Jumat, 12 Juni 2015

koing (12)



Serial Detektif Cilik
KOING (12-13)

Sapi  yang Hilang ….
Wak Amin

“Pelan-pelan, Ing. ‘Ntar ketahuan,” bisik Brendo pada Koing yang tampak tergesa-gesa melepas tali kekang sapi.
“Tenang sajalah, Do …”Kata Koing. “Kamu intip saja Pak Sopirnya,” pinta Koing.
Dari balik bak truk, Brendo melihat Pak Sopir dan rekannya asyik cekikikan dengan sesekali mengepulkan asap rokok dan meneguk ar kopi manis dari gelas besar terbuat dari aluminium. 
“Aman, Ing.”
Satu persatu ikatan tali berhasil dilepas. Brendo melepas kunci pintu bak truk. Ada beberapa ekor sapi di belakang bak ini. Sapi diangkut ke kota dan akan dijual ke pedagang besar disana.
Ketika truk melambat dekat tanah lapang yang dikelilingi hutan perawan, pintu bak dibuka. Beberapa ekor sapi terlepas dari tali kekangnya, disusul Koing dan Brendo.
Betapa terkejutnya Pak Sopir beserta rekannya ketika dari balik kaca spion melihat keliaran sapi berlari ke tanah lapang menunu hutan dan pemukiman warga.
Syiiiit .. reeeeng.
Truk berhenti. Pak Sopir dan rekannya keluar dari pintu truk, mengejar sapi-sapi bawaan mereka yang lepqs itu. Termasuk Koing dan Brendo yang sempat melambaikan tangan dan mengisyaratkan agar mengejar sekaligus menangkap mereka berdua jika mampu.
“Masa dengan anak kecil saja kalah. Malulah. Mau taruh dimana muka ini,” ucap Pak Sopir pada rekannya yang masih ngos-ngosan karena terlalu banyak ngopi dan merokok.
“Dululah kau. Nanti aku menyusul.”
“Kalau begitu kita kejar saja pakai truk. Ayo cepat …”
Karena tak terlalu cepat sapi-sapi itu berlari, dengan mudahnya Pak Sopir dan rekannya mengejar. Sulitnya ketika  harus melewati jalan setapak. Sebab, mana mungkin mobil sebesar truk bisa melalui jalan yang besarnya di luar kebiasaan itu.
Cara lain?
Dengan cara berkeliling. Koing, sapi dan Brendo dibiarkan berlari sementara truk bisa mengiringi dari arah samping. Ibarat pasukan kuda mengejar keret api yang melaju tak begitu cepat, lama kelamaan terkejar juga.
Tentunya lain kereta api lain pula Koing dan Brendo. Ketika truk melewati anak sungai dengan jalan mendaki, kedua anak belia ini termasuk sapi  tak terlihat lagi. Kemana dan arah mana mereka bergerak sempat bikin bingung Pak Sopir.
“Itu mereka, Sul!” ucap rekannya sambil menunjuk ke samping kanan. Beberapa ekor sapi tiba-tiba keluar dari hutan menuju pemukiman warga.
“Terlambat kita, Han.” Jawab Sul pasrah.
“Sudah kepalang basah, Sul. Ayooo . Jangan jadi pengecut. Tak baik.”
Truk yang sempat berhenti kembali melaju. Kali ini dengan kecepatan tinggi. Karena tak juga mampu menangkap apalagi melumpuhkan Koing dan Brendo yang telah mencerai-beraikan sapi yang hendak dbawa ke kota, Sul terpaksa menggunakan senapan angin.
Beberapa kali tembakan dilepaskan, beberapa kali pula Koing dan Brendo bisa mengelak. Sepeda BMX yang dikemudikan Koing malah mampu mendekat dan mendahului truk. Melakukan manuver sambil mencibir lucu.
“Wulul .. wulu. Sopir lolo suka berdalu,” ejek Brendo dari belakang sepeda dengan posisi badan berhadapan dengan muka truk.
Dooor … door … door.
“Wuuu. Tak mempan. Pistol buduk. Burukan lamo.” Teriak Brendo. Dia berdiri sambil berjoget goyang pinggul dan kepala.
Kejar-kejaran terus terjadi. Semakin seru, semakin sengit. Namun mereka terpisah kembali setelah truk ngerem mendadak karena ada beberapa orang petani hendak menyeberang jalan, pulang dari sawah ladang mereka.
Lagi-lagi Sul dan Han kehilangan jejak. Tak lama berselang, dari samping kanan truk, sepeda BMX meluncur deras.
“Kejar Sul!” Kata Han menyemangati rekannya agar terus mengejar Koing dan Brendo .
Entah sekadar pengalihan atau ingin sapi-sapi yang berlari terpencar itu selamat dari kejaran, sepeda BMX  kembali menuruni perbukitan menuju tanah lapang serba hijau. Hanya dalam hitungan meter, beberapa ekor sapi keluar dari persembunyiannya.
“Langsung kito giring saja, Ing.” Saran Brendo. Dia kuatir sapi-sapi itu kelelahan dan berhasil ditangkap kembali oleh Sul dan Han.
Lambat tapi pasti, kawanan sapi akhirnya memasuki areal perkampungan warga. Koing dan Brendo membelokkan sepeda BMX-nya ke rumah salah seorang warga. Langkah ini untungnya berjalan mulus. Beberapa warga yang bersimpati terhadap mereka lalu berkumpul untuk melakukan perlawanan terhadap Sul dan Han.
“Itu sapinya Sul!”
“Mana?” Tanya Sul.
“Itu … di kiri kita.”
Benar saja. Sapi-sapi itu sengaja dibiarkan memakan rumput. Mereka seolah tak terusik dengan kehdiran Sul dan Han.
Angin  bertiup kencang. Udara segar, cerah. Satu dua orang anak asyik bermain layang-layang. Sedang kan anak perempuan bermain karet. Mereka tampak ceria dengan sesekali ditingkahi derai tawa keriangan.
Mobil truk yang dikemudikan Sul terus bergerak mendekati kawanan sapi. Han turun dari mobil. Dia menggiring sapi untuk kemudian dinaikkan ke bak truk.
Tapi itu bukan pekerjaan gampang. Karena sebelumnya sapi-sapi itu dinaikkan ke dalam bak truk me nggunakan mobil yang sama besarnya. Cukup direntangkan papan, sapi digiring dan dipindahkan ke truk yang disopiri Sul.    
Kalau sekarang, beda suasananya.
Harus didorong.
“Saya coba dulu ya Sul. Mana tahu bisa,” kata Han. Memang bisa awalnya. Tapi itu khusus sapi yang berbadan kecil dan kurus. Bukan induknya, tapi anak sapi. Digendong pun bisa.
Kalau sapi berukuran besar?
“Kita dorong berdua saja, Han. Kita coba!”
Pintu bak dibuka. Sul dan Han menggiring seekor sapi mendekati pintu bak. Berhasil memang. Tapi sa at hendak dinaikkan ke bak truk, keduanya kewalahan. Sempat terjungkal, masih untung tak cedera parah.
“Aduh mukaku. Kena tahi sapi.” Jerit Sul, meringis kesakitan. Saking beratnya itu sapi, mukanya Sul berubah sembab karena diinjak kaki sapi.
“Kita coba lagi Sul.”
Dengan berat hati Sul mendorong sapi tadi itu. Dengan sekuat tenaga dan nafas yang mulai terengah-engah, sapi berhasil dodorong masuk bak truk.
“Kita coba yang besar itu, Sul.”
“Yang mana?”
“Itu, si betina yang lagi hamil tua itu.” Han menunjuk seekor sapi berbadan besar dan gemuk.
“Ya ampun Han. Mati kita diinjaknya.”
“Jangan jadi pengecutlah Sul. Dicoba saja belum.”
Sul berpikir sebentar.
“Oke,” katanya.
Ketika keduanya mencoba menaikkan sapi paling besar itu ke bak truk, beberapa warga datang mendekat.
“Perlu dibantu, Pak?” Tanya lelaki berbadan tegap berkulit hitam legam.
Sul dan Han menoleh. Belum sempat bicara, keduanya sudah dikerumuni warga sambil membawa pentungan dan palu godam.
