Rabu, 27 Mei 2015

Koing (5)



Serial Detektif Cilik
KOING (5)
Menangkap Penjambret ….
Oleh Wak Amin

KALA Koing asyik menyapu di pekarangan belakang  pada pagi di hari libur, sebuah mobil Hyundai berhenti persis di depan pintu pagar rumahnya. Tak lama kemudian, seorang laki-laki membuka pintu dan keluar dari mobil itu dengan sedikit tergesa-gesa.
“Assalamualaikum … Mbak Yu!”
Ibunya Koing bergegas ke depan. Dia membukakan pintu dan betapa gembiranya ia setelah tahu lelaki yang berdiri di hadapannya saat ini, tak lain dan tak bukan, adik kandungnya sendiri, Paman Yos.
“Tambah gemuk saja kamu, Yos. Mana anak dan istrimu. Ajaklah mereka masuk,” kata Mbak Yu, ibunda Koing.
“Enggak ikut Mbak Yu. Aku sendirian saja kemari. Eeeem … aku sebenarnya ada perlu sama Koing.”
“Koing?  Ada dia … lagi bersih-bersih di belakang. Sebentar ya … Mbak Yu panggilkan dulu ..”
“Makasih Mbak Yu.”
Koing menyeka pluh di sekujur tubuhnya. Baju dibuka, jadi penyeka peluh kayak handuk pengering badan. Sambil duduk-duduk di bawah pohon jambu, dia minum air the manis buatan ibunya. Sedap dan nikmat di lidah serta kerongkongan.
 Melihat ibunya dating, Koing bersegera menghampiri. Dia menemui sang paman setelah dibisiki sesuatu oleh ibunya tadi. Koing mencium tangan lelaki ramah itu, dibalas dengan pelukan dan ciuman hangat penuh kasih saying di pipi kanan dan pipi kiri.
Setelah itu, Paman Yos mengutarakan maksudnya untuk mengajak Koing ikut serta menemani anaknya jalan-jalan ke pantai.  Tentu saja Mbak Yu tak keberatan. Dia malah senang karena Koing sudah lama menginginkan bisa bermain di tepian pantai.
“Mau ya, Ing. Sekalian gantikan paman. Paman kan enggak bisa ikut. Nanti sopirnya paman saya yang menemani. Termasuklah kamu …”
“Sudah, tukar pakaiannya dulu sana,” sahut sang ibu. Dia ketawa geli melihat Koing lupa mengenakan baju. Buru-buru masuk kamar sambil berlari dengan kepala separo menunduk.
Sendiriankah Koing?
Tentu tidak. Dia mengajak serta Brendo. Apalagi sang paman tak keberatan. Paling tidak, Koing selain punya teman dalam perjalanan, juga bisa saling bahu membahu seandainya ada kejadian yang menimpa mereka nantinya.
Karena menggunakan mobil anyar yang baru keluar dari show room, jalana mulus nyaris tak ada lubang dan tidak macet merayap, kurang dari satu jam mereka sudah tiba di lokasi pantai.
Pintu mobil dibuka ….
“Horeeee … Kita berenang!” Teriak keempat anam Paman Yos. Perempuan semuanya.  Si sulung duduk di bangku sekolah dasar kelas  lima, sama dengan Koing dan Brendo.  Sedangkan si bungsu baru kelas satu.
“Aduh anak-anak … Nanti. Ing, susul dan temani mereka,” pinta Bibi Yos dengan raut muka cemas.
Namanya juga anak-anak. Sampai di bibir pantai satu-satu mulai pasang aksi. Si nomor tiga dn dua main percik-percikan air, sedangkan si sulung dan si bungsu memasukkan kedua kakiny ke dalam air sambil memandang perahu nelayan menuju tengah lautan.
Saat Brendo dan Koing asyik dan fokus mengawasi anak-anak Paman Yos bermain, tiba-tiba terdengar suara wanita menjerit minta tolong.  Koing menoleh,  bersegera ia menghampiri.
“Tolong bibi, Ing … Bibi dijambret,” katanya. Dia meminta Koing mengejar pelaku penjambretan yang kabur menggunakan  sepeda motor barusan.
Koing terpaksa mengejar sendirian. Sebab, Brendo ditugasi sang bibi mengawasi anak-anaknya bermain. Koing terus mengayuh sepeda BMX nya melewati pohon-pohon pinus dan cemara.
Menuruni tanah yang menurun dan mendaki, sampailah ia di ujung pantai. Di sana ada sebuah gubuk kecil. Di luar gubuk  terparkir sebuah sepeda motor trail keluaran terbaru. Motor itu dibiarkan tak terkunci.
Sesaat kemudian, dua orang laki-laki berperawakan sedang keluar dari gubuk sambil menjinjing tas jinjing yang disematkan ke punggung.
Koing tak berdiam diri. Dia menyiapkan sebatang kayu yang panjangnya kira-kira satu meter. Kayu itu digunakan sebagai perangkap menangkap pelaku. “
“Bukankah motor mereka nanti lewat sini?” Tanya Koing dalam hati.
Benar saja. Motor yang dikendarai penjambret itu melaju kencang melewati jalan setapak tempat Koing bersembunyi sambil memegang kayu dan batu. Sempat berhenti sejenak, meng-over gigi dan memperbesar gas, motor kembali melaju dengan kecepatan di atas enam puluh.
Dan praaaaak! … gaaaaar!
Hanya dengan satu kali lemparan serempak kanan kiri dengan kayu dan batu,  dua penjambret itu ber hasil dirobohkan.  Motor terbalik sementara tas yang disandang teman pembonceng terlempar bebe rapa meter dari tempat Koing berdiri. Koing tak menyia-nyiakan kesempatan ini.
“Itu anaknya. Cepat kejar!” Teriak salah seorang penjambret  seraya menunjuk geram ke arah Koing yang berhasil membawa kabur tas berisi uang hasil jambretan mereka.
Mesin motor dinyalakan kembali. Balik arah. Kedua penjembret itu mengejar Koing yang sudah jauh berada di depan. Sayangnya, sampai di pertigaan, mereka kehilangan jejak Koing. Sebelum akhirnya dikejutkan dengan aksi nekat Koing dengan sepeda BMX kesayangannya melompat persis di atas kepala mereka.
“Busyet Lu!
“Cepat kejar dia!” Kata lelaki gemuk besar kepada temannya yang membonceng.
“Jangan sampai lepas.”
“Kalau lepas kita bakal ditebas.”
Koing memutar ke kanan. Dia mengau sepedanya sekencang mungkin. Melewati jalan setapak yang dinaungi ranting pephonan. Belok kanan, belok kiri dengan lincahnya. Sampai di bibir jalan ujung pantai, Koing tetap belum terkejar oleh kawanan jambret itu.
Baru setelah melewati jalan beraspal, kawanan jambret berhasil menemukannya. Koing cuek saja. Ia seolah-olah tak tahu. Ia terus mengayuh sepedanya. Kejar-kejaran kembali terjadi.
“Cepat sedikit bloon,” hardik penjambret satunya sambil memukul-mukulkan tinjunya di bido motor.
Hanya terpau beberapa sentimeter saja jarak antara mereka. Koing mengerem mendadk sepedanya seraya menendang si penjambret dan jatuh saat itu juga.
“Kalian tu … jambret goblok,” ejek  Koing yang sesekali menjulur-julurkan lidahnya
Karena geram dan malu sudah terjatuh, lelekai gemuk besar tadi berusaha mengejar Koing seorang diri. Sedangkan temannya tetap memacu motor dengan harapan bisa secepatnya menangkap  Koing.
Saat tangan kiri pnjambret hamper menyentuh sepeda Koing, lepas lagi karena Koing berhasil mela kukan zig zag. Pria brewokan it terus mengejar dan berhasil mendahului Koing.  Saat penjambret hen dak belok,  Koing mengayuh sepedanya  sekencang mungkin. Belum sempat mengejar, kaki Koing sudah lebih dulu mengenai paha penjambret. Jatuh tersungkur dari motor.
“Apes deh … lepas lagi,” gerutu teman si penjambret yang tertinggal  agak jauh di belakang. Dia terus berlari  ingin membantu temannya yang jatuh dan tak juga bangun-bangun itu.
Sudah diguncang-guncang tubuhnya berulangkali tetap tak sadarkan diri. Baru siuman setelah dibisiki kalau  orang sepantai mengejar mereka berdua.
“Tangkaaaap!” Teriak orang sepantai. Meneriaki penjembret yang berusaha kabur dengan sepeda motornya.
Berhasilkah mereka kabur?
Berhasil. Tapi, karena yang mengejar jumlahnya banyak, ada dengan berlari doang, pakai sepeda motor, bahkan kendaraan roda empat, dua penjambret tadi akhirnya kewalahan. Tak berdaya. Mereka dikepung dari depan, kanan, kiri dan belakang.
Mereka menyerah, itulah akhirnya.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar