Senin, 10 Oktober 2016

Kampung Kami (3)



Novel  Lepas
Kampung Kami  (3)
(Edisi Ketiga)
By  Mang  Amin

I
“BU Sri …. Bawa anak-anak kemari .. Cepaaat!” Teriak Bu Kandar, pengurus masjid Nurul Falah dari dalam masjid setelah beberapa warga datang memberitahunya bahwa Ki Baut dan Ki Mur beserta gerombolan pasukannya bikin onar di Kampung Falah.
Teriakan tersebut, walau tak terlalu kencang dan nyaring, sedikit banyak membuat panic siswa didik Sri Hapsari. Mereka bergegas masuk ke masjid, menemui Bu Kandar, dan menanyakan apa gerangan yang telah terjadi. Gempa bumikah? Kompor meledak atau letusan meriam?
“Tenang anak-anak,” kata Bu Sri meminta anak didiknya tenang. “Bisa ibu yang bertanya langsung kepada Bu Kandar ya …”
Belum sempat Bu Kandar bicara, salah seorang anak buah dua Ki kembar mendatangi masjid. Dia tidak turun dari kudanya. Namun tatapan matanya  sungguh liar dan penuh selidik.
Sssssst …
Bu Kandar, Bu Sri Hapsari, dan kesepuluh siswanya serempak menundukkan kepala. Bersembunyi di balik dinding masjid bagian dalam. Jadi dari luar tidak ada tanda-tanda ada orang di dalam masjid. Apa lagi pintu samping dan belakang masjid terkunci rapat.
Pada awalnya tenang. Tapi ketenangan siswa Nurul Falah ini terusik manakala si penunggang kuda tadi turun dari kudanya dan menambatkan tali kekang si kuda di tiang bendera.
“Gimana Bu?” Suara Murni yang gugup hampir saja ketahuan jika tidak secara bersamaan kuda si penunggang meringkik.
“Cepat sana ke belakang,” kata Bu Kandar, mengajak Bu Sri dan siswanya ke belakang. Ada kamar kecil.
“Kita sembunyi saja di situ,” ujar Bu Kandar.
Kesempatan bersembunyi ini dimanfaatkan Bu  Kandar, Bu Sri dan kesepuluh siswanya. Sebab, hampir bersamaan si penunggang kuda balik lagi mendekati tiang bendera untuk memberikan rasa aman pada kudanya agar tidak meringkik lagi.
Lelaki berubah itu pun mendekati pintu belakang masjid. Dia kutak-katik kuncinya. Karena tak juga terbu ka, di dalam masjid kosong melompong, dia kembali lagi ke kudanya dengan raut muka kecewa.
“Bagaimana Bu Sri?” Tanya Bu Kandar, sempat tersenyum geli melihat Bu Sri merayap di lantai kayak buaya dari pintu samping masjid menuju pintu di mana mereka bersembunyi saat ini.
“Aman Bu … Sudah pergi,” jawab Bu Sri lega. Mukanya yang berkeringat diseka beberapa siswi didiknya dengan pakaian yang mereka kenakan.
Kelepak … kelepak .. kelepak …
Suara kuda menyentakkan Maskur untuk mengintipnya dari lubang jendela keci kamar. Dengan menaiki pundak Yandi, dia bisa melihat secara jelas lelaki penunggang kuda itu melewati samping masjid, sebelum menghilang entah ke mana.
“Kemana Kur?” Tanya Bu Kandar penasaran.
Maskur geleng-geleng kepala. Dia turun dan meminta izin gurunya untuk menyelidiki  ke mana si penunggang kuda pergi.
Bu Kandar dan Bu Sri, keduanya agak keberatan awalnya.  Selain masih anak-anak, Maskur dan kawan-kawannya  belum layak terlibat langsung dengan masalah Ki Baut dan Ki Mur ini.
“Bagaimana dengan orang tua kalian?  Bagaimana dengan ibu guru kalian, ibu dan teman-temanmu ya ng lain di sini Nak Maskur?” Bu Kandar kuatir mereka akan tertangkap. Sebab, Ki Baut dan Ki Mur licik sekali dalam hal tangkap menangkap.
“Tenang saja, Bu.” Kata Yandi. “Kami akan kembali lagi. Kami cuma sebentar saja. Aku, Maskur dan Andi saja. Yang lainnya tetap disini menemani Bu Sri dan Bu Kandar …”
Belum ada tanggapan.
“Boleh kan Bu Sri?” Rengek Yandi.
Bu Kandar menghela nafas sebentar. Lalu bersama Bu Sri, keduanya memberi izin.
“Tapi jangan lama-lama ya,” pinta Bu Kandar.
“Pesan ibu cuma satu … Hati-hati dan cepat kembali ke sini …” Pesan Bu Sri.
“Baik, Bu,” jawab Maskur dan kedua rekannya bersemangat. Mereka keluar kamar dan pergi menyusul si penunggang kuda lewat pintu kanan samping masjid.
Maskur, Andi dan Yandi sangat terkejut mendapati rumah yang mereka lewati sepi tak berpenghuni. Me reka lebih terkejut lagi saat mendengarkan teriakan histeris perempuan dari tanah lapang tempat biasa warga Kampung Falah berkumpul dan berolahraga.
Tanah lapang itu cukup luas. Cuma kali ini bukan dipenuhsesaki warga bermain dan menonton pertan dingan bola kaki serta bola voli, tapi jerit menyayat hati para ibu yang suami mereka disiksa anak buah dua Ki dengan cara dicambuk sampai tak sadarkan diri.
“Kita kesana lagi yuk,” ajak Yandi menunjuk ke sebuah rumah kosong, berjarak sepuluh meter dari tanah lapang.
“Kalau ketahuan bagaimana?” Andi ragu. Karena anak buah Ki Baut dan Ki Mur pasti melihat mereka. Tidak ada semak belukar di sekitar rumah kayu itu. Cuma tiang penyangga rumah. Tiangnya pun tidak besar, hanya tinggi kurus saja.
“Menurutku tak usahlah, Yan. Karena pesan Bu Guru kita tadi, hati-hati. Ingat tidak?” Maskur sekadar mengingatkan rekan-rekannya.
“Lagian kita disini atau di sana sama saja,” jelas Andi. “Mereka dicambuk dan tak seorang pun yang mau menolong …”
Yandi belum memberi jawaban. Karena terus didesak untuk kembali ke masjid oleh Andi dan Maskur, dia akhirnya menurut. Mungkin saja, pikirnya dalam hati, Bu Sri dan Bu Kandar bisa memberikan solusi terbaik.
Sementara di tanah lapang, ulah Ki Baut dan Ki Mur beserta anak buahnya,  makin menjadi-jadi. Selain melakukan penyiksaan, mereka juga meminta paksa warga agar menyerahkan anak-anak mereka untuk bergabung menjadi anggota pasukan Samber Nyawa.
“Kamu yang berkumis tipis. Maju …!” Hardik Ki Baut.
Si pemuda yang dihardik paksa-paksaan dengan anak buah Ki dua kembar. Karena yang bersangkutan menolak jadi anak buah pembuat onar itu.  Ibu si anak menjerit histeris melihat anaknya diseret paksa ke tengah tanah lapang, disaksikan warga Kampung Falah lainnya.
Tas .. tas … tas …
“Anakku …!” Jerit sang ibu melihat anaknya diperlakukan semena-mena dengan cara ditendang, dicam buk dan dibenamkan kepalanya di dalam ember besar yang telah dipersiapkan sebelumnya.
“Masih tak mau …?”  Mata Ki Baut melotot, emosinya memuncak.
Si pemuda tetap menolak ajakan Ki Baut dan Ki Mur untuk bergabung. Merasa telah dihina dan disepele kan, Ki Baut menyuruh anak buahnya menyeret paksa ibu si pemuda. Sang anak hanya bisa pasrah.
“Auuuw … Jangan .. jangan …” Teriak si ibu saat ia diseret ke tengah lapangan. Didekatkan dengan sang anak tercinta, Ki Baut berharap  si pemuda berubah pikiran. Dari semula tidak mau, akhirnya mau dan bersedia bergabung.
“Jangan Nak. Ibu tak rela kau bergabung dengan pasukan setan ini,” jerit sang ibu memandang dua Ki dengan penuh kebencian.
“Ibuuuu …!”
“Jangan Nak,” pinta perempuan berparas manis itu.
“Ibu .. aku sudah tidak tahan ibu …” Ucap si anak setelah kedua tangannya dipatahkan anak buah Ki Baut dan Ki Mur secara bergantian.
Kini menunggu giliran kaki yang dipatahkan.
“Jangan Nak,” pinta sang ibu.
Dengan gagah beraninya si ibu merampas pistol  yang terselip di pinggang Ki Baut. Sayang, belum sem pat diletuskan, Ki Mur sudah mendahuluinya dengan melepaskan tembakan beberapa kali ke dada, kepala dan perut. Tewa seketika.
“Ibuuuuu …!” Jerit si anak seraya memeluk jasad ibunya yang sudah menjadi mayat. Dia menangis sesu nggukan sementara dua Ki tertawa terbahak-bahak.
“Keparat …”
Si pemuda berdiri dan berhasil mencekik leher pria bertato di dekatnya. Dia patahkan leher itu hingga tewas dengan kedua kakinya.
Teman satunya mencoba memberikan perlawanan dengan mendaratkan pukulan ke dagu dan mata. Tapi berhasil dielakkan si pemuda.
Duuup … blasss …
Pukulan anak buah dua Ki ditangkap si pemuda dengan cepat, lalu dibantingnya ke tanah dengan dua kakinya. Disusul pitingan di leher  dan tak lama kemudian terdengar …
Kreeeeek …
Kedua kaki si pemuda berhasil mengunci rapat pergerakan kepala lawannya sampai tak bernafas, sebelum mematahkan lehernya.
“Kurang ajar. Tembak dia …!” Perintah Ki Baut dengan nada geram.
Sepuluh anak buah dua Ki bergegas ke tanah lapang. Serempak mengangkat senjata. Siap menunggu perintah untuk menembak si pemuda.
“Tembaaaak …” Teriak Ki Mur dan Ki Baut berbarengan.
Sedikitnya empat puluh peluru menghunjam badan si pemuda. Jatuh terjerembab, nyawanya tak terto long lagi. Terjangan timah panas yang bertubi-tubi berhasil mengoyak-ngoyak tubuhnya. Mukanya han cur sedangkanisi perutnya terburai.
Warga yang menyaksikan hanya bisa menangis, terutama kaum wanita dan anak-anak. Sedangkan kaum prianya, karena kebanyakan sudah berumah tangga dan berusia lanjut,  selain ada yang ikut menangis juga menyalahkan diri sendiri lantaran tak bisa berbuat apa-apa.
Kondisi inilah yang membuat Ki Baut dan Ki Mur beserta anak buahnya semena-mena melakukan pe nyiksaan, penangkapan, penginterogasian sekaligus perekrutan anggota baru.
Dari dalam kamar belakang masjid Nurul Falah, Bu Kandar dan Bu Sri Hapsari tengah mendiskusikan beberapa langkah pengamanan kampung dari gempuran Ki Baut dan Ki Mur berikutnya.
    
II
“PELAN-pelan Gus,”bisik Andi dan Maskur ketika rekan mereka Bagus hendak melempar batu kerikil kea rah Ki Baut yang tidur ngorok di luar tenda tengah hari.
Sepi di sekitar. Hanya ada beberapa anak buah Ki Baut yang bejaga-jaga di sekitar tenda, sedangkan Ki Mur lagi memeriksa anggota pasukannya yang masih menyiksa warga.
Siksaan ini melanjutkan siksaan yang kemarin. Bedanya kalau kemarin satu persatu warga ditampari dan mereka yang tidak bisa menjawab pertanyaan di mana Ki Saleh berada, siang hari ini seluruh warga disiksa serempak.
Dikelompokkan sesuai jenis kelamin dan usia. Anak-anak dengan anak-anak, wanita dengan wanita, dan laki-laki dengan laki-laki. Khusus mereka yang tua renta, dikelompokkan terpisah.
Anak buah Ki Baut dan Ki Mur menyiksa warga dengan bermacam-macam siksaaan. Ada yang disuruh berkelahi sampai berdarah-darah, mencambuk temannya sendiri secara bergantian dan diseret paksa menggunakan kuda .
Malah ada yang disuruh makan tanah.  Khusus buat kaum wanita, selain diperkosa, sebagian besar mereka diarak dengan berkeliling mengelilingi barisan anak-anak dan kaum pria.  Saat diarak hanya mengenakan kancut, beha. Malah ada yang dipaksa bertelanjang bulat.
Mereka diperlakukan seperti hewan. Sudah diarak, mereka disuruh mencium anggota pasukan Samber Nyawa satu persatu. Merayu dan berlagak laksana wanita penghibur. Tak sedikit dari mereka menolak melakukannya. Tetapi penolakan itu dibalas anak buah Ki Mur dengan menyeretnya sampai pingsan.
Sulit membayangkan apa jadinya jika tindakan sadis dan brutal ini terus terjadi tanpa ada yang mau dan mampu menghentikannya. Banyak nyawa yang melayang, banyak darah yang berceceran di mana-mana, dan banyak air mata yang tumpah sehingga tanah yang semula kering menjadi basah.
Sulit membayangkan apa jadinya Kampung Falah ini dan kampung yang lain di sekitar tempat Guru Sri Hapsari berdomisili, jika kesemena-menaan Ki Baut dan Ki Mur terus berlangsung, tentu akan banyak lagi korban yang berjatuhan. Dan bukan tidak mungkin kampung-kampung ini akan ditinggal pergi warganya karena ketakutan bakal dihabisi anak buah dua Ki.
Untunglah, di saat warga pasrah dengan nasib yang mereka terima, tiga bocah anak didik Bu Sri Hapsari masing-masing Maskur, Bagus dan Andi  tampil memberikan perlawanan dengan cara mereka sendiri. Menyelinap masuk ke sekitar tempah tenda, kemahnya Ki Baut  dan Ki Mur.
Tertangkapkah mereka?
Alhamdulillah tidak. Setelah Bagus berhasil melempar Ki Baut dengan batu kerikil dan nyaris masuk ke dalam mulutnya, kini Andi melakukan hal serupa.
Bedanya cuma di batu dan sasaran lemparan. Kalau Bagus lebih pada mengusik kenyenyakan tidur Ki  Baut, sedangkan Andi justru ingin membuat  preman jagoan itu ‘teler’ setelah terkena lemparan itu.
Sayang, niat Andi tidak terlaksana.  Kenapa? Karena bagaimana mau melempar batu jika besarnya batu yang akan dilempar itu menyamai besarnya kepala Andi. Diangkat Andi sendirian bisa, tapi untuk melem parnya sangat sulit karena terlalu berat.
“Gimana ya?” Andi garuk-garuk kepala sebagai tanda meminta kedua rekannya memberikan jalan keluar terbaik.
Bagus dan Maskur berpikir keras. Keduanya berpikir sambil  memejamkan kedua mata. Tak lama kemu dian keduanya tertawa. Mereka membisikkan sesuatu di telinga Andi. Andi manggut-manggut tanda menyutujuinya.
Tapi apa berhasil?
“Kita coba dululah,” ucap Bagus.
Siiiiissss …
“Sssssst … ular kan?” Maskur mendekati batang pohon di dekatnya, dan benar memang ada ular. Tak begitu besar. Menjulur-julurkan lidahnya.
“Takut Gus?” Maskur bersembunyi  di belakang ketiak Bagus.
“Ssssst … Laki-laki tak boleh penakut. Sama ular saja takut, gimana mau mengalahkan Ki Baut … “ Canda Bagus.
Maskur mengambil kayu, sedangkan Bagus menggenggam batu, dan Andi hanya berpegangan di baju Bagus.
Kletoook … bes … deep …
Kepala ular berdarah, separo pingsan. Ketiganya membawa itu ular bersama-sama.  Lalu diletakkan di dekat Ki Baut tidur. Saking nyenyaknya ,  sudah setengah jam belum juga bangun dari tidurnya.
“Kita tunggu saja.” Ucap Bagus seraya mengambil beberapa batu kerikil, kemudian dilempar ke arah Ki Baut. Yang terjaga bukannya Ki Baut, tapi ular tadi itu.
“Ularnya Gus, bergerak-gerak,” bisik Maskur dan Andi.
“Yang benar?”
“Tuh tengok …!” Maskur menunjuk ke ular yang mereka taruh tadi itu. Mulai bergerak walau lambat mendekati Ki Baut.
Seeeet … Siiiisss …
Si ular sudah memain-mainkan lidahnya. Dia terus mendekati Ki Baut yang tidur lelap, bersandar di tiang tenda.  Kemah. Celana yang dia kenakan lebar bawah (cut brai), membuat si ular leluasa melewati celah itu dengan  merayap masuk lewat jempol kaki. Berhenti sesaat,  lalu ‘memainkan; lidahnya yang berbisa itu.
“Ich … Ngeri aku Kur,” ujar Andi setelah menyaksikan si ular mulai memasuki celah celana Ki Baut bagian bawah.
Diawali dari kepalanya, lalu badan dan ekornya. Secara bersamaan, Ki Baut tersadar dan dua anak buah nya sudah mengarahkan moncong senjata ke celana Ki Baut.
“Ada apa?” Tanya Ki Baut sambil mengusap bola matanya yang merah karena terlalu nyenyak tidur.
“Ular komandan,” teriak keduanya mundur beberapa langkah ke belakang.
“Mana?”
“Itu, Dan.  Dalam celana komandan,” kata pria berkumis tipis itu dengan raut muka pucat dan gemetaran.
Haaaa …
“Jangan bergerak Dan …!” Kata anak buah Ki Baut satunya, berkumis tebal.
“Cepat bereskan bodoh,” perintah Ki Baut yang merasa geli setelah kepala perkututnya  dielus-elus sesuatu.
Dua anak buah Ki Baut tidak tahu harus berbuat apa. Ini bukan orang, tapi ular yang sembunyi di dalam celana. Mau diambil tak mungkin. Ditembak bisa, tapi risikonya perkutut sang komandan bakal  hilang terkena pelor.
Hi hi hi …
Andi, Bagus dan Maskur ketawa geli melihat anak buah ‘Raja Preman’ itu saling tunjuk dan saling salah menyalahkan. Sedangkan Ki Baut sendiri tidak bisa berbuat apa-apa selain merelakan kepala perkutut nya dielus si ular.
Tak lama kemudian datanglah anggota pasukan yang lain. Sama dengan dua rekan mereka terdahulu, mereka yang jumlahnya lebih dari sepuluh itu hanya bisa menonton Ki Baut kegelian dielus si ular.
“Kenapa diam saja kalian.  Cepat ambil ularnya!” Hardik Ki Baut. Mulai berkeringat dingin ketika elusan si ular semakin kencang dan membua degup jantung laki-laki berperawakan tinggi besar itu kian tak menentu.
“Cepaaat!”  Ki Baut berteriak tapi tidak bersuara. Hanya mulutnya yang bergerak-gerak dengan mata melotot tajam pada anak buahnya yang malah bingung hendak berbuat apa.
Beberapa anak buah Ki Baut berembuk, lalu bertekad akan menyelamatkan pemimpin mereka dari gigitan si ular. Caranya dengan menarik pelan celana sang komandan dan …
Auuuw …
Si ular rupanya sudah masuk ke dalam ‘sempak’ Ki Baut. Dengan tangkasnya salah seorang anak buah nya memukul kepala ular sambil menarik cepat ekornya ke luar dari kancut belang-belang itu.
Huuuup …
Jegraaaass …
Ular berhasil ditarik. Kemudian dihabisi anggota pasukan Samber Nyawa, hingga rata dengan tanah. Se mua lega karena berhasil menyelamatkan Ki Baut dari gigitan dan bisa ular yang sangat berbahaya itu.
“Kita pulang yuk, Gus,” ajak Maskur.
Maskur takut ketahuan usai Ki Baut menanyai satu-persatu anak buahnya ikhwal ular yang hampir menewaskannya itu.
“TUnggulah sebentar lagi,” saran Bagus, diiyakan Andi. Keduanya ingin mengetahui perkembangan selanjutnya dari Ki Baut dan anak buahnya.
“Kalian cari tahu di sekitar sini,” perintah Ki Baut, yang serta merta dibatalkan pencarian terhadap dalang si ular ketika salah seorang anak buahnya turun dari kuda dan melaporkan seluruh anggota pasukan tewas,  termasuk Ki Mur, dibunuh Ki Saleh.
“Apa?  Bangsaaat …”
Ki Baut menarik kerah baju anak buahnya yang ganteng dan tinggi semampai itu.
“Kamu tidak bohong kan?” Sergah Ki Baut dengan raut muka penuh amarah dan dendam kesumat.
“Tidak. Ti … dak komandan. Benar. Ki Mur sudah tewas dibunuh …”
“Pasukaaan !” Teriak Ki Baut
Suaranya lantang terdengar. Semua anak buahnya merasa ngeri dan merinding. Sebab, kalau suara Sang Bos  sudah ‘melengking’ kayak penyanyi  seriosa, bakal ada yang tewas mengenaskan.
Ki Baut dan anggota pasukannya bergerak ke selatan. Sedangkan Andi, Bagus dan Maskur  bergegas me nemui Bu Guru Sri Hapsari yang hingga kini masih  berlindung di masjid  Nurul Falah bersama siswa di diknya yang lain.

III     
“BANGSAAAAT … Seraaang …!” Teriak Ki Baut seusai melihat  adiknya Ki Mur dan puluhan anggota pasukannya tewas mengenaskan dengan kepala terpisah dari badan.
Kini mereka dihadapkan pada sepuluh pendekar sakti yang terdiri dari Ki Duren, Ki Semangko, Ki Saleh, Ki Suri, Ki Badrun, Ki Solar, Ki Saung, Ki Tama, Ki Daus da Ki Anas.
Hiyaaaaat …
Sambil menghunus pedang, lima belas anggota pasukan Samber Nyawa menyerang dengan menungga ngi kuda. Amarah, kebencian dan dendam kesumat berbaur jadi satu. Sayang, belum sempat pedang itu menebas kepala musuh, anak buah Ki Baut dipukul mundur.
Jegaraaaan …
Guam ..
Bek …
Setelah berhasil melumpuhkan pasukan lawan, Ki Saleh mengeluarkan jurus Angin Beracun. Angin yang menyerupai bulatan itu berputar-putar  mendekati Ki Baut dan  pasukannya.  Semakin dekat semakin besar dan saat bersamaan terdengar ledakan keras disertai jeritan dan hempasan yang keras lagi dahsyat.
Semua anak buah Ki Baut terpental  dari kudanya sejauh satu kilometer. Tewas seketika berikut kuda yang mereka tunggangi  mati terpanggang. Ki Baut hanya bisa terpana menyaksikan kehebatan jurus Angin Beracun Ki Saleh.
“Tapi aku tak boleh kalah. Harus aku lawan,” bisik Ki Baut , dari hatinya yang paling dalam tebersit untuk melarikan diri.
“Mana harga diriku bila aku melarikan diri,” katanya bertanya dalam hati.
Hua ha ha ha ha …
“Larilah kau Ki Baut. Kami tak akan mengejarmu. Karena kami sudah tahu betapa pengecutnya kau. Tanpa pasukan engkau bagaikan anak ingusan yang baru belajar berjalan,” ejek Ki Daus.
“KUrang ajar. Anjing kurap. Belum tahu siapa aku haaa.”
Ki Baut mengerahkan tenaga dalam Surya Penakluk. Berdiri mematung, lalu dari sekujur tubuhnya keluar manik-manik beracun, dan manik-manik itupun lepas memecah laksana anak panah ke arah Ki Daus.
Ki Daus bersiap menangkisnya. Dia mengeluarkan jurus Bumi Berputar. Semua manik beracun yang dile paskan Ki Baut hanya menempel di bulatan bumi. Lenyap bersamaan dengan lenyapnya bulatan yang keluar dari telapak tangan Ki Daus.
Duaaar …
Graaasss …
Cekraaak …
Sama sekali tak mengira bakal dengan amat mudahnya dipatahkan Ki Daus, Ki Baut mundur beberapa langkah ke belakang.
“Hei, ngapaian lu kunyuk. Mau kabur ya. Kabur saja, enggak usah ngumpet-ngumpet,” ledek Ki Anas ketawa ngakak.
“Kampret telok busuk. Belum tahu siapa Ki Baut ya,” gertak Ki Baut bersiap memperlihatkan jurus barunya …
“Sudah tahu Ki,” kata Ki Daus. “KI Baut adalah orang yang paling penakut di dunia …”
Hua ha ha ha ha …
Merasa diremehkan, Ki Baut mengambil ancang-ancang melompat ke samping. Memancing Ki Daus ke luar dari rombongan para pendekar. Ki Daus menerima pancingan itu. Dia melompat ketempat Ki Baut berdiri. Jarak antara keduanya hanya tiga meter.
Ki Daus dan Ki Baut konsentrasi penuh. Keduanya sama-sama mengerahkan tenaga dalam. Sama-sama mata terpejam. Sama-sama tanpa suara dan sama-sama pula mengeluarkan jurus andalannya.
Terjadi benturan keras. Saking kerasnya tanah yang mereka injak retak. Benturan itu berawal dari saling bertemunya gumpalan angin menyerupai bulatan besi.  Begitu cepat dan dahsyat, membuat Ki Daus dan Ki Baut terpental jauh.
Beruntung tidak mengalami luka. Karena saat terpental, Ki Daus dan Ki Baut menggunakan jurus Ringan Badan dengan bersalto di udara sebelum kedua kaki menyentuh tanah.
“Tahan Ki …!” Kata Ki Duren ketika Ki Saleh hendak membantu Ki Daus yang tampak kewalahan setelah mendapat perlawanan sengit dari Ki Baut.
“Kita semua yang ada di sini harus yakin bahwasanya Ki Daus bisa mengalahkan Ki Baut,” jelas Ki Duren.
“Kita berdoa saja,” tegas Ki Badrun.
Ki Daus sepertinya sadar lawannya kali ini benar-benar ingin menghabisinya. Berbagai pukulan bertena ga geledek dilepaskan, terkadang sambil melayang di udara , diperagakan Ki Baut dengan apik. Ki Daus hanya bisa menghindar dengan sesekali melepaskan pukulan lurus ke depan.
Ki Daus sempat terkejut ketika satu pukulan dahsyat jarah jauh berhasil mengenainya. Untung hanya pakaian yang robek sedikit. Pukulan barusan membuat Ki Baut semakin percaya diri.
HIyaaat …
Jegreees ..
Hucheeeess …
Ki Baut memukul permukaan tanah dengan telapak tangannya. Dari tanah itu kemudian memunculkan besi-besi kecil. Dengan satu kali sapuan, besi itu menghunjam sangat cepat ke arah Ki Daus.
Traiiing …
Traaang …
Treeeng …
Mata pedang Ki Daus berhasil melumat habis besi-besi beracun itu. Jatuh berserak ke tanah disertai asap panas yang seketika muncul dan hilang.
KI Daus belum mau memasukkan kembali pedang saktinya itu ke sarungnya. Dia masih menunggu ge rangan apa yang bakal dikerahkan Ki Baut. Dari bola matanya yang merah, pandangannya yang tajam, dan helaan nafas yang turun naik begitu cepat dan tak beraturan, menandakan lawan benar-benar sangat marah. Murka.
“Keluarkan semua jurusmu itu Ki. Kita lihat siapa di antara kita yang keluar sebagai pemenangnya,” tantang Ki Daus.
“Jangan besar kepala dulu Ki. Ilmu yang kau tunjukkan barusan belum apa-apa dengan yang belum kuperlihatkan,” ujar Ki Baut ketawa lebar.
“Itulah yang kutunggu darimu Ki. Aku sudah tidak sabar ingin melihatnya. Seberapa hebatkah atau tak lebih baik dari jurus yang telah kau perlihatkan tadi.”
Hua ha ha ha …
“Aku ingatkan Ki. Kalau ilmu yang kau miliki itu hanya sampah bagi para pendekar negeri ini,” kata Ki Daus.
“Apa kamu bilang Ki?”
“Ilmu itu tak lebih dari sampah, termasuk kamu yang memang sampahnya masyarakat …”
“Setan alas. Beraninya kau menghinaku Ki. Rasakan ini …!”
Kepala dan tangan Ki Baut lepas dari badannya. Lalu menghilang, dan menghantam kepala Ki Daus. Jatuh tersungkur. Karena sempat bersalto, dengan mengandalkan pijakan kaki, dia berhasil berdiri dan siap menahan serangan berikutnya.
Keriiiik … riiik …
Keraaak … raaak …
Tangan dan kepala itu kembali ke tempat di mana Ki Baut berdiri. Menyatu kembali dengan badan. Me neriaki Ki Daus dengan sebutan … ‘Kecil … tak padan … ngaku saja kalah.’
Ki Daus, yang semula sedikit terpancing, mengatur nafasnya agar emosi yang tadinya labil, terkendali la gi. Dia merentangkan kedua tangan dan kakinya. Kemudian menarik mundur tangan kanan, dan mele paskan kepalan tinju tangan kiri lurus ke depan.
Lepas itu, dia menyilangkan kedua tangan ke perut. Mata lurus ke depan dan …
Deruuuup …
Baaar …
Jreeesh …
Hanya dalam kedipan mata, Ki Baut terpental jauh dan jatuh membentur tanah.
 Auuugh …
Sakitnya minta ampun. Segenap persendian Ki Baut tiba-tiba lemah. Pandangan matanya kabur. Tapi, ka rena tak ingin dipermalukan Ki Daus, dengan sisa tenaga dalam yang dia punya, bangkit dan berhasil berdiri kembali seperti semula.
Sayang, ketika hendak melakukan serangan balik, Ki Baut kembali terpental oleh jurus Petir Menyambar. Serangan yang kedua dari Ki Daus ini berhasil mementalkan tubuh lawannya itu  sejauh setengah kilometer.
Gedebeeeg …
Kraaaak …
Seperti terdengar ada yang patah. Tatkala pinggang Ki Baut menyentuh tanah. Karena kerasnya posisi jatuh terpental, Ki Daus mengira lawannya itu tewas seketika.
“Kayaknya belum Ki Saleh,” kata Ki Badrun.
“Pingsan saja,” sahut Ki Suri.
Ki Daus mencoba mendekati Ki Baut yang masih tergeletak di tanah. Tanpa reaksi, padahal denyut nadi nya masih ada, pertanda dia masih hidup.
“Ki  Daus … tungggu!” Teriak Ki Saleh, mendekati rekannya itu agar berhati-hati.
“Sebaiknya kita tunggu saja,” saran Ki Saleh. Dia kuatir Ki Baut menggunakan jurus Sabda Alam.
“Mati ecak-ecak Ki?”
“Betul Ki Daus.”
Dari jauh kita melihatnya mati. Tidak bergerak, mata terpejam. Padahal sebenarnya dia masih hidup.
“Ilmu ini digunakan untuk mengelabui lawan,” jelas Ki Saleh.
Benar apa yang dikatakan Ki Saleh. Baru hendak mengomentari, Ki Daus mencolek rekannya itu.
Ada apa?
“Dia telah bangun Ki,” bisik Ki Daus.
“Waspada Ki.” Ki Saleh mengingatkan.
Sebab, melihat caranya berdiri yang seolah melayang-layang karena diterbangkan angin, bukan tidak mu ngkin Ki Baut hendak mengerahkan jurus Badai Mengamuk. Jurus ini terkenal sangat  ampuh untuk me mukul mundur lawan karena pergerakannya amat cepat dengan menggunakan tenaga dalam dan bila terkena lawan bisa mati seketika.
BERSAMBUNG …

 
     
    
  


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar