Serial Ki Ogan
Pulau Harimau (2)
Oleh Wak Amin
Karena masih tak percaya dengan keterangan Pak Jakfar, ketiga laki-laki tadi serempak menggeledah setiap ruangan, mulai dari ruang tamu, kamar tidur hingga belakang rumah.
Hasilnya?
Mereka tidak menemukan apa-apa. Orang yang mereka cari memang tidak ada. Sudah pergi dari tadi. Kepergian mereka atas sepengetahuan Pak Jakfar.
Traaaang ...
Jegaar ...
Guaaaar ...
Setelah mengamuk dengan menendang meja, tong sampah dan membanting asbak rokok di atas meja tamu. Mereka pun ngeloyor pergi sambil mengomel tiada henti.
Beruntung Pak Jakfar tak dianiaya. Namun jika itu sampai terjadi, dia sudah siap menerima dan menanggung akibatnya.
"Benar-benar sok jagoan," omelnya. Pak Jakfar melanjutkan pekerjaannya dengan merapikan bunga di teras dan taman depan rumah.
Sementara itu ....
Pedro dan Thomas kini sudah tiba di dermaga kecil. Mereka berdua ingin menumpang kapal motor penyebera ngan untuk menghindari pengejaran dari anggota kelompok bersenjata Asy-Syifa.
"Sekitar setengah jam lagi kapal tiba di dermaga Tuan," kata salah seorang petugas dermaga dengan ramah.
"Berapa kali penyeberangannya Pak" Tanya Pedro.
"Kalau cuaca lagi baik dan gelombang tidak besar, bisa lima kali Tuan " jawab si petugas.
Dia mempersilakan Pedro dan Thomas beristirahat sambil menunggu kedatangan kapal di kantin dermaga.
Satu jam perjalanan dihabiskan menuju kota seberang. Selama ini perjalanan lewat laut aman dan lancar. Para penumpang, selain orang datangan yang ingin singgah dan transit karena urusan pekerjaan, warga sekitar dermaga untuk pergi berdagang, di antaranya menjual hasil tangkapan ikan.
Kota seberang memang indah. Dikitari laut dengan pandangan bukit yang memesona. Sebagian besar penduduknya bertani dan menjadi pegawai swasta dan pemerintahan.
Penduduk setempat bersikap terbuka dengan pendatang. Mereka tidak alergi, apriori dan menutup diri. Selagi mereka datang baik-baik, mereka akan terima dengan lapang hati.
Mereka menganggap seperti saudara, dan sudah terbukti selama ini mereka sama-sama, bahu membahu membangun kota yang jauh dari hingar-bingar klakson mobil dan kemacetan.
Setelah menunggu hampir dua jam, Pedro dan Thomas baru bisa berangkat ke seberang. Karena penumpang tidak terlalu membludak, keduanya bisa duduk di dalam kapal. Tempat duduknya terbikin dari kayu yang dicat warna biru dan putih.
Air laut tampak tenang. Satu dua kapal besar lewat, melintas tak terlalu cepat. Agar tak jenuh, sang pengemudi kapal, memutar lagu dangdut bernada gembira.
Sebagian penumpang ikut berjoget, tapi bukan badan. Hanya kepala dan gerakan tangan saja.
"Ayo Pak. Jangan malu-malu," kata seorang bapak, Ramlan, dengan anak dua pada Thomas dan Pedro.
Si bapak berdiri. Menggerakkan kedua tangannya silih berganti. Hampir jatuh karena saat bersa maan, kapal bergoyang disenggol ombak kecil.
"Mari Om," ajak kedua anak bapak tadi itu yang mulai beranjak dewasa. Perempuan semuanya. Masih duduk di bangku es em a.
2
"ANTARKAN kami. Cepaat!" Bentak kepala botak sembari memelototkan matanya. Merah karena marah.
"Tidak bisa Pak. Bapak harus menunggu dulu di kantin atau apalah. Setengah jam lagi baru datang kapal penyeberangannya," jelas petugas dermaga dengan tenang.
"Kapal itu?" Ada speedboat bersandar di bawah jembatan dermaga. Speedboat itu rusak. Mesinnya lagi diperbaiki. Hanya bodinya saja yang masih aduhai.
"Ah bohong." Hardik si mulut lebar.
"Periksa sendiri oleh bapak bertiga kalau tidak percaya,' jawab si petugas.
" Baiklah," kata dagu lancip. "Kalau ternyata tidak rusak, kepalamu saya potelkan."
Keder juga si petugas. Walau dia merasa yakin mesin motor tempel itu masih diperbaiki di bengkel. Paling tidak satu bulan ke depan baru kelar.
Turunlah tiga kaki tangan Mayor Nawi ini serempak dengan cara melompat. Karena tidak berimbang, badan besar sementara motor tempel tidak kuat menahan beban, terbaliklah.
Byuuur ...
Dreeeg ...
Dreeeg ...
Melihat kejadian itu, petugas dermaga dibantu beberapa warga setempat, terpaksa turun tangan. Speedboat akhirnya bisa kembali seperti biasa.
Sementara botak dan dua temannya basah kuyup. Umpatan, cacian keluar dari mulut ketiganya.
Sedangkan petugas dermaga dan warga hanya tertawa saja. Ditahan-tahan pula ketawanya.
"Kenapa tertawa?"
"Coba bapak tengok mesinnya. Kan enggak ada."
Merasa malu, ketiganya minta dibuatkan tiga gelas air kopi susu. Mereka beristirahat di kantin dengan pakaian basah. Ogah dilepas, apalagi dijemur.
Kriiiing ...
Kriiiing ...
Kriiiing ...
"Yaaaach ... Ada apa Wan?" Mayor Nawi baru selesai menerima tamu dari kelompok Al-Mulk.
"Lapor Bos. Kami sekarang lagi berada di pelabuhan kecil. Menunggu jemputan kapal."
" Mengejar mereka?"
"Iya Bos."
"Yakin dapat?"
"Yakin Bos."
"Oke. Laksanakan ...!"
"Siap Bos."
Sudah lewat setengah jam, kapal penyeberangan belum juga datang. Iwan, si kepala botak mulai gusar dan marah.
Didekatinya petugas yang sedang menelepon di dermaga.
"Mana kapalnya, haaaa?"
Ditariknya kerah baju si petugas.
"Ini baru saya telepon Pak."
Druuuup ...
"Cepat telepon!" Hampir terduduk, saking kuatnya cengkraman Iwan dikerah baju si petugas.
Si petugas baru dapat kabar kapal penyeberangan mengalami kerusakan mesin.
"Perlu waktu sekitar dua jam lagi Pak. Mohon disabar ..."
"Kemarikan teleponmu!" Paksa Iwan. Dia menelepon pemilik kapan sembari mengancam, jika dalam waktu dua jam kapal yang ditunggu tidak juga tiba di pelabuhan, keselamatan petugas dermaga bakal terancam.
"Maksud bapak?" Tanya si pemilik kapal gemetaran.
"Saya akan bunuh dia. Mengeti?"
"Me .. menger .. ti Pak."
"Patuhi ya. Awas kalau macam-macam."
"Ya Pak. Ya .. Ya Pak!"
Semakin mendekati sore, warga yang hendak menyeberang mulai ramai berdatangan. Sebagian besar warga yang domisili jauh dari kawasan pelabuhan.
Dermaga pelabuhan jadi ramai. Kantin pun demikian. Anak-anak kecil merayu ibu mereka minta dibelikan kue, es krim dan air putih dingin.
Sementara calon penumpang dewasa memilih duduk-duduk di pinggiran dermaga. Mereka berbagi cerita dan pengalaman. Karena baru pertama kali ini mereka bertemu, saling berkenalan dan bertukar kesan selama menempuh perjalanan laut.
Dua jam kemudian kapal yang di tunggu-tunggu pun tiba. Merapat ke dermaga. Satu persatu penumpang naik berurutan. Karena ramai, tempat duduk terisi penuh.
Kapal pun berangkat ...
"Menginaplah barang semalam," tawar Ramlan pada Thomas dan Pedro saat keduanya singgah sejenak di kediaman guru sekolah dasar itu.
"Iya Om. Kami senang kalau Oom berdua nginap di tempat kami," sahut anak sulung Ramlan, perempuan beranjak dewasa. Cantik dan ramah lagi.
Pedro dan Thomas berpikir sebentar ...
"Eeeem ... Terima kasih banyak atas penawaran Pak Ramlan dan adik Oom yang cantik. Tapi terus terang kami diburu waktu. Teman kami sudah menunggu. Sebab, kalau sampai terlambat, enggak bakalan bisa ketemuan," jelas Pedro.
"Betul sekali Pak. Kami berdua kepingin sekali menginap di sini. Aman, tenang dan suasananya adem sekali. Ta pi, karena kami ada urusan penting dengan teman bisnis, kami putuskan belum bisa menginap di rumah bapak kali ini," ujar Thomas.
"Jika ada kesempatan, kami akan mampir lagi kesini, dan tentunya akan bermalam di rumah bapak untuk bebe rapa hari lamanya."
Pak Ramlan memaklumi, juga dua anak gadisnya. Meski di hati kecil mereka kecewa, karena bermalam di se buah rumah yang besar dengan sedikit penghuni, hanya empat orang, kehadiran Pedro dan Thomas tentu bisa meramaikan suasana, berbagi cerita sesama saudara.
Bukankah kita bersaudara?
---------
SETIAP warga kota seberang ditanyai. Tapi tak satu pun yang mengaku sebelum akhirnya salah seorang warga pernah melihat Pedro dan Thomas menuju selatan.
"Saya yakin Pak. Kalau memang ini fotonya," kata lelaki paruh baya ketika pulang dari surau lepas ashar.
"Enggak bohong kan?"
"Enggak Pak. Percayalah sama saya," jelas si pemuda kurus langsing itu dengan suara gemetar dan terbata-bata karena ketakutan.
Kepada Sang Bos, Mayor Nawi melaporkan bahwasanya Pedro dan Thomas menuju selatan.
"Apa kita lanjutkan pengejarannya Bos, atau ...?" Tanya Iwan.
"Ya teruskan saja. Pas tengah malam. Sekarang carilah dulu tempat berteduh."
"Baik Bos."
"Perlu bantuan?"
"Kayaknya iya Bos. Tapi nantilah kami beritahukan. Kami tengok dululah situasinya," terang Iwan.
"Masa orang tiga kalah sama orang dua. Tapi ya sudahlah. Jangan lupa. Usahakan dapat ... Tangkap hidup-hidup keduanya," pesan Mayor Nawi.
"Siap Bos."
Di tempat terpisah, Pedro dan Tho mas menumpang sebuah truk yang hendak melaju ke luar kota. Di simpang tiga perbatasan kota, mobil diberhentikan polisi jalan raya.
Sopirnya diminta turun. Memperlihatkan surat menyurat truk termasuk ijin mengangkut alat-alat berat yang diletakkan di kap belakang. Seperti mesin, motor dan barang onderdil lainnya.
Hal ini sudah biasa dialami pengemudi truk jika hendak melewati perbatasan kota demi keamanan selama dalam perjalanan. Bukankah aksi kriminal justru lebih mudah dilakukan di tempat sepi dan sunyi, jauh dari keramaian.
Sopir truk tampak lega. Petugas memperbolehkannya melanjutkan perjalanan. Dia mulai menyalakan mesin truk. Namun, entah bagaimana, setelah meneri ma telepon, dua petugas polisi ja lan raya tadi mendatangi Pedro dan Thomas ...
Jumat, 29 Desember 2017
Senin, 25 Desember 2017
Pulau Harimau (1)
Serial Ki Ogan
Pulau Harimau (1)
Oleh Wak Amin
1
"CEPAT Drooo ...!" Kata Thomas.
"Kakiku Mas."
Tertusuk duri. Tajam dan sakit. Padahal sudah bersepatu. Tapi tidak sampai berdarah. Cuma perihnya itu minta ampun. Menyut dan badan ini terasa demam. Meriang.
"Pijakkan Dro. Sebentar kita sampai." Thomas melihat ada sebuah rumah besar di seberang kanan jalan.
"Paling tidak bisa tidur malam ini," ucap Thomas dalam hati.
Keduanya terpaksa lari dari rumah karena dicari kelompok bersenjata pimpinan Mayor Nawi. Sebuah kelompok garis keras yang tak segan-segan membunuh orang yang dianggap berseberangan dengan mereka.
Kelompok ini dikenal ganas dan siapa pun yang jadi target mereka akan dapat. Jika dapat disiksa dan dibunuh secara sadis sebelum mayatnya dilempar ke laut.
Ada apa dengan Thomas dan Pedro?
Thomas dan Pedro adalah saksi atas tewasnya Jenderal Lutfi. Jenderal dalam pemerintahan Raja Samson ini terkenal tegas, jujur, anti korupsi dan tidak suka berdialog dengan kelompok manapun yang berusaha mengacaukan keamanan negara.
Di bawah kepemimpinan Jenderal Lutfi, selaku panglima tertinggi dan bertanggung jawab penuh atas keamanan negara, negeri Mahakam benar-benar aman. Tak heran jika banyak pendatang yang melancong ke negeri yang subur dan makmur ini.
Namun sejak beberapa bulan terakhir, rasa aman rakyat Mahakam terusik oleh ulah kelompok bersenjata pim pinan Mayor Nawi. Sering keluar masuk kampung. Menjarah dengan sesekali memperkosa kaum perempuan sebagai pelampiasan nafsu semata.
Warga mulai resah. Agar tak meluas, Jenderal Lutfi memerintahkan jajarannya untuk 'melibas' kelompok bersen jata Asy-Syifa ini. Hal ini dilakukan karena mereka telah berbuat onar dan meresahkan masyarakat.
"Tangkap mereka hidup-hidup," perintah Jenderal Lutfi saat bertatap muka dengan pasukan keamanan Mahakam sebelum menggempur habis-habisan kelompok Asy-Syifa.
Penggempuran dilakukan pada tengah malam. Semua anggota kelompok Asy-Syifa berhasil ditangkap, juga termasuk pimpinannya, Mayor Nawi.
Mayor Nawi dulunya anggota pasukan khusus Negeri Mahakam. Pernah memegang jabatan penting di kemiliteran.
Karena berseberangan dengan penguasa, dia menyatakan mundur sebelum akhirnya cabut dari dinas kemiliteran.
Sejak saat itulah dia membentuk kelompok bersenjata dan siap berhadapan dengan penguasa Negeri Mahakam.
Tak terkecuali Jenderal Lutfi. Dia sangat membenci jenderal jujur, bersih dan tegas ini karena telah memfitnah kelompok bentukannya sehingga dijauhi masyarakat.
Seminggu setelah penangkapan nya, Negeri Mahakam aman seketika. Kembali terusik setelah Mayor Nawi ber hasil meloloskan diri dari balik terali besi. Sementara anak buahnya berhasil ditangkap kembali oleh pasukan keamanan pemerintah.
Sebulan setelah itu, rakyat Mahakam digemparkan dengan tewasnya Jenderal Lutfi di kediamannya. Dia tewas ditembak Kelompok Asy-Syifa jelang subuh dengan puluhan butir peluru mendarat di kepala, punggung dan dadanya.
Tewas seketika sementara isterinya sempat melarikan diri. Namun, bersama anak-anaknya beberapa hari kemu dian, diketemukan tewas ditembak di sebuah tempat yang sepi di pinggiran kota.
Tewasnya Jenderal Lutfi beserta anak dan isterinya sangat memukul Raja Samson. Dia memerintahkan pasukan keamanan negara untuk menangkap hidup atau mati Mayor Nawi. Orang yang paling bertanggung jawab atas kematian Jenderal Lutfi.
Tidak mudah untuk menangkap Mayor Nawi dan kelompok yang ia pimpin. Selain sudah terorganisir dengan rapi, kelompok lain yang selama ini berseberangan, mulai putar haluan.
Mereka bukan saja menjalin pertemanan tapi juga siap membantu Asy-Syifa bila diperlukan. Saat mereka terpo jok oleh Raja Samson inilah bantuan itu datang.
"Beres Yor. Tenang saja," kata juru bicara Kelompok Al-Mulk. "Sebelum mereka menangkap Mayor, kami su dah lebih dulu menghabisi mereka."
Mayor Nawi senang, bangga dan juga lega. Kini tak ada kekuatiran lagi bakal kena tangkap pasukan pemerintah.
Hanya ada satu hal yang mengganggu pikirannya. Ada dua orang saksi kunci di balik tewasnya Jenderal Lutfi yang belum diamankan.
"Sebelum mereka berdua dapat, saya belum lega seratus persen. Ingat itu!" Kata Mayor Nawi menunjuk jidat satu-satu anggota kelompoknya dalam pertemuan khusus di Markas Asy-Syifa.
-------
"BUAT sementara kita aman di sini bro," kata Thomas. Berbaring telentang di teras rumah kosong pinggiran kota.
Rumah kosong itu bertingkat dua. Ada beberapa unit rumah di sana. Jarak antara satu rumah dengan rumah lainnya berjauhan.
Pekarangan luas. Banyak pohon besar dan rindang. Penghuni rumah ada. Namun sesekali hanya terlihat. Saat pergi dan pulang kerja, atau ada keperluan mendesak untuk pergi keluar rumah.
Sementara rumah yang kini disinggahi Thomas dan Pedro belum lama ditinggal pergi pemiliknya ke luar kota. Sang empunya rumah mempercayakan keamanan rumahnya ini kepada lelaki tua yang selama ini mendapat tugas merawat taman, menyapu halaman dan beberapa keperluan lain yang terkait dengan kebersihan, kenyamanan dan keamanan rumah.
"Dro. Ada orang datang," bisik Thomas. Bersama Pedro, dua teman sejawat ini bersembunyi di balik tanaman samping rumah.
Seorang lelaki tua baru pulang dari berbelanja di pasar swalayan. Membeli bahan makanan untuk dimasak dan dimakan bersama seusai empunya rumah pulang dari luar kota.
Dengan perlahan ia dorong masuk sepeda motor yang membawa satu tas besar belanjaan. Setelah dia tutup kembali pintu pagar, dia nyalakan lagi itu mesin motor.
Berhenti persis di garasi samping kanan rumah. Garasi itu tidak terkunci. Dibuka, kemudian sepeda motor didorong masuk. Sebelum pintu kayu itu ditutup dan dikunci rapat
Kletek ...
Tek tek ...
Pintu samping terbuka. Lelaki kurus berkulit hitam itu masuk dan menutup kembali pintu itu.
Dia mengeluarkan satu persatu belanjaannya. Ada yang ditaruh di dalam kulkas, ada juga disimpan dalam lemari gantung.
Treeek ...
Byaaar ...
Dia nyalakan kompor gas. Dia me masak mie kuah rupanya. Dia memang lapar. Sejak pagi belum makan, kecuali minum secangkir kopi susu.
Tapi dengan sabar dia membolak-balik mie kesukaannya itu dalam panci ceper yang baru dibeli kemarin.
Pak Jakfar, nama lelaki itu. Dia tidak punya keluarga. Karena dia memang tidak menikah. Dia tak punya anak dan isteri. Dia bujang tua. Bujang lapuk, kata orang kebanyakan.
Meski menyandang predikat bujang tua, Pak Jakfar tak pernah merasa risih dan malu hati. Dia tetap ramah kepada siapa saja.
Entah laki-laki, entah wanita, dia tak pilih. Makanya teman-temannya pada heran, teman wanita ada, walau bisa dihitung dengan jari jumlahnya, masih senang jadi perjaka.
Pedro dan Thomas memberanikan diri mengintip dari balik kaca dapur. Memanjat sedikit dengan berdiri di bahu Pedro, Thomas bisa dengan leluasa melihat Pak Jakfar menuangkan rebusan mie ke dalam piring besar.
Keluar asap dari piring plastik itu. Dia cium aroma mie ....
Heeem ...
Sedaaap ...
Heeeem ...
Nikmaaaat ...
Lezaaaat ...
Triiiiing ...
Suara sendok dan garpu sayup terdengar silih berganti. Disusul suara kursi makan. Pak Jakfar sudah duduk menghadap meja.
Siap menyendok mie rebus.
Lalu ...
Tok ... Tok ...Tok ...
Tok ... Tok ...Tok ...
Pedro dan Thomas memberanikan diri mengetuk pintu dengan harapan Pak Jakfar sudi menerima mereka seka dar untuk bermalam satu malam saja.
Pak Jakfar tak keberatan. Hanya saja, dia mengaku terus terang pada Pedro dan Thomas, dia bukanlah pemilik rumah.
Hanya tukang kebun. Tak lebih.
"Tak mengapa Pak."
"Pak Jakfar nama saya."
"Saya Thomas, sementara teman saya ini, Pedro dia punya nama," kata Thomas sambil menjabat erat tangan Pak Jakfar.
Tak enak hati jadinya ...
Seharusnya mereka berdualah yang lebih dulu memperkenalkan diri.
"Tak mengapa. Bapak sudah biasa menerima orang bermalam di rumah ini," terang Pak Jakfar.
"0ooo begitu Pak. Terima kasih."
Dari raut muka keduanya, Pak Jakfar merasa tak ada yang patut dicurigai dengan kehadiran tamu istimewanya ini.
Penampilan sederhana. Santun dan ramah. Dipastikan tidak membawa senjata, apalagi barang yang men curigakan. Setelah Thomas dan Pedro mempersilakan Pak Jakfar memeriksa tas ransel mereka.
"Bapak percaya. Tak usahlah." Pak Jakfar mempersilakan keduanya duduk.
Dia mengambil dua buah piring. Lalu dibaginya mie yang ada dalam piringnya. Sementara dia sendiri merebus tiga bungkus mie sekaligus.
Sambil mengaduk mie dan bumbu di mangkuk besar, Pak Jakfar bercerita bahwa suasana di sekitar rumah majikannya ini memang sepi.
"Tapi sepi-sepi menghanyutkan," gurau Pak Jakfar.
Ha ha ha ha ...
"Kenapa bisa begitu Pak Jakfar?" Tanya Pedro yang serasa berada di rumah sendiri.
"Sepi di saat tertentu. Pagi misalnya. Sore ramai. Atau pada akhir pekan. Orang disini ramah dan baik- baik," terang Pak Jakfar, meletakkan semangkuk besar mie rebus yang baru saja dia tuangkan dari panci besar alumi nium.
----------
KEESOKAN harinya ...
Setengah jam setelah Thomas dan Pedro pamitan, anggota kelompok bersenjata Asy-Syifa mendatangi satu per satu kawasan pemukiman An-Nur. Setiap penghuninya ditanyai dengan cara memaksa, membentak, menghardik dan mengancam.
Kediaman majikan Pak Jakfar mendapat giliran terakhir ditanyai tiga lelaki yang merupakan tangan kanan Mayor Nawi. Badan mereka kekar. Nada suara selalu tinggi dan tak gampang tersenyum.
Di hadapan Pak Jakfar, setelah ya ng bersangkutan membukakan pintu, dan mempersilakan masuk, ketiga ang gota senior Asy-Syifa ini mengancam akan membunuh jika terbukti menyembunyikan dan membantu pelarian Pedro dan Thomas.
"Bapak jangan macam- macamlah sama kami, haaa." Bentak laki-laki bertelinga lebar dan kepala botak.
"Saya tidak macam-macam Tuan. Saya berkata sejujurnya. Bahwa saya sama sekali tidak mengenal dua lelaki di sketsa foto yang bapak perlihatkan itu."
Salah seorang dari mereka, pria bermulut lebar, memaksa Pak Jakfar menatap lekat-lekat sketsa foto di sehelai kertas putih. Foto itu mirip dengan mukanya Thomas dan Pedro.
"Tahu kan?"
"Tidak Tuan. Selama ini tidak ada orang aneh-aneh yang datang ke pemukiman An-Nur ini. Kalau pun ada, itu sebatas famili dan teman kerja majikan saya ..."
"Ah, kamu bohong." Kata mulut lebar setengah membentak.
Pulau Harimau (1)
Oleh Wak Amin
1
"CEPAT Drooo ...!" Kata Thomas.
"Kakiku Mas."
Tertusuk duri. Tajam dan sakit. Padahal sudah bersepatu. Tapi tidak sampai berdarah. Cuma perihnya itu minta ampun. Menyut dan badan ini terasa demam. Meriang.
"Pijakkan Dro. Sebentar kita sampai." Thomas melihat ada sebuah rumah besar di seberang kanan jalan.
"Paling tidak bisa tidur malam ini," ucap Thomas dalam hati.
Keduanya terpaksa lari dari rumah karena dicari kelompok bersenjata pimpinan Mayor Nawi. Sebuah kelompok garis keras yang tak segan-segan membunuh orang yang dianggap berseberangan dengan mereka.
Kelompok ini dikenal ganas dan siapa pun yang jadi target mereka akan dapat. Jika dapat disiksa dan dibunuh secara sadis sebelum mayatnya dilempar ke laut.
Ada apa dengan Thomas dan Pedro?
Thomas dan Pedro adalah saksi atas tewasnya Jenderal Lutfi. Jenderal dalam pemerintahan Raja Samson ini terkenal tegas, jujur, anti korupsi dan tidak suka berdialog dengan kelompok manapun yang berusaha mengacaukan keamanan negara.
Di bawah kepemimpinan Jenderal Lutfi, selaku panglima tertinggi dan bertanggung jawab penuh atas keamanan negara, negeri Mahakam benar-benar aman. Tak heran jika banyak pendatang yang melancong ke negeri yang subur dan makmur ini.
Namun sejak beberapa bulan terakhir, rasa aman rakyat Mahakam terusik oleh ulah kelompok bersenjata pim pinan Mayor Nawi. Sering keluar masuk kampung. Menjarah dengan sesekali memperkosa kaum perempuan sebagai pelampiasan nafsu semata.
Warga mulai resah. Agar tak meluas, Jenderal Lutfi memerintahkan jajarannya untuk 'melibas' kelompok bersen jata Asy-Syifa ini. Hal ini dilakukan karena mereka telah berbuat onar dan meresahkan masyarakat.
"Tangkap mereka hidup-hidup," perintah Jenderal Lutfi saat bertatap muka dengan pasukan keamanan Mahakam sebelum menggempur habis-habisan kelompok Asy-Syifa.
Penggempuran dilakukan pada tengah malam. Semua anggota kelompok Asy-Syifa berhasil ditangkap, juga termasuk pimpinannya, Mayor Nawi.
Mayor Nawi dulunya anggota pasukan khusus Negeri Mahakam. Pernah memegang jabatan penting di kemiliteran.
Karena berseberangan dengan penguasa, dia menyatakan mundur sebelum akhirnya cabut dari dinas kemiliteran.
Sejak saat itulah dia membentuk kelompok bersenjata dan siap berhadapan dengan penguasa Negeri Mahakam.
Tak terkecuali Jenderal Lutfi. Dia sangat membenci jenderal jujur, bersih dan tegas ini karena telah memfitnah kelompok bentukannya sehingga dijauhi masyarakat.
Seminggu setelah penangkapan nya, Negeri Mahakam aman seketika. Kembali terusik setelah Mayor Nawi ber hasil meloloskan diri dari balik terali besi. Sementara anak buahnya berhasil ditangkap kembali oleh pasukan keamanan pemerintah.
Sebulan setelah itu, rakyat Mahakam digemparkan dengan tewasnya Jenderal Lutfi di kediamannya. Dia tewas ditembak Kelompok Asy-Syifa jelang subuh dengan puluhan butir peluru mendarat di kepala, punggung dan dadanya.
Tewas seketika sementara isterinya sempat melarikan diri. Namun, bersama anak-anaknya beberapa hari kemu dian, diketemukan tewas ditembak di sebuah tempat yang sepi di pinggiran kota.
Tewasnya Jenderal Lutfi beserta anak dan isterinya sangat memukul Raja Samson. Dia memerintahkan pasukan keamanan negara untuk menangkap hidup atau mati Mayor Nawi. Orang yang paling bertanggung jawab atas kematian Jenderal Lutfi.
Tidak mudah untuk menangkap Mayor Nawi dan kelompok yang ia pimpin. Selain sudah terorganisir dengan rapi, kelompok lain yang selama ini berseberangan, mulai putar haluan.
Mereka bukan saja menjalin pertemanan tapi juga siap membantu Asy-Syifa bila diperlukan. Saat mereka terpo jok oleh Raja Samson inilah bantuan itu datang.
"Beres Yor. Tenang saja," kata juru bicara Kelompok Al-Mulk. "Sebelum mereka menangkap Mayor, kami su dah lebih dulu menghabisi mereka."
Mayor Nawi senang, bangga dan juga lega. Kini tak ada kekuatiran lagi bakal kena tangkap pasukan pemerintah.
Hanya ada satu hal yang mengganggu pikirannya. Ada dua orang saksi kunci di balik tewasnya Jenderal Lutfi yang belum diamankan.
"Sebelum mereka berdua dapat, saya belum lega seratus persen. Ingat itu!" Kata Mayor Nawi menunjuk jidat satu-satu anggota kelompoknya dalam pertemuan khusus di Markas Asy-Syifa.
-------
"BUAT sementara kita aman di sini bro," kata Thomas. Berbaring telentang di teras rumah kosong pinggiran kota.
Rumah kosong itu bertingkat dua. Ada beberapa unit rumah di sana. Jarak antara satu rumah dengan rumah lainnya berjauhan.
Pekarangan luas. Banyak pohon besar dan rindang. Penghuni rumah ada. Namun sesekali hanya terlihat. Saat pergi dan pulang kerja, atau ada keperluan mendesak untuk pergi keluar rumah.
Sementara rumah yang kini disinggahi Thomas dan Pedro belum lama ditinggal pergi pemiliknya ke luar kota. Sang empunya rumah mempercayakan keamanan rumahnya ini kepada lelaki tua yang selama ini mendapat tugas merawat taman, menyapu halaman dan beberapa keperluan lain yang terkait dengan kebersihan, kenyamanan dan keamanan rumah.
"Dro. Ada orang datang," bisik Thomas. Bersama Pedro, dua teman sejawat ini bersembunyi di balik tanaman samping rumah.
Seorang lelaki tua baru pulang dari berbelanja di pasar swalayan. Membeli bahan makanan untuk dimasak dan dimakan bersama seusai empunya rumah pulang dari luar kota.
Dengan perlahan ia dorong masuk sepeda motor yang membawa satu tas besar belanjaan. Setelah dia tutup kembali pintu pagar, dia nyalakan lagi itu mesin motor.
Berhenti persis di garasi samping kanan rumah. Garasi itu tidak terkunci. Dibuka, kemudian sepeda motor didorong masuk. Sebelum pintu kayu itu ditutup dan dikunci rapat
Kletek ...
Tek tek ...
Pintu samping terbuka. Lelaki kurus berkulit hitam itu masuk dan menutup kembali pintu itu.
Dia mengeluarkan satu persatu belanjaannya. Ada yang ditaruh di dalam kulkas, ada juga disimpan dalam lemari gantung.
Treeek ...
Byaaar ...
Dia nyalakan kompor gas. Dia me masak mie kuah rupanya. Dia memang lapar. Sejak pagi belum makan, kecuali minum secangkir kopi susu.
Tapi dengan sabar dia membolak-balik mie kesukaannya itu dalam panci ceper yang baru dibeli kemarin.
Pak Jakfar, nama lelaki itu. Dia tidak punya keluarga. Karena dia memang tidak menikah. Dia tak punya anak dan isteri. Dia bujang tua. Bujang lapuk, kata orang kebanyakan.
Meski menyandang predikat bujang tua, Pak Jakfar tak pernah merasa risih dan malu hati. Dia tetap ramah kepada siapa saja.
Entah laki-laki, entah wanita, dia tak pilih. Makanya teman-temannya pada heran, teman wanita ada, walau bisa dihitung dengan jari jumlahnya, masih senang jadi perjaka.
Pedro dan Thomas memberanikan diri mengintip dari balik kaca dapur. Memanjat sedikit dengan berdiri di bahu Pedro, Thomas bisa dengan leluasa melihat Pak Jakfar menuangkan rebusan mie ke dalam piring besar.
Keluar asap dari piring plastik itu. Dia cium aroma mie ....
Heeem ...
Sedaaap ...
Heeeem ...
Nikmaaaat ...
Lezaaaat ...
Triiiiing ...
Suara sendok dan garpu sayup terdengar silih berganti. Disusul suara kursi makan. Pak Jakfar sudah duduk menghadap meja.
Siap menyendok mie rebus.
Lalu ...
Tok ... Tok ...Tok ...
Tok ... Tok ...Tok ...
Pedro dan Thomas memberanikan diri mengetuk pintu dengan harapan Pak Jakfar sudi menerima mereka seka dar untuk bermalam satu malam saja.
Pak Jakfar tak keberatan. Hanya saja, dia mengaku terus terang pada Pedro dan Thomas, dia bukanlah pemilik rumah.
Hanya tukang kebun. Tak lebih.
"Tak mengapa Pak."
"Pak Jakfar nama saya."
"Saya Thomas, sementara teman saya ini, Pedro dia punya nama," kata Thomas sambil menjabat erat tangan Pak Jakfar.
Tak enak hati jadinya ...
Seharusnya mereka berdualah yang lebih dulu memperkenalkan diri.
"Tak mengapa. Bapak sudah biasa menerima orang bermalam di rumah ini," terang Pak Jakfar.
"0ooo begitu Pak. Terima kasih."
Dari raut muka keduanya, Pak Jakfar merasa tak ada yang patut dicurigai dengan kehadiran tamu istimewanya ini.
Penampilan sederhana. Santun dan ramah. Dipastikan tidak membawa senjata, apalagi barang yang men curigakan. Setelah Thomas dan Pedro mempersilakan Pak Jakfar memeriksa tas ransel mereka.
"Bapak percaya. Tak usahlah." Pak Jakfar mempersilakan keduanya duduk.
Dia mengambil dua buah piring. Lalu dibaginya mie yang ada dalam piringnya. Sementara dia sendiri merebus tiga bungkus mie sekaligus.
Sambil mengaduk mie dan bumbu di mangkuk besar, Pak Jakfar bercerita bahwa suasana di sekitar rumah majikannya ini memang sepi.
"Tapi sepi-sepi menghanyutkan," gurau Pak Jakfar.
Ha ha ha ha ...
"Kenapa bisa begitu Pak Jakfar?" Tanya Pedro yang serasa berada di rumah sendiri.
"Sepi di saat tertentu. Pagi misalnya. Sore ramai. Atau pada akhir pekan. Orang disini ramah dan baik- baik," terang Pak Jakfar, meletakkan semangkuk besar mie rebus yang baru saja dia tuangkan dari panci besar alumi nium.
----------
KEESOKAN harinya ...
Setengah jam setelah Thomas dan Pedro pamitan, anggota kelompok bersenjata Asy-Syifa mendatangi satu per satu kawasan pemukiman An-Nur. Setiap penghuninya ditanyai dengan cara memaksa, membentak, menghardik dan mengancam.
Kediaman majikan Pak Jakfar mendapat giliran terakhir ditanyai tiga lelaki yang merupakan tangan kanan Mayor Nawi. Badan mereka kekar. Nada suara selalu tinggi dan tak gampang tersenyum.
Di hadapan Pak Jakfar, setelah ya ng bersangkutan membukakan pintu, dan mempersilakan masuk, ketiga ang gota senior Asy-Syifa ini mengancam akan membunuh jika terbukti menyembunyikan dan membantu pelarian Pedro dan Thomas.
"Bapak jangan macam- macamlah sama kami, haaa." Bentak laki-laki bertelinga lebar dan kepala botak.
"Saya tidak macam-macam Tuan. Saya berkata sejujurnya. Bahwa saya sama sekali tidak mengenal dua lelaki di sketsa foto yang bapak perlihatkan itu."
Salah seorang dari mereka, pria bermulut lebar, memaksa Pak Jakfar menatap lekat-lekat sketsa foto di sehelai kertas putih. Foto itu mirip dengan mukanya Thomas dan Pedro.
"Tahu kan?"
"Tidak Tuan. Selama ini tidak ada orang aneh-aneh yang datang ke pemukiman An-Nur ini. Kalau pun ada, itu sebatas famili dan teman kerja majikan saya ..."
"Ah, kamu bohong." Kata mulut lebar setengah membentak.
Kamis, 14 Desember 2017
Lantak (10-The END)
Novel
Lantak (10)
Oleh Wak Amin
23
"K0PRAL, kita ke kanan kayaknya." Ki Saleh memilih lebih dulu melangkahkan kakinya. Sesekali dia menyi bakkan semak di kanan kirinya dengan kayu dan tangan.
Mereka kini sudah mendekat ke bangkai pesawat terbang yang jatuh belum lama ini. Namun, ketika sampai ke dekat sebuah pohon yang besar, Ki Saleh meminta Kopral Jono dan anak buahnya berhenti sebentar.
"Sebaiknya kita sembunyi di situ," ujar Kopral Jono, menunjuk ke se buah batu besar tak jauh dari tempat mereka berdiri sekarang ini.
"Kita lihat sebentar, apa yang bakal terjadi," bisik Kopral Jono.
Hening seketika. Ki Saleh mengeluarkan tasbihnya. Dia pejamkan mata sambil berzikir.
Setelah itu ...
Lewat kedua mata hatinya, Ki Saleh dapat melihat ratusan orang di depannya siap menyerang dengan bersen jatakan tombak dan anak panah. Tanpa pakaian, kulit mereka hitam legam. Ada wanita, juga pria. Pria lebih banyak jumlahnya.
"Kita mundur Ki?!" Kopral Daud menawarkan jalan keluar. Tak mungkin menghadapi musuh sebanyak itu, makhluk asing lagi. Yang tak kenal manusia dengan segala keunikannya kecuali hutan belantara.
"Menurutmu Kopral Paiman?"
"Maju terus, Kopral Jono. Cuma apa tidak sebaiknya kita mundur lebih dulu. Setelah aman dari incaran mereka, baru kita ke lokasi jatuhnya pesawat."
"Saya setuju," sahut Kopral Anwar. Tapi apa tidak sebaiknya kita segera pergi dari sini. Kita kesini bukan untuk berperang melawan mereka. Kita hanya ingin memastikan pesawat yang jatuh itu diketemukan dan korban sudah tidak ada lagi."
"Sebaikny begitu Kopral," kata Inspektur Polisi Smith menjawab pertanyaan Kopral Jono.
Ki Saleh juga setuju. Lebih diutamakan keselamatan.
" Saya lihat juga bangkai pesawatnya hanya sedikit. Selebihnya sudah menyemak," jelas Ki Saleh.
Mereka akhirnya memutuskan untuk mundur. Beberapa saat belum ada reaksi dari Bos Jojo dan para pengikutnya. Baru ada teriakan 'serang' setelah Kopral Jono satu kilometer di depan mereka.
Belantara seolah bergemuruh. Teriakan makhluk hutan itu, saking kencang dan ramainya, membuat pohon-pohon besar 'seolah' bergoyang.
Semak dilewati. Pepohonan dipanjati. Terpaksa bergelantungan, berpindah dari satu pohon ke pohon lainnya agar lebih cepat dan mudah menangkap Kopral Jono cs.
"Kopral. Kita terkepung," teriak Kopral Anwar.
Di belakang mereka ada tebing curam, tapi tidak ada air. Di bawah tebing tampak pepohonan besar dan belantara.
"Terpaksa kita lawan mereka, Ki." Kata Kopral Jono. Musuh pantang dicari. Namun harus dilawan jika sudah di depan mata.
Tungguuu..." Ki Saleh mengambil beberapa helai tanaman hutan, lalu daunnya dia lemparkan ke atas.
Fleeeesh ...
Fleeeeesh ....
Fleeeeesh ...
Asap tebal putih membubung tinggi. Bos Jojo beserta pengikutnya panik. Selain tak bisa melihat apa pun di depan mereka, nafas jadi sesak.
"Ayo Kopral. Kita lariiii ...!" Ajak Ki Saleh. Mereka diminta Ki Saleh untuk berbaris ke belakang sambil berpegangan tangan.
Heyaaaa ...
Ceplaaaash ...
Seolah terbang, Kopral Jono cs dapat melihat dengan jelas bagaimana 'terkulainya' Bos Jojo dan pengikutnya menghadapi asap yang semakin pekat.
Mereka tak bisa melewati asap itu. Padahal tidak ada pagar di dekat mereka. Ada di antaranya coba berdiri dan ingin keluar dari kepungan asap itu. Tapi tak seorang pun yang bisa.
"Toloooong ... Pediiih .... Pediiiih.!" Teriak mereka sambil menutup kedua mata karena pedih dan perih terkena asap.
Sementara yang lain jatuh pingsan, Bos Jojo dan pengawalnya mencoba bangkit. Dia meneriaki para pe ngikutnya untuk mundur. Tak usah memaksakan diri melewati gumpalan asap itu.
"Bangunkan mereka. Cepaaat!" Bahu membahu membangunkan teman yang terkulai pingsan. Ada yang dipapah, digendong dan dibopong bersama-sama.
Mereka akhirnya berhasil keluar dari kepungan asap. Meski untuk menemukan dan menangkap Kopral Jono cs mereka telah gagal. Karena tak mungkin terkejar lagi.
Mereka sudah berada di dekat pesawat. Siap terbang untuk menemukan keberadaan Letnan Salam cs yang saat ini memerlukan pertolongan secepatnya.
24
"MEREKA sudah dekat, Let." Kata Miss Nancy seusai menyambut telepon dari Kopral Jono yang memberitahu posisi mereka saat ini. Mereka sudah dekat dan kini bisa melihat kapal yang ditumpangi Letnan Salam dan kawan-kawan.
"Bagaimana keadaan di sana Let?" Tanya Kopral Jono.
"Cuaca baik. Ombak tidak terlalu tinggi," jawab Letnan Salam.
Pesawat terbang kian mendekat.
"Nanti kami mendarat di samping kapal anda dan rekan-rekan diminta turun dari kapal lewat tangga," jelas Kopral Jono.
Semua sibuk berkemas. Terakhir yang mendekati tangga kapal adalah Miss Nancy dan Mrs Sabrina. Keduanya dicegat anak-anak penunggu kapal.
"Jangan pergi Tante," kata si pirang dengan suara memelas. "Tinggallah bersama kami di kapal ini ..."
"Iya Tante." Kata yang lain. "Apa Tante tidak merasa kasihan melihat kami."
Dialog antara Miss Nancy dan Mrs Sabrina dengan sekelompok anak ini berlangsung selama kurang lebih tiga menit.
Saat itu, andaikata Mr Clean dan Mr Jodi tidak mengajak keduanya segera pergi dari lantai dua merapat ke tangga kapal, entah bagai mana nasib mereka.
"Nancy .."
"Sabrina ..."
"Nancy ..."
"Sabrina ..."
"Nancy ..."
"Sabrina ..."
Sampai tiga kali nama dipanggil, Sabrina dan Nancy baru tersadar. Mereka sebelum ini lupa jika nyaris mema suki dunia lain.
Seketika mereka naik ke lantai atas. Pesawat sudah mendarat. Namun entah kenapa, Sabrina dan Nancy urung meniti anak tangga.
"Biarkan saya yang urus Letnan," ujar Ki Saleh. Dia menaiki anak tangga, lalu meminta Mr Clean menemaninya.
Mencari keberadaan Miss Nancy dan Mrs Sabrina.
"Biasanya mereka di sini," ucap Mr Clean, memperlihatkan kamar tempat kedua teman wanita seprofesinya ini tidur.
"Sebentar ya Mr Clean ..."
Ki Saleh mengambil tasbihnya. Dia baca sesuatu. Kemudian tasbih itu ditaruh di lantai.
Seketika terdengar suara Miss Nancy dan Mrs Sabrina sedang berbicara sesuatu dengan anak-anak.
"Di ruang mesin sepertinya Ki Saleh," kata Mr Clean. Dia yakin suara itu berasal dari ruang mesin. Lantai paling bawah kapal ini.
"Temani saya Clean, kesana."
"Baik Ki Saleh."
Miss Nancy dan Sabrina sama sekali tidak terusik dengan kehadiran Ki Saleh dan Mr Clean. Keduanya justru semakin asyik berbicara dengan anak-anak belia itu.
"Kamu di belakang saya Clean." Ki Saleh bezikir. Disusul dengan menggerakkan tangan kanannya seakan hendak memegang sesuatu.
Reeeesh ...
Jegreeek ...
Miss Nancy dan Mrs Sabrina membalikkan badannya. Kemudian melangkah pelan dengan tatapan kosong mendekati Ki Saleh.
"Allahu Akbar ..."
Tiga kali dia baca sambil menepuk pundak Miss Nancy, berikutnya Mrs Sabrina Muhsin.
Haaaaa ...?
Keduanya tersadar.
"Tanteee ...!" Teriak si pirang dan teman sebayanya. Berharap Nancy dan Sabrina kembali kepada mereka.
"Jangan Dik. Dunia kita dengan dunia merek berbeda," jelas Ki Saleh.
"Nancy, Sabrina. Dengar apa kata Ki Saleh barusan ... Sini ... Kesini ... Cepaaat."
"Males ah," gurau Nancy.
Ssssst ...
"Cepat. Tak ada waktu lagi untuk main-main," ingat Clean.
"Kembalilah ke asalmu Nak. Jangan ganggu Kami. Kami akan pergi," ujar Ki Saleh.
"Tidak. Siapa anda?" Si pirang tiba-tiba melotot tajam. Dia marah besar.
"Saya teman mereka," ucap Ki Saleh dengan tenang.
"Kembalikan teman kami ..."
"Kembalikan teman kami ..."
"Kembalikan teman kami ..."
Kapal bergerak. Ke kiri dan kanan. Padahal ombak besar tidak ada.
"Cepat ke tangga ...!" Ajak Mr Clean.
"Dululah kalian. Biar saya yang selesaikan masalah ini," jelas Ki Saleh.
Ki Saleh memejamkan matanya. Dia mengucap sesuatu dengan tasbih di tangannya.
"Aduh ... Panaaas!" Jerit si pirang.
Dari kepala pirang cs, yang kemudian berubah ujud menjadi nenek-nenek, keluar api yang membakar muka dan kedua tangan.
Jerit histeris, saking kencangnya jeritan itu, terdengar sampai ke telinga Mrs Sabrina dan Nancy yang sudah berada di dalam pesawat.
Ki Saleh bergerak mundur. Dia bergegas menuju lantai atas, mendekati tangga. Dengan satu kali lompatan dia sudah berada di tangga pesawat, disambut Kopral Jono.
Pesawat pun lepas landas ...
Jeeees ...
Jegraaam ...
Guaar ...
Guaaam ...
Setelah pesawat mulai meninggi, terdengar ledakan dahsyat. Kapal barang tanpa muatan itu meledak seketika.
Hancur berkeping-keping ...
THE END
Lantak (10)
Oleh Wak Amin
23
"K0PRAL, kita ke kanan kayaknya." Ki Saleh memilih lebih dulu melangkahkan kakinya. Sesekali dia menyi bakkan semak di kanan kirinya dengan kayu dan tangan.
Mereka kini sudah mendekat ke bangkai pesawat terbang yang jatuh belum lama ini. Namun, ketika sampai ke dekat sebuah pohon yang besar, Ki Saleh meminta Kopral Jono dan anak buahnya berhenti sebentar.
"Sebaiknya kita sembunyi di situ," ujar Kopral Jono, menunjuk ke se buah batu besar tak jauh dari tempat mereka berdiri sekarang ini.
"Kita lihat sebentar, apa yang bakal terjadi," bisik Kopral Jono.
Hening seketika. Ki Saleh mengeluarkan tasbihnya. Dia pejamkan mata sambil berzikir.
Setelah itu ...
Lewat kedua mata hatinya, Ki Saleh dapat melihat ratusan orang di depannya siap menyerang dengan bersen jatakan tombak dan anak panah. Tanpa pakaian, kulit mereka hitam legam. Ada wanita, juga pria. Pria lebih banyak jumlahnya.
"Kita mundur Ki?!" Kopral Daud menawarkan jalan keluar. Tak mungkin menghadapi musuh sebanyak itu, makhluk asing lagi. Yang tak kenal manusia dengan segala keunikannya kecuali hutan belantara.
"Menurutmu Kopral Paiman?"
"Maju terus, Kopral Jono. Cuma apa tidak sebaiknya kita mundur lebih dulu. Setelah aman dari incaran mereka, baru kita ke lokasi jatuhnya pesawat."
"Saya setuju," sahut Kopral Anwar. Tapi apa tidak sebaiknya kita segera pergi dari sini. Kita kesini bukan untuk berperang melawan mereka. Kita hanya ingin memastikan pesawat yang jatuh itu diketemukan dan korban sudah tidak ada lagi."
"Sebaikny begitu Kopral," kata Inspektur Polisi Smith menjawab pertanyaan Kopral Jono.
Ki Saleh juga setuju. Lebih diutamakan keselamatan.
" Saya lihat juga bangkai pesawatnya hanya sedikit. Selebihnya sudah menyemak," jelas Ki Saleh.
Mereka akhirnya memutuskan untuk mundur. Beberapa saat belum ada reaksi dari Bos Jojo dan para pengikutnya. Baru ada teriakan 'serang' setelah Kopral Jono satu kilometer di depan mereka.
Belantara seolah bergemuruh. Teriakan makhluk hutan itu, saking kencang dan ramainya, membuat pohon-pohon besar 'seolah' bergoyang.
Semak dilewati. Pepohonan dipanjati. Terpaksa bergelantungan, berpindah dari satu pohon ke pohon lainnya agar lebih cepat dan mudah menangkap Kopral Jono cs.
"Kopral. Kita terkepung," teriak Kopral Anwar.
Di belakang mereka ada tebing curam, tapi tidak ada air. Di bawah tebing tampak pepohonan besar dan belantara.
"Terpaksa kita lawan mereka, Ki." Kata Kopral Jono. Musuh pantang dicari. Namun harus dilawan jika sudah di depan mata.
Tungguuu..." Ki Saleh mengambil beberapa helai tanaman hutan, lalu daunnya dia lemparkan ke atas.
Fleeeesh ...
Fleeeeesh ....
Fleeeeesh ...
Asap tebal putih membubung tinggi. Bos Jojo beserta pengikutnya panik. Selain tak bisa melihat apa pun di depan mereka, nafas jadi sesak.
"Ayo Kopral. Kita lariiii ...!" Ajak Ki Saleh. Mereka diminta Ki Saleh untuk berbaris ke belakang sambil berpegangan tangan.
Heyaaaa ...
Ceplaaaash ...
Seolah terbang, Kopral Jono cs dapat melihat dengan jelas bagaimana 'terkulainya' Bos Jojo dan pengikutnya menghadapi asap yang semakin pekat.
Mereka tak bisa melewati asap itu. Padahal tidak ada pagar di dekat mereka. Ada di antaranya coba berdiri dan ingin keluar dari kepungan asap itu. Tapi tak seorang pun yang bisa.
"Toloooong ... Pediiih .... Pediiiih.!" Teriak mereka sambil menutup kedua mata karena pedih dan perih terkena asap.
Sementara yang lain jatuh pingsan, Bos Jojo dan pengawalnya mencoba bangkit. Dia meneriaki para pe ngikutnya untuk mundur. Tak usah memaksakan diri melewati gumpalan asap itu.
"Bangunkan mereka. Cepaaat!" Bahu membahu membangunkan teman yang terkulai pingsan. Ada yang dipapah, digendong dan dibopong bersama-sama.
Mereka akhirnya berhasil keluar dari kepungan asap. Meski untuk menemukan dan menangkap Kopral Jono cs mereka telah gagal. Karena tak mungkin terkejar lagi.
Mereka sudah berada di dekat pesawat. Siap terbang untuk menemukan keberadaan Letnan Salam cs yang saat ini memerlukan pertolongan secepatnya.
24
"MEREKA sudah dekat, Let." Kata Miss Nancy seusai menyambut telepon dari Kopral Jono yang memberitahu posisi mereka saat ini. Mereka sudah dekat dan kini bisa melihat kapal yang ditumpangi Letnan Salam dan kawan-kawan.
"Bagaimana keadaan di sana Let?" Tanya Kopral Jono.
"Cuaca baik. Ombak tidak terlalu tinggi," jawab Letnan Salam.
Pesawat terbang kian mendekat.
"Nanti kami mendarat di samping kapal anda dan rekan-rekan diminta turun dari kapal lewat tangga," jelas Kopral Jono.
Semua sibuk berkemas. Terakhir yang mendekati tangga kapal adalah Miss Nancy dan Mrs Sabrina. Keduanya dicegat anak-anak penunggu kapal.
"Jangan pergi Tante," kata si pirang dengan suara memelas. "Tinggallah bersama kami di kapal ini ..."
"Iya Tante." Kata yang lain. "Apa Tante tidak merasa kasihan melihat kami."
Dialog antara Miss Nancy dan Mrs Sabrina dengan sekelompok anak ini berlangsung selama kurang lebih tiga menit.
Saat itu, andaikata Mr Clean dan Mr Jodi tidak mengajak keduanya segera pergi dari lantai dua merapat ke tangga kapal, entah bagai mana nasib mereka.
"Nancy .."
"Sabrina ..."
"Nancy ..."
"Sabrina ..."
"Nancy ..."
"Sabrina ..."
Sampai tiga kali nama dipanggil, Sabrina dan Nancy baru tersadar. Mereka sebelum ini lupa jika nyaris mema suki dunia lain.
Seketika mereka naik ke lantai atas. Pesawat sudah mendarat. Namun entah kenapa, Sabrina dan Nancy urung meniti anak tangga.
"Biarkan saya yang urus Letnan," ujar Ki Saleh. Dia menaiki anak tangga, lalu meminta Mr Clean menemaninya.
Mencari keberadaan Miss Nancy dan Mrs Sabrina.
"Biasanya mereka di sini," ucap Mr Clean, memperlihatkan kamar tempat kedua teman wanita seprofesinya ini tidur.
"Sebentar ya Mr Clean ..."
Ki Saleh mengambil tasbihnya. Dia baca sesuatu. Kemudian tasbih itu ditaruh di lantai.
Seketika terdengar suara Miss Nancy dan Mrs Sabrina sedang berbicara sesuatu dengan anak-anak.
"Di ruang mesin sepertinya Ki Saleh," kata Mr Clean. Dia yakin suara itu berasal dari ruang mesin. Lantai paling bawah kapal ini.
"Temani saya Clean, kesana."
"Baik Ki Saleh."
Miss Nancy dan Sabrina sama sekali tidak terusik dengan kehadiran Ki Saleh dan Mr Clean. Keduanya justru semakin asyik berbicara dengan anak-anak belia itu.
"Kamu di belakang saya Clean." Ki Saleh bezikir. Disusul dengan menggerakkan tangan kanannya seakan hendak memegang sesuatu.
Reeeesh ...
Jegreeek ...
Miss Nancy dan Mrs Sabrina membalikkan badannya. Kemudian melangkah pelan dengan tatapan kosong mendekati Ki Saleh.
"Allahu Akbar ..."
Tiga kali dia baca sambil menepuk pundak Miss Nancy, berikutnya Mrs Sabrina Muhsin.
Haaaaa ...?
Keduanya tersadar.
"Tanteee ...!" Teriak si pirang dan teman sebayanya. Berharap Nancy dan Sabrina kembali kepada mereka.
"Jangan Dik. Dunia kita dengan dunia merek berbeda," jelas Ki Saleh.
"Nancy, Sabrina. Dengar apa kata Ki Saleh barusan ... Sini ... Kesini ... Cepaaat."
"Males ah," gurau Nancy.
Ssssst ...
"Cepat. Tak ada waktu lagi untuk main-main," ingat Clean.
"Kembalilah ke asalmu Nak. Jangan ganggu Kami. Kami akan pergi," ujar Ki Saleh.
"Tidak. Siapa anda?" Si pirang tiba-tiba melotot tajam. Dia marah besar.
"Saya teman mereka," ucap Ki Saleh dengan tenang.
"Kembalikan teman kami ..."
"Kembalikan teman kami ..."
"Kembalikan teman kami ..."
Kapal bergerak. Ke kiri dan kanan. Padahal ombak besar tidak ada.
"Cepat ke tangga ...!" Ajak Mr Clean.
"Dululah kalian. Biar saya yang selesaikan masalah ini," jelas Ki Saleh.
Ki Saleh memejamkan matanya. Dia mengucap sesuatu dengan tasbih di tangannya.
"Aduh ... Panaaas!" Jerit si pirang.
Dari kepala pirang cs, yang kemudian berubah ujud menjadi nenek-nenek, keluar api yang membakar muka dan kedua tangan.
Jerit histeris, saking kencangnya jeritan itu, terdengar sampai ke telinga Mrs Sabrina dan Nancy yang sudah berada di dalam pesawat.
Ki Saleh bergerak mundur. Dia bergegas menuju lantai atas, mendekati tangga. Dengan satu kali lompatan dia sudah berada di tangga pesawat, disambut Kopral Jono.
Pesawat pun lepas landas ...
Jeeees ...
Jegraaam ...
Guaar ...
Guaaam ...
Setelah pesawat mulai meninggi, terdengar ledakan dahsyat. Kapal barang tanpa muatan itu meledak seketika.
Hancur berkeping-keping ...
THE END
Langganan:
Postingan (Atom)