Kamis, 14 Desember 2017

Lantak (10-The END)

Novel



Lantak (10)
Oleh Wak Amin



23

"K0PRAL, kita ke kanan kayaknya." Ki Saleh memilih lebih dulu melangkahkan kakinya. Sesekali dia menyi bakkan semak di kanan kirinya dengan kayu dan tangan.

Mereka kini sudah mendekat ke bangkai pesawat terbang yang jatuh belum lama ini. Namun, ketika sampai ke dekat sebuah pohon yang besar, Ki Saleh meminta Kopral Jono dan anak buahnya berhenti sebentar.

"Sebaiknya kita sembunyi di situ," ujar Kopral Jono, menunjuk ke se buah batu besar tak jauh dari tempat mereka berdiri sekarang ini.

"Kita lihat sebentar, apa yang bakal terjadi," bisik Kopral Jono.

Hening seketika. Ki Saleh mengeluarkan tasbihnya. Dia pejamkan mata sambil berzikir.

Setelah itu ...

Lewat kedua mata hatinya, Ki Saleh dapat melihat ratusan orang di depannya siap menyerang dengan bersen jatakan tombak dan anak panah. Tanpa pakaian, kulit mereka hitam legam. Ada wanita, juga pria. Pria lebih banyak jumlahnya.

"Kita mundur Ki?!" Kopral Daud menawarkan jalan keluar. Tak mungkin menghadapi musuh sebanyak itu, makhluk asing lagi. Yang tak kenal manusia dengan segala keunikannya kecuali hutan belantara.

"Menurutmu Kopral Paiman?"

"Maju terus, Kopral Jono. Cuma apa tidak sebaiknya kita mundur lebih dulu. Setelah aman dari incaran mereka, baru kita ke lokasi jatuhnya pesawat."

"Saya setuju," sahut Kopral Anwar. Tapi apa tidak sebaiknya kita segera pergi dari sini. Kita kesini bukan untuk berperang melawan mereka. Kita hanya ingin memastikan pesawat yang jatuh itu diketemukan dan korban sudah tidak ada lagi."

"Sebaikny begitu Kopral," kata Inspektur Polisi Smith menjawab pertanyaan Kopral Jono.

Ki Saleh juga setuju. Lebih diutamakan keselamatan.

" Saya lihat juga bangkai pesawatnya hanya sedikit. Selebihnya sudah menyemak," jelas Ki Saleh.

Mereka akhirnya memutuskan untuk mundur. Beberapa saat belum ada reaksi dari Bos Jojo dan para pengikutnya.  Baru ada teriakan 'serang' setelah Kopral Jono satu kilometer di depan mereka.

Belantara seolah bergemuruh. Teriakan makhluk hutan itu, saking kencang dan ramainya, membuat pohon-pohon besar 'seolah' bergoyang.

Semak dilewati. Pepohonan dipanjati. Terpaksa bergelantungan, berpindah dari satu pohon ke pohon lainnya agar lebih cepat dan mudah menangkap Kopral Jono cs.

"Kopral. Kita terkepung," teriak Kopral Anwar.

Di belakang mereka ada tebing curam, tapi tidak ada air. Di bawah tebing tampak pepohonan besar dan belantara.

"Terpaksa kita lawan mereka, Ki." Kata Kopral Jono. Musuh pantang dicari. Namun harus dilawan jika sudah di depan mata.

Tungguuu..." Ki Saleh mengambil beberapa helai tanaman hutan, lalu daunnya dia lemparkan ke atas.

Fleeeesh ...

Fleeeeesh ....

Fleeeeesh ...

Asap tebal putih membubung tinggi. Bos Jojo beserta pengikutnya panik. Selain tak bisa melihat apa pun di depan mereka, nafas jadi sesak.

"Ayo Kopral. Kita lariiii ...!" Ajak Ki Saleh. Mereka diminta Ki Saleh untuk berbaris ke belakang sambil berpegangan tangan.

Heyaaaa ...

Ceplaaaash ...

Seolah terbang, Kopral Jono cs dapat melihat dengan jelas bagaimana 'terkulainya' Bos Jojo dan pengikutnya menghadapi asap yang semakin pekat.

Mereka tak bisa melewati asap itu. Padahal tidak ada pagar di dekat mereka. Ada di antaranya coba berdiri dan ingin keluar dari kepungan asap itu. Tapi tak seorang pun yang bisa.

"Toloooong ... Pediiih .... Pediiiih.!" Teriak mereka sambil menutup kedua mata karena pedih dan perih terkena asap.

Sementara yang lain jatuh pingsan, Bos Jojo dan pengawalnya mencoba bangkit. Dia meneriaki para pe ngikutnya untuk mundur. Tak usah memaksakan diri melewati gumpalan asap itu.

"Bangunkan mereka. Cepaaat!" Bahu membahu membangunkan teman yang terkulai pingsan. Ada yang dipapah, digendong dan dibopong bersama-sama.

Mereka akhirnya berhasil keluar dari kepungan asap. Meski untuk menemukan dan menangkap Kopral Jono cs mereka telah gagal. Karena tak mungkin terkejar lagi.

Mereka sudah berada di dekat pesawat. Siap terbang untuk menemukan keberadaan Letnan Salam cs yang saat ini memerlukan pertolongan secepatnya.


24

"MEREKA sudah dekat, Let." Kata Miss Nancy seusai menyambut telepon dari Kopral Jono yang memberitahu posisi mereka saat ini. Mereka sudah dekat dan kini bisa melihat kapal yang ditumpangi Letnan Salam dan kawan-kawan.

"Bagaimana keadaan di sana Let?" Tanya Kopral Jono.

"Cuaca baik. Ombak tidak terlalu tinggi," jawab Letnan Salam.

Pesawat terbang kian mendekat.

"Nanti kami mendarat di samping kapal anda dan rekan-rekan diminta turun dari kapal lewat tangga," jelas Kopral Jono.

Semua sibuk berkemas. Terakhir yang mendekati tangga kapal adalah Miss Nancy dan Mrs Sabrina. Keduanya dicegat anak-anak penunggu kapal.

"Jangan pergi Tante," kata si pirang dengan suara memelas. "Tinggallah bersama kami di kapal ini ..."

"Iya Tante." Kata yang lain. "Apa Tante tidak merasa kasihan melihat kami."

Dialog antara Miss Nancy dan Mrs Sabrina dengan sekelompok anak ini berlangsung selama kurang lebih tiga menit.

Saat itu, andaikata Mr Clean dan Mr Jodi tidak mengajak keduanya segera pergi dari lantai dua merapat ke tangga kapal, entah bagai mana nasib mereka.

"Nancy .."

"Sabrina ..."

"Nancy ..."

"Sabrina ..."

"Nancy ..."

"Sabrina ..."

Sampai tiga kali nama dipanggil, Sabrina dan Nancy baru tersadar. Mereka sebelum ini lupa jika nyaris mema suki dunia lain.

Seketika mereka naik ke lantai atas. Pesawat sudah mendarat. Namun entah kenapa, Sabrina dan Nancy urung meniti anak tangga.

"Biarkan saya yang urus Letnan," ujar Ki Saleh. Dia menaiki anak tangga, lalu meminta Mr Clean menemaninya.

Mencari keberadaan Miss Nancy dan Mrs Sabrina.

"Biasanya mereka di sini," ucap Mr Clean, memperlihatkan kamar tempat kedua teman wanita seprofesinya ini tidur.

"Sebentar ya Mr Clean ..."

Ki Saleh mengambil tasbihnya. Dia baca sesuatu. Kemudian tasbih itu ditaruh di lantai.

Seketika terdengar suara Miss Nancy dan Mrs Sabrina sedang berbicara sesuatu dengan anak-anak.

"Di ruang mesin sepertinya Ki Saleh," kata Mr Clean. Dia yakin suara itu berasal dari ruang mesin. Lantai paling bawah kapal ini.

"Temani saya Clean, kesana."

"Baik Ki Saleh."

Miss Nancy dan Sabrina sama sekali tidak terusik dengan kehadiran Ki Saleh dan Mr Clean. Keduanya justru semakin asyik berbicara dengan anak-anak belia itu.

"Kamu di belakang saya Clean." Ki Saleh bezikir. Disusul dengan menggerakkan tangan kanannya seakan hendak memegang sesuatu.

Reeeesh ...

Jegreeek ...

Miss Nancy dan Mrs Sabrina membalikkan badannya. Kemudian melangkah pelan dengan tatapan kosong mendekati Ki Saleh.

"Allahu Akbar ..."

Tiga kali dia baca sambil menepuk pundak Miss Nancy, berikutnya Mrs Sabrina Muhsin.

Haaaaa ...?

Keduanya tersadar.

"Tanteee ...!" Teriak si pirang dan teman sebayanya. Berharap Nancy dan Sabrina kembali kepada mereka.

"Jangan Dik. Dunia kita dengan dunia merek berbeda," jelas Ki Saleh.

"Nancy, Sabrina. Dengar apa kata Ki Saleh barusan ... Sini ... Kesini ... Cepaaat."

"Males ah," gurau Nancy.

Ssssst ...

"Cepat. Tak ada waktu lagi untuk main-main," ingat Clean.

"Kembalilah ke asalmu Nak. Jangan ganggu Kami. Kami akan pergi," ujar Ki Saleh.

"Tidak. Siapa anda?" Si pirang tiba-tiba melotot tajam. Dia marah besar.

"Saya teman mereka," ucap Ki Saleh dengan tenang.

"Kembalikan teman kami ..."

"Kembalikan teman kami ..."

"Kembalikan teman kami ..."

Kapal bergerak. Ke kiri dan kanan. Padahal ombak besar tidak ada.

"Cepat ke tangga ...!" Ajak Mr Clean.

"Dululah kalian. Biar saya yang selesaikan masalah ini," jelas Ki Saleh.

Ki Saleh memejamkan matanya. Dia mengucap sesuatu dengan tasbih di tangannya.

"Aduh ... Panaaas!" Jerit si pirang.

Dari kepala pirang cs, yang kemudian berubah ujud menjadi nenek-nenek, keluar api yang membakar muka dan kedua tangan.

Jerit histeris, saking kencangnya jeritan itu, terdengar sampai ke telinga Mrs Sabrina dan Nancy yang sudah berada di dalam pesawat.

Ki Saleh bergerak mundur. Dia bergegas menuju lantai atas, mendekati tangga. Dengan satu kali lompatan dia sudah berada di tangga pesawat, disambut Kopral Jono.

Pesawat pun lepas landas ...

Jeeees ...

Jegraaam ...

Guaar ...

Guaaam ...

Setelah pesawat mulai meninggi, terdengar ledakan dahsyat. Kapal barang tanpa muatan itu meledak seketika.

Hancur berkeping-keping ...


THE END

Tidak ada komentar:

Posting Komentar