Selasa, 13 Februari 2018

Pulau Harimau (7)

Serial Ki Ogan
 


Pulau Harimau (7)
Oleh : Wak amin


Lepas itu, mereka kembali melan jutkan pembicaraan yang sempat tertunda tadi. Tidak di belakang rumah, tapi di tanah lapang tempat siswa al-Kalam berlatih silat.

"Disini lebih sejuk. Tempatnya luas. Banyak pohon dan angin tiada henti berhembus. Dingin rasanya badan ini," terang Ki Ogan.

"Mudah-mudahan ikut menyejuk kan dialog kita ya Ki." Pedro lebih fresh. Mungkin karena di luar ruangan, pikiran ini terasa lempang dan sepertinya gampang mengha dapi masalah dan memecahkan persoalan.

"Saya, setelah menyimak penjela san dari kalian berdua, tiba pada kesimpulan bahwa kalian harus ditolong .." Jelas Ki Ogan.

Karena belum ada reaksi dari Pedro dan Thomas, Ki Ogan melanjutkan perkataannya ... "Saya akan meng antarkan kalian menemui Sang Raja. Tapi sebelumnya saya minta pendapat kalian berdua terlebih dulu."

"Untuk ..."

"Ya untuk mendudukkan perkara yang sebenarnya," ucap Ki Ogan. Maksud saya Nak Pedro, " Kita bertiga menghadapi Raja Samson. Soal kapan, ya secepatnya."

Pedro dan Thomas lega mendengarnya.

"Tapi Ki, bagaimana dengan mere ka?" Tanya Thomas. Mereka yang dimaksud adalah Agus cs dan Mayor Nawi.

"Insya Allah kita bisa atasi bersama-sama. Kita harus siap. Jangan takut pada mereka," jelas Ki Ogan, berapi-api.

Hait cah ...

Hait cah ...

Drub dub ...

Tekrak ... kraak ...

Guarrr ..

Terpental jauh mengenai kursi sebelum akhirnya ...

Byuuuur ....

Agus jatuh ke dalam sungai. Semua warga yang menyaksikannya pada ketawa terpingkal-pingkal.

Disusul kemudian Iwan dan Iwin. Bergantian nyemplung masuk sungai terkena tendangan Ki Ogan. Sementara warga yang menjadi kaki tangan ketiganya lari tung gang-langgang.

Mereka tahu siapa Ki Ogan. Mereka juga tahu berhadapan dengan Ki Ogan tanpa ilmu yang tinggi sama artinya dengan menyerahkan diri untuk dipukuli.

Dasar otak tak benar, ketika Ki Ogan, Pedro dan Thomas hendak beranjak pulang lewat jembatan kayu, bergegaslah naik ke pang kalan sungai, menghadang laju langkah ketiganya.

"Stoooop!" Bentak Agus sambil ber kacak pinggang. Iwan dan Agus memandang sinis Pedro dan Thomas.

"Kalau Ki mau selamat, serahkan saja kedua orang itu kepada kami. Mengerti?"

"Tidak," jawab Ki Ogan dengan tenangnya.

"Anda tidak tahu siapa kami?"

"Tahu .."

"Siapa?"

"Anak buah pimpinan kelompok bersenjata Mayor Nawi .."

Agus cs terdiam.

"Bilang sama pimpinan kalian, jangan kirim orang-orang keroco seperti kalian bertiga ini."

Ha ha ha ...

Warga yang masih menyaksikan ulah Agus dan dua rekannya kali ini tertawa sambil menyindir ...

"Pulang saja Bos."

"Pukul ..."

"Mana berani si penakut alias keroco memukul ..."

"Kalau nangis bisa ...."

Hua ha ha ha ...

Merasa disindir, Agus mendatangi salah seorang warga dan meminta mereka segera meninggalkan pangkalan sungai.

"Ini bukan urusan kalian. Paham?"

"Kenapa anda tidak suka kami berada disini. Kami kesini bukan ingin melihat anda. Kami kesini karena kami senang pada Ki Ogan," jawab pria berkepala botak.

Ha ha ha ha ...

"Geee ... Eeerr niyeee ..." Celetuk le laki berkain sarung, berpeci hitam, beranjak tua.

Ha ha ha ...

Menyaksikan perdebatan antara warga dengan Agus cs, Ki Ogan menyarankan untuk segera diakhiri dengan dua opsi. Salah satu dari yang bertikai segera meninggalkan lokasi.

"Tidak ... Kami tidak mau," teriak Iwan dengan suara lantang.

"Baiklah," jawab Ki Ogan. Mengalihkan pandangan ke salah seorang warga yang sudah berusia kepala lima.

"Bagaimana Pak kalau kita bubar saja, pulang ke rumah masing-masing?"

"Setuju Ki," jawab warga serempak.

Saat itu juga Ki Ogan bersama warga bergerak meninggalkan tepian sungai.

Tinggallah Agus, Iwan dan Iwin. Ketiganya marah besar sambil berteriak kasar.

Tapi mau bilang apa. Warga mengalah. Juga Ki Ogan, Pedro dan Thomas. Mereka sepakat tak ingin mencari keributan dengan 'orang suruhan' Mayor Nawi.

Namun tidak demikian dengan Agus cs. Mereka bertekad akan membawa pulang Pedro dan Tho mas untuk diserahkan kepada sang bos besar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar