Cerita Berseri
Pusy Cat (4)
Edisi Keempat
Oleh Wak Amin
IX
TANPA sepengetahuan petugas medis, Mrs Bram berinisiatif mengosongkan kamar
depan yang baru me reka tempati. Kini mereka memilih tempat yang baru, sebuah
kamar kosong yang belum ditempati pasi en yang dirawat inap hari itu. Ulah Mrs
Bram ini mengundang rasa curiga petugas keamanan setempat yang mulai meningkatkan
patrol mengitari area luar dan dalam rumah sakit.
Kecurigaan itu seolah tak berlanjut menyusul tergeletaknya
seorang petugas keamanan rumah sakit di depan pintu lift lantai atas. Meski
tidak sampai tewas, hanya pingsan dan tanpa mengeluarkan darah, membuat sibuk
kepala rumah sakit. Dia menginstruksikan
pengamanan yang lebih ketat lagi di
setiap kamar yang ditempati para pasien.
Dokter Eko, kepala rumah sakit, menginstruksikan juga kepada
bawahannya untuk berjaga-jaga. Kepada pihak keamanan diminta juga bantuannya.
Paling tidak mencegah adanya korban yang berjatuhan lagi.
Jegaaar …
Guaaam …
Setiap ruangan dimasuki Mr X. Bagi pasien yang tidur
ditemani anggota keluarganya yang tengah keluar untuk mengurus sesuatu, tidak
masalah. Apalagi Mr X tidak sampai menumpahkan kemarahannya ka re na belum ketemu
Mr Bram. Setelah melihat dari dekat muka
setiap pasien yang dirawat, dia bergegas keluar sambil menutup pelan pintu
kamar.
Namun bagi pasien yang ditunggui anggota keluarganya tentu
berbeda. Mereka bahkan ada yang berte riak dan memaki-maki Mr X sebagai orang
yang tak waras. Kegaduhan inilah yang sebenarnya tidak dike hendaki Mr X
sebenarnya. Sebab, dengan demikian keberadaannya di rumah sakit ini diketahui
orang banyak. Itu artinya keinginan dia untuk menghabisi Mr Bram bakal tidak
kesampaian.
Di tempat berbeda, di kamar yang sebelumnya ditempati Mr
Bram di lantai dasar, Mr X sempat bersite gang dengan anggota keluarga pasien
yang hendak memasukkan pakaian ke lemari dan meletakkan pe ralatan makan serta
minum seperti piring dan termos air di
meja. Mereka mengira Mr X hendak me nyerobot kamar yang telah dipesan
sebelumnya.
Mr X yang semula tidak ingin memperpanjang masalah, justru
naik pitam saat lelaki berperawakan tinggi besar dan berkumis tebal
memaki-makinya sambil berkacak pinggang. Dia tak terima. Tanpa mengeluar kan
sepatah kata pun, dia tembak lelaki di depannya ini. Tewas seketika.
“Auuuw … tolooong! Pekik ibu di sebelah Mr X yang bersegera
menghampiri suaminya yang sudah tidak bernyawa lagi. Dia menangis sesunggukan.
Tembakan yang dilepaskan Mr X, karena menggunakan alat
peredam suara, hanya bisa didengar
sekilas oleh mereka yang sangat dekat dengan lokasi kejadian penembakan.
Sehingga tidak sampai mengusik pi hak lain, terutama petugas keamanan yang
belum terlihat sedari tadi.
“Pembunuh. Tolooong!” Saat perempuan muda dan cantik ini
menjerit minta tolong, karena terdengar nyaring, berhamburanlah anggota
keluarga pasien dari dalam kamar di sebelahnya. Menyusul petugas medis dan
keamanan rumah sakit.
Tanpa pikir panjang lagi, MrX menghabisi ibu muda itu
sebelum melarikan diri lewat pintu emergency. Lampu merah, sirene rumah sakit
tanda bahaya dinyalakan. Membuat Mr X
mempercepat larinya. Dia baru berhenti ketika sampai di ujung ruangan panjang dengan
kelebaran hanya setengah meter . Ada kamar kecil, di sanalah dia bersem bunyi
untuk beberapa saat.
Tak berapa lama datanglah petugas kepolisian. Mereka turun
dari mobil dan menyisir bagian luar serta dalam rumah sakit, bersenjatakan
lengkap untuk mengamankan pasien sekaligus menangkap Mr X, bu ronan yang mereka
cari.
Mr Bram bernafas lega. Dengan kehadiran petugas
kepolisian, ia dan isterinya, Mpok Surti
dan Pusy bisa aman. Mereka mencapai kata sepakat dengan pihak rumah sakit untuk
rawat jalan saja di rumah.
Keesokan harinya, Mr Bram baru meninggalkan rumah sakit.
Dengan dikawal ketat beberapa petugas ke polisian, mereka sampai di rumah tengah
hari. Mencekamnya suasana rumah sakit kemarin malam su dah terlupakan melihat
aksi lucu si Pusy.
Pusy berjoget-joget di ruang tamu, disaksikan Mr Bram dan
isteri, mengikuti irama lagu dangdut melayu. Kelucuan itu terlihat setelah Pusy
turun dari kursi tamu sambil mengeong. Dia tak sungkan melompat ke pangkuan Tuan
dan Nyonya nya. Bahkan Mpok Surti yang setelah keluar dari dapur membawakan
minu man susu dan teh untuk majikannya sempat kaget karena ulah Pusy.
Kelucuan tak berhenti disitu. Dengan cekatannya ia nyalakan
pesawat televisi. Mereka yang menonton tertawa menyaksikan Pusy menirukan artis
dangdut joget di atas panggung. Semua akhirnya ikut berjo get sampai kelelahan
dan tertidur di kursi.
Ning nooong …
Ning noooong …
Ning noooong …
Mengetahui Pusy lah yang membukakan pintu rumah, seorang
perwira polisi muda dan ganteng itu pun tersenyum ramah.
“Tuan ada Pusy?” Tanyanya yang dijawab Pusy dengan ngeongan.
Pusy pun berlari setelah me lompat ke sofa ruang tamu sebagai isyarat
mempersilakan sang tamu untuk masuk dan duduk di tempat duduk yang telah
disediakan tuan rumah.
Pusy memasuki kamar tuannya. Masih terlelap tidur. Sedangkan
Mrs Bram lagi mandi di kamar mandi. Mpok Surti sendiri, seperti biasanya,
menyiapkan masakan di dapur.
Ngeoooong …
Pusy mencium-cium pipi tuannya. Menggeliat sesaat. Baru
terjaga setelah menggelitiki telapak kaki Mr Bram.
Ngeooong …
Dia menarik-narik tangan tuannya. Lalu melompat turun dari
tempat tidur menuju pintu kamar yang terbuka separo.
Pusy menoleh tuannya.
Ngeooong …
“Tunggu ya!”
Mr Bram berpakaian sebentar. Kemudian pergi ke kamar mandi
untuk sikat gigi dan mengusap mukanya dengan air dingin. Sejuk terasa. Sesejuk
ia menemui koleganya yang memberitahukan Mr X terpaksa did or karena melakukan
perlawanan dengan melukai beberapa anggota kepolisian yang nyaris berhasil me ringkusnya.
X
ANGGOTA keluarga Mrs Bram bertambah satu lagi dengan
hadirnya Lola, seeokor kucing berbulu indah. Lola sengaja dibeli Mrs Bram dari
tempat penjualan kucing terbesar di kota ini. Hal ini ia lakukan karena tak
ingin melihat Pusy sendirian terus menerus.
Ada tempat curhat-curhatan dan bisa saling kenal me ngenal dengan jenis
kelamin berbeda.
Semula kehadiran Lola dianggap sebelah mata oleh Pusy. Dia
cuek ketika Lola mendekatinya. Mengajak berkenalan dan memilih duduk dekat
Pusy. Sayang, Pusy tak peduli. Dia hanya diam. Begitu juga ketika Mpok Surti
melempar bola bola ke lantai. Hanya Lola yang mengejarnya. Sedangkan Pusy
memilih diam.
Ngeooong …
Mpok Surti memancing Pusy agar mau berteman dengan Lola.
Tapi tetap saja Pusy menolaknya. Meski pun digendong manja dan didekatkan
dengan Lola, Pusy yang biasanya lincah berubah pendiam. Mata nya memang melihat
bola, tapi tanpa ekspresi. Seolah sedang bengong.
Mpok yang gemas tengok Pusy tak beraksi di dekat Lola, nekat
mendekatkan mukanya Pusy ke muka Lola. Saking dekatnya seolah keduanya saling
berciuman. Lola mengeong, Pusy biasa saja. Hanya Lola yang senang. Entah senang karena dekat Mpok Surti , atau mulai
menyukai Pusy yang diharapkan bisa diajak
berteman.
“Nya … Nya …!” Mpok Surti mencegat Mrs Bram suatu sore saat
majikannya itu baru tiba dari menjemput suaminya pulang kerja.
“Lola Nya.” Kata Surti. Tentu saja Mrs Bram serius
menanggapinya. Sebab, perempuan penyuka kucing itu tak ingin hewan kesayangannya
itu sedih, apalagi sampai jatuh sakit. Dia akan tekun merawatnya, bahkan bila
perlu diobati tempat pengobatan khusus hewan.
“Hi hi hi hi …”Tiba-tiba Mrs Bram tertawa terpingkal-pingkal
mendengar cerita Mpok Surti. Bukan karena Lola sedih, tapi karena Pusy tak
peduli dengan teman barunya itu.
“Ada yang lucu Ma?” Mr Bram yang bermaksud hendak masuk
kamar, sejenak mengalihkan pandangan nya ke isterina yang ketawa sambil
berpegangan di bahunya Mpok Surti.
“Mandi Mas, Yuk!” Ajak Mrs Bram mengalihkan pembicaraan. Ia
tak ingin suaminya terlalu memikirkan dua ekor kucing kesayanganny a itu.
Mengingat belakangan ini tugas Mr Bram semakin berat. Menuntut pertanggung
jawaban yang besar dan sungguh-sungguh.
Namun, kendati sibuk dengan pekerjaannya, Mr Bram tetap
peduli dengan Pusy selama ini. Sesekali dia meluangkan waktu dengan memberi
Pusy makan dan mengajak serta jalan-jalan. Di mata Mr Bram, Pusy adalah kucing
yang baik. Berbeda dengan kucing-kucing kebanyakan yang suka usil dan merusak
perabo tan rumah tangga.
Pusy justru berani tampil beda. Dia lebih suka mendekatkan
diri dengan penghuni rumah. Menemani Mpok Surti menyiapkan sarapan di dapur,
menemani Sang Nyonya baca buku, atau ikut menyambut kedatangan tuannya yang
baik hati, Mr Bram.
Khusus Lola, karena baru saja dibeli sang isteri, belum
sedekat Pusy. Hanya sesekali Mr Bram melihat nya. Tidur di pelukan Mpok
Surti. Dia Lebih sering melihat Pusy
yang jika ia pulang dari kantor, tak henti mengeong. Minta peluk dan berlari
mengitari ke mana kaki tuannya melangkah.
“Itulah yang hendak aku ceritakan Mas,” kata Mrs Bram
bergelayut manja dalam dekapan suami tercinta.
Malam belum larut. Pasutri ini berbagi cerita. Termasuk soal
Pusy dan Lola. Sambil memandang kilauan bintang-bintang di angkasa sana, Mrs
Bram tak henti-hentinya mencium mesra kedua belah pipi suami nya.
“Aku ingin mereka berteman baik, Mas Bram.” Mrs Bram turun
dari atas tempat tidurny. Ia mengambil segelas air susu hangat yang baru saja
diantar Mpok Surti ke kamar. Air susu itu ia berikan pada suami nya yang sangat
ia sayangi.
“Bosan Ma.”
“”Tukar ya dengan yang lain.” Mrs Bram bermaksud mengambil
gelas di tangan suaminya. Tapi dengan lembut sang suami berbisik manja.
“Kucingnya say …”
Ha ha ha ha …
“Ada-ada saja Mas Bram ini.”
Air susu hangat itu pun diminum Mr Bram separo, separo gelasnya lagi dia berikan pada
isterinya.
“Tanda cintaku kepadamu, Ma.” Ucap Mr Bram. Mencium kening
isterinya yang lagi asyik minum air susu.
Sementara di kamar Mpok Surti, Pusy dan Lola sama-sama minum
air susu di atas piring seng khusus kucing. Hanya semenit susu segar itu habis
diminum keduanya.
Tapi lucunya, baik Pusy maupun Lola, tetap ogah berdekatan.
Walau sama-sama di dekat Mpok Surti yang rebahan. Tapi beda posisi. Pusy di
sebelah kanan, Lola menempati sebelah kiri.
Ngeooong …
Tok .. tok .. tok …
“Surti …!” Suara orang memanggil. Dia kenal betul suara itu.
Pasti suaranya Sang Nyonya.
Kreseeek …
“Pusy dan Lola mana Mpok? Tak tengok aku sejak tadi.”
“Itu Nya.” Pusy dan Lola duduk manis berdekatan. Sayang tak saling bertegur sapa.
Kenapa ya?
Tak lama kemudian datanglah Mr Bram dengan hanya mengenakan
pakaian tidur. Ia nyelonong masuk. Belum sempat duduk, Pusy melompat ke
pelukannya.
“Ma. Papa sama Lola ya!” Lola mendekat. Tapi Pusy tetap tak mau turun dari pelukan
tuannya.
“Pusy sama mama ya!” Meski dibujuk Mpok Surti dengan mencium
mukanya Pusy, Pusy tetap tak mau melepaskan pelukan tuannya.
Akhirnya …
“Sudah. Lola sama mama ya sayang. Mari sayang!” Lola
mendekat. Dia duduk manis di pangkuan Sang Nyonya.
Mpok Surti lega melihatnya. Walau dalam hati kecilnya ia
mulai kesal dengan kelakuan Pusy belakangan ini.
“Sabar ya Mpok. Udah ya. Lola sama Pusy kami bawa. Enggak
takut kan sendirian?”
“Enggaklah Nya,” jawab Mpok Surti. Sebelum menutup kembali
pintu kamar, dia menyempatkan diri mencium hangat pipinya Lola. Begitu lembut.
Bulunya indah sekali.
Keesokan paginya …
Di teras rumah …
Ngeooong …
Pusy dan Lola sama melompat ke pelukan Mrs Bram dan suami.
Mpok Surti sampai-sampai kaget dibuat nya karena lompatan keduanya sangat
cepat. Pusy dalam pelukan Sang Nyonya,
sedangkan Lola di pe lu kan Mr Bram. Sebelum keduanya turun mendekati Mpok
Surti.
Ngeooong …
“Daaagh Pusy!” Ucap Mrs Bram.
“Daaagh Lola!” Kata Mr Bram dari balik kaca mobil yang
melaju pelan menuju jalan raya.
Sepasang kucing cantik ini masuk kembali ke dalam rumah,
bersama Mpok Surti yang bergegas menuju ke dapur.
Ngeooong …
Pusy dan Lola berhenti melangkah. Kemudian berbelok ke kanan
menuju ruang tamu. Keduanya duduk manis di sofa empuk. Sedangkan Mpok Surti
bersiap memasak, mencuci pakaian dan merapikan rumah, terutama di belakang dan
teras.
“Kamu sering tiduran disini ya Pus?” Tanya Lola sambil
melompat mendekati bantal sofa yang empuk dan ber warna-warni.
“Iya Lol,” jawab
“Kamu senang enggak?”
“Ya senanglah Lol … Enak dan enggak ada yang ganggu selain
Mpok Surti,” aku Pusy ketawa mengeong.
Lola melompat turun.
Naik ke sofa di sebelahnya. Sembunyi di balik bantal bermotif bunga
edelwis.
“Kamu kenapa sih Lol?” Heran Pusy. Bukannya saling pandang,
eee malah harus sembunyi segala.
“Kejar aku Pus.” Pancing Lola. Melompat turun. Berlari
mendekat ke tengah hambal ruang keluarga. Menunggu reaksi Pusy.
“Lol.”
“Ya Pus.”
“Jangan jauh-jauh ya,” pesan Pusy. Selain capek, takutnya barang-barang antik seperti guci dan
jam duduk di seputar ruang tamu pada
rusak kesenggol saat keduanya saling berkejar-kejaran.
Memang keduanya saling berkejaran hingga ke ruang belakang.
Kebetulan pintu belakang dibuka Mpok Surti yang sedang menjemur pakaian.
Pusy dan Lola terus berlari mengitari taman belakang rumah.
Saling intip di balik pohon mangga, lalu naik ke atasnya. Turun lagi setelah
bergelantungan di ranting pohon.
“Kejar aku Lol!” Giliran Lola yang mengejar Pusy yang dengan
lincahnya berlari menyusuri pinggiran parit.
Mpok Surti yang baru tahu ada Pusy dan Lola di taman
belakang rumah tampak senang dan bahagia menyaksikan sepasang kucing kesayangan
majikannya makin lengket saja dari hari ke hari.
Malah, karena terus digoda Pusy dan Lola, Mpok Surti
ikut-ikutan juga berlari. Semula Pusy yang dikejar Mpok Surti, dan Lola giliran
berikutnya. Terakhir Mpok Surti.
Praaak …
Buuuuk …
Mpok Surti menabrak batang pohon mangga. Dia tak sempat
mengelak lagi. Asyik menoleh ke belakang saat dikejar Pusy dan Lola.
Ngeooong …
Mpok Surti terjatuh. Kepalanya pusing. Matanya
berkunang-kunang. Melihat Mpok Surti tak kunjung ber diri, Pusy bergegas lari ke dapur. Dia membuka kulkas dan bergegas
membawa sebotol air minuman di ngin.
Ngeooong …
Mpok Surti menoleh ke belakang. Ternyata Pusy memberinya
sebotol air dingin. Botol itu kecil. Tapi airnya itu yang bikin lega kerongkongan
ini.
Terima kasih Pusy …
XI
“TERUS Pusy … Kejar teruuus!” Teriak Lola dari pinggir
lapangan. Dia bersama Mpok Surti, Mr Bram dan isteri menyaksikan lomba lari
kucing peliharaan di lapangan terbuka,
pagi hari.
Ratusan penonton tampak tumplek bek menyaksikan perlombaan
yang baru pertama kali digelar ini. Se lain penyuka hewan kucing, sebagian besar
penonton adalah anggota keluarga yang kucing mereka ikut perlombaan.
Jadi tak heran bila setiap lima detik terdengar tepukan
meriah dari penonton. Malah ada yang berteriak-teriak memberi semangat pada kucing kesayangan mereka
agar lebih dulu sampai di garis finish. Enam peserta tercepat menyentuh garis
putih berhak mengikuti babak berikutnya.
Pada babak kualifikasi ini, setiap kucing ngotot ingin
memenangi perlombaan. Bahkan, saking ngotot dan bersemangatnya, ada seekor
kucing yang berlari zig-zug. Panitia tidak mendiskualifikasinya karena tidak
sampai menggangu penonton dan peserta yang lain.
Sebaliknya penonton merasa senang melihat aksi kucing belang
tiga itu. Dia bukan cuma pandai berzig-zug, tapi juga mahir berlari mundur
walau tidak terlalu cepat. Mengibas-ibaskan ekornya, melompat dan mengeong.
Sempat berhenti sejenak kemudian berlari kembali menyusul peserta lain yang
sudah jauh meninggalkannya.
Penonton memang disuguhi atraksi menarik dari kucing gemuk
besar ini. Merasa tak terkejar lagi, dia pun memutar-mutarkan tubuhnya.
Berguling-gulingan di tanah merah. Berdiri lagi sebelum berguling-gulingan
lagi.
Seekor kupu-kupu terbang rendah dan dengan sigapnya dia
melompat dan berhasil menangkap kupu-kupu itu. Lalu diletakkannya di tanah.
Penonton menunggu harap-harap cemas. Apa gerangan yang bakal dilakukan si
kucing.
Dicium-ciumnya kupu-kupu indah itu. Setelah itu, diambilnya
dan dilepasnya terbang menyusuri rerum putan dan melewati atas kepala penonton
yang terpana menyaksikan keelokan si kupu-kupu yang be berapa saat kemudian
menghilang entah kemana.
Priiiit …
Enam pemenang babak kualifikasi dilepas tuannya untuk
menempati tempat start yang telah
disedia kan. Dari enam peserta ini dipilih empat peserta mengikuti babak
selanjutnya. Pusy, satu di antara pe serta yang diharapkan lolos ke babak akhir
ini.
“Mudah-mudahan saja Pusy bisa menang,” harap Lola dengan
mata menerawang jauh ke peserta lomba yang sudah bersiap berlari mengelilingi
lapangan dekat pinggiran sungai itu.
“Menang enggak ya Nya?” Mrs Bram cuma berharap Pusy bisa
menang. Sebaliknya Mpok Surti mulai di liputi keraguan. Walau dalam hatinya ia
berharap Pusy tidak sampai kalah. Dia tak ingin teman Lola itu kecewa, lalu
jatuh sakit dan mati.
Priiiit …
Mr Bram meneriaki Pusy dari belakang sebelum start dimulai.
Dia tak henti-hentinya menyemangati Pu sy dengan cara melompat, mengacungkan
jati telunjuknya dan ikut berlari dari pinggir lapangan.
Begitu juga dengan Mrs Bram dan Mpok Surti. Walau hanya dari
tribun penonton, keduanya tak mele paskan sedikit pun pandangan ke Pusy yang
terus berusaha menyalib tiga peserta di
depannya.
“Ayo Pusy. Kamu hebat. Kamu harus menang.” Teriak Lola yang
tiada henti-hentinya melompat dan ber pindah-pindah duduk. Dari semula di
pangkuan Mpok Surti, berpindah ke pangkuan Mrs Bram. Begitulah seterusya silih
berganti.
Saking asyiknya menyemangati, Lola terjatuh setelah
terdorong oleh beberapa orang anak yang berebu tan hendak mencium dan
memeluknya. Untung tak jauh. Dia dengan cepat melompat dan duduk deng an
manisnya di tengah-tengah antara Mpok Surti dan Mrs Bram.
“Terus Pusy …” Teriak Mrs Bram. Ia puas karena Pusy saat ini
menempati posisi tiga yang bila tetap diper tahankan sampai menyentuh garis
finish, dia akan melaju babak penentuan. Babak final yang sangat ditu nggu-tunggu
para penonton.
Sreeet buk …
Klepuk …
Pusy terlempar ke pinggir setelah sempat menempati posisi
teratas. Dia terlempar karena beradu fisik dengan tiga ekor kucing di
belakangnya yang saling berebutan hendak mendahuluinya.
“Ayo Pusy …” Mpok Surti was-was melihat Pusy masih
tergeletak di pinggir lapangan. Beberapa orang panitia mencoba menolongnya.
Berusaha memberikan bantuan. Namun, begitu mereka hendak me nyentuh tubuhnya,
Pusy tersadar dan berlari sekencang mungkin.
Plak … pak .. plak … pak …
Penonton yang semula menyemangati kucing milik peserta
lainnya, kini malah memberi tepuk tangan kepada Pusy. Tertinggal satu putaran
tak membuatnya berkecil hati. Dia terus
berlari, karena dengan kecepatan tinggi, menyisakan setengah putaran lagi.
Dengan semakin pendeknya jarak Pusy dengan rekan lombanya di depan, kemungkinan
dia bisa lolos ke fase terakhir sangat besar.
Mrs Bram tak berani membuka matanya ketika lomba menyisakan
satu putaran lagi. Ia sudah pesimis Pu sy akan berhasil memenangi lomba di
babak semi final ini. Dia hanya berharap ada keajaiban sehingga kucing
kesayangannya ini lolos dari lubang jarum.
“Nya.” Kata Mpok Surti. Dia pegang tangan Mrs Bram yang
berkeringat dingin dan sedikit gemetar.
“Taka pa-apa Mpok,” jawab Mrs Bram. Dia balas pegangan Mpok
Surti dengan memeluknya hangat.
“Mudah-mudahan saja ya Nya.” Bisik Mpok Surti.
“Kita sama berdoalah Mpok,” ucap Mrs Bram, yang semula sedih
berubah tersenyum geli melihat Lola bergoyang-goyang di pangkuan Mpok Surti.
Sementara jarak setiap peserta hanya beberapa sentimeter
saja, Pusy saat ini berhasil menempati posisi keempat. Sudah aman dan membuat
Mr Bram, yang sedari tadi tampak tegang, mulai bisa tertawa lepas.
Posisi keempat ini berhasil dipertahankan Pusy sampai garis
finish. Dengan demikian Pusy berhak mengi kuti babak final bersama tiga ekor
kucing lainnya. Mrs Bram menyambutnya dengan perasaan suka cita.
Dia angkat tinggi-tinggi Pusy. Lalu dilemparnya ke udara,
ditangkapnya lagi. Hal ini ia lakukan berkali-kali. Baru berhenti setelah Mrs
Bram datang dan menciumnya hangat.
“Pusy. Kamu memang hebat,”puji Mpok Surti. Dia pandangi mukanya Pusy. Lalu dia gelitiki,
kemudian diciumnya Mpok Surti.
Ngeooong …
Ha ha ha ha …
Mr Bram dan isteri serta Mpok Surti menepi sejenak.
Ketiganya membiarkan Pusy dan Lola saling curhat-curhatan. Beberapa orang
panitia yang melihat keduanya tampak senyum-senyum saja. Mirip sepasang kekasih
yang dimabuk asmara. Keduanya saling berdekatan dan duduk manis di bawah meja.
“Kamu memang hebat Pusy,” puji Lola sambil
menggerak-gerakkan ekornya yang indah dan bersih itu.
“Ah, enggaklah Lola. Biasa saja aku. Buktinya aku cuma nomor
empat,” kata Pusy merendah.
“Itu karena kamu terlempar tadinya. Coba kalau tidak, pasti
kamu nomor satu. Aku yakin itu.” Lola percaya diri. Walau bukan dia yang ikut
lomba lari, Pusy tak salah bakal juara kali ini.
“Terima kasih Lola. Kamu memang kucing yang baik,” ucap
Pusy.
“Kamu juga,” balas Lola sembari mencium mesra pipi Pusy.
“Tapi La …”
“Kenapa say?”
“Andaikata aku tidak menang, atau hanya nomor dua atau tiga,
kecewa enggak kamu La?” Pusy mengedipkan matanya, lalu rebahan di tanah.
Lola ikut rebahan.
“Tidak say. Aku tidak akan kecewa …”
“Kenapa say?”
“Karena di mataku, walaupun kamu tidak menang misalnya,
tetap kucing yang hebat di mata aku. Percayalah padaku say, aku tetap sayang
kamu walaupun kamu tidak juara.”
“Benarkah?”
Lola mengangguk.
Priiiit …
Empat peserta babak final diminta berkumpul di dampingi
tuannya. Sebelum lomba diberikan penga rahan terlebih dahulu. Salah satunya, keempat peserta akan mendapat
piala, piagam dan uang tunai yang besarnya berbeda-beda sesuai urutan pemenang.
Sebelum lomba dimulai, masing-masing pemilik kucing
bersalaman satu sama lain. Kemudian mereka diberi waktu dua menit untuk berkomunikasi
dengan kucing kesayangannya. Hal ini perlu agar emosi kucing tetap terjaga dan
dapat mengikuti lomba lari sampai akhir.
“Hebat …” Bisik Mpok Surti.
“Juara,” kata Mrs Bram.
“Menang,” ucap Mr Bram sambil mengusap-usap bulu indah Pusy.
Ngeooong …
Ha ha ha ha …
Lola mencium kening Pusy. Lalu dibalas dengan ciuman
dikening pula oleh Pusy. Keduanya berpelukan sesaat sebelum Pusy pamit untuk
segera berkumpul di posisi start bersama tiga ekor kucing lainnya.
Priiiit …
Empat ekor kucing berlari kencang. Seolah ingin menjadi yang
tercepat di pentas pertandingan kali ini. Berbeda dengan lomba sebelumnya, pada
babak final ini jarak antar kucing hampir tak terlihat. Tak ada yang
mendahului, juga tak ada yang paling
belakang.
Penonton bertepuk tangan.
“Nya, kita ke atas aja biar aman,” ajak Mpok Surti. Tempat
duduk paling atas masih ada yang belum teri si. Selain lebih aman dan nyaman
kala menonton, juga bisa lebih santai dan puas menyaksikan Pusy ber lomba.
Ngeooong …
Lola duduk manis di pangkuan Mpok Surti. Dia lebih banyak
diam dengan sesekali memandang teduh wa jah Mr Bram dan Mpok Surti yang
dua-duanya fokus tertuju ke depan. Melihat dari jauh bagaimana serunya perlombaan
dan ketatnya persaingan sesama peserta.
XII
“PUSY kito memang hebat
Apo bae pacak diembat
Ado maling dio sikat
Ado cewek dio pikat
Pusy kito memang juaro
Banyak uwong senang galo
Kalu makan iwak belido
Bejalan bae pecak loyo …”
Plak .. pak .. plak .. pak …
Plak … pak .. plak .. pak …
“Kawan Pusy namonyo Lala
Rainyo cantik suka tertawa
Mpok Surti teman setia
Kalu tiduk sama dia
Mpok Surti memang
manis
Sangat suka mangga
harum manis
Kalu turun hujan
gerimis
Dio pasti pecak nak
nangis …”
Plak .. pak .. plak .. pak …
Plak .. pak .. plak .. pak …
“Pusy
sekarang punya kawan
Lola
cantik suka bedandan
Kalu
bejalan seiring setujuan
Nyonya
balik dapat mainan
Malam hari Pusy tidur
Mato melek kaki tebujur
Ngintip keluar waktu sahur
Katek rewang balik endengkur …”
Plak .. pak .. plak .. pak ..
Plak .. pak .. plak .. pak …
Mpok Surti, Mr Bram dan isteri tak bisa lagi menahan rasa gelinya ketika Pusy dan Lola
joget bersama. Cara jogetnya tentu berbeda. Tidaklah sama dengan kita manusia.
Pertama-tama Pusy maju ke tengah. Dia berjalan
berputar-putar. Lalu mengangkat kedua tangannya mengitari Mr Bram dan isteri
serta Mpok Surti yang duduk lesehan mengelilingi ruangan khusus keluarga.
Setelah itu disusul Lola. Dia tidak mengangkat kedua
tangannya. Tapi hanya mendekati majikannya. Dia cium pipi keduanya, terakhir
Mpok Surti. Sempat pejamkan mata, siap dicium. Lama ditunggu, Lola jus tru ngeloyor
pergi bersembunyi di belakangnya.
Ngeooong …
Ha ha ha ha …
Mpok Surti tak sangka Lola mempermainkannya. Dia kecewa.
Namun hanya sesaat, karena setelah itu Lola mengejutkannya dari belakang.
Mencium pipinya dengan penuh kehangatan.
Ngeoooong …
Saat itulah, saat Mpok Surti masih pangling, tak percaya dengan
kejadian barusan. Ditambah lagi Tuan dan Nyonya tak henti-hentinya ketawa ria,
Lola pun berjalan ke tengah ruangan.
Dia hanya duduk. Menunggu Pusy yang masih malu-malu
mendekatinya. Setelah dibujuk Mrs Bram de ngan susah payah, Pusy bersedia duet dengan Lola.
Duet apakah itu?
Mr Bram memutar piringan hitam. Terdengar alunan musik
gembira. Pusy dan Lola mulanya masih ber diam diri saja. Namun setelah Tuan dan
Nyonya berjoget sambil bertepuk tangan, diikuti Mpok Surti, Pusy dan Lola
akhirnya ikut juga berjoget.
Joget berlangsung selama lima menit. Agar tidak menimbulkan
kebosanan, Mr Bram bertepuk tangan sambil berteriak pelan … ‘Ayo Pusy .. ayo
Lola. Joget teruuus …’
Mpok Surti tak henti-hentinya menyemangati Pusy dan Lola.
Sepasang kucing ini terus berjoget. Saling bersenggolan dan mengangkat kedua
tangan. Lalu berputar-putar mengikuti
kemana langkah kaki sang majikan.
Mrs Bram bernyanyi …
“Ayo Pusy kita joget
Supaya badanmu gancang bontet
Ayo Lola kita nari
Agar hidupmu lebih berseri
Mpok Surti yang baik hati
Merawat Pusy dan Loka
tiada henti
Dapat pahala sudahlah
pasti
Hidup senang di akherat
nanti
Ayo Pusy jangan
berhenti
Terus joget sampai
pagi
Kalu lapar makan
roti
Lepas itu minum
kopi ….
La la la la …
La la la la …
Pusy saya suka bercanda
Lola saya suka tertawa …”
Plak .. pak .. plak .. pak …
Sambil berjoget, giliran Mr Bram yang bernyanyi …
“Mari Pusy kita makan
Banyak lauk di meja
makan
Ada kerupuk ada
sayuran
Dimakan sekenyangan
Mari Lola kita
jalan
Biar kita
sehat badan
Badan sehat
lemak makan
Makan banyak
tinggi badan
La la la la …
Pusy saya
memang hebat
La la la la
…
Lola saya
memang cantik
Bikin saya
tak berkutik
La
la la la …
La
la la la … “
Karena bersifat medley, belum habis satu tembang
didendangkan, sudah disusul suara emas Mpok Surti yang riang jenaka menyanyikan
tembang kesukaannya …
“ Bangun Pusy bangun Lola
Bantu Mpok siapkan
sarapan
Agar Tuan dan Nyonya
bisa tertawa
Tengok kalian sudah
berdandan
Jangan tidur wahai Pusy
Tak baik ditengok
Mpok Surti
Teman kamu selama
ini
Yang baik suka
memberi
Jangan
melamun wahai Lola
Nanti kamu
cepat tua
Kucing
lanang tak bakalan suka
Bisa-bisa
kamu perawan tua …”
La la
la la …
Li li li li …
La la
la la …
Li li
li li …
Lola Pusy yang baik hati
Bikin Mpok
enggak keki
Lola Pusy memang bagus
Bikin Tuan tidak kurus
Lola Pusy memang hebat
Bikin Nyonya tambah sehat
La la la la …
Li li li li li …
La la la la …
Li li li li … “
Puas berjoget dan berdendang, Mpok Surti, Mr Bram dan isteri
duduk bersila, sedangkan Pusy dan Lola duduk berdekatan di tengah ruangan.
Tampak mesra nian dengan raut muka ceria ditingkahi gerak gerik lucu ekor
keduanya.
Selanjutnya?
“Kita potong kue Mas Bram.” Kata Sang Isteri. Meminta Mpok
Surti mengambilkan kue ulang tahun yang disimpan di lemari dapur.
“Seperti apakah kuenya Ma?” Tanya Mr Bram sambil minum air
putih dingin. Lega rasanya kerongkong an ini. Basah, tak kering lagi seperti
tadi.
“Sabar ya Mas.” Jawab Sang Isteri tersenyum simpul.
Tak lama kemudian Mpok Surti tiba. Dia membawa kotak
berukuran sedang bermotifkan bulu kucing. Kotak itu berisi kue khusus merayakan
kemenangan Pusy. Warnanya cokelat dan putih susu. Di tengah nya tertulis nama
Pusy dan Lola.
Waaaa …
Haaaa …
Mata Mr Bram terbelalak kaget. Tak sangka isteri tercinta
sangat memperhatikan Pusy dan Lola. Pa
dahal dia tak pernah cerita, apalagi tengok Sang Isteri menyiapkan kue untuk
Pusy.
“Dipesan Mas,” kata Mrs Bram sumringah.
“Kapan Ma? Papa enggak tahu,” ujar Sang Suami. Ingin rasanya
dia mencicipi kue itu barang sedikit. Tapi keinginan itu terpaksa ia urungkan
karena kuatir mengganggu kenyamanan Pusy dan Lola.
“Belum lama Mas. Dipesan di tempat pembuatan khusus kue,”
jawab Sang Isteri. Kue itu ia letakkan di atas meja kecil lengkap dengan piring
kecil dan pisau untuk memotongnya.
“Siapa yang duluan?”
“Pusy dong Mas,” kata Sang Isteri.
Meja kecil itu diletakkan di tengah ruangan. Lalu
menggendong Pusy mendekati meja marmer itu. Se dangkan Lola menunggu manis di
lantai berhambal. Matanya tak jua berkedip melihat peristiwa yang baru pertama
kali dilihatnya itu.
“Bismillahirrohmanirrohim,” ucap Mrs Bram. Ia bantu Pusy
memotong kue ultah itu dan berhasil.
Pusy didudukkan di hambal dengan kue di atas piring kecil di
dekatnya. Giliran Lola. Mpok Surti yang membantunya memotong kue lezat dan
nikmat itu.
Ngeooong …
Lahap nian Pusy menyantap kue berwarna-warni itu. Begitu
juga dengan Lola. Hanya dalam hitungan detik kue pesanan itu habis disantap.
Ha ha ha ha …
“Emangnya itu kue bahannya apa dong Ma?” Heran Mr Bram.
Biasanya, sesuka-suka hewan piaraan dengan kue, tak secepat Pusy dan Lola makan
sore hari ini.
Bahan apa ya?
Ha ha ha ha …
“ Pantesan habis. Bahannya dari ikan belido,” kata Mr Bram
ketawa lebar.
Tak ingin mengecewakan Pusy yang berhasil menyabet juara
pertama lomba kucing beberapa hari yang lalu, dan kendati belum pernah
sekalipun menyantap kue berbahan ikan terkecuali pempek dan model ikan, Mr Bram tetap duduk manis dan menyantap
kue bersama Pusy dan Lola.
XIII
Tidak ada komentar:
Posting Komentar