Minggu, 30 Juli 2017

El-Maut (3)





Novel …

El-Maut  (3)
Oleh Wak Amin

5
TURUN dari train, Muhsin dan Sabrina melanjutkan perjalanan menuju mall terbesar di kota ini. Mall itu terletak  di dekat airport. Tempatnya luas, bangunannya megah dan indah, apalagi bila dilihat pada malam hari.
“Menurut kamu Mas?”  Sabrina selfie sejenak di depan gerbang mall, lalu menghadapkan mukanya ke ratusan pengunjung yang antrian membeli es krim.
“Bagus Yang. Bagus tapi sederhana,” komentar  Muhsin. Suatu hari nanti dia ingin punya mall seperti yang dilihatnya saat ini.
“Ayo Mas. Kita masuk yuk!” Ajak Sabrina, senang nian ia. Begitu kaki menginjak pelataran mall tak henti-hentinya mengambil gambar dari berbagai sudut dan pandang.
“Enggak beli  es krim dulu apa?”
“Nanti aja Mas. Lagi ramai. Malas aku antrian itu.” Sabrina mengajak suaminya berlari-lari kecil sampai ke pintu masuk utama mall.
“Enggak takut capek apa?”
“Udah biasa …”
Sampai di pintu masuk mall, Sabrina mencari-cari handuk kecil miliknya dalam tas, tapi tidak ketemu. Pada akhirnya …
“Pakai ini aja ya say …” Muhsin memberikan beberapa lembar tisu, cukup buat menyeka peluh yang membasahi sekitar leher dan wajah.
Mall yang dimasuki Sabrina dan Muhsin ini lumayan besar dan luas. Di dalamnya sudah banyak pengun jung dari berbagai macam profesi dan usia. Mulai dari anak-anak hingga beranjak tua. Namun tidak ter lihat para lansia yang seringkali dibantu berjalan oleh anggota keluarganya, atau denga hanya menggunakan kursi roda.
“Mau belanja say?”
Sabrina berpikir sebentar …
“Enggak usah say. Kita lanjut sajalah. Udah dari tengok baju kita langsung aja ke tempat yang lain,” kata Sabrina.
Di lokasi penjualan es krim, kawasan parkiran mall, antrian semakin panjang. Jika tadi diantri sebagian besar kalangan muda usia, kini para ibu dan anak-anak, baik yang masih dalam gendongan maupun yang sudah bisa dilepas berjalan sendiri.
Ketika ada serombongan remaja yang baru ngumpul  di parkiran, menggunakan lima unit mobil bus berukuran besar, Sabrina dan Muhsin keluar dari pintu samping mall.
Sejenak keduanya memandang ke tepian danau yang di kanan kirinya ditumbuhi aneka tanaman serba hijau. Lepas itu, mereka melanjutkan perjalanan lagi menggunakan taksi kota.
Mau kemana mereka?
Sesuai petunjuk dan saran Mr Clean, yang dihubungi Sabrina semalam, mereka menuju ke lokasi penye waan sepeda. Dengan bersepeda mereka bisa leluasa mengitari pusat dan kawasan pinggiran kota.
Karena Muhsin yang sudah terbiasa menggunakan sepeda, Sabrina meminta suaminya yang membon ceng. Sepeda yang mereka sewa itu lumayan besar dari sepeda ukuran standar.
Karena tempat duduknya berlainan, dua sepeda disambung jadi satu, sama-sama mengayuhlah. Dikayuh lambat. Sepeda pun meluncur dengan lambat.
“Kemana dulu ya say?” Muhsin menoleh ke belakang. Dia tersenyum melihat Sang Isteri sumringah. Ter tawa lepas, berkacamata hitam, memandang para pesepeda lain yang mulai bergerak meninggalkan lokasi penyewaan sepeda.
Kriiiing …
Poooong …
Kriiig …
Pooong 
Kriiing ..
Pooong …
Suara bel sepeda yang lucu dan bersahut-sahutan membuat Sabrina ketawa terpingkal-pingkal.

6
“YANG …”
“Apa?”
“Ke taman ya?”
“Oke …”
Belok ke kanan, sepeda meluncur lambat ke taman pinggiran kota. Taman yang indah. Saking indahnya, Sabrina tak henti-hentinya menyebut ‘subhanallah.’
“Kiri ya say …?”
“Oke ..”
Kriiing ..
Poooong …
Kriiing …
Pooong …
Sekelompok anak-anak hendak keluar dari pintu gerbang taman. Mereka berbaris rapi. Entah mengapa mereka dipandu seorang guru kelas wanita. Siswa sekolah dasar itu bernyanyi sambil melangkahkan kaki ke kanan luar taman yang lumayan besar dan luas itu.
Sabrina memilih mengelilingi taman dengan cara bersepeda.  Karena dengan bersepeda semua tempat akan terjelajahi.
“Yang pasti enggak terasa capek,” kata Muhsin. Dia menghentikan sejenak kayuhannya. Dia turun dari sepeda. Dia mengambil beberapa gambar dengan latar belakang bunga tulip.
“Indah betul ya Mas,” puji Sabrina. Dia minta sang suami mengabadikannya di depan jejeran bunga tulip.
Cek … lek.
Cek .. lek.
Cek .. lek.
“Mas enggak?”
“Selfie berdua aja ya say …”
“Boleh. Aku suka kok ..”
Muhsin dan Sabrina mendekat ke hape android. Lalu …
Cek .. lek.
Foto berdua selesai dengan tiga  posisi: ketawa, senyum dan berangkulan.
“Kesana yuk Mas!” Sabrina menunjuk ke sebuah danau kecil yang sangat jernih airnya.
“Yuk. Aku suka danau itu.”
Danau kecil itu sepertinya hanya diperuntukkan bagi pasangan yang lagi menikmati bulan madu. Bukti nya, beberapa pengunjung danau adalah pasangan  muda usia. Mereka terlihat sangat mesra.
Ada yang duduk di bangku panjang, bermain sampan, jalan berdua sambil berangkulan. Bahkan ada juga yang menggelar tikar. Duduk berdua, menguntai cinta, membagi rasa.
Mereka seolah sudah saling kenal. Padahal tidak demikian. Ini dikarenakan masing-masing mereka melakukan aktivitas yang berbeda dengan rasa aman, nyaman tanpa gangguan.
“Lho … Kok gitu Yang?!” Mengingatkan Sang Istri yang senyum-senyum sendiri melihat tingkah polah pasangan seusia mereka asyik bercumbu dan  bercengkrama berdua.
“Jalan yuk!”
“Capek ah!” Jawab Sabrina, rada manja dan ingin dipeluk suami tercinta. Muhsin memenuhi permintaan itu. Ia peluk isterinya seerat dan semesra mungkin. Ia bisikkan kata cinta, kata sayang dan puisi cinta.
Sabrina berlarian ke tepi danau, disusul Muhsin. Lalu ia peluk dan angkat tubuh Sabrina sambil berputar. Keduanya menyusuri tepian danau. Kemudian berhenti dekat jembatan kayu tempat sampan-sampan ditambatkan.  Sampan-sampan itu dicat berwarna-warni. Juga kayuhnya.
Beberapa pasangan seolah enggan turun dari sampan. Mereka tidak menepikannya.  Mereka sengaja menghentikan kayuhannya di tengah danau.
Apa yang mereka lakukan?
Mereka bercumbu dengan sesekali tertawa lepas. Berciuman dan membiarkan sampan jalan sendiri. 
“Mau ya say?”
Sabrina belum memutuskan.
“Udah .. Yuk kita naik,” ajak Muhsin.  Menggandeng tangan isterinya. Memeluknya sejenak sebelum  keduanya menaiki sampan yang tertambat di tiang jembatan.
Air danau seolah kian jernih. Ikan-ikan berseliweran. Panorama sekitar danau terasa nyaman dinikmati. Ada rumah-rumah kecil, membuat siapa pun yang mengelilingi danau dengan sampan,  walaupun cuma berdua, tak bakalan merasa takut dan was-was. Begitu indah dengan hembusan angin yang acapkali datang menyinggahi dari arah yang berbeda-beda.
Suara cicit burung tak henti terdengar. Menambah asri kawasan danau. Ah, bisik Sabrina pada suaminya, sungguh indah bulan madu ini dinikmati berdua.

Tobe continued …     

Kamis, 27 Juli 2017

El-Maut (2)



Novel …


El-Maut (2)
Oleh Wak Amin




3
“AYO Mbak .. Yang kuat.” Teriak teman satu kelompok Sabrina. Dia menyemangati isteri Muhsin ini karena berkali-kali jatuh bangun saat menarik tali tambang.
“Ayo Yang … Yang kuat!” Pekik Muhsin. Sabrina berdiri lagi. Lalu menarik tali bersama rekan-rekannya yang lain.
Nyaris berhasil …
Tuuuus …
Bruuuk …
Ha h?a ha ha …
Tali tambang putus.  Terlepas dari pegangan lawan, Sabrina dan kelompoknya terpental beberapa meter ke belakang.
Pihak panitia segera turun tangan. Memberikan bantuan kepada Sabrina cs. Tidak ada yang terluka. Cuma rasa nyeri di pantat, termasuk Sabrina.
“Kamu enggak apa-apa Yang?” Muhsin mengusap lembut punggung isterinya.
“Enggak,” jawab Sabrina. “Cuma nyeri saja di pantatku karena terhempas tadi.”
“Urut ya?”
“Enggak usah Mas. Nanti juga hilang,” ujar Sabrina. Dia dan anggota kelompoknya sudah berdiri dan siap melanjutkan permainan tarik tambang.
“Pemenang sesi kedua adalah kelompok biru,” kata juri lewat pengeras suara.
Wuuuu …
Kelompok ibu yang berpakaian serba putih protes sambil ketawa dan tersipu malu.
Memasuki sesi ketiga …
Kedua kelompok dipersilakan berembuk selama dua menit. Kesempatan ini dimanfaatkan Sabrina untuk  bertukar pikiran dengan teman sekelompoknya.
“Mbak … Pindah aja ke depan, kenapa sih. Demen ya di belakang?” Tanya seorang ibu muda berkulit hitam manis dengan rambut sepanjang bahu . Langsing dan murah senyum. Sepanjang perlombaan, ibu beranak satu ini tak pernah lepas dari senyum manis yang menghias di sela bibirnya.
“Iya don Mbak. Kita yakin deh. Kita bakalan menang. Karena Mbak orangnya kuat. Ototnya gede,” seloroh ibu berambut keriting yang baru beberapa bulan melepas masa lajang.
Merasa didorong terus menerus untuk berpindah tempat, Sabrina akhirnya bersedia. Dia tak berkeberatan. Hitung-hitung nyobain bagaimana rasanya menarik tali tambang dari posisi paling depan.
“Mari kita mulai sesi ketiga …” Panitia memina dua kelompok peserta tarik tali tambang bersiap. Beberapa saat lagi permainan akan segera dimulai.
Dari balik tali pembatas antara penonton dan pemain, Muhsin tak henti-hentinya menyemangati Sang isteri yang semula cuek karena konsentrasi untuk memenangi perlombaan.
“Yang …!”
“Yang ..!”
Sabrina menoleh. Dia melepas senyuman sebagai isyarat siap bermain maksimal. Juga para ibu yang lain. Tetap mendapat support dari suami dan keluarga mereka.
“Okeee. Siaaaap. Satu .. dua .. ti …ga.”
Gedebuk.
Auuuw …
Kelompok putih, entah bagaimana ceritanya,  jatuh barengan. Bertumpuk seperti pedagang ikan menumpuk ikan dagangan.
Perlombaan terpaksa ditunda beberapa saat. Sampai ibu-ibu yang berada di kelompok putih menyatakan ‘oke’ dan siap melanjutkan perlombaan.
“Alhamdulillah,” kata panitia berambut keriting bergelombang setelah mendapat kepastian kelompok putih siap melanjutkan permainan tarik tambang.
Priiit …
Kedua kelompok berdiri.
Priiit …
Kedua kelompok pegang tali tambang.
Priiit …
Tali siap ditarik.
Priiit …
Tarikan pun dimulai.
Satu menit belum ada yang bergerak dari posisi masing-masing. Memasuki menit kedua, kedua kelompok mulai kepayahan. Pada menit ketiga nafas tersengal-sengal, dan di menit kelima kedua kelompok sama-sama melepaskan tali dan merebahkan tubuh mereka di tanah berlumpur.


4
MENUMPANG train jelang siang …
Tak begitu ramai penumpang, namun riuh suasananya. Karena banyak anak-anak yang sengaja  dibawa orangtua mereka menikmati keindahan kota dari train. Keriuhan inilah yang sangat disukai Sabrina.
“Kalau begitu kamu akan banyak anak sayang,” kata Muhsrin sembari mengajak Sang Isteri melihat keindahan pusat kota dengan berbagai kesibukan.
“Apa hubungannya Mas antara keriuhan dengan anak?” Sabrina merebahkan kepalanya di bahu Muhsin. Dia ingin bermanja ria dengan suami tersayang. Momen seperti ini sangat langka.
“Kata orang-orang tua dulu kala wanita itu suka dengan keriangan anak-anak, ramai begitu, pasti baka lan banyak anak,”terang Muhsn sembari memberikan permen kepada Sang Isteri. Permen cokelat itu sudah lama ia simpan dan sengaja diberikan kepada orang terkasih saat berbulan madu.
“Satu lagi say. Tempat duduk,” ujar Muhsin. Dia mencium pipi Sabrina. Dia tidak tahu ada anak-anak di belakangnya. Mereka tertawa lalu berlari dan memeluk hangat ibu mereka.
“Apa itu say?”
“Tempat duduk. Kalau dingin berarti sedikit anaknya. Sebaliknya kalau panas, anak kita bakalan banyak.”
“Udah Mas ah.” Sabrina mulai tak suk Muhsin cerita yang belum tentu benar adanya.
“Lho .. Say, kok ngambek gitu?” Muhsin memeluk erat Sabrina.  Setelah train melewati terowongan pusat kota, baru ia lepaskan.
“Coba sekarang berdiri say. Sebentar aja. Mau ya, demi aku. Suamimu.”
Sabrina menoleh ke belakang, para ibu dan anak-anak memintanya berdiri. Jadi bisa tahu, panas atau dingin.
“Mereka aja setuju aku kalau kamu berdiri.. Masa enggak mau.”
Dengan berat hati Sabrina berdiri sebentar. Lalu duduk lagi.
Eeeeem …
“Gimana Mas?”
“Coba kamu rasakan sendiri dengan tanganmu say.” Pinta Muhsin. Sabrina mau menaruh telapak tangannya di atas  tempat duduknya setelah ditarik lembut Muhsin.
Plak .. pak .. plak .. pak …
“Gimana Yang?”
“Hot …”
Ha ha ha ha …
Melihat penumpang train yang duduk dekat Muhsin dan Sabrina tertawa sambil bertepuk tangan, Sabrina jadi malu hati.
Dia tidak lagi malu hati setelah train singgah sebentar menurunkan penumpang. Lima menit berselang train berangkat lagi. Kali ini penumpangnya rata-rata seusia Sabrina.
“Apakan mereka berbulan madu juga ya?”
“Kayaknya sih,” bisik Muhsin dengan suara mendesah manja.
“Kok kayaknya?”
“Tanya aja sendiri kalau kamu penasaran say.”
“Enggak mau ah. “ Sabrina mengambil  sebotol air mineral dari dalam tas kulitnya. Ada dua pipet. Bersama Muhsin, dia isap pelan-pelan itu air.
Ehem …
Nikmat sekali. Sulit dibayangkan betapa nikmatnya minum berdua suami dalam satu botol. Sambil ketawa, senyum, cubit-cubitan, tak ada yang pedul.
“Yang …!”
“Pasti mau ngebahas soal anak kan?”
“Iya juga sih,” aku Muhsin. Dia mencolek tangan isterinya untuk sejenak menoleh ke belakang, pasangan muda usia tadi. Berciuman mesra tanpa merasa risi satu sama lain.
“Mas mau?”
“Nanti aja, di tempat sepi,” bisik Muhsin terus terang. “Kalau di tempat sepi kan mau manja-manjaan kita. Lama boleh, sebentar juga enggak ada yang ngelarang. Enggak ada yang lihat pula.”
“Mas …”
“Apa say?”
“Kenapa ya say, mereka seperti orang pacaran saja. Udah mesra, lama pula. Masa sih ciuman aja sampai sepuluh menit. Amit-amit deh. Apa enggak bosen.”
“Ya enggaklah say. Ciuman mereka itu untuk memperkuat hubungan batin mereka. Itu menurut saya.”
“Kok tahu. Mas Muhsin udah pengalaman ya …”
“Enggak ah.”
“Kenapa bisa tahu kalau ciuman mereka itu untuk memperkuat hubungan batin mereka?’
“Nerka aja say …”
Iiiiich …
Muhsin kena cubit lag. Sudah puluhan kali dia dicubit sayang oleh Sang Isteri …

Tobe contiued  

El-Maut (1)

Novel ...

El-Maut  (1)
Oleh Wak Amin


1
"YANG kencang Mas tariknya," te riak Sabrina. Dia ingin main ski air. Makanya, pada kesempatan bulan madu ini, Muhsin sang suami, memenuhi janjinya untuk menemani sang isteri tercinta bermain ski sepuas hati.
Kebetulan lokasi mereka bermain ski air ini dikunjungi banyak orang. Sebagian besar pasangan muda usia, namun sebagian kecil sama seperti Muhsin-Sabrina, menikmati bulan madu berdua.
"Hei Misis. Balik badan dong!" Kata seorang bule meneriaki Sabrina agar tak monoton ketika bermain ski air.
Sesekali, saran si wanita berparas cantik itu, balik badan. Membelakangi kapal penarik tali ski. Jika memungkinkan berakrobatik dengan misalnya, memegang tali ski dengan satu tangan, sementara tangan sa tunya memegang kaki sebelahnya yang diangkat ke belakang.
Plak ... pak ... plak .. pak ..
Semua pengunjung bertepuk tangan ketika Sabrina sukses memutar balik badannya saat kapal berbelok dengan kecepatan sedang.
"Itu baru hebat," puji salah seorang wanita kepada teman wanitanya yang bersiap untuk bermain ski.
"Apa kamu ingin seperti dia kawan?"
"Iya," jawab perempuan berambut pirang itu menunjuk Sabrina yang masih berputar-putar.
"Oke," kata si teman.
"Kita tengok saja nanti," sahut si pirang percaya diri. Dia berjanji akan memberikan yang terbaik kepada pengunjung pantai nan landai ini.
Sore hari pengunjung semakin ra mai. Bukan cuma para ibu dan pa sangan pengantin baru, tapi juga ABG, anak-anak dan bahkan bali ta yang antusias menonton dari jarak yang tidak terlalu dekat dari arena bermain ski.
Selain berpasir putih, keunggulan 'Pantai Kangen' ini ada pada ba nyak fasilitas yang disediakan. Mulai dari kolam renang, tempat bermain anak-anak, pemeliharaan ikan air tawar dan laut, paralayang, outbond, panjat tali dan tebing, hingga ski, menyelam dan mancing.
Tak heran jika Pantai Kangen se lalu dibanjiri penumpang yang se ngaja datang dari jauh, puluhan kilometer dari tempat tinggal mereka.
Berombongan, sendiri, satu dua  keluarga, berpasangan dan sendi rian untuk melakukan riset serta studi kelayakan.
"Udah ya?" Sapa Muhsin ketika Sabrina membersihkan badannya di kolam air tawar.
"Mas enggak main apa?"
"Enggak usah say ..."
"Nanti nyesel lho Mas. Buat apa datang jauh-jauh ke negeri orang jika tidak mau coba sesuatu yang baru," kata Sabrina. Sesaat dia menyelam, berenang dan duduk di pinggir kolam.
"Mas mau coba main yang lain sajalah say ..."
"Mainlah Mas. Biar aku tunggu di sini. Seperti Mas lihat sendiri kan, banyak wanita sebayaku yang membersihkan badan di kolam ini."
"Iya  ... Tapi Mas pinginnya ikut temeni Mas ya. Mau kan?"
"Temeni kemana Mas?"
"Ada deh," ujar Muhsin tersenyum menawan. Harapannya sang isteri mau menemaninya bermain.
"Kalau enggak mau Mas?"
"Nyesel lho. Mas jamin kamu bakalan nangis dan menyesal seumur hidup kalau sampai menolak," terang Muhsin.
Sabrina jadi penasaran dibuatnya.
Huuup ...
Byuuur ...
Setelah berendam sejenak  Sabri na melompat naik ke pinggir ko lam. Meraih handuk dari gengga man Muhsin.
"Penasaran aku Mas," kata Sab rina, meminta sang suami me ng ambilkan pakaian penutup badan nya yang sedikit terbuka di bagi
an dada dan betis.
"Sekarang ikut Mas ...!"
"Bentar dulu ah ..."
"Udah. Mas sudah siapin pakaian disana. Cepat ah say ..."
Karena terburu-buru, kaki Sabrina terkilir, mengaduh kesakitan. Beruntung Muhsin sigap bertin dak. Sang isteri tak sampai jatuh. Berhasil dipeluk dan digandeng mesra.
Hiiiip ...
Dengan cepat Muhsin menggendong isterinya melewati jalan setapak dekat jejeran pohon pinus.
Mata Sabrina terbelalak melihat pemandangan sekitar. Serba hijau, diapit danau kecil.
"Kamu lihat kan say?"
"Sawah?"
"Itu, di sebelah kananmu say ..."
Puluhan mobil sejenis jeep ukuran besar siap berkeliling. Tersisa satu, khusus buat Muhsin yang telah ia pesan sebelumnya.
"Lho, kok bingung say?"
"Jadi ...?"
"Kita berkelilinglah melihat-lihat pemandangan sekitar. Mau ya temeni Mas? Atau Mas sendiri yang naik ke mobil, kamu tunggu saja di sini ..."
Sabrina mencubit lengannya Muhsin.
"Banyak nyamuknya ,,,,,Mas."
Ha ha ha ha ...


2
SETELAH dinikmati beberapa menit,  Sabrina jatuh cinta dengan perjalanan singkat ini. Walau cuma satu setengah jam, mengelilingi aneka tanaman dan areal persawahan, lebih dari cukup.
Sulit melukiskannya dengan kata-kata betapa bahagianya Sabrina pada sore hari ini. Apalagi dia sempat diajak Muhsin bermain tarik tambang bersama warga sekitar.
Warga sekitar pantai menggelar berbagai acara sederhana tapi menarik hati wisatawan. Kegiatan yang ditawarkan kepada pengunjung berbeda-beda.
Misalnya saja, jika minggu kemarin pengunjung diajak bermain bola plastik lengkap dengan empat tiang kayu berukuran kecil, sore hari ini tarik tambang.
Tarik tambang yang ditawarkan berbeda dengan tarik tambang kebanyakan. Selain dapat hadiah ala kadarnya seperti permen, rokok dan sejenisnya. Peserta harus bisa mengatasi becek dan licinnya tempat kaki ini berpijak.
Bagaimana caranya?
Ada dua kelompok peserta. Setiap kelompok terdiri dari enam orang. Mereka harus siap saling kalah mengalahkan. Peserta yang dinyatakan menang adalah yang berhasil membawa masuk lawannya ke lingkaran tengah.
Setiap kelompok diberi waktu empat sesi. Sesi pertama berlangsung lima menit. Sesi kedua tujuh menit. Sesi ketiga sembilan menit dan sesi keempat sepuluh menit.
Karena tujuan utamanya bukan untuk mencari menang selain hiburan dan bersenang-senang semata, setelah menyelesaikan empat sesi tak satu kelompok pun yang berhasil keluar sebagai pemenang, permainan tarik tam bang dinyatakan draw dan tidak dilanjutkan lagi. Hadiah te tap dapat. Dibagi dua di tempat.
"Siap ya sayang ya?"
"Siap Mas," kata Sabrina. Dia bergabung dengan kelompok ibu-ibu di sebelah kanan. Dia menempati urutan paling belakang.
Permainan segera dimulai ..
"Siap ibu-ibu?" Teriak seorang pria muda dari atas kursi setinggi lima meter.
"Siaaaap ...!" Jawab ibu-ibu serempak. Tidak ada ketegangan. Raut muka ceria. Ada yang tertawa, bersenda gurau, tepuk pundak dan pantat.
Priiiit ...
Sesi pertama dimulai ..
Gedebug ...
Hua ha ha ha  ..
Karena licin, kedua kelompok peserta sama-sama terpeleset. Mereka terjatuh dan pakaian pun kotor. Berubah hitam terkena lumpur.
Iba juga Muhsin melihat isterinya. Jatuh bangun menarik tali bersa ma teman-temnnya. Dia ingin menolong. Karena suami dari ibu-ibu yang lain hanya diam dan ha nya memberikan tepuk tangan, Muhsin akhirya ikut diam.
Gedebug ...
"Aduuuuh ... Mati aku," jerit ibu berperawakan gemuk. Dia agak lambat bangun. Belum sempat berdiri sudah jatuh lagi. Karena terdorong teman-teman sekelom poknya yang jatuh barengan.
"Istirahat." Kata wasit yang memimpin pertandingan.
Kedua kelompok memanfaatkan waktu istirahat untuk minum dan menyantap makanan ringan. Saling bercanda. Tapi panitia melarang peserta mengganti pakaiannya.
"Aduh . Gatal rasanya Mas," ujar Sabrina. Menggaruk- garuk punggungnya berulangkali.
"Udah gini aja. Mas basahi dengan air saja."
Muhsin mengambil sebotol air mi neral berukuran besar. Lalu botol itu ia siramkan sedikit air ke sisa lumpur yang menempel.
Dengan begitu Sabrina  tidak terla lu kotor lagi dan agak ringan ber gerak karena sudah tidak ada ko toran lagi. Meski warna hitam di berbagai belahan baju dan cela nanya masih terlihat di sana-sini.
"Oke ibu-ibu?"
"Okeee ..."
"Siap ibu-ibu?"
"Siaaaap."
Sesi kedua dimulai ....

Tobe continued


Minggu, 23 Juli 2017

Entok (11-Tamat)



Novel …

Entok (11)
Oleh Wak Amin

21
WAK Lung mintak waktu samo Wak Pet, Wak Agus en Wak Yeng, nak nyari duken celano dalem punyo penunggu danautu. Tapi dio bingung nak nyari kemano. Soalnyo, dak kenado salah lepak.
Pusing tujuh keliling, Wak Lung ngembek rokok sebatang dari kantong celanonyo. Dio enjuk api, dahtu diisep. Alangke sedepnyo. Diisep samo banyu kopi item manis.
Kiro-kiro jam setengah tujuh, Cek Lung metu dari dapur, embawak pakaian yang nak dijemurke di depan rumah. Dio la tau lakinyo kepeningan nyari celano dalem. Dio sengajo singitke. Dio dakken galak ngenjukkenyo.
“Ibuk,  apo dak kesiyan nyingok Abah cak wong lolotu,” kato Sri Wedari, nulung ibuknyo enjemur pakaian.
“Idakla. Biar jero dio,” uji Cek Lung, senyum lagi idak.
“Iyo Buk. Tapi Abah tetepla Abah. Kalu ado apo-apo kito beduwo pasti temelok jugola,” kato Sri, ngeluruske tiang jemuran yang sempat miring ke kiri.
“Sriii .. Sriii …!”
“Tuna, Abah kau manggil,” Cek Lung ngenjuk tau. “Cepetla datangi …”
“Kalu Abah nanyo celano dalem, makmanola Buk kiro-kiro?”
“Omongke bae dak tau.”
“Kalu Abah makso makmanola Buk?”
“Panggil Ibuk …”
Sri sebenarnyo maju-mundur nak nemui Abahnyo. Bukan karno takut. Tapi  nanyonyo pasti dak katik lain soal celano dalemtula.
“Bener kan?” Sri ngomong dewekan.
“Apo Ri?” Wak Lung nanyo celano dalem. Dijawab Sri dengan ecak-ecak dak tau sambil ngomong dewekan.
“Idak Bah.”
“Tadi Abah denger kau ngomong dewekan …”
“”Idak Bah. Abah salah denger kali. Buat apo Sri ngomong dewekan. Kan ado Abah. Lain kato kalu Abah dak katik. “
“Yo sudah kalu mak itu. “ Wak Lung ngematike rokoknyo. “Tulung niyan Sri, kalu bae awa teselik. Enjuk tau Abah.”
“Bah.”
“Awak tau?”
“Bukan Bah. Ngapo Abah dak nanyo langsung samo Ibuk. Mano tau Ibuk tau …”
Wak Lung tediem.
Sri Wedari nambah kesiyan nyingok Abahnyo. Dienjuk tau gek Ibuknyo marah. Idak dienjuk tau, yo kesiyanla. Abah dewek, bukan wong lain.”
“Bah.”
“Tulung carike ye celano dalemtu.”
“Galak aku nyarinyo Bah. Tapi ado syaratnyo …”
“La besyarat pulo.” Nambah pening pulo Wak Lung. Celano dalem lum dapet, nak mintak syarat pulo. Tapi dak katik caro lain. Tepakso dituruti. Kalu bae yang dicari dapet. Syarat yang diminta Sri idak berat igo.
“Makmano Bah?”
“Abah setuju bae. Asalke syaratnyo dak pulo berat igo …”
“Idak Bah,” kato Sri, duduk besilo ngadepke rainyo ke Wak Lung. Beadep-adepan.
“Syaratnyo Abah enjuk tau samo Sri, untuk apo celano dalemtu, punyo siapo, mak itu pentingnyo sampe Abah kepeningan nak nyarinyo.”
“Abah takut gek Ibuk kau …”
“Dak apo-apo Bah. Enjuk tau bae samo aku. Dijamin Bah, selesai  Abah becerio celano dalemtu pasti ketemu.”
“Awak singitke apo?”
“Idakla Bah. Buat apo aku nyingitkenyo. Celano dalem Sri banyak. Yang le nak buruk ado, yang baru dibeli kemarin ado. Betumpuk.”
Wak Lung diem.
“Bah.”
 “Payu kalu mak itu. Jangan kau enjuk tau ceritoni sambo Ibuk kau. Mati Abah digebukinyo.”
“Beres Bah. Beceritola  …”
Cek Lung yang baru nak masuk jeru rumah dari enjemur pakaian, melok nguping. Dio ngintip dari balik lawang. Wak Lung becerito samo Sri sambil nunjuk-nunjuk, cak nak ngongkon uwong beli udutan, ketawo samo takut …

22
WAKTU Wak Lung pegi ke warung, Cek Lung ngongkon anaknyo Sri masuk jeru kamar. Sri tekejut jugo. Dio takut emaknyo gelep mato. Enggebuk dio karno dipanggil Abahnyo tadi.
Dio baru ngeraso lego waktu Ibuknyo senyum. Idak cak taditu, pecak nak marah bae. Dikongkonnyo duduk pucuk kursi.
“Ibuk nak nanyo samo kau …” Cek Lung ngintip denget dari balik lawang sebelum ditutup rapat.
“Tanyola Buk. Mano yang biso Sri jawab, yo jawab. Kalu idak, yo dak usah aku jawab.” Kato Sri Wedari sambil embetulke letak enderoknyo.
“Apo yang diceritoke Abah kau taditu?”
Sri tibo-tibo ketawo ngakak.
“Sri … Sri …” Cek Lung tepakso nepak paho Sri supayo dak keterusan ketawonyo.
“Maafke Sri Buk,” kato Sri, sempat kesakitan ditepuk pahonyo. Kuat jugo soalnyo. Sampe bebunyi … Pak .. pak .. pak. Tigo kali.
“Ado yang lucu apo?” Cek Lung enjelitke matonyo pecak nak makan uwong.
“Lucula Buk.”
“Aponyo?”  Cek Lung nambah penasaran. Kalu taditu paho, sekarang pipi anaknyo yang dio cubit sampe teabang.
“Ceritonyotu Buk ye .. Abah becerito. Kalu dio keilangan celano dalem. Mak itu bae.”
Haaaa …?
Cek Lung tekejut dikit.
“Terus .. Terus …”
“Dio mintak tulung carike.”
Haaaa …?”
“Apo jawab awak?” Cek Lung mulak’I  nak marah. Jangan-jangan anaknyoni la ngenjuk tau dimano celano dalemtu disingitke.
“Ujiku Buk. Sri galak nyarikenyo, asalke pakek syarat.”
“Syarat?” Cek Lung la agak tenang, tapi lum lego.
“Abah enjuk tau punyo siapo celano dalemtu, buat apo sampe dicari-cari …”
“Apo jawab Abah kau?”
“Mulonyo diem Buk,” uji Sri telesu.
“Mak itula Abah kautu. Kapan dio ngeraso besalah, diem. Cak uwong alim sabak. Pagi alim, malemnyo ngerebak. Ibuk curiga Sri. Jangan-jangan …”
“Curiga ngapo Buk?”
“Jangan-jangan Abah kautu selingkuh …”
Sri tekejut.
“Dakken ado Buk. Jangan sembarangan nudu uwong lain, apolagi laki dewek.”
“Buktinyo, celano dalemtu. Itu kan la jelas-jelas punyo betino. Ngapo sampe disingit-singitke. Bini bae dak dienjuk tau. Pasti ado apo-aponyo, ye dak?”
Sri Wedari males embahasnyo.
“Ngapo diem? Apo jangan-jangan awak jugo sekongkol dengan Abah kautu.”
“AStaghfirullah Buk. Nyebut Buk. Sri kan sayang Ibuk. Madak’I sih Sri tega sekongkol. Kalu iyo, sekongkol soal apo Buk?”
“Celano dalemtu.”
Ha ha ha ha …
“Ngapo ketawo?”
“Mak ini Buk cerito yang sebenarnyo. Galak ka Ibuk endengerkenyo?”
Mulonyo dak galak. Biasola uwong tuwo. Dak boleh tesingging dikit, merajukla seabisan.
“Please Buk, supayo jelas.”
“Kan la jelas. Abah kautu selingkuh. Titik. Bukan koma.”
“Buk. Idakdo cak itu.” Sri meluk Ibuknyo supayo tetap tenang. Digosok-gosoknyo punggungnyo. Dibelainyo rambut yang sikok duwo la ditegak’I uban, dahtu diciumnyo.
Agak dingin. La mulak’I turun tensinyo.
“Mak ini Buk ceritonyotu. Waktu Abah samo Wak Pet, Wak Agus en Wak Yeng mancing berempat di danau. Ampir seharian mancing, iwak dak jugo dapet. Malah yang dapat celano dalem yang nyangkut di pancingnyo Abah …”
“Bener cak itu?”
“Bener Buk. Karno takut keno marah dak boleh iwak, cumin celano dalem. Wa berempat ini kompak dak ngenjuk tau uwong rumah. . Diemke bae. Tahanke bae kalu dimarahi karno dak boleh iwak.”
“Pasti ado apo-aponyo?”
“Jadi disingitkela celano dalemtu. Malemnyo mimpi didatangi betino penunggu danautu. Marah samo Abah. Kalu dak dibalikke saro …”
Cek Lung mulak’I pecayo.
“Jadi dibalikkela ceritonyo Buk. Si betinotu datang lagi. Nagih lagi. Dak katik katonyo. Ruponyo ado yang ngembeknyo …”

23
LA tau cerito sebenarnyo dari  Cek Lung, Cek Agus, Cek Yeng samo Cek Pet kompak, celano dalemtu dienjukke lagi samo Wak Lung. Wak Lung yang baru balik dari warung tekejut waktu dipanggil bininyo.
“Pasti keno marah,” ujinyo di jeru ati. Sudah narokke selop pucuk tempat selop, dio baru masuk sambil bejalan separo embungkuk.
“Bah …”
Wak Lung noleh. Dijingoknyo Sri samo Cek Lung tegak sambil senyum di burinyo.
“Ini kan Bah yang nak dicaritu?” Cek Lung nyelikke celano dalem.
Wak Lung dak kewawo nak ngomong lagi.
“Naaa … Embekla.” Cek Lung ngenjukke celano dalemtu. Wak Lung bukan dak galak. Dio cuman masih dak cayo kalu bininyo la berubah seratus derajat.
“Embela Bah …” Sri becepet ngembekke celano dalem dari tangan Ibuknyo. Takutnyo gek, kalu dak cepet, Cek Lung berubah pikiran. Sarola kito sekampung.
“Terimo kasih anak Abah,” uji Wak Lung terharu. Pecak nak metuke banyu mato.
“Dengan aku Bah, dak beterimo kasih apo?” Cek Lung tesinggung. Untung bae Sri anaknyo begancang ngatasinyo dengan ngatoke .. Ibuk jugola.”
“Iyo Buk. Aku jugo ngucapke terimo kasih. Kalu bangso dak ketemu ini celano dalem, dak pacak Abah ngomongkenyo,” kato Wak Lung.
Abis makan siang, Wak Lung ke rumahnyo Wak Yeng. Dahtu nemui Wak Agus. Terakhir ketemuan di rumahnyo Wak Pet.
Wak berempatni sepakat nak embalikke celano dalemtu. Supayo cepet sampe ke danau, bebecak. Yang ngayuhnyo Wak Yeng. Ngebut niyan. Pecak nak terbang.
Diburinyo nutul pulo Cek Lung, Cek Agus, Cek Pet en Cek Yeng. Cek berempatni numpang bajaj. Idak ngebut idak. Tapi jadila. Tekejer jugo becaknyo Wak Pet.
Jarak antaro bajaj dengan becak Wak Pet kiro-kiro sepuluh meterla. Supayo dak ketauan, mesin bajaj dimatike, didorong belimo. Tedorongla. Dak pulo berat igo. Lain cerito kalu endorong mobil derek.
“Mamang bajaj tinggal sini bae. Biar kami berempat bae yo ke sano,” uji Cek Lung, nunjuk ke arah danau.
“Iyo Mang. Kalu pegi galo, bajaj mamang makmano. Pacak ilang. Ye dak,” simbat Cek Agus, diiyoke Cek Yeng samo Cek Pet.
“Payula kalu mak itu,” kato Mang bajaj. “Tapi kalu ado apo-apo temui aku di jeru bajaj. Mamang mungkin tiduk denget. Makmano?”
“Oke Mang.” Berempat serempak ngacungke jari jempol sambil ketawo idak ngakak.
Sementaro Wak kito berempat taditu sudah turun ke danau. Samo-samo nyelem. Entah makmano, mudah niyan ngelepakke celano dalemtu di selo batu.
Dak sampe semenit sudah oke. Berempat metu lagi dari jeru banyu.
Byuuur …
“Alhamdulillah,” uji Wak Lung, lego niyan rasonyo. Mak itu jugo Wak Agus, Wak Pet samo Wak Yeng.
“Aman kayaknyo,” kato Wak Pet. Nyelem lagi, dahtu metu lagi. Sampe tigo kali. Dimelok’I Wak Agus, Wak Yeng en Wak Lung.
Makmano dengan Bicek kito berempatni?
Ngucap alhamdulillah jugo. Yang jelas, dak melok pening lagi mikirke celano dalemtu. La dibalikke ke tempat yang dimintak penunggu danautu.
“Cuman … “Cek Yeng sengajo dak ngelanjutke omongannyo.
“Cuman apo Cek?” Cek Agus betanyo sambil nyengir kudo.
“Apo perlu laki kitoni dikongkon mincing lagi?”
Dak katik yang enjawab.
“Tempat lain baela kuraso Cek  Yeng,” saran Cek Pet. “Biarla tempat ini jadi kenangan buat anak beranak kito bae …”
“Tempat lain kan masih banyak. Aku setuju. Kito jangan jerola. Teruske mancingnyo. Tapi di tempat lain,” terang  Wak Agus.
“Yang penting, malemni kito jangan sampe lupo,” simbat Wak Yeng.
“Lupo ngapotu Wak Yeng?” Tanyo Wak Pet, antaro ketawo dak ketawo.
“Takbiran di masjid …”
“Masya Allah. Hampir lupo,” uji Wak Pet, Wak Agus samo Wak Lung.

TAMAT …

  


 
  

Jumat, 21 Juli 2017

Entok (10)

Novel …

Entok  (10)
Oleh Wak Amin

19
KESEL bebuko cuman dikit, sampe rumah Cek Pet samo Cek Agus marah-marah.  Dak sampe beguletan idak. Cuman sesimbatan bae. Istilahnyotu perang mulut. Seru pokoknjo.
Seru …?
Iyola pulo. Ngapo dak  seru. Cek Pet misalnyo. Abis di ruang tamu, pindah ke wese. Terus  ke kamar tiduk.
“Ituola … Mangkonyo Buk .. Kalu bukotu ngajak laki. Jangan buko dewekan,” uji Wak Pet. Bukan marah sebenarnyo. Cuman ngenjuk nasehat bae. Biar lain kali kalu ado lokak makan ngajak-ngajakla.
“Makmano aku nak ngajak Bah. Aku bae diajak uwong,” kato Cek Pet.
“Siapo Buk?”
“Cek Yeng samo Cek Lung,” terang Cek Pet
“Mun memang cak itu, yo baguslah. Cuman kalu biso Abahni diajakla. Sudahtu enjuk tau ngapo..”
“Makmano nak ngenjuk tau Abahnyo. Abah bae pegi,” kato Cek Pet, agak nurun dikit volume suaronyo.
Priiiit …
“Sudah perangnyo Buk. La jam sepuluh malem. Semut bae la tiduk, apolagi manusio cak kito-kitoni,” uji Leni samo Lina, ngusap-ngusap tangan uwong tuwonyo.
“Ibuk kaunina,” uji  Wak Pet, nunjuk lubang idung bininyo.
“Abah kaunina. Tau nak marah bae. Dio pegi dak jadi hal, aku pegi denget langung marah-marah.” Cek Pet dak galak ngalah. Dak galak disalahke.
“Sudah Buk … Sudah Bah. Sekarang kito tiduk duken. Leni samo Lina ngerewangi. Jadi kito tiduk berempat malamni,” kato Leni tesenyum libar.
Lamo sedieman. Ngantuk jugo Wak Pet samo bininyo. Bekali-kali nguap. Telaju  niyan akhirnyo.
Cek Pet samo Leni tiduk pucuk ranjang. Sedangke Wak Pet direwangi Lina, ngapar di tikar.
Makmano dengan Wak Agus?
Samo jugola. Capek bebalah, dak galah ngalah, akhirnyo tetiduk jugo. Duwo-duwonyo ngorok pucuk ranjang. Sikok ngadep ke utara, sikok ngadep ke selatan.
Sementaro Wak Yeng samo bininyo masih becerito. Sikok becerito caro mincing, sikok becerito lemaknyo bebuko diluar samo konco-konco.
“Perut kenyang, hati senang,”kato Cek Yeng, ketawo seperempat ngakak. Apo dak senang, segalonyo diembat, sepuas-puasnyola.
“Cuman jangan keterusan Buk.” Wak Yeng ngingetke bae.
“Ngapo Bah?”
“Kagek badan ibuktu melok gemuk.”
“Dakken ado Bah. Makan sekali langsung gemuk.  Abahni ado-ado bae,” uji Cek Yeng. Nutup rainyo pakek selimut tando la ngantuk niyan.
Tepaksola Wak Yeng dewekan. Tiduk lum galak. Dio turun dari pucuk ranjang. Ke dapur, ngembek banyu putih anget. Diminum abis segelas.
Dahtu balik lagi ke kamar. Waktu nak balik, hapenyo bebunyi. Mulonyo didiemke bae. Kalu uwong salah nelpon.  Madak’i la dalu mak ini nelpon.
Kriiing …
Kriiing …
Wak Yeng ngangkat hapenyo.
“Halo. Selamat malam. Dengan siapa saya bicara?” Wak Yeng enggunoke bahaso melayu tinggi supayo uwong yang nelepon ngiro dio toke.
“Ai kauni Wak Yeng. Cakke iyoan niyan. Ini aku .. Wak Lung.”
Ha ha ha ha …
“Wak Lung kukiro toke …”
Ha ha ha ha …
“Wak Yeng. Kapan kujingok binikuni embawak celano dalemtu.” Bisik Wak Lung. Takut kedengeran bininyo yang tiduk ngorok.
Haaa ..?
“Kok bisa?”
“Ai Wak Yengni. Kok bisa kok bisa …Ngomong bae … ngapo biso cak itu?”
Hua ha ha ha …
“Ngapola Wak Lung ye. Itu retinyo bini kitoni  la tau dengan yang kito gawekeni. Benar dak kiro-kiro?”
“Kalu idak bener, pasti bener Wak Yeng.”
“Ah kauni. Embingungke aku bae. Uwong la dak pacak tiduk, nambah dak galak tiduk gektu.”
“Kok mak itu ya?”


20
BESOKNYO Cek Lung marah-marah. Tapi dak pulo jelas ngapo dio sampe marah abis cak itu. Dio nanyo samo anak sikok-sikoknyo yang la meranjak gadis.
“Sri …!”
“Yo Buk. Sri lagi ngepel, “simbat Sri Wedari dari jeru kamarnyo.
“Ngepel dimano awaktu?”
“Di kamar Sri, Buk. “ Kato Sri, sekenonyo bae enjawab.
“Kau ado dak teselik celano dalem?”
“Punyo Ibuk apo Abah?”
Cek Lung ragu enjawabnyo. Punyo lakinyo bukan, punyo dio jugo bukan. Nak diomongke punyo uwong lain, siapo. Pacak bemasalah …”
“Buk …”
“Ibuk …”
Cek Lung becepet embuka’ lawang.
“Punyo siapo Buk?”
“Punyo Ibukla Sri. Madak’I punyo uwong lain.” Kato Cek Lung dak gugup lagi.
“Aku memang ketemu Buk taditu.”
“Dimano, dimanola Ri.Kau singitke dimano?” Cek Lung nyekel tangan Sri, supayo nunjukke gancang dimano celano dalemtu.
“Melok aku Buk.”
“Oke …”
Muter-muter pening jugo palak Cek Lung. Dari dapur ke kamarnyo. Dari kamarnyo ke kamar Sri anaknyo. Lum ketemu jugo. Becepet ke teras, balik lagi ke buri rumah.
“Ri. Jangan embudike Ibukla. Awak lepakke dimano?”
“Sebentar Buk. Aku nginget-nginget duken.” Kiro—kiro duwo menit, Sri  tegak, ketawo ngakak.
“Melok’I aku Buk …!”
Sri ngongkon emaknyo melok’I dio dari buri. Bebaris beduwo Masuk ke kamarnyo. Ado lemari baju.
Mulonyo ketawo. Dahtu pecak uwong lolo. Kepeningan dewek.
“Ado dak Sri?” Cek Lung mulak’I dak sabaran. Dio mintak anaknyo dak penesan. Idak bohong. Kalu ado omongke ado. Kalu dak katik omongke dak katik.
“Idak Buk. Ado tadinyo ..”
“Niyan apo?”
“Niyanla Buk. Sri dakdo bohong dak. Kalu dak cayo tanyola bae samo semut yang bebaris.”
“Madak’I tanyo samo semut. Sudah mak ini bae. Kuenjuk kau waktu sepuluh menit untuk ngingetkenyo. Kalu dak jugo  inget dimano kau lepakke celano dalemnyo, yo sudah kito cari samo-samo.”
“Payu kalu mak itu Buk.”
Cek Lung enggoreng iwak sepat di dapur. Sri kulu-kilir di jeru kamarnyo. Bepikir keras. Kening bekerut. Idak ketawo. Serius niyan mak kato uwongtu.
Malek bejalan dio tegak. Malek tegak dio duduk bucu ranjang. Malek duduk dio engguling. Dahtu dio mekik.
“Ibuuuuuuuk …!”
“Ibuuuuuuk …!”
“Ibuuuuuuk …!”
Dipeluknyo Cek Lung, dari buri, tekejut niyan. Iwak sepat jeru kuwali tibo-tibo telunjak. Masuk ke jeru mulutnyo Cek Lung.
“Aduh. Aduh …!”
Langsung dibuangnyo iwak sepattu ke lantai. Ado kucing datang. Dak ngomong lagi, ngeong dikit, langsung nyambernyo.
Kaiing …
Kainnng …
Si kucing ngelumpat-lumpat. Dahtu nyepak iwak sepattu. Teinjek sikil Cek Lung.
“Auuuw … Panas ..”
Kucing belari. Sri ketawo ngakak nyelik emaknyo nyekel-nyekel sikilnyo yang kepanasan.
Marahla Cek Lung.
“Bukannyo nulung, malah ketawo.”
“Lucu Buk. “Uji Sri, nutup mulutnyo supayo dak kedengeran igo oleh tetanggo sebelah menyebelah.
Cek Lung penasaran …
“Lucu ngapo Sri?” Mangkonyo dio betanyo.
“Celano dalemnyo Buk. Sri baru inget …”
“Dimano, dimano?”
“Kucing ngembeknyo …”
Haaaaa ?!

Tobe Continued.