Rabu, 01 Juni 2016

Pondok Cinta (1)



Novel  Serial  BiJe
Pondok Cinta
Oleh Pak Amin

I
SEBUAH mobil sedan berwarna hitam berhenti persis di depan kantin gerbang luar rumah sekolah Es Em A  Mawar. Seorang pria berkacamata turun dari mobil. Sesaat dia melihat tulisan yangterpampang di pin tu gerbang. Lalu mengalihkan pandangannya ke dekat mobil yang dia parkir.
“Kantin Mawar,” ucapnya, sedikit bergegas masuk kantin Mawar.
Sebuah kantin yang tidak begitu besar dan mewah. Tapi hampir semua jajanan favorit ada di kantin ini. Mulai dari soto, bakso, sate, pempek, burger hingga kerupuk kempelang dengan berbagai rasa.
Selain beragam es seperti es campur , es kelapa muda, es kopi dan teh, serta es krim berbagai rasa, kantin Mawar juga menyediakan nasi murah meriah. Di antaranya nasi ayam, nasi rendang, pindang betok dan patin serta lele jumbo.
Kantin Mawar buka dari pagi sampai tengah hari menjelang sore. Semula kantin ini diperuntukkan siswa Es Em A Mawar. Namun, karena banyaknya permintaan dari warga di sekitar kantin, jenis jajanannya ditambah dan di perluas.
Tidak lagi melulu menu anak sekolahan, tapi juga masyarakat dari berbagai lapisan dan kalangan. Tak disangka, peminatnya cukup banyak. Tak heran, sebelum sore menyambut, jajanan ludes, dan kantin pun tutup lebih awal.
Dulu, kantin ini hanya fokus pada makan di tempat. Tapi sekarang sudah bisa dipesan dan diantar di tempat. Ke manapun, selagi itu masih dalam wilayah kota, akan diantar sampai alamat, tentu dengan pesanan yang tidak sedikit, atau sesuai kesepakatan sebelumnya.
Pesanan diantar menggunakan sepeda motor dan mobil. Harganya tetap sama dengan kualitas pesanan sama dengam ketika kita makan di tempat. Pemesan hanya tinggal mengontak pihak kantin, berikan identitas lengkap berikut alamat yang jelas, bayar di belakangan setelah pesanan tiba.
Kantin Mawar dikelola swasta perorangan, bekerja sama dengan pihak Yayasan Es Em A Mawar. Lokasi parkir yang lumayan luas kalau untuk sepeda dan sepeda motor. Sedangkan  mobil dalam jumlah terba tas di samping parkir kendaraan roda dua.
Namun jika lokasi parkir sudah disesaki kendaraan, penyewa kantin sering menggunakan lahan samping sekolah sesuai aturan dan perjanjian bersama  dengan pihak yayasan dan warga.
Karena pengunjung yang datang ramai, baik anak sekolahan yang sudah pulang sekolah, maupun kar yawan swasta dan negeri yang tak bawa bekal dari rumah, tersisa tempat duduk di ujung kanan bela kang. Darwin, nama pria yang kita ceritakan ini, tidak mempersoalkannya.
Dia sudah terbiasa, saat pengunjung kantin dan restoran atau kafe penuh, duduk di manapun pasti mau dan suka.  Karena baginya, yang terpenting bisa menikmati hidangan dengan perasaan lepas, riang dan gembira.
Siang itu, Darwin memesan es kopi dan sepiring gado-gado. Walau lapar, dia sengaja tak makan nasi karena belum happy sebelum  bersua Puspa, sang adik tercinta. Lama juga dia tak bersua. Hampir dua tahun lamanya.
Darwin kini tinggal merampungkan  disertasi S-3 nya, di sebuah perguruan tinggi swasta di Pulau Jawa. Dia mengambil jurusan arsitektur. Usianya masih sangat muda, baru 23 tahun. Sebentar lagi bakal diperbolehkan menyandang gelar Dr (PhD).
Dalam satu kesempatan, saat ditanya rekan-rekan mahasiswanya, Darwin mengaku tak terlalu ngotot menyelesaikan S-3 nya, meski kanyataannya, kalau tak ada aral melintang, lebih cepat dari perkiraan semula.
Seperti kebanyakan mahasiswa yang kutu buku, Darwin sampai kini belum punya gandengan. Dia mera sa belum  saatnya mencari pendamping hidup. Dia tak ingin memaksakan diri. Usia masih sangat muda. Masih banyak yang harus dipikirkan dan dikerjakan.
“Tapi nanti ketuaan lho, Win.” Kata Sang Mama sesaat dia baru tiba pagi tadi di bandara. Setelah meng antar Puspa sekolah, Bu Bima bersama suaminya menyempatkan diri menjemput Darwin di lapangan terbang.
Darwin tahu, pertanyaan itu tak perlu dia jawab, karena seperti pertanyaan lain yang kerap dilontarkan ibunya, akan hilang sendiri dengan banyaknya pekerjaan lain yang harus dikerjakan.
“Mas, pesanannya …” Sapa seorang wanita muda berkulit sawo matang, pelayan kantin dengan ramah.
“Makasih ..” Jawab Darwin singkat.
Darwin merasa gado-gado yang ada dihadapannya kini lebih lezat dari yang biasa dia santap di tempat lain. Begitu juga dengan es kopi. Pasti manis dan nikmat di kerongkongan.
Darwin berharap, gado-gado yang dia makan siang ini cukup mengganjal perutnya dari rasa lapar saat pertama kali menginjakkan kakinya di kantin Mawar.  Begitu juga dengan es kopi manis. Rasa haus yang menyengat kerongkongannya bisa secepatnya  hilang, sehingga ia leluasa bicara saat ketemu Puspa nantinya.
Puspa adalah adik satu-satunya Darwin, lain tidak. Mereka hanya dua bersaudara. Yang sulung Darwin, si bungsu bernama Puspa. Keduanya sangat akrab sejak kecil. Puspa sangat manja dan sayang sama kakak nya itu.
Lama mereka bersama. Sekolah perginya bersama-sama, piknik juga bersama,bahkan ke pasar, mal dan
ke mana saja jalan, hampir selalu berdua.
Namun setelah Darwin memutuskan kuliah di Pulau Jawa, sejak S-1 sampai S-3 yang kini mendekati rampung, hanya sesekali jalan berdua. Hal ini dikarenakan Darwin jarang pulang. Dia sibuk kuliah dan  praktik lapangan sehingg lebih banyak menyita waktunya selama di perantauan.
Bukan tidak rindu untuk pulang kampung. Darwin ingin sekali pulang saat liburan semester. Dia rindu melepas tawa dan canda bersua Puspa dan kedua orang tuanya. Juga rindu dengan tanah kelahirannya, Palembang Darussalam. Rindu dengan keramahan warganya dan pempek kesukaannya.
Pernah suatu kali, saat libur semester S-1, Darwin sudah berkemas-kemas hendak pulang kampung, terpaksa diurungkan karena di saat bersamaan dia harus menyelesaikan tugas penelitiannya sebagai syarat mengikuti ujian akhir sarjana lengkap.
Namun bagi Darwin, walaupun dia tak sempat dan jarang pulang, kontak jarak jauh rutin dilakukan. Paling sedikit seminggu sekali atau dua kali dalam seminggu. Tak ada yang istimewa yang ia bicarakan, biasa-biasa saja. Tapi karena disadari kasih sayang dan cinta, meski jauh di mata, terasa dekat di hati. Hangat dan mesra.
Kepada Sang Mama, Darwin sering menanyakan masakan apa yang dimasak pada hari itu. Atau sesekali berguyon dengan guyonan ‘Apa mama tidak rindu Darwin?’ Kalau Sang Mama menjawab ‘iya’, rindu. Maka Darwin pun akan menjawab, “Dari jauh Darwin peluk hangat mama …”
Mesra bukan?
Begitulah Darwin. Kepada Sang Papa lain lagi. Selain menanyakan makanan kesukaan, dia juga seringkali menanyakan olah raga apa yang disukai ayahnya saat ini. Apakah perlu dikirimi paket, semisal bola kaki, bola pingpong, atau bola bulutangkis, bet dan raket. Macam-macamlah.
Darwin sama sekali tidak pernah menanyakan, misalnya, soal pekerjaan. Apalagi itu menyangkut gaji, bonus dan kenaikan pangkat atau jenjang karir. Apakah bahagia dengan pekerjaannya sekarang atau justru sebaliknya.
Darwin merasa senang terhadap apa yang dia lakukan. Baginya Sang Papa, selain ayahnya, pemimpin rumah tangga, juga teman dan tempat saling tukar pikiran. Keduanya sama-sama terbuka tentang apa saja kecuali hal-hal yang tidak selayaknya untuk dibuka dan dibicarakan.
Hubungannya yang erat dengan ayah dan ibunya, tak membuat Darwin tumbuh sebagai anak manja. Dia justru mandiri. Berlama-lama di rantau, bukannya dia yang tak betah, justru mamanyalah yang terka dang selalu mengingatkannya untuk jangan tidak pulang kalau libur kuliah.
Di mata kedua orang tuanya, Darwin adalah sosok laki-laki yang baik. Dia jujur dan bertanggung jawab. Tak pernah neko-neko, merasa cukup apa yang dia punya. Banyak teman dan luas pergaulannya. Sayang sama mereka, dan selalu berharap tidak berubah rasa sayang itu sampai ajal menjemput.
Sebaliknya, di mata sang adik, Puspa, Darwin adalah sosok kakak yang penyayang, mudah diajak bicara dan tempat  curhat, berbagi rasa, pengalaman  dan teman dalam suka serta duka.
Pernah suatu ketika, saat liburan semester, Puspa mengajak sang kakak menemaninya jalan-jalan ber keliling kota. Tak segan-segan ia menggandeng tangan, memeluk hangat sang kakak, lalu naik kuda berdua mengelilingi pantai.
Amboi indahnya. Begitu sejuk dekat dengan sang kakak. Kedekatan itu membuat Puspa seringkali mem bayangkan betapa enaknya punya pacar dan calon suami kelak seperti saudara laki-lakinya ini. Amat penyayang, perhatian dan peduli sama dirinya.
“Mas … mau tambah lagi?” Sapa pelayan wanita tadi tersenyum ramah.
Sebelum menjawab iya atau tidak, Darwin melirik jam tangannya. Sudah pukul satu siang. Sebentar lagi Puspa pulang sekolah.
“Enggak usah, Mbak,” jawab Darwin, juga dengan senyum ramah.
Bergegas ia ke kasir. Dari kasir ia menuju pos jaga sekolah. Dia menyempatkan diri bertanya kepada salah seorang satpam, diperoleh jawaban bahwa sebentar lagi seluruh siswa pulang.
Tenang dan lega juga perasaan Darwin mendengarnya. Dia tak ingin melewatkan kesempatan langka ini. Jarang dia bisa datang langsung ke sekolahan Puspa. Apalagi sampai antar jemput. Pulang dijemput an tar dan jajan di tempat yang adiknya sukai.
Mumpung masih bisa membahagiakan Puspa, kenapa harus setengah-setengah. Orang lain saja harus kita bahagiakan semampu kita, mengapa saudara sendiri kita justru enggan. Mumpung belum berdua, punya isteri dan anak-anak, tak ada salahnya menemani adik seikhlas kita.
“Supaya Mas tak panas, masuk saja ke sini,” kata Pak Satpam, menyilakan Darwin masuk ke dalam pos. duduk sambil menonton acara musik di televisi.
“Terima kasih, Pak. Biar saya di mobil saja,” kata Darwin, berlalu pergi.
Dari dalam mobil, Darwin mengontak ibunya, dan memberitahu sebentar lagi Puspa pulang. Jadi tak usah cemas.
Piiiiin … piiiin … piiiin …
Darwin membunyikan klakson mobil sebanyak tiga kali. Ketika Puspa menoleh, dia keluar dari mobil dan ….
“Kak Darwiiiiin …” Seru Puspa.
Teman-teman sekelasnya pada terkejut dan melongo melihat Puspa berlari kencang mendekati sang kakak, lalu memeluknya erat. Hangat nian.
***    
II
BU Guru Siska senyum-senyum melihat Puspa bertingkah seperti anak kecil. Sambil mendorong mo tornya keluar dari lokasi parkir, dari balik kaca spion dia melihat jelas bagaimana anak didiknya itu bergelayut manja di dekapan sang kakak.
Tiiiiin …
Bu Guru Siska membunyikan klakson sepeda motornya yang siap melaju. Dia belum juga berangkat. Duduk, lalu berdiri dan menoleh kea rah Puspa yang bersiap masuk ke mobil.
Tiiiin …
Kali ini Puspa menoleh.
“Bu Guru Siska?” Gumamnya.
“Siapa Pus?” Tanya sang kakak.
“Bu Guru Siska, Kak,” ucap Puspa, mengajak Darwin mengenalkannya dengn Bu Guru kesayangan murid Es Em A Mawar itu. Ingin juga dia mengenalkan kakak satu-satunya itu ke teman sekelasnya, tapi kebu ru sudah pulang duluan.
“Belum pulang kamu, Pus?”
“Belum Bu. Oh ya Bu. Kenalkan. Ini kakaknya Puspa.”  Puspa meminta sang kakak memperkenalkan lebih dulu kepada Bu Guru Siska.
Keduanya saling bersalaman.
“Darwin …”
“Siska …”
Sempat adu pandang.
Eheeeem …
“Bu Sis …!”
Siska melepas tangannya, juga Darwin.
“Udah ya Bu … Duluan …!” Kata Siska.
“Oh iya .. Hati-hati ya ….”
“Bu Guru juga hati-hati,” pesan Darwin, disambut anggukan lemah Bu Guru Siska.
Kendaraan berbeda roda itu melaju pelan meninggalkan gedung Es Em A. Tentu sama-sama meluncur ke samping gerbang sekolah sampai di pusat kota. Saling membunyikan klakson, Bu Guru Siska dan Puspa saling menebar senyuman serta melambaikan tangan ketika memasuki arah jalan yang sama sekali berbeda.
Bu Guru Siska, dengan sepeda motor yang ia kemudikan, melewati jalan pintas motor, mirip sebuah gang. Kendati kecil, pengguna kendaraan roda dua selalu menggunakan jalan ini pada siang dan sore hari, karena jalan raya besar pusat kota macet merayap. Selain lebih cepat, selama ini keadaannya aman-aman saja.
Sementara Darwin dan Puspa, sebelum melewati simpang empat menuju kediaman mereka, mampir sejenak di kedai ‘Sapu Bersih’. Sebuah kedai kecil, tapi banyak peminatnya. Yang dijual cuma bakso dan model serta aneka minuman dingin seperti es dogan, es selasih, es krim dan minuman hangat.
Tak sampai berlama-lama keduanya menikmati jajanan bakso dan es dogan di kedai ini. Selain pengunju ng setiap menit terus bertambah dan yang pulang semakin berkurang jumlahnya, telepon dari Sang Ma ma yang meminta keduanya cepat kembali ke rumah,  membuat Darwin dan Puspa segera angkat kaki dari  kedai terlaris itu.
Dengan sedikit mempercepat lajunya mobil, Darwin sempat melontarkan candaan kalau sesungguhnya Bu Guru Siska itu orangnya baik, keibuan dan sepertinya sayang pada anak muridnya.
“Emang betul, Kak.” Jawab Puspa seraya ketawa.
“Ada yang lucu Pus?”
“Takut aja Kak.”
“Takut kenapa?”
“Biasalah Kak. Cinta kilat. Baru tadi saling lihat, besoknya langsung sepakat …”
“Sepakat untuk apa?”
“Kawin …”
Ha ha ha ha …
Tiba di perempatan, Puspa melihat kerumunan orang dekat trotoar. Sebuah motor terbalik, akibat tab rak lari. Puspa penasaran. Makanya dia turun dari mobil untuk memastikan bahwa korban bukan Bu Guru Siska.
Betapa kagetnya ia, ketika tahu wanita yang tergeletak di jalan beraspal dan jadi tontonan sebagian kecil warga itu adalah gurunya sendiri, Bu Siska. Dia menjerit histeris dan berlari memanggil-manggil kakaknya.
Saat bersamaan lampu traffic light berubah hijau. Darwin memutuskan untuk meminggirkan mobil dan memarkirkannya dekat pos jaga. Hingar bingar klakson mobil tak ia hiraukan. Begitu juga sumpah sera pah dari pengemudi angkutan kota yang terpaksa mengerem mendadak setelah Darwim membelokkan mobilnya ke kiri.
Tanpa memberitahu petugas jaga parkir di dekatnya yang berdiri melongo, Darwin setengah berlari men dekati Puspa yang hanya bisa menangis sesunggukan di samping Bu Guru Siska tergeletak. Beberapa warga mencoba untuk menolongnya, tapi tak berani untuk membawanya ke rumah sakit terdekat.
“Biar saya saja, Pak.” Ucap Darwin. Dibantu beberapa orang, membawa Bu Guru Siska ke mobil yang disopiri Darwin.
Sementara motor Bu Guru Siska, Puspa titipkan sama Pak Polisi, lalu ia tuliskan alamat dan identitas pe miliknya , pikirannya justru melayang jauh. Masih tetap jauh tatkala mobil melaju kencang melewati lalu-lalang kendaraan, jalan pintas dan trotoar yang sambung menyambung ke deretan pepohonan besar lagi rindang.
Sulit membayangkan bagaimana sosok Puspa yang tadinya ketawa-ketawa lalu bermanja-manja, beru bah seketika saat harus mondar-mandir menemui dokter dan perawat rumah sakit selain mengurus te tek bengek adminstrasi rawat inap Bu Guru Siska. Sedangkan Darwin menemani Siska sampai di ruang emergency.
Kendati tidak terlalu parah, memar di bagian leher, kaki dan wajah, lalu sempat pingsan karena kian me lemahnya seluruh persendian badan, dan diperkirakan hanya semalam menginap di rumah sakit, Puspa  masih juga meragukan wali muridnya itu bisa sembuh lebih cepat.
“Kepalanya Bu Siska,  Puspa tengok mengeluarkan darah juga, Kak Darwin.”
“Kata dokter, mudah-mudahan beliau taka pa-apa,” jelas Darwin di ruang tunggu emergency.
“Tapi Kak …”
“Ya sudah. Kita berdoa saja semoga ibu gurumu itu lekas sembuh dan cepat pulang ke rumah.”
Sampai pukul tiga sore dua kakak beradik ini menunggu hasil pemeriksaan lanjutan tim dokter yang me nangani Bu Guru Siska. Sang Mama tiada henti-hentinya menelepon dan menanyakan kenapa belum juga sampai di rumah. Beliau kuatir buah hati dan belahan jantungnya ini akan jatuh sakit. Berharap tetap bugar, walau terlambat untuk makan siang.
Ketika kedua orang tua Siska tiba di rumah sakit, terlambat datang karena macetnya jalan menuju ru mah sakit, barulah Darwin lega. Tak tahu harus mengucapkan apa, keduanya hanya bisa mengucapkan terima kasih dan berharap pada Darwin dan Puspa ikut mendoakan kesembuhan serta memberi semangat kepada buah hati mereka kelak setelah sembuh tetap bersemangat mengajar.
Bagi Darwin, yang terpenting sekarang ini adalah menolong Bu Siska. Nyawanya harus diselamatkan. Ter hindar dari cedera yang serius. Sebab, kehadir annya di depan kelas, di hadapan para siswanya, amat dibutuhkan. Paling tidak, adiknya Puspa ikut senang melihat gurunya sembuh sediakala.
Puspa pun demikian. Sebelum tidur malam, dia ingin sekali menemani Bu Guru Siska di rumah sakit. Memberinya obat, menyuapinya makan dan, kalau sudah diperbolehkan bicara, dia akan bercerita tentang kakaknya yang pulang liburan ke Palembang.
“Ah, andaikata saja aku bisa menemaninya malam ini, alangkah senangnya hati ini,” ucapnya sambil tertawa sendiri.
Nyeeeet … nyeeeet …
“Besok sekolah kagak ya!” Sapa Sang Mama dari balik pintu.
“Ai Mama, ngagetin aja …”
“Boleh dong mama masuk …?”
“Ai mama, bikin Puspa kesal aja.”
Sang Mama, setelah menutup pintu pelan-pelan, duduk di samping Puspa yang rebahan memeluk bantal guling di atas tempat tidur.
“Masih marah sama mama ya?”
“Enggaklah Ma,” jawab Puspa, meminta mamanya baringan juga biar lebih enak kalau bertukar cerita.
“Bener enggak marah?”
Puspa mengangguk.
“Ini baru benar-benar anak mama,” kata Sang Mama sambil mencubit penuh kasih pipi dan hidung Puspa.
Tak sampai di situ. Sang Mama juga menggelitiki Puspa. Yang digelitiki tentu saja kegelian. Mendesah manja. Sempat ngambek, kesal, lalu tertawa lagi.
“Ma …”
“Apa mama-mama?”
“Mau dengar cerita Puspa enggak Ma?”
“Males ah … Paling soal pelajaran di sekolah.”
“Enggak Ma. Ini dijamin seru mama.”
“Seru apanya?”
“Pelaku utamanya …”
“Siapa emangnya?”
“Kak Darwin,” bisik Puspa. Sang Mama kaget. Lalu menyembunyikan rasa kagetnya dengan tersenyum lebar.
“Mau bohongi mama lagi ya  …”
“Enggaklah Ma. Mau dengar Pusa kan Ma?” Desak Puspa, berharap Sang Mama, walau sebentar saja, mau mendengarkan ceritanya.
Akhirnya Sang Mama mengangguk.
“Bu Guru Siska Ma.”
“Ah, masak?”
“Benar dong Ma. Gini ya ceritanya. Sebelum kecelakaan, sewaktu Kak Darmin jemput Puspa di sekolah, bertemu dengan Bu Siska, yang juga mau pulang. Nah …”
“Nah .. nah apa?”
“Sebentar Ma. Tarik nafas dulu,” kata Puspa.
“Jangan lama-lama ah tarik nafasnya. ‘Ntar enggak ketarik lagi gimana?”
“Enggaklah Ma. Gini ya Ma kelanjutannya. Puspa kenalin sama Bu Guru Siska … Nah …”
“Nah .. nah terus. Kapan habisnya. Udah ah … mama mau …”
“’Ntar Ma. Tunggu dulu. Nah, waktu salaman, kakak sama Bu Guru Siska sempat saling pandang Ma.”
“Lalu jatuh cinta gitu. Kayak di film Bollywood aja …” Komentar Sang Mama.
“Ketika mau pulang, di tengah jalan, kakak nyebut-nyebut Bu Guru Siska lagi Ma.”
“Lantas?”
“Kalau enggak ada apa-apanya, ngapain Kak Darwin nyebutin Bu Siska segala.”
“Ya mungkin saja. Soalnya, Bu Siska itu kan gurumu …”
“Tak mungkinlah Ma. Soalnya,  waktu di rumah sakit, Kak Darwin selalu tengokin wajah Bu Siska. Tak jemu-jemu dia memandangnya.”
“Lho. Apa enggak boleh nengok wajahnya Bu Siska. Boleh aja kan sayang. Yang enggak boleh itu kalau pegang-pegang …”
“Wah mama. Gitu sih jawabnya sama Puspa …”
Tahu Puspa merajuk, Sang Mama mencium keningnya.
“Ya deh. Maafin mama ya.”
Puspa tak bergeming.
“Terus maunya Puspa gimana?”
“Gini Ma. Mama setujuk enggak kalau Kak Darwin jadian sama Bu Siska?”
“Jadian apa. Pacaran aja belum. Udah ah … mama mau ke kamar. Bobok …”
“Bentar Ma. Bentar aja Ma.” Puspa mencegat ibunya di depan pintu.
“Bantu Kak Darwin, Ma.”
“Bantu apa?”
“Please Ma. Jodohin gitu …”
“Enggak mau ah. Nanti kalau enggak cocok, mama yang disalahin.”
“Yach mama. Please Ma,” rengek Puspa.  Rengekan ini  membuat  Bu Bima mengurungkan niat untuk keluar dari kamar anaknya.
Kembali baring di samping Puspa. Puspa berharap, malam ini sudah ada keputusan penting yang dibuat mamanya.
***  

III
EHEEEEM …
“Pagi Papaaa …” Sapa Puspa.
“Pagi juga Puuuus …” Jawab Sang Papa. Mau duduk di kursi, sudah lebih dulu kursi itu ditarik pelan Puspa.
“Silakan Pa.”
“Terima kasih anakku,” ucap Sang Papa sambil berbagi senyum dengan Puspa dan isteri tersayang yang sudah lebih dulu duduk di sebelahnya.
Bu Bima seperti tak tenang duduknya.
“Darwin mana Pa?” Tanyanya.
“Pus .. Kak Darwinnya mana?” Sang Papa melemparkan tanya kepada Puspa yang belum juga makan apa-apa karena masih menunggu kakaknya.
“Nah, itu dia orangnya. Panjang umurnya si Darwin ya Pa.” Kata  Puspa.
Darwin mengenalan stelan putih biru. Baju putih celananya biru.
“Pagi semuanya.” Ucapnya penuh semangat.
“Pagi juga …” Jawab yang hadir di meja makan, serempak.
Pak Bima menyantap nasi goreng, begitu juga dengan  Darwin. Sedangkan Puspa dan Bu Bima belum menyantap apapun kecuali minum setengah gelas air susu hangat.
“Lho .. mama sama Puspa belum …?”
“’Ntar papa,” jawab Puspa.
“Nanti terlambat pergi ke sekolah,” nasehat Sang Papa.
“Mam …” Bisik Puspa  seraya mengedipkan mata.
“Ya .. ya.” Sang Mama mengangguk.
“Puspa … makan ya say …!
“Oke Kak Darwin. Kita makan ini nasi goreng, telur mata sapi dan tomat mentahnya …”
Aaaaam …
Berdua mama, Puspa barengan menyendok nasi goreng, dimasukkan ke dalam mulut. Lalu dikunyah pelan.
“Gimana Pa nasi gorengnya. Enak kan?”
“Bukan lagi enak, Ma. Tapi lezat. Mama memang pintar kalau memasak nasi goreng,” puji Pak Bima.
“Terima kasih Pa. Sayang enggak ada uang recehan mau kasih hadiah pujiannya,” canda Bu Bima sambil melirik Darwin yang kelihatan sangat menikmati nasi goreng racikannya pagi hari ini.
“Oh ya Pa,” kata Bu Bima, “Kebetulan Bu Siska, Bu Gurunya Puspa, pulang dari rumah sakit hari ini. Gima na kalau mama ikut membesuknya Pa.  Boleh tidak?”
“”Boleh .. boleh. Tapi bapak boleh tak ikut kan Ma?”
“Ya, Papa kan kerja …”
“Puspa juga Ma. Sori enggak bisa ikut. Kan harus sekolah …”
“Iya sayang …”
Diam sejenak.
“Jadi yang nemenin mama siapa ya orangnya?”
“Darwin boleh Ma,” ujar Darwin usai  menyeruput air teh susu.
“Yes,” kata Puspa dalam hati. Ia betul-betul  girang. Ternyata Darwin mau menemani Sang Mama membesuk Bu Guru Siska.
“Apa mama enggak salah dengar nich?”
“Enggaklah Ma. Benar kok. Darwin yang nemenin. Kasihan kan mama sendirian pergi ke rumah sakit. Apa kata orang-orang  …”
“Emangnya kata orang-orang apa, Kak Darwin?”
“Ini ibu cantiknya selangit. Kok tega-teganya dibiarin jalan sendiri. Diambil orang baru tau rasa,” ledek Darwin.
Ha ha ha ha …
“Sudah, sudah. Enggak usah dibahas. Pokoknya, mama ada temen ke rumah sakit. Dan temen
Mama adalah Darwin, anak mama yang ganteng selangit,” puji Bu Bima.
Yang dipuji senyum-senyum saja.
“Oke Mam. Sekarang berangkat ya?” Darwin mau beranjak dari tempat duduknya.
“’Ntarlah sayang. Duduklah dulu. Biarin mama antar papa dan adikmu dulu sampai ke teras …”
Di rumah sakit …
Belum begitu ramai. Tapi antrean di depan loket panjangnya minta ampun. Dari pintu depan, Bu Bima dan Darwin bergegas menuju kamar rawat inap. Beberapa perawat mulai sibuk  hilir mudik . Berpakaian serba putih dengan menenteng map dan terkadang mendorong pasien berkursi roda atau mereka yang  masuk dan keluar dari meja operasi.
Sampai di ujung jalan, belok kanan, keduanya tiba di pusat pelayanan. Mereka mengaku masih keluarga dekat Bu Siska. Lalu diantar ke ruangan di mana Bu Siska menginap rawat. Mereka disambut kedua orang tua ibu guru Puspa.
Karena masih tertidur pulas, ayah dan ibu Siska tak berani membangunkan anak mereka. Bu Bima tak ke beratan menunggu. Begitu juga dengan Darwin. Mereka berempat akhirnya sepakat menunggu di luar kamar.
Kepada Bu Bima dan Darwin, Pak Odi, ayahnya Siska bercerita, tadi malam suhu badan anaknya sempat naik. Panas di atas rata-rata. Tapi untunglah segera turun setelah diberi obat penurun panas dan anti biotik.
“Kami takut sekali kalau sampai terjadi apa-apa pada Siska,” aku Pak Odi.
“Kenapa enggak menghubungi saya saja, Pak. Kan sudah saya tinggalin nomor telepon rumah dan hape saya ..” jelas Darwin.
“Hilang nak Darwin nomornya,” sahut Bu Odi. Dia mempersilakan Darwin dan ibunya mencicipi telok gabus ‘bawakan’ guru-guru temannya Siska.
“Jadi …”
“Iya Bu. Saya juga enggak nyangka. Semalam banyak guru yang membesuk anak saya. Tak lama. Cuma sebentar. Soalnya, Siska sendiri belum boleh terlalu banyak diajak bicara,” terang Bu Odi.
“Pulangnya apa jadi hari ini Bu, Pak Odi?”
“Rencananya begitu, Bu,” kata Pak Odi, “ Tapi tergantung dokter lah. Kalau dari hasil pemeriksaan dok ter nantinya, Siska masih belum diperbolehkan pulang, ya kami menurut saja. Tak memaksakan diri untuk pulang. Tapi kalau memang sudah diperbolehkan pulang, kami selaku orang tuanya tentu sangatlah senang …”
“Bu .. ibu …!”
Siska memanggil.
Darwin bersegera masuk.
Dia mendekati Bu Guru Siska yang masih terbaring lemah di atas tempat tidurnya.
Kaget sesaat, lalu tersenyum gembira.
“Sendirian Mas? Tanya Siska dengan suara yang masih lemah.
“Sama mama, Sis.”
Belum sempat mencium tangan Bu Siska, Bu Bima sudah nongol dari balik pintu.
“Bu …!”
Siska berusaha bangun. Dia ingin duduk. Tapi karena belum kuat, Darwin memintanya berbaring lagi.
“Gimana Sis. Udah …” Tanya Bu Bima sambil meraba keningnya Siska.
“Lumayanlah Bu. Cuma badan ini terasa lesu saja. Pengennya mau tidur melulu,” aku Siska.
“Ya namanya juga sakit, nak Sis. Harus sabar dan telaten dalam berobat,” nasehat Bu Bima.
“Iya Bu,” jawab Siska seadanya.
Sementara Bu Bima dan kedua orang tuanya Siska ngobrol di luar, kepada Darwin, Siska banyak mengu capkan terima kasih.
“Ya sudah terima kasihnya,” kata Darwin. “Ntar kebanyakan, enggak bisa ngebawanya pulang.”
“Ya enggak apa-apa Mas Darwin. Lebih banyak lebih bagus …”
“Iya deh, bagus …” Darwin mengalah.
Lalu Darwin pun bercerita …
Suatu ketika, Nasaruddin diundang untuk menghadadiri sebuah pesta perkawinan. Sebelumnya, di rumah orang yang mengundangnya, ia pernah kehilangan sandal.
Karenanya sekarang Nasaruddin tidak lagi meninggalkan sepatunya di dekat pintu masuk, tapi menyim pannya di balik jubah.
“Buku apa itu di dalam sakumu?” Tanya tuan rumah kepada Nasaruddin.
“Ha, mungkin dia sedang mencari-cari sepatuku,” pikir Nasaruddin.
“Untung aku dikenal sebagai kutu buku.”
Maka  dengan sekeras-kerasnya ia berkata:
“Tonjolan yang engkau lihat ini adalah keselamatan …”
“Menarik sekali. Dari toko mana engkau dapatkan itu?”
“Yang jelas, aku mendapatkannya dari toko sepatu …”
He he he he …
“Lucu juga ya Mas …”
“Mau lagi kan ceritanya?”
Bu Guru Siska mengangguk.
Gini ceritanya …
Suatu ketika seseorang bertanya kepada Nasaruddin.
“Berapa umurmu, Nasaruddin?”
“Empat puluh,” jawab Nasaruddin.
“Lho! Dulu, dua tahun yang lalu kau menyebut angka yang sama ketika aku menanyakan umurmu itu?” Tanya orang itu lagi.
“Ya, aku memang selalu berusaha konsisten dengan apa yang pernah kukatakan …”
“Ah, begitukah cara menepati omongan?”
“Masak kau enggak tahu,” sahut Nasaruddin sambil tersenyum.
Hi hi hi hi …
Ketawa, tapi karena lemah suaranya, hampir tak terdengar. Hanya gerakan mulut dan matanya yang me nyipit bisa dilihat dan dirasakan Darwin.
“Mau lagi kan …?”
Siska mengangguk.
Ceritanya, kata Darwin, Nasaruddin bersama seorang temannya  merasa haus, lalu berhenti di sebuah warung untuk minum. “Mereka memutuskan membagi segelas susu untuk berdua.” 
Lalu, sambung Darwin, Si teman Nasaruddin bilang, “Kamu minum dulu setengah gelas. Karena aku hanya pula gula yang hanya cukup untuk setengah gelas. Setelah kau meminum setengah gelas, aku akan menuangkan gula ini ke dalam setengah gelas susu bagianku.”
“Tuangkan saja sekarang,” kata Nasaruddin, “Dan aku akan minum setengahnya.”
Lantas si teman Nasaruddin berkata, “Aku tidak mau. Sudah kukatakan, gula ini hanya cukup membuat manis setengah gelas susu saja.”
Akhirnya Nasaruddin pergi menemui pemilik warung, dan kembali dengan sekantong garam.
“Ada berita baik,” kata Nasaruddin, “Seperti telah kita setujui bersama, aku akan minum susu ini lebih dulu, aku akan minum bagianku dengan garam …”
Heeeegh … heeegh … heeeeegh …
Siska tidak ketawa lagi.
Dia tertidur pulas.
“Baru atau …?” Tanya Bu Odi.
“Baru saja, Bu.” Jawab Darwin.
Ia ikut membantu Bu Odi menyelimuti  Siska dengan selimut tebal.
***  
IV
“GIMANA tadi ngajarnya?”
“Ya, lancar-lancar aja Mas,” ujar Siska, yang baru saja berpisah jalan dengan Puspa. Puspa pulang bersama Nile, Zuleha dan Maisaroh. Sedangkan Bu Guru Siska baru hendak men-starter motornya.
“Waduh .. Maaf ya Sis, enggak semput jemput,” kata Darwin, baru saja mengantar pulang ibunya dari belanja keperluan dapur.
“Ya, enggak apa-apa, Mas,” jawab Siska. Mesin  menyala, motor  bergerak, melesat maju ke pusat kota. Kontak antar  HaPe pun terhenti.
Kontak via HaPe dilanjutkan sore harinya. Supaya hemat biaya dan lebih aman dari gangguan, menggu nakan jalur es em es saja. Berikut urutan pesan yang tertulis di HaPe Darwin dan Siska …
Darwin   :  Lagi ngapain Sis?
Siska       : Minum teh sama baca buku …
Darwin   : Tehnya teh apa, bukunya buku apa?
Siska       :  Tehnya teh melati celup, sedangkan bukunya ya buku pelajaran yang hendak diajarkan besok                 
                    Mas.
Darwin   :  Lho … katanya engak mau mikirin yang berat-berat dulu ..
Siska       :  Ya maunya Siska gitu Mas. Tapi kalau enggak baca, yang diajarin besok apa dong.
Darwin   :  Iya juga ya …
Siska       :  Mas Darwin aja bingung, apalagi Siska.
Darwin   : Enggak … enggak Mas Darwin enggak bingung. Cuma …
Siska       : Cuma apa Mas?
Darwin   : Mikirin kamu aja … gimana gimana gitu.
Siska       : Gimana apanya?
Darwin   : Kamu kan enggak boleh mikir terlalu berat dulu. Sebab dikuatirkan kamu jatuh sakit lagi. Nah,                                                                
                  kalau kamu sakit gimana. Mas Darwin jadi kepikiran gitu …
Siska        : Mas Darwin sih gimana. Yang sakit Siska, yang mikir situ. Lucu ah …
Darwin    : Mas Darwin pengennya Siska jangan sampai sakit lagi ya …
Siska        : Emangnya kalau sampe sakit kenapa?
Darwin    : Kan enggak selamanya Mas Darwin bisa nemenin Siska di rumah sakit ..
Siska        : Oooo gitu ya.
Darwin    : Mas Darwin kan harus beresin kuliahnya. Kalau besok-besok Siskanya sakit, Mas masih bisa
                   jagain. Tapi kalau lebih dari itu mungkin Mas Darwin tak bisa. Mas sudah di luar kota.
Siska        : Balik lagi enggak?
Darwin    : Ha ha ha ha … (ketawa)
Siska        : Kok ketawa Mas. Lucu ya?!
Darwin    : Ya ialah. Kenapa enggak lucu. Yang ditanya balik apa enggak, ya baliklah. Masak enggak balik.
Siska        : Maksud Siska, baliknya ke Palembang, lama enggak gitu.
Darwin    : Tergantung Sis …
Siska        : Lho … kok gantung menggantung. Gimana bisa begitu ceritanya Mas Darwin?
Darwin    : Ya, kalau mau yang sebenarnya, libur semester pulang ke Palembang, walaupun untuk jen
                    jang S-3 tak ada lagi yang namanya libur semester. Artinya, secara formal memang masih
                   ada , tapi sibuk mencari bahan PR dan data untuk disertasi. Tapi ya Sis, di sela-sela itu kan
                   masih ada waktu luang. Nah, waktu luang itu kan bisa digunakan untuk pulang ke Palem
                   bang …
Siska       :  Kapan mudik ke Jawanya Mas?
Darwin   :  Tanggal pastinya belum tahu Sis. Kalau sudah pasti nanti Mas Darwin kasih tahu lah ..
Siska       :   Awas ya kalau sampe enggak kasih tahu …
Darwin   :   Ngancem ya?
Siska       :   Hi hi hi hi … (ketawa ditahan-tahan) ..
Darwin   :   Nanti sebelum berangkat kita ketemuan dulu ya. Mau kan?
Siska       :   Buat apa?
Darwin   :   Curhat-curhatan dong …
Siska       :    Emangnya kalau Mas Darwin di sana enggak bisa curhat-curhatan apa …
Darwin   :   Ya bisa aja sih. Cuma kalau curhatnya langsung ketemu dengan orangnya, pasti lebih
                     Asyik …
Siska        :   Asyiknya dimana Mas?
Darwin    :   Banyak Sis …
Siska        :   Sekarung, dua karung atau …
Darwin    :   Satu kapal … ha ha ha ha …
Siska        :    Bisa aja Mas Darwin.
Darwin    :   Kalau ketemu langsung kan puasnya lebih banyak …
Siska         :  Apa misalnya Mas?
Darwin     :   Mas bisa tengok kamu. Gimana mukamu hari itu. Sakit apa enggak. Kalau sakit, apanya
                      yang sakit. Atau kalau kamu lagi bahagia atau sebaliknya. Semua kelihatan disitu. Enggak
                      bisa pura-pura lho Sis. Enggak bisa boong-boongan. Jadi kalau lewat es ems es ini kamu kan
                      bisa aja bilang, ‘Mas Darwin, Siska baik-baik saja’. Apa benar baik. Nah, boongnya ketahuan
                      kalau lain yang diomongin lain pula kenyataannya.
Siska          :  Kalau misalnya ya Mas, nanti pas ketemuan apa yang dilihat jauh beda dengan yang diomo
                      ngin lewat udara, gimana reaksi Mas Darwin. Kecewa, lalu marah sama Siska, dan nantinya
                      enggak temenan lagi sama Siskanya …
Darwin      :  Ya enggaklah Sis … kecewa sih kecewa  Mas Darwin. Tapi paling sebentar kok. Lagian yang
                       rugi kan bukan juga Mas Darwin. Tapi Siska sendiri. ‘Tul enggak?
Siska          :  Betul barangkali …
Darwin      :  Kok barangkali-barangkalian?
Siska          :  Soalnya belum dijalani. Ketemuan aja belum …
Darwin      :  Ha ha ha ha …
Siska          :  Mas!
Darwin      :  Iya. Mas Darwin di sini.
Siska          :  Udahan ya …?!
Darwin      :   Boleh … ‘ntar malem, kalau Sis mau cuap-cuap lagi lewat es em es atau via telepon,
                        Boleh. Mas tunggu ya … Daaagh!
Siska          :    Dagh juga Mas … Salam dari udara
Darwin      :   Salam juga …
Magrib hampir tiba. Siska membantu ibunya menutup jendela, menyalakan lampu depan dan belakang. Sementara ayahnya, Pak Odi, sibuk memberi makan ayam, burung peliharaan dan bebek jawa serta serati.
Usai salat magrib  berjamaah, doa dan wirid serta membaca ayat suci Alquranulkarim, dilanjutkan dengan makan malam bersama. Keluarga Pak Odi sudah terbiasa makan malam bersama. Hal ini di lakukan Pak Odi sejak masih muda dulu. Kedua orangtuanya  lah yang membiasakannya untuk selalu menyempatkan diri makan malam bersama.
Selain bisa lebih mengakrabkan sesama anggota keluarga, dengan makan malam bersama membawa keberkahan dan menumbuhkan semangat untuk melangkah bersama, bahu membahu, saling tolong menolong dan mempererat tali persaudaraan.
Bu Guru Siska mempunyai dua saudara yang jarak usinya jauh di bawahnya. Nomor dua cewek, namanya Lia, baru duduk di kelas dua sekolah menengah pertama. Si bungsu Dery, cowok, masih duduk di bangku sekolah dasar.
Sementara Pak Odi, ayahnya Siska, bukan pegawai negeri. Dia hanya seorang wiraswasta. Dagang kecil-kecilan. Dia buka toko di pasar, yang dijual macam-macamlah. Mulai dari baju orang dewasa, remaja dan ana-anak, hingga aneka macam minyak wangi.
Sedangkan Bu Odi, kalau lagi tidak membantu suaminya berdagang di pasar, berada di rumah yang jika tengah hari sudah ditemani kedua puteranya yang lucu, menyusul Siska, menjelang sore dan terkadang hampir Magrib, Pak Odi sampai di rumah dari pasar.
Keluarga Pak Odi adalah keluarga sederhana. Selain motor dan sepeda, tak ada kendaraan pribadi yang lain seperti mobil yang parkir di teras rumahnya. Namun keluarga ini sangatlah rukun dan harmonis. Tak terdengar ribut-ribut, apalagi sampai berantem.
Anak dan isteri Pak Odi sangat menyayanginya. Mere ka menganggap Pak Odi  adalah sosok ayah yang tegas, suami yang menyayangi isteri, dan lebih mengu tamakan keluarga ketimbang lainnya. Baginya, kebahagiaan anak dan isterinya adalah  kebahagiaan dia juga.
Tak heran jika di waktu senggang dia menyempatkan diri bertatap muka dengan ketiga anaknya. Mena nyakan perasaan mereka sekarang. Khusus kepada Siska, anak sulungnya, Pak Odi selalu berpesan pandai-pandailah membawa dan menjaga diri.
“Kamu seorang guru, guru wanita lagi. Jangan lupa jaga martabat profesimu itu. Sebagai guru kamu ha rus tunjukkan contoh dan tata krama yang baik pada semua orang, terutama kepada para muridmu, anak didikmu …”
“Camkanlah itu, Nak.” Kata Pak Odi.
Hampir setiap minggu Siska menerima weyangan dari ayahnya. Dia hanya tekun menyimak, dan enggak berkomentar banyak.  Termasuk ketika Pak Odi menyindirnya soal pendamping hidup. Siska seolah mati kutu. Dia terkadang cuma diam, padahal sang ayah menginginkannya bicara agar tahu di mana dan kenapa ‘sulit mencari’ calon suami.
“Ayah tidak memaksamu untuk cepat-cepat menikah, Sis anakku. Yang penting kamu bisa menjaga diri mu. Sebab, kalau nanti ayah memaksamu itu tak baik buat ayah, apalagi buatmu. Tapi jika kelak kamu sudah punya calon, jangan lupa, segeralah perkenalkan kepada ayahmu ini.”
Siska kali ini baru bisa tersenyum.
“Ayah dan ibumu selalu berdoa buatmu, agar kelak kau menemukan sosok laki-laki yang sesuai dengan keinginanmu. Laki-laki yang jujur, saleh dan benar-benar menyayangimu dan menyayangi keluarga kita ini.”
“Terima kasih ayah,” jawab Siska memberanikan diri.
“Pesan ayah lagi, sayangilah kedua adikmu, Dery dan Lia. Didik dan bimbinglah keduanya. Memang ayah dan ibumu bisa dan akan selalu mendidik serta membimbing mereka. Tapi kamu sebagai kakaknya, bagi keduanya terasa lain karena di mata mereka Siska adalah sosok panutan, harapan dan diharapkan bisa mengarahkan keduanya menjadi anak yang baik serta punya masa depan yang cerah …”
Kali ini Siska tak memberikan jawaban.
Namun, kendati tak satu patah kata pun keluar dari mulutnya, semua weyangan ayah tercinta,  lambat tapi pasti harus bisa direalisasikan. Karena ia mengandung banyak harapan, terselip semangat hidup, apalagi Siska kini sudah punya teman curhatan baru, sekaligus  tambatan hati, bernama Darwin.
***

V
“OKE Pa … tariiiik …!” Teriak Darwin.
Sebuah kapal motor cepat berukuran kecil menarik perlahan tali ski yang dipegang Darwin. Lambat tapi pasti, badan Darwin yang semula hanya menyisakan kepala, kini mulai terangkat ke permukaan.
Bersamaan dengan itu, teriakan penuh semangat dari Puspa dan Bu Guru Siska dari tepian pantai, terus terdengar. Keduanya melompat kegirangan setelah Darwin dengan papan skinya berhasil melewati rin tangan papan besar sambil melakukan gerakan memutar. Kedua tangannya, kiri ke kanan dan kanan ke kiri, bertukar pegangan di tali ski.
“Auuuw …!” Jerit Puspa dan Siska.
Ada apa?
Sesaat setelah melewati papan rintangan, karena hilang keseimbangan, pegangan terlepas, Darwin te nggelam sementara Pak Bima, karena tidak sempat menoleh ke belakang, tak pula tahu kalau si anak sulung  itu sudah tidak ada lagi di belakang kapal.
“Papa …!” Teriak Bu Bima, isterinya. Dia melambaikan baju kaos suaminya sambil menunjuk ke arah Darwin yang mulai berenang ke tepian.
“Ma …!” Puspa kuatir mulanya.
“Enggak kenapa-kenapa say. Itu sudah berenang kakakmu,” kata Sang Mama.
Melihat Darwin sudah berenang, tak jadi ke tepian, justru kembali naik ke atas kapal, Puspa tak kuatir lagi. Dia takut sang kakak tenggelam. Juga Bu Guru Siska.
“Kakakmu itu kan pandai berenang,” jelas Sang Mama, mengajak Puspa dan Bu Guru Siska kembali ke tenda mereka dekat jembatan pelabuhan.
“Sorri ya Win. Papa betul-betul enggak tengok,” ucap Pak Bima, memberikan sehelai handuk kepada Darwin untuk mengeringkan sekaligus menghangatkan badan.
“Sama dong Pa kalau gitu. Setelah meluncur dari papan rintangan tadi itu, aku lupa lihat ke depan. Ma lah fokus tengok papannya yang masih bergerak-gerak. Terus, waktu aku mau tengok ke depan, kapal melesat cepat, pegangan terlepas dan Darwin jatuh, tenggelam dalam air …”
“Kita istirahat dulu ya …”
“Oke Pa …”
Dari kejauhan Bu Gusu Siska melambaikan tangannya. Sedangkan Puspa berlari menyambut sang kakak. Keduanya berpelukan, menyusul kemudian Sang Mama.
“Mas Darwin!” Siska memberikan sebotol air lemon manis.  Diminum sedikit. Kepada Siska, Pak Bima cerita bahwa main ski itu asyik dan menyenangkan.
“Nanti ajarin Puspa ya Pa,” pinta Puspa, diiyakan Sang Papa, juga mamanya yang kali ini berkenan ikut menumpang kapal, bukan untuk bermain ski.
Hari mulai beranjak siang. Semakin siang semakin banyak warga yang datang. Ada sendirian, berdua, berombongan dan bersama keluarga. Mereka membentang tikar, lalu meletakkan peralatan makan seperti gelas, piring, mangkok, magic jer, termos air, batu es dan beragam lauk pauk.
Setelah makan siang bersama, satu-satu dari mereka berlarian ke tepian pantai. Membuka pakaian dan mandi. Panas terik tak terasa, saking asyiknya berenang, lupa kembali ke daratan, jika tak ada yang memanggil, saudara, teman, atau ayah bunda.
Sementara Puspa sudah mulai berlatih bermain ski, Darwin dan Puspa memilih duduk di teras sebuah ru mah makan pantai. Banyak juga pasangan muda-mudi yang duduk di situ. Sambil menikmati es kelapa muda, pandangan sesekali tertuju ke pantai, disertai gelak tawa semakin menambah keakraban dan kehangatan suasana jalinan asamara.
Inilah salah satu tempat memadu cinta, menebar benih asmara. Bosan berlama-lama duduk berdua, bisa jalan barengan mengelilingi pantai.  Pakai kuda bisa, delman tersedia. Ingin mencoba bersepeda juga bisa. Tapi rutenya dekat pintu gerbang. Ada jalan beraspal melingkari luasnya  badan pantai.
Capek bersepeda, bisa singgah sejenak di pondok jajanan. Di sepanjang jalan, berderet  pondok-pondok menjajakan beragam makanan. Juga ada souvenir berharga murah hingga mahal. Souvenir-souventir itu bisa berbentuk rumah adat, lambing kota bersejarah, atau aset unggulan daerah setempat, seperti batu granit dan batu cincin.
“Aku pilih ini satu ya …” Kata Darwin pada Bu Guru Siska ketika mampir sejenak di salah satu pondokan paling ujung.
“Manis-manis kok ya Mas.” Semula enggan turun dari sepeda. Setelah diajak Darwin melihat lebih dekat souvenir dan pernak-pernik, Siska kepincut.
Kini dia bingung mau pilih yang mana.
“Ayo … bingung kan?” Goda Darwin.
“Bukan bingung lho Mas. Belum ketemu aja yang di hati.”
“Yang di dekat ini, enggak mau apa?”
Siska mendehem.
“Aduh ..!” Ringis Darwin. Pahanya dicubit mesra Bu Guru Siska.
Penjaga pondok, seorang cewek berkulit sawo matang, tersenyum simpul melihat Darwin kena cubit Sis ka. Dia sepertinya tahu kalau cubitan itu merupakan cubitan sayang. Karena setelah itu Siska menarik lengan Darwin, menunjuk ke deretan batu cincin berbagai rupa.
“Dik, tolong yang ini,” Kata Siska menunjuk sebuah batu cincin berwarna hijau.
Kecil bentuknya. Tapi begitu dicoba di jari manis Siska, wooow … pas benar. Manis dipandang, enak dikenakan …”
“Apa namanya dik batu ini?’ Tanya Darwin, mengeluk-elus batu cintin.
“Kecubung Mas,” jawab si cewek. Bergegas ia ke dalam, lalu keluar lagi sambil membawa kotak berisi batu kecubung berbagai bentuk dan gaya.
“Wooow … indah sekali!” Terkagum-kagum Bu Guru Siska melihatnya.
Batu-batu itu siap pakai. Tinggal dikenakan di jari tangan. Ada berbentuk segi empat, bulat dan juga ada yang segitiga. Jika diletakkan di tempat yang ada cahayanya, seolah memancarkan sinar. Terang bende rang dan mengkilat lagi. Begitu disentuh terasa dingin.
“Udah  lum say?” Bisik Darwin.
“Bentar dong Mas, ah.”
Siska memilih ulang batu-batu itu. Sebentar-sebentar mundur, maju dan mendekat lagi. Lalu melihatnya dari posisi menyamping ke kiri dan kanan.
“Daah. Yang ini aja …”
Siska memilih warna yang sama. Hijau. Itu cincin ia kenakan di jari manis. Ia tampak senang mengenakan batu cincin pembelian Darwin barusan. Saking senang dan perhatiannya sama itu batu, Siska tak tahu kalau sekarang dia sudah berada di boncengan sepeda.
“Sis …!” Sapa Darwin.
“Ya Mas.”
“Kita keliling sebentar ya. Mau kan?”
“Mereka sudah dikasih tahu enggak?”
“Sudah. Kata mereka boleh, asal jangan sampai malam.”
“Ngapain juga sampai malam. Amit-amit Mas.”
“Aduh …”
Kena cubit lagi. Tapi cubitannya kali ini lebih lambat dan santun. Bagi Darwin, kuat atau pelannya cubi tan itu tak perlu ia pusingkan. Sebab, melihat Bu Guru Siska bisa senyum saja, dia sudah lega setengah mati. Apalagi lebih dari itu.
“Sis …!”
“Ada di sini. Enggak kemana-mana, Mas.”
“Kita turun yuk sebentar …”
“Ngapain Mas. Mau berkebun?” Ledek Siska.
Keduanya berhenti di Pondok Cinta, orang sering menyebutnya.  Kenapa dikatakan Pondok Cinta, karena  sehabis jalan-jalan di tepian pantai, pengunjung menggunakannya  sebagai tempat memadu kasih. Mengutarakan isi hati masing-masing.
Pondok Cinta terdiri dari beberapa bagian pondok yang menyatu satu sama lain. Sebenarnya, sebelum ini banyak pengunjung yang membawa keluarganya mampir ke tempat ini. Tapi, karena tak ada yang di lihat di sini, padahal sebelumnya ingin menengok pantai, kecuali areal perkebunan warga. Mulai dari jagung, pisang, jeruk, papaya hingga durian menggoda selera.
Jadi, kalau pun ada pengunjung yang tetap nekad ke Pondok Cinta,  sekadar singgah sebelum pu lang ke rumah, berteduh karena kehujanan, selebihnya mereka yang benat-benar men cintai alam serba hijau, mencicipi sekaligus membeli untuk oleh-oleh buah-buahan segar dengan harga yang murah, akrab di kantong.

Seirin g berputarnya waktu, kini, setelah ada besi pembatas antara pondok dengan perkebunan warga, dengan cat hitam putih, sore harinya Pondok Cinta semakin ramai didatangi muda-mudi. Akses ke kota dekat, jalan mulus membentang, panorama serba  hijau dan alami.
Sunset mulai jadi pilihan. Banyak diabadikan lewat kamera besar, kecil dan HaPe. Foto berdua dengan latar belakang matahari terbenam jadi rebutan pengunjung. Tak jarang dari mereka harus sabar berjep retan ria atau kucing-kucingan mencari lokasi yang tepat dan menyisakan banyak kenangan.
“Sis …” Ucap Darwin saat keduanya memandang jauh ke areal perkebunan.
“Panas Mas di sini,” kata Siska kegerahan. Mukanya mulai memerah, haus kian terasa.
“Di sana aja ya.” Darwin mengajak Siska singgah di salah satu pondok bagian tengah. Yang paling ujung sudah ditempati pasangan muda-mudi yang sudah lebih dulu tiba dari mereka.
Ada bangku kayu panjang. Di bangku inilah, bersama pasangan muda-mudi lainnya, Darwin dan Siska me ngaso sejenak, tentu saja mencoba menikmati apa yang diiinginkan orang seusia mereka saat duduk ber dua …
***     

VI
“SUKA Sis?”
Siska tidak mengangguk. Cuma dari senyuman yang ia kembangkan, Darwin yang kini duduk sopan tapi santai di sampingnya, Siska berharap ada pertanyaan lain yang selalu ia tunggu.
“Lho, kok senyum-senyum?”
“Suka.” Akhirnya Siska menjawabnya.
Pembicaraan pun menyerempet ke masalah hubungan keduanya.Inilah yang ditunggu-tunggu Bu Guru Siska. Ingin rasanya dia memencet mulut Darwin agar teruslah bicara tentang mereka berdua.
“Sis …” Darwin membisikkan sesuatu di telinga Siska. Walau tak sebesar telinga gajah, Siska sangat jelas mendengarnya. I Love you, katanya.
Ah, sudah umur segini, bukan bagian dari ABG lagi, Bu Guru Siska biasa-biasa saja mendengarnya. Tidak melonjak kegirangan, atau membalasnya dengan rebahan di pundaknya Darwin.
Ada apa dengan Siska?
Dia hanya berharap, cowok yang kini lagi kasmaran itu tidak sekadar mengucapkan I love you saja. Tapi harus dibuktikan dengan perbuatan. Jadi tidak sebatas wacana, omong kosong saja.
“Apa jawabmu Sis?”
“Jawab apa Mas?” Siska pura-pura tidak tahu.
“Yang Mas bisikan tadi itu.”
“Apa ya jawabnya yang bagus ..?” Siska berbalik ragu, bukan karena jawaban yang bakal dia berikan. Tapi konsekuensi dari jawaban itu.
Ah, kenapa aku sebodoh ini cara berpikirnya. Terlalu bertele-tele, membuat yang melihat dan men dengarnya, jadi bingung dan serba salah.
Aku tak boleh bersandiwara di depan Mas Darwin. Sebab, kalau meleset, risikonya besar. Bisa-bisa aku dibilang ego, sok jual mahal dan terlalu banyak menuntut ini dan itu.
Aku tak boleh seperti itu. Aku ini Siska. Ya, Bu Guru Siska. Aku sudah terbiasa menghadapi murid-murid ku, anak es em a, teman-teman yang satu profesi denganku. Sering menghadapi dan berbicara dengan orang banyak. Bahkan, aku sangat disenangi siswaku karena cara mengajarku yang baik, komunikatif dan dekat dengan siswa.
“Pikir dulu boleh,” ucap Darwin. Agak kecewa dia, tapi tidak marah. Dia tidak minta macam-macam pada Siska. Hanya satu permintaannya: Love …
“I love you too Mas Darwin.” Jawab Siska malu-malu kucing. Kepala menunduk lalu menyembunyikan kegeliannya di pundak Darwin.
“Alhamdulillah,” kata Darwin sambil mengusap mukanya dengan kedua telapak tangan.
“Terima kasih ya Sis …”
Ucapan barusan amat menyentuh hati Siska. Dia merasa begitu pentingnya jawaban itu bagi Mas Dar win. Entah apa yang dirasakan laki-laki baik hati ini. Bergetarkah hatinya. Gembira atau merasa puas karena Siska sudah menjawab apa adanya, sejujurnya.
Siska tak merasakan apapun saat berdekatan dengan Mas Darwin. Pundak yang sempat ia gunakan un tuk menyandarkan kepala dan membenamkan wajahnya, biasa-biasa saja. Cuma yang berbeda, ya itu, raut mukanya Darwin berseri-seri. Es kelapa muda yang ia sesapi seolah memberi isyarat, si penyesapnya saat ini lagi bermunajat cinta.
 “Sis …”
Bu Guru Siska mendongakkan wajahnya.
“Kamu siap enggak …?”
“Auuuwww … kampret kamu ..!” Jerit si cewek di pondok sebelah sambil memukul-mukul cowoknya dengan sepatu, terus menghindar dan lari terbirit-birit menuju perkebunan warga.
Ternyata, si cowok baru saja meremas payudara si cewek tanpa sepengetahuannya. Walaupun tidak ku at remasannya,   mem buat jengkel si cewek ,malu bercampur marah karena merasa telah dikerjai.
Bukan hanya Darwin dan Siska yang ketawa menyaksikan adegan barusan. Pasangan muda-mudi lainnya bersikap sama. Malah ada yang bertepuk tangan dan menyoraki si cowok yang dinilai sebagian wanita muda usia itu tipe laki-laki penakut dan tak bertanggung jawab.
“Lucu juga,” kata Darwin.
“Apanya yang lucu Mas?”
“Dua-duanyalah Sis. Si cowok lucu, ceweknya juga lucu …”
“Lucunya dimana Mas ya?”
“Kejar-kejarannya itu,” terang Darwin.
“Mas suka ya?” Pancing Siska.
“Suka apanya?”
“Kejar-kejarannya itu …”
Darwin ketawa 
“Enggaklah Sis. Tapi kalau kejar-kejaran yang lain Mas suka …”
“Apa itu Mas?”
“Misalnya … sandalnya Siska Mas ambil, lalu Siska nyari kesana kemari. Enggak ketemu-ketemu. Pas ketemu ada di tangan Mas. Siska kesal,  lalu kejarlah Mas Darwin … “
“Lantas diapain?”
“Ya kamu yang ngejar, Mas terus berlari, dan Siska terus mengejar …”
“Enggak kasihan Mas?”
“Kasihan juga sih, tapi …”
“Masih ada tapi lagi …”
“Ya namanya juga orang pacaran, pasti ada bunga-bunganya. Ada lucu-lucuannya juga. Kalau enggak ada ya enggak menariklah … Hambar. “
“Apa perlu Mas Darwin sekarang Siska kejar?”
Darwin terbatuk-batuk. Bukan karena kaget dengan omongan Siska barusan. Tapi minum es kelapa mudanya terlalu cepat, tergesa-gesa.
“Buat apa?”
“Lho … katanya tadi harus ada bunganya,” ujar Siska yng juga ikut menyesapi es kelapa muda.
“Ya maksud Mas itu, kalau memang timing-nya , tak jadi apa..”
“Mas, gimana kalau sekarang Siska  langsung kejar aja ya!”
“Siska kejar apa?”
“Cinta …”
Ha ha ha ha 
Saking kencangnya ketawa, pasangan muda-mudi di sebelah menyebelah pondok pada kaget. Serentak mereka mengarahkan pandangan ke Darwin dan Siska. Merasa jadi pusat perhatian, Darwin buru-buru membalasnya dengan senyuman dan lambaian tangan.
“Mas Darwin sih, kencang amat ketawanya,” gerutu Siska  sedikit kesal.
“Kenapa enggak kencang, wong kalau ngejar itu karena ada sesuatu, misalnya kesal. Lah yang ini kan cinta. Apa enggak …”
“Jangan kuat-kuat ah. Tak enak didengar mereka …"
Darwin menahan diri sejenak untuk tidak berkata sepatah katapun sampai Siska yang menyuruhnya berbicara.
“Mas Darwin …”
“Ya …”
“Nah gitu dong. Pelan.  Cukup Siska aja yang mendengarnya. Orang lain enggak usah tahu karena enggak perlu …”
“Sis … Mas mau ngomong sama kamu. Boleh kan?”
“Jadi selama ini Mas Darwin belum …”
“Bukan .. bukan begitu. Maksud Mas Darwin, begini. Ngomongin cinta udah. Nah yang belum ngomongin soal kita berdua …”
Merasa ditatapi lekat sang pujaan hati, Bu Guru Siska jadi salah tingkah. Entah kenapa dia tidak berani membalas tatapan itu. Begitu lekat selekat lem perekat. Jantungnya berdebar-debar. Nafasnya turun naik tak beraturan.
“Lusa Mas berangkat …”
Lega juga Siska kini. Dia pikir Darwin bicara soal lain. Kalau soal berangkat ke luar kota untuk urusan studi, no problem. Itu harus didukung, bukan dihalangi. Apa kata orang tua Darwin. Belum jadi isteri, sudah bisa bertindak sendiri-sendiri, tanpa kompromi lagi.
Lain hal kalau sekiranya Darwin bicara tentang kawin. Belum siap. Bukan fisiknya, tapi mengenali kepri badian masing-masing dulu. Setelah saling kenal, baru bicara kelanjutannya.
Biar matang. Boleh juga cepat asal sepakat. Tak baik juga cinta kilat, buru-buru memikat. Kemudian bertengkar hebat sampai sekarat. Siska camkan betul hal ini. Baginya, biarlah lambat asalkan selamat dunia dan akherat.
“Berikanlah Mas harapan, Sis. Sedikit saja,” bisik Darwin penuh harap.
“Harapan apa ya?” Tanyanya dalam hati. Belum pernah ia seego hari ini.
“Sis …”
“Iya Mas. Harapan …”
Siska menggenggam erat tangan Darwin, dengan terbata-bata ia berucap …
    Disaksikan kaumku … matahariku dan juga pancaindraku. Aku, Siska binti Odi, dengan ini siap melepas keberangkatan Mas Darwin, pujaan hatiku, belahan jiwaku …”
“Sis …” Darwin mengingatkan Siska yang masih terbata-bata, antara menangis dan ketawa.
“Ya Allah, harapanku padanya … pergi selamat .. pulangnya juga selamat.”
“Amin,” ucap Darwin.
***

VII
“KANAN … Pa.” Ucap Puspa.
“Kok kanan, Pa?” Sang Mama bingung. Kiri jalannya lebih besar dari kanan. Kenapa harus pilih kanan.
“Itu kak Darwinnya, Ma.! Teriak Puspa sumringah.
Di Pondok Cinta Darwin dan Puspa asyik mengobrol. Tak pedul sekitar, keduanya seolah tengah dimabuk cinta. Padahal sesungguhnya tidaklah demikian.  Hanya saja, saking asyiknya, lupa kalau lebih dari dua jam singggah di pondok yang atapnya terbikin dari bahan asbes itu.
Juga ketika kedua orang tua dan adiknya Puspa tiba di pondok itu, Darwin tak mengetahuinya. Dia baru tahu setelah Puspa meneriakinya dan berlari mendekatinya.
“Lhooo … Puspa?!”
“Kakak sih enggak dengar ..” Kata Puspa. Karena haus, ia minum es kelapa muda miliknya Darwin.
“Mama sama papa, mana Pus?”
“Di belakang …”
Darwin menoleh ke belakang. Ke kiri, kanan dan depan, yang dicari tidak ada. Namun ketika bermaksud menuruni tangga kecil ke pematang sawah, dia tersenyum-senyum saja.
Ada apa?
Ooook … oooo. Rupanya Pak Bima dan isteri tercinta tengah duduk berduaan dekat tangga. Kuatir meng ganggu, Darwin memutuskan untuk kembali ke Pondok Cinta menemui Puspa dan Bu Guru Siska.
“Ketemu kak?”
“Ada. Ketemu,” jawab Darwin tersenyum geli.
“Kenapa enggak diajak kemari, Mas?” Tanya Siska. Ingin rasanya dia menyusul Pak Bima dan isterinya bersama Puspa.
“Tak usah Sis,” cegah Darwin dengan suara lembut mendayu. “Mereka lagi bernostalgia kayaknya.”
“Puspa gimana dong?”
“Sama Kak Darwin aja,”  sahut Siska.
“Enggak ganggu apa?”
“Enggaklah Sis,” kata Siska, “Kayak orang lain saja.”
“Udah. Yuk kita jalan aja bertiga. Asyik pakai sepeda …”
Sepeda roda tiga. Darwin membonceng, Puspa di tengah dan Bu Siska di belakang. Mereka bertiga me ngelilingi areal perkebunan dari sebelah kanan, tak jauh dari Pondok Cinta. Ramai juga petani mencang kul dan merapikan kebun mereka. Sesekali melambaikan tangan pada orang yang lalu-lalang berkendara roda dua dan empat.
“Ingat waktu pacaran dulu ya Ma,” kata Pak Bima pada isterinya.
“Mama lupa nih. Dimana ya Pa?” Tanya sang isteri dengan nada manja.
“Lho … kok lupa, kenapa Ma?”
“Udah lama Pa. Coba bayangin ajalah Pa. Darwin aja sekarang udah 23. Terus kita pacaran kan enggak langsung jalan-jalan. Ngorol-ngobrol dulu. ‘Tul kan Pa?”
“Iya betul …”
“Jadi tolong kasih tahu Mama, Pa. Dimana ya?” Pinta isterinya. Dia sungguh tak tahu persis ingatnya itu dimana.
“Itu, Ma.” Akhirnya Pak Bima menjelaskannya, “ Waktu papa ngajak mama ziarah itu, lho …”
“Ziarah? Ziarah apa, Pa?” Tambah bingung mama jadinya …”
“Ziarah ke makam buyutku …”
Lama juga Bu Bima mengingatnya.
“Waktu itu hujan turun gerimis,” aku sang suami yang berharap isterinya cepat mengingatnya kembali.
Kembali mengingat, setelah itu baru tertawa …
“Baru ingat mama, Pa sekarang. Kalau tak salah, waktu itu papa enggak pakai sandal kan, karena putus talinya …”
“Betul sekali, Ma. Syukurlah mama sudah mengingatnya kembali. Itu pertanda perjalanan honey moon kedua kita hari ini berjalan lancar …”
“Ah papa. Ada-ada saja,” ucap sang isteri sambil mencubit gemas paha suami tercinta.
“Tua-tua keladi nih papa. Makin tua makin menjadi-jadi …”
“Mama kok bilang gitu sama papa. Tak enak lho papa jadinya.”
“Kesinggung ya Pa?”
“Enggak ah .. Cuma enggak enak aja. Masak dibilang tua-tua keladi. Seharusnya mama bilang semangka pisang, semangka pisang, itu lho ..”
“Apa sih Pa semangka pisang, semangka pisang itu?”
“Makin tua makin sayang …”
 Ha ha ha ha …
“Genit ah papa,” kata Bu Bima, mendadak ingin dipeluk suami tercinta.
“Kalau ini bukan papa yang genit, tapi mama.”
“Papa enggak?”
“Sama jugalah Ma …”
Lama juga keduanya berpelukan. Kepada isteri tersayang, Pak Bima mengatakan, umur boleh tidak muda lagi, tapi soal kehangatan dan kemesraan, tak boleh lapuk oleh kesibukan sehari-hari.
Mengurusi anak itu penting, kata Pak Bima sambil mencium kening sang isteri, tapi juga penting mengu rusi diri sendiri, suami terkasih. Bukan maksud hati ingin menagih kewajiban, tapi paling tidak sejenak melupakan kebosanan, kehambaran dan menambah kasih sayang dalam keluarga.
Mereka sekarang sudah besar, Ma. Tapi jangan lupa dulu mereka pernah kecil. Ingat waktu kecil dulu, mama suka juga mara pada anak-anak. Mama bilang bandel  lah, pemalas lah. Tapi se karang kan tidak lagi. Karena mereka sudah besar.
“Sebentar lagi bakal hidup memisah …”
“Kamu takut, Ma?”
Sang isteri melepaskan pelukannya. Lalu merebahkan kepalanya di pangkuan suaminya.
“Iya Pa,” aku Bu Bima terus terang. Kalau mereka suda hidup memisah nantinya, membentuk rumah tangga, otomatis yang jaga rumah sendirian.
“Papa kerja …”
“Kan ada pembantu kita yang nemenin,” terang Pak Bima.
Sekarang saja, kata Bu Bima, sudah terasa. Darwin lebih banyak menghabiskan waktunya bersama Siska.
“Paling sama Puspa doang, Pa.”
“Papa enggak …?”
“Papa gimana nih. Mama serius lho, Pa.”
“Iya .. iya. Papa mengerti. Tapi itu sudah hukum alam. Mereka harus saling kenal dulu, ngobrol panjang lebar. Penjajakanlah. Kita selaku ortu harus kasih waktu ke mereka. Biarkan mereka saling kenal lebih jauh. Kalau sudah sama-sama kenal, kan enak ketika akan melangkah ke jenjang selanjutnya …”
“Papa lucu ah …” Kata Bu Bima tersenyum manja.
“Mama juga lucu.”
Saling gelitikan, Pak Bima dan isteri akhirnya bergulingan di rerumputan. Untungnya, tak ada orang yang menengok mereka arena pengunjung tertumpah ke  Pondok Cinta dan perkebunan warga. Praktis suami isteri yang tidak muda lagi ini leluasa bercengkrama.
Huuuup …
Pak Bima menggendong isterinya.
“Dibawa kemana, Pa? Jerit manja sang isteri sambil memukul lembut punggung sang suami.
“Ke Pondok Cinta. Mau kan Ma?”
“Pondok Cinta mana?”
“Tuh …”
Masih tersisa satu pondok lagi di sana. Walau berat, Pak Bima ogah membawa isterinya pakai mobil. Dia lebih suka menggendong isterinya sampai ke Pondok Cinta. Tak mudah memang. Perlu banyak keringat untuk menggendong orang yang amat dikasihi. Selain karena usia tidak muda lagi, tenaga tentunya sudah tak sekuat dulu lagi.
“Alhamdulillah …” Ucap Pak Bima. Tak kuasa berdiri lagi ia. Duduk bersandar  di dinding dalam pondok.
“Udah mama bilang enggak usah. Masih juga papa sih,” ujar sang isteri seraya menyeka peluh suaminya di sekitar leher, muka dan tangan.
“Tapi papa senang lho, Ma.”
“Senang sih senang, Pa. Kalau sampai nyusahin badan gini apa enggak berlebihan …”
“Mama, gitu ah …”
“Habis, yang payah kan juga papa.”
“Demi mama, papa rela.”
“Gombal ah …”
“Ma, airnya tolong …” Pinta Pak Bima.
Karena persediaan air ada di mobil dan memerlukan waktu untuk mengambilnya, Bu Bima  dengan berat hati ‘berasan’ ke pondok sebelah yang ditempati  pasangan muda-mudi yang lagi asyik makan berdua di atas pelepah daun pisang. Sebotol air yang tersisa tak sungkan mereka berikan kepada Bu Bima.
Walau cuma sebotol air putih kecil, kalau dipindahkan ke dalam gelas ukuran sedang, tak sampai dua ge las penuh, bagi Pak Bima lebih dari mencukupi. Badannya terasa segar kembali dan sudah bisa tertawa-tawa lagi.
“Telepon aja mereka, Ma.” Pinta Pak Bima.
Ketika asyik melahap rambutan saat sepeda berjalan, HaPe miliknya Darwin berdering. Tak sangka dia kalau yang menelepon mamanya. Meminta mereka segera kembali ke Pondok Cinta.
Untuk sekadar menyenangkan hati Sang Mama, Darwin memesan buah durian dalam jumlah banyak. Le bih dari sepuluh, tapi kurang dari dua puluh. Durian itu diambil langsung oleh pemiliknya dari batang po hon duran yang sudah berbuah lebat.
Harganya tak terlalu mahal. Apalagi membeli dalam jumlah yang banyak. Ada bonus, dua sampai lima buah durian masak. Pemilik sekaligus penjualnya akan membelah salah satu durian sebagai contoh dan bukti bahwa duarian yang mereka jual berkualitas tinggi dan bisa dipertanggung jawabkan.
“Sebelah mana pondoknya, Mas?” Tanya lelaki berkulit hitam legam, penjual durian, warga sekitar.
“Paling ujung kanan, Pak.” Jelas Puspa, mencicipi sebiji durian. Karena enak dan lezat, ketagihanlah dia. Habis tiga biji akhirnya.
“Mas tunggu aja di sana. Nanti kami yang antar,” kata si penjual sembari mengikat beberapa buah durian dalam satu ikatan tali agar tidak tercecer dan mudah dibawa.
***    


           
 




   


           
 




           
 





           
 









    

Tidak ada komentar:

Posting Komentar