Senin, 25 Mei 2015

koing (3)



Serial Detektif Cilik
KOING  (3)
Sumpah Tukang Palak
Oleh Wak  Amin

“KOIIIIING!” Panggil sang ibu dari ruang tamu.
“Ya Buuu,” sahut Koing sambil mengenakan celana sekolahnya di kamar.
“Mbak Anggun, nanyain kamu, Ing. Cepatlah kemari, nak!”
“Ntar  ya Bu. Tanggung …”
Seusai menyisir rambut, Koing keluar kamar dengan mengenakan tas sekolah punggung. Berseragam putih merah, pagi ini Koing tampak gagah.
Saat tiba di teras, dia mencium tangan Mbak Anggun yang cantik itu. Disebelahnya duduk manis sang ibu tercinta.
“Begini, Ing. Mbak minta tolong kamu. Belakangan ini Husni selalu minta antar Mbak kalau pergi ke sekolah. Padahal selama ini kan enggak. Berani pergi sendiri. Pulangnya juga.”
“Sudah berapa lama, Mbak?” Tanya Koing sambil mengeluarkan notes kecil dari tas kulitnya.
“Kira-kira sudah seminggulah,” kata Mbak Anggun.
Tak banyak yang ditanyakan Koing. Selain kapan mulai kejadiannya, juga uang jajan yang diberikan pada Husni setiap hari. Apakah masih utuh atau sudah habis dibelanjakan.
“Waduh, Ing. Kalau itu sih Mbak enggak sampai tanya Ing ke Husni. Sebab, selama ini uang jajan yang Mbak Anggun kasih ke dia, utuh. Sepuluh ribu, kadang lebih sedikitlah. Nah, untuk apa dan dikemanakan uang jajan itu, Mbak enggak pula tahu …”
“Ya sudah. Taka pa-apa, Mbak.”
“Tolong  ya Ing cari tahu. Kalau perlu apa-apa, temui saja Mbak ya sayang ya!”
“Baik Mbak. Sekarang Mbak Anggun tenang saja. Beri waktu Koing satu hari …”
“Oke anak manis. Mbak tunggu ya hasilnya …”
Meski ditawari naik motor bebek, Koing lebih suka jalan kaki. Lambaian tangan Mbak Anggun semakin mempercepat langkah kaki Koing ke sekolah.
Di depan pintu gerbang sekolah, seperti biasa Koing sudah ditunggu Brendo, sobat karibnya. Tanya kabar, PR sekolah dan pelajaran sekolah hari ini.  Kadang sama-sama pergi ke sekolah, lain waktu enggak.
Husni memang satu sekolahan dengan Koing dan Brendo. Tapi tidak satu kelas. Husni baru duduk di kelas empat, setingkat di bawah. Jadi dia menyebutnya kakak kelas.
Ketika istirahat, siswa lain menyempatkan diri jajan dan bermain-main, Koing dan Bredo justru tidak. Keduanya berbagi tugas. Brendo nanya ke teman dekat Husni, Koing ke guru kelas dan beberapa orang wali murid yang sering duduk di ruang tunggu depan sekolah.
Hasilnya mereka diskusikan berdua. Sepulang sekolah, mereka tidak langsung pulang ke rumah. Tapi duduk di sebuah warung jajanan tak jauh dari sekolah. Cukup ramai disesaki siswa dan orang yang singgah untuk sekadar mengisi perut agar tidak keroncongan.
Warung ini adalah perlintasan siswa yang pergi dan pulang sekolah dengan berjalan kaki. Selain dinaungi rindangnya pepohonan, jalan setapak tanah liat in dinilai aman dan lebih cepat sampai di rumah.
“Itu mereka, Do!.” Tunjuk Koing. Dia menunjuk dengan tatapan mata kea rah dua siswa yang  hendak menyeberang menuju jalan perlintasan.
“Langsung sikat saja, Ing,” kata Brendo sudah tak sabar hendak memukul siswa satu sekolahan itu.
“Tunggulah dulu!” Koing menenangkan Brendo.
Sengaja Koing membiarkan dua siswa itu berjalan lebih dahulu. Mereka hanya mengikutinya dari belakang. Saat tiba di kelokan kanan, Koing bertanya.
Namun, belum sempat bertanya, siswa bertubuh kurus itu langsung melayangkan tinju ke muka Koing. Mengelak sedikit, Koing melepskan pukulan kearah perut.
“Aduh .. ekkh!”
Jatuh terjerembab. Sedangkan siswa satunya yang berpostur tambun secara membabi buta me lepaskan beberapa  tendangan kea rah Brendo.  Hanya menghindar dan untuk sementara tidak melakukan serangan balasan.
Saat lawan lengah.
“Hiyaaat!”
Dengan hanya satu tendangan memutar, lawan tersungkur. Mukanya penuh dilepoti tanah. Mengerang kesakitan.
“Sekarang ngaku. Kalian berdua kan yang sering memalaki Husni?”
“Husni mana, Kak?” Tanya si tambun meringis kesakitan.
“Ah, jangan bohong. Kamu kan?!” Brendo menjepit  tangan si tambun dengan kaki. Mengaduh kesakitan.
Sementara Koing melepaskan cengkraman tangannya dari rambut si kurus. Keduanya minta ampun dan belas kasihan.
“Apa kalian berdua ini mau kami bawa ke kantor polisi?” Gertak Brendo.
“Jangan, Kak. Jangan … Kami mengaku salah. Kami minta maaf. Kami khilaf,” ucap si tambun sesunggukan.
“Sudah .. sekarang kalian berdua ikut kami,” kata Koing meminta keduanya segera berdiri.
“Kemana, Kak?”
“Ke kantor polisi,” sahut Brendo.
“Jangan, Kak. Jangan …” Jerit  si tambun dan si kurus berulangkali.
“Kalau pulang ke rumah, mau enggak?” Tanya Koing.
“Mauuu!” Jawab keduanya serentak.
“Berjanjilah … ikuti ucapan saya ..”
“Maksudnya, Kak?”
“Saya yang ngomong, kamu berdua ikuti omongan saya. Paham?”
Si tambun dan kurus mengangguk  paham.
Inilah ucapan Koing: “Kami bersumpah tidak akan memalak lagi. Dan kami berdua berjanji akan menaati sumpah ini sampai mati. Amiiin …”


Serial Detektif Cilik
KOING (4)
Bebaskan Sandera ….
Oleh Wak Amin

“Elang Satu … Roger!”
“Elang Dua di sini…  Roger!”
“Elang Tiga di sini … Roger!”
ELANG satu, nama sandi Koing, menyelinap masuk lewat pintu belakang. Diikuti Wak Ji si Elang Dua. Sedangkan Elang Tga, Brendo, bingung.  Mau manjat pagar atau jalan memutar tapi jauh dan gelap.
“Lompat aja, Do. Penakut amat lu ..” Kata Wak Ji ketawa geli.
“Kawat semua, Wak. Luka kakiku nanti. Penuh koreng. Pasti diejek teman-temanku nanti. Si koreng … si koreng. Kaki Brendo penuh koreng.”
“Peduli amat. Daripada mati dimakan hantu .. Coba, ayooo!”
“Kau cobalah dulu dengan memanjat, Do. Siapa tahu kamu bias. Cepat!” Saran Koing.
Tak ada pilihan buat Brendo. Suka tidak suka ia harus memanjat. Kalau tidak, selain terlambat, boleh jadi korban yang disekap keburu hilang.
Huppp .. sreeet!
Meringis kesakitan terkena kawat. Brendo terus memanjat. Badan berkeringat. Dari sela betis dan kaki ada darah mengucur sedikit. Meski terluka, ia berhasil memanjat dan dengan satu kali lompatan sudah berada di dalam gedung.
“Elang Tiga di sini … Kalian dimana?” Tanya Brendo. Mengendap-endap melewati jalan setapak tak berlampu. Penuh lubang dengan semak belukar di kiri dan kanan.
Karena tak ada jawaban, Brendo memutuskan sendiri harus kemana. Posisi amannya di mana. Sesaat ia mendongakkan kepalanya ke atas, atap gedung. Berpikir sejenak, akhirnya ia menaiki atap dengan memanjat dan melampaui beberapa tiang penyangga.
Sampai di atas, sambil melihat suasana sekitar, ia meniti petak atap satu-satu. Agak di ujung, ia melihat sedikit cahaya. Mendekatlah ia. Dan benar, dari tempat itu, setelah salah satu atapnya dibuka pelan-pelan,  ia melihat ada orang yang disekap.
Karena jarak antara yang tersekap dengan dirinya curup tinggi,  Brendo mengurungkan niat untuk turun.  Dia masih ragu. Saat ragu itulah, HP besarnya bordering.
“Elang Tiga … Elang Tiga. Roger!”
“Ya Elang Tiga disini.”
“Elang  Satu di sini bersama Elang Dua. Kami berhasil masuk. Tepat berdiri dekat toilet.”
“Dimengerti. Elang Tiga di atas atap. Lihat korban disekap. Terlalu tinggi untuk turun. Roger!”
“Penakut Lu..” Ejek Wak Ji.
“Elang Tiga bukan penakut. Roger!” Jawab Brendo.
“Kalau bukan penakut, lalu apa?”
“Pemberani …”
Hampir saja tawa Wak Ji terdengar lepas kalau tidak secepatnya ditahan Koing dengan telapak tangan.
Wak Ji geli.  Enggak jadi ketawa. Senyum sendiri.
“Elang Tiga … Elang Tiga …”
“Elang Tiga menerima perintah.”
“Putuskan sendiri yang baik buatmu!”
“Elang Tiga siap laksanakan!”
Di dalam gedung ada dua orang penyekap. Badannya tegap dan besar. Salah satu dari mereka tak berhenti menelepon. Entah siapa yang ditelepon. Sedangkan agak ke ujung tampak seorang wanita dalam posisi duduk di kursi. Tangannya terikat sementara mulutnya disekap dengan kain panjang.
Brendo merentangkan tali dari ujung ke ujung atap. Kemudian tali itu dijulurkan ke bawah. Dengan amat hai-hati Brendo meniti tali itu sampai ke bawah. Karena letaknya rada ke belakang, Brendo lepas dari pengawasan  penyekap.
“Aman, Elang Satu.” Bisik Brendo bangga. Dia menepuk-nepuk dadanya karena sukses menirukan Ninja beraksi masuk gedung.
“Cepat amat Lu, Do. Bohong ah. Kamu pasti min-main kan?” Kata Wak Ji penasaran.
“Benar, Wak,” ucap Brendo sambil mengintip penyekap berkepala plontos  yang sedari tadi asyik telepon-teleponan.
“Elang Satu, Elang Satu. Elang Tiga lapor.”
“Elang Satu di sini. Elang Tiga silakan lapor!”
“Temui cepat di ujung sebelah kanan kalian. Aku tunggu. Roger!”
“Siap ke sana. Roger!”
Sembari menunggu kedatangan Koing dan Wak Ji, Brendo mengeluarkan betetan. Dia arahkan itu betetan ke pantat seorang penyekap. Tepat mengenai punggung, bukan pantat.
Tak ada reaksi. Tampaknya si penyekap betul-betul kuat dan kekar. Walau sudah kena betet pakai batu kerikil, meringis pun tidak. \
“Tunggu, Do. Jangan betet dulu,” kata Koing menepis tangan Brendo yang sudah siap melpaskan betetannya.
“Wak Ji aja yang embetetnya,” sahut Wak Ji menawarkan diri.
“Nanti salah betet, Wak.” Sindir Brendo.
“Do. Tua-tua gini, dulunya Wakmu ini jago embetet  burung.”
“Betul. Tapi kan sekara ng ini Wak sudah tidak muda lagi. Sudah tua. Entar lagi masuk ke liang kubur.”
“Walaupun  Wak sudah tua, Do, masih tokcer. Coba kemari kan itu betetan!”
Brendo mengambil batu kerikil dari balik saku celananya. Lalu diserahkan ke Wak Ji bersama betetannya. Koing senyum-senyum saja. Wak Ji benar-benar tua keladi. Makin tua makin seksi.
Wak Ji konsentrasi penuh. Lama juga dia membidikkan  betetan dan huup! Peluru betetan lepas. Tapi bukan kena si penyekap. Tapi melenceng kena kayu, mengarah dan memantul ke dinding atap plafon.
Suasana berubah riuh seketika. Puluhan kelelawar terbang mengitari ruangan gedung. Bukan hanya dua orang penyekap tadi yang panik dan tunggang langgang menghindari kelelawar-kelelawar buruk rupa itu. Koing, Wak Ji dan Brendo pun demikian.
“Ayi kita bergerak cepat!” Teriak Koing mengajak dua rekannya melepaskan si wanita dari ikatan penyekap. Untuk kemudian bersembunyi sejenak di tempat semula.
Dua penyekap itu terlibat adu mulut setelah kelelawar pergi menghilang dari balik gedung dan sandera mereka pergi  entah kemana.
“Kenapa kau lepaskan, Mec?” Tanya si kepala pelontos.
“Siapa yang lepaskan, Jon. Aku kan jaga dekat pintu. Sedangkan kamu asyik ngomong dengan pacar kamu.”
“Pacar? No … Aku bicara sama wanita itu benar. Tapi bukan pacar, bodoh.”
“Kalau bukan pacar, kenapa bilang sayang .. kapan aku bisa ngapel … mau dibawakan apa…suka filem apa segala. Dasar pecundang. Gatal. Play boy kelas teri.” Jawab si bahu lebar tak mau kalah.
“Masa bodoh, ah. Pokoknya tanggung jawab. Titik.”
“Ogah, Elu yang mesti tanggung jawab.”
 Lama juga mereka bertengkar. Adu mulut. Hampir sepuluh menit. Saling ejek, saling  tendang dan dorong-dorongan badan. Sesekali terjatuh. Bangun lagi. Begitulah berulangkali. Silih berganti. Keduanya baru berhenti setelah terdengar suara klakson mobil di luar gedung.
Keduanya buru-buru membuka pintu garasi gedung. Sebuah mobil mewah berwarna hitam tampak ga gah dengan sorot lampu depan tajam dan terang benderang berjalan lambat memasuki area garasi. Selang beberapa detik itu lampu padam. Bersamaan dengan itu, keluarlah seorang pria berpakaian necis dengan rokok cerutu menempel di mulut. Ekspresi wajahnya begitu dingin dengan sorot mata tajam, liar dan menakutkan.
“Bawa kepada saya kembali paling lambat sampai besok. Kalau tidak, kepala kalian berdua aku bakar dalam tungku. Mengerti?”
 Mec dan Jon mengangguk. Tangan Big Bos mengangkat silih berganti dagu keduanya, seraya berkata lantang:
“Aku tak mau kalian gagal malam ini.”
Saat Big Bos berbicara dengan dua rekannya di suatu tempat di luar gedung, Mec dan Jon seperti orang kebingungan. Berjalan loyo  keluar gedung guna mencari tawanan mereka yang lepas.
Koing akhirnya mengontak pihak berwajib.
Koing melaporkan ada penyenderaan di sebuah gedung bertingkat di ujung kota dekat taman. Pihak berwajib merespon dengan baik dan segera mengirimkan tim khusus ke lokasi penyanderaan.
“Alhamdulillah!” Kita bisa  pulang sekarang. Wak udah capek.  Wak mau mandi bersihkan badan dan bobok. “Kata Wak Ji dengan nada bicara kepayahan.
“Tak bisa, Wak Ji,” jawab Brendo.
“Kenapa? Kan yang disandera sudah di tangan kita sekarang. Tunggu apalagi. Kita serahkan saja ke orangtuanya. Habis perkara.”
Ssssssssst …
Koing minta kedua rekannya itu diam. Pasalnya, si Big Bos tampak  tergesa-gesa menuju luar gedung.  Mendekati  Mec dan Jon dengan nafas turun naik amat kencang.  Lelaki berkulit putih bersih itu marah besar.  Mata melotot, mukanya merah.  Bukannya mencari tawanan yang melarikan diri, eee ini anak buah malah asyik sesunggukan dekat danau bertaman.
Tak lama kemudian terdengarlah suara lantang dari pengeras suara.
“Menyerahlah … Kalian sudah dikepung!”





   
     

Tidak ada komentar:

Posting Komentar