“Eeee … anu .. eh. Tak usah bapak-bapak.” Sul dan Han salah tingkah jadinya. Kaki gemetar, berkeringat dingin.
“Bapak berdua ikut kami ke balai desa,” kata Pak Erte yang masih berusia muda itu.
“Mobil kami, Pak?”
“Taka pa-apa. Ada yang menjaganya.”
Bersamaan dibawanya Sul dan Han ke balai desa, beberapa warga bahu membahu menaikkan sapi ke bak truk, untuk kemudian dibawa pulang kembali ke kampung tempat tinggal Koing dan Brendo.


Serial Detektif Cilik
KOING (13)
Menemani Belanja
Wak Amin

“Ing. Mau tidak kamu menemani ibu belanja?” Tanya Bu Guru Linda, saat pulang mengajar.
“Mau Bu. Kami bersedia,” jawab Brendo kesenangan.
“Bagaimana Ing?” Bu Linda kembali bertanya. Kali ini ke Koing.
“Mau Bu!” Ucapnya tertawa lepas.
Bu Guu Linda memang sudah lama tidak berbelanja ke pasar. Selama ini kalau ke pasar dia ditemani kakak  iparnya, Susi. Karena tengah mengandung anak pertamanya, Bu Linda tak mau merepotkan dan dia memutuskan  pergi sendiri berbelanja ke pasar.
Masalahnya tak enak juga belanja sendirian. Takutnya nanti banyak lelaki iseng yang menggodanya. Buktinya Kasim dan Kadir. Keduanya sudah bertobat dan berjanji tak akan mengganggu Bu Guru Linda, Koing dan Brendo lagi.
“Kita naik delman saja ya Ing, Do. Mau kan?”Tawar Bu Guru Linda.
“Mauuuu,” ujar keduanya serempak.
Delman di kampung memang maju pesat kendati belum banyak jumlahnya. Baru ada dua. Satu  kepunnyaan Pak Erte. Satunya lagi milik Pak Lurah. Meski kalah cepat dengan mobil, bagi ibu rumah tangga yang membawa banyak bawaan, delman menjadi pilihan.
Kenapa?
Karena diantar sampai depan rumah sehingga belanjaan yang banyak tinggal diturunkan sebelum masuk rumah. Beda-beda tipis dengan angdes dan enak untuk cuci mata.
“Tapi kentutnya itu, Bu yang bikin kita terganggu,” celetuk Brendo.
“Namanya juga hewan, Do. Kita manusia saja suka kentut sembarangan,” kelakar Bu Guru Linda.
“Ibu pernah dengar kentut kuda?” Tanya Koing sesaat setelah turun dari angdes yang mengantar mereka ke depan gerbang pasar Seia Sekata.
“Pernahlah, Ing.”
Hari itu pasar cukup ramai. Disesaki ibu-ibu rumah tangga, para remaja puteri dan anak-anak yang tidur pulas di gendongan ibunya.
Suara  pedagang tawarkan barang terdengar silih berganti. Sahut-sahutan tiada henti. Berbagai los jajakan beragam jajaan. Mulai dari tas, barang elektronik, hingga keperluan dapur. Semua tersedia dengan harga yang terjangkau saku pembelinya.
Bu Guru Linda bersama dua muridnya ini, begitu kaki menginjak los pasar, belok kanan untuk belanja keperluan dapur seperti bubur kacang hijau, garam, merica, ikan, daging dan tahu tempe.
Karena penuh sesaknya pembeli yang memadati los ikan dan daging, Bu Guru Linda sempat dipepet dua lelaki. Mereka terus memepet wanita berkulit hitam manis itu sampai los pasar sayur.
Huuup.
Secepat kilat dompet di saku celana Bu Guru Linda berpindah tangan. Koing dan Brendo yang sempat melihat kedua copet itu bergegas mengejar.
“Copet … copet .. Tolong Pak, Bu …!” Teriak Koing dan Brendo bersahut-sahutan. Saking cepatnya berlari, para pedagang dan pembeli yang ingin menolong mengamankan si copet hanya bisa bengong dan melongo kayak orang bego.
Tapi namanya juga Koing, ia tak mudah patah semangat. Walau larinya kalah cepat dengan copet, berdua berpisah arah dengan menempuh jalan pintas berkelok.
Sempat berputar-putar beberapa kali, dari los bawang ke los dedak dan cabe, akhirnya salah seorang copet mati langkah. Jalan samping dan belakang buntu. Sedangkan di depan sudah berdiri Koing.
“Kembalikanlah Bang dompetnya,” pinta Koing yang berharap duit dalam dompet Bu Guru Linda masih utuh.
“Tidak ada di abanglah. Tuh di teman abang satunya,” jawab si copet tak senang Koing melihat tubuhnya yang ceking dan pucat.
Sementara di tempat lain, di luar pasar, Brendo juga menerima jawaban yang sama dengan Koing dari si copet. Antar copet saling lempar tuduhan dan saling salah menyalahkan.
Karena tak juga mau menyerahkan dompet yang dicopet, perkelahian tangan kosong pun tak terhindarkan. Satu lawan satu denagn ditonton sejumlah pedagang dan pembeli.
“Sikat saja dik. Jangan diberi ampun.” Teriak pedagang tahu tempe.
Pasang kuda-kuda, si ceking menendang kea rah paha, dielakkan Koing, dengan satu kali pukulan ke dada, si copet tersungkur membentur ember berisi air.
“Mandi saja sekalian, Pet.” Teriak pedagang sayur yang hanya mengenakan celana pendek dan berkaos dalam.
Berhasil berdiri lagi, si copet memandang tajam kea rah Koing.
“Serang akulah, Bang!” Tantang Koing.
“Kau dululah. Masak abang, anak bandel,” kata sic eking
“Baik.”
Koing memutar tubuhnya, lalu dengan gerak memutar seperti angin putting beliung, dia melepaskan
tendangan berulangkali ke kaki, dada, paha dan muka. Lawan akhirnya kewalahan dibuatnya. Babak belur sebelum akhirnya pingsan, tak sadarkan diri.
“Ayo, kita sate saja ..”
“Kita telanjangi saja.”
“Lempar saja ke got. Biar tahu rasa dia,” teriak beberapa pedagang.
Mereka mengangkat tinggi-tinggi badan si ceking, lalu diayunkan sebelum akhirnya dilempar jauh ke rawa-rawa belakang pasar.
Bagaimana dengan Brendo?
Terjadi pergumulan seru. Saling menindih. Kadang Brendo di atas. Kali yang lain dia di bawah. Pakaian keduanya kotor akibat terkena becek.
Ketika Koing dan Bu Guru Linda mendekat dan berbaur dengan pedagang dan pembeli yang asyik menyaksikan laga seru itu. Brendo dan si gendut mulai saling menendang, mencakar, menjambak rambut dan beradu kepala.
“Ing, ibu kuatir …” Bisik Bu Guru Linda.
“Tenang sajalah, Bu. Brendo itu,” jawa Koing sambilu memperlihatkan ibu jari jempol.
“TapI hidungnya Brendo, Ing. Sudah mengeluarkan darah.”
“Itu darahnya si copet. Bu. Bukan darah Brendo.”
“Ah kamu, Ing. Tau aja.”
“Tengoklah hidung mereka berdua, Bu. Beda kan?”
Darah di hidung Brendo tidak mengalir, sedangkan di lubang hidungnya si copet mengalir deras. Itu berarti darah dari hidung si copetlah yang menempel di hidungnya Brendo.
“Langsung tinju saja dik,” jerit seorang ibu berperawakan gemuk semampai.
Benar saja. Dengan satu kali tinju mengenai belakang kepala, si copet roboh seketika. Sempat berguling-gulingan sebelum akhirnya tak sadarkan diri.
Semua yang menonton, termasuk Koing dan Bu Guru Linda, memberi aplus dengan bertepuk tangan.
“Kau memang hebat, Do.” Puji Koing menepuk-nepuk pundaknya Brendo berkali-kali.
“Apa nama jurusnya tadi, Do?”
“Kucing mengeong, Bu.”
“Kamu Ing?”
“Bebek bertelur.”
“Ah, ada-ada saja kalian ini,” komentar Bu Guru Linda, disambut tawa lepas beberaapa ibu yang mulai beragngsur-angsur meninggalkan los pasar.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar