Novel Serial Bije
Darah Daging …
Oleh Pak Amin
I
“GELAP, Je …” Bisik Nile, menggenggam erat tangan BiJe.
“Ssssssst …”
Hi hi hi hi …
“Takut, Je.” Ucap Nile. Saking takutnya, Zuleha yang sempat
mencolek pinggangnya, kaget bukan kepalang, karena dikira hantu sungguhan.
“Nile. Nile … ini gue. Zuleha, bukan sape-sape.” Bisik Zuleha.
Muka tak tampak karena gelap. Cuma gigi doang yang kelihatan karena putih
berseri.
“Adam, lampu senternya. Kok dimatiin,” tegur Maisaroh yang
merasa kian lama gelagat Adam kian aneh saja.
“Masih waras kan Dam?” Tanya Iqbal sambil meraba kening
Adam.
“Ya ialah. Gue tetap Adam tau …” Jawab Adam mulai kesal.
“Iya deh. Aku kan cuma nanya doang. Enggak ada maksud
ape-ape. Tul kan Mai?”
“Iya Dam. Kami takut ada apa-apa sama kamu. Kami sayang
kamu, Dam.” Maisaroh mengharap Adam tak tersingggung karena persoalan sepele
barusan.
Eheeeem …
“Simpan aja dulu Mai sayang-sayangnya,” celetuk Iqbal.
Iqbal meminta rekan-rekannya untuk merapatkan barisan karena
jalan yang bakal mereka lalui ini sangat kecil sementara di bawahnya mengalir
sungai kecil yang tidak begitu deras airnya.
Gluduk … luduk … gressss …
Goa Suri seolah bergemuruh. Bebatuan kecil jatuh berserakan tak jauh dari jalan setapak.
“Tahan dulu!” Kata BiJe. Dia masih memikirkan cara mudah
melewati jalan setapak itu.
“Kayaknya tak ada cara lain, Je.” Sahut Kuyung, diamini Iqbal
dan Adam.
Selain lumayan panjang dengan kanan kiri tebing curam
bebatuan, belum lagi sewaktu-waktu terjadi goncangan yang menyebabkan jatuhnya
bebatuan kecil di dinding goa, resiko melawati jalan setapak ini lebih besar
dan mengkhawatirkan.
“Apa boleh buat, Je. Kita sudah bertekad saat berangkat,
jangan mundur sebelum dicoba.” Ku yung membangkitkan semangat rekan-rekannya
yang mulai down lantaran besarnya
bahaya yang mengancam di depan.
BiJe meminta rekan-rekannya untuk sejenak berhening diri.
Meminta petunjuk kepada Yang Kuasa. Jalan apa yang terbaik untuk ditempuh.
Mengheningkan cipta itu berlangsung sekitar sepuluh menit. Mata terpejam dengan
kedua tangan saling berpegangan.
“Oke?” Bije seolah meminta kata sepakat dari teman-temannya.
“Maju terus pantang mundur …” Teriak Adam dan rekan-rekan
yang lain sambil tos-tosan dengan suara lantang.
“Bismiillahirrohmanirrohim …”
Satu-satu kaki melangkah.
Berbaris rapi dengan tangan saling bergandengan. Suara gemericik air, ke
lelawar bergelantungan dengan sesekali ditingkahi suara cekikikan dari makhluk
halus, diatasi dengan tekad bulat dan semangat yang membaja. Tak hiraukan rasa
letih, kadang terpeleset dan nyaris jatuh, yang penting sampai ke tujuan dengan
selamat.
“Tahan ya Nil,” ucap BiJe. Dia melihat Nile mulai kelelahan.
Hal yang sama juga dialami Zuleha, Maisaroh dan Puspa.
“Auuu Je. Tolooooong …!”
Jerit Zuleha. Kaki kanannya kejepit
di sela batu besar.
“Jangan bergerak!” Kata Kuyung. Bersama Adam dan Puspa,
mereka geser batu itu sampai muka
memerah, dan …
Glejuuuuk …
Puspa, Kuyung, Adam dan Zuleha, sama-sama terduduk. Mereka
lega, walau tenaga sudah terkuras separo hanya untuk menggeser batu, bukan
mengangkatnya.
“Aduh … Tolong Je ..!” Zuleha menjerit lagi. Kenapa? Saat
akan berdiri, karena belum kuat kedua kaki menopang badan, serasa mau jatuh.
Sempoyongan gitu loh. Secepat kilat ditahan BiJe. Tapi …
“Tolong … tolong …!” Kali ini BiJe yang berteriak minta
tolong karena tak kuat menahan badan Zuleha yang tambun.
“Satu … dua … tiiiii gaaa ….”
Semuanya serempak menahan badan Zuleha. Ditarik sedikit ke
kanan agar bisa berdiri lurus. Alhamdulillah bisa. Zuleha tersenyum lega.
“Terima kasih teman-teman,” ucapnya sambil menyeka peluh di
seputar leher dan mukanya dengan tangan.
“Pulang nanti kita diet aja, Leha ya.” Canda Puspa.
“Sudah Pus,” jawab Zuleha, dengan nada suara yang
dipelankan,” Tapi ngemilnya gue banyak. Habis lapar sih …”
Ha ha ha ha …
Tawa berderai itu dijawab dengan …
Hi hi hi hi …
Suara menakutkan dari seorang wanita yang belum tahu wujud
aslinya. Di mana dan kenapa ikut tertawa. Padahal saat melewati pintu goa tadi
belum ada suara aneh itu.
“Mungkin dia mengincar salah seorang dari kita,” ceplos
Adam.
Nile dan Puspa mulai merinding.
“Cowok apa cewek Dam yang dia incar?” Tanya Iqbal diam-diam
mulai dihinggapi rasa cemas dan takut juga.
“Enggak pilihlah. Dia suka, dia ambil. Suka-suka dia punya
mau,” jelas Adam.
“Yang gemuk apa yang kurus?”
Zuleha menoleh ke arah Iqbal yang mulai menyebut-nyebut
namanya di saat mempersoalkan hantu tak jelas ini.
“Terserah yang punya maulah,”jawab Adam.
“Makanya sebelum hari gelap kita harus bisa keluar dari goa
ini. Sebab, kalau sampai terlambat, hantu tadi itu akan menyantap kita
bulat-bulat. Dijadikan sate kita ini semua,” sahut BiJe.
”Iccch ngeri aku …” kata Puspa, Maisaroh dan Nile.
Kemoooon …
Berganti posisi. Kalau tadi BiJe yang di depan, gantian
Adam. BiJe menempati posisi tengah. Sedangkan di belakang ditempati Iqbal.
Hingga melewati batas tengah jalan, pundak Iqbal seolah ada
yang menepuk-nepuknya. Ketika ditoleh ke belakang, tidak ada orang.
“Hai cowok. Godain kita dong.” Suara sapaan ini beberapa
kali terdengar di telinga Iqbal.
Tapi Iqbal tidak memperdulikannya. Baru perduli setelah
mendekati hampir sampai di seberang
jalan. Dia pun berteriak kencang …
“Hantuuuuuuuuuu …”
Mendengar teriakan Iqbal, semua temannya yang ada di depan
dengan terpaksa berlari terbirit-birit me nyelamatkan diri. Begitu sampai di seberang bibir goa, semuanya pada tersungkur,
berhimpitan dan saling bertindihan satu sama lain.
“Aduh … mati aku,” jerit Adam kepayahan.
Adam paling bawah. Nafasnya nyaris habis karena ditindih
banyak orang, terutama Zuleha yang berba dan besar. Setelah bersusah payah, satu-satu berhasil
berdiri kembali dengan cara menggerakkan kaki dan tangan ke kanan atau ke kiri.
Tersisa Zuleha, susah bangunnya.
“Satu … dua …
tiiiiiiga …”
Ditarik sama-sama, Zuleha baru bisa bangun. Bisa berdiri
kembali seperti semula. Sedangkan Adam masih tertelungkup. Matanya terpejam.
Suaranya tak ada. Nafasnya juga.
Mati kali?
“Adam … Adam,” colek Puspa. Karena yang dicolek ketiaknya,
Adam kegelian.
“Auuuw …”
Ha ha ha ha …
“Geli ya Dam?” Sindir Kuyung.
“Iya.”
“Kok belum bangun-bangun juga. Kenapa ya?” Kata Zuleha.
“Pengen digelitik Puspa lagi …”
Ha ha ha ha …
“Aduh sakit … sakit Pus.” Jerit Adam setelah pinggang dan
perutnya dicubit Puspa berulangkali.
“Lagi dong, Pus,” gurau Iqbal.
Adam mesem-mesem saja. Walau badan terasa sakit karena
ditindih dan bekas cubitan Puspa, Adam meresa senang karena sekarang dia punya
teman wanita, Puspa namanya. Nama yang indah, bikin kabur stres di kepala.
“Jalan-jalan ke kota baru. Cinta melekat ditahan dulu …”
Canda Nile.
Kali ini, Adam dan Puspa diam saja. Kendati ada beberapa
teman lainnya, seperti Iqbal dan
Maisaroh, meminta mereka berdua membawakan pantun cinta. Saling ungkapkan
perasaan, mana tahu bakal jadian.
“Huuuusy … masih kecil tau,” celetuk Zuleha, “Nyeboknya aja lagi lum bener …”
Hua ha ha ha …
“Hei kalian semuanya. Ikut aku sekarang.” Suara wanita tadi
itu terdengar lagi. Kali ini lebih jelas dan menampakkan dirinya dihadapan BiJe
dan kawan-kawan.
“Tidak … tidak mau mbah,” jawab Adam gemetaran.
“Jangan ganggu kami,” ucap Zuleha, juga gemetaran.
“Tidak bisa. Karena kalian sudah masuk ke wilayah
kerajaanku, maka kalian semuanya harus patuh denganku …” Kata wanita itu sembari
menahan amarahnya.
Hi hi hi hi hi …
“Kalian akan kuperlihatkan sesuatu yang belum pernah kalian
lihat sebelumnya,” lanjut wanita yang masih cantik jelita itu.
“Tapi …” Nile bersikeras ingin pulang.
“Jangan takut. Aku tidak akan mengapa-apakan kalian. Aku
hanya ingin kalian lihat tempatku sekarang ….”
Hi hi hi hi hi …
Lama berdebat, akal jadi tak sehat. BiJe dan kawan-kawan
terpaksa memenuhi ajakan makhluk gaib itu. Mereka diajak menelusuri Goa Suri
lebih dalam lagi.
Apa yang mereka lihat?
Banyak sekali. “Ini ruang tamu,” kata si wanita itu. “Ruang
kebudayaan, ruang kapusakan, ruang jume negan dan ini adalah ruang sarasehan …”
BiJe dan kawan-kawan kemudian diperlihatkan beberapa ruangan
yang lain. Apa misalnya? Ruang keluarga dan beberapa sumber mata air dalam goa.
Kemudian beberapa benda berupa fosil tulang belulang yang
sudah lama membatu. Batu-batu di dalam goa sungguh indah memesona. Saat dipukul
menimbulkan suara-suara gema yang menyerupai suara ga melan berirama selain
stalganit dan stalgit yang menimbulkan gema suara. Di tengah ruangan terdapat
sebuah batu menyerupai bentuk pohon beringin.
***
II
“LARIIIIII ….!” Teriak BiJe mengajak rekan-rekannya berlari
menyelamatkan diri lewat terowongan air.
Terowongan air itu lumayan panjang. Terowongan inilah salah satu jalan lari dari
kejaran si hantu. Iqbal yang terus menerus menoleh ke belakang sedikit hilang rasa cemasnya ketika
si hantu sudah tidak menampakkan batang hidungnya lagi.
“Cepat Bal … “ Jerit Adam.
Iqbal jauh tertinggal di belakang. Iqbal baru sadar
tertinggal dari teman-temannya setelah
diberitahu Adam. Sambil mengangkat silih berganti kedua tangannya, dia tak
henti-hentinya memanggil dengan berteriak nyaring. Dia khawatir dan cemas akan
nasib teman satu kelasnya itu.
“Cepaaat … Lebih cepaaat …” Teriak Kuyung.
Disambut teman-temannya yang sudah berada di mulut
terowongan, dan bersiap terjun ke air, Iqbal masih sempat berkata:
“Hantunya …” Katanya dengan nafas tersengal-sengal.
“Kenapa hantunya Bal?” Tanya Adam cemas melihat muka Iqbal
yang pucat pasi dan gemetaran seperti dari melihat sesuatu.
“Tidak ada lagi …”
“Hoooooo …”
Semua pada lega.
“Gue kira apa tadi.” Celetuk Zuleha.
Tapi kelegaan mereka cuma sebentar. Karena saat BiJe menoleh ke belakang, si
hantu menampakkan wujudnya lagi sambil menunjuk-nunjuk kea rah mereka dengan
ekspresi wajah menakutkan. Mata besar dan bertaring lagi.
Byuuuuur … Duuuum …
Serempat terjun ke air sungai. Sedangkan si hantu yang
sempat mengejar hingga bibir terowongan ha nya gigit jari. Dia tak ikut
terjun. Hanya melihat dari atas. Setelah
tak ada tanda-tanda Bije cs bakal muncul ke permukaan air, si hantu akhirnya
pergi.
Ke mana mereka?
Rupanya mereka bersembunyi di bawah batu karang besar
menyerupai bukit. Di sini airnya lebih jernih dan dingin karena terlindung dari
sinar matahari.
“Je … dingin kali,” ucap Nile.
“Tahan sebentar ya Nil,” kata Bije, yang kemudian mengajak
teman-temannya berenang menuju tepi sebuah pantai tak bertuan.
“Je … Tengok Leha kagak?” Tanya Kuyung.
Zuleha tiba-tiba menghilang, lalu …
Buarrrrrrr …
Zuleha tib-tiba nongol dari dalam air persis di dekat
Maisaroh dan Puspa.
“Ngagetin aja elu, Ha,” celetuk Maisaroh.
“Gue piker elu ilang …” Sahut Puspa.
“Emangnya sedih ya kalau Zulehanya sampai ilang?” Sindir
Adam.
“Sorri ya. Kalau gue enggaklah,” jawab Maisaroh.
“Kenapa Mai? Tak baik begitu sama teman, sekelas lagi,”
jelas Kuyung.
“Maksud gue. Kalau Zuleha yang ilang, masak gue yang nyari.
Enggaklah. Cowok kan ada.”
“Oooooo … jadi tak mau nyari ceritanya,” kata Kuyung, Adam
dan Puspa serempak.
“Ilang aja belon, mau nyari segala. Tak uk uk ya …” Sahut Zuleha sambil menyemprotkan air dari
mulutnya kea rah Puspa.
“Sudah .. sudah. Tak bakalan nyampe kalau beginian terus,”
timpal BiJe.
“Kemon …”
Tak jauh lagi mencapai tepi, BiJe dan kawan-kawan terus
berenang dengan sesekali bercanda agar tidak cepat terasa lelah. Misalnya
Iqbal. Dia berteriak …”Awas Dam, ada hiu …” Kagetlah si Adam. Tapi cuma
sebentar. Kenapa? Karena hiu yang dimaksud Iqbal adalah “Hai you …” You siapa?
You Puspalah. Siapa lagi?
Ha ha ha ha …
Ketawa di dalam air. Tak kedengaran nyaring selain harus
teriak sambil batuk-batuk kecil. Begitu juga Adam. Setelah diberitahu Iqbal,
Puspa sudah di depan, dan bermaksud menyusul, karena diolok-oloki
teman-temannya dengan … “Dilarang berduaan di dalam air …!” Tak jadi berenang
ke dekat Puspa.
“Cepatlah sedikit …!” Teriak Kuyung. Langit tiba-tiba gelap.
Takutnya hujan turun, makin sulit saat memanjat tebing. Dinding batu penahan
tepian sungai dari pengikisan dan terjangan ombak.
Dinding menyerupai turap itu tingginya mencapai lima puluh
meter dari permukaan air. Jika hujan turun, dinding akan licin dan bisa
mempersulit saat kita melakukan pemanjatan. Sebaliknya, jika cuaca kembali
cerah, terang. Maka batu-batu yang menempel di semen cor itu mengeras dan
terasa padat saat kaki menginjaknya.
Betulkah?
“Siapa duluan?” Tawar BiJe.
“Aku duluan Je. Ya temen-temen ya,” pinta Nile.
Dengan sangat hati-hati Nile memanjat. Kedua kakinya
menginjak sela dinding bebatuan. Dari bawah, BiJe menahannya dengan sesekali
mendorong bokong Nile agar lebih mudah bergerak dan terangkat.
“Aduuuh …”
Tangan Nile sempat terlepas, nyaris jatuh menimpa kepala
BiJe.
“Terus … terus aja …”Ucap BiJe.
Kaki kanan diangkat, tangan kiri dinaikkan. BiJe mendorong
dari bawah. Dengan nafas tersengal-sengal, akhirnya Nile sampai di atas,
terlentang sebentar di rerumputan.
“Nile … Nile …” Panggil BiJe.
Sambil mengatur nafas, Nile berhasil duduk dan melihat ke
bawah.
“Tarik Mai ya …” Pinta BiJe.
“Oke.”
Adam di bawahnya, Maisaroh malu hati. Bisa-bisa panas dingin
nantinya.
“Gitu aja dipikirin Mai. Payah lu,” seloroh Puspa.
Kenapa dengan Maisaroh?
Dia keberatan Adam berada di bawahnya. Dia lebih setuju jika
Puspa. Sambil nyengir kuda, Puspa bersedia menggantikan posisi Adam.
“Nah, kalau cewek yang narik dan endorong gue kana aman.
Enggak bakalan geli gitu.”
“Emangnya geli apaan dong, Mai?” Tanya Kuyung.
“Pantat gue diraba-rabain. Ntar salah raba pula.”
Ha ha ha ha …
“Rabain apa dong?” Tanya Iqbal.
Sreeeet … duuum byuuur …
Maisaroh lepas pegangan, Puspa belum siap, terjatuhlah ia.
Itu bokong menindih kepalanya Puspa sebelum sama-sama nyemplung ke dalam
sungai.
Puspa geram nian. Ditepuknya berkali-kali air sungai,
memercik ke muka Bije dan lainnya. Maisaroh tahu Puspa marah dan geram.
Makanya, setelah BiJe menawarkan diri menggantikan posisi Puspa, dia setuju
banget.
“Tahan ya Mai,” kata BiJe.
Didirongnya kedua kaki Maisarh, juga pantat dan pahanya.
Sementara dari atas, Nile mengulurkan tangannya. Dengan satu kali gerakan, dia
berhasil memegang tangan Maisaroh.
“Tahan Mai,” teriak BiJe dengan terus mendorong kedua kaki
Maisaroh agar enteng saat memanjat.
“Satu … dua … tiiiii ga …”
Maisaroh berhasil ditarik, sampai di atas
berguling-gulinganlah ia bersama Nile di rerumputan. Sementara Bije, lupa
berpegangan, jatuh ke air menimpa rekan-rekannya yang lain.
“Mandi lagi,” goda Puspa.
“Mandi terus sampe kurus,” sahut Zuleha mulai kedinginan.
Berikutnya giliran Puspa. BiJe tahu diri, dia mempersilakan
Adam membantu Puspa menahan dan mendorongnya dari bawah.
“Hai Puspa …” Sapa Zuleha dari bawah, senyum-senyum dengan
sesekali mengedipkan mata.
“Dam,” kata Iqbal, “Pelan-pelan dong. Jangan terlalu cepat
dan kuat. Ntar sakit lu.”
Adam senyim-senyum saja. Sebaliknya Puspa mulai kesal. Sudah
capek, dingin lagi. Mana lapar, ke atas belum.
“Puspa … cepetan dong …” Teriak Nile.
“Dam. Kok diem aja,” tegur Iqbal.
“Ada deh … “ Sahut Kuyung.
Satu … dua .., tiga …
Puspa, dengan sedikit melompat, berhasil berpegangan di besi
dinding, dari bawah Adam mendorong nya.
Bukan dengan tangannya, tapi kepala.
Ha ha ha ha …
“Kalau mau nyundul bola jangan di sini Dam,” seloroh Iqbal
ketawa ngakak.
“Di lapangan Dam,” sahut Kuyung.
“Sudah … enggak apa-apa. Terus aja …” Kata BiJe.
Tiga sampai lima kali gerakan tangan, Puspa sudah disambut
Maisaroh dan Nile dengan pelukan serta senyuman. Sedangkan Adam hanya
mesem-mesem saja sambil melirik Zuleha, giliran berikutnya yang memanjat
tebing.
“Tolong gue oi …” Jerit Zuleha.
“Je,” bisik Iqbal pada BiJe.
“Apa?”
“Gimana dorongnya?”
“Tenang … tenang aja. Ntar kita sama-sama pikirkan …”
Lama jugalah mikirnya.
“Cepetan oi.” Zuleha berteriak lagi.
Akhirnya Kuyung, Adam, Iqbal dan BiJe sepakat berbaris
menyamping. Dua-dua. Kedua kaki Zuleha naik ke bahu Iqbal dan Adam, di bawahnya
menopang bahu BiJe dan Kuyung.
“Auuuw …”
Byuuuur …
Zuleha terpeleset, jatuh ke dalam air. Semua
terpingkal-pingkal ketawa. Soalnya, posisi jatuhnya Zuleha terlentang, sehingga
menimbulkan suara seperti gedung ambruk, air tiba-tiba bergelombang dan
ikan-ikan kecil pada lari ketakutan.
“Coba lagi Ha,” saran Iqbal.
“Maju terus pantang mundur,” teriak Kuyung memberi semangat.
“Harus berhasil,” ucap Adam bersemangat.
Gimana caranya?
Bije dan Kuyung dari atas, di bawah Iqbal dan Adam. Tangan
Zuleha disambut berenam, lepas itu …
Jeguar …
Byuuur …
Duuuum besh ..
Jatuh semuanya. Nyemplung lagi ke dalam air.
***
III
LEPAS Magrib, tak satupun pemondokan yang berhasil diketemukan.
Semua hutan belukar dan tanah pekuburan. Gelap suasana sekitar. Jangankan orang, hewan saja malas melewati
tempat ini.
Ssssssst …
“Lampu senternya Bal …” Kata BiJe.
Terang di depan, tapi gelap di belakang, karena tak
diterangi lampu senter. BiJe cs terus berjalan melewati jalan rerumputan.
“Auuuw … tolong!.” Teriak Puspa.
Usut punya usut, tangannya Adam salah pegang. Dikira baju
puspa, taunya bokongnya. Keras pula Adam memegangnya. Ditekan, bukan dibelai.
“Adam … Adam,” sindir Iqbal, “Kalau mau pegang, pegang di
tempat yang terang. Jangan di tempat yang gelap. Enggak gentel itu namanya …”
Adam tersipu malu. Bukan pada Iqbal, tapi Puspa yang sempat
mempelototinya barusan. Wajar dia marah, sekalipun itu teman dekat.
“Maafin aku ya Pus. Tak sengaja aku. Soalnya gelap. Tak
kulihat lagi kalau itu pantatmu. Kukira …”
“Apo dong?” Tanya Zuleha.
“Batang pisang …” Seloroh Kuyung.
Ha ha ha ha …
“Udah deh Pus. Maafinlah. Kan enggak sengaja,” sahut
Maisaroh.
Puspa enggak marah lagi, memang. Cuma dia malas di depan
Adam lagi. Maunya di depan Iqbal saja. Biar aman dari raba-rabaan.
Adam merajuk?
“Boleh kan Dam. Minjam sebentar ya Puspanya.” Canda Iqbal.
Boleh. Tak masalah.
Justru masalahnya sekarang, mereka belum menemukan satu pondok pun, atau
rumah buat mereka berteduh, istirahat barang semalam. Sudah gelap, nyamuk menari-nari ditambah suara
jangkrik tak berhenti bersahut-sahutan.
Hanya kunang-kunang yang setia menemani kemana kaki ini
melangkah. Ke kanan ia seolah ke kanan. Ke kiri dia terasa mengikuti.
“Je .. coba dengar itu ..!” Kuyung meminta rekannya jongkok
sambil membuka telinga lebar-lebar.
“Kayak suara orang kan. ‘Tul enggak?” Tanyanya.
Adam maju selangkah, meminta Iqbal menyenter ke tanah. Dia menempelkan
telinganya sesaat, lalu …
“Iya, tapi …”
“Kenapa Dam?” Tanya Nile penasaran.
“Jauh kayaknya. Jauh sekali …”
“Apa perlu kita susul dan cari tahu mereka?” Puspa tawarkan
usul.
“Dengan apa?”
“Ya jalanlah, Ha. Masak pakai mobil,” celetuk Maisaroh.
Sejenak mereka cari kata sepakat. Dicari tahu atau tidak.
Jika tidak berarti untuk menemukan pondok sulit, karena harus mencarinya
sendiri. Jika disusul kemungkinan berhasil di atas lima puluh persen.
“Susul aja, Je.” Kata Kuyung.
“Oke …”
“Kanan Je,” ucap Nile dan Zuleha.
Ada jalan tanah setapak. Kiri dan kanan semak belukar.
Setengah berlari, mereka percaya diri bakal menemukan suara orang tadi itu.
“Aduh …!” Jerit Maisaroh.
Kaki Maisaroh terinjak duri. Sakit juga tapi tidak luka
berdarah. Menyutnya minta ampun. Terasa sampai ke ubun-ubun.
“Coba kulihat,” kata Iqbal, menyenteri kaki Maisaroh.
“Telapaknya Mai,” ujar Kuyung.
Merah dan ada lubang kecil. Maisaroh diminta Iqbal duduk,
agar mudah mencabut duri dari telapak kaki.
Ejuuuut …
“Aduh,” ringis Maisaroh.
Duri tersebut dibuang Iqbal ke semak belukar.
“Berdiri Mai.” Pinta Adam.
Maisaroh masih meringis.
“Lumayan kan?”
Maisaroh mengangguk.
Makanya, kata Zuleha, sandal jangan dilepas. Pakai terus,
biar aman kaki menginjak.
“Betul enggak teman-teman?”
“Betuuuul …”
Maisaroh batuk-batuk kecil.
“Makasih Bal,” kata Maisaroh seraya mengulurkan tangannya.
“Gitu dong. Tepuk tangan dulu ah …” Sahut BiJe.
Plak … plak … plak …
Perjalanan pun berlanjut. Kali ini menurun tanahnya. Agak
lebar jalannya. Tapi tetap saja gelap. Sesekali melintas seekor kadal, pergi menghilang
entah ke mana.
“Je … coba lihat .. sepertinya …” Kata Kuyung menunjuk ke
sebelah kanan.
“Seperti rumah,” sahut Iqbal berubah riang seketika.
Karena tanahnya menurun, jadi lebih leluasa melihat ke
depan, tentu dengan tetap menggunakan lampu senter. Lampu inilah penunjuk jalan
mereka, sehingga dapat mengantarkan mereka ke sebuah rumah yang tak begitu
besar.
Rumah terbikin dari kayu dan batako coran itu dari luar
kelihatan senyap. Tak ada orang yang duduk di teras. Kursi teras memang ada,
orang yang duduk tidak ada.
“Jangan-jangan …” Bisik Puspa.
“Hantu …” Jerit Zuleha.
Agar tak terdengar kemana-mana , Nile
cepat-cepat menutup mulut Zuleha dengan tapak tangannya.
Ssssst …
Dua orang lelaki berjalan memasuki pekarangan rumah.
Keduanya tampa asyik berbincang-bincang sambil membawa bungkusan plastilk. Entah apa isi bungkusan itu.
Sementara BiJe dan kawan-kawan hanya bisa mengintip dari
samping rumah. Mereka melihat dua pria
berkumis tipis itu membawa lampu
strongkeng. Berkain sarung, baju kaos
dan bersandal jepit. Rupa mereka lumayan. Tidak jelek, tapi juga tidak tampan.
“Gimana Je?” Bisik Kuyung, sesaat setelah kedua orang itu
masuk rumah.
BiJe masih ragu. Makanya, dia meminta usul dan saran dari
teman-temannya. Malam semakin larut, perjalanan belum ada titik terang. Kenapa
tidak menumpang menginap saja malam ini.
“Tolong pikirkan ini,” kata BiJe sambil melirik Nile dan
Puspa yang mulai diserang kantuk.
“Kita numpang tidur aja malam ini, gimana. Setuju enggak
dengan saranku?” Kuyung merasa yakin, inilah jalan terbaik buat mereka.
Saling menoleh, belum juga ada kata sepakat. Masih ragu. Iya
kalau kedua orang tadi itu baik. Kalau tak baik, gimana. Ayo, siapa yang
tanggung jawab.
“Sama-samalah,” jawab BiJe.
Tidak ada yang mendahului. Semua melangkah sama-sama.
Memberanikan diri menemui kedua orang asing itu. Mereka berharap bisa bermalam
semalam saja. Besoknya bisa melanjutkan perjalanan kem bali.
Pucuk dicinta ulam pun tiba. Kedua orang itu ternyata
berhati baik. Buktinya, merea tidak mengusir BiJe cs. Bahkan mempersilakan
mereka bermalam.
“Kamar ada satu lagi, di belakang.” Kata pria berhidung
betet. “ Kalian bisa beristirahat di kamar itu saja,” sambungnya menunjuk ke
samping kanan rumah.
“Terima kasih, Pak.” Jawab BiJe, senang bukan kepalang.
Sementara mereka beristirahat di kamar, kedua pria tinggi
semampai itu melanjutkan kembali pekerja
an mere ka di kamar depan. Entah apa yang mereka kerjakan , tak ada pula yang
tahu. Bije Cs, karena kecapaian,
tertidur pulas.
Di luar rumah. Sunyi senyap masih menyelimuti. Angin tiba-tiba berhenti
berhembus, hanya sepoi-sepoi yang terasa beberapa saat kemudian. Suara jangkrik sesekali terdengar. Langit
cerah. Bulan mulai ber sinar terang. Sayup-sayu- terdengar suara orang memukul-mukul sesuatu dari dalam rumah.
BiJe terjaga dari tidurnya.
Iqbal yang juga mulai terjaga dari tidurnya merasakan hal
yang sama, ketika BiJe menceritakan kenapa dia sampai terjaga dari tidurnya
tengah malam.
“Menurutmu Je?”
BiJe menggelengkan kepala.
“Atau …”
Sssssst …
Keduanya berpura-pura tidur lagi ketika salah satu dari
kedua laki-laki berkulit hitam itu membuka pintu kamar, lalu melihat kea rah
mereka yang tidur terlelap di atas tikar.
Sejenak dia menyorotkan lampu senternya, untuk memastikan
bahwa tamu mereka telah pulas tidur nya.
Sebab, setelah itu dia menutup kembali pintu kamar, kembali ke tempatnya
semula.
“Jeeee …”
“Apa?”
“Kita intip yuk …!”
“Enggak ah. Malas aku.”
“Ayolah. Kita cobalah, biar enggak penasaran.” Desak Iqbal.
Mengendap-endap ke luar kamar. BiJe dan Iqbal nekat
mengintip sekadar ingin tahu saja apa sebenar nya yang telah terjadi di rumah jauh
dari keramaian ini.
Klonteeeeng …
“Bal, sini.” Kata BiJe menarik tangan Iqbal. Keduanya
sembunyi dekat kursi ruang tamu.
Tak lama kemudian, terdengarlah suara orang membuka pintu
kamar. Lalu menutupnya lagi.
“Ke mana mereka Je?”
“Kita lihat sajalah …”
Kedua lelaki itu bergegas keluar kamar menuju ruang tamu.
Berhenti persis dekat BiJe dan Iqbal bersembunyi.
“Gimana dengan mereka?”Tanya lelaki berhidung betet kepada
temannya yang beralis tebal.
“Biariin ajalah. Mereka aman di sini.”
Dari balik pintu, BiJe dan Iqbal mengintip ke mana dua lelaki itu pergi. Sayang
tak menghasilkan apa-apa. Loh kenapa, memangnya? Keduanya menghilang begitu saja. Tak ada jejak
di depan pintu.
Merasa tak enak bercampur takut, Iqbal dan BiJe memutuskan
kembali ke kamar.
Mereka tidur lagi.
Esok harinya, semua
pada kaget.
Tak percaya kalau mereka kini
tengah berada di areal pekuburan.
***
IV
“MAI .. lapar!” Kata
Nile berulangkali pada Zuleha yang lagi baringan di dalam kemah.
“Tunggulah sebentar,” jawab Maisaroh, mulai kelaparan juga.
“Mungkin sebentar lagi Bije datang,” sahut Puspa yang lagi
membersihkan dedaunan dan ilalang di sekitar kemah.
Menjelang siang, BiJe, Kuyung, Adam dan Iqbal belum juga
kembali dari mencari ikan di sungai. Semen tara Nile dan Maisaroh sudah tak
tahan menahan lapar. Bersama Zuleha dan Puspa, mereka berempat hilir mudik
bergantian keluar masuk kemah.
Ada dua kemah. Satu kemah khusus cewek. Satunya lagi kemah
untuk cowok. Tidur mereka terpisah, tapi soal isi perut tetap sama-sama.
BiJe dan kawan-kawan
terpaksa berkemah karena selain belum menemukan jalan terang kembali pu la ng,
juga di areal pekuburan ini ada anak sungai dan cukup aman, apalagi jumlah
nisan yang ada masih bi sa dihitung dengan jari tangan. Seolah berdiam bukan di areal pekuburan. Lebih
banyak tanah kosong. Tempat yang kosong inilah, di antaranya kemah didirikan.
“Masih lama enggak, Ha, BiJe nya?” Nile meraba perutnya yang
kian menit kian mengecil.
“ ’Ntar lagi Nil. Tunggu aja,” ujar Puspa menenangkan Nile
yang mulai gemetaran menahan lapar.
Sementara itu …
“Halo semuanya …” Teriak Iqbal sambil memperlihatkan seekor
ikan sungai besar yang berhasil mereka
tangkap barusan menggunakan tombak kayu.
“Nil. Itu mereka sudah datang. Yuk,” ajak Puspa. Setelah
melihat ada ikan yang dibawa pulang Iqbal, melonjak kegirangan.
Begitu juga dengan Nile, Zuleha dan Maisaroh. Mereka
menyambut BiJe dan tiga rekannya dengan ber dendang riang. Nile berjoget,
Maisaroh dan Zuleha pura-pura menabuh gendang dan memetik gitar. Sedangkan
Puspa adalah penyanyinya …
“Ikan dapat kami senang
dibakar cepat sampai matang
dimakan
segera perut kenyang
hati riang bisa
berdendang …
Terima kasih duhai jagoanku
harap cemas kami di sini
kenapa lama tidak kembali
ingin rasanya menyusul pergi …”
Plak … plak … plak …
Tak lama kemudian mereka berbagi tugas. Ada yang menyiapkan
kayu bakar, daun-daun yang kering dan kayu tempat membakar ikan. Ini dikerjakan
BiJe dan teman cowoknya.
Tugas menyiangi ikan adalah Nile dan Maisaroh. Sedangkan
Puspa dan Zuleha mengambil air di anak sungai. Air itu digunakan untuk membasuh
dan sekaligus cuci-cuci tangan setelah makan ikan bakar nantinya.
Tak jauh dari anak sungai, ada tiga lelaki sedang mengintip
Puspa dan Zuleha. Mereka seolah heran dan tak percaya kenapa di tempat sesepi
dan sesenyap ini ada orang, cewek lagi. Apa mereka tak merasa takut oleh orang jahat atau binatang buas yang setiap
saat bakal menyerang, misalnya. Atau jangan-jangan penghuni kuburan yang kalau
siang menjelma jadi manusia.
“Ah, tak mungkinlah itu,” kata salah seorang dari mereka
berambut lurus panjang sebatas bahu.
“Tapi mana ada perempuan di tempat seperti ini, Dul?” Sahut
teman satunya, tinggi kurus.
“Kita lihatlah nanti,” jelas Dul.
Ketiganya mengikuti kemana Puspa dan Zuleha membawa air.
Mereka semakin heran karena selain ada kemah, juga banyak orang hilir mudik di
sekitar kemah.
Ada apa?
“Sepertinya mereka sedang membakar ikan,” kata Dul, kepada
dua rekannya, Refli dan Barin.
Ikan sungai bernama
Patin itu siap dibakar. Tugas membakarnya adalah BiJe dan Iqbal. Sedangkan Ku yung
dan Adam mengipas-ngipas bara api dengan kedua tangan mereka agar jangan sampai
padam.
“Eeeeem … baunya. Sedaaap,” kata Iqbal setelah mencium aroma
ikan Patin segar yang dibakar.
Hal serupa juga dilakukan Nile, Puspa, Maisaroh dan Zuleha
dari balik kemah. Mereka kompak mencium aroma ikan. Betapa sedap dan nikmatnya
jika disantap bersama-sama.
“Je … tengok!” Kuyung mengarahkan pandangannya ke tingkah
Nile dan tiga temannya, serempak mengangkat dagu sambil menghisap sesuatu di
luar kemah.
BiJe cuma ketawa.
“Nileee …!” Panggil BiJe.
Nile menoleh.
“Kemarilah dulu …”
Ternyata ikan yang dibakar siap disantap. Rasa lapar yang
mendera membuat mereka tak sabar untuk menyantapnya. Tak perlu menunggu waktu
lama, sampai berjam-jam misalnya, dalam hitungan menit saja, itu ikan Patin
bakar ludes tak bersisa lagi daging empuknya.
Tanpa nasi dan lauk pauk lainnya, karena ikan yang dimakan
cukup besar, sama-sama mengenyangkan perut. Mata mulai berat, kantuk pun
menyerang.
Cuaca di luar kemah panas. Di dalam kemah sama panasnya.
Namun bagi BiJe, Adam, Kuyung dan Iqbal,
tidur siang kali ini terasa lebih nyaman. Jendela kemah dibuka lebar,
membiarkan angin leluasa masuk dan berhembus, aduhai lelapnya tidur.
Bagaimana dengan Nile, Puspa, Zuleha dan Maisaroh?
Mereka saling curhat di dalam kemah. Sambil rebahan,
Maisaroh bilang kalau dia sama Iqbal biasa-biasa saja. Tak ada yang istimewa.
“’Ntar nyesel lu, Mai,” kata Puspa.
“Biarin aja … Gue mau sekolah dulu …”
“Emangnya yang nyuruh elu berhenti sekolah, siapa?” Celetuk
Zuleha.
“Menurutku,” jelas Nile, tak apa-apa pacaran. Malah bisa
saling bantu kalau kita bisa …”
“Nah, denger tuh kata temen lu,” sahut Puspa. “Jadi tak
usahlah belagu. ‘Ntar kuwalat lu. Baru tahu rasa….”
“Tuh kan Mai. Dengerin tuh, apa kata none dukun,” sindir
Zuleha.
Ha ha ha ha …
Lain lagi curhatnya Zuleha.
“Menurut elu semuanya di sini. Gue mau nanya nich, cocok
kagak kalau gue jadian ame Kuyung?”
“Apa?” Puspa buka lebar-lebar telingannya, seolah tak
percaya yang barusan dia dengar.
“Elu udah jadian ame Kuyung, kapan?” Tanya Maisaroh.
“Belon …”
“Hoooooo …”
Semua pada kaget. Kompak geleng-geleng telinga.
“Belon .. jadi,” ucap Maisaroh, Puspa dan Nile, serempak.
“Kalau udah jadian, buat apa gue certain ke elu-elu semua.
Ngabisin enerji aje,” jawab Zuleha.
“Hooooo …”
“Begitu rupanya …”
Tapi menurutku, kata Nile, cocoklah bila Zuleha berpasangan
dengan Kuyung. Orangnya baik, tak banyak tingkah dan ramah pula.
“Cuma pelan-pelan aja, Ha.” Saran Nile.
“Maksudnya, biarlah waktu yang akan menjawabnya,” jelas Puspa.
Bagaimana dengan Puspa sendiri?
Dia sungkan bicara soal Adam. Entah kenapa tiba-tiba dia pelit bicara.
Padahal sifat dan kelakuannya sehari-hari tidak begitu. Dia tidak pelit dan
suka menolong sesama, apaagi teman-teman sekelasnya.
“Jangan gitu dong, Pus …” Kata Zuleha.
“Kalian berdua itu, ini menurut terawanganku, pasangan yang harmonis,”
jelas Maisaroh.
“Duilee … pake-pake terawangan segala,”celetuk Nile.
“Kalau kagak percaya, coba aja …”
“Caranya Mai, gimana?” Tanya Zuleha.
“Mudah kok …”
“Gimana coba?” Desak
Zuleha ingin tahu.
“Elu itu, ya Pus.
Dekati Adam, ajak jalan berduaan. Kan beres …”
Hu hu huh u …
Saat mereka asyik curhat-curhatan, Dul, Refli dan Barin
bergerak mendekati kemah. Mereka ingin me lihat dari dekat apa dan bagaimana
gerangan ikan yang dibakar itu. Masih tersisakah, atau ludes tak bersisa lagi.
“Masih ada, Dul,” ucap Refli.
“Mana?” Tanya Dul.
“Tengoklah sendiri ..!” Refli memperihatkan sisa tulang
ikan. Meski cuma tulang, masih tersisa di sela tulang, daging ikan.
“Coba kucicip dulu ya …”Ujar Barin.
Eheeem …
“Gimana Rim?”
“Sedap juga, Dul.” Jawab Barin.
Tulang-tulang itu dikumpulkan Barin. Lepas itu mereka bawa
dan kembali bersembunyi di tempat persembunyian semula.
Di tempat jauh dari keramaian orang ini mereka lahap
menyantap sisa ikan Patin itu. Kepala ikan, masih tersisa separo, mereka bagi
rata. Dimakan sama-sama. Amboi nikmatnya.
BiJe menggeliat. Tadinya berbaring ke kanan, sekarang ke
kiri. Begitu juga dengan Adam, Iqbal dan Ku yung. Mereka belum juga bangun
sementara cuaca di luar kemah belum juga turun kadar teriknya.
“Kita pulang dulu yuk,” ajak Dul.
“Mereka …” Refli menunjuk ke kemah.
“’Ntar malam kita datang lagi,” jawab Dul.
“Kamu Rin?”
“Pulang dululah, Ref …”
Sama-sama kenyang. Ada yang kenyang karena makan sisa daging
ikan, tapi juga ada yang kenyang karena makan tulang dan kepala ikan.Yang pasti
pulangnya sama-sama senang dan girang nian.
Jelang sore …
Bije bingung sendiri melihat sisa pembakaran ikan tadi sudah tidak
ada di tempatnya.
“Kenapa Je?” Sapa Nile dan Puspa, bermaksud mengambil air dari anak sungai buat mandi.
“Bersih semua …”
Nile dan Puspa saling pandang.
“Kok bisa ya?”
***
V
“BANGUN … cepaaaat
…!”
BiJe membangunkan teman-temannya yang sudah tidur lelap di
dalam kemah. Pasalnya, tak jauh dari mereka berkemah tampak puluhan obor dan teriakan sejumlah orang yang terus
bergerak mendekati lokasi di mana BiJe cs sekarang bermalam untuk melanjutkan
perjalanan kembali keesokan harinya.
Hanya pakaian yang melekat di badan, beberapa tas sandang
dan rangsel seadanya, BiJe cs bergerak dari kiri meninggalkan perkemhan mereka.
Nekat menerobos pekatnya malam dengan bermodalkan lampu senter guna menghindari
dari kepungan ‘orang asing’ itu.
“Aduh Je. Tolong …!” Nile tak kuasa berjalan lagi. Matanya
masih mengantuk berat sementara persendian tubuhnya terasa lemas.
BiJe kasihan melihatnya.
“Ayooolah .. aku
gendong aja,” kata BiJe.
“Maksud Bije Nil, sahut Iqbal, “Digendong dari belakang,
bukan dari depan. Gitu kan Je?”
BiJe nganggukin kepala.
“ Cepetan dikit yuk say …”
Melihat Nile digendong sang pacar, Puspa dan Maisaroh
ikut-ikutan lemas dengan harapan Adam dan Iqbal mau menggendong mereka.
“Kalau gue sih tak keberatan …” Kata Adam.
“Gue juga.” Timpal Iqbal.
Gendong menggendong memang mengasyikkan. Selain tak repot
lagi harus berjalan, bisa tiduran kala yang menggendong berjalan.
Bagaimana dengan Zuleha?
“Kita jalan aja ya Leha,” ujar Kuyung yan berharap Zuleha
tidak ikut-ikutan minta gendong.
“Kamu enggak bisa gendong gue ya Yung?” Tanya Zuleha setelah
keduanya melewati sebuah pohon besar.
“Bukan enggak bisa, tapi …”
“Berat kan Yung?”
“Bukan itu, Ha.”
“Kamu capek barangkali?”
“Juga bukan …”
“Lalu kenapa Yung?”
“Badanmu itu kegemukan, Leha. Bagaimana aku menggendong
kamu, bahuku dengan pinggulmu saja,
lebar dan besarlah pinggulmu. Maafkan ya Ha. Bukan aku …”
Zuleha penasaran …
“Bukan apa Yung?”
“Bukan aku tak sayang kamu, Ha. Justru aku sayang kamu …”
Hik huk hik huk …
Ehem …
“Kalau misalnya aku gendong kamu. Lalu jatuh, sakit enggak
kamu, Ha?”
“Sakitlah Yung …”
“Na, mending kita jalan aja berdua gini. Asyik juga kan?”
Hai cim …
Achim …
“Gimana menurutmu, Ha?”
“Ya asyiklah,” jawab Zuleha dengan suara pelan mendayu.
“Kamu bisa cerita ke aku, sebaliknya aku bisa cerita ke kamu
…”
Hi hi hi hi …
Zuleha ketawa geli. Didengar Puspa, Nile dan Maisaroh.
“Cepetan Ha. Di belakangmu itu …!” Teriak Puspa.
Kuyung menoleh.
“Masih jauh. Santai ajalah Pus. Tak kan lari gunung di
kejar. Kalau dia meletus baru kita lari …”
Ha ha ha ha …
Di belakang BiJe cs, puluhan orang memegang obor
mengobrak-abrik kemah. Mereka bakar sambil ber teriak lantang … “Tangkap mereka
… Bunuh mereka … Cincang sampai habis … Sate sampai hangus … Ki ta makan
sama-sama …”
Tak berapa lama kemudian tempat berkemah BiJe cs tadi
berubah jadi ‘lautan api’. Kendati tidak terlalu besar dan melebar apinya,
kobaran api malam itu sempat disaksikan dengan hati miris oleh Kuyung dan
Zuleha.
Sementara BiJe, rekan Kuyung dan Zuleha lainnya, baru tahu
setelah terdengar ledakan lumayan keras dari tempat perkemahan itu. Karena
tiba-tiba ledakannya, gendongan terlepas. Nile, Puspa dan Maisa roh jatuh
serempak.
BiJe, Adam dan Iqba segera menghampiri Kuyung dan Zuleha
yang berdiri termangu menyaksikan kobaran api itu dari kejauhan.
“Sepertinya mereka sudah menemukan tempat kemah kita. Itu
artinya mereka akan terus mengejar kita,” jelas Kuyung.
“Kalau begitu. Kita tak punya banyak waktu lagi. Ayo kita
segera pergi dari sini …!” Ajak BiJe.
Zuleha terpingkal-pingkal.
“Kenapa Ha?” Tanya Kuyung.
“Tengoklah mereka …!”
Nile, Puspa dan Maisaroh masih belum beringsut dari tempat
duduknya di tanah rerumputan. Karena terhempas, pantat ketiganya sakit bukan
main. Selain tekstur tanah yang tidak rata, juga batu kerikil yang jika terkena
badan bisa sakit.
“Aduh … mati aku!” Ringis Nile.
“Aku juga Nil,” kata Puspa.
“Aku apalagi,” sahut Maisaroh sambil mengusap-usap pantatnya
yang padat berisi itu.
BiJe mendekati Nile. Dia jongkok dan …
“Naiklah say …”
Ha ha ha ha …
Hup … ba …
Pelan-pelan BiJe berdiri, di belakang punggungnya menggentol
Nile.
Adam giliran menggendong Puspa. Dia jongkok juga dan …
“Naiklah say …”
“Enggak mau.”
“Lho, kenapa enggak mau Mai?”
“Aku mau naik kalau kamu berdiri …”
“Oke …”
Huuup …
Maisaroh merangkul punggungnya Adam, si Adam dengan sigap
melangkah menyusul BiJe dan Nile yang sudah lebih dulu pergi.
Bagaimana dengan Iqbal dan Maisaroh?
Keduanya belum sepakat. Soal apa?
“Dari depan aja,” kata Iqbal.
“Dari belakang …” Jawab Maisaroh ngotot tapi tetap tersenyum
ramah.
“ ‘Ntar jatuh lagi …”
“Enggak apa-apa. Paling ke bawah jatuhnya …”
Ha ha ha ha …
“Ngalah aja kenapa Bal?” Komentar Kuyung.
Iqbal mengalah akhirnya …
“Yang kuat pegangnya Mai …”
“Ialah Bal …”
Huuuup …
Kemon …
Giliran Kuyung dan Zuleha.
“Ha … kenapa masih bengong?” Kuyung melihat Zuleha masih
berdiri bengong di dekatnya. Kedua kakinya belum bergerak barang selangkah pun.
“Mau pipis aku Yung ... Boleh ya?”
Kuyung tak keberatan. Tapi di mana tempat pipisnya?
“Di sini aja. Mukamu ngadep ke sana,” kata Zuleha menunjuk
ke depan, terlihat Iqbal agak kepayahan menggendong Maisaroh.
Cuuuuur …
Zuleha pipis. Nikmat sekali dia pipis. Saking nikmatnya,
mata terpejam sempat berdendang.
“Udah lum Ha?”
“Baru aja keluar airnya, Yung …”
“Jangan lama-lama ya Ha…”Kuyung mengingatkan.
“Iya … Bereslah itu …”
Kuyung gelisah.
“Ha …?!”
“Iya. Leha di sini. Nich baru mu kancingin ini celana,” ujar
Zuleha yang tampak puas setelah lama tidak buang air kecil.
Para pengejar semakin dekat. Obor masih di tangan, tak
berkurang satu pun. Siap membakar apa yang mereka lihat dan curigai.
“Cepat, Ha …” Kata Kuyung.
Meski gemuk, soal urusan berlari, Zuleha tak kalah dengan
mereka yang berbadan kurus. Bisa cepat dan tang kas melewati semak belukar serta
rerumputan. Sedangkan Kuyung mengikuti dari belakang. Kedua nya sempat terjatuh
dan saling tindih, karena sama-sama terinjak batu besar yang menelentang di de pan mereka berdua.
Di depan sudah menunggu BiJe dan Nile yang sampai lebih dulu di tepian anak sungai. Ada
sampan, tapi tak cukup buat mereka berdelapan.
Lantas?
Cowok di bawah, yang cewek di atas sampan. Kloplah. Perahu
kecil itu tidak oleng dinaiki empat orang. Bila lebih maka sampan bisa
terbalik.
“Enak kali jadi cewek ini oi,” celetuk Iqbal.
“Kalau mau, tukaran aja kenapa,” sahut Puspa sekenanya.
“Maksudnya kau jadi betina, Puspa jadi lanang. Mau kagak?”
Sahut Nile.
Ha ha ha ha …
“Gimana Bal?” Sindir Kuyung.
“Mau aja,” jawab Iqbal.
“Tapi ada syaratnya lho …” Buru-buru Puspa menjelaskan.
“Apa dong syaratnya kalau boleh kita tahu?”
“Titit lu dipotong abis, mau kagak?”
Hua ha ha ha …
“Itu sih bukan tukaran namanya …” Celetuk Iqbal.
“Lalu?” Sambung Zuleha.
“bencong kali ya …?!”
He he he he …
“Itu mereka, Dan …! Kata laki-laki bertato kepada
komandannya.
BiJe cs tengah mendorong itu sampan dari belakang, samping
kanan dan kiri dengan Nile dan ketiga rekan wanitanya duduk jongkok di atasnya.
Meski tak begitu jelas, karena gelap dan samar-samar terlihat oleh sinar cahaya
bulan sabit, pengejar yakin anak-anak muda inilah yang mereka kejar dan harus
ditangkap malam ini.
“ Tak salah lagi, Dan
…”
“Kejar dan tangkap mereka bula-bulat …” Teriak sang
komandan, marah besar.
“Bukan bulat-bulan Dan. Tapi hidup-hidup,” ralat pria
berkumis segitiga.
“Ya .. hidup-hidup …”
***
VI
“AWAS Je …!” Teriak Nile.
Sebuah anak panah hampir mengenai kepala BiJe. Karena menunduk, itu anak
panah nuncep ke tanah.
Karena terus menerus diserang dengan anak panah, dengan
terpaksa sampan di dorong agak ke tengah. Melaju kencang sementara BiJe dan
tiga rekan prianya yang lain berlari bersembunyi di balik semak belukar.
“Tangkap mereka …!”
Perintah sang komandan, geram karena merasa telah dipermainkan BiJe cs.
Saat mereka mengejar BiJe dan kawan-kawan yang sembunyi di
balik belukar, sudah tidak ada di sana. Mereka berhasil melarikan diri setelah
berhasil mencederai beberapa orang pengejar.
“Gimana mereka Dan?” Tanya si Kumis Segitiga setelah melihat
tiga temannya terluka dengan berjalan tertatih-tatih akibat kena pukulan kayu dan batu di kaki.
“Amankan …”
“Siap, Dan.”
“Siapkan juga yang
lain …”
“Siap, Dan. Laksanakan …!”
Mereka terus mengejar BiJe cs. Karena terdesak, akhirnya
bersembunyi di atas pohon besar yang tinggi. Dari ranting pohon yang daunnya amat rindang inilah
Iqbal iseng melempari pengejar dengan batu yang sempat dia kantongi sebelum
memanjat pohon tadi.
“Aduh … kamu yang mukulku ya.” Hardik pria bertahi lalat
kepada temannya yang dia duga telah memu kul kepalanya dari belakang.
“Enggak,” jawab si kepala pelontos.
“Ngaku ajalah. Kamu kan yang mukul kepalaku dari belakang
tadi?”
“Enggak. Kubilang enggaklah. Buat apa aku memukul kamu.
Iseng? Enggaklah,” jelas Pelontos.
“Kamu iri samaku kan?!”
“Iri kenapa?”
“Aku banyak duit, sementara kamu cuma punya lubang burit.
Bokek selalu. Iya kan?”
“Memang kalau aku mukul kamu bokekku jadi hilang apa. Kan
enggak.”
“Ah, persetan kamu …”
“Kamu yang setan.”
“Kamu …”
“Kamu …”Hampir saja berkelahi. Kalau tidak segera ditengahi
oleh beberapa rekannya yang datang menghampiri.
“Siap, Dan!” Kata mereka saat sang komandan melihat anak buahnya dengan raut muka seram.
“Apa yang kalian kerjakan di sini?”
“Menangkap orang, Dan …”
“Mana?”
“Belum dapat, Dan …”
Sang komandan marah besar, dipelototinya satu persatu anak
buahnya.
“Cari sampai dapat, mengerti?”
“Mengerti, Dan.”
Senyum-senyum saja.
“Kenapa senyum-senyum?”
“Rambutnya, Dan.”
“Kenapa dengan rambutku, haaaa?”
“Be …”
“Be … apa?”
“Belum disisir, Dan …”
Sang komandan baru sadar. Karena terlalu asyik mengejar BiJe
cs, lupa kalau rambutnya awut-awutan tak karuan.
“Ini sisirnya, Dan.” Kata si pelontos memberikan sisir kecil
berwarna putih kepada sang komandan.
Sreeet … sruuuut ... dreeet … druuut ..
Komandan tersenyum.
“Gimana, bagus kagak?”
“Bagus, Dan …” Jawab Tahi Lalat.
“Seperti anak belasan tahun, Dan …” Sahut yang lain.
Ha ha ha ha …
“Diam …”
“Siap, Dan.”
“Ini sisirnya saya kembalikan dan sekarang tangkap anak
keparat itu sampai dapat …”
“Siap, Dan ..”
Melihat suasana di bawah pohon dan sekitarnya sudah aman, BiJe,
Iqbal, Kuyung dan Adam, turun satu persatu dari pohon besar itu. Sayang, saat
keempatnya mau beranjak pergi, sebuah jaring besar berhasil melumpuhkan mereka.
Untuk beberapa saat mereka berempat ini tidak bisa bergerak.
Baru bisa menggerakkan anggota badan nya
setelah didekati sang komandan. Melotot tajam dan memerintahkan anak
buahnya mengeluarkan BiJe cs dari jaring besar itu dan mengikat mereka
kuat-kuat.
Dibawa kemana?
Di tengah malam yang menyeramkan, sang komandan beserta anak
buahnya membawa paksa BiJe dan tiga
temannya itu ke markas mereka. Di mana? Di sebuah tempat khusus di atas
perbukitan.
Ya, di puncak bukit tak bernama inilah tempar mereka
berkumpul. Menemukan bukit ini gampang-gampang susah. Kalau tahu jalannya,
mudah dan gampang diketemukan. Sebaliknya, bila tidak tahu tempatya, bakal
sesat di jalan. Baru sampai berbulan-bulan menemukan bukit antik ini.
Bak penginapan kelas atas, bangunan di puncak bukit ini
terdiri dari berbagai ruang. Ada ruang meneri ma tamu, tempat bertemu,
merencanakan dan membahas sesuatu, baik berskala kecil maupun besar, bahkan
juga ada ruang untuk hiburan dan berolahraga.
Ke mana Nile dan kawan-kawan?
Mereka berempat terus mengayuh sampan. Bukan dengan kayuhan,
tetapi menggunakan kedua tangan. Sampan mulus berjalan menyusuri sungai yan
tidak begitu deras airnya malam ini.
“Sabar ya Nil,” bisik Puspa, merasa iba melihat Nile
menangis sesunggukan sambil mengayuh sampan.
“Gimana kita Pus?” Tanya Maisaroh.
Di depan gelap tapi tidak pekat. Sunyi dan senyap.
“Pokoknya terus aja ngayuhnya,” jelas Zuleha.
Hanya Zuleha yang tidak sampai menitikkan air mata saat tahu
mereka harus berpisah dengan BiJe, Adam, Iqbal dan Kuyung. Dia tampak kuat,
meski dia tahu sulit baginya mengendalikan diri di saat genting seperti ini.
Sambil mengayuh, Zuleha meminta teman-temannya untuk berdoa
agar diberikan kemudahan dan keselamatan dalam perjalanan. Mereka serempak
menundukkan kepala, mengangkat kedua tangan, menyatukan hati dan tekad agar
Yang Kuasa memberi jalan keluar terbaik mengatasi masalah yang menimpa mereka
saat ini.
Sudah tengah malam, hanya berempat dan berjenis kelaminan
cewek semua, kebingungan jalan mana yang bisa membawa mereka pulang, belum lagi harus
bekerjaran dengan waktu agar sampai di tempat yang aman.
Kiri dan kanan hanya hutan. Jika dipaksakan merapat ini
sampan, selain bakal jadi santapan binatang buas, juga tidak cukup aman untuk
berlindung dari kejaran para pengejar. Malah, jika kurang hati-hati, bisa tewas
secara mengenaskan.
“Itu mereka Ref …!” Teriak Dul, menunjuk ke samping kanan,
sebuah sampan melaju tenang.
“Tunggu kami Mbak …!” Jerit Refli.
“Pinggirkan sampannya, Mbak.” Sambung Barin memberi aba-aba
dengan kedua tangannya. Sebuah Isyarat
mereka mau menolong dengan tulus ikhlas.
Zuleha dan kawan-kawan serempak menoleh. Karena tak terlihat
jelas, masih gelap dan hanya tertolong pantulan bayang-bayang dari dalam air
yang tak beriak, mereka jadi ragu apakah tiga kali-laki yang me manggil mereka
barusan orang baik-baik atau sebaliknya. Sebab, mana mungkin orang mau menolong
di saat seperti ini: tengah malam, dingin lagi dan tidak tahu akhir tujuan.
“Pinggirkan Mbak!” Teriak Refli.
“Jangan takut Mbak. Kami orang baik,” sahut Dul.
“Kami akan menolong Mbak,” pekik Barin.
Nile dan Puspa mendekati Zuleha.
“Pinggirkan ajalah Ha,” bisik keduanya.
Zuleha masih diam.
“Ha …” Kata Maisaroh.
“Oke … Kita ke pinggir
sekarang …”
Sampan belok ke kanan, disambut Refli dan dua temannya
beberapa menit kemudian, dengan ikut ber sama-sama merapatkan sampan. Sebelum
bersandar dan ditautkan ke batu besar di bibir pantai, ke tiganya turun ke
dalam air. Lalu mendorong sampan yang dinaiki Zuleha cs ke daratan.
Sesampainya di daratan, Refli, Barin dan Dul memperkenalkan
diri. Tak lama. Karena setelah itu mereka membawa Zuleha, Maisaroh, Puspa dan
Nile menelusuri sebuah jalan setapak. Dari jalan inilah pada akhirnya
mengantarkan merea satu jam kemudian ke pemukiman tak padat penduduk.
Walau tak seramai dibandingkan warga yang berdiam di
pinggiran kota-kota besar, paling tidak ada tempat menginap sementara,
sekaligus melepaskan diri dari kejaran sang komandan beserta anak buahnya.
“Terus terang Mbak. Kami sempat melihat Mbak berdua ini
sebelumnya,” kata Refli menghadapkan mukanya ke Zuleha dan Puspa.
“Waktu itu Mbak sedang mengambil air di sungai. Benar kan
Mbak?” Tanya Dul.
“Betul sekali. Tak salah lagi,” jawab Zuleha terus terang.
“Tapi,” sahut Puspa, “Janganlah kami panggil Mbak. Tak enak
… Kami kan masih muda.”
“Masa?” Barin tak percaya.
“Kami berempat ini,” kata Nile dan Maisaroh,” Masih duduk di
bangku es em a …”
“Sama juga dengan kami Mbak, kalau demikian,” jelas Refli.
“Maksudnya?”
“Kami masih es em a juga …”
“Tapi lain es em a nya Mbak,” sahut Barin.
“Kalau Mbak berempat es em anya … sekolah lanjutan menengah
atas. Kalau kami sekolah lanjutan suka bemalas-malas …
Ha ha ha ha ….
***
VII
“CEPAT sedikit taun …!” Hardik si kumis segitiga pada Kuyung
yang agak lambat membawa adukan semen.
“Bapak kok tega-teganya bilang aku taun segala,” jawab Kuyung
balik membalas tatapan mata kumis segitiga.
“Kenapa? Enggak suka ya?”
“Bukan enggak suka, Pak. Nama saya bukan taun, tapi Kuyung
…”
Ha ha ha ha …
BiJe, Adam dan Iqbal, ketiganya pada ketawa ngakak, juga teman-teman
kumis segitiga, seperti kepala pelontos dan si tahi lalat.
“Hei Tos. Sini kau …!” Si kumis segitiga merasa tersinggung
karena temannya si pelontos dan tahi lalat ikut tertawa. Padahal seharusnya
mereka menolong dirinya dengan turut memarahi BiJe dan teman-temannya yang
tertawa seenak perutnya.
“Kenapa elu tadi ketawa?”
“Lucu aja Bos.”
“Lucu kenapa?”
“Masa taunnya kelihatan, Bos. Seharusnya kan tidak …”
“Diam kamu … Cepat
suruh mereka berjalan lagi, bila perlu paksa mereka berlari …”
“Siap Bos.”
Si kumis segitiga mendaratkan cambuk ke kaki Kuyung. Begitu
juga dengan pelontos. Dia malah bukan cuma sekali. Tapi sampai berkali-kali,
baru BiJe dan dua rekannya berjalan, meniti anak tangga ke puncak bukit.
Hiyaaa …
“Adouw …” Jerit Kuyung. Sebatan kedua, walau tidak sekuat
yang pertama, karena sempat mengenai si ‘kepala rudal’, sakitnya bukan main.
Kesakitan yang dirasakan Kuyung seolah dirasakan juga oleh
ketiga temannya. Tapi mereka tak bisa berbuat apa-apa karena selain penjagaan
yang ekstra ketat juga si pelontos tak memberi mereka kesempatan untuk
bernafas.
Hiyaaaa …
Tas … tas … tas …
“Aduh Om. Tega nian di kau kepadaku,” pekik Iqbal, mengaduh
kesakitan setelah pinggulnya yang mulus dicambuk tiga kali. Memerah dan lecet
tapi belum sampai mengeluarkan darah.
Tas … tas … tas …
“Sakit Om Pelontos,” jerit Adam. Dia menjerit karena yang
dicambuk si pelontos adalah pantatnya. Saking kuatnya, bagian belakang itu
celana robek.
Tas … tas … tas …
“Setan kau Om …” Ringis BiJe. Si pelontos mencambuk persis
di dekat selangkangannya.
“Apa kau bilang tadi?”
“Om setan …”
Tas .. tas … tas …
BiJe nyaris pingsan setelah cambuk si pelontos bertubi-tubi
mengenai pinggang, perut dan pantatnya. Iqbal dan Adam yang bermaksud hendak
menolong BiJe, malah terkena cambuk lebih keras lagi. Kulit jadi pecah-pecah
dan mulai mengeluarkan darah.
Sementara Kuyung berusaha meniti anak tangga. Namun, baru
beberapa langkah, dia terjatuh. Si kumis segitiga bukannya menolong. Dia malah
menendang perut Kuyung berkali-kali, sampai tak sadarkan diri.
“Angkat dia dan jebloskan ke dalam sel.” Perintah si kumis
segtiga kepada anak buahnya.
BiJe sempat menyaksikan bagaimana Kuyung digotong ke puncak
bukit dengan badan lecet penuh bercak darah. Sedangkan Iqbal dan Adam hanya
bisa memukul-mukulkan tangannya di tanah.
“Biadab!” Kata keduanya memandang tajam kea rah si pelontos.
Merasa ‘dipelototi’, pelontos tidak lantas bertanya kenapa,
malah dengan cepatnya dia mengayunkan cambuk mendarat ke leher, pantat, perut
dan kaki.
Jeritan kesakitan keluar dari mulut Adam dan Iqbal. Diseret
keduanya oleh pelontos. Lalu disuruh berdiri dan ditendang berkali-kali
selangkangannya, hingga roboh tak bangun lagi.
“Bawa mereka,” perintah pelontos kepada rekannya yang lain.
Huuuup jeleduuuk ..
“Dikemanakan Bos?”
“Masukkan ke sel,” kata si pelontos.
“Siap laksanakan …”
Tinggal lagi BiJe. Dengan tertatih-tatih dia mencoba
berdiri. Bisa memang. Tapi belum sempat berdiri, cambuk sudah mendarat di
punggungnya.
“Rasakan ini …!” Kata si pelontos dengan kasarnya sambil
mencambuk punggung BiJe berkali-kali.
Sesaat cambukan itu berhenti. Si pelontos mendekati BiJe
yang meringis menahan sakit. Diangkatnya itu kepala. Ketika BiJe tertawa
dihentakkannya ke tanah, hingga tak sadarkan diri.
“Bawa dia!” Perintah si kumis segitiga. Bersama pelontos dia
sempat memukul punggung BiJe sebelum dibawa masuk ke sel bersama tiga temannya.
Sel itu kecil. Hanya berukuran 2,5 x 4 meter. Tak pernah terkena sinar matahari.
Jauh dari kesan bersih. Sel ini pernah ditempati oleh banyak orang yang terkait
dengan tindak kriminal berat. Kendati demikian, di sel ini juga sering dihuni
oleh para pendatang yang dicuriga berbuat tak senonoh di sekitar kawasan hutan
perbukitan.
Tak ada tempat tidur. Bije, Kuyung, Adam dan Iqbal terpaksa
tidur ngapar di lantai semen coran.
Karena tidak ada alas tikar, baju dijadikan alas tidur agar tidak kedinginan
saat pejamkan mata. Tidak ada toilet. Jadi bila ingin buang air kecil dan
besar, harus keluar sel dan seizin penjaga sel. Berada di depan pintu utama
masuk sel, toilet digunakan untuk umum, tentu harus antri jika jam-jam sibuk
seperti di pagi hari, siang dan malam sebelum tengah malam.
Apa yang dikerjakan BiJe cs?
Tidak ada. Mereka hanya baring-baringan Ngobrol dari hati ke
hati, berpikir keras mencari cara agar bisa meninggalkan tempat pengap dan
terkutuk ini. Sebab, jika keinginan diperturutkan bisa hilang akal, stres
berat. Betapa tidak, di mana-mana cuma dinding. Kanan dan kiri dinding, depan
dan belakang juga sama. Tak ada ventilasi, apalagi yang namanya jendela.
“Pening kepalaku,” celetuk Iqbal kehabisan akal.
“Aku juga pening, Bal.” Sahut Adam. “Cuma kalau
diperturutkan peningnya kita bakal binasa.”
“Binasa gimana?”
“Kita seperti orang bodoh. Idiot, pikun dan asing di mata
orang-orang …”
“Kamu Je?”
“Aku sih Bal, tak tahulah harus bagaimana. Soalnya yang
penting lukaku ini sembuh dudulah. Setelah itu baru bisa memikirkan yang lain
…”
“Aku juga Bal,” kata Kuyung menimpali,” Entahlah … apa bisa
lukaku ini sembuh. Soalnya sampai sekarang tak ada tanda-tanda bakal diobati …”
Seolah putus asa, Kuyung bercerita kalau luka ini tak
kunjung sembuh, alamat badan akan jadi sengsara. Terganggu kita. Ke mana jalan,
kaki ini melangkah, sakit dan nyeri. Belum lagi darah akan mengucur jika
dipaksa anggota badan ini digerakkan.
“Tapi menurutku,” ucap BiJe sambil meringis menahan sakit, “Kita
tak boleh putus asa. Sebab, putus asa itu dosa. Lagi pula tak boleh kita patah
semangat. Kita harus kompak. Kita harus
yakin bahwa Tuhan pasti menolong kita …”
“Tapi Je, dengn kondisi kita seperti sekarang ini, sudah
terpencil di atas bukit, tak seorang pun yang tahu keberadaan kita, apa mungkin
kita masih berharap bisa membebaskan diri dari tempat ini,” jelas Iqbal.
“Tergantung kitalah. Makanya kita harus kompak ..”
“Kompak … kompak. Kompak … kompak …”
Serentak berpelukan erat.
Sebelum akhirnya terlelap tidur. Saat bangun keesokan
harinya mereka sudah berada di tanah
lapang. Mereka terkurung dalam kandang menjangan. Mereka sempat terkejut, namun
itu sirna seketika saat terdengar gemuruh suara tepuk tangan dan teriakan
orang-orang yang duduk di barisan tribun penonton.
Tua muda berkumpul jadi satu. Tak ada rasa sedih, takut.
Semua berwajah ceria. Tak henti bertepuk tangan, suwit-suwitan dan bahkan ada
yang berjoget meliuk-liukkan badan serta berdendang riang.
Ketidak-tahuan BiJe dan ketiga rekannya baru terjawab
setelah dari balik pengeras suara, nama Iqbal dipanggil, oleh penjaga sel.
Ditarik paksa ke luar dari kandang menuju tengah lapangan.
“Kami perkenalkan. Inilah dia Iqbaaaaaal. Si penakluk ular
cobra berbisa dari daratan …” Suara itu lantang terdengar. Saat bersamaan,
Iqbal dibiarkan sendirian berdiri di tengah lapang. Dia dipaksa memberi hormat
kepada penonton yang kembali bertepuk tangan.
Greeeeng …
Pintu kecil tribun terbuka. Keluarlah seekor ular cobra yang
ganas mendekati Iqbal yang mendadak lemas, muka pucat dan gugup setengah mati.
***
VIII
SIIIIIS … siiiiiis … siiiiis …
Cobra mendesis.
Iqbal masih memejamkan matanya saat cobra menjulur-julurkan
lidahnya. Keringat dingin mulai memba sahi punggung dan dadanya. Dia cuma bisa
berharap Cobra tidak menggiigitnya. Sebab, kalau sampai kena gigitan ini ular,
bisanya masuk ke badan, alamat nyawa bakal terbang melayang.
Siiiiis … siiiiis … siiiiis …
Cobra mulai merayapi badan Iqbal. Mulai dari kaki, paha,
leher, perut sampai ke kepala. Lalu dari kepala, turun ke dada, perut dan kaki.
Siiiiis … siiiiis … siiiiis …
Cobra lama berdiam di atas ‘ruda’ Iqbal. Saking takutnya,
Iqbal tak berani melihat. Dia cuma bisa merasakan betapa gelinya dirayapi ular.
Sudah licin, lembut pula.
Sejumlah penonton berdecak kagum setelah cobra melewati anggota badan Iqbal yang lain, untuk kemudian
kembali ke tempatnya semula, berhadap-hadapan dengan Iqbal. Penonton tak tahu
kalau seakarang Iqbal terkencing di celana, saking takutnya. Dia menduga si
rudal kesayangannya sudah lenyap ditelan cobra.
“Alhamdulillah,” bisiknya dalam hati.
Plak .. plak … plak …
Penonton bertepuk tangan. Iqbal membuka matanya. Sempat
kaget karena cobra juga memandangnya dari dekat. Lama saling tatap. Cobra
mundur beberapa centimeter. Iqbal melepas bajunya.
Untuk apa?
Jadi senjata melawan cobra. Dia berdiri sambil memegang
bajunya. Itu baju dilepas lurus persis sebuah tongkat. Dia putar-putar itu baju.
Cobra menjulurkan lidahnya. Siap mematuk.
Hussss … duuup ..
Berhasil dielakkan Iqbal. Cobra penasaran, dikejarnya Iqbal.
Bisa mengejar, tetapi saat hendak mematuk, Iqbal berhasil memukulkan ‘tongkat’
bajunya ke kepala cobra. Tidak ada suara, selain menarik kepalanya agak ke
belakang.
Cobra mendekat lagi. Dia semakin ganas bereaksi.
Berkali-kali mematuk kaki dan paha Iqbal, tapi selalu meleset karena Iqbal
cepat menghindar.
Iqbal merubah gaya. Kalau tadi lebih banyak menghindar
dengan sesekali melepaskan pukulan, kini tidak lagi. Sebab, meskipun kena, cobra
masih tetap hidup dan lebih beringas dari sebelumnya.
“Coba dengan ini,” ucapnya, gemas dalam hati.
Baju itu dia putar-putar, lalu dipukulkan ke tanah, tak jauh
dari cobra berada. Sempat terkena percikan batu kerikil, cobra mendorong
kepalanya ke depan. Dia patuk dengkulnya Iqbal, yang secara bersamaan berhasil menangkap leher cobra. Ditekan
sekuat mungkin dengan harapan cobra lemas, jatuh dan mati terkapar.
Sayang perkiraan Iqbal meleset. Cobra ternyata berhasil
memutar tubuhnya yang dengan sekali
mengi baskan ekornya berhasiil mengenai punggung Iqbal, jatuh terpental.
Iqbal cepat bangkit. Ketika cobra menyerangnya, Iqbal
memukulkan buntelan baju itu ke kepala cobra berulangkali. Terus memukul, lalu
menghindar dan melepaskan pukulan lagi. Tenaga terkuras, cobra taka pa-apa.
Penonton ketawa takjub.
“Pandai sekali anak itu,” kata si ibu kepada anak gadisnya
yang mulai meranjak dewasa.
“Boleh kan Ma pacaran dengan kakak itu?” Tanyanya polos.
“Husy … Masih ingusan tau …” Jawab si ibu sambil terus
memperhatikan Iqbal menghindar dari patukan ular cobra.
“Sudah kubuang tadi ingusnya, Ma. Sekarang tidak ingusan
lagi,” jawab si anak.
“Bukan itu maksud Mama sayang …”
“Jadi apa Ma?”
“Enggak usah dulu pacaran. ‘Ntar kalau kamu memang suka,
langsung aja kawin.”
Ha ha ha ha …
Seorang kakek bertopi terbalik ketawa ngakak. Saking
ngakaknya giginya yang separo ompong kelihatan.
“Sama kakek aja cung …”
Huh u hu hu …
Sang nenek gantian ketawa. Karena kelewat kurus, kelihatan
semua urat di lehernya.
“Mending tak usah kawin aja cung daripada sama kakek itu,”
kata si nenek.
“Kenapa nek?”
“Udah loyo … “
“Apanya yang loyo nek?”
“ Perkakasnya …”
Ha ha ha ha …
“Maksud nenek, kalau mau kawin sama yang muda. Masih kuat,
sehat dan sanggup semalam suntuk.”
Hu hu huh u …
Seorang balita di samping nenek ikut ketawa.
“Mending sama aku juga tante…” Kata si bayi tersenyum lebar.
Hua ha ha …
“Biar tante bisa gendong aku dan cium-cium aku terus. Aku
tak marah kok Mbak …”
Kakek dan nenek tertawa.
Hampir semua penonton tertawa. Bukan cuma karena ulah polah si
bayi barusan, tapi juga reaksi cobra yang begitu cepatnya mencomot celana
Iqbal.
Praktis Iqbal kini cuma mengenakan celana dalam doang.
Sebab, celana yang dipatuk cobra robek besar dan percuma dikenakan karena koyak
di selangkangannya.
Mengandalkan buntelan baju yang memanjang, Iqba naik
emosinya. Kini giliran dia yang hendak mema tuk-matuk ular. Penonton ketawa.
Pasalnya, saat Iqbal hendak mematuk, cobra
justru menari-nari ka yak mendengar suara suling yang kerap ditiup oleh pawang
ular.
“Serang terus Om,” pekik anak perempuan berambut pirang
sambil menepuk-nepuk pipinya
berulangkali.
“Serang terus dik. Jangan takut,” pekik ibu yang sedang menyusui bayinya berumur dua minggu.
“Sate aja itu ular,” sahut yang lain dengan suara nyaring.
Ada semangat baru. Tapi belum cukup. Karena Cobra percaya
diri. Kalau tadi sukses mematuk celana Iqbal, kini incaran berikutnya adalah
‘kolor’nya. Tidak mudah, karena tentunya Iqbal akan mati-matian mempertahankan
celana dalamnya.
“Ini tidak boleh terjadi,” bisik Iqbal dalam hati.
Cobra memanjangkan lehernya. Dia melingkar-lingkar mengikuti
ke mana kaki Iqbal melangkah. Melepas kan patukannya, dengan cepat Iqbal mengelak. Mundur beberapa langkah, melepaskan pukulan,
itu bundelan kena telak di kepala ular.
“Mampuslah kau …” Iqbal geram melihat kepala ular yang sukar
ditaklukkan.
Melihat cobra hanya diam saja, Iqbal membabi-buta
mendaratkan kembali pukulan ke kepala cobra. Lupa dengan pertahanan diri, cobra
melompat dan berhasil mematuk celana dalam Iqbal. Terlepas separo. Robek.
Separonya masih menggelantung.
“Auuuw …!” Penonton remaja puteri berteriak histeris sambil
menutup kedua mata mereka dengan telapak tangan.
Teriakan dan jeritan itu semakin histeris tatkala cobra
mencabik-cabik kolor Iqbal, sementara kini Iqbal tak mengenakan sehelai benang
pun.
“Mama … malu aku, Ma.” Ucap seorang remaja puteri
menyembunyikan mukanya di perut sang bunda.
“Kenapa say?”
“Kasihan kakak itu, Ma.” Katanya lirih.
“Kasihan apa kepingin?”
“Dua-duanya Mama …”
“Huuusy … jorok. Tak boleh kau berkata seperti itu …” Nasehat
sang bunda.
Ciyaaaaat …
Iqbal memberanikan dirinya menangkap kepala ular. Tak ada
pilihan lain. Malu atau mati. Dia pun me ladeni cobra berguling-gulingan di
tanah. Kadang dia di bawah, lain waktu di atas. Adegan seru ini me mukau
kebanyakan penonton muda usia.
Mereka bukan cuma bisa menyaksikan bagaimana Iqbal dengan
gigihnya berkelahi dengan cobra, tapi dengan semangat yang tersisa, bugil
seluruh tubuh, menahan malu ditonton banyak orang, dia sukses menaklukkan
lawannya dengan hanya segenggam pasir bercampur tanah dan cengkraman kuat di se
kitar kepala dan leher cobra.
***
IX
AUUUUUM …
Singa, si Raja Hutan keluar dari sangkarnya. Dia tidak serta
merta mengejar Kuyung. Dia justru berkeliling sambil tersenyum
menggoyang-goyangkan kepalanya, lalu mengaum dan menuju ke tengah lapangan.
Badannya berputar-putar sejenak, memberi hormat kepada
penonton. Lepas itu, mengangkat silih ber ganti kedua tangannya pertanda salam
sejahtera untuk penonton. Sebelum akhirnya duduk bersila di tanah lapang.
“Wauuuw …!” Kata salah seorang seorang remaja berambut
gondrong. Dia betu-betul takjub dengan sikap dan perilaku singa barusan.
“Betu-betul surprise,” ujar teman di sebelahnya berkacamata
minus-plus. Dia tak bisa membayangkan betapa amannya hewa-hewan di belantara
jika singa yang mereka saksikan ini sama dengan singa yang hidup dan menetap di
hutan belantara.
“Boleh enggak Ma kita pelihara?” Tanya anak perempuan
sekolah dasar.
“Enggak boleh sayang,” jawab ibunya seraya mencium hangat
pipi belahan hatinya itu.
“Kenapa Ma?”
“Kalau dimakannya gimana?”
“Mati ya Ma?”
“Ya sayang. Matilah.
Namanya juga dimakan. Apalagi yang makan singa,” jelas sang ibu.
“ Kenapa singa doyan daging manusia?”
“Karena dia lapar. Kalau lapar semua daging dia makan.”
“Kalau kenyang, Ma?”
“Dia tidur …”
“Ngorok Ma?”
“Iya dong …”
Penonton bertepuk tangan setelah Kuyung memperagakan di
depan penonton jurus ‘Singa Menari’. Berbekal sebilah kayu di tangan dengan
kepala ditutup baju, Kuyung melompat-lompat sambil beberapa kali menyentuhkan
depan kayu panjang itu ke tanah.
Tak lama kemudian disusul Singa. Berjalan sambil
meliuk-liukkan ekornya, mengangkat kedua tangan dan kakinya, lalu
berguling-gulingan. Dan, yang membuat penonton gemas, mencium hangat pipi
Kuyung.
Plak … plak … plak …
“Kampret tu singa.” Gerutu si tahi lalat. Bukannya mau menyantap
habis Kuyung, malah bermesra-mesraan bak dua sejoli yang dimabuk asmara.
“Apa yang salah ya?” Tanya pelontos. Padahal itu singa dipilih karena ganas dan
tak pilih kasih dalam melahap mangsanya.
“Keparat tu orang,” kata si kumis segitiga. Marah bercampur
geram. Dia ingin rasanya menghabisi Ku yung dan itu singa lantaran bukan saling
bunuh tapi justru menjalinan pertemanan dan sangat akrab.
Plak … plak … plak …
Penonton kembali dibuat takjub ketika Kuyung dalam posisi
jongkok, singa naik ke punggungnya. Lalu mengangkat kedua tangannya, di
dekatkan untuk kemudian bertepuk tangan.
“Kok singanya pintar sekali ya Ma.” Kata anak laki-laki
berusia di bawah sepuluh tahun dengan tak henti-hentinya berdecak kagum. Saking
kagumnya sampai lupa kalau yang dia masukkan ke mulut barusan bukan permen
cokelat tapi kunci motor sang mama.
“Diajari kali ya say,” jawab sang mama sekenanya.
“Yang ngajarin siapa Ma?” Si anak penasaran.
“Oranglah sayang …”
“Om itu kan Ma?” Si anak berdiri sambil menunjuk Kuyung
sedang berdansa dengan si singa.
“Mungkin juga say …”
Kali ini, entah karena keki dan geram yang tak terbendung,
si pelontos, tahi lalat dan si kumis segitiga, memasuki lapangan. Mereka sengaja menggoda si singa,
lalu mendekati Kuyung, dengan maksud singa marah dan kena marah serta amuk
adalah Kuyung.
Berhasilkah?
Tentu saja tidak. Karena olok-olok mereka bertiga, mereka
sendirilah yang menanggung akibatnya. Lari terbirit-birit dikejar singa. Mau
lari kemana, tak ada tempat untuk berlari. Karena tribun penonton dibatasi
pagar kawat. Sulit untuk masuk kecuali dengan cara memanjat.
“Pa …!” Sapa anaknya yang masih kecil. Dia menunjuk ke arah
kumis segitiga, tahi lalat dan kepala pelontos.
“Mereka mau lari …” Jawab sang papa.
“Tapi kenapa enggak bisa-bisa dong Pa?”
“Karena yang dinaiki itu kan kawat. Licin dan kecil.”
Penonton tertawa terpingkal-pingkal melihat ulah si tahi
lalat turun naik dan naik turun, sampai tiga kali. Kali yang keempat, baru akan
melompat, karena digoyang-goyang singa dengan kepala, tangan dan kakinya, jatuh menimpa kepala
singa.
Hua ha ha ha ha …
Oleh singa, kepalanya diangkat ke atas, terpentallah si tahi
lalat. Bergantungan d I celana pelontos. Ka rena terlalu kuat berpegangan, itu
celana melorot ke bawah. Robek malah. Lepas dan masuk ke mulut singa.
Auuum … uaaach …
Sementara singa mengunyah habis celana pelontos, tahi lalat
dan kumis segitiga masih berpegangan di kawat pembatas tribun penonton.
Pelontos masih kesal karena sempaknya sempat nyangkut di sela kawat.
“Lalat … tolooong ..!” Teriak pelontos.
“Bentar,” jawab si tahi lalat.
Dia kendurkan sedikit talinya kolor pelontos, lalu
ditariknya pelan-pelan ke atas, lepaslah tali itu dari sangkutan kawat.
“Sudah Tos …”
“Oke .. trim’s ya …”
Bagaimana dengan Kuyung?
Sejak tadi dia tertawa terbahak-bahak melihat pelontos,
si tahi lalat dan kumis segitiga jadi
bula-bulanan singa. Pontang-panting lari ke sana kemari menyelamatkan diri dari
kejaran singa.
“Kasihan deh lu,” ujar seorang bapak yang menonton sendiri
tanpa disertai anak dan isterinya yang lagi pergi kondangan.
“Biar tahu rasa mereka,” sahut bapak di sebelahnya.
“Udah tahu itu singa. Mereka kira roti apa.” Celetuk ibu
muda dengan tiga anaknya yang masih kecil
tidur lelap di pangkuannya.
Auuuuuum …
Singa kembali mendekati pelontos dan kedua rekannya.
Digoyangnya berkali-kali itu pagar pembatas. Karena goyangannya terlalu kuat,
terjatuhlah ketiganya persis menimpa badan dan kepala singa.
Auuuum … Woaaaah.
Singa memutar-mutar badannya. Lepas itu ia berkeliling
seolah hendak mengatakan inilah orang-orang yang tak tahu diuntung. Sudah
beruntung, ngiri lihat orang lain beruntung, akhirnya buntung.
Klepak … tas.
Kuyung memukulkan kayu ke tanah. Singa berhenti berkeliling.
Dia kembali ke tengah lapangan. Duduk bersimpuh di depan Kuyung. Sedangkan si
pelontos, tahi lalat dan kumis segitiga berjejer di sampingnya.
“Lariiiii ….” Teriak pelontos.
Ketiganya berlari kencang ke arah yang berbeda. Pelontos ke
kiri, tahi lalat ke kanan dan kumis segitiga ke arah depan.
Sama seperti yang mereka lakukan sebelumnya. Tak ada jalan
lain selain memanjat. Sang singa tak rela mereka lepas, meloloskan diri.
Makanya dia mengejar ketiganya. Dia tendang dan injak membuat yang dikejar tak bisa memanjat.
“Aduh ..” Kata pelontos. Pinggangnya sakit karena barusan
diinjak singa. Begitu juga dengan si tahi lalat dan kumis segitiga.
“Ampun singa,” rengek si tahi lalat mencucurkan air mata.
“Kami mengaku salah,” aku kumis segitiga.
Singa cuma tertawa. Diseretnya ketiganya mengelilingi
penonton dengan menggunakan mulut, tangan dan kedua kakinya. Penonton sempat
histeris menyaksikan singa menginjak badan pelontos sebelum ditendangnya
kuat-kuat dengan kedua kakinya.
“Tembaaak …! Perintah sang komandan pada anak buahnya.
Sepuluh butir peluru mengenai kepala, badan dan ekor singa.
Jatuh terjerembab, bersimbah darah dan tewas seketika.
Penonton panik. Namun, berkat kesigapan petugas keamanan
bukit, situasi cepat diatasi dan kondusif. Singa yang mati diseret masuk ke
sangkarnya.
Sedangkan Kuyung dipaksa masuk kandang, tempatnya semula
bersama teman-temannya yang lain. Dia sempat melakukan perlawanan, oleh
petugas dipukul kepalanya menggunakan
momcong senjata laras panjang. Jatuh pingsan.
Penonton terdiam. Hening seketika. Saling berbisik. Menunggu
apa gerangan yang disuguhkan berikutnya.
***
X
“ADUH … Mama …” Teriak beberapa orang anak menjauh dari
pagar batas tribun yang diseruduk banteng.
“Jelek ya Ma, bantengnya …” Ucap anak berambut cokelat.
Terus menangis sesunggukan di pangkuan ibunya.
“Udah ya sayang. Nanti Mama pukul itu banteng,” jawab sang
ibu sambil mengusap kepala anaknya agar tidak menangis lagi.
“Pukul Ma.” Rengek si anak.
“Ukh kau banteng,” kata sang ibu sambil memukul kursi di
depannya yang baru saja ditinggal pergi pemiliknya.
“Itu kursi, Ma. Bukan kepala banteng.”
Ha ha ha ha …
Penonton lansia tertawa mendengarnya.
“Berapa Bu umurnya?” Tanya si kakek pada ibu si anak.
“Bawah enam tahun , Pak.”
“Tapi udah bisa membedakan mana kursi dan kepala banteng ya
Bu. Benar-benar pintar anak ibu,” puji sang kakek.
“Na, apa kan Bu. Apa kata si kakek barusan. Kursi lain ya
Kek dengan kepala banteng?!”
Sang kakek tersenyum.
“Betul cung. Kepala banteng lebih kuat dari kursi yang ibumu
pukul barusan.”
“Bisa enggak dipukul, Kek?”
“Bisa, tapi nanti ibumu luka …”
“Lukanya kenapa Kek?”
“Diseruduk banteng …”
“Mama … takut!” Kata si anak memeluk ibunya erat-erat.
Di bawah tribun, Adam melepaskan baju yang dia kenakan. Baju
itu ia bentangkan sejenak sebelum dikibarkan seperti mengibarkan bendera.
Banteng bersiap. Dia meluncur ke tempat di mana Adam
berdiri. Dengan entengnya, Adam membentangkan bajunya, diseruduk banteng dan …
“Waaaauw … mati dia!” Teriak ibu berkulit hitam sambil
menutup mulutnya menahan teriakan agar tak terdengar dan menyebar ke mana-mana.
Adam terseret badan banteng. Jauh juga dia terseret. Baru
bisa melepaskan diri dari amukan si banteng setelah badannya membentur dinding
pembatas tribun.
“Mati enggak dia Pa?” Tanya
si anak kepada ayahnya yang sejak tadi menonton tak pernah lepas dari
permen karet.
“Enggak kayaknya say …” Jawab si ayah, menaruh permen karet
yang dia kunyah ke kotak sampah, lalu mengunyah permen karet yang baru
diambilnya dari saku baju kaosnya.
“Kok kayaknya Pa? Si anak bertanya dengan nada keheranan.
“Soalnya dia masih bisa bangun,” jawa sang ayah sambil mengajak
anaknya melihat Adam yang harus jatuh bangun untuk berdiri dan bersiap
menghadapi serudukan banteng.
“Majulah kau banteng!” Ucap Adam yan bersiap menahan
serudukan banteng.
Banteng berlari. Mengejar Adam yang berlari kencang tapi zig
zug. Karena kebanyakan beloknya, si ban teng berbalik dikejar Adam. Dia tarik
buntut banteng dan bergelantungan mengikuti kea rah mana lari nya si banteng.
Ha ha ha ha …
Penonton pada ketawa terpingkal-pingkal. Kenapa? Yang
banteng cari dan seruduk, Adam punya nama, justru bergantung di ekornya. Jadi
ke mana dia berlari, tak akan dapat si Adamnya.
“Kasihan ya Ma bantengnya,” kata anak perempuan yan asyik
melahap sate kambing.
“Kasihan kenapa say?”
“Yang diseruduk ada di ekornya.”
“Ya. ‘Ntar lagi juga bisa …” Jawab sang ibu.
“Bisa lepas Ma?”
“Banteng pasti tahu cara mengatasinya. Tunggulah sebentar
lagi …”
Benar saja. Beberapa menit kemudian si banteng berlari
mengelilingi penonton dengan sesekali mem benturkan badannya ke dinding
pembatas. Lama kelamaan tangan Adam terlepas dari ekor si banteng.
Geruduuuuk … gup.
Adam mengaduh kesakitan setelah badan dan kepalanya
membentur dinding beton. Masih untung tak sampai pingsan. Dia cepat berdiri dan
memanjat setelah berhasil mendapatkan kembal bajunya yang terlempar ke tengah
lapangan.
“Cepat dik …!” Jerit seorang ibu setelah melihat banteng
makin beringas hendak menyeruduk Adam yang baru semeter memanjat pagar tribun.
Jegaaar … jegiiirr … jeguuur …
Banteng berkali-kali membenturkan tanduk dan kepalanya ke
beton. Tapi beberapa kali juga Adam berhasil menghindar sehingga terselamatkan dari serudukan
banteng.
“Mungkin lapar ya Ma bantengnya,” ujar puteri remaja pada
ibunya yang sejak tadi tak pernah bicara.
“Ma …!”
Mamanya menoleh.
“Mama kok serius banget nontonnya.”
“Ya namanya juga nonton yang. Kalau enggak serius bukan
nonton namanya … Tapi melamun.”
Hi hi hi hi …
Nenek di sebelahnya yang ikut nguping, ketawa sambil
memperlihatkan dua buah giginya yang masih tersisa.
“Bantengnya Ma. Lapar kali ya Ma?” Si anak mengulangi lagi
pertanyaannya dengan harapan si ibu bisa menjawabnya dengan jelas.
Si ibu berpikir sebentar.
“Mungkin juga lapar yang,” jawab si ibu yang kali ini tidak
lagi irit bicara.
“Kalau mau,” lanjut sang ibu, “Kita ajak si bantengnya makan
sama-sama di restoran …”
“Mau Ma … tapi ..”
“Jangan banteng yang ini. Banteng yang lain kan banyak.
Kalau yang ini ganas dan galak. Kalau di tempat lain, Mama kira tidak …”
Si anak ketawa. Gembira hatinya. Tak henti-hentinya dia
mencium mesra kedua belah pipi ibunya tercinta.
Jegaaar … jegaar … jegaaar ..
Banteng terus membenturkan kepalanya ke tembok setiap kali
Adam menggerakkan kedua kakinya. Karena diusir petugas, jangan melompat ke dalam
tribun, Adam akkhirnya memilih memanjat gaya samping.
Lurus ke samping, persis kalau orang sedang meniti jembatan
dilihat dari samping. Sesekali dia menju lurkan bajunya, diseruduk banteng.
Karena tidak ada cara lain selain mengajak duel
si banteng, Adam memilih melompat di atas kepala banteng.
Huuuup. Jeguuur … Jegiiiiir …
Adam menarik kuat itu tanduk. Lalu diikatkannya dengan tali
baju. Sayang terlepas lagi. Dia terpaksa berpegangan di tanduk banteng yang
mengamuk, sebelum akhirnya jatuh berguling-gulingan di tanah.
“Auuw …”
“Jangan mati …”
Teriakan penonton
puteri. Mereka tak rela Adam mati ditanduk si banteng. Dicincang habis perut
dengan segala isinya. Mereka justru berharap banyak Adam berhasil menaklukkan si banteng.
“Dia masih muda. Masih kuat. Sayang kalau dia harus mati
sekarang,” ucap kakek berbadan gemuk
dengan rambut belum sehelai pun ditumbuhi uban.
“Tidak enak kita kalau dia mati secara mengenaskan,” sahut
teman kakek bermata biru dengan rambut potong poni.
“Naksir kagak elu sama dia?” Canda remaja puteri berkacamata
plus kepada rekannya yang agak pendiam dan pemalu.
“Enggaklah …”
“Kenapa? Enggak suka?”
“Udah ada yang punya si dia …”
“Kok bisa tahu kalau si dia sudah ada yang punya?”
“Tahu ajalah …”
“Darimana?”
“Dari si dia.”
Si dia yang mana?”
“Ada deh …”
Ha ha ha ha …
Penonton kembali tertawa setelah si banteng berhasil merobek
celana yang dikenakan Adam. Dari balik celana itu ada darah. Adam meringis
kesakitan. Tapi dia terus berlari dan berhasil memanjat pagar ka wat pembatas.
Saat banteng menyeruduk beton dinding pagar, Adam memutar
badannya. Dia melakukan salto. Lalu mendaratkan pukulan ke perut banteng.
Cekeraaak … cekeriiiik … cekeruuuuk …
Adam memegang kaki banteng. Terseok-seok larinya. Pincang
sebelah kanan. Entah bagaimana, Adam memelintir itu kaki sampai patah mematah.
“Wow. Tak kusangka anak itu ternyata hebat juga,” puji
laki-laki sebaya Adam.
“Mau coba?” Tawar temannya.
“Ogah ah …”
“Kenapa?”
“Ogah aja …”
Plak … plak … plak …
Penonton bertepuk
tangan. Adam mengangkat tinggi tangan si banteng, memberi hormat dan mengaku
kalah dengan terhormat.
***
XI
“KELUAR …!” Sergah opsir penjaga kandang kepada BiJe yang
sepertinya enggan keluar dari kandang ayam tempat dia dan kawan-kawan ditawan.
BiJe dengan berat hati melangkah keluar. Matanya masih berat
bukan karena mengantuk tetapi kelelahan karena kurang istirahat.
Plak … plak … plak …
Penonton bertepuk tangan. Mereka sangat gembira dengan
kehadiran BiJe. Karena sebentar lagi akan terjadi duel seru antara BiJe dan si
Mata Satu. Seorang algojo yang sangat ditakuti di kawasan bukit tak bertuan
ini.
BiJe berdiri di tengah lapangan. Dia membungkukkan badan,
memberi hormat kepada penonton. Semua saling pandang dan bertanya satu sama
lain, apa mungkin anak muda yang masih bau kencur ini bisa mengalahkan si Mata
Satu.
“Gue yakin yang menang pasti si Mata Satu,” kata lelaki
berhidung pesek.
“Alasan kamu?”
“Mata Satu lebih hebat. Badannya super kuat … saya justru
kuatir. Jangan-jangan …”
“Kenapa?” Tanya teman si pesek.
“Bisa mati cepat dia …”
“Aku juga berpikir begitu …”
Ha ha ha ha …
“Belum tentu,” jawab si kakek yang ikut nimbrung beberapa
saat kemudian.
“Alasannya Kek?” Si pesek keheranan.
“Itu anak pasti bisa mengalahkannya …”
“Kalau bisa apa dong Kek alasannya?”
“Sederhana .. Dia masih muda. Badannya tida gemuk. Jadi dia
lentur dengan segala keadaan. Bisa
melompat kesana kemari dan seterusnya dan seterusnya …”
“Gue lum yakin dengan alasan kakek,” kata si pesek.
“Kita lihat saja nanti ,” jawab si kakek, mengalihkan
pandangan matanya ke tengah lapangan di mana BiJe dan si Mata Satu sudah saling
berhadapan satu sama lain.
Huchaaa … he …
Si Mata Satu mendekati BiJe, lalu memeluknya kuat-kuat dan
dibantingnya ke tanah.
Kretaaak …
Ada yang patah?
Tulang kaki BiJe seolah ada yang patah. Untung tak sampai
pingsan. Dia berdiri lagi, dipiting Mata Satu kedua tangannya. Ditekan dan …
Kreteeek …
BiJe mengaduh kesakitan. Kedua tangannya terasa berat untuk
digerakkan. Namun dengan semangat yang membaja, dia masih sempat berdiri,
mengeluarkan jurus ‘Selamatkan Diri’.
Kedua tangan direntangkan dengan kedua jari kanan dan kiri
ditekukkan. Kaki kanan diangkat lalu menyilangkan kedua tangan.
“Hua ha ha … jurus apa itu anak kecil?” Tanya si Mata Satu ketawa
lebar.
“Jurus untuk mematahkan lehernya tuan,” jawab BiJe.
Ha ha ha ha …
“Apa aku tidak salah dengar kutu busuk …?”
“Tidak tuan. Kalau
anda salah dengar berarti tuan pekak. Ini kan tidak …”
Haah ..
Mata Satu tersinggung. Dia naik pitam. Dia mengayunkan
pedangnya. Berhasil dielakkan oleh BiJe. Sambil bergulingan di tanah, ia
tendang betis si Mata Satu.
Gedebug …
Bergemuruh suara penonton. Baru kali ini si Mata Satu
terjatuh karena ditendang lawan. Merasa dipermalukan dihadapan banyak orang,
dia bangkit dan tiada henti mengayunkan pedang.
Ingin rasanya dia menebas batang leher BiJe. Ingin rasanya
melihat BiJe berjalan tanpa leher dan kepala. Lalu menyembah-nyembah padanya
agar tidak sampai dibunuh.
Namun itu tidak terwujud
manakala tendangan BiJe berhasil mengenai ulu hatinya. Lalu perut dan
kepalanya. Malah sempoyongan sebelum akhirnya terguling di tanah.
“Luuu Mata Satu mati ngantu.” Teriak penonton di tribun
sebelah kanan.
“Badannya aja gede. Mentalnya mental tempe,” sahut penonton
di tribun sebelah kiri.
“Orangnya aja yang besar …” celetuk penonton di tribun
tengah.
Suara ejeken dan teriakan hinaan, caci maki membuat si Mata
Satu panik. Dia geram, marah dan malu. Berbaur jadi satu. Dendam kesumat mulai
menghinggapi otak kanannya. Giginya bergemeretak. Nafas nya turun naik teramat
kencang dengan pandangan mata yang mulai tak jelas. Dia tangkap kaki Bije saat
hendak mendarat di kemaluannya.
Gedebuk .. gup .. bresss …
Diangkatnya badan BiJe, lalu dibantingnya sekuat mungkin ke
tanah sampai tiga kali. Lalu memberi hormat kepada penonton. Dia menepuk-nepuk
dadanya berkali-kali sebagai tanda dialah pemenangnya. Dialah jagonya. Tak
seorang pun yang berhasil mengalahkannya hingga saat ini.
Pemujanya meneriakkan yel-yel …
“Mata Satu memang satu … Tak ada dua. Dialah si nomor satu
…”
Beberapa gelintir pemujanya yang lain pada berjoget dan
menyanyikan …
“ Si Mata Satu memang hebat
sedari dulu
banyak lawan yang
mengaku
dialah si nomor satu
Tak takut dengan
siapa pun
lawan bertekuk
tak diberi ampun
Si Mata
Satu memang hebat
sudah hebat juga merakyat
teman si
kaya peduli sama
yang
melarat
Mata
Satu memang jagoan
dari
dulu …
tak
pernah nomor dua
selalu rangking satu …”
Hiyaaaat …
Satu kali tendangan kea rah punggung, Mata Satu terdorong ke
depan. Ketika membalikkan badan, sebuah tendangan cepat menghantam mukanya.
Ha ha ha ha …
“Kecil itu …" Ejek Mata Satu.
BiJe memutar badannya,
melepaskan tendangan bertubi-tubi ke muka, perut dan dada, membuat si Ma
ta Satu sempoyongan. Dengan satu kali tendangan lagi mengarah ke perut, Mata
Satu dibikin roboh.
Gluntam … Dep ..
Terlentang.
Si Mata Satu tak sadarkan diri. Pemujanya terdiam. Saling
sindir. Penyuka BiJe menari-nari sambil menyanyikan nyanyian berikut ini secara
bersama-sama …
“ Mata Satu mati kutu
kalau tidur kayak hantu
kerjanya suka
bedalu
kalau malam jadi
hantu
Mata
Satu orang udik
kalau pergi bawa badik
keringatnya bau tengik
kalau
jalan bolak-balik
Mata Satu sudah kalah
tak lagi
mau bebalah
minta ampun tanda menyerah
jangan lagi banyak tingkah …”
Plak … plak … plak …
Pemuja Mata Satu tersinggung berat. Mereka melempari penyuka
iJe dengan sandal, sepatu a apa saja yang ditemui dekat tempat duduk mereka.
“MUnduur …!” Teriak pria berambut keriting dari kelompok
penyuka BiJe.
Rupanya teriakan mundur ini hanya siasat. Sebab, setelah
mndur beberapa langkah, saat lawan lengah dan menyangka mereka kalah, lemparan
batu, kayu, sepatu dan sandal, serta kaleng-kaleng bekas minuman mendarat di
kepala dan muka sebagian pemuja Mata Satu.
Beberapa di antaranya yang terkena lemparan, menjerit
histeris karena kesakitan dan terdorong jatuh oleh teman yang larin tunggang
langgang menyelamatkan diri masing-masing.
Dooor … doooor … door ..
Tembakan tiga kali mengarah ke udara dilepaskan anak buah
sang komandan. Para penonton pun dibuat kocar-kacir. Tak sedikit yang terinjak
dan terjungkal. Semua pada berlari ketakutan menuju pintu keluar tribun
penonton.
Kepanikan dan kerusuhan antarpenonton di tribun ini baru bsa
diatasi setelah lascar bukit memukuli setiap penonton yang mereka anggap dalang
kerusuhan. Dilucuti pakaian mereka dan dipaksa masuk kandang besar untuk
kemudian dijebloskan ke dalam sel.
***
XII
MENJELANG fajar, saat penjaga sel tahanan mengantuk, tidur
ayam orang menyebutnya, di saat itulah Refli, Dul dan Barin berhasil masuk dan
melumpuhkan si penjaga dengan panah beracun.
Sssst …
Refli meminta BiJe dan kawan-kawan tidak kaget dan berteriak.
Pasalnya, mereka bermaksud menolong, lain tidak.
“Kami adalah teman-temannya Nile,” jelas Refli sembari
melepas kunci borgol sel yang mereka curi dari saku penjaga sel.
“Terima kasih,” ucap Adam sumringah.
“Bagaimana keadaan mereka sekarang?” Tanya BiJe.
“Pokoknya aman, Bung. Mereka di tempat yang aman. Mereka
sepertinya sangat merindukan kalian,” jelas Dul.
“Sebaiknya kita segera pergi dari tempat ini. Soalnya Nile,
nantilah kita cerita panjang lebar,” kata Refli, kuatir mereka kepergok laskar
bukit.
Mereka bertujuh menyelinap keluar dari sel lewat tangga yang
menghubungkan ke bawah bukit. Mulanya berjalan lancar. Tak seorangpun dari laskar
bukit yang wara-wiri menampakkan batang hidungnya.
Namun, saat mereka hendak melewati pintu gedung menuju tanah
lapang, beberapa anggota laskar bukit pada ketawa ngakak sambil menenggak minuman
keras dan bermain gaplek.
Seru nian. Saling berlomba siapa yang paling kuat membanting
kartu yang terbikin dari plastik itu ke meja besar segi empat dekat tumpukan
uang kertas dan logam.
“Ayo kamu yang jalan Tos,” kata si tahi lalat. Pelontos
belum juga membanting kartunya. Dia sibuk menghitung jumlah bulatan dan kartu
di atas meja dengan kepunyaannya.
“Sudahlah Tos. Banting aja sana,” sahut kumis segitiga
sembari memelintir rokoknya yang sejak tadi tak pernah lepas dari mulutnya.
“Nanti aku salah banting pula. Aku bosan kalah terus. Aku
mau menang kali ini,” ujar pelontos.
“Elu mau kaya ya Tos?” Tanya temannya yang lain bermata
lebar dan berkepala botak.
“Ialah. Aku bosan jadi orang susah terus Bro. Kalau aku
kaya, banyak duit, kan hidupku pasti enak.”
Ha ha ha ha …
“Mimpi lu Tos. Mana ada orang kaya dari berjudi,” jelas
kumis segitiga.
“Yang ada Tos,” timpal si tahi lalat, “Kita bisa
senang-senang sepanjang hari. Tak pikirin nasi, anak termasuk isteri di rumah.
Mau hidup kek, mati kek, terserah mereka …”
Hua ha ha ha …
Agar tak ketahuan kumis segitiga dan teman-temannya, Refli
memutuskan melewati jalan lain yang
lebih aman.
“Mungkin bisa lewat jalan itu,” ujar Refli menunjuk sebuah
terowongan yang dapat mengantarkan mereka ke bibir bukit.
Satu-satu masuk, satu-satu pula berjalan merangkak. Di
pertengahan terowongan ada suara orang membicarakan sesuatu. Rupanya, beberapa
orang laskar bukit tengah menghadapkan muka mereka ke sehelai kertas besar di
meja yang bergambarkan sketsa areal hutan belantara.
Dengan sangat hati-hati, mereka akhirnya bisa keluar dari
terowongan itu. Saat mereka hendak menu runi anak tangga, ada dua orang penjaga
sedang melakukan ronda bersenjatakan lengkap.
Deeep …
Kepergok Refli. Belum sempat melepaskan tembakan, sebuah
anak panah berhasi l menghujam ke dada si penjaga, tewas seketika. Sedangkan
teman satunya coba melarikan diri. Keburu tewas ditembus anak panah Dul yang
dilepaskan begitu cepat. Tepat mengenai
leher.
“Cepat …” Kata Refli pada BiJe.
Mereka menuruni anak tangga itu. Setelah terdengar derap
suara kaki kea rah mereka, bergegas melom pat ke samping tangga , bersembunyi
di semak, melihat gerangan siapa yang bakal lewat di dekat mere ka.
Rupanya rombongan sang komandan dan beberapa anak buahnya
yang baru kembali dari pertemuan semalam suntuk.
“Lapor, Dan,” ujar salah seorang anak buah sang komandan,
dengan terengah-engah melaporkan bahwasanya tawanan mereka berhasil melarikan
diri.
Marah besar, sang komandan meminta anak buahnya itu membunyikan sirene tanda bahaya dan memanggil
segera kumis segitiga, tahi lalat dan
kepala pelontos.
Mendengar ada sirene, ratusan laskar bukit bergerak
mengamankan areal perbukitan. Membentuk
pertahanan berlapis, setiap sudut ditempatkan laskar dengan persenjataan
lengkap.
Refli cs, merasa sudah dikepung, melompat ke luar pagar
gedung. Ada jalan menurun, bersembunyi sejenak di balik gedung berusia tua itu.
Melihat suasana sekitar. Dirasa aman, mengendap-endap mendekati pagar kawat
berduri.
Pagar pembatas antara kompleks bukit dengan areal hutan
belantara. Bila telah keluar dari pagar setrum ini berarti sudah berada di luar
kompleks bukit. Separo jalan, belum
berarti kita aman.
Sebab, di luar pagar tinggi ini ada beberapa orang laskar
berjaga-jaga guna mengamankan kompleks perbukitan dari serangan orang yang tidak
dikenal dan bertanggungjawab.
“Biar aku saja, Refli.” Bisik BiJe. Sambil mengendap-endap,
ia dekati dua dari lima laskar itu.
Kraaak … kraaak …
Eeeekh …
BiJe memukul kepala dua laskar itu dengan tangan kosong.
Setelah jatuh tersungkur, dia tarik kepala keduanya silih berganti, lalu
diputar ke kanan dan mati.
“Yang satu itu biar gue aja,” bisik Adam pada Dul yang
tengah bersiap menghabisi laskar tersisa dengan panah beracun.
“Oke. Hati-hati Bro …” Kata Iqbal dan Refli.
Salah seorang penjaga sedang menyulut rokok. Dia menghisap
dalam-dalam sebagai obat penahan kan tuk. Sempat duduk, memutar-mutarkan rokok
dengan jari tangannya, sebelum akhirnya berdiri lagi.
Kreteeek … tek …
Suara orang melempar kerikil. Si laskar secepat kilat
‘mengokang’ senjata laras panjang. Belum sempat memuntahkan peluru, keburu
disergap Adam.
Keduanya bergulat dan berguling-gulingan di tanah. Tak
memberi kesempatan pada lawan untuk menda ratkan pukulan, Adam memukul dengan
keras kepala laskar. Dibentur-benturkannya beberapa kali ke tanah, sampai
akhirnya tak bernafas lagi.
Dua teman laskar yang lain, karena mendengar suara orang
memukul-memukul sesuatu, berbalik arah menuju ke tempat temannya yang berpisah
lokasi penjagaan tadinya.
“Yang ini biar kami berdua saja menyikatnya,” ucap Kuyung
dan Iqbal serempak.
Keduanya bergerak ke sampan kanan, mengikuti ke arah mana
dua laskar itu berjalan. Sempat berhenti, lalu terlibat pembicaraan serius di
antara keduanya.
“Tadi ada di sini mereka,” kata laskar berhidung mancung dan
beralis mata tebal.
“Menurutmu kemana mereka?” Tanya temannya.
“Belum tahu. Pergi nyelonong aja tak mungkin. Karena saya
kenal betul dengan watak mereka …”
“Kemana mereka kira-kira ya?”
“Sebaiknya kita kembali lagi ke tempat yang tadi,” saran
laskar alis mata tebal.
Saat mau berbalik arah, Kuyung dan Iqbal melompat sambil
melepaskan tendangan dari arah belakang. Tepat mengenai belakang kepala. Jatuh
tersungkur.
Duuup … guuuup …
Eekkh …
Kaki Kuyung dan Iqbal menginjak kuat-kuat dada kedua laskar
itu, sampai mengeluarkan darah segar dari mulut mereka.
Keduanya tewas di tempat.
Mayat-mayat bergelimpangan itu, demi menghindari kecurigaan
dari laskar bukit yang lain, dilempar ke dekat parit besar yang disekelilingnya
ditumbuhi semak belukar.
Sementara di dekat sel, sang komandan mengumpulkan anak buahnya, seperti tahi
lalat, kumis segitiga, kepala pelontok dan kepala petak. Dia marah besar karena
turut andil lepasnya BiJe dan kawan-kawan dari sel tahanan.
***
XIII
AUWOOOOO …
Boooooooong …
Pasukan warga seberang yang sedari tadi sudah bersiap dengan
busurnya, melepaskan anak panah se rempak kea rah perbukitan. Sedangkan empat buah perahu berukuran sedang dan bermesin ganda mulai bergerak
menuju markas bukit.
Fajar belum juga usai. Hari masih gelap. Belum terang. Api
mulai membakar hutan. Terdengar jeritan dan kepanikan dari laskar bukit.
Terutama sang komandan, kumis segitiga, kepala petak, tahi lalat dan kepala
pelontos. Mereka terkurung api dalam bangunan super kokoh itu.
Sementara BiJe dan kawan-kawan bertarung sengit dengan
laskar bukit, baik menggunakan tangan ko song, adu senjata dan anak panah.
Satu-satu berhasil ditaklukkan. Mayat pun berserakan di tanah dengan luka cukup
parah karena dihantam peluru, benda keras dan anak panah.
“Dayung teruuuus …” Teriak Zuleha kepada beberapa laki di
belakangnya. Dari depan dia berdiri memimpin penyerangan dengan busur siap
diarahkan.
“Fire …!” Jerit Nile.
Dia memerintahkan ‘anak buahnya’ melepaskan anak panah.
Langit tiba-tiba terang. Bukan karena pagi yang sudah datang, tapi dipenuhi
kobaran api. Asap hitam ada di mana-mana.
“Serbuuuuu …!” Pekik Maisaroh dari depan perahu yang ia
komandoi. Ada Sembilan lelaki kekar berada di belakangnya.
Maisaroh tidak memerintahkan untuk melepaskan anak panah,
justru memacu rekan-rekannya yang lain agar lebih mempercepat kayuhan perahu
dan tarikan mesin.
“Lepaskah anak panah …” Teriak Zuleha.
Saking kencangnya Zuleha berteriak, belum lagi badannya yang
gemuk besar, sempat membikin bebe rapa cowok di belakangnya ketar-ketir.
Pasalnya, perahu nyaris terbalik karena terlalu beratnya beban. Untung
menguranginya, beberapa di antaranya terpaksa turun ke air dengan cara bergelantungan
di samping perahu.
Sang komandan dan beberapa anak buahnya berhasil meloloskan
diri dari kepungan api. Mereka me lompat dari ketinggian beberapa meter,
sebelum bersua dan berjibaku dengan BiJe beserta teman-temannya yang lain.
Hua ha ha ha …
“Mau kemana Dan?” Sindir Kuyung.
“Mau lari. Kalian juga tak akan mau menolong kami,” jawab
sang komandan, yang mencoba lari tapi dihadang Refli, Barin dan Dul.
“Mau lari kemana Dan?” Tanya Iqbal yang geram melihat ulah
sang komandan yang sedari tadi berwajah seram.
“Kemana ajalah …” Katanya ketus.
Hiyaaaat …
Dari samping kanan, si tahi lalat melepaskan tendangan kea
rah kepala BiJe, dielakkan sedikit dan …
Braaaaak …
Ha ha ha ha …
Si tahi lalat jatuh terduduk. Mengerang kesakitan.
“Kasihan deh lu,” ejek Iqbal.
Mau berdiri, tapi tidak bisa. BiJe mendekatinya.
“Ngapain lu?” Hardik di tahi lalat.
“Tengok lu aja,” jawab BiJe.
Dicengkramnya kerah baju si tahi lalat. Didorongnya ke atas
itu dagu, lalu dibanting ke tanah setelah punggungnya sempat mengenai paha BiJe.
Tak terima diperlakukan
bak hawan liar itu, sang komandan memerintahkan anak buahnya yang lain ag ar secepatnya menghabisi nyawa BiJe. Perintahnya memang didengar,
tapi tidak digubris kepala petak, pelontos dan kumis segitiga.
“Kenapa diem aja disitu?” Sang komandan kaget, karena selama
dia menjabat sebagai komandan, baru kali ini tidak diindahkan anak buahnya.
“Percuma Dan,” ucap pelontos.
“Percuma gimana? Mereka semua ada di sini .. Tunggu apalagi.
Jangan bengong aja. Habisi mereka …”
“Enggak bisa Dan,” timpal kepala petak.
“Kita sudah tidak punya apa-apa lagi. Coba komandan tengok.
Mereka senjata punya, anak panah juga punya, ilmu silat mereka lumayan tangguh,”
sahut kumis segitiga.
Sang Komandan terdiam.
“Dan,” bisik kumis segitiga kepada sang komandan yang mulai
bingung harus berbua apa.
“Apa usulmu?”
“Sebaiknya kita menyerah saja. Habis perkara. Kita aman dan
bos bisa cari lagi yang baru,” jelas kumis segitiga.
“Yang baru apa?”
“Bos kawin lagilah. Kita memulai dengan kehidupan baru.
Serba baru …”
“Ah kamu. Ada-ada saja.”
“Kita bertobat dan menghapus segala kenangan buruk di masa
lalu …”
Beberapa saat kemudian, sang komandan bersama anak buahnya
menyatakan diri menyerah dengan cara berlutut di hadapan BiJe dan
teman-temannya yang lain.
Belum ada jawaban dari Bije cs, sang komandan mengulangi
lagi permohonannya agar diberi kesempatan untuk mengubah hidup.
“Terimalah kami. Kami mengaku kalah …” Ucap pelontos dengan
suara serak-serak basah.
“Fireee …”
Sambil melompat ke daratan, Puspa tetap meminta pria di atas
perahu melepaskan anak panah. Dari jauh terdengar pekikan ‘Allahu Akbar’ … beberapa kali.
Zuleha, Nle dan terakhir Maisaroh berhasil menginjakkan kakinya
di kawasan bukit.
“Serbuuuu …!”
Teriakan inilah yang kemudian membakar semangat warga
kampung seberang untuk menyerbu masuk ke markas bukit. Sayang, hal itu tidak kesampaian
karena markas ‘Al-Liyati’ sudah
terbakar habis kena lemparan
bertubi-tubi anak panah api dan beracun.
Warga yang memang sudah kesal dengan ulah sang komandan
beserta anak buahnya secara membabi buta membunuh setiap laskar bukit yang
masih tersisa dan mereka temui dengan anak panah, benda tajam dan tumpul, pukulan dan tendangan yang mereka
lepaskan.
“Tahaaan …”Pekik Zuleha, Nile, Maisaroh dan Puspa.
Keempatnya tak tega melihat pasukan lawan yang sudah tak
berkutik lagi itu justru masih disiksa dan dibunuh dengan cara keji sampai
mati.
Zuleha dan ketiga rekannya kemudian mengarahkan serangan
berikutnya ke utara. Menelusuri semak belantara, membawa mereka ke suatu tempat
penuh mayat bergelimpangan. Tangan dan
badan yang terlepas dari kepala, mirip dengan cara mutilasi.
Bau anyir menyengat hidung. Hewan-hewan liar tampak
berebutan menarik dan menyantap lahap da ging manusia tak bernyawa itu. Darah
busuk berceceran. Sebuah pemandangan yang benar-benar mengerikan dan tak
berperikemanusiaan. Sangat memilukan hati.
“Lanjuuut …” Teriak Zuleha.
Mereka melanjutkan perjalanan sampai bertemu BiJe cs. Mereka
berharap rekan-rekannya itu masih hidup dan bisa berkumpul bersama lagi.
Terutama Nile, yang tak henti-hentinya menyebut nama BiJe, Puspa dengan Adam,
Maisaroh dengan Iqbal, kecuali Zuleha.
Kobaran api di puncak bukit belum juga mengecil. Markas
laskar bukit satu-satu runtuh, jatuh ke tanah bersamaan serpihan api yang
membakar. Diikuti suara semak belukar yang
telah berubah menjadi cokelat kehitam –hitaman dan akhirnya hangus.
BiJe cs kini berada di tepi sungai dengan empat perahu bermesin yang ditambatkan. Kuyung dan Iqbal
memeriksa satu persatu perahu itu, sebelum memutuskan untuk turun lagi
menghampiri BiJe.
“Sepertinya mereka ada di sekitar sini,” kata Kuyung.
Raut mukanya berubah ceria. Apa gerangan yang sebenarnya telah
terjadi?
“Firasatku saja …” Ujar Kuyung.
“Kalau ternyata salah?” Tanya Adam.
“Kita pakai perahu mereka. Kita tinggalkan tempat ini
secepatnya …”
Setengah jam kemudian …
“BiJeeee ….!” Teriak
Zuleha.
“Adam …!” Jerit Puspa.
“Iqbal …!” Pekik Maisaroh.
Tak perduli beling,
batu dan sisa-sisa benda tajam berserakan di tanah. Terus berlari dan
berangkulan satu sama lain. Mereka yang menyaksikan kejadian itu cuma bisa terpana
dan takjub setelah tahu kejadian yang sesungguhnya.
“BiJe …!” Ucap Nile tersendat sambil berurai air mata.
“Mai … Aku ..! Tak terucap. Mulut Iqbal seolah terkatup
rapat setelah Maisaroh semakin memperat rangkulannya.
“Kucari kemana, kau ada di sini. Dasar pecundang.” Puspa
menepuk-nepuk pundak Adam, dibalas dengan senyuman dan pelukan hangat.
Air matapun tumpah membasahi semak belukar ini. Rindu
bertemu, jumpa setelah lama berpisah, membuat mereka enggan untuk melepaskan
rangkulan. Tetap berpelukan.
Bagaimana dengan Zuleha dan Kuyung?
Lama keduanya berdiri. Saling pandang, lempar senyum dan
lambaikan tangan. Mereka tidak sedang berlari. Mereka berdua hanya berjalan
lurus ke depan.
Semua menyaksikan dengan harap-harap cemas. Apa mungkin
mereka jadi teman bukan biasa? Atau sekadar reman sekelas yang saling
curhat-curhatan, bercanda dan berbagi bersama.
“Yung …!” Kata Zuleha menghentikan langkahnya persis di depan
Kuyung berdiri.
“Aku sayang kamu, Ha.” Jawab Kuyung merentangkan kedua
tangannya.
Zuleha memeluknya erat.
“Aku juga Yung, sayang kamu …” Ucapnya dengan suara yang
nyaris tak terdengar.
***
SAMPE SINI DUKEN
DULUR-DULUR YO …
AKU NAK BALIK JUGO …
NAK MANDI …!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar