Serial Ki Ogan
Pulau Harimau (3)
Oleh Wak Amin
"MAAF Pak. Bisa turun sebentar?" Sapa polisi ganteng berkulit sawo matang.
"Baik Pak. Kami segera turun," jawab Pedro. Bersama Thomas, keduanya diminta petugas ke pos jaga darurat dekat sebuah rumah tinggal.
Karena merasa kasihan, sopir truk mematikan mesin. Dia tak tega menjalankan truk sendirian.
"Saya turun jugalah," bisiknya da lam hati. Dia menyusul ke pos jaga.
Pedro dan Thomas ditanyai. Setelah itu diizinkan pergi. Tidak ada pesan khusus buat keduanya. Hanya meminta untuk hati-hati dan pandai menjaga diri selama dalam perjalanan.
Kepada pengemudi truk, Thomas meminta maaf karena telah ikut menyusahkan orang lain. Perjalanan menjadi terganggu.
"Sudah biasa saya Pak," aku si pengemudi. "Terkadang sampai beberapa jam lamanya mobil kita diberhentikan. Dusuruh pinggirkan. Tapi alhamdulillah lancar-lancar saja."
"Syukurlah ... Kami ikut senang," kata Thomas.
"Eeeem ... Ngomong- ngomong, sampai kelupaan saya bertanya. Tapi mohon maaf. Bukan apa-apa. Ijin dulu ..."
"Tak apa-apa Pak. Mau tanya apa Pak. Silakan ...!"
Pedro berharap pertanyaan yang diajukan si pengemudi tidak menyangkut masalah pribadi dia dan rekannya Thomas.
"Bapak berdua ini mau kemana sebenarnya?"
"Oooo ..."
Ha ha ha ha ...
"Ke tempat saudara, Pak. Kami sudah lama tidak bersua. Sejak masih bayi," aku Pedro sambil menyulut rokok. Sudah lama ia tidak merokok.
"Kangennya pasti enggak bisa dibayangkan Pak. Saya saja tak bisa bayangkan apa yang terjadi kemudian setelah bapak ketemu dengan saudara bapak itu."
"Saya juga begitu Pak," sahut Thomas. "Yang jelas terharu melihat mereka."
Ha ha ha ha ...
Tanpa terasa, truk sudah memasuki sebuah perkampungan. Pedro dan Thomas meminta berhenti. Mereka akan turun dan buat sementara tidak meneruskan perjalanan lagi.
Ada beberapa warga yang melihat Thomas dan Pedro turun dari mobil truk. Mereka hanya melihat sepintas lalu karena harus menurunkan dan menyusun barang-barang bawaan mereka dari sawah berupa sayur-sayuran dan padi.
Setelah mengucapkan terima kasih dan melambaikan tangan, Thomas dan Pedro menyeberangi jalan.
Mereka bertanya kepada salah se orang warga kampung yang sedang mencuci sepeda motor, kediaman Pak Kepala Kampung.
"Bapak berdua lurus saja. Nanti ketemu warung kecil. Ada lorong. Masuk saja. Kira-kira lima rumah, bapak berhenti. Disitulah rumah beliau," ujar si pemuda sambil mengeringkan bodi sepeda motor dengan lap kering.
"Terima kasih Dik."
"Sama-sama Pak."
Pak Kepala Kampung baru saja pulang dari ladang. Tak seperti biasanya, tengah hari dia sudah pulang. Biasanya, tidak sore ya malam hari baru nyampe rumah.
Pedro dan Thomas sempat berpapasan ketika hendak masuk lorong. Pak Kepala Kampung turun dari sepeda. Mengikuti keduanya dari arah belakang.
Mereka tak bertegur sapa. Tapi saling melempar senyum. Ketiganya baru bertegur sapa saat berhenti di depan pekarangan rumah besar bercat putih, hijau dan kekuning-kuningan.
3
ATAS petunjuk Pak Kepala Kampung, Pedro dan Thomas, dengan menumpang mobil berkap terbuka melaju ke kanan, ujung kampung, di sini mereka turun. Kemudian naik perahu penyeberangan menggunakan kawat besar yang dibentangkan sepanjang sungai membelah dua kampung.
Perahu besar yang beratapkan seng di bagian belakangnya itu disesaki penumpang. Karena sebagian besar berpostur kurus, tak membebani perahu, sehingga dapat dengan mudah melaju meski tanpa menggunakan mesin.
Sampai di seberang, Thomas dan Pedro bertamu ke kediaman tokoh masyarakat setempat. Mereka menanyakan markas perguruan Al-Husna yang dipimpin Ki Santani.
Sebuah perguruan silat yang kesohor, namun jarang terekspos karena Ki Santani tidak menginginkan perguruan Al-Husna dipopulerkan. Dia lebih senang dikenal baik oleh masyarakat, apa adanya.
Sang tokoh meminta anggota keluarganya untuk mengantarkan Thomas dan Pedro ke kediaman Ki Santani. Karena jaraknya tak terlalu dekat, dengan medan tanah berubah lembek jika hujan turun, menggunakan mobil pick-up.
Thomas dan Pedro memilih duduk di belakang. Sementara di depan, selain sopir juga masih kerabat dekat sang tokoh. Setengah jam kemudian mereka tiba di lokasi dan disambut hangat Ki Santani.
Keduanya dijamu secara khusus dengan makan bersama di padepokan bersama beberapa pesilat senior hasil gemblengan Ki Santani.
Tak tanggung-tanggung, hidangan yang disajikan sangat menggugah selera. Ada petai, jengkol, ayam goreng dan ayam bakar. Juga tersaji sop ayam, ikan tempoyak, pecal, sayur asam dan pepes ikan gurami.
Ki Santani tidak sama sekali merencanakan makan bersama ini. Karena sebelumnya tidak bakal menyangka bertemu Pedro dan Thomas.
Kebetulan ada keluarga pesilat yang menggelar acara syukuran dengan memberikan sebagian lauk pauk yang tersisa untuk disantap bersama.
"Mari Nak Pedro, Thomas. Kita mulai acara makan bersamanya. Tak usah segan apalagi malu. Anggap saja rumah sendiri," kata Ki Santani, memimpin acara makan bersama.
"Terima kasih Ki. Yuk Mas," ajak Pedro. Antara Pedro, Thomas dan Ki Santani tak ada hubungan spesial. Hanya saja kedua orang tua mereka adalah teman akrab sejak kecil.
"Kalau makan seperti ini, saya teringat dengan orang tua kalian," ujar Ki Santani. Tidak bersedih. Justru tertawa tapi seadanya.
"Setiap sedekahan kami hadir dan selalu duduk di barisan depan. Duduk bersila. Apa yang terhidang dimakan. Tentu setelah dipersilakan makan ..."
"Waktu itu masih bujang Ki?"
"Enggak Nak Pedro. Sudah nikah. Tapi belum punya anak. Maklum masih pengantin baru ..."
Ha ha ha ha ...
Usai menunaikan shalat Isya berjamaah, Ki Santani mengajak Thomas dan Pedro memasuki ruangan kerjanya.
Namanya saja ruang kerja. Tak ada apa-apa di sana. Komputer tidak ada. Meja dan kursi saja. Hanya ter bentang hambal di sepanjang lantai ruangan tak ber AC itu. Hambal berwarna-warni.
Agak di sudut ruangan ada lemari buku, di depannya tempat shalat dan membaca buku. Di ruangan inilah Ki Santani menerima setiap tamu yang datang. Tamu dekat maupun yang datang dari jauh.
Banyak hal dibicarakan di ruangan ini. Mulai dari perkembangan dunia persilatan hingga kemajuan desa dan kota tempat tinggal masing-masing.
Malah ada sebagian di antara tamu yang datang itu meminta bantuan dan perlindungan setelah diancam orang dan kelompok tertentu. Ki Santani membuka diri.
Siapa pun mereka, kata dia, harus ditolong, tentu dengan kemampuan yang ada. Jadi wajar jika mereka yang pernah meminta bantuan Ki Santani, sebagian besar merasa puas dan lega.
Tanpa terkecuali, terhadap Pedro dan Thomas, Ki Santani mengatakan siap memberikan bantuan.
"Ananda berdua tak usah kuatir. Menginaplah disini semaunya kalian," ucap Ki Santani.
"Terima kasih Ki," ucap Pedro dan Thomas. Tak ada lagi orang yang bisa dimintai tolong. Wajar bila kemudian dua lelaki muda usia ini merasa senang.
"Jika kalian berdua mau berlatih silat, silakan. Kepada saya boleh, kepada pesilat yang lebih senior juga boleh."
"Terima kasih Ki."
"Dan yang penting kalian harus tetap waspada. Berjaga-jaga. Mana tahu kelompoknya Mayor Nawi sudah menge tahui keberadaan kalian. Jika itu benar, segera beritahu saya, atau cepat ambil langkah antisipasi," pesan Ki Santani.
Sejauh ini Iwan cs belum mencium Pedro dan Thomas berada di padepokan perguruan Al-Husna. Mereka kini masih bermalam di kampung seberang.
Mereka tidak menginap di kediaman Pak Kepala Kampung. Mereka menginap di Balai Kampung. Warga tak keberatan memberi mereka makan sekadarnya.
Selaku warga desa, warga negara yang baik, mereka berkewajiban membantu teman atau siapa saja yang datang dan singgah ke kampung mereka, tanpa terkecuali.
----
PEDRO dan Thomas diberi kesempatan menyaksikan latihan silat anak asuh Ki Santani di tanah lapang dalam komplek perguruan Al-Husna pagi hari.
Mereka duduk di balkon bersama Ki Santani yang mengawasi jalannya latihan silat. Di tanah lapang ada tiga barisan pesilat.
Menghadap ke balkon pesilat pemula. Sebelah kiri pesilat senior dan sebelah kanan para guru yang sebagian besar masih muda usia.
Di bawah arahan Ki Santani, para guru silat itu memanggil satu per satu siswa silat. Awalnya, sebagai pemanasan, warming-up, mereka duel satu lawan satu dengan tangan kosong.
Ternyata, meski masih pemula, para siswa latih sudah mahir mempertontonkan seni silat tangan kosong. Ter lihat satu sama lain melepaskan tendangan, lalu melompat, memukul, menangkis dan bergerak mundur.
"Mereka anak-anak kampung inilah Ki?" Tanya Pedro, terkesan rupanya ia dengan semangat anak-anak belasan tahun itu berlatih silat.
"Ada juga di antara mereka yang jauh rumahnya dari padepokan kita ini," jelas Ki Santani. Ada yang tinggal di kampung sebelah, ada juga dari luar kota.
"Kita tampung semuanya di sini. Ki ta suka rela sajalah Nak Pedro, Nak Thomas. Yang penting mereka mau be lajar silat dengan baik. Dan yang selalu kita tanamkan kepada mereka, jika ingin cepat menguasai ilmu silat, cin tailah silat ..."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar