Serial Detektif Cilik
KOING (8)
Kena Palak …
Oleh Wak Amin
“KURANG Wak Ji.
Tambah lagilah. Masa cuma lima ribu perak. Tak manusiawi ini, Wa Ji,” kata Laki-laki kerempeng, preman
pasar.
“Jadilah ponakan.
Dagangan Wak belum laku. Nanti kalau sudah laku Wak tambah lagilah,” janji Wak
Ji.
“Masa sudah sesiang
ini belm laku-laku juga, Wak. Tak mungkinlah. Di sini kan banyak orang yang
lewat,” celetuk preman satunya bertahi lalat besar di dagu.
“Tak percaya kau
ponakan, tanyalah merea berdua ini,” kata Wak Ji mengarahkan wajahnya ke Brendo
dan Koing. Keduanya sedang bermain karet.
“Benar ya dik belum
ada yang beli?” Tanya si kerempeng.
“Benar, kak,” jawab
Koing.
“Kami saja sampai
siang ini belum dapat uang jajan,” sahut Brendo.
“Ah, bohong… aku tak
percaya kalian,” sahut si tahi lalat.
“Tak percaya, ya tak
apa-apa, silakan saja ponakan,” jelas Wak Ji.
Sesaat kedua preman
itu saling berbisik. Sedangkan Wak ji yang tadinya mulai naik pitam
berangsur-angsur tenang kembali.
“Eeeem .. begini saja
Wak Ji. Entar sore kami kemari lagi. Tolong siapkan duitnya,” ujar si
kerempeng.
Wak Ji tak menjawab
kecuali mengangguk dan mempersilakan keduanya kembali menemuinya di simpang
pasar kalangan.
Koing dan Brendo,
yang sempat nguping barusan, menaruh kasihan sama Wak Ji. Mereka tak ingin Wak
Ji susah. Sudah tak boleh duit, dipalak pula. Itu sama artinya, sudah jatuh
ketimpa tangga pula.
Lepas zuhur menjelang
ashar Wak Ji berkemas atas saran Brendo dan Koing. Pulang lebih awal agar tidak
sampai diperas preman. Sayang, belum sempat barang dagangan diangkut pakai
sepeda pikul, dua preman tadi datang mencegat.
Mereka mencoba
merampas dompetnya Wak Ji. Tapi berhasil ditepis Koing. Tak senang, si tahi
lalat mendorong Koing, jatuh tersungkur. Brendo tak tinggal diam. Diambilnya
batu bata, dipukulkannya ke pantat kerempeng, menjerit kesakitan.
“Kurang ajar,”
katanya mencoba untuk bangun tapi keburu ditendang Wak Ji kepalanya, jatuh
masuk parit.
“Hajar saja, Ing!”
Teriak pedagang lain setelah melihat Koing berhasil memukul mundur si tahi
lalat. Berulangkali paha dan tangannya terkena tendangan Koing.
Hiyaaaat …
Si tahi lalat
mengeluarkan jurus mautnya. Tanpa ampun dia lepaskan tendangan lurus kea rah dada.
Sempat mengena, Koing meringis kesakitan.
“Mampuslah kau kutu
busuk.” Teriaknya.
Belum sempat
melepaskan tinju kea rah kepala Koing, beberapa pedagang akhirnya turun tangan.
Mereka mengeroyok si tahi lalat dengan pukulan bertubi-tubi ke muka, dada,
perut, pingang dan kepala.
“Hentikan ..
hentikan!” Teriak petugas keamanan pasar menengahi pengeroyokan.
“Tak baik main hakim
sendiri. Apa kata orang ….”
Kedua preman pasar
tadi diamankan di pos pasar. Mereka ditanyai dan diberi peringatan untuk tidak
lagi memalaki pedagang. Karena perbuatan memalak melawan hukum dan tidak sesuai
dengan ajaran agama serta asas kemanusiaan.
Pengalaman pahit hari
pertama Wak Ji berjualan membuat lelaki tua ini ragu-ragu untuk kembali
berdagang di pasar. Dia kuatir, dua preman yang barusan dihajar massa akan
membalas dendam. Untungnya, Brendo dan Koing datang menghibur. Memberi semangat
agar tak ragu berdagang lagi.
“Kalau Wak Ji perlu
bantuan kami, kami siap datang membantu Wak Ji,” janji Brendo dan Koing.
“Tinggal Wak Ji
bilang saja ke kami,” timpal Koing.
“Tapi Wak tak mau
lagi ah dagang di pasar,” jawab Wak Ji sambil menghirup air kopi hangat di teras
rumahnya.
“Lantas, Wak mau
jualan dimana?” Tanya Brendo ingin tahu.
“Untuk sementara ini
Wak istirahat dululah. Wak pikir-pikir dulu. Kalau oke, satu dua hari ke depan
ini Wak kembali dagang.”
Koing dan Brendo
hanya saling tatap.
“Kami berdua setuju
saja, Wak. Pokoknya Wak harus jualan lagi. Titik,” tegas Koing.
“Kalau preman itu datang
lagi, kita sikat saja. Jangan beri ampun,” sahut Brendo berapi-api.
Tapia pa mampu Brendo
dan Koing melawan dua preman itu. Sebab, ketika di pasar keduanya ke walahan
dan bukan tidak mungkin babak belur jika tidak ditolong para pedagang. Jangan-jangan Koing dan Brendo cuma
kasih semangat saja ke Wak Ji.
Entahlah. Yang pasti
beberapa hari setelah kejadian di pasar itu, beberapa preman tampak hilir mudik
keluar masuk perkampungan Wak Ji. Ada yang berjalan kaki, pakai sepeda jengki,
bahkan motor berukuran besar dan mini.
Sekilas keberadaan
mereka ini tak sampai mengganggu ketenangan warga kampung. Karena mereka cuma datang
lalu pergi. Namun beberapa hari setelah itu mereka mulai bikin ulah.
Apa misalnya?
Tempat-tempat sampah
mereka lempar semaunya. Ayam warga termasuk kepunyaan Wak Ji mereka sikat
habis. Belakangan mereka mengganggu kaum
ibu dan remaja puteri yang hendak turun ke sungai buat mandi dan mencuci
pakaian.
Hal ini membuat warga
melakukan pertemuan darurat. Dipimpin Pak Erte, rapat berlangsung panas di b
alai desa. Segenap warga sepakat akan menghabisi itu preman, karena keberadaan
mereka benar-benar telah menyusahkan, meresahkan warga.
“Kita tangkap saja
mereka Pak Erte,” teriak laki-laki bermata besar dengan suara lantang menahan
amarah.
“Bila perlu mereka
kita sate.,” teriak yang lain.
“Atau dibakar saja
hidup-hidup. Habis perkara,” timpal si mata kecil.
Pak Erte tampak
kewalahan menampung aspirasi warga. Semua pada melawan. Preman harus dilawan
dengan cara preman pula. Preman tak boleh hidup di kampung mereka.
“Mereka harus
dimusnahkan, tapi dengan cara baik-baik,” kata Wak Ji, baru sempat bicara
setelah keasyikan mendengar ocehan dan makian dari warga.
“Bagaimana caranya
Wak Ji?” Tanya Pak Erte, mempersilakan lelaki yang sudah berkepala enam ini
menjelaskan cara mengatasi kawanan preman.
Wak Ji memang maju ke
depan. Tapi bukan menjelaskan. Ia hanya membisikkan sesuatu di telinga Pak
Erte. Mulanya terkejut. Ia tak yakin rencana itu akan berhasil. Tapi cara lain,
sampai saat ini tak ada. Kalau tak ada, kenapa cara yang baru dibisikkan Wak Ji
tidak dicoba. Mana tahu berhasil.
Betul enggak?
Warga yang hadir
dalam pertemuan itu sepakat untuk tutup mulut. Karena mereka menginginkan cara
yang bakal ditempuh ini menuai kejutan dengan hasil yang sangat
memuaskan.
Perta-tama warga diminta mengumpulkan dan
menyediakan anjing. Anjing itu diikat
dengan rantai besi di lehernya. Ikatan baru dilepas bila yang akan ‘dimangsa’
jelas. Anjing-anjing itu dibiarkan lapar menjelang hari H. Hari di mana kawanan
premn diperkirakan bakal masuk kampung, pemukiman warga.
Perkampungan sepi
pada siang hari. Warga sengaja berdiam diri di rumah. Mereka menunggu keda tangan
preman. Tak lama. Satu persatu datang bermunculan. Belasan orang jumlahnya.
Mereka bergerombol konvoi sampai ke
ujung kampung.
Ketika kawanan preman
itu berada di ujung kampung, satu-satu warga mulai keluar rumah. Mereka
menyebar dan menutup pintu masuk kampung sambil menyiagakan anjing-anjing
berlidah panjang dan bertelinga lebar.
Guk … guk … guk ..
Kawanan preman mulai
terkepung. Dari depan, samping kanan, kiri dan belakang, warga sudah siap
menahan laju manusia jalanan itu. Mereka mulai bergerak mendekat. Makin lama
makin dekat. Se makin mencekam.
Guk… guk … guk ..
Anjing menyalak. Mencium
tanah dan haus darah. Sedikit demi sedikit tali kekang dilepas. Berusaha mene bus barikade lingkaran, kawanan
preman mati langkah. Mereka hanya bisa pasrah. Apalagi se telah melihat
kebanyakan warga siap dengan pedang panjang terhunus , pentungan kayu dan besi
berkarat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar