubang dan penuh disesaki batu kerikil, lebih baik turun saja dari sepeda.
"Kan lebih aman ..." saran si ibu.
Sampai kemudian mereka tiba di dekat sebuah warung. Ke kanan, jalannya lumayan bagus karena baru selesai diaspal.
Sementara si ibu berjalan ke sebelah kiri ...
Mereka pun berpisah jalan.
Lima menit kemudian ...
Lukman dan Latifah tiba di kedia man Bu Guru Elisa.
Keduanya disambut Nawas yang sudah menunggu di teras rumah perempuan baik hati itu.
"Sudah ditunggu ibu di dalam. Masuk yuk!" Ajak Nawas.
Sementara Lukman yang sedikit 'cemburu' menyandarkan sepedanya ke batang pohon mangga sebelum masuk seorang diri ke kedia man Bu Guru Elisa.
"Selamat siang menjelang sore Lukman". Ucap rekan-rekannya sambil berdiri dan menyilakan Lukman duduk di dekat Bu Guru Elisa.
Mengambil tempat di sebelah kiri, sebelah kanan ditempati Kadir, Pardi dan Yunus. Ada gorengan di depan mereka. Teh manis dan air putih.
Bu Guru Elisa masuk sebentar ke kamarnya sebelum keluar lagi membawa beberapa lembar kertas polio dan pulpen berwarna hitam.
Semua siswa kelas V tidak ada ya ng tahu kenapa siang menjelang sore hari ini mereka kumpul di kediaman Bu Guru Elisa.
Mereka semakin penasaran melihat Bu Guru Elisa belum juga bicara sedari tadi. Masih menulis, dibantu Geng Putri yang dipelopori Marfuah.
" Maaf ya anak-anak. Ibu baru sempat ngomong sekarang," kata Bu Gu ru Elisa sembari mencocokkan na ma-nama siswanya di sehelai kertas, berurut dari atas ke bawah.
Soleh (18)
Cerita untuk Anak
Soleh (18)
Oleh Wak Amin
"FAH. Latifah. Sini!"
Marfuah memperlihatkan sehelai kertas putih yang dia temukan di meja belajarnya.
Saat keluar main pertama ...
Selesai dari makan bakso di kantin sekolah, Latifah baru saja keluar dari ruangan guru. Dia membantu Bu Guru Elisa mengambilkan pulpen di atas meja mengajarnya yang kelupaan dibawa dan dimasukkan ke dalam tas.
"Baca dulu ini ..." Kata Marfuah.
"Apa sih?" Latifah semula menolak. Apalagi disangkut-pautkan dengan surat cinta segala.
"Sudah. Baca dululah," saran Anisah. Diiyakan Jamilah dan Marwiyah.
Kertas dibuka ...
Tertulis disitu ...
"Latifah... Mau tidak kamu
kuantar pulang nanti siang?"
Dari aku
Lukman
Kertas itu dilipat lagi.
"Gimana Fah?"
"Kasih ke Bu Guru Elisa, ah ..."
"Jangan Fah."
Anisah kurang setuju. Soalnya, kalau Bu Guru Elisa tahu, paling ditertawakan dan disuruh duduk lagi.
"Maunya aku kita balas tulis surat juga begitu Fah," kata Anisah.
"Isi suratnya apa?"
"Tulis saja ... Siap ketemuan dimana."
"Oke. Aku ambil pena dulu."
"Nanti dulu. Kita sama-sama saja masuk kelas. Lukman kan tak lihat kita. Ayoooo!" Ajak Marwiyah.
Yang menulis surat adalah Anisah. Singkat saja isi suratnya ...
"Mau. Kita ketemuan dimana?"
Dari Latifah
Sehelai kertas putih bergaris-garis itu dilipat Anisah dengan rapi. Kemudian ia selipkan di bawah buku tulis Lukman yang ditaruh di atas meja belajarnya.
Tak lama kemudian ...
Teng ...
Teng ...
Teng ...
Siswa masuk kelas lagi. Yang lebih dulu masuk Lukman dan Kadir. Belakangan Geng Putri.
Bu Guru Elisa belum masuk kelas ....
Lukman, setelah melihat secarik kertas di bawah buku tulisnya, diam- diam membuka lipatan surat itu.
Hatinya senang bukan kepalang ...
"Fah. Coba tengok Lukman!" Kata Marwiyah. Berbisik agar tak terdengar siswa lain.
"Senyum-senyum dia Wiyah." Balas berbisik Latifahnya.
"Itu berarti dia memang suka sama kamu Fah."
"Nawas gimana?" Tanya Jamilah. Dia tahu Nawas juga 'naksir' Latifah.
Latifah juga senang. Sama-sama lah keduanya.
Sementara dengan Lukman, tidak sama sekali.
"Sudah, nanti keluar main kedua kita bahas lagi," kata Latifah.
Sesaat sebelum keluar main, Lukman membalas surat yang ditulis Anisah.
Sambil menulis angka-angka yang ditulis Bu Guru Elisa, Lukman menyempatkan diri menulis surat cintanya untuk Latifah.
Kurang lebih begini isinya ...
"Aku tunggu kamu di luar
pintu pagar setelah semua
teman sekelas kita pulang
..."
Dari aku ...
Lukman
Soleh (18)
Oleh Wak Amin
"FAH. Latifah. Sini!"
Marfuah memperlihatkan sehelai kertas putih yang dia temukan di meja belajarnya.
Saat keluar main pertama ...
Selesai dari makan bakso di kantin sekolah, Latifah baru saja keluar dari ruangan guru. Dia membantu Bu Guru Elisa mengambilkan pulpen di atas meja mengajarnya yang kelupaan dibawa dan dimasukkan ke dalam tas.
"Baca dulu ini ..." Kata Marfuah.
"Apa sih?" Latifah semula menolak. Apalagi disangkut-pautkan dengan surat cinta segala.
"Sudah. Baca dululah," saran Anisah. Diiyakan Jamilah dan Marwiyah.
Kertas dibuka ...
Tertulis disitu ...
"Latifah... Mau tidak kamu
kuantar pulang nanti siang?"
Dari aku
Lukman
Kertas itu dilipat lagi.
"Gimana Fah?"
"Kasih ke Bu Guru Elisa, ah ..."
"Jangan Fah."
Anisah kurang setuju. Soalnya, kalau Bu Guru Elisa tahu, paling ditertawakan dan disuruh duduk lagi.
"Maunya aku kita balas tulis surat juga begitu Fah," kata Anisah.
"Isi suratnya apa?"
"Tulis saja ... Siap ketemuan dimana."
"Oke. Aku ambil pena dulu."
"Nanti dulu. Kita sama-sama saja masuk kelas. Lukman kan tak lihat kita. Ayoooo!" Ajak Marwiyah.
Yang menulis surat adalah Anisah. Singkat saja isi suratnya ...
"Mau. Kita ketemuan dimana?"
Dari Latifah
Sehelai kertas putih bergaris-garis itu dilipat Anisah dengan rapi. Kemudian ia selipkan di bawah buku tulis Lukman yang ditaruh di atas meja belajarnya.
Tak lama kemudian ...
Teng ...
Teng ...
Teng ...
Siswa masuk kelas lagi. Yang lebih dulu masuk Lukman dan Kadir. Belakangan Geng Putri.
Bu Guru Elisa belum masuk kelas ....
Lukman, setelah melihat secarik kertas di bawah buku tulisnya, diam- diam membuka lipatan surat itu.
Hatinya senang bukan kepalang ...
"Fah. Coba tengok Lukman!" Kata Marwiyah. Berbisik agar tak terdengar siswa lain.
"Senyum-senyum dia Wiyah." Balas berbisik Latifahnya.
"Itu berarti dia memang suka sama kamu Fah."
"Nawas gimana?" Tanya Jamilah. Dia tahu Nawas juga 'naksir' Latifah.
Latifah juga senang. Sama-sama lah keduanya.
Sementara dengan Lukman, tidak sama sekali.
"Sudah, nanti keluar main kedua kita bahas lagi," kata Latifah.
Sesaat sebelum keluar main, Lukman membalas surat yang ditulis Anisah.
Sambil menulis angka-angka yang ditulis Bu Guru Elisa, Lukman menyempatkan diri menulis surat cintanya untuk Latifah.
Kurang lebih begini isinya ...
"Aku tunggu kamu di luar
pintu pagar setelah semua
teman sekelas kita pulang
..."
Dari aku ...
Lukman
Kemiskinan (3)
Kemiskinan (3)
Oleh aminuddin
PENYEBAB kemiskinan, menurut Hieronymus Bs, ada dua faktor. Pertama, faktor endogen dan kedua faktor eksogen.
Faktor endogen bermakna dari manusianya itu sendiri. Aktornya. Entah karena malas bekerja, atau bisa jadi malas bersekolah.
Ada tiga prilaku sang aktor menghadapi faktor kemiskinan endogen ini, terang Hieronymus.
Pertama, bersikap tahan. Karena berbagai keterbatasan sumber daya mereka memilih hidup ala kadarnya. Berupaya bisa bertahan hidup hari ini, sedangkan hari esok soal nanti.
Kedua, putus asa. Keputus-asaan merupakan sesuatu hal yang mati di tengah jalan ...
Ketiga, bersikap ulet dan terus berju ang dengan meninggalkan rasa putus asa, dan ini berarti selangkah lebih maju serta tetap optimis menjalani kehidupan.
Sedangkan faktor eksogen, masih kata Hieronymus, faktor-faktor di luar sikap dan perilaku manusia, yakni faktor alamiah seperti bencana alam dan faktor buatan yang lebih dikenal dengan sebutan kemiskinan struk tural.
_______________
- Hieronymus Bs, 'Menggunting Lingkaran Setan Kemiskinan', Merdeka, 2 Agustus 1982.
Oleh aminuddin
PENYEBAB kemiskinan, menurut Hieronymus Bs, ada dua faktor. Pertama, faktor endogen dan kedua faktor eksogen.
Faktor endogen bermakna dari manusianya itu sendiri. Aktornya. Entah karena malas bekerja, atau bisa jadi malas bersekolah.
Ada tiga prilaku sang aktor menghadapi faktor kemiskinan endogen ini, terang Hieronymus.
Pertama, bersikap tahan. Karena berbagai keterbatasan sumber daya mereka memilih hidup ala kadarnya. Berupaya bisa bertahan hidup hari ini, sedangkan hari esok soal nanti.
Kedua, putus asa. Keputus-asaan merupakan sesuatu hal yang mati di tengah jalan ...
Ketiga, bersikap ulet dan terus berju ang dengan meninggalkan rasa putus asa, dan ini berarti selangkah lebih maju serta tetap optimis menjalani kehidupan.
Sedangkan faktor eksogen, masih kata Hieronymus, faktor-faktor di luar sikap dan perilaku manusia, yakni faktor alamiah seperti bencana alam dan faktor buatan yang lebih dikenal dengan sebutan kemiskinan struk tural.
_______________
- Hieronymus Bs, 'Menggunting Lingkaran Setan Kemiskinan', Merdeka, 2 Agustus 1982.
Kemiskinan (2)
Kemiskinan (2)
Oleh aminuddin
IMAM Al-Ghazali mengatakan miskin berarti tidak memiliki sesuatu yang diperlukan. Sedangkan mereka yang tidak punya barang yang tidak diperlukan bukan dinamakan orang miskin.
Dengan demikian, kata Al-Ghazali, jika barang atau sesuatu yang diperlukan itu memang ada dan dapat digunakan, orang yang memerlukan itu tiadalah dinamakan miskin.
Ikhwal orang miskin ini, Rasulullah SAW pernah bersabda:
"Bukanlah orang miskin itu mereka yang terlunta-lunta dari rumah ke rumah, dapat ditolak oleh sesuap dan dua suap makan serta sebiji dan dua biji kurma. Tetapi orang miskin itu adalah orang yang tidak memperoleh kecukupan yang dapat mencukupkan keperluannya dan tidak diketahui orang kemiskinannya yang menye babkan orang memberikan sedekah kepadanya dan tentu saja yamg bersangkutan tidak pergi meminta-minta kesana kemari."
______________
- Al-Imam Al-Ghazali, Ihya' Ulumud din, Alihbahasa Maisir Thoib Me dan, Pustaka Indonesia, 1974.
- Syekh Badaruddin Abi Muhammad Mahmud bin Ahmad 'Ainiy, 'Umdatul Qori Syarah Shahih Bukhary, Ira dah At-Thoba'iyah Al-Mishriyah 855 H.
Oleh aminuddin
IMAM Al-Ghazali mengatakan miskin berarti tidak memiliki sesuatu yang diperlukan. Sedangkan mereka yang tidak punya barang yang tidak diperlukan bukan dinamakan orang miskin.
Dengan demikian, kata Al-Ghazali, jika barang atau sesuatu yang diperlukan itu memang ada dan dapat digunakan, orang yang memerlukan itu tiadalah dinamakan miskin.
Ikhwal orang miskin ini, Rasulullah SAW pernah bersabda:
"Bukanlah orang miskin itu mereka yang terlunta-lunta dari rumah ke rumah, dapat ditolak oleh sesuap dan dua suap makan serta sebiji dan dua biji kurma. Tetapi orang miskin itu adalah orang yang tidak memperoleh kecukupan yang dapat mencukupkan keperluannya dan tidak diketahui orang kemiskinannya yang menye babkan orang memberikan sedekah kepadanya dan tentu saja yamg bersangkutan tidak pergi meminta-minta kesana kemari."
______________
- Al-Imam Al-Ghazali, Ihya' Ulumud din, Alihbahasa Maisir Thoib Me dan, Pustaka Indonesia, 1974.
- Syekh Badaruddin Abi Muhammad Mahmud bin Ahmad 'Ainiy, 'Umdatul Qori Syarah Shahih Bukhary, Ira dah At-Thoba'iyah Al-Mishriyah 855 H.
Selasa, 10 April 2018
Soleh (17)
Cerita untuk Anak
Soleh (17)
Oleh Wak Amin
"KEMANA saja kamu?" Kadir sangat marah pada Lukman. Saat genting dan penuh pertolongan, enggak datang. Eeee ... Sudah tidak penting lagi baru datang. Tampil muka.
"Maaf Dir. Aku tadi dari warung beli macam-macamlah. Beras, minyak sayur dan lain-lain. Hape kutinggal di rumah. Nah, setelah aku pulang dari warung dan masuk kamar, kutengok ada telepon masuk, dari kamu rupanya. Jadi ya begitulah. Aku telepon kamu dan datanglah aku ke sini menemuimu," jelas Lukman.
"Ya sudah. Ikut aku sekarang ...!"
"Sepedaku?"
"Titiplah dulu dengan bapak tukang warung ini."
"Okeee ..."
Harap dan cemas. Harap hilang, cemas yang ada. Marwiyah cs sudah tidak ada di tempat semula.
Atas saran Lukman, keduanya mendatangi kediaman Jamilah. Berkali-kali mengetuk pintu, itu pintu tak ada yang mau buka. Padahal Jamilah ada di kamarnya. Baru saja nyampe, dan mau beristirahat sebentar sebelum kumpul bersama di kediaman Marfuah.
"Cari kemana lagi ya Luk?"
Lukman berpikir sejenak.
"Kita cari ke rumahnya Anisah saja Dir. Mungkin dia ada dan tahu kemana Jamilah dan teman sekelas yang lain ..."
"Kamu yakin ada?"
"Kita coba dululah ..."
Sama seperti sebelumnya, pint diketuk, tapi tak ada sahutan. Dengan penuh rasa kecewa bercampur kesal, setelah mengambil sepeda Lukman, pulanglah Kadir.
Dia naik motor sendirian, sementara Lukman masih 'kelayapan' entah kemana.
Sedangkan di kediaman Marfuah, telah berkumpul teman-teman satu kelasnya. Ada Anisah, Jamilah, Marwiyah dan Latifah.
Tidak ada maksud apa-apa. Mereka kumpul sekadar kepingin kumpul saja. Selain ngobrol tentang sekolah dan aktuvitas keseharian di bawah pohon jambu.
Marfuah sengaja bikin rujak. Bahannya macam-macamlah. Ada jambu air, mangga, kedondong, pepaya dan mentimun.
Pedas-pedas manis. Dimakan bersama, sungguh amat nikmat. Semua pada berkeringat. Tentu tak asyik jika tidak ngobrol sambil bergurau.
Satu persatu diberi kesempatan bicara. Ungkapkan isi hati. Kali pertama Anisah. Dia hanya mengusulkan siswa putri seperti mereka harus kompak.
"Kalau ada apa-apa kan enak. Jangan kalah dengan cowok," terang Anisah.
Usul dan saran ini diamini Jamilah, Latifah dan Marwiyah. Sedangkan Marfuah mengusulkan pembentukan sebuah geng.
"Serem ah Marfuah. Ich, ngeri aku," ucap Latifah.
Ketika ditanya kenapa ngeri, Latifah menjawab karena istilah geng yang ia tahu tidak baik.
"Seperti di televisi, ada geng motor, yang kebut-kebutan. Ah, enggak mau ah. Nanti ikut ditangkap Pak Polisi," kata Latifah.
He he he he ...
Marfuah ketawa ngakak.
"Bukan geng itu maksudku Latifah. Tapi semacam grup lah. Jadi masing-masing kita tolong menolonglah. Misalnya, kamu diganggu cowok. Ya kita kompak untuk mengatasinya. Begitu ..."
"Oooo ..."
Pada 'oooo', Marfuah ketawa ngakak lagi.
"Kalau misalnya aku, belum kerja kan PR, bantulah aku pinjamin buku kalian yang sudah kerjakan PR."
Wuuuu ...
"Enak saja kamu Fuah. Kalau begitu mending tak usah bikin PR. Pinjam saja buku kalian," kata Marwiyah.
"Satu lagi contohnya. Kalau aku tak ada duit jajan, kalian bantulah aku beru duit jajan, atau dijajanilah aku."
Wuuuu ...
"Marfuah .. Marfuah. Pulang ah!" Ajak Latifah.
Bukan kesal, tapi memang sudah sore.
Soleh (17)
Oleh Wak Amin
"KEMANA saja kamu?" Kadir sangat marah pada Lukman. Saat genting dan penuh pertolongan, enggak datang. Eeee ... Sudah tidak penting lagi baru datang. Tampil muka.
"Maaf Dir. Aku tadi dari warung beli macam-macamlah. Beras, minyak sayur dan lain-lain. Hape kutinggal di rumah. Nah, setelah aku pulang dari warung dan masuk kamar, kutengok ada telepon masuk, dari kamu rupanya. Jadi ya begitulah. Aku telepon kamu dan datanglah aku ke sini menemuimu," jelas Lukman.
"Ya sudah. Ikut aku sekarang ...!"
"Sepedaku?"
"Titiplah dulu dengan bapak tukang warung ini."
"Okeee ..."
Harap dan cemas. Harap hilang, cemas yang ada. Marwiyah cs sudah tidak ada di tempat semula.
Atas saran Lukman, keduanya mendatangi kediaman Jamilah. Berkali-kali mengetuk pintu, itu pintu tak ada yang mau buka. Padahal Jamilah ada di kamarnya. Baru saja nyampe, dan mau beristirahat sebentar sebelum kumpul bersama di kediaman Marfuah.
"Cari kemana lagi ya Luk?"
Lukman berpikir sejenak.
"Kita cari ke rumahnya Anisah saja Dir. Mungkin dia ada dan tahu kemana Jamilah dan teman sekelas yang lain ..."
"Kamu yakin ada?"
"Kita coba dululah ..."
Sama seperti sebelumnya, pint diketuk, tapi tak ada sahutan. Dengan penuh rasa kecewa bercampur kesal, setelah mengambil sepeda Lukman, pulanglah Kadir.
Dia naik motor sendirian, sementara Lukman masih 'kelayapan' entah kemana.
Sedangkan di kediaman Marfuah, telah berkumpul teman-teman satu kelasnya. Ada Anisah, Jamilah, Marwiyah dan Latifah.
Tidak ada maksud apa-apa. Mereka kumpul sekadar kepingin kumpul saja. Selain ngobrol tentang sekolah dan aktuvitas keseharian di bawah pohon jambu.
Marfuah sengaja bikin rujak. Bahannya macam-macamlah. Ada jambu air, mangga, kedondong, pepaya dan mentimun.
Pedas-pedas manis. Dimakan bersama, sungguh amat nikmat. Semua pada berkeringat. Tentu tak asyik jika tidak ngobrol sambil bergurau.
Satu persatu diberi kesempatan bicara. Ungkapkan isi hati. Kali pertama Anisah. Dia hanya mengusulkan siswa putri seperti mereka harus kompak.
"Kalau ada apa-apa kan enak. Jangan kalah dengan cowok," terang Anisah.
Usul dan saran ini diamini Jamilah, Latifah dan Marwiyah. Sedangkan Marfuah mengusulkan pembentukan sebuah geng.
"Serem ah Marfuah. Ich, ngeri aku," ucap Latifah.
Ketika ditanya kenapa ngeri, Latifah menjawab karena istilah geng yang ia tahu tidak baik.
"Seperti di televisi, ada geng motor, yang kebut-kebutan. Ah, enggak mau ah. Nanti ikut ditangkap Pak Polisi," kata Latifah.
He he he he ...
Marfuah ketawa ngakak.
"Bukan geng itu maksudku Latifah. Tapi semacam grup lah. Jadi masing-masing kita tolong menolonglah. Misalnya, kamu diganggu cowok. Ya kita kompak untuk mengatasinya. Begitu ..."
"Oooo ..."
Pada 'oooo', Marfuah ketawa ngakak lagi.
"Kalau misalnya aku, belum kerja kan PR, bantulah aku pinjamin buku kalian yang sudah kerjakan PR."
Wuuuu ...
"Enak saja kamu Fuah. Kalau begitu mending tak usah bikin PR. Pinjam saja buku kalian," kata Marwiyah.
"Satu lagi contohnya. Kalau aku tak ada duit jajan, kalian bantulah aku beru duit jajan, atau dijajanilah aku."
Wuuuu ...
"Marfuah .. Marfuah. Pulang ah!" Ajak Latifah.
Bukan kesal, tapi memang sudah sore.
Soleh (16)
Cerita untuk Anak
Soleh (16)
Oleh Wak Amin
TRET ... Reet ... Nyeet ...
Tiga kali mencet starter. Sepeda motor tak mau juga menyala.
"Engkol saja Dik," kata seorang remaja laki-laki yang buru-buru pulang dari sawah sambil membawa sekarung sayur mayur seperti bayam, kangkung, cabe rawit, kubis dan tomat.
Gredek ..
Gredek ...
Gredek ...
Dua puluh lima kali ngengkol motor, itu motor tak mau nyala mesinnya.
Apa yang sebenarnya terjadi?
"Mungkin bensinnya Nak habis," kata seorang laki-laki tua, sampai terbungkuk-bungkuk memikul sangkek berisi rumput untuk makanan sapi piaraan.
Kplaaak ...
Jok motor dibuka ..
"Perasaan baru diisi kemarin," kata Kadir ngomong sendirian.
Sementara Jamilah tampak tenang. Dia menyibukkan diri dengan membolak-balik buku pelajaran sekolah.
Haaaa ...?
"Habis? Aduh ... Gimana ini?" Garuk-garuk kepala.
Nyalakan hape. Mencari nomor telepon teman sekelasnya, Lukman.
Berulangkali ditelepon, enggak juga mau ngangkat. Saat bingung campur kesal, datanglah Latifah, Marfuah, Anisah dan Marwiyah.
"Mogok ya Dir?" Tegur Latifah.
"Habis bensin Fah," jawab Kadir malu-malu. Maksud hati mau ngantar pulang Jamilah pakai sepeda motor sampai di rumah. Eee taunya habis bensin. Paraaah.
"Dorong saja Dir. Beli bensin di ujung sana. Ada kayaknya," kata Latifah, menunjuk ke kanan, ada sebuah rumah kayu yang di depannya berdiri sebuah warung.
Di dekat warung itu ada hampir sepuluh dirijen berisi bensin. Bisa beli 'ketengan.'
"Iya Dir," sahut Marfuah. "Sudah sana. Jamilah, dijamin aman bersama kami."
"Betul Dir. Aman pokoknya," timpal Marwiyah.
Dorong motor sama-sama ...
Lepas itu ...
"Kami sampe sini saja ya Dir. Bisa kan kamu dorong sendirian?" Kata Anisah. Batuk-batuk kecil karena sudah tak kuat menahan tawa.
"Bisa .. Bisalah." Gengsi dibilang tak bisa. Padahal nafas sudah ngos-ngosan, tenaga terkuras oleh ngengkol sepeda motor tadi.
Hik ... Hik ... Hik ...
Jamilah dan teman-temannya pada ketawa geli tapi tidak sampai ngakak setelah sepeda motor yang di dorong Kadir semakin menjauh.
"Lucu ya Jamilah," ujar Anisah. Belum juga reda ketawanya.
"Sudah ... Bisa tidak kamu simpan ketawanya," kata Marwiyah.
Anisah bukannya tak mau. Dia memang tak bisa menghentikan ketawanya.
Baru setelah Kadir tak kelihatan lagi, ketawanya berhenti sendiri.
Lucu ya?
"Ke rumahku saja yuk," ajak Marfuah. "Sekali-kali kan boleh."
"Iya ... Iya. Tapi sebaiknya kita pulang dulu. Ganti pakaian. Ijin sama ibu," kataAnisah.
"Setelah itu ke rumahku ya! Setuju?"
"Setujuuu .."
Soleh (16)
Oleh Wak Amin
TRET ... Reet ... Nyeet ...
Tiga kali mencet starter. Sepeda motor tak mau juga menyala.
"Engkol saja Dik," kata seorang remaja laki-laki yang buru-buru pulang dari sawah sambil membawa sekarung sayur mayur seperti bayam, kangkung, cabe rawit, kubis dan tomat.
Gredek ..
Gredek ...
Gredek ...
Dua puluh lima kali ngengkol motor, itu motor tak mau nyala mesinnya.
Apa yang sebenarnya terjadi?
"Mungkin bensinnya Nak habis," kata seorang laki-laki tua, sampai terbungkuk-bungkuk memikul sangkek berisi rumput untuk makanan sapi piaraan.
Kplaaak ...
Jok motor dibuka ..
"Perasaan baru diisi kemarin," kata Kadir ngomong sendirian.
Sementara Jamilah tampak tenang. Dia menyibukkan diri dengan membolak-balik buku pelajaran sekolah.
Haaaa ...?
"Habis? Aduh ... Gimana ini?" Garuk-garuk kepala.
Nyalakan hape. Mencari nomor telepon teman sekelasnya, Lukman.
Berulangkali ditelepon, enggak juga mau ngangkat. Saat bingung campur kesal, datanglah Latifah, Marfuah, Anisah dan Marwiyah.
"Mogok ya Dir?" Tegur Latifah.
"Habis bensin Fah," jawab Kadir malu-malu. Maksud hati mau ngantar pulang Jamilah pakai sepeda motor sampai di rumah. Eee taunya habis bensin. Paraaah.
"Dorong saja Dir. Beli bensin di ujung sana. Ada kayaknya," kata Latifah, menunjuk ke kanan, ada sebuah rumah kayu yang di depannya berdiri sebuah warung.
Di dekat warung itu ada hampir sepuluh dirijen berisi bensin. Bisa beli 'ketengan.'
"Iya Dir," sahut Marfuah. "Sudah sana. Jamilah, dijamin aman bersama kami."
"Betul Dir. Aman pokoknya," timpal Marwiyah.
Dorong motor sama-sama ...
Lepas itu ...
"Kami sampe sini saja ya Dir. Bisa kan kamu dorong sendirian?" Kata Anisah. Batuk-batuk kecil karena sudah tak kuat menahan tawa.
"Bisa .. Bisalah." Gengsi dibilang tak bisa. Padahal nafas sudah ngos-ngosan, tenaga terkuras oleh ngengkol sepeda motor tadi.
Hik ... Hik ... Hik ...
Jamilah dan teman-temannya pada ketawa geli tapi tidak sampai ngakak setelah sepeda motor yang di dorong Kadir semakin menjauh.
"Lucu ya Jamilah," ujar Anisah. Belum juga reda ketawanya.
"Sudah ... Bisa tidak kamu simpan ketawanya," kata Marwiyah.
Anisah bukannya tak mau. Dia memang tak bisa menghentikan ketawanya.
Baru setelah Kadir tak kelihatan lagi, ketawanya berhenti sendiri.
Lucu ya?
"Ke rumahku saja yuk," ajak Marfuah. "Sekali-kali kan boleh."
"Iya ... Iya. Tapi sebaiknya kita pulang dulu. Ganti pakaian. Ijin sama ibu," kataAnisah.
"Setelah itu ke rumahku ya! Setuju?"
"Setujuuu .."
Soleh (15)
Cerita untuk Anak
Soleh (15)
Oleh Wak Amin
MALAM harinya, saat dimintai tanggapannya, kepada ibundanya, Jamilah tak henti-hentinya tertawa.
Tante Hawiyah sampai harus menemui suaminya. Dia kuatir ada sesuatu yang terjadi pada Jamilah.
Usut punya usut, setelah bicara dari hati ke hati, Jamilah mengaku dia heran dengan sikap Kadir.
"Di kelas, melawannya minta ampun deh Pa. Eee ... Sekarang, ngomong ke Jamilah harus lewat Mama."
"Ooo .. Syukurlah kalau begitu," ucap Pak Salim.
"Papa kenapa bilang syukur. Memangnya ada apa?"
"Maksud Papa, Jamilah baik-baik saja dong Ma. Jadi wajar kalau Papa bilang syukur."
"Jadi soal si Kadirnya gimana Pa?"
"Gimana apanya Ma?"
"Maunya dia, si Kadir itu, nih kata ibunya pada Mama, maunya berteman dengan Jamilah gitu."
"Oooo begitu. Memangnya selama ini apa Jamilah musuhan sama Kadir?"
"Enggak Pa. Dia saja yang suka iri," jawab Jamilah.
"Iri? Iri kenapa sayang?"
"Iri karena Jamilah berteman dengan Soleh, Ma, Pa. Gitu."
Ha ha ha ha ...
Tante Hawiyah dan Om Salim ketawa lebar. Tak mau bengong sendirian, Jamilah akhirnya ikut tertawa juga.
Ha ha ha ha ...
"Lucu ya Pa?!"
"Iya. Lucu deh Ma."
"Sakit perut Ma," kata Jamilah.
"Kenapa?"
"Lucu aja Ma."
Ha ha ha ha ...
Di lain tempat ...
Di kediaman Pak Bondo.
Sebelum tidur, Kadir nyelonong masuk ke kamar ibunya. Dia menanyakan hasil pertemuan ibunya dengan Tante Hawiyah.
"Beres Nak. Siiip," kata Bu Bondo sembari memperlihatkan jari jempol.
"Terima kasih Bu."
"Ya, sama-sama. Cepat tidur sana. Biar tidak kesiangan bangun besoknya."
"Ya Bu."
Pintu kamar kembali ditutup.
Kadir kembali masuk ke kamarnya. Dia tampak puas. Lampu kamar dipadamkan. Segera pejamkan mata. Tidur.
Sementara Pak Bondo ...
"Apa kamu yakin Bu?"
"Yakin apanya Yah?"
"Itu ... Soal Kadir sama siapa tuh ..?"
"Jamilah?"
"Ya Jamilah. Takutnya ibu sudah janji oke, eeee ...taunya tidak. Bakal sakit hati Bu, Kadir anak kita."
"Ah bapak. Percayalah sama ibu. Kalau kata ibu oke, pasti oke Yah."
"Kalau tidak?"
"Ibu yakin sukses, Yah. Sudah. Tidur yuk Yah. Udah malem."
Esok paginya ...
Di rumah sekolah ...
Kadir mendekati Jamilah yang lagi makan kue bersama Latifah, Marfuah, Anisah dan Marwiyah.
"Hai Jamilah!" Sapa Kadir sambil mengangkat tangan kanannya.
Sikap beda yang diperlihatkan Kadir bikin heran teman-teman Jamilah.
"Pulang nanti sama aku ya Jamilah."
Jamilah mengangguk.
Kadir berlalu pergi. Hatinya senang, bersiul riang. Di belakangnya ikut bersiul Pardi, Yunus dan Lukman.
"Kamu mau Jam? Kasihan Soleh, Jam. Apa tega kamu tinggal sendirian dia pulang ke rumah." Komentar Latifah.
"Iya Jam. Kamu kan tau siapa si Kadir itu. Nanti kalau ada apa-apa di tengah jalan, siapa yang tolong kamu," sela Marwiyah.
"Atau begini saja." Anisah membisikkan sesuatu di telinganya Jamilah.
Semua geli dan berdengung ..
Setelah itu tersenyum lebar.
"Bisikin aku juga dong," pinta Marwiyah.
"Aku juga," kata Latifah.
"Aku juga." Tak ketinggalan Marfuah mau juga dibisiki Anisah.
Daripada penasaran ...
Soleh (15)
Oleh Wak Amin
MALAM harinya, saat dimintai tanggapannya, kepada ibundanya, Jamilah tak henti-hentinya tertawa.
Tante Hawiyah sampai harus menemui suaminya. Dia kuatir ada sesuatu yang terjadi pada Jamilah.
Usut punya usut, setelah bicara dari hati ke hati, Jamilah mengaku dia heran dengan sikap Kadir.
"Di kelas, melawannya minta ampun deh Pa. Eee ... Sekarang, ngomong ke Jamilah harus lewat Mama."
"Ooo .. Syukurlah kalau begitu," ucap Pak Salim.
"Papa kenapa bilang syukur. Memangnya ada apa?"
"Maksud Papa, Jamilah baik-baik saja dong Ma. Jadi wajar kalau Papa bilang syukur."
"Jadi soal si Kadirnya gimana Pa?"
"Gimana apanya Ma?"
"Maunya dia, si Kadir itu, nih kata ibunya pada Mama, maunya berteman dengan Jamilah gitu."
"Oooo begitu. Memangnya selama ini apa Jamilah musuhan sama Kadir?"
"Enggak Pa. Dia saja yang suka iri," jawab Jamilah.
"Iri? Iri kenapa sayang?"
"Iri karena Jamilah berteman dengan Soleh, Ma, Pa. Gitu."
Ha ha ha ha ...
Tante Hawiyah dan Om Salim ketawa lebar. Tak mau bengong sendirian, Jamilah akhirnya ikut tertawa juga.
Ha ha ha ha ...
"Lucu ya Pa?!"
"Iya. Lucu deh Ma."
"Sakit perut Ma," kata Jamilah.
"Kenapa?"
"Lucu aja Ma."
Ha ha ha ha ...
Di lain tempat ...
Di kediaman Pak Bondo.
Sebelum tidur, Kadir nyelonong masuk ke kamar ibunya. Dia menanyakan hasil pertemuan ibunya dengan Tante Hawiyah.
"Beres Nak. Siiip," kata Bu Bondo sembari memperlihatkan jari jempol.
"Terima kasih Bu."
"Ya, sama-sama. Cepat tidur sana. Biar tidak kesiangan bangun besoknya."
"Ya Bu."
Pintu kamar kembali ditutup.
Kadir kembali masuk ke kamarnya. Dia tampak puas. Lampu kamar dipadamkan. Segera pejamkan mata. Tidur.
Sementara Pak Bondo ...
"Apa kamu yakin Bu?"
"Yakin apanya Yah?"
"Itu ... Soal Kadir sama siapa tuh ..?"
"Jamilah?"
"Ya Jamilah. Takutnya ibu sudah janji oke, eeee ...taunya tidak. Bakal sakit hati Bu, Kadir anak kita."
"Ah bapak. Percayalah sama ibu. Kalau kata ibu oke, pasti oke Yah."
"Kalau tidak?"
"Ibu yakin sukses, Yah. Sudah. Tidur yuk Yah. Udah malem."
Esok paginya ...
Di rumah sekolah ...
Kadir mendekati Jamilah yang lagi makan kue bersama Latifah, Marfuah, Anisah dan Marwiyah.
"Hai Jamilah!" Sapa Kadir sambil mengangkat tangan kanannya.
Sikap beda yang diperlihatkan Kadir bikin heran teman-teman Jamilah.
"Pulang nanti sama aku ya Jamilah."
Jamilah mengangguk.
Kadir berlalu pergi. Hatinya senang, bersiul riang. Di belakangnya ikut bersiul Pardi, Yunus dan Lukman.
"Kamu mau Jam? Kasihan Soleh, Jam. Apa tega kamu tinggal sendirian dia pulang ke rumah." Komentar Latifah.
"Iya Jam. Kamu kan tau siapa si Kadir itu. Nanti kalau ada apa-apa di tengah jalan, siapa yang tolong kamu," sela Marwiyah.
"Atau begini saja." Anisah membisikkan sesuatu di telinganya Jamilah.
Semua geli dan berdengung ..
Setelah itu tersenyum lebar.
"Bisikin aku juga dong," pinta Marwiyah.
"Aku juga," kata Latifah.
"Aku juga." Tak ketinggalan Marfuah mau juga dibisiki Anisah.
Daripada penasaran ...
Soleh (14)
Cerita untuk Anak
Soleh (14)
Oleh Wak Amin
KEESOKAN harinya, Bu Bondo, yang entah kenapa berpapasan dengan Tante Hawiyah, ibundanya Jamilah seusai membeli sayuran di warung.
Enggak banyak belanjanya. Sang suami hanya 'ngidam' sambal cungkediro, makanya beli 'anak keturunan' nya tomat itu setengah kilo.
"Bu Hawiyah. Apa kabar?" Sapa Bu Bondo sebelum Tante Hawiyah masuk ke dalam mobil.
"Kita bicara saja di rumah nanti sore," kata Tante Hawiyah. Karena dia juga harus buru-buru ke sekolahnya Jamilah. Mau jemput anak sulungnya itu.
Jamilah sebenarnya sudah bisa pulang sekolah sendiri dengan sepeda mininya. Meski masih harus ditemani Latifah, Marfuah dan Soleh.
Sangat menyenangkan pulang sekolah bersama teman sekelas. Tidak terasa capek dan bisa ber
bagi cerita.
Yang pasti, bisa saling membantu terkait urusan sekolah. Mulai dari izin tak bisa sekolah karena sakit dan berbagai keperluan mendesak lainnya yang tak bisa ditinggalkan, mengerjakan PR hingga kerja kelompok bikin prakaria.
"Mari Bu. Minum dulu," tawar Tante Hawiyah. Sudah diajak masuk ke ruang tamu, tapi Bu Bondo lebih senang berada di teras.
"Lebih relaks Bu. Santai," katanya sembari menyeruput teh manis dan mencicipi singkong goreng. Gurih tapi renyah, rasanya.
"Tentang apa Bu Bondo kalau boleh tahu?"
"Tentang anak saya, Bu."
"Eeeem ..." Mengingat-ingat. Sayang, tak juga teringat nama Kadir. Walau sebenarnya sudad di ujung lidah.
"Kadir."
"Ya Bu. Kadir. Betul sekali. Saya baru ingat sekarang. Teman sekelasnya Jamilah kan?"
"Betul sekali Bu."
"Apa masalahnya Bu?"
Antara malu dan tak enak di hati, pada akhirnya Bu Bondo cerita yang sebenarnya.
Kadir ingin berteman dengan Jamilah ...
"Apa sekarang ini enggak berteman dia Bu dengan Jamilah?"
"Katanya tidak Bu. Menurut anak saya itu, Jamilah lebih dekat dengan Soleh. Sementara anak saya tidak sama sekali."
"Ok ... Ooooo. Begitu masalahnya."
Tante Hawiyah mempersilakan tamu istimewanya itu untuk menyeruput lagi teh manis kesukaan suaminya, Pak Salim.
"Apa yang bisa saya bantu Bu?"
"Tak banyak Bu. Hanya sedikit."
He he he he ...
"Bu Bondo bisa aja. Banyak juga tak apa-apa Bu," kata Tante Hawiyah. Menggeser letak duduknya.
Jika tadinya berhadapan, kini lebih mendekat ke samping kanan Bu Bondo.
"Saya hanya ingin ibu bicara sama Jamilah tentang anak saya, Kadir Bu."
"Tentang apa kira-kira Bu?"
"Supaya Jamilah mau berteman juga dengan Kadir. Itu saja Bu."
"Ooo. Seperti itu. Kalau itu gampanglah. Nanti saya bicara sama Jamilah."
"Satu lagi Bu. Cumaaa ..." Bu Bondo berat mengutarakannya.
"Apa itu Bu?"
"Bu Hawiyah tak keberatan kan membantu saya?"
He he he he ...
"Saya akan bantu Bu Bontu, tentu sebisa dan semampunya saya."
Bu Bondo mengangkat dua jari telunjuk, lalu didekatkan. Isyarat agar Kadir dan Jamilah bukan hanya teman biasa.
He he he ...
"Bu Bondo ini lucu."
"Tapi Bu. Jangan bilang ke siapa-siapa. Nanti kalau orang lain pada tahu, Kadir anak saya jadi malu."
"Iya .. Ya Bu, insya Allah. Saya mengerti," ujar Tante Hawiyah.
Mengatur nafas sejenak ...
"Insya Allah akan saya bantu. Tapi ya itu Bu. Tapi saya tak bisa janjikan harus berhasil."
"Kenapa Bu?"
"Berat buat Jamilah, anak saya. Kayaknya seperti itu ..."
Ha ha ha ha ...
"Beratnya dimana ya Bu?"
"Teman bukan biasa itu, Bu. Itu artinya, kalau diibaratkan orang-orang tua dulu, sudah diikat. Ditunangkan. Jadi, walau masih berteman dengan orang lain, si perempuan dan si laki-laki kan sudah saling terikat ..."
"Ya enggak apa-apa Bu. Baguslah itu," ucap Bu Bondo.
Soleh (14)
Oleh Wak Amin
KEESOKAN harinya, Bu Bondo, yang entah kenapa berpapasan dengan Tante Hawiyah, ibundanya Jamilah seusai membeli sayuran di warung.
Enggak banyak belanjanya. Sang suami hanya 'ngidam' sambal cungkediro, makanya beli 'anak keturunan' nya tomat itu setengah kilo.
"Bu Hawiyah. Apa kabar?" Sapa Bu Bondo sebelum Tante Hawiyah masuk ke dalam mobil.
"Kita bicara saja di rumah nanti sore," kata Tante Hawiyah. Karena dia juga harus buru-buru ke sekolahnya Jamilah. Mau jemput anak sulungnya itu.
Jamilah sebenarnya sudah bisa pulang sekolah sendiri dengan sepeda mininya. Meski masih harus ditemani Latifah, Marfuah dan Soleh.
Sangat menyenangkan pulang sekolah bersama teman sekelas. Tidak terasa capek dan bisa ber
bagi cerita.
Yang pasti, bisa saling membantu terkait urusan sekolah. Mulai dari izin tak bisa sekolah karena sakit dan berbagai keperluan mendesak lainnya yang tak bisa ditinggalkan, mengerjakan PR hingga kerja kelompok bikin prakaria.
"Mari Bu. Minum dulu," tawar Tante Hawiyah. Sudah diajak masuk ke ruang tamu, tapi Bu Bondo lebih senang berada di teras.
"Lebih relaks Bu. Santai," katanya sembari menyeruput teh manis dan mencicipi singkong goreng. Gurih tapi renyah, rasanya.
"Tentang apa Bu Bondo kalau boleh tahu?"
"Tentang anak saya, Bu."
"Eeeem ..." Mengingat-ingat. Sayang, tak juga teringat nama Kadir. Walau sebenarnya sudad di ujung lidah.
"Kadir."
"Ya Bu. Kadir. Betul sekali. Saya baru ingat sekarang. Teman sekelasnya Jamilah kan?"
"Betul sekali Bu."
"Apa masalahnya Bu?"
Antara malu dan tak enak di hati, pada akhirnya Bu Bondo cerita yang sebenarnya.
Kadir ingin berteman dengan Jamilah ...
"Apa sekarang ini enggak berteman dia Bu dengan Jamilah?"
"Katanya tidak Bu. Menurut anak saya itu, Jamilah lebih dekat dengan Soleh. Sementara anak saya tidak sama sekali."
"Ok ... Ooooo. Begitu masalahnya."
Tante Hawiyah mempersilakan tamu istimewanya itu untuk menyeruput lagi teh manis kesukaan suaminya, Pak Salim.
"Apa yang bisa saya bantu Bu?"
"Tak banyak Bu. Hanya sedikit."
He he he he ...
"Bu Bondo bisa aja. Banyak juga tak apa-apa Bu," kata Tante Hawiyah. Menggeser letak duduknya.
Jika tadinya berhadapan, kini lebih mendekat ke samping kanan Bu Bondo.
"Saya hanya ingin ibu bicara sama Jamilah tentang anak saya, Kadir Bu."
"Tentang apa kira-kira Bu?"
"Supaya Jamilah mau berteman juga dengan Kadir. Itu saja Bu."
"Ooo. Seperti itu. Kalau itu gampanglah. Nanti saya bicara sama Jamilah."
"Satu lagi Bu. Cumaaa ..." Bu Bondo berat mengutarakannya.
"Apa itu Bu?"
"Bu Hawiyah tak keberatan kan membantu saya?"
He he he he ...
"Saya akan bantu Bu Bontu, tentu sebisa dan semampunya saya."
Bu Bondo mengangkat dua jari telunjuk, lalu didekatkan. Isyarat agar Kadir dan Jamilah bukan hanya teman biasa.
He he he ...
"Bu Bondo ini lucu."
"Tapi Bu. Jangan bilang ke siapa-siapa. Nanti kalau orang lain pada tahu, Kadir anak saya jadi malu."
"Iya .. Ya Bu, insya Allah. Saya mengerti," ujar Tante Hawiyah.
Mengatur nafas sejenak ...
"Insya Allah akan saya bantu. Tapi ya itu Bu. Tapi saya tak bisa janjikan harus berhasil."
"Kenapa Bu?"
"Berat buat Jamilah, anak saya. Kayaknya seperti itu ..."
Ha ha ha ha ...
"Beratnya dimana ya Bu?"
"Teman bukan biasa itu, Bu. Itu artinya, kalau diibaratkan orang-orang tua dulu, sudah diikat. Ditunangkan. Jadi, walau masih berteman dengan orang lain, si perempuan dan si laki-laki kan sudah saling terikat ..."
"Ya enggak apa-apa Bu. Baguslah itu," ucap Bu Bondo.
Kemiskinan (1)
Kemiskinan (1)
Oleh aminuddin
ALMARHUM Prof Dr Hamka mendefinisikan kemiskinan sebagai tidak terpenuhinya hajat dan keperluan dengan banyak.
Atau .."Tidak adanya sesuatu apa pun juga yang dipunyai guna memenuhi kebutuhan yang diperlukan," kata Imam Abu Hanifah.
Sementara Ibnu Syaltut berpendapat kemiskinan adalah ketidakmampuan dalam berusaha dan bekerja tanpa harus memperlihatkan kekurangannya sebagai orang yang tidak mampu memenuhi kebutuhan yang diper lukan.
"Kemiskinan adalah terpenuhinya kebutuhan hidup yang diperlukan berupa harta atau usaha sebanyak seperdua dari kecukupan atau lebih tapi tidak sampai mencukupi," ujar Imam Syafi'i.
Lebih jauh SAR A Levitan memaknakan kemiskinan sebagai kekurangan barang-barang dan pelayanan-pe layanan yang dibutuhkan dalam mencapai standar hidup yang layak.
"Kemiskinan adalah ketidak-sanggupan untuk mendapatkan barang-barang dan pelayanan-pelayanan yang memadai guna memenuhi berbagai kebutuhan sosial yang terbatas," kata Bradely R Schiller.
_____________________________
- Sar A. Levitan, 'Programs in Aid of the Poor the 1980's Policy Studies in Employment and Welfare, No 1, Fourth Edition, Baltimore and London, John Hopkins University Press, 1980
- Clerence N Stone, Robert K Whelen, William J Murrin, 'Urban Policy and Politics in a Bureaucratic Age', Englewood Cliffa, N.J Prentice - Hall, Inc, 1979.
- H Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka), 'Tasauf Modern', Jakarta, Yayasan Nurul Islam Jayamurni, 1961.
- Panitia Negara di Mesir, 'Fiqh 'ala Mazahib Arba'a, Mesir.
- Mahmud Syaltut, 'Min Taujihatil Islam', Alihbahasa, H Bustami Ab dul Gani, Chatibul Umam, Jakarta, Bulan Bintang,1973.
Oleh aminuddin
ALMARHUM Prof Dr Hamka mendefinisikan kemiskinan sebagai tidak terpenuhinya hajat dan keperluan dengan banyak.
Atau .."Tidak adanya sesuatu apa pun juga yang dipunyai guna memenuhi kebutuhan yang diperlukan," kata Imam Abu Hanifah.
Sementara Ibnu Syaltut berpendapat kemiskinan adalah ketidakmampuan dalam berusaha dan bekerja tanpa harus memperlihatkan kekurangannya sebagai orang yang tidak mampu memenuhi kebutuhan yang diper lukan.
"Kemiskinan adalah terpenuhinya kebutuhan hidup yang diperlukan berupa harta atau usaha sebanyak seperdua dari kecukupan atau lebih tapi tidak sampai mencukupi," ujar Imam Syafi'i.
Lebih jauh SAR A Levitan memaknakan kemiskinan sebagai kekurangan barang-barang dan pelayanan-pe layanan yang dibutuhkan dalam mencapai standar hidup yang layak.
"Kemiskinan adalah ketidak-sanggupan untuk mendapatkan barang-barang dan pelayanan-pelayanan yang memadai guna memenuhi berbagai kebutuhan sosial yang terbatas," kata Bradely R Schiller.
_____________________________
- Sar A. Levitan, 'Programs in Aid of the Poor the 1980's Policy Studies in Employment and Welfare, No 1, Fourth Edition, Baltimore and London, John Hopkins University Press, 1980
- Clerence N Stone, Robert K Whelen, William J Murrin, 'Urban Policy and Politics in a Bureaucratic Age', Englewood Cliffa, N.J Prentice - Hall, Inc, 1979.
- H Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka), 'Tasauf Modern', Jakarta, Yayasan Nurul Islam Jayamurni, 1961.
- Panitia Negara di Mesir, 'Fiqh 'ala Mazahib Arba'a, Mesir.
- Mahmud Syaltut, 'Min Taujihatil Islam', Alihbahasa, H Bustami Ab dul Gani, Chatibul Umam, Jakarta, Bulan Bintang,1973.
Rabu, 04 April 2018
Soleh (13)
Cerita untuk Anak
Soleh (13)
Oleh Wak Amin
KADIR sengaja menunggu ayahnya pulang dari kota hari ini. Hampir satu jam dia nongkrong di kursi teras.
Lepas Ashar, sekitar pukul lima sore, Pak Bondo dan isteri tercinta tiba di rumah.
Tanpa disuruh lagi, Kadir ikut membantu menurunkan dan membawa bahan-bahan keperluan memasak seperti gula, kopi, teh, beras, gandum, minyak sayur, mentega, sagu dan sebagainya.
Sang Ayah, apalagi Bu Bondo, heran melihat Kadir amat rajin sore hari ini.
Ada apa gerangan?
Apa yang sebenarnya telah terjadi?
Padahal sebelum ini jangankan membantu membawakan barang-barang dari bagasi mobil, keluar dari kamar saja tidak. Asyik bermain hape.
Pak Bondo dan isteri tak pula peduli dengan perubahan sikap Kadir barusan. Mereka justru senang melihat si buah hati tidak malas lagi.
Namun selepas masuk waktu Isya ....
"Bu, Yah." Kata Kadir di ruang tamu saat kedua orang tuanya istirahat seusai santap malam.
"Kamu berantem lagi?" Tanya Sang Ibu mencoba menebak.
Kadir menggelengkan kepalanya.
"Bayaran sekolah udah kan Dir?"
"Udah Yah. Beres ..."
"Eeeem ... Ibu tahu sekarang."
"Apa Bu?"
"Soal Jamilah kan?"
Haaaa ..?
"Ibu tahu dari mana ya?" Terheran-heran Kadir mendengarnya. Karena sebelum ini dia tak pernah sama se kali cerita tentang Jamilah. Kalau teman sekolah yang cowok, itu iya.
"Ibu tahu dari mana?"
"Tahu aja Dir. Telinga ibu ini kan banyak. Telinga kamu aja yang dua. Betul kan?"
"Betul kata ibu. Tapi Kadir tak tengok telinga ibu selain yang di kanan dan kiri .. "
"Manalah kau tahu Dir. Telinganya ibu memang cuma dua. Maksud ibu, ibu pasang telinga, cari kabar tentang anak ibu, ke teman-teman ibu dan warga lain begitu. Paham?"
Kadir terdiam.
"Paham?" Sang ibu bertanya sekali lagi.
"Paham Bu."
"Nah, sekarang coba kau ceritakan apa masalahmu pada ibu."
Kadir ragu.
Setelah dipaksa, dia berkata ...
"Jamilah Bu. Seperti yang ibu tebak tadi. Aku suka sama Jamilah. Tapi keduluan Soleh," keluh Kadir.
Hek .. Hek .. Hek ...
Pak Brondo sampai terbatuk-batuk mendengar keluhan dan pengakuan Kadir barusan.
Dia tak kuasa menahan gelak tawanya. Betapa tidak, baru duduk di kelas lima sekolah dasar, sudah tahu tentang teman bukan biasa.
"Bu. Ayah ke kamar dulu."
"Ya ayah. Nantu ibu menyusul," jawab Bu Bondo.
Tawa Pak Bondo baru lepas, tak terdengar lagi setelah masuk kamar. Anehnya, di dalam kamar justru dia puas-puaskan ketawanya. Ketawa tergelak-gelak di depan ceemin lemari hias isterinya.
"Ada-ada saja anak zaman now. Masih cabe rawit, eee sudah tau yang namanya 'hati sakit'."
Di ruang tamu ...
"Tolong Kadir Bu. Bilang ke mamanya Jamilah, tak usah berteman lagi dengan Soleh. Sama Kadir saja Bu. Bilang ya Bu. Tolong Kadir Bu."
"Enggak mau ah."
Penasaran, dia tatapi lekat wajah Kadir.
Ada yang berubahkah?
Dia belai rambutnya. Usap lembut kedua pipinya. Biar jelas terlihat, apa sebabnya Kadir begitu nekat sama Jamilah.
Soleh (13)
Oleh Wak Amin
KADIR sengaja menunggu ayahnya pulang dari kota hari ini. Hampir satu jam dia nongkrong di kursi teras.
Lepas Ashar, sekitar pukul lima sore, Pak Bondo dan isteri tercinta tiba di rumah.
Tanpa disuruh lagi, Kadir ikut membantu menurunkan dan membawa bahan-bahan keperluan memasak seperti gula, kopi, teh, beras, gandum, minyak sayur, mentega, sagu dan sebagainya.
Sang Ayah, apalagi Bu Bondo, heran melihat Kadir amat rajin sore hari ini.
Ada apa gerangan?
Apa yang sebenarnya telah terjadi?
Padahal sebelum ini jangankan membantu membawakan barang-barang dari bagasi mobil, keluar dari kamar saja tidak. Asyik bermain hape.
Pak Bondo dan isteri tak pula peduli dengan perubahan sikap Kadir barusan. Mereka justru senang melihat si buah hati tidak malas lagi.
Namun selepas masuk waktu Isya ....
"Bu, Yah." Kata Kadir di ruang tamu saat kedua orang tuanya istirahat seusai santap malam.
"Kamu berantem lagi?" Tanya Sang Ibu mencoba menebak.
Kadir menggelengkan kepalanya.
"Bayaran sekolah udah kan Dir?"
"Udah Yah. Beres ..."
"Eeeem ... Ibu tahu sekarang."
"Apa Bu?"
"Soal Jamilah kan?"
Haaaa ..?
"Ibu tahu dari mana ya?" Terheran-heran Kadir mendengarnya. Karena sebelum ini dia tak pernah sama se kali cerita tentang Jamilah. Kalau teman sekolah yang cowok, itu iya.
"Ibu tahu dari mana?"
"Tahu aja Dir. Telinga ibu ini kan banyak. Telinga kamu aja yang dua. Betul kan?"
"Betul kata ibu. Tapi Kadir tak tengok telinga ibu selain yang di kanan dan kiri .. "
"Manalah kau tahu Dir. Telinganya ibu memang cuma dua. Maksud ibu, ibu pasang telinga, cari kabar tentang anak ibu, ke teman-teman ibu dan warga lain begitu. Paham?"
Kadir terdiam.
"Paham?" Sang ibu bertanya sekali lagi.
"Paham Bu."
"Nah, sekarang coba kau ceritakan apa masalahmu pada ibu."
Kadir ragu.
Setelah dipaksa, dia berkata ...
"Jamilah Bu. Seperti yang ibu tebak tadi. Aku suka sama Jamilah. Tapi keduluan Soleh," keluh Kadir.
Hek .. Hek .. Hek ...
Pak Brondo sampai terbatuk-batuk mendengar keluhan dan pengakuan Kadir barusan.
Dia tak kuasa menahan gelak tawanya. Betapa tidak, baru duduk di kelas lima sekolah dasar, sudah tahu tentang teman bukan biasa.
"Bu. Ayah ke kamar dulu."
"Ya ayah. Nantu ibu menyusul," jawab Bu Bondo.
Tawa Pak Bondo baru lepas, tak terdengar lagi setelah masuk kamar. Anehnya, di dalam kamar justru dia puas-puaskan ketawanya. Ketawa tergelak-gelak di depan ceemin lemari hias isterinya.
"Ada-ada saja anak zaman now. Masih cabe rawit, eee sudah tau yang namanya 'hati sakit'."
Di ruang tamu ...
"Tolong Kadir Bu. Bilang ke mamanya Jamilah, tak usah berteman lagi dengan Soleh. Sama Kadir saja Bu. Bilang ya Bu. Tolong Kadir Bu."
"Enggak mau ah."
Penasaran, dia tatapi lekat wajah Kadir.
Ada yang berubahkah?
Dia belai rambutnya. Usap lembut kedua pipinya. Biar jelas terlihat, apa sebabnya Kadir begitu nekat sama Jamilah.
Langganan:
Postingan (Atom)