Serial Ki Ogan
Pulau Harimau (4)
Oleh Wak Amin
"Supaya mantap ya Ki?"
"Betul Nak Thomas. Karena dengan kita mencintai silat, kita akan dengan mudah menguasainya," terang Ki Santani.
Di lapangan, salah seorang pesilat senior tampil ke depan. Dia dikelilingi beberapa siswa pemula. Jumlahnya ada sekitar delapan orang.
Mereka bersiap menyerang. Namun belum sempat mendekat, apalagi melepaskan pukulan, lewat ilmu tenaga dalam, pesilat senior tadi berhasil memukul mundur siswa berpakaian serba hitam itu.
Gedebug ...
Sreeet ...
Ha ha ha ha ...
Ada yang saling berbenturan kepala, tapi tidak sampai bikin puyeng. Karena setelah itu, anak-anak belia ini berdiri lagi. Siap menyerang pesilat senior.
Mereka kini mengelilingi laki-laki kurus berkepala pelontos itu. Kedua kaki bergerak silih berganti. Sebentar kaki kiri ke depan, lalu bertukar kaki kanan.
Seorang siswa menyerang dari belakang. Karena tendangannya dapat dibaca, pesilat senior dengan mudah mengelak. Dia tepis itu kaki sambil didorong ke depan.
Gedebug ...
Auuugh ...
Kraaaak ...
Ha ha ha ha ...
Pesilat pemula tadi tersungkur. Celananya robek di selangkangan. Pedro dan Thomas ketawa. Tapi ditahan karena melihat Ki Santani tidak tertawa.
Berikutnya, sekali dua menyerang dari arah yang berbeda. Sama seperti teman mereka tadi, keduaya sama-sama tersungkur.
Karena keras sungkurannya, puyeng sesaat sebelum berhasil berdiri lagi dan kembali ke posisi barisan masing-masing.
Kini tersisa lima pesilat. Mereka dipersilakan menyerang bersama-sama. Si pesilat senior mundur. Dia hanya menghindar dan sengaja memberi kesempatan pada adik latihnya itu menyerang habis-habisan.
"Hiyaaat ..."
Sebuah tendangan kilat mengenai leher pesilat senior. Dia mundur beberapa langkah. Dia baru menangkis saat tendangan kedua dilepaskan. Menunduk sedikit, kemudian memukul selangkangan 'lawan" nya.
Auuuugh ...
Dia dorong ke depan. Lawannya terjatuh. Berguling-guling. Sesaat tak ada gerakan. Mengira pingsan. Ternyata tidak.
Karena setelah itu ...
Huuup ...
Deeeeep ...
Plaaag ..
Sudah berdiri lagi, dari salto tadi. Memberi hormat sebelum kembali ke barisannya.
Kini tersisa empat siswa lagi.
Mereka belum juga menyerang. Mereka kini dihinggapi rasa ragu setelah melihat teman-teman mereka keok.
"Ayo seraaang. Tak usah takut," ucap pesilat senior.
"Baik Kak. Tapi jangan kuat-kuat ya pukulnya," kata anak bertelinga lebar.
Ha ha ha ha ...
Semua pesilat tertawa mendengar nya.
"Kenapa Ki? Ada yang lucu barang kali?" Pedro tak mendengar, jadi tidak ketawa.
Hanya sedikit heran ...
"Bolehlah bersenda gurau, asalkan tak terlalu sering ya Ki?"
Ki Santani diam.
"Kita lanjutkan menontonnya." Ki Santani dengan bahasa isyarat meminta para pesilat untuk melanjutkan latih tandingnya.
Hiyaaaat ...
Empat pesilat pemula menyerang dari depan, belakang, kiri dan kanan. Pesilat senior hanya menghindar. Mundur beberapa langkah.
Kemudian dia melepaskan tendangan ke belakang. Salah seorang siswa tersungkur dan mengenai tiga rekannya di depan.
Bruuuuk ...
Ha ha ha ha ...
Muka mereka belepotan dengan ta nah. Untung saja tanahnya kering. Tidak basah karena diguyur hujan.
4
SECARA bergantian dua pesilat senior memperlihatkan kemampuan mereka mempragakan jurus tangan kosong.
Pesilat pertama melompat ke tanah lapang. Lalu melepaskan pukulan ke kiri, kanan dan depan.
Selanjutnya memutar badan. Menangkis serangan lawan dengan cara mengelak ke kiri dan kanan sambil melepaskan pukulan ke depan, diikuti gerakan kaki memutar beberapa kali.
Setelah itu berguling-gulingan di tanah, mirip jurus monkey (monyet). Bergulingan sembari mendaratkan pukulan.
Berputar, lalu menyerang dan bertahan dengan cara berputar, mundur dan mengarahkan pukulan ke depan.
Ketika pesilat pertama kembali ke barisannya, pesilat kedua tampil ke depan. Dia memberi hormat terlebih dulu pada Ki Santani, Pedro dan Thomas.
Kemudian dia mengepalkan tinju. Meninju ke depan, belakang, samping kiri dan kanan.
Mundur beberapa langkah ...
Lalu melepaskan tendangan ke depan, menjatuhkan diri ke tanah. Berdiri lagi sambil melompat dan melepaskan pukulan keras ke depan.
Tak lama kemudian, setelah pesilat kedua kembali ke barisan, dua pesilat melompat ke tengah lapangan. Tinggi badan sama. Sama-sama kurus, berkulit putih dan ganteng. Muda lagi.
Mereka kini sama-sama memegang pedang. Sama-sama menghunus. Pedang itu didekatkan dengan tangan kanan kedua pesilat.
Triiiing ...
Mundur beberapa langkah. Pesilat pertama tampil menyerang. Pedang bergerak ke kiri dan kanan. Beradu pedang dan sama-sama melepas kan tendangan.
Gantian pesilat kedua menyerang. Berbeda dengan pesilat pertama, pesilat kedua menyerang dengan koprol terlebih dahulu. Sebelum mengayunkan pedang ke perut, kaki dan kepala.
Pesilat pertama membalasnya dengan melompat sambil mundur. Lalu bergulingan di tanah. Baru mengayunkan pedang setelah pesilat kedua maju ke sebelah kanan.
Plak ... pak .. plak .. pak ...
Plak ... pak ... plak ... pak ...
Thomas dan Pedro bertepuk tangan, diikuti Ki Santani.
Peragaan pedang untuk sementara selesai. Ki Santani mengisyaratkan pada asistennya untuk memberi ke sempatan para guru muda dan tua tampil.
Diawali guru muda Samosir. Dengan gayanya yang kalem, dia berjalan beberapa langkah ke tengah lapangan.
Sesaat kemudian dia duduk bersila. Memejamkan mata dengan tangan bersedekap. Tak lama setelah itu badan Samosir terangkat ke atas.
Meski cuma semeter, karena bergerak ke kanan dan kiri, semua yang hadir merasa takjub. Tak terkecuali Pedro dan Thomas.
"Hebat sekali ya Ki," puji Thomas sambil bertepuk tangan.
"Seumur-umur saya menonton pertunjukan silat, baru kali ini ada pesilat duduk bersila sambil terbang," sahut Pedro.
Dia berkali-kali mengusap bola matanya seakan tak percaya dengan apa yang baru dilihatnya hari ini.
Ki Santani tersenyum. Dia mengucapkan terima kasih atas pujian yang dilontarkan Thomas dan Pedro. Dia hanya berharap akan muncul pesilat-pesilat tangguh di kemudian hari.
"Mari Nak, kita lanjutkan menontonnya," ajak Ki Santani.
Guru silat pertama kembali ke barisan ...
"Guru kedua Ki."
"Ya kita kasih kesempatan yang samalah Nak Thomas. Biar adil."
Ha ha ha ha ...
Guru silat kedua yang tampil bernama Maskur. Usianya sudah kepala lima. Meski sudah terbilang tua, tak kalah dengan yang muda.
Aktif melatih dan mengawasi guru silat muda, pesilat pemula dan pesilat senior.
Setiap hari ada-ada saja ide darinya yang bergulir dan bisa diapresiasikan dalam upaya mengembangkan ilmu silat lebih baik lagi.
Penonton menunggu harap-harap cemas. Apa yang akan diperagakan sang guru. Apalagi saat yang ber sangkutan menelentangkan badan di atas tanah.
"Jurus apa Ki?"
"Kita lihat saja Nak Pedro."
Dua pesilat senior mendekat ke guru mereka. Lalu berbagi posisi. Satu menginjak dada, satunya lagi menindih kaki.
Setelah itu ...
Huaaaa ...
Kedua pesilat terpental ke atas sejauh enam meter. Lalu dengan lincahnya bersalt di udara, dan ketika menyentuh tanah, dalam posisi berdiri dengan kedua kaki tegak lurus.
Plak ...pak ...plak ... pak ...
Plak ... pak ... plak ... pak ...
"Namanya jurus 'Terbang Melayang', Nak Pedro ..."
He he he he ....
"Maaf Ki. Agak lucu saya mendengarnya. Tapi benar-benar nyata," kata Thomas, tak kuasa menahan gelinya.
Demikian pula halnya Pedro. Dia berkali-kali meminta maaf pada Ki Santani atas sikapnya dan rekannya, Thomas.
Usai menyaksikan latihan sekaligus peragaan ilmu silat, Ki Santani mengajak serta Thomas dan Pedro makan bersama para pesilat di ruang makan bersama.
-----
"BISA cepat sedikit tidak?" Tegur Iwan, yang mulai kesal melihat ulah penarik perahu ketek seolah sengaja mem perlambat tarikan kawat seling.
Tali itu memang berbeda. Jadi, tanpa ditarik pun, jika rodanya bergeser, tetap jalan. Tapi sesekali akan nyangkut manakala tidak ditarik.
Saat itulah si pemilik perahu harus menariknya. "Kebetulan air lagi surut Om. Jadi kita harus sabar," jelas si penambang dengan ramah.
"Ya sudah. Tapi bisa cepat kan?"
"Insya Allah."
Setelah manghabiskan waktu sekitar sepuluh menit, perahu itu tiba di seberang.
Iwan dan kedua temannya bertanya kepada beberapa warga sambil memperlihatkan foto Pedro dan Thomas.
Petunjuk tentang keberadaan Pedro dan Thomas bersembunyi di markas perguruan Al-Husna diperoleh dari pengakuan seorang ibu yang baru pulang dari ladang.
Si ibu dengan penuh rasa takut, karena diancam Iwan cs, megatakan pernah melhat Pedro dan Thomas menuju ke selatan.
"Tidak bohong kan?" Bentak Agus.
"Betul Nak. Ibu tidak bohong," jawab si ibu, bergegas pergi. Hendak dikejar Agus, tapi Iwan melarangnya.
"Kita langsung saja ke selatan," kata Iwan.
Ada sebuah sebuah mobil pick-up menuju ke arah mereka. Iwan pura-pura menyeberang. Dia berhenti di tengah jalan.
Si pengemudi turun. Iwan 'ecak-ecak' jatuh pingsan dengan alasan kaget campur terkejut melihat ada mobil.
Iwin dan Agus, temannya Iwan, keluar dari semak belukar, lalu mengancam si pengemudi.
"Antar kami. Cepaaaaat!"
"Ke ... Kemana Pak?"
"Ke kampung ujung sana."
"Tapi Pak. Saya tidak lewat sana. Saya ke kiri, sementara kampung yang dimaksud bapak ke kanan," jelas si pengemudi ketakutan.
"Ah, tak usah banyak alesan. Mau atau tidak, haaaa ...?"
"Maaa ... Mau Pak."
"Cepaaaat!"
Karena kurang cepat larinya mobil pick-up, Agus meminta paksa sang sopir menaikkan laju kecepatan mobil.
Si pengemudi mengatakan tak mungkin menambah kecepatan mobil. Maklum, mobil tua.
"Ah sudah. Mau tidak? Saya cincang perutnya!" Ancam Iwan. Memperlihatkan pisau belati yang dia keluarkan dari saku celananya.
"Maaaa ... Maaau Pak."
Sempat zig-zug, mobil pick-up pun melaju dengan sangat kencang tapi bising, mengeluarkan asap hitam dari knalpot. Persis di dekat pos ronda, mobil berhenti.
Iwan, Iwin dan Agus turun bergantian. Begitu ketiganya turun, walau pintu mobil pick up terbuka, si pengemudi langsung tancap gas.
"Heeeegh. Kampret tu sopir." Umpat Iwan. Dua rekannya buru-buru mendekat karena saat bersamaan beberapa pemuda mendekati mereka dengan sikap ramah.
"Ada apa Mas?" Tanya salah seorang dari mereka.
"Tidak ada apa-apa," jawab Iwan dengan muka masam.
"Kalian mau apa, tanya-tanya segala haaa?" Sergah Iwin. Mulai kesal.
"Enggak apa-apa Mas. Soalnya, setiap orang baru ke kampung kami pasti kami tanyai. Bukan apa-apa. Mana tahu perlu bantuan alamat seseorang," jelas pemuda beralis tebal.
"Iya. Kami mencari alamat seseorang memang, kenapa?" Tantang Agus.
Si pemuda mundur beberapa langkah. Teman di sampingnya angkat bicara ...
"Mungkin kami bisa bantu ..."
"Oke ..." Jawab Iwan. "Tahu enggak kalian alamat perguruan Al-Husna?"
Para pemuda itu saling pandang dan berbisik.
"Tahu tidak?" Bentak Agus.
Belum ada jawaban.
"Tahu tidak?"
"Kami tahu Mas," jawab pemuda berkulit hitam legam tapi bergigi sangat putih.
"Bisa kan antarkan kami kesana?"
"Bisa ... Bisa."
Beberapa di antara pemuda tadi memisahkan diri. Rupanya mereka bergegas menemui Ki Santani. Memberita hu ada tiga lelaki ingin menemuinya.
Pedro dan Thomas yang berada di dekat Ki Santani hanya tekun menyimak. Keduanya baru buka mulut setelah para pemuda tadi diminta Ki Santani kembali menemui rekan mereka.
Di tengah jalan mereka bertemu Iwan, Iwin dan Agus. Dengan diantar beberapa pemuda, ketiganya menuruni tebing menuju jalan setapak ke padepokan Al-Husna.
Ki Santani meminta para pesilat bersiaga. Siapa pun mereka akan kita hadapi, katanya.
Setengah jam kemudian ...
Kreteeeek ...
Nyeeeet ...
Greeeesh ...
Pintu gerbang dibuka.
"Silakan masuk Tuan," ucap para pesilat pemula dengan ramah.
Dasar tak tahu diri. Bukannya membalas dengan sikap ramah dan sopan. Sebaliknya ketiga anak buah Mayor Nawi ini justru dengan angkuhnya mengajak berantem para pesilat muda usia itu.
-----
KEPADA Ki Santani, Iwan, Iwin dan Agus menanyakan keberadaan Thomas dan Pedro.
Namun, sebelum menjawab pertanyaan ketiga tamunya, Ki Santani meminta penjelasan kenapa mencari Pedro dan Thomas.
"Mereka berdualah yang membunuh Panglima Tertinggi Jenderal Lutfi, Ki." Ujar Iwan dengan suara tinggi. Tak sedikit pun ia merasa gentar berhadapan dengan Ki Santani.
"Anda punya bukti?"
"Kami tak bawa bukti, Ki. Kami hanya menjalankan perintah Bos," sahut Iwan, agak merendah suaranya.
"Siapa Bos kalian?"
"Mayor Nawi Ki," jelas Agus, tak mau ketinggalan ikut bicara. Sejak tadi dia mau ngomong, cuma keduluan dua temannya ....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar