Rabu, 03 Juni 2015

koing (8)



Serial Detektif Cilik
KOING (8)

Kena Palak …
Oleh Wak Amin

“KURANG Wak Ji. Tambah lagilah. Masa cuma lima ribu perak. Tak manusiawi  ini, Wa Ji,” kata Laki-laki kerempeng, preman pasar.
“Jadilah ponakan. Dagangan Wak belum laku. Nanti kalau sudah laku Wak tambah lagilah,” janji Wak Ji.
“Masa sudah sesiang ini belm laku-laku juga, Wak. Tak mungkinlah. Di sini kan banyak orang yang lewat,” celetuk preman satunya bertahi lalat besar di dagu.
“Tak percaya kau ponakan, tanyalah merea berdua ini,” kata Wak Ji mengarahkan wajahnya ke Brendo dan Koing. Keduanya sedang bermain karet.
“Benar ya dik belum ada yang beli?” Tanya si kerempeng.
“Benar, kak,” jawab Koing.
“Kami saja sampai siang ini belum dapat uang jajan,” sahut Brendo.
“Ah, bohong… aku tak percaya kalian,” sahut si tahi lalat.
“Tak percaya, ya tak apa-apa, silakan saja ponakan,” jelas Wak Ji.
Sesaat kedua preman itu saling berbisik. Sedangkan Wak ji yang tadinya mulai naik pitam berangsur-angsur tenang kembali.
“Eeeem .. begini saja Wak Ji. Entar sore kami kemari lagi. Tolong siapkan duitnya,” ujar si kerempeng.
Wak Ji tak menjawab kecuali mengangguk dan mempersilakan keduanya kembali menemuinya di simpang pasar kalangan.
Koing dan Brendo, yang sempat nguping barusan, menaruh kasihan sama Wak Ji. Mereka tak ingin Wak Ji susah. Sudah tak boleh duit, dipalak pula. Itu sama artinya, sudah jatuh ketimpa tangga pula.
Lepas zuhur menjelang ashar Wak Ji berkemas atas saran Brendo dan Koing. Pulang lebih awal agar tidak sampai diperas preman. Sayang, belum sempat barang dagangan diangkut pakai sepeda pikul, dua preman tadi datang mencegat.
Mereka mencoba merampas dompetnya Wak Ji. Tapi berhasil ditepis Koing. Tak senang, si tahi lalat mendorong Koing, jatuh tersungkur. Brendo tak tinggal diam. Diambilnya batu bata, dipukulkannya ke pantat kerempeng, menjerit kesakitan.
“Kurang ajar,” katanya mencoba untuk bangun tapi keburu ditendang Wak Ji kepalanya, jatuh masuk parit.
“Hajar saja, Ing!” Teriak pedagang lain setelah melihat Koing berhasil memukul mundur si tahi lalat. Berulangkali paha dan tangannya terkena tendangan Koing.
Hiyaaaat …
Si tahi lalat mengeluarkan jurus mautnya. Tanpa ampun dia lepaskan tendangan lurus kea rah dada. Sempat mengena, Koing meringis kesakitan.
“Mampuslah kau kutu busuk.” Teriaknya.
Belum sempat melepaskan tinju kea rah kepala Koing, beberapa pedagang akhirnya turun tangan. Mereka mengeroyok si tahi lalat dengan pukulan bertubi-tubi ke muka, dada, perut, pingang dan kepala.
“Hentikan .. hentikan!” Teriak petugas keamanan pasar menengahi pengeroyokan.
“Tak baik main hakim sendiri. Apa kata orang ….”
Kedua preman pasar tadi diamankan di pos pasar. Mereka ditanyai dan diberi peringatan untuk tidak lagi memalaki pedagang. Karena perbuatan memalak melawan hukum dan tidak sesuai dengan ajaran agama serta asas kemanusiaan.
Pengalaman pahit hari pertama Wak Ji berjualan membuat lelaki tua ini ragu-ragu untuk kembali berdagang di pasar. Dia kuatir, dua preman yang barusan dihajar massa akan membalas dendam. Untungnya, Brendo dan Koing datang menghibur. Memberi semangat agar tak ragu berdagang lagi.
“Kalau Wak Ji perlu bantuan kami, kami siap datang membantu Wak Ji,” janji Brendo dan Koing.
“Tinggal Wak Ji bilang saja ke kami,” timpal Koing.
“Tapi Wak tak mau lagi ah dagang di pasar,” jawab Wak Ji sambil menghirup air kopi hangat di teras rumahnya.
“Lantas, Wak mau jualan dimana?” Tanya Brendo ingin tahu.
“Untuk sementara ini Wak istirahat dululah. Wak pikir-pikir dulu. Kalau oke, satu dua hari ke depan ini Wak kembali dagang.”
Koing dan Brendo hanya saling tatap.
“Kami berdua setuju saja, Wak. Pokoknya Wak harus jualan lagi. Titik,” tegas Koing.
“Kalau preman itu datang lagi, kita sikat saja. Jangan beri ampun,” sahut Brendo berapi-api.
Tapia pa mampu Brendo dan Koing melawan dua preman itu. Sebab, ketika di pasar keduanya ke walahan dan bukan tidak mungkin babak belur jika tidak ditolong para  pedagang. Jangan-jangan Koing dan Brendo cuma kasih semangat saja ke Wak Ji.
Entahlah. Yang pasti beberapa hari setelah kejadian di pasar itu, beberapa preman tampak hilir mudik keluar masuk perkampungan Wak Ji. Ada yang berjalan kaki, pakai sepeda jengki, bahkan motor berukuran besar dan mini.
Sekilas keberadaan mereka ini tak sampai mengganggu ketenangan warga kampung. Karena mereka cuma datang lalu pergi. Namun beberapa hari setelah itu mereka mulai bikin ulah.
Apa misalnya?
Tempat-tempat sampah mereka lempar semaunya. Ayam warga termasuk kepunyaan Wak Ji mereka sikat habis. Belakangan mereka  mengganggu kaum ibu dan remaja puteri yang hendak turun ke sungai buat mandi dan mencuci pakaian.
Hal ini membuat warga melakukan pertemuan darurat. Dipimpin Pak Erte, rapat berlangsung panas di b alai desa. Segenap warga sepakat akan menghabisi itu preman, karena keberadaan mereka benar-benar telah menyusahkan, meresahkan warga.
“Kita tangkap saja mereka Pak Erte,” teriak laki-laki bermata besar dengan suara lantang menahan amarah.
“Bila perlu mereka kita sate.,” teriak yang lain.
“Atau dibakar saja hidup-hidup. Habis perkara,” timpal si mata kecil.
Pak Erte tampak kewalahan menampung aspirasi warga. Semua pada melawan. Preman harus dilawan dengan cara preman pula. Preman tak boleh hidup di kampung mereka.
“Mereka harus dimusnahkan, tapi dengan cara baik-baik,” kata Wak Ji, baru sempat bicara setelah keasyikan mendengar ocehan dan makian dari warga.
“Bagaimana caranya Wak Ji?” Tanya Pak Erte, mempersilakan lelaki yang sudah berkepala enam ini menjelaskan cara mengatasi kawanan preman.
Wak Ji memang maju ke depan. Tapi bukan menjelaskan. Ia hanya membisikkan sesuatu di telinga Pak Erte. Mulanya terkejut. Ia tak yakin rencana itu akan berhasil. Tapi cara lain, sampai saat ini tak ada. Kalau tak ada, kenapa cara yang baru dibisikkan Wak Ji tidak dicoba. Mana tahu berhasil.
Betul enggak?
Warga yang hadir dalam pertemuan itu sepakat untuk tutup mulut. Karena mereka menginginkan cara yang bakal ditempuh ini menuai kejutan dengan hasil  yang  sangat memuaskan.
 Perta-tama warga diminta mengumpulkan dan menyediakan  anjing. Anjing itu diikat dengan rantai besi di lehernya. Ikatan baru dilepas bila yang akan ‘dimangsa’ jelas. Anjing-anjing itu dibiarkan lapar menjelang hari H. Hari di mana kawanan premn diperkirakan bakal masuk kampung, pemukiman warga.
Perkampungan sepi pada siang hari. Warga sengaja berdiam diri di rumah. Mereka menunggu keda tangan preman. Tak lama. Satu persatu datang bermunculan. Belasan orang jumlahnya. Mereka bergerombol  konvoi sampai ke ujung kampung.
Ketika kawanan preman itu berada di ujung kampung, satu-satu warga mulai keluar rumah. Mereka menyebar dan menutup pintu masuk kampung sambil menyiagakan anjing-anjing berlidah panjang dan  bertelinga lebar.
Guk … guk … guk ..
Kawanan preman mulai terkepung. Dari depan, samping kanan, kiri dan belakang, warga sudah siap menahan laju manusia jalanan itu. Mereka mulai bergerak mendekat. Makin lama makin dekat.  Se makin mencekam.
Guk… guk … guk ..
Anjing menyalak. Mencium tanah dan haus darah. Sedikit demi sedikit tali kekang dilepas.  Berusaha mene bus barikade lingkaran, kawanan preman mati langkah. Mereka hanya bisa pasrah. Apalagi se telah melihat kebanyakan warga siap dengan pedang panjang terhunus , pentungan kayu dan besi berkarat.   


    
  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar