Jumat, 10 Maret 2017

Pusy Cat (5)





Cerita Berseri

Pusy Cat (5)
Edisi Kelima
Oleh Wak Amin


XIII
“LOLA .. Lolaaa!” Sambil berkeliling dari depan ke belakang, Mpok Surti mencari Lola yang sedari tadi tak kelihatan batang hidungnya.
Kemana dia?
Padahal Pusy ada. Tengah duduk manis di sofa ruang tamu. Mpok Surti heran, biasanya dimana ada Pusy pasti disitu ada Lola. Begitu juga sebaliknya. Ada Lola, di dekatnya pasti ada Pusy.
Tapi sejak kemarin malam, hanya Pusy seorang yang tidur di kamar Mpok Surti. Dicari ke kamar Nyonya tak ada. Karena sibuk merapikan rumah, Mpok Surti tak begitu memperdulikannya. Karena bisa saja lagi menyendiri di teras atau taman belakang rumah.
Namun, ketika ada waktu senggang keesokan harinya, Mpok Surti penasaran lagi. Dia melanjutkan pencariannya. Kali ini ia minta bantuan Pusy. Herannya Pusy tak mau.
Kenapa ya?
Pusy hanya duduk manis di pangkuan Mpok Surti.  Dia tak ingin perempuan murah hati ini pergi mencari Lola. Karena dia juga sudah mencarinya ke setiap sudut rumah, Lola tak berhasil diketemukan.
Mpok Surti terenyuh juga melihat Pusy menatapnya sendu. Tampak matanya berkaca-kaca. Sayang tak bisa berkata sepatah kata. Andaikata bisa, tentulah bisa tahu apa yang dirasakan Pusy saat ini.
“Pusy!” Bisik Mpok Surti. Setelah mencium lembut pipi kucing kesayangan Sang Nyonya itu, Pusy turun sambil melompat dari pangkuannya. Dia berjalan menuju pintu depan.
Mpok Surti mengikutinya dari belakang. Dengan cekatan Pusy membuka pintu rumah. Lalu keluar dan duduk di kursi teras. Lepas itu dia berlari menuju pintu pagar. Mpok Surti menyusul dari belakang.
Dia baru mengerti sekarang.
Bukankah Nyonya dan Tuan sedang tidak berada di rumah saat ini?
Mpok Surti menggendong Pusy, kembali ke teras. Setelah itu masuk rumah, mengunci pintu sebelum masuk ke kamarnya. Mencari  hapenya di laci lemari, tapi tak diketemukan.
Ngeooong …
Pusy menggigit hape. Lalu memberikannya kepada Mpok Surti.
He he he he …
Mpok Surti ketawa geli. Dia menertawai dirinya sendiri. Belum tua sudah pelupa. Ternyata Pusy lebih ingat ketimbang dia.
“Ma kasih ya sayaaang …”
Pusy mencium-cium bodi hape, mengisyaratkan Mpok Surti segera menelepon Mrs Bram. Sang Nyonya dan Tuan tadi diam-diam memang mengajak serta Lola. Sambil mengantar suaminya kerja, perempuan muda anggun ini mampir ke dokter hewan.
Ada apa?
Memeriksakan kesehatan Lola. Mrs Bram menduga kucing kesayangan suaminya itu tak enak badan. Sepanjang malam selalu mengeong. Padahal selama ini, jangankan mengeong, kalau sudah di kamar pasti diam dan tak banyak ulah.
Kemarin malam Pusy dan Lola tidur terpisah. Pusy tidur di kamar Mpok Surti, sedangkan Lola baringan bersama Mr Bram dan isteri. Pusy tidurnya nyenyak sekali. Tidak mengeong sepanjang malam.
Sebaliknya Lola justru beruba.  Sering turun naik dari tempat tidur. Mengeong dan gelisah. Sebentar ke dekat mukanya Mr Bram, sebentar lagi duduk manis di samping Sang Nyonya.
“Mas Bram …”
“Mas Bram …”
“Mas Bram …”
Ketika Lola sembunyi di bawah meja rias , Mrs Bram  membangunkan suaminya. Dia membisikkan sesua tu di telinga suaminya itu. Lalu keduanya memandang lekat ke bawah meja jati berkaca bening itu.
“Sakit kali ya Mas?”
Mr Bram tak langsung percaya. Dia mengajak isterinya turun dari tempat tidur. Pelan-pelan, jangan sam pai ketahuan Lola yang rebahan sambil pejamkan mata.
“Mas … Mas!” Sang Isteri mengingatkan. Pasalnya di dekat kaki Mr Bram ada kursi. Kalau tersentuh bisa ketahuan. Lola pasti terkejut dan bangun.
“Sebelah sini say …” Bisik Mr Bram. Melihat isterinya ingin mendahuluinya dari sebelah kanan, dicegah nya agar mendekat saja ke kakinya.
Ssssst …
Jari telunjuk Mr Bram menempel ke mulut Sang Nyonya. Pertanda diam. Melihat dan menunggu saja apa gerangan yang dilakukan Lola.
Lola masih memejamkan mata. Dua menit tak bangun, tiga menit berselang bertambah pulas. Lima me nit kemudian Mr Bram memberanikan diri mendekati Lola.
Tak ada reaksi. Kedua suami isteri ini pun sepakat untuk menggendong Lola. Mulanya Mr Bram yang coba menarik pelan badan Lola. Tapi tak bisa karena badannya ‘ngepas’ masuk kolong meja. Dia me ngurungkan niatnya.
Gantian Sang Isteri. Walaupun harus bersusah payah, pada akhirnya bisa menarik badan Lola, lalu meng gendongnya dengan penuh kasih sayang dan kelembutan.
“Panas Mas Bram,” ucap Sang Isteri dengan raut muka cemas.
“Ah, yang benar Ma?” Mr Bram tak percaya.  Setahu dia kucing itu tak pernah demam. Kalau pun de mam, hanya batuk-batuk kecil. Flu kucing kata orang kebanyakan menyebutnya.
“Bawa ke dokter ya Mas?!”
“Besok ajalah. Udah malem nih. Ini kan hewan, ya dokter hewan lah.”
“Rumah sakit  biasa apa enggak bisa Mas?”
“Setahuku tidak Ma.”
“Ah masa?”
“Buktinya kebanyakan yang dibawa berobat ke rumah sakit itu kan manusia. Orang. Kalau hewan setahuku ya dokter hewan …”
“Jadi gimana selanjutnya Mas Bram?”
“Tunggu besok lah ya.” Setelah mencium kening isterinya, Mr Bram tidur lagi karena ia memang mengantuk berat.
Mrs Bram meletakkan Lola di lantai beralaskan karpet dengan kepala ditaruh di atas bantal kecil, diselimuti agar tak kedinginan. Kepalanya dikompres dengan air hangat.
Setelah itu dia pergi ke kamar mandi. Kemudian mencuci tangan, muka dan kaki. Ia merebahkan tubuhnya di samping suaminya yang sudah terlelap.
Keesokan harinya, atas inisiatif Mrs Bram, dibawalah Lola ke dokter hewan. Lama juga ia menemani Lola diperiksa dokter hewan. Hampir satu jam.
Sang dokter bukan cuma memeriksa kesehatan Lola, tapi juga menyeluruh. Mulai dari kuku, kaki hingga bulunya yang indah memesona itu. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi berjangkitnya virus yang tentunya sangat mengganggu kenyamanan kucing beraktivitas sehari-hari.
Sang Dokter tidak menemukan penyakit yang serius pada Lola. Hanya demam biasa. Setelah disuntik dan diberi obat, Lola diperbolehkan pulang. Mrs Bram senang mendengarnya. Walaupun masih dalam tahap perawatan, Pusy pasti sudah tak sabar menunggu kepulangannya di rumah.
Hanya Sang Dokter mengingatkan buat sementara Lola tak usah dulu berdekatan dengan Pusy, termasuk Mpok Surti, Mr Bram dan isteri. Selain memudahkan perawatan, menghindari menularnya penyakit de mam yang dialami Lola.
Mulanya, Pusy merajuk karena tak boleh dekat-dekat dengan Lola. Tapi setelah diberi pengertian de ngan isyarat bahasa kucing, oleh Mpok Surti, lambat laun dia menerimanya dengan senang hati.
Setelah disepakati, Lola dirawat di taman belakang. Selama ini aman dan udaranya sejuk ketimbang di dalam rumah. Pasti Lola akan dengan mudah tidur. Tanpa terganggu kehadiran Pusy dan Mpok Surti.
Ketika Mr Bram tiba di rumah setelah pulang dari tempatnya bekerja, usai mencium hangat pipi isteri nya, dia menemui Lola di taman belakang rumah. Seolah tahu dengan kehadiran tuannnya, Lola pun bangun dari tidurnya.
Ngeoooong …
“Mas!” Mrs Bram mengingatkan pesan dokter bahwa jangan terlalu dekat dulu dengan Lola sebelum penyakitnya sembuh.
“Apa kata dokter lagi Ma?”
“Enggak ada. Cuma itu Mas.”
 Mr Bram, dari balik kandang, melepas senyum dan menyebut-nyebut nama Lola. Tentu saja Lola sena ng. Meski masih dalam keadaan sakit, dia berusaha menyenangkan hati tuannya dengan menggeliat-geliatkan tubuhnya di lantai beralaskan tikar.
Ha ha ha ha …
Lola mengibas-ngibaskan ekornya, lalu berjoget-joget di hadapan Mr Bram dan isteri yang tertawa geli menyaksikan kelucuannya beraksi di dalam kandang kucing terbikin dari besi itu.
“Udah ya Lola. Selamat bobok …” Ucap Mrs Bram melambaikan tangan mengajak suaminya bertukar pakaian dan beristirahat sejenak di kamar sebelum santap malam.
Usai bersantap malam. Setelah kembali ke kamarnya masing-masing, Pusy rupanya penasaran dengan Lola, temannya sepermainan. Sambil mengendap-endap, dia keluar dari pintu kamar Mpok Surti.
Kemana dia?
Rindu tak tertahankan. Sejak kedatangan Lola tadi, Pusy belum sempa berkomunikasi dengan teman se kamarnya itu.  Ingin rasanya dia memeluk Lola. Semalam tidak tidur bersama berat rasanya. Bukan apa-apa. Karena su dah terbiasa berdua.
Sejak kehadiran Lola, gairah hidup Pusy semakin meningkat. Makan banyak, badan segar dan bugar, ser ta selalu riang gembira karena tak henti-hentinya berkejar-kejaran dengan Lola se panjang pagi, siang dan sore hari.
Pusy tak ingin gairah hidupnya kembali  ‘down’ setelah Lola sakit. Dia ingin Lola cepat sembuh. Makanya dia nekat menemui Lola untuk menghiburnya, memberinya semangat hidup. Paling tidak cepat sembuh dan bisa bermain  kembali.
Ngeoooong …
“Lolaaa!”
Lola terbangun dari tidurnya. Dia melihat ke sekitar. Tidak ada siapa pun di sana. Tapi sepertinya suara Pusy tadi. Dia ingat betul suara itu.
Nyeeet …
Kriiiiik …
Pintu terbuka …
“Lola sayang!” Sapa Pusy. Sebelum Lola menjawab sapaannya, ia lebih dulu menempelkan mulutnya ke dinding kandang.
“Apa kabar sayang?”
Ngeoooong.
“Kabar baik wahai Pusy,” jawab Lola malu-malu karena harus dirawat di dalam kandang.
“Semoga lekas sembuh ya sayang …” Ucap Pusy dengan suara pelan. Dia pandangi lekat mukanya Lola. Sebaliknya Lola hanya menunduk.
“Pusy. Cepatlah kembali, nanti ketahuan Tuan dan Nyonya,” kata Lola mengingatkan karena jika ketahu an Tuan dan Nyonya bakal kena marah.
Ngeooong …
Plak .. pak .. plak ..  pak …
Mpok Surti bertepuk tangan, diikuti Mr Bram dan isteri. Menepuki Pusy lagi berduaan dengan Lola.

                                     “Yeee duaan pasang lampu tigaan
                                       Pusy rupawan si Lola menawan

                                       Ye duaan masuk kamar gendongan
                                       Makan ikan rebusan
                                       Akhirnya gocohan …”

“Yeeee … yeeee …”
Plak .. pak .. plak .. pak …


XIV
KETIKA berjalan-jalan ke pantai, mobil sedan yang disopiri Mr Bram dikuntit dari belakang oleh dua se peda motor. Mulanya tak begitu mencolok. Namun ketika mobil belok kanan menuju jalan menanjak, empat lelaki berhelm itu mempercepat laju motor mereka.
“Hati-hati Mas!” Mrs Bram mulai kuatir karena suaminya semakin mempercepat laju mobil dari semula berkecepatan enam puluh, kini mendekati seratus.
“Pegangan yang kuat ya Ma.” Pesan Mr Bram.
Dia membelokkan mobilnya ke kanan saat jalan menurun. Melewati jalan tanah yang di kanan kirinya ditumbuhi pepohonan cemara dan pinus.
Syiiiiiit …
Mr Bram menghentikan laju mobilnya. Bersembunyi di balik semak belukar. Dia sengaja menunggu dua sepeda motor itu lewat. Tapi sampai lima menit ditunggu belum terlihat batang hidung pengendara mo tor itu.
Kenapa?
Keempat pria tinggi tegap itu sengaja mematikan mesin motor.   Sambil menunggu Mr Bram dan mobil yang dikendarainya terlihat dari jalan. Sebab, mereka menduga Mr Bram tak jauh dari tempat mereka berhenti sekarang ini.
“Tunggulah sebentar,” kata Ran, sang bos pada anak buahnya Win yang sudah tidak tahan ingin segera mendapatkan uang banyak dengan merampok Mr Bram.
“Mereka orang kaya, saya tahu itu. Tak mungkin tak bawa duit. Tunggu apalagi, Bos.” Kata Vid, geram sambil menepuk nyamuk hitam keputih-putihan yang beberapa kali singgah di tangannya, dan sempat beberapa kali menggigitnya.
“Tunggu dia keluar,” jawab Sang Bos meyakinkan. “Saat keluar itulah kita kejar mereka.”
“Kalau tetap tidak keluar Bos?” Sin yakin Mr Bram bukan orang sembarangan. Dia pasti berpikir seribu kali untuk keluar dari persembunyiannya.
Ngeooong …
Lola mengeong. Namun secepatnya Mpok Surti  memeluknya agar tidak mengeong lagi.
“Kau dengar barusan kan Vid?”
“Enggak Sin,” jawab Vid yang memang tidak mendengar suara apa pun di sekitar mereka berdiri saat ini.
“Kucing,” kata Sin. Kucing mengeong. “Tak salah lagi aku. Kupingku biasanya tak salah kalau untuk uru san dengar mendengar …”
“Ah, egois lu,” sebut Win membuang rokoknya ke bawah pohon kayu.
“Benar.” Sin tetap bersikeras yang dia dengar barusa adalah suara kucing. Tak salah lagi.
“Ya sudah,” potong Ran. Tak ingin teman-temannya itu berkelahi hanya gara-gara suara kucing menge ong. “Sekarang coba tunjukkan kepada kami Sin, dari arah mana suara itu berasal …!”
“Disana Bos!” Sin menunjuk sebuah batu besar yang sudah menyemak.
“Coba kalian berdua periksa sana,” perintah Ran pada Sin dan Win. Mungkin saja benar, dan jika me mang benar, selesailah tugas mereka ini.
Ha ha ha ha …
Ran ketawa sendiri. Vid yang duduk di sebelahnya juga ingin ketawa sebenarnya. Namun tak bisa karena tak pula tahu apa yang akan ditertawakan.
“Bagaimana?”
Sin dan Win sama-sama menggelengkan kepala. Sang Bos agak kecewa. Tapi dia yakin anak buahnya itu tidak berbohong padanya. Mereka kini harus mengatur strategi baru. Caranya? Mereka duduk lesehan dulu.
Syuuuur …
Reeen …
Pin .. pin …
Sebuah mobil sedan meluncur dari semak belukar dekat batu besar. Tentu saja kemunculannya yang tiba-tiba itu mengagetkan empat penjahat muda usia ini. Mereka tampak geram dan marah besar ka rena merasa telah kena tipu daya Mr Bram.
“Setan alas.” Umpat Ran.
Kletek …
Kletek …
Ren .. ren .. ren …
Mereka segera mengejar mobil sedan keluaran terbaru itu. Mereka tak melihat sebenarnya di belakang mereka juga ikut mengejar Pusy dan Lola.
Pusy dan Lola menumpang mobil pick up yang sempat berhenti di pinggir jalan karena pengemudinya mengganti ban depan yang pecah.
Tanpa sepengetahuan si pengemudi, keduanya melompat cepat ke bak belakang yang memang kosong, tak memuat  barang bawaan. Tadinya diisi sembako untuk diantar ke pelanggan. Pulangnya melenggang kangkung. Bak belakang kosong, uang dapat dan santai dengan mobil tetap melaju dengan kecepatan se dang.
Dimana Mr Bram?
Pusy dan Lola melihat tuannya itu masih berkejar-kejaran dengan empat penjahat tadi. Mereka tidak melalui jalan raya beraspal, tetapi melewati  jalan tanah yang dinaungi aneka pepohonan dan semak belukar di kanan kirinya. Pusy dan Lola hanya berharap majikannnya itu selamat dari kejaran empat begundal itu.
“Tapi Pusy … kita tak boleh tinggal diam. Kita harus berbuat sesuatu,” kata Lola, kuatir sekali ia.
“Sesuatu apa?”
“Apa saja …”
Pusy ketawa.
“Kenapa tertawa Pusy?”
“Sejak kita turun dari mobil Tuan tadi aku sudah tahu harus berbuat apa.”
“Lho .. kenapa enggak bilang-bilang dari tadi sama aku.”
“Surprise aja buatmu Lol. Enggak marah kan?”
Lola mengeong.
“Lepaskan tembakan saja Bos,” bisik Win dari belakang. Ran yang membonceng sempat kepikiran juga mau menembak, tapi takut terdengar warga.
“Matilah kita kena keroyok,” kata Ran sambil menambah kecepatan motornya, dari sedang kini melaju sangat kencang.
Berbeda dengan Sang Bos, Vid justru sudah tidak sabar menembak mobil incarannya itu. Supaya tidak berlarut-larut, capek dan pegal seluruh anggota badan, Mr Bram bisa jadi lepas dari kejaran.
“Tapi sebaiknya ngomong dululah sama Bos,” bisik Sin, agar tak salah paham. Soal tepat sasaran atau tidak tembakan yang dilepaskan itu nantinya, tak jadi masalah.
“Terserah kaulah caranya.” Akhirnya Ran mengizinkan anak buahnya itu melepaskan tembakan dengan catatan dari jarak yang tidak terlalu jauh.
Kejar-kejaran masih terus berlangsung. Saat Mr Bram hendak memasuki jalan raya, saat itulah terdengar letusan keras yang mengarah ke ban mobilnya.
Mobil masih melaju, tapi sudah oleng karena  ban belakang sebelah kanan pecah kena dor. Ketika mem perlambat kecepatan terdengar tembakan lagi. Kali ini mengenai ban belakang sebelah kiri.
Mobil oleng sebelum akhirnya terbalik. Empat penjahat tadi berusaha mendekati. Namun tanpa mereka duga sebelumnya, Lola dan Pusy melompat dan berhasil melukai Ran, menjatuhkan pistol kecil dari geng gaman Vid.
Pistol itu ditangkap Pusy. Lalu dibawanya lari kencang, diberikan kepada tuannya yang berhasil keluar de ngan selamat dari dalam mobil.
Setelah itu, Pusy membantu Lola ‘menumpas’ Ran dan Win. Pistol yang hendak diletuskan Sang Bos, sukses dirampas Lola dengan cara melompat sambil menjatuhkannya ke tanah.
“Bawa lari La,” kata Pusy. Dia lengah, berhasil ditangkap Ran. Lalu dilemparnya ke bawah pohon.
Guuuup …
Bruuuk …
Ngeooong …
Pusy pingsan. Lola, setelah membawa lari pistol dan diberikannya kepada Sang Nyonya, kembali mene mui  Pusy. Dia tak ingin Pusy cedera. Dia sempat melihat teman serumahnya itu ditangkap Ran. Namun setelah itu dia tak tahu menahu lagi nasib Pusy selanjutnya.
Ngeooong …
Pusy belum juga sadar. Lola mendekatinya. Ia mencium-cium mukanya Pusy. Belum juga ada tanda-tanda bakal siuman. Lola duduk sejenak. Lepas itu dia menemui majikannya.
Mr Bram dan isteri berhasil melumpuhkan empat penjahat itu. Mereka diikat di bodi sepeda motor, agar tak bisa melarikan diri.
Mpok Surti yang tahu dengan isyarat yang diberikan Lola, berlari menemui Pusy yang masih tak sadar kan diri.
“Pusy …”
“Pusy …”
“Pusy …”
Pusy pun digendong. Setelah berada dalam gendongan Mpok Surti, Pusy berangsur-angsur sadar kem bali.
Ngeooong …
Dibalas Lola dengan mengeong pula.
“Sini sama Nyonya ya sayang,” ucap Mrs Bram, dengan penuh kasih sayang menggendong Lola yang keki melihat kelakuan Pusy yang bermanja-manja dengan Mpok Surti.

XV
“PUSY …!” Lola mendekati  sebuah bak sampah besar di depan  salah satu gedung perkantoran yang hari itu tutup karena bertepatan dengan hari libur.
Ngeooong …
Lola menciun-cium jejak kaki Pusy. Dia tahu Pusy pasti ada di sekitar bangunan megah itu. Cuma dima na, dia tak tahu persis karena hingga kini belum diketemukan keberadaannya.
Ia beristirahat sebentar. Duduk manis dekat bak sampah. Dia menoleh ke atas gedung. Megah nian. Tapi sepi. Tak seorang pun yang terlihat mondar-mandir di depan gedung.
Sementara petugas keamanan gedung berjaga-jaga di dalam gedung. Suasana di dalam jauh berbeda dengan di luar gedung. Selain lantainya berkarpet warna-warni, suhu di dalam gedung sangat sejuk ka rena ada pendingin ruangan.
Dari dalam gedung kita bisa menyaksikan keadaan di luar. Orang lalu-lalang, kendaraan roda dua dan empat parkir berbaris serta aktivitas petugas parkir yang mengatur keluar masuk ruangan gedung ber lantai tiga puluh tujuh itu.
Petugas keamanan juga bisa leluasa  menyaksikan Lola dari dalam gedung. Mereka yang jumlahnya lebih dari tiga orang itu tampak senyum-senyum saja. Namanya juga hewan kucing, mereka tak pula hiraukan. Anjing pun yang acapkali mampir di bak sampah, mereka biarkan sepanjang itu tidak mengganggu ke amanan dan kenyamanan mereka yang  beraktivitas dan keluar masuk gedung.
Guk … guk .. guk …
Seekor anjing besar mendekati gedung dimana Lola beristirahat disitu. Berjalan lambat. Sambil menci um-cium tanah dan mendekati kotoran yang terserak di sepanjang parit, si anjing betina itu menghen tikan langkahnya ketika melihat Lola.
Lola yang semula santai berpikir bagaimana menemukan Pusy, tersentak kaget. Dia tahu, dari tatapan matanya, si anjing  bakal mengusik ketenangannya.
Guk … guk … guk …
Benar saja. Si anjing menyalak. Menjulur-julurkan lidahnya hendak menggigit Lola. Dengan cekatan Lola melompat ke atas bak. Dikejar anjing. Karena terlalu bernafsu melompat, Lola tak dapat. Si anjing malah masuk ke dalam parit dekat bak sampah.
Hitam semua badannya. Kena air parit berwarna hitam. Saat itulah, Pusy keluar dari persembunyiannya, menyelinap ke bak sampah, lalu berlari kencang menyusul Lola.
Ngeooong …
“Lolaaa … Tungguuu!”
Teriakan Pusy menghentikan langkah kaki Lola. Dia menoleh ke belakang. Dia sangat gembira dan berm aksud mendekati teman sepermainannya itu. Tapi hal itu ia urungkan karena di belakang Pusy, si anjing tadi mengejarnya dengan berlari sangat kencang .
“Di belakangmu Pusy …” Teriak Lola. Kasihan dan merasa kuatir dengan keselamatan Pusy. Andaikata dia berhasil dikejar si anjing, tentulah babak belur dan jadi bulan-bulanan anjing karena kena gigitan dengan badan yang jauh lebih besar.
“Cepaaat …!” Sambil berteriak Lola mempercepat larinya. Namun secepat-cepat ia berlari, masih kalah cepat dengan larinya anjing. Ia merasakan itu. Makanya dia berharap Pusy bisa menempuh jalan pintas yang lebih kecil yang memungkinkan si anjing tidak leluasa lagi mengejar mereka.
Sreeeeet …
Pusy mengerem. Lalu belok kanan. Memasuki sebuah lorong kecil yang diapit perumahan warga di ka nan kirinya. Dia terus berlari.  Begitu juga dengan anjing yang harus bersusah payah mengejar Pusy ka rena sempitnya gang kecil itu.
Ke mana Lola?
Dia juga belok kanan. Memasuki gang sempit hanya seukuran orang berbadan kurus. Dia terus berlari sampai ke ujung gang. Di sini ada jalan tanah yang bisa dilalui kendaraan roda dua.
Lola memperlambat larinya. Kemudian dia memutuskan untuk  berjalan saja sambil menunggu Pusy. Sekitar lima menit dia sampai ke mulut gang dimana Pusy berlari menyelamatkan diri.
Ngeooong …
“Pusy!”
Teriakan Lola ini menambah semangat Pusy untuk lebih mempercepat larinya. Tak hiraukan batu kerikil di depan, ia mempercepat larinya, sampai akhirnya bersua Lola dari dekat.
“Cepat Pusy.”
 Lola memutuskan untuk menaiki sampan yang ditambatkan di dekat tiang pinggiran sungai kecil. Tak ada orang di sana, keduanya leluasa melepaskan tali tambatan.
Sampan melaju pelan ke tengah. Tak lama kemudian si anjing tiba di mulut gang dengan nafas turun naik amat kencang.
Guk .. guk .. guk …
Uuuukh .. uuuukh .. uuuuukh …
Si anjing berubah murka. Dia berlari turun ke pinggiran sungai. Dia hanya berlari mondar-mandir di tepi an sungai. Tak bisa mengejar Pusy dan Lola. Karena tidak ada lagi sampan selain sampan yang dinaiki sepasang kucing piaraan Mr Bram.
“Kasihan deh lu,” ucap Pusy, lega melihat anjing bengon sendiri , tak tahu hendak kemana dia mengejar seterunya itu.
He he he he …
Lola ketawa lebar.
“Tunggu aja disitu, Jing.” Pekik Lola. Dia berharap si anjing tak bisa lagi mengejar mereka.
Ternyata si anjing nekat juga. Dia memutuskan berenang ke dalam air. Karena belum begitu jauh ke tengah sungai, masih ada harapan terkejar.
Pek .. pek …
Krepek .. krepek …
Anjing terus berenang. Sedangkan Lola dan Pusy mulai ketar-ketir. Tak sebanding dengan lajunya sam pan. Sebab, kekuatan mereka berdua mengayuh terbatas sementara si anjing jauh lebih cepat.
“Gimana nih Pus?” Lola mulai ketakutan.
“Tenang sayang,” kata Pusy menenangkan hati Lola yang mulai tidak tenang. Padahal dia sendiri justru tidak tenang karena masih bingung apa yang harus diperbuat.
“Kamu punya ide Lol?”
Lola berpikir sebentar …
“Kita pentung saja dia dengan pengayuh ini,” bisik Lola. Yakin dengan hanya sekali pentung kepala anjing langsung pusing dan pingsan dalam air.
Bisakah?
Bisa memang.  Sampai tiga kali pentung, tentu tak sekuat pentungan yang dilakukan manusia, tidak begi tu dirasakan oleh anjing. Dia terus mendekat.
Huuup …
Tangannya mulai menyentuh pinggiran sebelah kanan sampan. Sampan miring ke kiri, Pusy tak tinggal diam. Dia menggigit tangan anjing, mengaduh kesakitan.
Guuuuk …
Lola berhasil mencakar kepala anjing yang mulai menyentuh pinggiran sampan. Entah kenapa, si anjing tiba-tiba menghilang.
“Awas Pusy …!” Lola mengingatkan karena bukan tidak mungkin anjing masih hidup dan bersembunyi di bawah sampan.
Byuuur …
Guuuk …
Kepala anjing nongol dari permukaan air sungai. Lola panik. Lalu terjatuh ke dalam air. Dikejar anjing, namun keburu ditarik Pusy tangan Lola, sehingga sudah berada di atas sampan lagi.
“Auuuw Pusy!”
Lola menjerit kesakitan setelah ekornya dipegang anjing. Masih melilit di ‘bibir’ sampan, Pusy memban tunya dengan mementung kepala anjing dengan pengayuh. Tidak keras memang. Tapi ekornya Lola ter lepas dari cengkraman si anjing.
“Cepat kayuh Pus!”
“Di depan aku,” kata Pusy. Jangan terlalu pinggir karena akan dengan mudah anjing mencederai kita, nasehat Pusy.
Sampan terus ke tengah. Keduanya tak lagi menengok ke belakang. Lurus ke depan. Ingin secepatnya sampai di seberang.
“Sepertinya ada orang di sana,” kata Lola merasa senang. Jika mereka selamat sampai seberang pastilah anjing bakal takut mengganggu mereka lagi.
Guuuuk …
Entah dengan cara apa, si anjing sudah berada di atas sampan. Pusy dan Lola segera terjun ke dalam air. Anjing hanya bisa melongo. Dia tidak mengejarnya karena sudah menggigil kedinginan lantaran terlalu lama di dalam air.
Guk … guk .. guk …
Gantian anjing yang mengayuh sampan. Menyusul dan berhasil mendekati Pusy dan Lola yang terus be renang. Badan mulai kedinginan, nafas mulai berat dihela.
“Sudahlah .. menyerah sajalah.” Bujuk si anjing ketawa mengejek.
“Sorry ya,” jawab Lola cemberut.
“Ayolah sayang. Kalau kamu mati gimana dong?” Goda anjing dengan suara mendesah merayu.
“Dikubur dong Jing.”
“Dimana?”
“Dimana saja,” kata Lola mulai kesal. Ingin rasanya dia melompat naik ke atas sampan itu. Tapi melihat Pusy jauh darinya,  berisiko besar. Anjing akan dengan mudah menjinakkannya.
Akhirnya Lola memutuskan mengejar Pusy. Anjing kecewa berat. Bukan soal tangkap menangkap, tapi Lo la sudah meremehkannya. Perasaannya meradang. Dia ingin melumat habis Pusy. Karena menurutnya Lola lebih tertarik pada Pusy ketimbang dirinya.
Guuuk … guk .. guk ..
Tanpa terasa sudah hampir mendekati daratan seberang sungai. Lola dan Pusy mempercepat renang mereka agar bisa dilihat sekumpulan anak-anak yang sedang mandi di tepian sungai.
“Mad. Lihat!” Tunjuk seorang anak berkepala gepeng pada rekannya.
“Kucing?” Ahmad seolah tak percaya. Ramai-ramai mereka berenang, mengamankan Lola dan Pusy dari kejarang seeekor anjing.
“Cepat sedikit!” Teriak anak bertelinga lebar.
Mereka sepakat, setelah menyelamatkan Pusy dan Lola, kemudian melepaskannya, dan membiarkan anjing menggigil kedinginan di atas sampan yang terbalik.
Sampan itu sengaja mereka balikkan. Kemudian memberi kesempatan pada anjing untuk naik. Lalu sam pan itu dihanyutkan ke tengah sungai.
Guk … guk … guk …
Guk .. guk .. guk …
“Sy, coba kau tengok anjing itu,” bisik Lola seraya menghadapkan mukanya ke tengah sungai. Anjing du duk lemas di atas sampan yang terbalik. Dibawa hanyut air sungai yang mulai pasang.


   

  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar