Entar Ya (10)
Oleh Wak Amin
KINI Pak Bendo dan kawan-kawan sudah berada di tepi sungai. Ada sampan warga tertaut di dekat tiang besi.
Sampan berukuran sedang itu me reka lepaskan ikatan talinya. Lalu didorong bersama-sama ke tengah sungai.
Byuur ...
Satu-satu naik sampan. Mengikuti arus sungai yang airnya surut. Sam pai di seberang sungai mereka tu run dan naik ke darat.
Karena malam, tak satu pun warga yang melakukan aktivitas di tepi su ngai, seperti mandi, mencuci, buang air besar dan mencari ikan.
"Aduh .." Teriak Pak Jaya.
"Sssst. Jangan keras-keras," Sofan mengingatkan.
Pak Bendo menoleh ...
"Ada apa Pan?" Tanyanya.
"Kaki Pak Jaya terkilir Bos."
"Sakit tidak?"
"Kata Pak Jaya tidak sakit Bos."
Pak Jaya cemberut. Orang kesaki tan eeeeh malah dibilang enggak apa-apa.
Dasar taun ...
"Taun apa Pan?"
"Ini Bos. Kata Pak Jaya, setahun su dah tak terkilir. Jadi agak kaget."
"Oooo .. Ya sudah. Cepat kita pergi. Sebelum mereka menemukan kita."
"Siap Bos ..."
Saat tiba di tepi sungai. Ki Doyok seolah memanggil-manggil sesuatu.
Semua sabar menunggu ...
Selang beberapa menit kemudian datang mendekat ke mereka empat ekor buaya besar ...
Pak Ali kaget. Tak percaya ia sete lah diminta naik oleh Ki Doyok. De mikian pula halnya Pak Kades Mar zuki dan beberapa warga lain.
Mr Clean dan Letnan Susan memi lih belakangan ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar